00:00Selama seminggu terakhir ini banyak sekali kejutan ya.
00:03Tanggal 17 mereka menyetujui MOU, kemudian tanggal 18 ditanda tangani,
00:11kemudian tanggal 19 itu tidak ada kejadian,
00:14kemudian beberapa hari terakhir Israel justru menyerang Lebanon.
00:18Jadi hal ini memang menunjukkan bahwa Israel itu merupakan duri dalam daging.
00:27Masih di satu majadu forum, Bung Abra saya melanjutkan,
00:30kalau tadi Profik dan Pak Dubez Dian mengatakan,
00:33dengan Iran ada luka tapi harus diperbaiki potensinya besar.
00:38Membuka normalisasi tidak segampang itu ada faktor Israel.
00:41Tapi kan kita ingin satu bukan kesimpulan, ingin mengkonkretkan bahwa
00:45kalau ini baik semua akan berdampak ke masyarakat salah satunya adalah harga energi.
00:50Tidak hanya di Indonesia tapi dirasakan oleh banyak negara.
00:52Khusus di Indonesia karena acuannya adalah itu,
00:55disebut oleh pemerintah dan pengamat bahwa kenaikan ini dipicu oleh Selat Hormuz,
01:01oleh kenaikan harga minyak dunia.
01:04Masih boleh berharap ada turun harga BBM?
01:09Pasti, pertama masyarakat pasti akan melihat bagaimana respon negara-negara lain
01:14dalam menyesuaikan harga BBM di masing-masing negara.
01:17Biasanya itu juga akan langsung dilihat oleh publik,
01:22secepat apa respon pemerintah juga dalam hal ini juga badan usaha
01:25itu untuk melakukan penyesuaian harga atau penurunan harga BBM.
01:29Dan seberapa besar? Apakah besaran penurunan juga sama?
01:32Karena turun pun kalau penurunannya presentasinya tidak sama,
01:35artinya juga akan muncul pertanyaan.
01:37Kenapa turunnya tidak sebesar yang dilakukan negara lain?
01:40Yang kedua ya...
01:41Sebelum ke sana, sebelum nomor dua, sebetulnya proses mekanisme penurunan harga itu
01:45selalu ada muncul transparansi.
01:48Seperti apa sih? Kalau tadi kan acuannya dengan negara lain,
01:50tapi kalau dalam konteks untuk publik domestik seperti apa?
01:55Ya, kita untuk produk BBM subsidi dan BBM non-subsidi,
01:59masing-masing ada dasar hukumnya.
02:00Dan untuk subsidi yang jelas pemerintah sudah menjanjikan sampai akhir tahun
02:04harganya tidak akan naik.
02:06Pertalat tetap akan 10 ribu rupiah.
02:08Yang subsidi.
02:08Perlitar yang subsidi. Jadi tidak ada isu nih.
02:10Walaupun ada isu, mungkin tuntutan masyarakat apakah harga BBM subsidi
02:14masih bisa diturunkan.
02:15Karena harga minyak mentah dan rupiah sudah mulai membaik.
02:18Yang kedua, untuk konteks BBM non-subsidi,
02:22ini pasti masyarakat akan terus mengejar.
02:24Sebetulnya, formulasi mengenai penentuan harga jual itu,
02:29dasar harga keekonomiannya, kemudian margin yang diambil oleh badan usaha itu
02:34seberapa besar. Karena ini yang dalam waktu belakang terakhirin menjadi pertanyaan besar,
02:37seakan-akan ya, pemerintah ini tidak cukup transparan.
02:41Bahkan ada muncul kesan, harga jual yang diterima masyarakat saat ini itu kemahalan.
02:47Nah, mahal atau tidak mahal itu kan.
02:50Mahal atau tidak mahal itu apa sih ada acuan kan?
02:51Tergantung formulanya kan, tetapi informasi yang saya dapat juga,
02:56data yang saya dapat juga, bahwa sebetulnya untuk beberapa jenis BBM,
02:59contohnya adalah Pertamax, itu sebetulnya harga jualnya masih di bawah harga keekonomian.
03:04Harga keekonomian itu sekitar 20 ribu sampai 21 ribu rupiah.
03:08Artinya harus nombok.
03:09Masih ditombok oleh badan usaha, oleh Pertamina.
03:12Nah, ini juga sebetulnya menjadi persoalan mengenai,
03:15nanti ini yang pada akhirnya akan menanggung ya,
03:18apakah semuanya akan ditanggung oleh BUMN,
03:20atau pemerintah akan mempertimbangkan,
03:22Pertamax ini akan menjadi bagian dari BBM penugasan,
03:26seperti halnya Pertalite.
03:27Karena gak mungkin juga selamanya akan bisa ditanggung oleh badan usaha.
03:30Karena kalau pun rugi, nanti kan membahayakan kondisi keuangan badan usaha juga gitu mas.
03:34Oke, jadi angin segarnya masih belum bisa dirasakan,
03:39tapi sudah bisa dilihat dari jauh ya, kira-kira.
03:41Supply supply.
03:42Profik, gimana ini angin segar atau udahlah kita harus bersiap dulu,
03:48tidak ada sesuatu yang signifikan dari kesepakatan damai ini terhadap ekonomi di Indonesia?
03:54Ya pasti harusnya ada signifikan lah.
03:56Karena masyarakat kita juga gak bodoh ya.
03:59Menurut saya masyarakat sangat aware terhadap isu-isu geopolitik,
04:04isu-isu yang ada di dalam negeri.
04:06Dan saya tidak berharap nih pemerintah nanti bilang,
04:10ya geopolitik udah beres,
04:12minyak selat hormus udah aman.
04:14Tapi ada tapinya.
04:15Itu kan crude oil katanya.
04:17Bukan yang apa namanya sudah di refine.
04:21Refinery.
04:22Refinery.
04:22Kalau yang refine kan nanti di Singapura dan lain sebagainya.
04:25Nanti cerita lagi gitu kan.
04:27Tapi sekarang saatnya memang pemerintah harus secara transparan terbuka.
04:33Bagaimana sih proses ketika kita sebagai negara importir nih sekarang.
04:39Itu mendapatkan minyak itu.
04:42Memang kalau kita bicara soal di Selat Hormuz,
04:45memang mungkin itu adalah yang crude oil.
04:48Tapi mungkin juga ada yang sudah di refine.
04:50Prof, sorry saya potong.
04:52Tadi Dubesdian mengatakan bahwa,
04:54ya karena ada Amerika sehingga Indonesia gak punya keleluasan.
04:58Padahal potensinya besar.
04:59Mungkin gak sih dalam konteks sepakatan damai Amerika dengan Iran.
05:03Terus setelah itu jalan,
05:05Indonesia bisa punya keleluasan melakukan hubungan diplomatik dengan Iran.
05:09Nah itu yang tadi saya bacakan di pasal 10
05:12dari agreement MOU yang ada,
05:15itu adalah immediately setelah di signing gitu ya,
05:18sebelum menunggu sampai adanya lift dari sanction ini,
05:23memang ditunggu dulu nih.
05:25Pak Dian mengatakan,
05:26Pak Dubes mengatakan,
05:27kita ini gak bisa terlalu bebas berdagang dengan pihak Iran,
05:31karena Iran itu dikenakan sanksi.
05:34Dan itu sanksinya juga sampai di resolusi Dewan Keamanan PBB.
05:38Nah sehingga siapapun yang kita,
05:41negara-negara yang berkontak dengan Iran,
05:44melakukan perdagangan,
05:46itu pasti akan kena sanksi.
05:48Bahkan individu-individunya perusahaan-perusahaannya akan kena itu.
05:51Nah oleh karena itu kita tidak mau.
05:54Nah tapi sekarang,
05:55sekarang itu dikatakan kalau untuk minyak,
05:58itu di wafer,
05:59sementara ini di kesampingkan sanksi itu,
06:02boleh nih kita jalankan.
06:04Sampai kemudian,
06:06suatu saat nanti,
06:07sanksinya ini akan di lift gitu ya.
06:09Karena itu ada proses ke...
06:10Sebenarnya faktor Israel nih,
06:12dalam konteks ini tadi beberapa kali marah Amerika ke Israel,
06:15itu Indonesia bisa mendapatkan keuntungan apa nih,
06:18dalam konteks ini.
06:19Misalnya,
06:20bisa leluasa ke Iran,
06:22karena memang kan yang memberatkan adalah Israel pasti,
06:24yang menekan Amerika kira-kira gitu lah.
06:27Prof melihat apa?
06:27Ya yang pasti adalah sekarang ini,
06:31kalau kita mau,
06:32ini opportunity yang sangat besar,
06:34untuk kita bisa berhubungan dengan Iran.
06:38Saya misalnya,
06:39kalau tadi Pak Dian cerita soal kapal gitu ya,
06:42saya mempertanyakan ketika Ali Khamenei,
06:45itu ditewaskan oleh Amerika Serikat.
06:48Enggak ada.
06:49Ucapan.
06:49Ucapan,
06:50bela sungkawa.
06:51Di awal-awal ya,
06:51walaupun kemudian ada,
06:53tapi Pak Menlu yang hadir gitu ya.
06:54Sementara banyak kepala negara,
06:57kepala pemerintahan,
06:57itu menyampaikan,
06:59karena terlepas dari dia Iran musuh Amerika Serikat,
07:03tapi yang meninggal itu,
07:05adalah seorang pemimpin tertinggi di negara tersebut.
07:09Nah ini yang,
07:10ya kalau Pak Dian bilang ada luka gitu ya,
07:13itu yang menambah luka lagi gitu ya.
07:15Nah sekarang,
07:16bagaimana ini kita bisa mengembalikan?
07:19Nah revitalisasi hubungan.
07:20Nah di dalam MOU yang ada,
07:22itu kan Amerika Serikat menjanjikan,
07:24akan ada uang dana dari negara-negara
07:29untuk rekonstruksi Iran,
07:30kan gitu kan?
07:31Karena Iran mintanya sebenarnya 400 miliar dolar
07:35sebagai kompensasi dia diserang.
07:38Ya kalau dulu kita jaman Jepang itu dana apa itu?
07:41Kayak pampasan perang.
07:43Pampasan perang.
07:44Nah dia minta 400 juta,
07:46Amerika bilang gak mau.
07:47Akhirnya disepakati,
07:48oke 300 juta,
07:50tapi ini bukan hanya Amerika.
07:52Tetapi juga bukan dari taxpayer dari Amerika,
07:55tapi gabungan negara-negara.
07:56Malaysia sudah ada loh.
07:58Saya lihat Malaysia ada.
08:00Pertanyaan kita di Indonesia gimana nih?
08:02Kita mau menebus gak nih kesalahan kita kemarin-kemarin ini?
08:05Karena posisi.
08:06Karena posisi.
08:09Indonesia harus menebus itu?
08:11Apalagi Anda sudah menambah potensi.
08:13Anda salah tafsir ya,
08:15Prof.
08:19Bahwa yang namanya sanksi,
08:20tidak akan mungkin diselesaikan dalam dua bulan ke depan.
08:25Tidak akan mungkin?
08:25Tidak akan mungkin.
08:26Itu yang membuat Anda tadi menyampaikan,
08:28jangan buru-buru berharap sama.
08:29Jangan buru-buru berharap.
08:30Oke.
08:30Kenapa?
08:31Gimana soal sanksi?
08:32Soal sanksi ini antara lain paling jelimet,
08:34dua hal di dalam masalah program nuklir Iran,
08:37yaitu masalah pengayaan uranium dan masalah sanksi.
08:41Sanksi ya.
08:42Nah, pengayaan uranium kita paham.
08:44Sanksi itu tidak semudah.
08:46Sekarang sudah ada ribuan orang Iran,
08:50ribuan perusahaan Iran,
08:53ratusan perusahaan Iran,
08:54entitas Iran, dan sebagainya
08:56yang dikenakan sanksi.
08:58Belum lagi urusan otomotif,
09:01militer, aviasi, dan sebagainya.
09:04Artinya apa?
09:05Kalau sekarang ditandatangin kesepakatan ini,
09:09itu hanya utamanya yang saya bilang di awal tadi,
09:12penghentian perang.
09:13Dengan penghentian perang,
09:14minyak turun,
09:15walaupun kita bisa menikmati,
09:17mungkin...
09:17Dengan penghentian perang,
09:18minyak turun?
09:19Sudah ada kecenderungan turun.
09:20Oh, ada kecenderungan turun.
09:21Karena harapannya selat hormus ya.
09:23Oke.
09:23Itu pun masih menunggu,
09:24mungkin sampai kapalnya datang di Singapura.
09:27Tapi yang saya mau bilang begini,
09:28yang namanya sanksi itu Indonesia ini.
09:32Saya di Iran 2012 sampai 2016,
09:36perjanjian GCPO disepakati 2015.
09:39Ketika itu,
09:41dunia berharap sanksi langsung.
09:43Sebuah kesepakatan yang 100 lembar,
09:47ditandatangani oleh semua negara P5.
09:51artinya bukan hanya imediat,
09:53itu otomatis saat itu dianggap berlaku.
09:56Tapi ternyata kan tidak.
09:58Pertamina membeli 500 ribu,
10:02kalau gas itu apa?
10:04LPG itu.
10:05MBCTU atau apa itu.
10:07Dalam 10 kali pengapalan.
10:092 kali pengapalan,
10:1150 ribu, 50 ribu, lancar.
10:14Ketiga,
10:16Pertamina putuskan,
10:17tidak dilanjutkan.
10:18Amerika,
10:18padahal perjanjiannya sudah ditandatangani.
10:22Ini baru memorandum of understanding.
10:26Buat saya masih sangat lus gitu loh.
10:29Belum ada.
10:30Apa yang menurut Dubez Dian,
10:33pemerintah harus lakukan?
10:34Supaya lebih progresif ketimbang menanti,
10:36bahwa ini sangat tersandra oleh yang namanya sanksi atau?
10:40Buat saya,
10:41untuk menanangkan masyarakat juga,
10:44apalagi yang paham geopolitik,
10:46mulai disadarilah,
10:49bahwa contoh ya konkret,
10:51keluar dari BOP saja.
10:53Keluar dari BOP saja.
10:54Itu sudah akan membuat rakyat juga,
10:56oh pemerintah sudah kembali ke jalan yang benar.
10:59Itu secara psikologis.
11:00Tapi yang dampak langsung kaitannya dengan
11:02harga yang dirasakan oleh masyarakat,
11:04perbaikan ekonomi.
11:05Kalau perbaikan ekonomi,
11:07saya kira masih jauh.
11:08Karena buat saya yang namanya sanksi tadi saja,
11:12mungkin kalau nanti setelah 6 bulan itu perjanjian bisa disepakati,
11:17dan saya kira juga setelah 60 hari itu juga belum tentu gampang.
11:22Oke.
11:23Oke.
11:23selamat menikmati.
11:26selamat menikmati.
Komentar