00:01Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan sikap inkonsistennya terkait perang dengan Iran.
00:07Kita akan ulas bersama praktisi dan pengajar hubungan internasional, Sinergi Polisis, Dina Praptoraharja.
00:13Selamat malam, Mbak Dina.
00:15Selamat malam, Mbak Dian.
00:16Mbak Dina, ini kan setelah Trump membuka peluang akan bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran,
00:22tapi kemudian mengeluarkan pernyataan yang tendensinya meremehkan skala perang dengan Iran.
00:28Bagaimana kita membaca sikap Trump kali ini, Mbak Dina?
00:32Trump bicara dalam konteks, bicara ke masyarakatnya ya, ke dalam domestik, audiens domestik di Amerika Serikat.
00:41Kita tahu di tanggal 3 Juni kemarin, baru saja ada pengambilan keputusan di House of Representatives di DPR sana, di
00:49Amerika Serikat.
00:50Dan ada 4 negara perwakilan dari Kongres, dari House, yang 4 dari Partai Republikan yang mendukung War Power Resolution.
01:03Resolusi untuk membatasi mandat perang dari Presiden.
01:10Walaupun sifat dari resolusi ini sebenarnya terbatas, masih sifatnya konkuren.
01:18Jadi kalau di Amerika Serikat itu ada 2 jenis resolusi juga.
01:22Resolusi perang yang kali ini karena dari segi kekuatan Partai Demokrat itu relatif lemah dibandingkan Republikan,
01:32dia hanya partai minoritas, maka kali ini dia hanya mengajukan model yang konkuren.
01:36Tapi model konkuren ini sudah membuktikan ternyata ada 4 orang dari Partai Republikan yang bukan dari negara bagian main-main,
01:46memilih untuk pindah jalur dan mengecam Trump.
01:49Empat negara bagian penting tersebut adalah dari Michigan, kemudian dari Pennsylvania, kemudian dari Kentucky, dan dari Ohio.
02:00Empat negara bagian ini adalah penentu betul dalam tiap pemilu di Amerika Serikat.
02:07Dan kita tahu di bulan November besok ada pemilu selah di Amerika Serikat.
02:12Ini critical swing stage kalau orang Amerika Serikat bilangnya.
02:15Jadi kalau sampai pindah posisi mereka tidak mendukung lagi Partai Republikan, bisa dipastikan dalam pemilu mendatang Partai Republikan akan kehilangan
02:27suara.
02:28Dan kita lihat tadi Donald Trump bicara di depan forum petani yang memang secara tradisional itu merupakan pendukung dari Partai
02:37Republikan.
02:38Jadi kita melihat dari konteks di dalam negerinya, Trump sedang berusaha meyakinkan masyarakatnya bahwa yang dia lakukan itu sebenarnya tidak
02:47melanggar war resolution, war power resolution.
02:51Dan dia berusaha mengecilkan.
02:53Kembali lagi dia pakai narasi, perangnya nggak besar kok, udah berhenti sejak bulan April.
02:59Tapi kita tahu di Amerika Serikat tetap belum memandang ini bukan sebagai sesuatu yang kecil,
03:05tapi sesuatu yang berlarut-larut dan belum selesai biayanya.
03:09Oke, pernyataannya itu memframing citranya Trump di depan warga Amerika Serikat atau pemilihnya.
03:14Tapi apakah pernyataan Trump tersebut juga ada hubungannya atau kaitannya dengan Kongres?
03:19Mbak Dina, misalnya untuk melunakan Kongres supaya kemudian Trump bisa lebih leluasa untuk terus menyerang Iran?
03:28Dalam konteks Kongres, sebenarnya Donald Trump sedang berusaha untuk meyakinkan Kongres juga
03:35untuk menyetujui permintaan dana tambahan untuk urusan perang.
03:41Jadi untuk budget 2027, dia minta kenaikan anggaran perang 44%
03:48dan dari mana itu diambilnya?
03:50Dari program jaminan sosial yang ada di Amerika Serikat.
03:54Jadi bisa kita bayangkan ya, urusan perang ini ternyata membuktikan
04:01bahwa agenda yang seharusnya disiapkan Trump untuk masyarakat
04:06itu akan diambil alih untuk urusan perang.
04:09Jadi di sini sebenarnya kelihatan nggak konsistennya ya.
04:12Kalau memang perannya udah mau selesai, kenapa harus nambah anggaran?
04:17Kalau memang perannya kecil dan latihan, kenapa harus nambah anggaran?
04:21Bahkan sampai ngambil dana untuk jaring sosial masyarakat di Amerika Serikat.
04:26Itu menjadi pertanyaan juga Mbak Dina, inkonsisten pernyataan Trump terus berulang.
04:30Ini mengindikasikan apa? Kebingungan Trump kah dalam konflik ini?
04:35Trump dalam posisi mencari exit sebenarnya ya, tapi sampai hari ini belum ketemu caranya.
04:43Jadi kalau diperhatikan, yang diserang oleh Iran hari ini adalah dua negara yang sangat rentan
04:50di Timur Tengah, di Teluk ya, Bahrain dan Kuwait.
04:54Dua negara yang paling kecil, dua negara yang punya pangkalan militer,
04:58tapi pangkalan militer Amerika Serikat itu juga posisinya dekat sekali
05:02atau bahkan nempel dan digunakan sekaligus untuk pelabuhan ekspor-impor barang.
