00:00Jawa Barat menerbitkan daftar pencarian orang terhadap tersangka dalam kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya.
00:06Penerbitan DPO dilakukan setelah status pelaku resmi menjadi tersangka penganiayaan berat dan penyekapan.
00:15Penerbitan daftar pencarian orang disampaikan Kapolda Jawa Barat saat mengunjungi korban penyekapan dan penganiayaan di RSHS atau Rumah Sakit Hasan
00:24Sadikin, Bandung pada selasa siang.
00:25Kapolda Jabar Irjen Rudi Setiawan mengatakan polisi juga tengah mengusut keterlibatan tersangka terhadap tindak pidana lainnya.
00:33Polisi juga bekerja sama dengan Meta agar pergerakan pelaku di media sosial dapat terlacak.
00:39Kapolda Jabar Irjen Setiawan mengingatkan masyarakat untuk segera melapor ke pihak kepolisian jika menemukan orang dengan ciri-ciri seperti tersangka.
00:54Kita sudah menerbitkan daftar pencarian orang.
01:01Terkait ini kami akan mengharapkan bantuan dari masyarakat seluruhnya
01:08yang bila melihat informasi yang tadi kami sudah sebarkan, mengetahui, bertemu dan sebagainya untuk dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian
01:21Jawa Barat khususnya,
01:23Kolda Jabar untuk dapat menginformasikan keberadaannya di mana.
01:31Sementara itu setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung,
01:36kondisi korban, penyekapan, dan penganiayaan saat ini sudah mulai membaik.
01:39Luka-luka yang ada di tubuh korban sudah dibersihkan dan mulai bisa berkomunikasi.
01:44Pemulihan psikis dan fisik korban menjadi prioritas utama tim dokter saat ini.
01:50Sejumlah dokter dilibatkan mulai dari dokter mata, dokter penyakit dalam, dan dokter bedah plastik.
02:02Kondisi pasien saat ini sudah mengalami perbaikan, dan kita juga dari rumah sakit Hasan Sadikin memberikan pelayanan yang terbaik,
02:11dan juga tim yang terbaik. Jadi kita membuat tim, mulai dari bedah plastiknya, penyakit dalam, mata, dan yang lainnya.
02:19Mohon doanya dari semuanya, mudah-mudahan bisa cepat pulih, dan juga mudah-mudahan dapat beraktifitas kembali.
02:26Yang pasti adalah kesehatan umumnya, dan juga kemarin luka-lukanya juga sudah dilaksanakan pembersihan,
02:33dari beri demang, lalu juga kita secara komprehensif kesehatannya, ya kita perbaiki semuanya.
02:43Sebelumnya penjaga kos sempat mendengar suara gaduh dari dalam kos yang disewakan korban dan tersangka.
02:50Namun ketika ditanya, tersangka berkelit dengan menyebut suara gaduh itu berasal dari dirinya sendiri.
02:57Penjaga kos juga tidak pernah melihat sosok korban di lingkungan kos.
03:00Usai mereka menyewakan marcos selama tiga bulan terakhir.
03:11Kayaknya tangan gitu dipukul-pukul, soalnya kan suka ditanya ke si pelaku.
03:16Kalau itu ngedenger yang jeduk-jeduk pintu, pintu sama tembok itu apaan?
03:23Oh kata dia, om katanya kalau itu tes, kalau IP lagi pusing katanya, suka mukulin kepala atau tangan, katanya mukul
03:31-mukul tembok gitu.
03:56Tim Minafis Polda Jawa Barat menggelar olah tempat kejadian perkara di kamar kos tersangka di kawasan Cinunu.
04:02Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada selasa siang.
04:06Lokasi kamar kos ini diduga menjadi lokasi tersangka melakukan penyekapan dan penganiayaan terhadap korban selama tiga bulan atau sejak Maret
04:13lalu.
04:14Tersangka dikenal tertutup dan mengaku bahwa korban adalah istrinya.
04:18Korban dan pelaku diketahui kerap berpindah tempat tinggal.
04:22Pada malam sebelumnya, polisi juga melakukan penggeledahan terhadap kamar kos, korban, dan tersangka.
04:31Dan untuk mendalami apa yang menjadi motif utama pelaku melakukan tindak pidana penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya sendiri,
04:39kita akan berbincang dengan Reza Indra Giri Amril, psikolog forensik yang sudah bergabung melalui sambungan virtual.
04:47Saat malam Pak Reza.
04:50Saat malam, Assalamualaikum.
04:51Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
04:53Pak Reza, kalau melihat tindakan pelaku yang seperti kita sudah tahu semua,
04:56apa sebenarnya yang menjadi motif utama pelaku melakukan tindakan keji itu, Pak Reza?
05:03Dengan bobot luka yang sedemikian parah,
05:06saya pikir kita bisa membangun simpulan sejak dini,
05:11bahwa tampaknya ini adalah tergolong agresi emosional, kekerasan emosional.
05:16Seseorang melakukan kekerasan, tindakan agresif kepada korban,
05:20guna meluapkan atau mengeluarkan perasaan-perasaan negatif yang dia punya.
05:25Marah, benci, dendam, sakit hati, cemburu, ataupun perasaan-perasaan negatif lainnya,
05:31yang seakan-akan hanya bisa diredakan dengan cara melakukan kekerasan.
05:34Itu perkiraan sekaligus bisa saya katakan simpulan saya tentang
05:37apa yang terjadi pada pelaku dengan melihat kondisi korban yang sedemikian memprihatinkan.
05:42Oke, ada kebencian, ada kegundahan begitu dari pelaku,
05:48tapi apakah itu juga ada bergesekan dengan motif ekonomi di dalamnya kira-kira, Pak Reza?
05:52Tapi, di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa ini benar-benar,
05:57seperti Pak Reza katakan tadi,
05:59benar-benar murni kebencian dan hubungan kekasih dengan pelaku begitu.
06:06Agresi memang ada dua kemungkinan motifnya.
06:09Tadi saya katakan ada motif emosional, yang kedua adalah motif instrumental.
06:13Kalau kita sudah bicara tentang agresi dengan motif instrumental,
06:16maka ini agresi yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat tertentu.
06:20Berarti relevan bagi kita berbicara tentang kemungkinan manfaat itu berupa manfaat finansial,
06:25uang atau sejenisnya.
06:26Tapi, berdasarkan pemberitaan yang saya simak di Kompas,
06:29ternyata dua orang ini tinggal di rumah yang sangat seadanya.
06:32Oke, baik. Pak Reza, mohon maaf saya potong sebentar.
06:34Kita akan lanjutkan perbincangan nanti setelah kumandang azan maghrib
06:37untuk wilayah di Jakarta dan sekitar ini berikut ini.
06:40Kami ucapkan selamat menunaikan ibadah sholat maghrib
06:43untuk Anda yang menjalankan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
06:46Kita lanjutkan perbincangan bersama psikolog forensik,
06:49Pak Reza Indragiri Ambril.
06:51Tadi saya bertanya dan terpotong, silakan dilanjutkan penjelasannya,
06:55Pak Reza, soal apa motif utama pelaku melakukan tindakan keji ini?
07:00Ya, kemungkinan motifnya kan hanya ada dua sesungguhnya.
07:04Apakah ini tergolong sebagai agresi emosional,
07:07agresi yang terbelakang oleh perasaan negatif,
07:09ataukah agresi instrumental, agresi yang dilakukan
07:11untuk mendapatkan manfaat tertentu, uang misalnya.
07:14Saya berkira, dengan memahami kondisi kehidupan pelaku dan korban
07:20sebagaimana yang saya simak di pemberitaan,
07:22saya tidak membayangkan ini dilakukan agresi instrumental,
07:25yaitu agresi untuk mendapatkan manfaat tertentu
07:28lewat aksi kekerasan yang dilakukan oleh pelaku terhadap diri korban.
07:32Tidak ada manfaat lain, tidak ada manfaat uang,
07:34tidak ada manfaat popularitas,
07:35tidak ada manfaat untuk menutupi kejahatan lain,
07:37kecuali semata-mata untuk meluapkan perasaan-perasaan negatif
07:40kepada diri korban.
07:42Oke, jadi motif ekonomi bisa kita coret begitu ya dalam arti lain ya, Pak Reza.
07:47Oke, kalau gitu apakah tindakan pelaku ini,
07:50tadi kan Anda sebut ini murni soal emosional,
07:53meluapkan amarah, meluapkan emosi.
07:55Apakah ini ada kaitannya dengan tindakan pelaku sebagai orang yang memiliki masalah kejiwaan,
08:00atau menurut Anda ini tindak pidana kriminal saja murni?
08:04Mudah-mudahan kita bersepakat ya bahwa manusia bejat ini ingin kita hukum berat.
08:09Oke.
08:09Kalau kita bersepakat dengan itu,
08:11maka kita sungguh-sungguh mengharapkan proses persidangan nantinya,
08:14Majelis Hakim tidak ada dissenting opinion menyatakan terdah kalau bersalah
08:19dan menjatuhkan hukuman yang maksimal.
08:20Kalau itu impian kita bersama, maka memang kita tidak boleh punya asumsi lain.
08:26Hanya satu asumsi yang harus kita bangun.
08:28Bahwa pelaku sehat, tidak punya gangguan kejiwaan apapun,
08:33dia waras, dia paham perbuatan yang dia lakukan itu salah,
08:37dia berusaha menghilangkan barang bukti,
08:39dia berusaha membangun alibi, mengelabui polisi, dan seterusnya.
08:42Hanya dengan narasi-narasi semacam itu,
08:44jangan disertai pembuktian tentu saja,
08:46bahkan kita bisa berharap bahwa impian kita itu nanti akan menjadi kenyataan.
08:51Oke.
08:51Itu sebaliknya.
08:51Kalau sejak sekarang kita bangun spekulasi,
08:54ada gangguan kejiwaan tertentu, dan seterusnya,
08:56saya khawatir itu justru akan menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pelaku dan penasihat hukumnya
09:01untuk meyakinkan publik dan meyakinkan Majelis Hakim
09:04bahwa terdakwa adalah orang yang sakit.
09:07Jelas, orang yang sakit tidak semestinya dihukum berat.
09:10Orang sakit harus apa?
09:11Orang sakit, diberikan obat.
09:13Apakah kita ingin membayangkan pelaku satu saat nanti mendapatkan nasib yang semudah itu?
09:17Tentu saja.
09:18Iya.
09:20Begini Pak Reza,
09:21kalau memang kita melihat pelaku memilih untuk melakukan penyekapan dan penyanderaan,
09:27alih-alih mohon maaf jika banyak sekali kan pelaku kekerasan yang berujung pada tindak pembunuhan.
09:32Nah apakah artinya pelaku ini sebenarnya punya sense of belonging terhadap korban?
09:38Begitu Pak Reza?
09:41Akan sangat baik kalau kepada korban bisa diajukan pertanyaan,
09:44apa sesungguhnya perasaan korban saat ini terhadap pelaku?
09:48Karena ini akan membuka pemahaman lebih lanjut tentang sesungguhnya apa relasi batinya yang berlangsung antara pelaku dan korban.
09:56Sejak awal sampai sekarang seperti apa? Apakah ada dinamika? Adakah perubahan?
10:01Mungkin pada waktu belakangan korban ingin menjauh karena merasa takut, merasa trauma dan seterusnya?
10:06Atau jangan-jangan nanti klimaks bahwa betapapun sudah mengalami penderitaan yang luar biasa semacam itu,
10:11Jangan-jangan korban justru menunjukkan simpatinya, memberikan pemaafannya, menyatakan keinginannya untuk memperbaiki relasi dengan pelaku.
10:20Saya tidak berharap itu menjadi kenyataan, tetapi mari kita tidak tutup mata terhadap kemungkinan adanya dinamika sekolohis sedemikian lupa yang
10:28dialami oleh korban terhadap pelaku.
10:30Karena itu sekali lagi pertanyaannya adalah, apa sesungguhnya perasaan korban terhadap pelaku hari ini?
10:36Adakah kemungkinan ini merupakan satu mata rantai dalam sebuah siklus yang disebut sebagai trauma bondik?
10:43Ada kekesalan yang memuncap, berlanjut dengan perilaku sadis, muncul penyesalan, masuk ke fase bulan madu, berputar kembali ke tegangan meninggi,
10:54lanjut lagi dengan kekerasan episode kedua, penyesalan kembali, bulan madu lagi, berputar-putar semacam itu atau seperti apa sesungguhnya?
11:02Oke, ini perilaku ya boleh dikatakan toxic relationship gitu ya, ini juga sulit juga untuk dideteksi oleh pihak lain atau
11:09orang lain,
11:09misalnya tetangga ataupun ibu kos misalnya tadi karena pelaku dan korban juga menghuni inekos begitu ya Pak Reza?
11:18Adanya kemungkinan siklus trauma bonding itu yang membuat warga juga akhirnya merasa dilematis.
11:23Kita harus menganggap ini sebagai persoalan serius atau persoalan yang katakanlah bisa diselesaikan sendiri antara pelaku dan korbannya.
11:30Tapi menurut saya isu yang paling mendasar adalah, maaf benar-benar saya tidak keliru tafsir,
11:35korban ini tampaknya kehilangan faktor protektif yang paling fundamental.
11:40Apa itu? Keluarga. Keluarga tempat dia bisa kembali, dia bisa pulang, dia mencari pertolongan dan seterusnya.
11:47Selama tiga tahun adakah kesempatan atau inisiatif dari korban untuk pulang ke keluarga?
11:52Kalau tidak, itu jadi pertanyaan besar.
11:54Itu sebabnya saya katakan, jangan-jangan korban memang sudah mengalami penderitaan tidak hanya dari perlakuan pelaku,
12:00tapi juga ada relasi yang problematik dengan keluarganya.
12:03Relasi problematik dengan keluarga itulah yang menyebabkan korban relatif tidak memiliki faktor protektif yang paling fundamental.
12:11Artinya ini bisa didalami juga oleh polisi, dua pertanyaan fundamental tadi yang dikatakan oleh Pak Reza.
12:17Pertama, bagaimana perasaan korban terhadap pelaku dan juga tadi, mengapa keluarga tidak melaporkan kepada polisi ketika korban menghilang dari keluarga
12:28selama tiga tahun?
12:29Karena tiga tahun bukan waktu yang sebentar.
12:31Nah, sekarang Pak Reza, polisi juga kan sekarang mendalami adanya tindak pidana lain katanya yang dilakukan pelaku.
12:47Kalau melihat tindakan pelaku ke korban, Anda melihatnya apakah mungkin ada tindak pidana lain yang dilakukan pelaku selain pada korban?
12:55Eskalasi perilaku kekerasan itu bisa tertuju kepada orang yang sama dan juga bisa bereskalasi ke orang-orang yang lain.
13:03Jadi masuk akal kalau polisi melakukan pendalaman tiba tentang kemungkinan adanya orang-orang lain yang mendapatkan perlakuan keji serupa
13:09yang dilakukan oleh si pelaku sebagaimana dilakukan terhadap korban yang satu ini. Masuk akal.
13:14Oke. Nah, kalau melihat gerak-gerik pelaku yang sering berpindah-pindah tempat tinggal, kata cerita dari Ibu Kosnya tadi,
13:21apakah polisi juga akan kesulitan kalau memang tadi ada korban lain?
13:26Jika memang ada korban lain, akan kesulitkankah mencari korban yang sudah terbiasa berpindah-pindah tempat ini?
13:30Mudah-mudahan tidak.
13:32Mudah-mudahan tidak.
13:33Situasi atau kondisi bahwa pelaku ini berpindah-pindah tempat, itu mengingatkan saya pada risk assessment, penakaran resiko.
13:39Khusus ketika risk assessment itu dilakukan terhadap pelaku kekerasan, maka ada lima dimensi yang patut diperlakan.
13:46Salah satunya memang adalah stabilitas domisili atau stabilitas tempat tinggal.
13:50Dimensi lain yang perlu didalami adalah, pertama, ada tidaknya riwayat gangguan-gangguan kejiwaan dan penyalahgunaan narkoba.
13:57Oke.
13:57Yang kedua, fantasi-fantasi kekerasan si pelaku.
14:01Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya pola pengekspresian amarah si pelaku dari waktu ke waktu?
14:07Dan yang keempat, stabilitas finansial dan stabilitas pendidikan.
14:11Plus yang tadi saya katakan, yang kelima adalah stabilitas domisili.
14:14Dari pelakang terhadap lima dimensi ini, mudah-mudahan akan terpetakan profil sesungguhnya pelaku ini adalah orang yang seperti apa.
14:21Oke.
14:21Baik.
14:22Reza Indragiri Amril, psikolog forensik yang telah memberikan perspektifnya di Sapa Indonesia Malam.
14:27Terima kasih banyak Pak Reza.
14:29Selamat malam, kita jumpa lain waktu.
14:31Selamat malam.
Komentar