- 6 menit yang lalu
- #feriamsari
- #fahrihamzah
- #aktivis
JAKARTA, KOMPAS.TV - Aktivis prodemokrasi sekaligus akademisi Universitas Andalas, Feri Amsari, menilai kemungkinan munculnya Reformasi Jilid II tidak bisa diabaikan di tengah meningkatnya kekecewaan publik terhadap kondisi demokrasi dan pemerintahan saat ini.
Saat ditanya apakah aksi turun ke jalan saat ini dapat mengarah pada Reformasi Jilid II, Feri menjawab terbuka terhadap kemungkinan tersebut.
Menurut Feri, kekhawatiran publik muncul karena berbagai gejala yang dianggap menunjukkan kemunduran demokrasi.
Ia menilai kondisi tersebut memunculkan keresahan yang harus segera direspons pemerintah.
Feri juga menyoroti pentingnya faktor ekonomi dan kualitas demokrasi dalam menjaga stabilitas sosial dan politik.
Menurut Feri, kemarahan dan kekecewaan masyarakat saat ini bukanlah sesuatu yang muncul secara mendadak.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/oBI5xUrGghs
#feriamsari #fahrihamzah #aktivis
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674420/demo-mahasiswa-feri-amsari-ke-fahri-hamzah-kekecewaan-publik-pada-pemerintah-menumpuk-1-5-tahun
Saat ditanya apakah aksi turun ke jalan saat ini dapat mengarah pada Reformasi Jilid II, Feri menjawab terbuka terhadap kemungkinan tersebut.
Menurut Feri, kekhawatiran publik muncul karena berbagai gejala yang dianggap menunjukkan kemunduran demokrasi.
Ia menilai kondisi tersebut memunculkan keresahan yang harus segera direspons pemerintah.
Feri juga menyoroti pentingnya faktor ekonomi dan kualitas demokrasi dalam menjaga stabilitas sosial dan politik.
Menurut Feri, kemarahan dan kekecewaan masyarakat saat ini bukanlah sesuatu yang muncul secara mendadak.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/oBI5xUrGghs
#feriamsari #fahrihamzah #aktivis
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674420/demo-mahasiswa-feri-amsari-ke-fahri-hamzah-kekecewaan-publik-pada-pemerintah-menumpuk-1-5-tahun
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Selamat malam, program ROSI kembali hadir ke hadapan Anda sebagai ruang OPD Sumber Informasi.
00:04Bersama saya, Rosyana Silalahi.
00:06Seruan aksi turun ke jalan makin nyaring terdengar.
00:09Mahasiswa menilai pemerintahan Prabowo telah salah menerapkan kebijakan yang membuat rakyat makin susah.
00:15Bagaimana menanggapi seruan ini?
00:17Saya mengundang dua aktivis.
00:19Aktivis 98 yang sekarang ada di pemerintahan Presiden Prabowo,
00:24yaitu Fahri Hamzah dan Ferry Amsari, aktivis pro-demokrasi yang masih di luar pemerintahan.
00:31Dua aktivis sudah di dalam, masih di luar.
00:34Selamat malam, Bung Fahri, Bung Ferry.
00:36Selamat malam.
00:37Sebagai aktivis 98, seruan untuk turun ke jalan makin nyaring terdengar.
00:41Dan besok pada tanggal 12 Juni, hari Jumat besok, akan ada aksi turun ke jalan BMUI, adik-adik Anda.
00:50Itu menyuruhkan satu yang cukup tegas, yaitu tentang kehidupan bangsa yang makin susah.
00:56Apa, sebagai yang awal, apa seruan Anda juga bagi mahasiswa yang akan turun ke jalan besok?
01:02Ya, pertama, kita mengerti hak-hak kita di dalam demokrasi kita.
01:08Dan unjuk rasa adalah di antara hak dasar dari warga negara Indonesia.
01:14Dan dalam hal ini, mahasiswa sering menjadi ujung tombak dari keaktifan masyarakat untuk menyampaikan gagasan-gagasannya.
01:26Bahkan melebihi buruh, karena kelas menengah buruh kita itu tidak terlalu dominan, karena kita bukan negara industri.
01:34Karena itulah, peran-peran ini dilakukan oleh mahasiswa dan sebagai mantan mahasiswa, tentunya saya senang melihat keaktifan adik-adik mahasiswa.
01:46Karena pada dasarnya mereka adalah calon-calon pemimpin nantinya.
01:52Mereka yang dari awal menanamkan sensitivitas pada perasaan dan fikirannya, mereka yang akan nanti menjadi pemimpin.
01:59Tetapi saya punya catatan tentang penggunaan kata reformasi.
02:06Karena dulu, seperempat abad yang lalu, atau 27 tahun yang lalu, yang kita hadapi itu adalah sistem yang totally different.
02:17Dengan sekarang?
02:18Sangat berbeda dengan sekarang.
02:19Dulu konstitusi kita adalah konstitusi otoriter.
02:23Oke, di situ sepakat, sorry, saya potong sedikit.
02:25Tetapi melihat kesulitan ekonomi, dolar yang sudah lebih tinggi sepanjang sejarah, dan beban masyarakat yang dianggap sudah terlalu berat.
02:35Mengukur tingkat kesulitan hidup masyarakat itu tidak bisa juga dibandingkan dengan yang dahulu.
02:42Makanya saya tadi ingin cerita sedikit, apa perbedaan masa lalu dengan masa yang ada sekarang ini.
02:48Masa lalu itu betul-betul kesulitannya itu menyebabkan kita terhimpit dan tidak punya pilihan.
02:55konstitusinya otoriter, negaranya otoriter, pemimpinnya tidak tergantikan, para pejabatnya semena-mena, militer dan TNI dan Polri masih digabung.
03:09Kemudian kebebasan media tidak ada, tidak ada komunikasi seperti ini, tidak ada sosial media.
03:15Ruang publik itu tertutup dan kita tidak bisa berbicara kepada siapapun.
03:19Kita berbisik-bisik dan akhirnya itu yang meledak menjadi persoalan.
03:24Ketika masyarakat juga pilihannya di dalam ekonomi tidak ada yang bebas.
03:28Tidak ada TikTok seperti sekarang di mana orang bisa berjualan setiap saat.
03:33Ekonomi kita tidak terbuka dan ekonomi kita ya tentu strukturnya masih sangat didominasi oleh segelintir elit.
03:40Sekarang struktur ekonomi kita lebih luas.
03:43Bahkan Presiden merancang struktur yang lebih lebar lagi.
03:46Karena itulah konsentrasi dari Presiden Prabowo adalah pertama kita mengakhiri kebocoran, korupsi dan perampokan sumber daya alam yang selama ini
03:55dibiarkan terjadi dan kita memang seperti abai.
03:58Tidak berani going after mereka-mereka yang melakukan korupsi terhadap sumber daya alam.
04:03Yang kedua setelah kita punya uang dan kita mesti mulai dari sekarang kita harus memutus rantai ketimpangan antara yang paling
04:12kaya dan sangat kaya dengan yang paling miskin dan sangat miskin.
04:16Karena jini koefisien kita juga menunjukkan hal yang sama.
04:19Jadi itu semua sedang berjalan dan reformasi sedang diteruskan.
04:23Sedang kita selesaikan agenda-agenda yang kita dulu memang rancang sebagai agenda reformasi kita.
04:30Oke, saya masuk ke Bum Ferry.
04:33Menurut Anda apakah aksi turun ke jalan saat ini juga bisa mengarah kepada reformasi jilid kedua?
04:40Ya kenapa tidak?
04:42Kalau dilihat apa yang disuarakan banyak pihak.
04:46Bang Fahri melihat apa yang terjadi di masa lalu dengan situasi yang berbeda.
04:53Itu benar.
04:54Tetapi yang dilihat publik sekarang apa yang terjadi hari ini sedang menuju masa lalu.
05:00Militeristik, kembalinya militer dan kepolisian di ruang-ruang sipil.
05:06Tindakan kekerasan terhadap publik, pencaplokan tanah-tanah publik, demokrasi yang gagal bekerja.
05:15DPR tidak lagi penyeimbang dari eksekutif padahal mimpi reformasi memastikan perimbangan ini.
05:22Sehingga kekecewaan-kekecewaan ini menimbulkan keinginan yang berbeda.
05:29Ini harus segera diperbaiki sebelum kemudian terpleset lebih jauh.
05:35Titik tertentu yang kemudian kita lihat faktor ekonomi, faktor-faktor demokrasi itu menjadi hal-hal yang menjadi sangat penting.
05:43Hari ini banyak kesadaran teman-teman di dalam istana lebih punya kecenderungan sekedar menjunjung apa yang disampaikan oleh pemerintah.
05:55Bukan menjadi figur yang bisa menetralisir keadaan agar pemerintah bisa bekerja dengan baik sesuai harapan.
06:02Saya tidak melihat bahwa kekesalan ini datang tiba-tiba.
06:07Ini proses satu setengah tahun yang penuh dengan kekecewaan.
06:11Tentu bukan sekedar karena faktor pidato presiden yang tidak bisa menambah 10 tambah 6 ya.
06:17Tetapi lebih dari itu juga soal kebijakan-kebijakan.
06:20Saya mau masuk sini.
06:22Kekecewaan selama satu setengah tahun, tidakkah itu terlalu singkat untuk langsung menilai ada satu kegagalan sehingga ini bisa masuk ke
06:29reformasi jilid kedua?
06:30Ya, terlalu singkat kalau kita memahami bahwa ini hal yang wajar untuk kita beri waktu lebih panjang.
06:38Tapi kalau dilihat satu setengah tahun ini terplesetnya sangat luar biasa.
06:43Kesalahan menghitung matematika itu saja Mbak Rosi terjadi tiga kali.
06:48Nasihat publik agar tidak terlalu panjang berkunjung ke luar negeri tidak didengarkan.
06:53Orang-orang yang tampil di depan bukanlah profesional yang matang bekerja.
06:58Mohon maaf saya, saya bukan mau mengadu-ngadu juga.
07:00Kalau soal bicara ke depan publik kayaknya jauh lebih bagus Fahri Amzah dibandingkan SESCAP gitu ya.
07:07Tetapi itu menunjukkan sesuatu bagi kita bahwa orang yang ditampilkan oleh istana bukanlah profesional.
07:15Orang yang mestinya bisa diambil istana untuk meredam keinginan publik mengubah sesuatu.
07:21Kita masih punya si A, kita masih punya si B yang bekerja baik.
07:26Ini semuanya berantakan.
07:28Ekonomi berantakan, kebijakan luar negeri berantakan, perdagangan berantakan.
07:34Dan semua menimbulkan pertanyaan besar di mana peran presiden sebagai leader.
07:39Itu yang menyebabkan kita merasa kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid dua, bahkan mungkin lebih dari itu, untuk membangun kesadaran
07:50di diri presiden sendiri, dia sedang terpleset dan dia harus bangkit dengan cara yang benar.
07:56Sebagai aktivis 98 yang ada di pemerintahan, bagaimana Anda merasa ini ada benarnya atau merasa ini sama sekali tidak mendasar?
08:07Dunia ini sedang berubah.
08:09Saya kira setiap kehendak untuk menyamakan masa kini dengan masa lalu itu terlalu jauh.
08:18Karena instrumen-instrumen yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri, teknologi, ruang publik, keterbukaan, dan semua desain yang kita sudah letakkan dalam
08:31konstitusi kita
08:32sehingga menjadi konstitusi yang diantara yang paling demokratis di dunia ini, tidak memungkinkan kita kembali ke belakang.
08:40Kalau kita membaca, Bung Ferry adalah seorang ahli konstitusi kita,
08:45kalau kita membaca amandemen keempat itu kan totalnya kira-kira tinggal 12% pasal yang tidak berubah.
08:54Dan pasal-pasal itu yang berubah adalah pasal yang betul-betul menuntaskan seluruh elemen-elemen otoriter di dalam negara kita.
09:04Masa jabatan presiden dibatasi, keterbukaan informasi publik, independensi pengadilan, dan sebagainya.
09:13Termasuk memisahkan antara militer dengan...
09:16Tapi kalau tadi mendengar penjelasan Bung Ferry, apakah aksi mahasiswa turun ke jalan itu juga menjadi alarm bagi pemerintah?
09:24Kalau menurut saya ya, setiap pergerakan publik itu adalah alarm.
09:28Dan karena itulah semakin terbuka hati kita dan telinga pemerintahan,
09:37itu semakin baik untuk kita memahami dinamika apa yang sedang terjadi.
09:43Makanya dulu Mbak Rosy pernah saya mengusulkan adanya alun-alun demokrasi di DPR waktu saya memimpin DPR dulu,
09:50supaya kita melihat di sebelah situ ada demo nggak?
09:53Selain sekarang ini demonya itu pindah ke sosial media,
09:57memangnya itu problematik karena definisi dari ruang publik itu berpindah dari ruang publik fisik kepada ruang digital.
10:03Tapi maksudnya itu, suara masyarakat itu karena masyarakat kita banyak, jarak juga banyak,
10:09itu tidak boleh dibungkam dan itu harus dibiarkan ada dan kita mendengarnya itu sebagai cara kita untuk mengerti apa yang
10:19difikirkan oleh masyarakat.
10:21Jadi itu sebenarnya tidak ada masalah soalnya.
10:23Tapi kalau argumentasi mengapa mahasiswa turun ke jalan saat ini melihat bahwa situasi sekarang ini seperti kembali ke belakang?
10:29Iya, kalau dulu kita betul-betul tersumbat, kita mengomong dengan siapa di sini, ya kan?
10:37Konstitusinya mengizinkan otoritarianisme, kita nggak ada kebayang bahwa pemimpin kita akan diganti,
10:42dan pemimpin ini sudah berkuasa lebih dari 30 tahun, dan orang-orangnya itu ya diangkat seperti dan semaunya dia aja.
10:49Tidak ada keterbukaan informasi publik, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam negara.
10:53Kalau sekarang ini...
10:55Betul, tapi itu kan setelah berkuasa 30 tahun, kalau kita melihat rekam jejak kalau Presiden Soeharto,
11:00sekarang malah orang mengingat di zaman Presiden Soeharto menteri-menterinya luar biasa, teknokrat.
11:06Dan kalau tadi mengacu kepada penjelasan Bung Feru dibandingkan dengan pilihan menteri-menteri di kabinet Pak Pramu, jauh sekali.
11:14Dalam demokrasi itu memang ada penurunan kualitas orang-orang,
11:18karena orang-orangnya menjadi biasa, dia dipilih di antara rakyat.
11:22Yang mencalonkan diri kita lihat sendiri, kan anggota dewan kita kayak apa,
11:26ya kan termasuk yang terpilih atau yang diseleksi juga kan menjadi kualitasnya ada penurunan.
11:31Kalau kita lihat Putin, itu dia dipimpin oleh orang-orang hebat.
11:34Si Jinping, negara-negara otoriter yang kita bilang otoriter, ini mereka dipimpin,
11:38apa namanya, dibantu oleh orang-orang yang hebat.
11:42Lavrov, ya misalnya kalau...
11:44Itu hanya di rezim otoriter kita bisa mendapatkan orang-orang baik.
11:49Jadi bukan begitu, jadi begini, kita mesti mengerti dan membuat perbedaan bahwa...
11:54Karena kalau ketika Bung Fahri bilang seperti itu, berarti orang akan melihat bahwa,
11:58oh hanya di rezim yang otoriter kita dapat orang-orang baik.
12:00Dan sekarang kan kita lagi...
12:01Apa kalau Pak Prabowo mau mendapatkan orang-orang baik, izinkan masyarakat bangsa Indonesia
12:05untuk kita bisa kembali ke otoritarianisme.
12:07Semuanya natural, semuanya natural.
12:09Karena kita mengizinkan partai politik banyak,
12:11lalu partai politik itu menyodorkan orang-orang.
12:14Dan kemudian orang-orang yang disodorkan itu menjadi bagian dari basket yang harus dipilih oleh Presiden.
12:19Itu semua adalah sistem yang kita buat.
12:22Apa boleh buat, akhirnya orang-orang itu ikut terseleksi dan mungkin kita tidak puas.
12:27Cuma cara kita bagi persoalan ini ada tiga.
12:30Kalau kita tidak puas kepada sistem, baru kita bicara reformasi.
12:35Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja kelembagaan, kita melakukan evaluasi.
12:40Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja orang, kita minta Presiden untuk melakukan reshuffle.
12:45Dan itu semua sudah ada dalam lingkup cara kerja daripada negara demokrasi.
12:51Saya kasih jawaban Anda dulu.
12:52Saya merasa Bang Fahri salah memahami gerakan besok dan seterusnya soal apa yang dilakukan pemerintah.
13:01Bagaimana bisa salah memahamikan aktivis?
13:03Karena beliau meletakkan pandangannya dari sisi romantisme di masa lalu.
13:10Memang judulnya terkesan akan membangkitkan cerita masa lalu.
13:15Tapi ini gerakan kekinian para pemuda ini.
13:19Mereka melihat beda Mbak Rosi.
13:22Bang Fahri kalau menariknya ke 98 itu salah.
13:26Apa bedanya?
13:26Yang harus ditarik adalah peristiwa Nepal.
13:29Beberapa negara di Asia, beberapa negara di Eropa yang mempertanyakan pemerintahannya.
13:36Dengan internet yang beliau ceritakan belakangan, kita mengetahui sumber informasi kekesalan yang sama juga terjadi di pemuda-pemuda kita.
13:48Saya ngerti maksudnya Bang Fahri, jadi jangan melihat aksi demonstrasi ini yang kemudian, loh semuanya kalau dulu di Orde Baru
13:59itu karena semua tersumbat.
14:00Sekarang kan gak tersumbat, jadi harusnya jangan samakan dengan aksi reformasi.
14:05Karena seperti di Nepal itu karena bagaimana melihat pejabat yang hidup berfoya-foya sementara masyarakatnya makin susah.
14:11Jadi hanya karena melihat ketimpangan yang kemudian dipertontonkan secara serampangan dan itu memunculkan ketidakadilan, itu pun bisa memantik aksi mahasiswa.
14:21Salah satu faktornya soal ketimpangan, kekesalan misalnya terhadap MBG.
14:28Bahwa MBG sudah diprediksi ini akan menimbulkan penyakit korupsi, tidak tepat sasaran, meminta pemerintah melakukan piloting terlebih dahulu.
14:37Sabar dengan membentuk mekanisme yang tepat, misalnya melalui undang-undang.
14:42Peringatannya sudah panjang, begitu terjadi korupsinya, begitu terjadi keracunannya, orang sudah menumpuk kekesalan-kekesalan itu menjadi sangat tinggi.
14:54Dan besok mungkin jadi salah satu puncak awal dari berbagai kekesalan-kekesalan yang ada.
15:00Mereka juga kesal dengan respon-respon para menteri terkait dengan dolar yang kian tinggi, rupiah yang kian anjlok.
15:10Di respon seolah-olah tidak ada masalah.
15:12Dan itu bukan tabiat leadership.
15:16Leadership itu harusnya dengan penuh kesadaran memahami perasaan orang.
15:22Dan itu tidak terjadi di dalam pemerintahan Pak Presiden Prabowo.
15:25Orang sedang kesusan masih saja berkunjung ke luar negeri.
15:29Saya berani bertaruh dengan Bang Pari, walaupun tidak boleh secara agama, bahwa kunjungan ke Rusia besok akan singgah juga ke
15:36Perancis.
15:36Dan itu bagi saya sangat menakutkan.
15:40Kalau kesadaran teguran orang tidak diterima oleh pemimpin, dan pemimpin melupakan teguran itu,
15:47ya tentu saja akan ada protes-protes yang merupakan bagian dasar dari ruang demokrasi itu.
Komentar