Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung terus menjadi perhatian publik.

Selain menelusuri keberadaan pelaku, aparat kepolisian juga mendalami motif yang melatarbelakangi tindakan pelaku terhadap korban yang merupakan kekasihnya sendiri.

Untuk memahami lebih jauh faktor-faktor yang mungkin mendorong pelaku melakukan penyekapan dan penganiayaan, Kompas TV berbincang dengan psikolog forensik Reza Indragiri Amriel.

#bandung #penganiayaanperempuan #penyekapanperempuan #bandung

Baca Juga [FULL] Wakil Rektor UBK Buka Suara soal Ketua BEM FH UBK Terima Rp20 Juta Sebelum Demo di https://www.kompas.tv/regional/676634/full-wakil-rektor-ubk-buka-suara-soal-ketua-bem-fh-ubk-terima-rp20-juta-sebelum-demo



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/676635/full-psikolog-forensik-soroti-motif-di-balik-kasus-penyekapan-penganiayaan-perempuan-di-bandung
Transkrip
00:00Jawa Barat menerbitkan daftar pencarian orang terhadap tersangka dalam kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya.
00:06Penerbitan DPO dilakukan setelah status pelaku resmi menjadi tersangka penganiayaan berat dan penyekapan.
00:15Penerbitan daftar pencarian orang disampaikan Kapolda Jawa Barat saat mengunjungi korban penyekapan dan penganiayaan di RSHS atau Rumah Sakit Hasan
00:24Sadikin, Bandung pada selasa siang.
00:25Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan mengatakan polisi juga tengah mengusut keterlibatan tersangka terhadap tindak pidana lainnya.
00:33Polisi juga bekerja sama dengan Meta agar pergerakan pelaku di media sosial dapat terlacak.
00:39Kapolda Jabar Irjen Setiawan mengingatkan masyarakat untuk segera melapor ke pihak kepolisian jika menemukan orang dengan ciri-ciri seperti tersangka.
00:54Kita sudah menerbitkan daftar pencarian orang.
01:01Terkait ini kami akan mengharapkan bantuan dari masyarakat seluruhnya
01:08yang bila melihat informasi yang tadi kami sudah sebarkan, mengetahui, bertemu dan sebagainya untuk dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian
01:21Jawa Barat khususnya,
01:23Kolda Jabar untuk dapat menginformasikan keberadaannya di mana.
01:31Sementara itu setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung,
01:36kondisi korban, penyekapan, dan penganiayaan saat ini sudah mulai membaik.
01:39Luka-luka yang ada di tubuh korban sudah dibersihkan dan mulai bisa berkomunikasi.
01:44Pemulihan psikis dan fisik korban menjadi prioritas utama tim dokter saat ini.
01:50Sejumlah dokter dilibatkan mulai dari dokter mata, dokter penyakit dalam, dan dokter bedah plastik.
02:02Kondisi pasien saat ini sudah mengalami perbaikan, dan kita juga dari rumah sakit Hasan Sadikin memberikan pelayanan yang terbaik,
02:11dan juga tim yang terbaik. Jadi kita membuat tim, mulai dari bedah plastiknya, penyakit dalam, mata, dan yang lainnya.
02:19Mohon doanya dari semuanya, mudah-mudahan bisa cepat pulih, dan juga mudah-mudahan dapat beraktifitas kembali.
02:26Yang pasti adalah kesehatan umumnya, dan juga kemarin luka-lukanya juga sudah dilaksanakan pembersihan,
02:33dari beri demang, lalu juga kita secara komprehensif kesehatannya, ya kita perbaiki semuanya.
02:43Sebelumnya penjaga kos sempat mendengar suara gaduh dari dalam kos yang disewakan korban dan tersangka.
02:50Namun ketika ditanya, tersangka berkelit dengan menyebut suara gaduh itu berasal dari dirinya sendiri.
02:57Penjaga kos juga tidak pernah melihat sosok korban di lingkungan kos.
03:00Usai mereka menyewakan marcos selama tiga bulan terakhir.
03:11Kayaknya tangan gitu dipukul-pukul, soalnya kan suka ditanya ke si pelaku.
03:16Kalau itu ngedenger yang jeduk-jeduk pintu, pintu sama tembok itu apaan?
03:23Oh kata dia, om katanya kalau itu tes, kalau IP lagi pusing katanya, suka mukulin kepala atau tangan, katanya mukul
03:31-mukul tembok gitu.
03:56Tim Minafis Polda Jawa Barat menggelar olah tempat kejadian perkara di kamar kos tersangka di kawasan Cinunu.
04:02Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada selasa siang.
04:06Lokasi kamar kos ini diduga menjadi lokasi tersangka melakukan penyekapan dan penganiayaan terhadap korban selama tiga bulan atau sejak Maret
04:13lalu.
04:14Tersangka dikenal tertutup dan mengaku bahwa korban adalah istrinya.
04:18Korban dan pelaku diketahui kerap berpindah tempat tinggal.
04:22Pada malam sebelumnya, polisi juga melakukan penggeledahan terhadap kamar kos, korban, dan tersangka.
04:31Dan untuk mendalami apa yang menjadi motif utama pelaku melakukan tindak pidana penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya sendiri,
04:39kita akan berbincang dengan Reza Indra Giri Amril, psikolog forensik yang sudah bergabung melalui sambungan virtual.
04:47Saat malam Pak Reza.
04:50Saat malam, Assalamualaikum.
04:51Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
04:53Pak Reza, kalau melihat tindakan pelaku yang seperti kita sudah tahu semua,
04:56apa sebenarnya yang menjadi motif utama pelaku melakukan tindakan keji itu, Pak Reza?
05:03Dengan bobot luka yang sedemikian parah,
05:06saya pikir kita bisa membangun simpulan sejak dini,
05:11bahwa tampaknya ini adalah tergolong agresi emosional, kekerasan emosional.
05:16Seseorang melakukan kekerasan, tindakan agresif kepada korban,
05:20guna meluapkan atau mengeluarkan perasaan-perasaan negatif yang dia punya.
05:25Marah, benci, dendam, sakit hati, cemburu, ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya,
05:31yang seakan-akan hanya bisa diredakan dengan cara melakukan kekerasan.
05:34Itu perkiraan sekaligus bisa saya katakan simpulan saya tentang
05:37apa yang terjadi pada pelaku dengan melihat kondisi korban yang sedemikian memprihatinkan.
05:42Oke, ada kebencian, ada kegundahan begitu dari pelaku,
05:48tapi apakah itu juga ada bergesekan dengan motif ekonomi di dalamnya kira-kira, Pak Reza?
05:52Tapi, di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa ini benar-benar,
05:57seperti Pak Reza katakan tadi,
05:59benar-benar murni kebencian dan hubungan kekasih dengan pelaku begitu.
06:06Agresi memang ada dua kemungkinan motifnya.
06:09Tadi saya katakan ada motif emosional, yang kedua adalah motif instrumental.
06:13Kalau kita sudah bicara tentang agresi dengan motif instrumental,
06:16maka ini agresi yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat tertentu.
06:20Berarti relevan bagi kita berbicara tentang kemungkinan manfaat itu berupa manfaat finansial,
06:25uang atau sejenisnya.
06:26Tapi, berdasarkan pemberitaan yang saya simak di Kompas,
06:29ternyata dua orang ini tinggal di rumah yang sangat seadanya.
06:32Oke, baik. Pak Reza, mohon maaf saya potong sebentar.
06:34Kita akan lanjutkan perbincangan nanti setelah kumandang azan maghrib
06:37untuk wilayah di Jakarta dan sekitar ini berikut ini.
06:40Kami ucapkan selamat menunaikan ibadah sholat maghrib
06:43untuk Anda yang menjalankan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
06:46Kita lanjutkan perbincangan bersama psikolog forensik,
06:49Pak Reza Indragiri Ambril.
06:51Tadi saya bertanya dan terpotong, silakan dilanjutkan penjelasannya,
06:55Pak Reza, soal apa motif utama pelaku melakukan tindakan keji ini?
07:00Ya, kemungkinan motifnya kan hanya ada dua sesungguhnya.
07:04Apakah ini tergolong sebagai agresi emosional,
07:07agresi yang terbelakang oleh perasaan negatif,
07:09ataukah agresi instrumental, agresi yang dilakukan
07:11untuk mendapatkan manfaat tertentu, uang misalnya.
07:14Saya berkira, dengan memahami kondisi kehidupan pelaku dan korban
07:20sebagaimana yang saya simak di pemberitaan,
07:22saya tidak membayangkan ini dilakukan agresi instrumental,
07:25yaitu agresi untuk mendapatkan manfaat tertentu
07:28lewat aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku terhadap diri korban.
07:32Tidak ada manfaat lain, tidak ada manfaat uang,
07:34tidak ada manfaat popularitas,
07:35tidak ada manfaat untuk menutupi kejahatan lain,
07:37kecuali semata-mata untuk meluapkan perasaan-perasaan negatif
07:40kepada diri korban.
07:42Oke, jadi motif ekonomi bisa kita coret begitu ya dalam arti lain ya, Pak Reza.
07:47Oke, kalau gitu apakah tindakan pelaku ini,
07:50tadi kan Anda sebut ini murni soal emosional,
07:53meluapkan amarah, meluapkan emosi.
07:55Apakah ini ada kaitannya dengan tindakan pelaku sebagai orang yang memiliki masalah kejiwaan,
08:00atau menurut Anda ini tindak pidana kriminal saja murni?
08:04Mudah-mudahan kita bersepakat ya bahwa manusia bejat ini ingin kita hukum berat.
08:09Oke.
08:09Kalau kita bersepakat dengan itu,
08:11maka kita sungguh-sungguh mengharapkan proses persidangan nantinya,
08:14Majelis Hakim tidak ada dissenting opinion menyatakan terdah kalau bersalah
08:19dan menjatuhkan hukuman yang maksimal.
08:20Kalau itu impian kita bersama, maka memang kita tidak boleh punya asumsi lain.
08:26Hanya satu asumsi yang harus kita bangun.
08:28Bahwa pelaku sehat, tidak punya gangguan kejiwaan apapun,
08:33dia waras, dia paham perbuatan yang dia lakukan itu salah,
08:37dia berusaha menghilangkan barang bukti,
08:39dia berusaha membangun alibi, mengelabui polisi, dan seterusnya.
08:42Hanya dengan narasi-narasi semacam itu,
08:44jangan disertai pembuktian tentu saja,
08:46bahkan kita bisa berharap bahwa impian kita itu nanti akan menjadi kenyataan.
08:51Oke.
08:51Itu sebaliknya.
08:51Kalau sejak sekarang kita bangun spekulasi,
08:54ada gangguan kejiwaan tertentu, dan seterusnya,
08:56saya khawatir itu justru akan menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pelaku dan penasihat hukumnya
09:01untuk meyakinkan publik dan meyakinkan Majelis Hakim
09:04bahwa terdakwa adalah orang yang sakit.
09:07Jelas, orang yang sakit tidak semestinya dihukum berat.
09:10Orang sakit harus apa?
09:11Orang sakit, diberikan obat.
09:13Apakah kita ingin membayangkan pelaku satu saat nanti mendapatkan nasib yang semudah itu?
09:17Tentu saja.
09:18Iya.
09:20Begini Pak Reza,
09:21kalau memang kita melihat pelaku memilih untuk melakukan penyekapan dan penyanderaan,
09:27alih-alih mohon maaf jika banyak sekali kan pelaku kekerasan yang berujung pada tindak pembunuhan.
09:32Nah apakah artinya pelaku ini sebenarnya punya sense of belonging terhadap korban?
09:38Begitu Pak Reza?
09:41Akan sangat baik kalau kepada korban bisa diajukan pertanyaan,
09:44apa sesungguhnya perasaan korban saat ini terhadap pelaku?
09:48Karena ini akan membuka pemahaman lebih lanjut tentang sesungguhnya apa relasi batinya yang berlangsung antara pelaku dan korban.
09:56Sejak awal sampai sekarang seperti apa? Apakah ada dinamika? Adakah perubahan?
10:01Mungkin pada waktu belakangan korban ingin menjauh karena merasa takut, merasa trauma dan seterusnya?
10:06Atau jangan-jangan nanti klimaks bahwa betapapun sudah mengalami penderitaan yang luar biasa semacam itu,
10:11Jangan-jangan korban justru menunjukkan simpatinya, memberikan pemaafannya, menyatakan keinginannya untuk memperbaiki relasi dengan pelaku.
10:20Saya tidak berharap itu menjadi kenyataan, tetapi mari kita tidak tutup mata terhadap kemungkinan adanya dinamika sekolohis sedemikian lupa yang
10:28dialami oleh korban terhadap pelaku.
10:30Karena itu sekali lagi pertanyaannya adalah, apa sesungguhnya perasaan korban terhadap pelaku hari ini?
10:36Adakah kemungkinan ini merupakan satu mata rantai dalam sebuah siklus yang disebut sebagai trauma bondik?
10:43Ada kekesalan yang memuncap, berlanjut dengan perilaku sadis, muncul penyesalan, masuk ke fase bulan madu, berputar kembali ke tegangan meninggi,
10:54lanjut lagi dengan kekerasan episode kedua, penyesalan kembali, bulan madu lagi, berputar-putar semacam itu atau seperti apa sesungguhnya?
11:02Oke, ini perilaku ya boleh dikatakan toxic relationship gitu ya, ini juga sulit juga untuk dideteksi oleh pihak lain atau
11:09orang lain,
11:09misalnya tetangga ataupun ibu kos misalnya tadi karena pelaku dan korban juga menghuni inekos begitu ya Pak Reza?
11:18Adanya kemungkinan siklus trauma bonding itu yang membuat warga juga akhirnya merasa dilematis.
11:23Kita harus menganggap ini sebagai persoalan serius atau persoalan yang katakanlah bisa diselesaikan sendiri antara pelaku dan korbannya.
11:30Tapi menurut saya isu yang paling mendasar adalah, maaf benar-benar saya tidak keliru tafsir,
11:35korban ini tampaknya kehilangan faktor protektif yang paling fundamental.
11:40Apa itu? Keluarga. Keluarga tempat dia bisa kembali, dia bisa pulang, dia mencari pertolongan dan seterusnya.
11:47Selama tiga tahun adakah kesempatan atau inisiatif dari korban untuk pulang ke keluarga?
11:52Kalau tidak, itu jadi pertanyaan besar.
11:54Itu sebabnya saya katakan, jangan-jangan korban memang sudah mengalami penderitaan tidak hanya dari perlakuan pelaku,
12:00tapi juga ada relasi yang problematik dengan keluarganya.
12:03Relasi problematik dengan keluarga itulah yang menyebabkan korban relatif tidak memiliki faktor protektif yang paling fundamental.
12:11Artinya ini bisa didalami juga oleh polisi, dua pertanyaan fundamental tadi yang dikatakan oleh Pak Reza.
12:17Pertama, bagaimana perasaan korban terhadap pelaku dan juga tadi, mengapa keluarga tidak melaporkan kepada polisi ketika korban menghilang dari keluarga
12:28selama tiga tahun?
12:29Karena tiga tahun bukan waktu yang sebentar.
12:31Nah, sekarang Pak Reza, polisi juga kan sekarang mendalami adanya tindak pidana lain katanya yang dilakukan pelaku.
12:47Kalau melihat tindakan pelaku ke korban, Anda melihatnya apakah mungkin ada tindak pidana lain yang dilakukan pelaku selain pada korban?
12:55Eskalasi perilaku kekerasan itu bisa tertuju kepada orang yang sama dan juga bisa bereskalasi ke orang-orang yang lain.
13:03Jadi masuk akal kalau polisi melakukan pendalaman tiba tentang kemungkinan adanya orang-orang lain yang mendapatkan perlakuan keji serupa
13:09yang dilakukan oleh si pelaku sebagaimana dilakukan terhadap korban yang satu ini. Masuk akal.
13:14Oke. Nah, kalau melihat gerak-gerik pelaku yang sering berpindah-pindah tempat tinggal, kata cerita dari Ibu Kosnya tadi,
13:21apakah polisi juga akan kesulitan kalau memang tadi ada korban lain?
13:26Jika memang ada korban lain, akan kesulitkankah mencari korban yang sudah terbiasa berpindah-pindah tempat ini?
13:30Mudah-mudahan tidak.
13:32Mudah-mudahan tidak.
13:33Situasi atau kondisi bahwa pelaku ini berpindah-pindah tempat, itu mengingatkan saya pada risk assessment, penakaran resiko.
13:39Khusus ketika risk assessment itu dilakukan terhadap pelaku kekerasan, maka ada lima dimensi yang patut diperlakan.
13:46Salah satunya memang adalah stabilitas domisili atau stabilitas tempat tinggal.
13:50Dimensi lain yang perlu didalami adalah, pertama, ada tidaknya riwayat gangguan-gangguan kejiwaan dan penyalahgunaan narkoba.
13:57Oke.
13:57Yang kedua, fantasi-fantasi kekerasan si pelaku.
14:01Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya pola pengekspresian amarah si pelaku dari waktu ke waktu?
14:07Dan yang keempat, stabilitas finansial dan stabilitas pendidikan.
14:11Plus yang tadi saya katakan, yang kelima adalah stabilitas domisili.
14:14Dari pelakang terhadap lima dimensi ini, mudah-mudahan akan terpetakan profil sesungguhnya pelaku ini adalah orang yang seperti apa.
14:21Oke.
14:21Baik.
14:22Reza Indragiri Amril, psikolog forensik yang telah memberikan perspektifnya di Sapa Indonesia Malam.
14:27Terima kasih banyak Pak Reza.
14:29Selamat malam, kita jumpa lain waktu.
14:31Selamat malam.
Komentar

Dianjurkan