Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dugaan korupsi dalam skema Domestic Market Obligation (DMO) batu bara kembali menjadi sorotan. Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010 Said Didu menilai nilai dugaan kerugian sebesar Rp5 triliun terlalu kecil jika dibandingkan dengan potensi penyimpangan yang bisa terjadi dalam skema tersebut.

Said Didu mengatakan selisih harga antara harga pasar batu bara dan harga yang wajib diberikan kepada PLN pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp250 triliun.

Karena itu, ia mempertanyakan apabila temuan dugaan penyimpangan hanya mencapai Rp5 triliun.

Said Didu mengaku sejak awal tidak sepakat dengan kebijakan DMO yang menggunakan mekanisme selisih harga. Menurutnya, sistem tersebut membuka ruang penyimpangan.

Said Didu memaparkan dugaan modus yang dapat dilakukan pelaku untuk menghindari kewajiban memasok batu bara ke dalam negeri, mulai dari manipulasi dokumen hingga perubahan spesifikasi kualitas batu bara.

Ia juga menyoroti berbagai instrumen perizinan di sektor pertambangan yang menurutnya rawan disalahgunakan.

Menurut Said Didu, besarnya nilai perputaran dana dalam skema DMO batu bara membuat pengawasan terhadap kebijakan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh agar potensi penyimpangan dapat dicegah.

Bagaimana menurut Anda? Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/0gb78-Dv6Fo


