Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom INDEF Abra Talattov menilai masyarakat akan memperhatikan langkah negara-negara lain dalam menurunkan harga BBM dan membandingkannya dengan respons pemerintah Indonesia.

Menurut Abra, publik juga akan mencermati seberapa cepat pemerintah dan badan usaha melakukan penyesuaian harga.

Tak hanya kecepatan, besaran penurunan harga juga akan menjadi perhatian masyarakat.

Untuk BBM subsidi, Abra mengingatkan pemerintah sudah memastikan harga Pertalite tetap bertahan hingga akhir tahun.

Namun, untuk BBM non-subsidi, menurut Abra, tuntutan masyarakat terhadap penurunan harga diperkirakan akan terus menguat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah transparansi formula penentuan harga jual.

Ia juga mengungkapkan adanya persepsi di masyarakat bahwa harga BBM saat ini terlalu mahal.

Meski demikian, berdasarkan data yang diperolehnya, harga jual beberapa jenis BBM justru masih berada di bawah harga keekonomian.

Menurutnya, harga keekonomian Pertamax bahkan berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per liter.

Kondisi tersebut, kata Abra, berpotensi menjadi persoalan bagi badan usaha apabila harus terus menanggung selisih harga.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rakE3PUjcR8



#perang #iran #indonesia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/676914/damai-iran-as-bikin-harga-bbm-turun-indef-minta-pemerintah-transparan-satu-meja
Transkrip
00:00Selama seminggu terakhir ini banyak sekali kejutan ya.
00:03Tanggal 17 mereka menyetujui MOU, kemudian tanggal 18 ditanda tangani,
00:11kemudian tanggal 19 itu tidak ada kejadian,
00:14kemudian beberapa hari terakhir Israel justru menyerang Lebanon.
00:18Jadi hal ini memang menunjukkan bahwa Israel itu merupakan duri dalam daging.
00:27Masih di satu majadu forum, Bung Abra saya melanjutkan,
00:30kalau tadi Profik dan Pak Dubez Dian mengatakan,
00:33dengan Iran ada luka tapi harus diperbaiki potensinya besar.
00:38Membuka normalisasi tidak segampang itu ada faktor Israel.
00:41Tapi kan kita ingin satu bukan kesimpulan, ingin mengkonkretkan bahwa
00:45kalau ini baik semua akan berdampak ke masyarakat salah satunya adalah harga energi.
00:50Tidak hanya di Indonesia tapi dirasakan oleh banyak negara.
00:52Khusus di Indonesia karena acuannya adalah itu,
00:55disebut oleh pemerintah dan pengamat bahwa kenaikan ini dipicu oleh Selat Hormuz,
01:01oleh kenaikan harga minyak dunia.
01:04Masih boleh berharap ada turun harga BBM?
01:09Pasti, pertama masyarakat pasti akan melihat bagaimana respon negara-negara lain
01:14dalam menyesuaikan harga BBM di masing-masing negara.
01:17Biasanya itu juga akan langsung dilihat oleh publik,
01:22secepat apa respon pemerintah juga dalam hal ini juga badan usaha
01:25itu untuk melakukan penyesuaian harga atau penurunan harga BBM.
01:29Dan seberapa besar? Apakah besaran penurunan juga sama?
01:32Karena turun pun kalau penurunannya presentasinya tidak sama,
01:35artinya juga akan muncul pertanyaan.
01:37Kenapa turunnya tidak sebesar yang dilakukan negara lain?
01:40Yang kedua ya...
01:41Sebelum ke sana, sebelum nomor dua, sebetulnya proses mekanisme penurunan harga itu
01:45selalu ada muncul transparansi.
01:48Seperti apa sih? Kalau tadi kan acuannya dengan negara lain,