05:08Nah karena dua negara ini negara kecil, urusan makanan itu diimpornya dari sana.
05:14Dan dua negara kecil ini lebih dari 80%, bahkan kalau Bahrain itu sampai 85%,
05:19makanannya itu diimpor dari luar negeri lewat situ.
05:23Juga untuk air, air minum.
05:25Jadi bisa dibayangkan sebenarnya sekutu Amerika Serikat yang paling rentan
05:32itu ada di negara Teluk dan sampai hari ini dia belum bisa menyelamatkan.
05:37Konteks lain juga berkembang hari ini itu adalah respon dari Presiden Yosef Aoun ya
05:44di Libanon tentang Iran.
05:47Jadi tadi yang kita saksikan di gambar tadi,
05:52masyarakat Libanon marah ya bahwa urusan negosiasi ini menurut masyarakat
05:56udah lah gak usah negosiasi Libanon dengan Israel sendiri karena sudah terbukti kalah.
06:01Tapi kita lihat dalam wawancaranya Presiden Aoun itu masih berusaha untuk mengecilkan Iran
06:07dan berpikir bahwa dia masih bisa berhadapan dengan Israel langsung.
06:12Ini menurut saya juga kontradiksi, kemungkinan ada tekanan juga dari Amerika Serikat
06:16kepada Libanon untuk nyerah gitu kan.
06:21Jadi menurut saya sih Amerika Serikat masih berusaha mencari jalan lain
06:26dan kuncinya di sini juga salah satunya tetap Israel.
06:29Jadi Israel masih tetap mau melanjutkan perang di Libanon nih.
06:33Sehingga apapun yang dilakukan oleh Amerika Serikat masih belum cukup.
06:37Kita akan membahas juga nanti soal keterkaitan Israel dan juga sekutu Iran.
06:42Tapi yang mau saya tanyakan begini Mbak Dina,
06:44itu kan tadi kita bicara soal komunikasi Trump di dalam negeri atau secara internal.
06:48Tapi di eksternal juga maksud saya menghadapi Iran.
06:53Trump juga kerap menyampaikan statement misalnya,
06:56ya negosiasi bisa dilakukan lewat jalur diplomatik,
07:00tapi kemudian juga nanti bisa berubah mengatakan akan melakukan atau melancarkan langkah yang lebih keras.
07:06Anda melihat seperti apa statement Trump ini dalam proses negosiasi?
07:10Apakah itu hanya sekedar gertakan saja kepada Iran dan apakah itu efektif?
07:15Sebenarnya dia masih berharap bahwa Iran itu mau memberi ruang yang lebih luas kepada Amerika Serikat.
07:24Minimal supaya dia tidak malu lah mundur begitu kan.
07:27Apalagi kalau dilihat dari statement-statement Trump sejak tahun 2020,
07:32keinginan dia betul-betul untuk menjadikan Iran kalah,
07:36itu adalah satu agenda politik luar negeri yang belum terwujud.
07:40Dulu tahun 2020 dia pernah melakukan aksi serupa,
07:44membunuh juga sejumlah pemimpin tinggi di Iran,
07:48dan dari pihak Kongres itu melakukan upaya juga untuk menghentikan langkah tersebut.
07:54Dan waktu itu sudah hampir sukses.
07:58Apa namanya, ada full ya dari majoritas Kongres maupun Senat waktu itu setuju.
08:05Cuma problemnya di Senat itu tidak sampai 2 per 3 perset, 2 per 3 suara.
08:10Jadi akhirnya Trump memutuskan untuk veto.
08:14Jadi kalau kita perhatikan,
08:17kalau mungkin kita pakai teori di level individu ya,
08:20ada rasa dendam yang belum selesai dari Trump.
08:23Atau kita juga bisa lihat bahwa Trump masih tetap merasa susah ya
08:27untuk keluar dari pemikiran dia harus menang terhadap Iran.
08:31Kalau dia nggak ada ruang sama sekali di situ untuk merasa menang,
08:37maka dia akan terus push.
08:39Jadi inconsistency itu sebenarnya muncul dari perasaan di dalam hatinya.
08:43Kalau kita kasih misalnya permintaan Iran kan sebenarnya makin turun tuh ya,
08:48kalau diperhatikan ya.
08:49Ada misalnya untuk melepaskan aset,
08:52yaudah melepasnya nggak usah semuanya,
08:54tapi bertahap gitu kan.
08:5612 bilion,
08:58habis itu nanti bertahap di tahap berikutnya.
09:00Jadi setiap ada proses negosiasi,
09:02ada kemajuan.
09:03Itu soal aset.
09:04Tapi ternyata kan Amerika Serikat juga belum rela sampai di level itu kan.
09:09Oke baik.
09:10Memasuki 100 hari perang antara Amerika Serikat dan Iran,
09:13kita tentu akan memantau kemana ujung konflik antara Amerika Serikat-Iran
09:18maupun juga Israel dan juga Hezbollah.
09:20Terima kasih praktisi dan juga pengajar hubungan Internasional Sinergi Polisis.
09:24Dina Praptoraharja sudah berbagi pandangannya di Kompas Malam.
09:27Selamat malam dan sehat selalu.
09:30Terima kasih telah menonton!
Komentar