#jampidsus #penggeledahan #korupsi




Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/679923/said-didu-bongkar-dugaan-celah-korupsi-dmo-batu-bara-selisih-harga-capai-rp250-triliun-rosi
Transkrip
00:00Dan tapi kan bicara soal kasus ini, ibaratnya starting line itu sudah dibuka,
00:06sudah ada bendera start yang diacungkan, artinya ini sudah berjalan prosesnya.
00:10Sementara tadi di lapangan hari ini, yang Pak Said Didu bilang pasti gak enak suasananya
00:15antar lembaga penegak hukum.
00:17So apa yang harus dilakukan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan?
00:20Bagi saya pertama, Prabowo harus segera mengumpulkan semua dan memahami masalahnya.
00:26Kalau emang indikasi kuat, ada pejabat misalnya yang dia diduga korupsi,
00:31copot jabatannya agar dia tidak mengganggu independensi penyidikan.
00:33Golden time itu sebenarnya kapan sih harusnya?
00:36Satu-dua hari, satu-dua hari harusnya. Jangan sampai lambat.
00:39Yang kedua, ini ada keterkuncian. Misalnya kepolisian melakukan penyidikan,
00:44lanjut ke kejaksaan penuntutannya, pemeriksaan berkasnya, konsultasi dan lain-lainnya.
00:50Ini gimana secara psikologi?
00:53Apa kamu diproses oleh kejaksaan?
00:55Tidak aneh ini, makanya kan tadi seolah-olah orang kejaksaan bilang,
00:58ya dibawa ke kami, kami akan cek perkaranya.
01:00Pengelidikannya benar apa enggak.
01:01Terus kalau jaksa penelitinya bilang, pengelidikannya enggak sah, balikin semua berkas,
01:05mau apa penyidik?
01:07Nah ini menjadi bagi saya masalah Prabowo harus menyelesaikan.
01:12Jangan sampai kemudian penyidikan ini juga kemudian menjadi runtuh di tengah jalan.
01:16Kalau enggak dibawa sampai pengadilan.
01:18Bagaimana dibawa sampai pengadilan?
01:19Pembuktian ini pengadilan.
01:20Sehingga terdakwa pun nanti bisa membela diri dengan maksimal di ruang sidang.
01:24P2-1 aja belum tentu Pak Said.
01:26Kalau misalnya dibawa kejaksaan kan enggak mungkin juga timnya jump it sus misalnya untuk menelusur lebih dalam.
01:33Ya ini saya bilang, ini menurut saya apa ya?
01:38Ketergesa-gesaan atau mungkin juga ada hikmah.
01:41Hikmahnya apa?
01:42Dalam kondisi, in the worst case kita masih bicara soal hikmah apa itu?
01:46Dia yang presiden harus menyadari bahwa memang betapa amburadolnya lembaga hukum.
01:52Sehingga membangunan presiden, ternyata memang sudah saatnya aku benahi.
01:57Siapa tahu itu hikmahnya.
01:59Iya, karena kemarin kan harus enggak.
02:01Lembaga atau aparatur penegak hukum?
02:03Kemarin ada kesempatan untuk reformasi kepolisian.
02:05Tapi presiden juga tidak memanfaatkan secara maksimal.
02:07Tiba-tiba undang-undang kepolisian berubah begitu cepat.
02:10Yang kedua, makamah agung dikasih gaji hakim sangat tinggi sekarang.
02:14Tapi reformasi kelembagaannya bagaimana?
02:16Yang harus direformasi itu lembaga penegak hukum atau aparat penegak hukum ya?
02:19Dua-duanya.
02:21Dan bukan hanya satu lembaga semuanya.
02:23Kepolisian, kejaksaan, makamah agung.
02:24Di MA misalnya, bagaimana berulang kali sekretaris MA,
02:29yang terakhir hasil masbi korupsi, hakim agungnya Gazalba,
02:33panitra-nya Zorof Rikor, korupsi juga.
02:35Di level-level yang tinggi.
02:36Jadi harusnya presiden dan istana mengetahui betapa
02:40reformasi selama ini di kepolisian, kejaksaan, makamah agung
02:43belum berjalan secara maksimal.
02:45Harus dikocok pulang secara maksimal.
02:47Kalau di kasus ini, misalnya kalau mau memang buka-bukaan
02:50ini adalah murni penegakan hukum, harapannya demikian,
02:53bukan persaingan antar lembaga.
02:54Apa yang harusnya kita lihat dalam waktu dekat ini, Pak Said?
02:57Saya sih berharap, karena begini ya.
03:00Ini kan kasus-kasus lain yang besar juga banyak.
03:04Kasus lain yang jangan sampai seakan-akan selesainya kasus ini,
03:09masalah hukum selesai.
03:11Karena saya beginilah, ini kasus ini, kita enggak tahu kasusnya apa sampai sekarang.
03:16Dan siapa di level mana yang kena ini?
03:18Mari kan bikin tulisan Twitter banyak akan.
03:21Kalau memeriksa tentang DMO, apa namanya, Batubara.
03:275 triliun itu kekecilan.
03:29Kenapa terlalu kecil? Padahal kayaknya jumlahnya T itu kan besar sekali ya, Pak.
03:32Begini, DMO Batubara itu sekarang hari ini, 2026 itu mungkin sekitar selisih harga
03:39antara uang beredar, selisih harga antara harga pasar dengan harga yang harus diberikan PLN itu sekitar 250 triliun.
03:49Selisihnya.
03:50Itu selisihnya?
03:51Selisih.
03:51Artinya 5T hanya sepersekiannya 0 komentar.
03:531 persen.
03:55Jadi kalau hanya itu ketemuannya, saya yakin yang main lebih banyak.
04:01Yang main lebih banyak.
04:01Nah, itu orang kaget semua, loh saya kan perancang kebijakan itu dulu yang saya tidak pernah setuju
04:09namanya DMO dengan selisih harga.
04:11Karena saya katakan, saya dulu di BUMN sudah melarang.
04:15Di SDM saya larang.
04:16Karena ini malaikat pun melihat bisa jadi setan.
04:19Jadi dia korupsi secara sistemik sejak awal direncanakan.
04:22Direncanakan.
04:23Dan selalu begitu.
04:24Nah, sama dengan subsidi BBM saya itu.
04:28Nah, ini 250 triliun selisih harga.
04:31Bagaimana cara mainnya?
04:33Adalah satu.
04:34Saya, saya hidup punya tambah batu bara.
04:37Ya.
04:38Kan saya harus menyetor, menjual murah.
04:42Sekarang kan 140 dolar.
04:44Saya harus menjual 70 dolar per tahun.
04:4730 persen yang harus saya jual.
04:50Bagi saya, kalau saya bisa tidak menyetor ke sana, saya dapat dong.
04:55Cuan.
04:56Cuan 100 persen.
04:58Nah, gimana caranya?
04:59Maka, cara saya satu.
05:02Main dokumen.
05:03Mungkin saya hanya nyetor 50.
05:06100.
05:07Padahal 100 ribu.
05:08Atau kalorinya saya tuh naikkan.
05:11Kalori 3 ribu, saya bilang 5 ribu.
05:13Oke.
05:14Maka saya dapat uang.
05:15Jadi permainan.
05:16Nah, inilah menurut saya.
05:18Inilah kenapa.
05:19Saya tuh agak gregetan.
05:20Karena.
05:20Ini siapa yang membuat kebijakan ini?
05:22SDM.
05:22Ya, biasanya SDM.
05:24SDM.
05:24Nah, SDM ini tempat.
05:26Saya dulu pernah di SDM.
05:28Jadi saya paham bagaimana mereka bermain.
05:30RKAB dimainkan.
05:32Apa yang dimainkan.
05:34Ini dimainkan.
05:35Itulah yang tersiksa.
05:37Pemain-pemain ini main.
05:39250 triliun rupiah.
05:42Yang uang bisa beredar kemana-mana.
05:44Di Batu Barang.
05:45Jadi, siapa yang harusnya terjaring dalam kasus ini?
05:49Harusnya kemudian kalau berdasarkan informasi Mas Didu.
05:52Maka dugaan korupsi terkait blackout district ini.
05:55Harus sampai menyentuh lebih tinggi lagi.
05:58Bukan hanya satu level.
05:59Tapi misalnya menteri mana yang membuat kebijakan.
06:01Karena ternyata korupsinya sistemik.
06:03Dibuat sejak awal.
06:04Seolah-olah dia legal.
06:06Tapi kemudian dia melahirkan korupsi yang dilegalkan.
06:10Kira-kira gitu.
06:10Dan dampaknya apa?
06:11Dampaknya publik.
06:13Kita mengalami pemadaman district blackout parah.
06:15Di Indonesia gitu.
06:17Di negara yang batu baranya kaya.
06:19Deeksploitasi habis-habisan.
06:20Tapi wilayahnya mati listrik gitu.
06:22Oke.
06:22Dan mampu kah akan ada tersangka dalam waktu dekat.
06:25Sampai tuntas.
06:26Atau hanya sebagai dramaturgi.
06:28Di awal yang panas sampai hari ini.
06:30Kita akan sama-sama awasi.
06:32Terima kasih Pak Said Didu.
06:33Terima kasih banyak.
06:34Terima kasih.
06:34Tidak ada di program Rossi.
06:38Terima kasih.
06:39Terima kasih.
06:39Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan