Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman/Mantan Aktivis 1998, Fahri Hamzah mengatakan dirinya mengikuti perjalanan pemikiran Prabowo dalam waktu yang cukup lama.

Menurutnya, Prabowo merupakan sosok yang datang dengan agenda perubahan besar bagi Indonesia.

"Dan kalau kita baca memang dia adalah seorang pembaca, seorang yang menulis sebelum berkuasa. Dan orang yang datang dengan agenda. Bahkan agendanya itu adalah agenda transformasi besar-besaran," kata Fahri Hamzah.

Fahri menjelaskan bahwa sebagian kesalahpahaman terhadap Prabowo berakar dari pengalaman generasi reformasi yang menurutnya terpapar berbagai tuduhan.

Menurutnya, generasi reformasi tumbuh dengan berbagai informasi negatif mengenai Prabowo yang hingga kini masih membekas dalam ingatan mereka.

Menurut Fahri, kondisi tersebut membuat sebagian orang masih memandang Prabowo berdasarkan persepsi masa lalu.

Aktivis Prodemokrasi/Akademisi Universitas Andalas, Feri Amsari secara terbuka mengaku tidak sependapat dengan anggapan bahwa Prabowo merupakan sosok yang rajin membaca.

Ia bahkan menilai kebiasaan membaca seseorang dapat terlihat dari pilihan kata dan cara berbicara yang digunakan sehari-hari.


Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/oBI5xUrGghs



#feriamsari #fahrihamzah #aktivis

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674421/debat-fahri-hamzah-sebut-prabowo-korban-fitnah-masa-lalu-feri-amsari-beda-pendapat-rosi
Transkrip
00:00Kenapa saya ingin jadi presiden?
00:03Saya ingin jadi presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an Indonesia menuju arah yang salah.
00:16Anda masih di program Rosy Ruang Opini Sumber Informasi.
00:20Saya Rosyana Silalahi.
00:21Presiden Prabowo mengatakan selama ini Indonesia salah arah.
00:24Kekayaan negara hanya dikuasai oleh segelintir orang.
00:26Saya masih bersama dua aktivis, aktivis 98 yang sekarang ada di Kabinet Merah Putih, Fahri Hamzah, dan aktivis pro-demokrasi
00:34sekaligus pengajar di Universitas Andalas, Fahri Ansari.
00:39Presiden Prabowo kerap menekankan bahwa ia ingin mengembalikan ekonomi Indonesia supaya juga memberikan keadilan.
00:47Bung Fahri Hamzah selalu saya dengar mengatakan bahwa berhentilah kita mencurigai presiden Prabowo karena selama ini tujuannya baik.
00:58Apakah orang-orang seperti Bung Fahri Amzahari ini, para aktivis, mahasiswa ini memang tidak paham dan kerap mencurigai presiden Prabowo
01:07sehingga tidak menangkap maksud baiknya?
01:09Saya mengikuti Pak Prabowo cukup lama ya, baik dalam pikiran maupun bertemu dalam realitas begitu.
01:20Dan kalau kita baca memang dia adalah seorang pembaca, seorang yang menulis sebelum berkuasa.
01:27Dan orang yang datang dengan agenda, bahkan agendanya itu adalah agenda transformasi besar-besaran.
01:34Itu sebabnya saya cocok dengan istilah arah baru, bahkan memakai istilah Indonesia ingin menjadi negara kuat, negara super power dan
01:44sebagainya.
01:45Itu karena sekali lagi dia sudah tulis, kalau kita baca paling tidak ada dua buku yang beliau tulis tentang itu.
01:52Pertama, paradoks Indonesia itu kan kritik kepada sistem.
01:55Negara kaya tapi banyak mengimpor.
01:59Penghasil CPO terbesar di dunia, tapi minyak gorengnya sering langka dan harganya tinggi.
02:06Kekayaan kita yang tidak dikelola secara amanah.
02:09Dan kita tahu pesa pora tambang, pesa pora mineral, CPO.
02:13Kalau itu tujuannya baik, kenapa itu tidak bisa diterima dengan baik?
02:16Ya, makanya itu kan pertanyaan nanti saya ingin dialog dari hati ke hati, Bung Ferry ini.
02:22Karena menurut saya, saya...
02:23Tapi saya termasuk yang tidak percaya presiden suka membaca, Bang.
02:26Termasuk...
02:26Karena ciri-ciri membaca itu gampang, Bang.
02:31Kalau saya yakin Rosyana Silalahi dan Fahri Hamzah membaca, saya bisa lihat dari rangkaian diksi yang dia gunakan ketika bicara.
02:39Dan ini bukan tipe orang yang rajin membaca.
02:41Saya mau baca.
02:42Bagi saya, hentikan cerita, mengagung-agungkan presiden rajin membaca.
02:46Tapi saya, tapi Bung Ferry, izinkan saya koreksi sedikit.
02:49Mungkin dalam bahasa Indonesia.
02:51Karena beliau membaca bahasa Inggris dan kerap berbahasa Inggris.
02:55Bisa jadi ketika menerjemahkan kebahasa Inggris.
02:58Itu sebabnya menurut saya, dia salah membaca soal Indonesia.
03:01Terlalu banyak membaca buku asing dan Inggris.
03:03Saya mau teruskan.
03:04Kestansi dulu.
03:05Buku pertama itu ada kritik sistem.
03:08Dan kritik sistem itu di masa Pak Jokowi, buku itu masih diterbitkan, diberi judul dan solusi-solusinya.
03:15Lalu kemudian mulai berbicara dan berkomunikasi dengan presiden.
03:20Dan menurut saya, itu salah satunya sebab kenapa pada akhirnya kemudian terjadi koalisi dengan Pak Jokowi.
03:27Karena agenda-agenda independensi, kemandirian bangsa, hiririsasi dan sebagainya itu memang secara ngotot diperjuangkan.
03:35Dan Pak Jokowi setuju untuk melakukan itu.
03:38Lalu muncullah buku yang kedua itu, Strategi Transformasi Bangsa.
03:42Oke, tapi kita jangan bicara buku, Bung Ferry.
03:43Yang dibayangkan oleh Pak Prabowo itu adalah satu skala transformasi.
03:48Saya sebagai generasi reformasi yang mendobrak otoritarianisme seperempat abad yang lalu lebih,
03:55melihat bahwa dalam semua kepemimpinan Indonesia dalam transisi,
04:00saya melihat hanya Prabowo yang bisa memberikan harapan pada perubahan yang mendasar.
04:05Setelah era reformasi?
04:06Ya, setelah era reformasi.
04:07Karena kalau kita lihat, itu berbahaya sekali ya.
04:11Pertumbuhan ekonomi kita ini flat, jumlah orang miskinnya itu nambah atau berkurang sedikit.
04:17Jumlah kelas menengahnya juga flat, tapi jumlah orang kayanya itu luar biasa, melompat.
04:22Dan itu menciptakan ketimpangan.
04:24Kalau tujuannya baik, mengapa itu tidak bisa dibaca dengan baik?
04:26Sekarang kita berbicara ke soal kedua.
04:28Kenapa Pak Prabowo disalahpahami?
04:30Kalau menurut saya ada banyak alasan untuk salah paham kepada Prabowo.
04:34Salah satunya adalah trauma generasi yang sering saya katakan.
04:38Pada generasi reformasi itu, mereka mendengar dan menikmati fitnah tentang Pak Prabowo itu yang menumpuk,
04:46yang banyak sekali.
04:47Sehingga kadang-kadang fitnah itu belum keluar dari pikiran mereka.
04:50Dan masih memanggap bahwa Pak Prabowo itu seperti yang difitnahkan oleh orang di masa lalu.
04:56Tapi kalau kita bicara mahasiswa sekarang, mereka tidak merasakan mendengar fitnahan itu.
05:00Yang mereka lihat soal MBG, mereka lihat soal anggaran pendidikan.
05:04Nanti kita jelaskan yang itu.
05:05Tapi ini saya bicara satu layar dari generasi yang memang menyimpan trauma seperti itu.
05:10Tapi makanya saya mengerti, problem kedua itu memang ada problem kultural.
05:17Antara sebagian orang dengan cara Pak Prabowo berkomunikasi,
05:21subkultur yang dia bawa, latar belakang pendidikan yang dibawa, itu memang tidak mudah.
05:25Orang ini pinter, cerdas berpikir dengan bahasa asing yang tadi Mbak Rosi katakan.
05:31Itu konfidennya sangat tinggi, ketemu pemimpin-pemimpin negara.
05:34Itu sangat konfiden, saya mengikuti beberapa pertemuan tertutup dengan pimpinan-pimpinan negara.
05:39Konfidennya luar biasa.
05:41Dan saya kira ini adalah salah satu presiden yang punya konfiden besar dalam sejarah Indonesia yang menurut saya kita perlukan.
05:47Tapi memang kemudian oleh kita dianggap ini melanjutkan salah paham kita.
05:52Karena cara berkomunikasi tadi itu.
05:54Tapi bagi mereka yang punya kesempatan mendekat kepada Pak Prabowo, saya lihat dia berubah.
06:00Coba lihat sekarang ini ya, di dalam kabinet itu.
06:02Yang terakhir masuk ini jumur.
06:04Ini kan generasi-generasi yang sebenarnya alergi dengan order baru.
06:08Karena mereka ini yang melawan order baru.
06:10Ada Budiman, ada anak-anak PRD di situ paling banyak, Gus Jabu dan sebagainya.
06:15Tapi mereka setelah ketemu dengan Pak Prabowo, mereka mengatakan inilah pejuang kita.
06:19Dan dengan orang inilah kita menjalankan seluruh agenda reformasi yang pernah kita punya dulu.
06:23Dan itu yang menyebabkan mereka sekarang hadir menjadi pembela Pak Prabowo.
06:27Nah di sebagiannya mungkin memang masih memelihara, salah paham dan sebagainya.
06:32Tapi menurut saya kenapa tidak?
06:34Berkomunikasi.
06:35Oh jadi cara untuk tidak salah paham diajak ke kabinet ya?
06:39Enggak, berkomunikasi.
06:40Saling memahami.
06:42Ya kan?
06:43Kan kita ini mau bertengkar apa Mbak Rosy?
06:45Apa yang mau kita bertengkarkan?
06:46Mau menang-menangan apa kita ini?
06:48Kita kan Pak Prabowo ingin ngasih makan rakyat.
06:50Ingin agar stunting hilang.
06:52Ingin korupsi sumber daya alam hilang.
06:54Apa yang beda?
06:55Apa yang rusak dari semua itu?
06:57Tujuan yang baik sering sekali disalahpahami.
07:00Coba Anda menjawab hal itu.
07:02Itu bagian kedua dari kesalahan Bang Fahri menilai aksi besok dan generasi yang ada saat ini.
07:09Beliau mengukurnya dari hal yang sama.
07:12Bahwa Pak Prabowo sudah berubah dari yang dulu.
07:16Padahal yang memfitnah cerita soal Pak Prabowo kan generasinya abang tuh dalam masa-masa itu.
07:22Jadi tidak ada soal dengan generasi sekarang.
07:24Mereka tidak melihat itu.
07:25Melihat yang mereka lihat.
07:28Adalah kondisi kekinian.
07:30Kabinet 110 orang untuk apa gunanya.
07:34Bahwa kebijakan tidak tepat sasaran soal MBG.
07:39Itu uang negara triliunan per hari gitu ya.
07:43Lalu kemudian kebijakan ekonomi yang tumpang tidih satu sama lain.
07:48Kebijakan global yang out-outan.
07:51Yang jauh dari cita-cita bangsa.
07:52Dan itu ini ingin Anda jelaskan atau tekankan bahwa itu gak ada hubungannya dengan salah paham.
07:56Karena mereka juga waktu itu tidak mengetahui soal latar belakang.
08:00Mereka tidak terikat dengan cerita yang.
08:03Disebarkan oleh Bang Fahri dan teman-temannya soal Pak Prabowo dulu.
08:07Mereka terikat dengan kondisi saat ini.
08:09Mereka masih merasakan UKT yang mahal.
08:12Mencekik mereka.
08:13Kebijakan pendidikan yang berganti, berubah-ubah.
08:17Itu yang mereka ingin gaungkan.
08:19Sementara Presiden terlalu sibuk berpidato.
08:23Berjam-jam tanpa ada solusi.
08:26Hari ini kita bisa lihat.
08:27Memang ada keinginan pemerintah mengatakan kondisi ekonomi kita baik-baik saja.
08:33Fundamental ekonomi kita oke.
08:35Saya yakin orang sekelas Bang Fahri.
08:37Saya mengikuti Bang Fahri juga dari dulu.
08:40Sebagai seorang aktivis.
08:41Kalau Bang Fahri di luar kekuasaan.
08:44Saya yakin ini seluruh kebijakan sudah dibidas oleh Fahri Hamzah.
08:50Rasionalitasnya, tabrakan logikanya pasti dihajar oleh seorang Fahri.
08:55Hanya karena dia sekarang sedang ada di bagian itu.
08:58Dia akan memuji Presiden.
08:59Ini adalah sebuah kesalahpahaman.
09:02Jadi menurut saya, yang perlu dilakukan istana adalah bukan membangun rasionalitas terhadap sesuatu yang salah.
09:10Tapi pastikan kebijakan itu betul-betul tepat sasaran.
09:13Ada ruang koreksi gak Bang Fahri?
09:15Kan yang diinginkan adalah ruang koreksi kan?
09:17Perbaikan.
09:18Ya salah satu pertanyaan besar yang Mbak Rosi sampaikan adalah
09:21berani tidak melakukan perbaikan di kabinet yang 110 itu menjadi lebih sederhana.
09:29Dikonsisekan menjadi tepat sasaran.
09:31Saya kira ya kalau selama Anda rasional ya, Bung Fahri dan kawan-kawan, Anda pasti akan didengar oleh Pak Prabowo.
09:39Orang itu mendengar orang yang rasional.
09:42Mungkin dia terpancing kalau ada orang yang sinis, ada orang yang berlebihan lah kira-kira gitu ya.
09:51Tapi kalau orang rasional, punya data, punya argumen, dia senang banget itu.
09:55Dan menurut saya itulah optimisme kita karena presiden kita itu logis gitu.
10:02Dia mengerti bahwa kita boleh berbeda pendapat dengan orang.
10:07Tapi kalau orang itu logis, dia punya data, dia punya argumen, mungkin saja dia punya kebenaran yang harus kita dengar.
10:16Nah kadang-kadang cara ekspresinya mungkin ada keterbatasan, tidak ada manusia yang sempurna.
10:20Tapi untuk kita ketahui bahwa gerakan mahasiswa sendiri kan selalu diuji oleh realitas.
10:27Kita dulus juga, Mbak Rosi, kalau kita lagi demo-demo di awal itu.
10:31Kalau masyarakatnya itu memang merasa tidak ada yang berat, mereka tidak ditindas, mereka dikasih makan, dibikinkan kooperasi.
10:39Ada banyak masalah di sini, tapi Pak Prabowo ingin mentransformasi ekonomi yang tadinya cuma dikuasai oleh,
10:45mohon maaf ya, oleh segelintir orang, oleh Pak Prabowo sekarang ini ekonomi itu mau diserahkan kepada masyarakat bawah.
10:53Bikinlah kooperasi, bikinlah gabungan.
10:55Saya enggak sepakat poin itu Bang, poin itu berulang-ulang bagi saya.
10:58Soal sosialisme, ekonomi gaya baru dan segala macam.
11:01Yang ada bagi saya adalah fasisme.
11:04Cerita soal ultranasionalisme, berbalut jubah yang dinamakan militaristik,
11:09dan mengambil ruang-ruang publik sipil menjadi lebih jauh.
11:13Sekarang pemerintah enggak bisa nipu-nipu publik Bang.
11:16Kooperasi Merah Putih itu ada yang di hutan Bang.
11:19Iya.
11:19Itu bagaimana menjelaskannya?
11:21Anda baru melihat itu kepala BGN-nya ditangkap masuk buwi.
11:25Ya tidak ada hubungan dengan kooperasi Merah Putih.
11:27Oh enggak, siapapun.
11:27Ini militaristik yang ada.
11:29Pak Prabowo enggak akan melindungi siapapun.
11:31Bagi saya, Abang perlu menjawab.
11:34Abang perlu menjawab dulu.
11:36Bagaimana gagasan Abang soal militaristik yang multifungsi,
11:41soal polisi yang masuk ke ruang-ruang sipil.
11:43Bukankah itu sesuatu yang Abang tentang dulu?
11:46Oh gini.
11:46Ini hari ini kita membangun sesuatu yang tidak profesional.
11:49Anda kan ahli tata negara.
11:50Ya itu tidak profesional.
11:52Tata negara bilang tugas militer dan polisi cuma satu, Bang.
11:55Iya tapi semua ada metodenya.
11:57Seberapa takut Anda memang militaristik itu benar-benar masuk ke ruang-ruang sipil?
12:02Enggak begini.
12:03Sangat-sangat takut.
12:04Gini loh.
12:05Karena apa yang terjadi di Lengteng Agung, Bang.
12:08Betapa militer dengan mudah memukul publik.
12:11Apa yang terjadi di berbagai desa.
12:13Bagaimana tanah publik dicoplok.
12:15Apa yang terjadi dengan kooperasi desa yang digantikan oleh kooperasi Merah Putih.
12:20Ini bagaimana wajah militer yang tidak tepat sasaran.
12:24Konstitusi kita sederhana.
12:25Tugas mereka pertahanan, melindungi kita.
12:29Kewajiban negara memastikan kesejahteraan bagi militer kita.
12:32Bukan memberikan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
12:37Polisi kita juga tidak sejahtera.
12:39Pastikan dia sejahtera.
12:40Bagaimana bisa mereka menangkap para begal, bandar judul, bandar narkoba.
12:46Kalau parlemen dan partai tidak memikirkan nasib mereka.
12:50Tapi mereka dipaksa melakukan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
12:56Dan itu dilakukan oleh Presiden dan berbagai menteri-menterinya.
12:59Oke, kita berikan jawaban oleh Bung Fahri.
13:02Selamat menikmati.
13:06Selamat menikmati.
13:07Selamat menikmati.
13:07Selamat menikmati.
13:07Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan