Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 9 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menganalogikan situasi geopolitik global saat ini seperti penyakit malaria yang kondisinya dapat berubah-ubah.

Dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Kamis (25/6/2026), Bahlil bahkan menyinggung pengalamannya pernah mengalami busung lapar saat menjelaskan kondisi yang tidak menentu tersebut.

Menurut Bahlil, ketidakpastian geopolitik berdampak langsung terhadap sektor energi Indonesia, terutama karena konsumsi minyak nasional jauh lebih tinggi dibanding produksi atau lifting minyak.

Ia menyebut Indonesia kini masih harus mengimpor sekitar satu juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Novaltri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/677069/bahlil-analogi-kondisi-geopolitik-seperti-malaria-singgung-pernah-alami-busung-lapar
Transkrip
00:00Kapan tiba di dalam...
00:01Saya coba cek secara teknis ya, tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan.
00:22Apa update impor minyak dari Rusia gimana, udah kabarnya, udah sampai mana, kapan tiba di dalam...
00:28Saya coba cek secara teknis ya, tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan.
00:34Dilakukan oleh Lemigas, BLU daripada kementerian ESDM.
00:41Volumenya berapa sih Pak jadinya?
00:43Volumenya dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi ke depan, tapi kontraknya nanti coba saya lihat.
00:50Kemarin kan Rusia katanya ada rencana mau membatasi impor solar itu gak ada ngaruhnya kan nanti ya Pak ke perjanjian
00:56dengan kita?
00:56Gak ada. Kita kan sudah ada deal antara G2G dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo.
01:03Dan saya kan sudah juga melakukan komunikasi dengan Menteri SDM Rusia dan saya.
01:08Dan jangan juga kalian tanya tentang apa aja Pak detailnya, waduh.
01:12Berarti Bapak sebut ada potensi penerimaan negara nambah 30-35 triliun dari royalti Minerba.
01:21Itu tuh berarti yang rencana kenaikan royalti yang kemarin sempat ditunda jadi mau diimplementasi.
01:26Kan sebagian royaltinya kan kita sudah naikkan.
01:28Oh itu berarti bukan yang kemarin dibahaskan.
01:30Enggak dong, enggak dong.
01:31Beda lagi ya Pak?
01:31Royalti kan sudah kita naikkan, nikel kan sudah kita naikkan, royalti betubara kan sudah kita naikkan.
01:35Itu kenaikan yang kemarin.
01:36Sudah, sudah naik kemarin.
01:38Waktu bulan April sempat ada rencananya, waktu Bapak ke Filipina itu Pak akan ada diskusi.
01:42Oh enggak, kalau itu belum.
01:43Kalau itu enggak, itu yang namanya pajak ekspor, bukan royalti.
01:49Pak terkait dengan harga minyak kan sekarang sudah turun terus potensi penurunan harga pertama maksirnya, Pak.
01:59Iya namanya pengusaha kan wajib lobby.
02:02Tapi pertanyaan berikut, apakah yang mau di lobby mau ikut atau tidak.
02:06Saya tetap menjaga supply and demand dengan harga yang baik.
02:11Andaikan pun ada relaksasi, yang namanya relaksasi terukur.
02:14Ya, oke.
02:21Kamu teman-teman media sayang, kamu ini juga harus tanya, pada saat harga dunia naik, harga minyak enggak diturunkan, kenapa
02:33sih kamu enggak tanya?
02:34Pada saat harga minyak dinaikkan baru dua minggu, udah ya seperti itulah.
02:41Konsumen soalnya, Pak.
02:47Apa?
02:50Gas industri, Pak.
02:51Gas industri, Pak.
02:52Gini, gini.
02:54Kalau gas secara keseluruhan, stok kita tidak ada masalah.
03:00Yang ada itu adalah ada kenaikan harga gas di beberapa industri non-HGBT.
03:07Kan ada dua, ada HGBT, yang memang HGBT itu sebenarnya disubsidi oleh negara.
03:14Kalau non-HGBT, itu yang harga umum.
03:19Sebagian sumur-sumur kita, di daerah khususnya daerah Jawa Barat ke sini, itu lagi penurunan produksi.
03:25Maka kemudian untuk menutupi itu pakai LNG.
03:29Yang namanya LNG, itu kan bawa dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan itu ada penambahan kos.
03:36Nah itu yang kita lagi mencari untuk menengahi, agar jangan juga industri-nya ditaruh diberikan beban harga yang tinggi.
03:43Aku kan udah rapat sama mereka, sama asosiasi, sama buruh sudah.
03:49Sekarang saya lagi rapat teknis dengan Pertamina untuk mencari angka yang ideal agar industri kita tetap bisa bertahan.
04:00Saudara kecepatan informasi dan akurasi data adalah komitmen kami.
04:04Satu langkah lebih dekat, satu langkah lebih terpercaya.
04:09Saksikan Sapa Indonesia Malam di Kompas TV Channel 11 di televisi Anda.
04:14Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar

Dianjurkan