01:50tapi kalau dalam konteks untuk publik domestik seperti apa?
01:55Ya, kita untuk produk BBM subsidi dan BBM non-subsidi,
01:59masing-masing ada dasar hukumnya.
02:00Dan untuk subsidi yang jelas pemerintah sudah menjanjikan sampai akhir tahun
02:04harganya tidak akan naik.
02:06Pertalat tetap akan 10 ribu rupiah.
02:08Yang subsidi.
02:08Perlitar yang subsidi. Jadi tidak ada isu nih.
02:10Walaupun ada isu, mungkin tuntutan masyarakat apakah harga BBM subsidi
02:14masih bisa diturunkan.
02:15Karena harga minyak mentah dan rupiah sudah mulai membaik.
02:18Yang kedua, untuk konteks BBM non-subsidi,
02:22ini pasti masyarakat akan terus mengejar.
02:24Sebetulnya, formulasi mengenai penentuan harga jual itu,
02:29dasar harga keekonomiannya, kemudian margin yang diambil oleh badan usaha itu
02:34seberapa besar. Karena ini yang dalam waktu belakang terakhirin menjadi pertanyaan besar,
02:37seakan-akan ya, pemerintah ini tidak cukup transparan.
02:41Bahkan ada muncul kesan, harga jual yang diterima masyarakat saat ini itu kemahalan.
02:47Nah, mahal atau tidak mahal itu kan.
02:50Mahal atau tidak mahal itu apa sih ada acuan kan?
02:51Tergantung formulanya kan, tetapi informasi yang saya dapat juga,
02:56data yang saya dapat juga, bahwa sebetulnya untuk beberapa jenis BBM,
02:59contohnya adalah Pertamax, itu sebetulnya harga jualnya masih di bawah harga keekonomian.
03:04Harga keekonomian itu sekitar 20 ribu sampai 21 ribu rupiah.
03:08Artinya harus nombok.
03:09Masih ditombok oleh badan usaha, oleh Pertamina.
03:12Nah, ini juga sebetulnya menjadi persoalan mengenai,
03:15nanti ini yang pada akhirnya akan menanggung ya,
03:18apakah semuanya akan ditanggung oleh BUMN,
03:20atau pemerintah akan mempertimbangkan,
03:22Pertamax ini akan menjadi bagian dari BBM penugasan,
03:26seperti halnya Pertalite.
03:27Karena gak mungkin juga selamanya akan bisa ditanggung oleh badan usaha.
03:30Karena kalau pun rugi, nanti kan membahayakan kondisi keuangan badan usaha juga gitu mas.
03:34Oke, jadi angin segarnya masih belum bisa dirasakan,
03:39tapi sudah bisa dilihat dari jauh ya, kira-kira.
03:41Supply supply.
03:42Profik, gimana ini angin segar atau udahlah kita harus bersiap dulu,
03:48tidak ada sesuatu yang signifikan dari kesepakatan damai ini terhadap ekonomi di Indonesia?
03:54Ya pasti harusnya ada signifikan lah.
03:56Karena masyarakat kita juga gak bodoh ya.
03:59Menurut saya masyarakat sangat aware terhadap isu-isu geopolitik,
04:04isu-isu yang ada di dalam negeri.
04:06Dan saya tidak berharap nih pemerintah nanti bilang,
04:10ya geopolitik udah beres,
04:12minyak selat hormus udah aman.
04:14Tapi ada tapinya.
04:15Itu kan crude oil katanya.
04:17Bukan yang apa namanya sudah di refine.
04:21Refinery.
04:22Refinery.
04:22Kalau yang refine kan nanti di Singapura dan lain sebagainya.
04:25Nanti cerita lagi gitu kan.
04:27Tapi sekarang saatnya memang pemerintah harus secara transparan terbuka.
04:33Bagaimana sih proses ketika kita sebagai negara importir nih sekarang.
04:39Itu mendapatkan minyak itu.
04:42Memang kalau kita bicara soal di Selat Hormuz,
04:45memang mungkin itu adalah yang crude oil.
04:48Tapi mungkin juga ada yang sudah di refine.
04:50Prof, sorry saya potong.
04:52Tadi Dubesdian mengatakan bahwa,
04:54ya karena ada Amerika sehingga Indonesia gak punya keleluasan.
04:58Padahal potensinya besar.
04:59Mungkin gak sih dalam konteks sepakatan damai Amerika dengan Iran.
05:03Terus setelah itu jalan,
05:05Indonesia bisa punya keleluasan melakukan hubungan diplomatik dengan Iran.
05:09Nah itu yang tadi saya bacakan di pasal 10
05:12dari agreement MOU yang ada,
05:15itu adalah immediately setelah di signing gitu ya,
05:18sebelum menunggu sampai adanya lift dari sanction ini,
05:23memang ditunggu dulu nih.
05:25Pak Dian mengatakan,
05:26Pak Dubes mengatakan,
05:27kita ini gak bisa terlalu bebas berdagang dengan pihak Iran,
05:31karena Iran itu dikenakan sanksi.
05:34Dan itu sanksinya juga sampai di resolusi Dewan Keamanan PBB.
05:38Nah sehingga siapapun yang kita,
05:41negara-negara yang berkontak dengan Iran,
05:44melakukan perdagangan,
05:46itu pasti akan kena sanksi.
05:48Bahkan individu-individunya perusahaan-perusahaannya akan kena itu.
05:51Nah oleh karena itu kita tidak mau.
05:54Nah tapi sekarang,
05:55sekarang itu dikatakan kalau untuk minyak,
05:58itu di wafer,
05:59sementara ini di kesampingkan sanksi itu,
06:02boleh nih kita jalankan.
06:04Sampai kemudian,
06:06suatu saat nanti,
06:07sanksinya ini akan di lift gitu ya.
06:09Karena itu ada proses ke...
06:10Sebenarnya faktor Israel nih,
06:12dalam konteks ini tadi beberapa kali marah Amerika ke Israel,
06:15itu Indonesia bisa mendapatkan keuntungan apa nih,
06:18dalam konteks ini.
06:19Misalnya,
06:20bisa leluasa ke Iran,
06:22karena memang kan yang memberatkan adalah Israel pasti,
06:24yang menekan Amerika kira-kira gitu lah.
06:27Prof melihat apa?
06:27Ya yang pasti adalah sekarang ini,
06:31kalau kita mau,
06:32ini opportunity yang sangat besar,
06:34untuk kita bisa berhubungan dengan Iran.
06:38Saya misalnya,
06:39kalau tadi Pak Dian cerita soal kapal gitu ya,
06:42saya mempertanyakan ketika Ali Khamenei,
06:45itu ditewaskan oleh Amerika Serikat.
06:48Enggak ada.
06:49Ucapan.
06:49Ucapan,
06:50bela sungkawa.
06:51Di awal-awal ya,
06:51walaupun kemudian ada,
06:53tapi Pak Menlu yang hadir gitu ya.
06:54Sementara banyak kepala negara,
06:57kepala pemerintahan,
06:57itu menyampaikan,
06:59karena terlepas dari dia Iran musuh Amerika Serikat,
07:03tapi yang meninggal itu,
07:05adalah seorang pemimpin tertinggi di negara tersebut.
07:09Nah ini yang,
07:10ya kalau Pak Dian bilang ada luka gitu ya,
07:13itu yang menambah luka lagi gitu ya.
07:15Nah sekarang,
07:16bagaimana ini kita bisa mengembalikan?
07:19Nah revitalisasi hubungan.
07:20Nah di dalam MOU yang ada,
07:22itu kan Amerika Serikat menjanjikan,
07:24akan ada uang dana dari negara-negara
07:29untuk rekonstruksi Iran,
07:30kan gitu kan?
07:31Karena Iran mintanya sebenarnya 400 miliar dolar
07:35sebagai kompensasi dia diserang.
07:38Ya kalau dulu kita jaman Jepang itu dana apa itu?
07:41Kayak pampasan perang.
07:43Pampasan perang.
07:44Nah dia minta 400 juta,
07:46Amerika bilang gak mau.
07:47Akhirnya disepakati,
07:48oke 300 juta,
07:50tapi ini bukan hanya Amerika.
07:52Tetapi juga bukan dari taxpayer dari Amerika,
07:55tapi gabungan negara-negara.
07:56Malaysia sudah ada loh.
07:58Saya lihat Malaysia ada.
08:00Pertanyaan kita di Indonesia gimana nih?
08:02Kita mau menebus gak nih kesalahan kita kemarin-kemarin ini?
08:05Karena posisi.
08:06Karena posisi.
08:09Indonesia harus menebus itu?
08:11Apalagi Anda sudah menambah potensi.
08:13Anda salah tafsir ya,
08:15Prof.
08:19Bahwa yang namanya sanksi,
08:20tidak akan mungkin diselesaikan dalam dua bulan ke depan.
08:25Tidak akan mungkin?
08:25Tidak akan mungkin.
08:26Itu yang membuat Anda tadi menyampaikan,
08:28jangan buru-buru berharap sama.
08:29Jangan buru-buru berharap.
08:30Oke.
08:30Kenapa?
08:31Gimana soal sanksi?
08:32Soal sanksi ini antara lain paling jelimet,
08:34dua hal di dalam masalah program nuklir Iran,
08:37yaitu masalah pengayaan uranium dan masalah sanksi.
08:41Sanksi ya.
08:42Nah, pengayaan uranium kita paham.
08:44Sanksi itu tidak semudah.
08:46Sekarang sudah ada ribuan orang Iran,
08:50ribuan perusahaan Iran,
08:53ratusan perusahaan Iran,
08:54entitas Iran, dan sebagainya
08:56yang dikenakan sanksi.
08:58Belum lagi urusan otomotif,
09:01militer, aviasi, dan sebagainya.
09:04Artinya apa?
09:05Kalau sekarang ditandatangin kesepakatan ini,
09:09itu hanya utamanya yang saya bilang di awal tadi,
09:12penghentian perang.
09:13Dengan penghentian perang,
09:14minyak turun,
09:15walaupun kita bisa menikmati,
09:17mungkin...
09:17Dengan penghentian perang,
09:18minyak turun?
09:19Sudah ada kecenderungan turun.
09:20Oh, ada kecenderungan turun.
09:21Karena harapannya selat hormus ya.
09:23Oke.
09:23Itu pun masih menunggu,
09:24mungkin sampai kapalnya datang di Singapura.
09:27Tapi yang saya mau bilang begini,
09:28yang namanya sanksi itu Indonesia ini.
09:32Saya di Iran 2012 sampai 2016,
09:36perjanjian GCPO disepakati 2015.
09:39Ketika itu,
09:41dunia berharap sanksi langsung.
09:43Sebuah kesepakatan yang 100 lembar,
09:47ditandatangani oleh semua negara P5.
09:51artinya bukan hanya imediat,
09:53itu otomatis saat itu dianggap berlaku.
09:56Tapi ternyata kan tidak.
09:58Pertamina membeli 500 ribu,
10:02kalau gas itu apa?
10:04LPG itu.
10:05MBCTU atau apa itu.
10:07Dalam 10 kali pengapalan.
10:092 kali pengapalan,
10:1150 ribu, 50 ribu, lancar.
10:14Ketiga,
10:16Pertamina putuskan,
10:17tidak dilanjutkan.
10:18Amerika,
10:18padahal perjanjiannya sudah ditandatangani.
10:22Ini baru memorandum of understanding.
10:26Buat saya masih sangat lus gitu loh.
10:29Belum ada.
10:30Apa yang menurut Dubez Dian,
10:33pemerintah harus lakukan?
10:34Supaya lebih progresif ketimbang menanti,
10:36bahwa ini sangat tersandra oleh yang namanya sanksi atau?
10:40Buat saya,
10:41untuk menanangkan masyarakat juga,
10:44apalagi yang paham geopolitik,
10:46mulai disadarilah,
10:49bahwa contoh ya konkret,
10:51keluar dari BOP saja.
10:53Keluar dari BOP saja.
10:54Itu sudah akan membuat rakyat juga,
10:56oh pemerintah sudah kembali ke jalan yang benar.
10:59Itu secara psikologis.
11:00Tapi yang dampak langsung kaitannya dengan
11:02harga yang dirasakan oleh masyarakat,
11:04perbaikan ekonomi.
11:05Kalau perbaikan ekonomi,
11:07saya kira masih jauh.
11:08Karena buat saya yang namanya sanksi tadi saja,
11:12mungkin kalau nanti setelah 6 bulan itu perjanjian bisa disepakati,
11:17dan saya kira juga setelah 60 hari itu juga belum tentu gampang.
11:22Oke.
11:23Oke.
11:23selamat menikmati.
11:26selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan