- 3 jam yang lalu
- #prabowo
- #kunkerpresiden
- #feriamsari
JAKARTA, KOMPASTV - Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Bahtra Banong membela kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang kerap melakukan kunjungan ke luar negeri.
Terkait polemik penggunaan dana pribadi untuk menutupi kekurangan biaya perjalanan dinas, Bahtra menilai langkah tersebut merupakan bentuk pengorbanan Presiden Prabowo bagi negara.
"Itulah bentuk komitmen Pak Prabowo. Beliau rela berkorban untuk kepentingan negara. Jangankan uang, nyawa pun beliau siap untuk kepentingan Merah Putih dan bangsa Indonesia," ujar Bahtra dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Selasa (2/6/2026).
Sementara itu, Peneliti Poshdem Universitas Andalas Feri Amsari memiliki pandangan berbeda.
Ia menilai penggunaan dana pribadi dalam perjalanan dinas negara justru berpotensi menimbulkan persoalan akuntabilitas.
"Saya merasa perlu juga Seskab Teddy atau teman-teman di Gerindra membaca Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164 Tahun 2015 tentang tata cara perjalanan dinas pejabat negara," kata Feri.
Menurut Feri, perjalanan dinas harus memenuhi prinsip selektif, efektif, efisien, dan transparan sebagaimana diatur dalam regulasi.
"Agak janggal di mata publik kalau kedatangan Presiden ke Prancis itu berkali-kali. Perlu dipertanyakan dalam rangka apa deal bisnis yang kemudian dilakukan sehingga berulang-ulang kali datang," ujarnya.
Feri juga menyoroti pernyataan bahwa sebagian biaya perjalanan ditanggung dana pribadi Presiden.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Lintang
Baca Juga JPU Tanggapi Klaim Nadiem soal Pemilihan Chrome OS Bikin Hemat Anggaran Rp3,9 Triliun di https://www.kompas.tv/nasional/672464/jpu-tanggapi-klaim-nadiem-soal-pemilihan-chrome-os-bikin-hemat-anggaran-rp3-9-triliun
#prabowo #kunkerpresiden #feriamsari
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/672479/full-polemik-lawatan-prabowo-gerindra-vs-feri-amsari-adu-argumen-sapa-malam
Terkait polemik penggunaan dana pribadi untuk menutupi kekurangan biaya perjalanan dinas, Bahtra menilai langkah tersebut merupakan bentuk pengorbanan Presiden Prabowo bagi negara.
"Itulah bentuk komitmen Pak Prabowo. Beliau rela berkorban untuk kepentingan negara. Jangankan uang, nyawa pun beliau siap untuk kepentingan Merah Putih dan bangsa Indonesia," ujar Bahtra dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Selasa (2/6/2026).
Sementara itu, Peneliti Poshdem Universitas Andalas Feri Amsari memiliki pandangan berbeda.
Ia menilai penggunaan dana pribadi dalam perjalanan dinas negara justru berpotensi menimbulkan persoalan akuntabilitas.
"Saya merasa perlu juga Seskab Teddy atau teman-teman di Gerindra membaca Peraturan Menteri Keuangan Nomor 164 Tahun 2015 tentang tata cara perjalanan dinas pejabat negara," kata Feri.
Menurut Feri, perjalanan dinas harus memenuhi prinsip selektif, efektif, efisien, dan transparan sebagaimana diatur dalam regulasi.
"Agak janggal di mata publik kalau kedatangan Presiden ke Prancis itu berkali-kali. Perlu dipertanyakan dalam rangka apa deal bisnis yang kemudian dilakukan sehingga berulang-ulang kali datang," ujarnya.
Feri juga menyoroti pernyataan bahwa sebagian biaya perjalanan ditanggung dana pribadi Presiden.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Lintang
Baca Juga JPU Tanggapi Klaim Nadiem soal Pemilihan Chrome OS Bikin Hemat Anggaran Rp3,9 Triliun di https://www.kompas.tv/nasional/672464/jpu-tanggapi-klaim-nadiem-soal-pemilihan-chrome-os-bikin-hemat-anggaran-rp3-9-triliun
#prabowo #kunkerpresiden #feriamsari
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/672479/full-polemik-lawatan-prabowo-gerindra-vs-feri-amsari-adu-argumen-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:04Intro
00:07Saudara Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Parera
00:11menilai kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Pati Jalal
00:15terkait tingginya frekuensi kunjungan kerja Presiden Prabowo Subiato ke luar negeri
00:19sebagai kritikan yang baik untuk pemerintah.
00:25Andreas bilang latar belakang Dino yang sebelumnya menjabat sebagai Wamenlu
00:29menandakan dirinya memiliki pengalaman dalam dunia diplomasi
00:32dan kritiknya perlu dipertimbangkan.
00:35Andreas meminta pemerintah dalam hal ini Menteri Luar Negeri
00:37untuk memaparkan hasil kinerja Presiden dalam setiap kunjungannya ke luar negeri
00:42untuk membangun kepercayaan masyarakat.
00:48Masukan-masukan untuk Presiden
00:51karena Presiden juga menyampaikan bahwa dia terbuka terhadap kekritik
00:55sebaik dari PDI Perjuangan, artinya dari partai maupun tentu dari masyarakat.
01:01Seorang ekspert dan punya pengalaman yang cukup dalam dunia diplomasi.
01:06Sehingga apa yang beliau sampaikan menurut saya patut menjadi pertimbangan.
01:11Biaya sebenarnya itu soal kedua, tapi yang penting itu adalah
01:15apa hasil daripada kunjungan-kunjungan tersebut.
01:20Nah ini yang menurut saya penting untuk menjadi akuntabilitas publik.
01:28Sementara itu Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habibur Rahman,
01:31sebut kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Pati Jalal
01:35terkait intensitas keunjungan Presiden Prabu ke luar negeri kurang etis.
01:40Habibur Rahman bilang model komunikasi Dino yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Women Lu
01:45kurang tepat dalam menyampaikan kritikan.
01:47Habibur Rahman meminta Dino untuk menghormati pemerintahan Prabowo
01:50yang tengah menjalankan tugasnya saat ini.
01:58Ada etika di kalangan orang yang pernah menjabat,
02:03artinya memberikan kesempatan kepada orang yang saat ini menjabat untuk bekerja.
02:09Ini kan negara demokrasi.
02:10Dia bilang negara demokrasi dia mengkritik,
02:12saya mengkritik balik beliau.
02:14Sejauh apa pemahaman beliau soal etika kita dalam konteks menyampaikan kritik seperti apa.
02:23Seorang mantan Women Lu tiga bulan menyampaikan kritikan,
02:27hendaknya lebih elegan.
02:35Kegiatan kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri kini menjadi sorotan publik.
02:40Diplomat senior yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patijalal
02:45mengkritik seringnya kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri.
02:49Dino menyarankan istana melakukan penghematan dengan memanfaatkan teknologi video call
02:54serta memangkas biaya protokoler yang dinilai membebani negara.
02:59Pagi sahabat lama Bapak,
03:01saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia
03:06menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan
03:10mengurangi perjalanan ke luar negeri
03:13dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini.
03:17Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia,
03:21Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
03:26Semenjak menjabat menjadi presiden,
03:28satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri.
03:32Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar.
03:38Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan bahkan ratusan miliar.
03:43Karena itu saya ada lima saran.
03:45Pertama, untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain,
03:49kami menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau zoom call atau telepon.
03:55Dengan satu video call yang bernilai nol rupiah,
03:59negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan ke luar negeri.
04:05Menanggapi kritikan tersebut,
04:07Sekretaris Kabinet Teddy Ingrawi Jaya menegaskan,
04:10jumlah rombongan Presiden Prabowo saat ini hanya berkisar 50 hingga 60 orang.
04:15Atau berkurang lebih dari separuh jika dibandingkan Presiden periode sebelumnya.
04:21Teddy mengklaim, jika ada kelebihan biaya logistik,
04:24sepenuhnya ditanggung oleh dana pribadi Presiden Prabowo.
04:28Jadi, segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara,
04:35itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo.
04:41Kemudian yang kedua, jumlah rombongan.
04:43Ini sangat penting.
04:44Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran,
04:48lebih dari separuh dari periode sebelumnya.
04:51Jadi, kalau dulu, itu sekalian luar negeri bisa lebih dari 120 orang.
04:58Zaman Pak Dino seperti itu.
05:00Nah, zaman Presiden Prabowo, jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal.
05:05Ini sudah banyak yang tahu, termasuk juga wartawan-wartawan pasti tahu itu semua.
05:11Sejak dilantik sebagai Presiden, pada Oktober 2024 lalu,
05:16Presiden Prabowo telah melakukan kunjungan kerja ke luar negeri sebanyak 53 kali.
05:21Perancis dan Malaysia merupakan tuan negara yang paling sering dikunjungi Presiden Prabowo.
05:27Timri Putang, Kompas TV
05:33Saudara mantan wakil Menteri Luar Negeri Dino Pate Jalal mengkritik
05:37seringnya Presiden Prabowo Subiantolo melakukan kunjungan ke luar negeri.
05:40Menjawab kritikan itu, Seskap Tedrinda Wijayam menjebut
05:45jumlah rombongan kunjungan Presiden ke luar negeri telah berkurang sekarang saat ini.
05:49Sementara menurut Teddy, jika ada kelebihan biaya, akan langsung ditanggung oleh dana pribadi Presiden Prabowo Subianto.
05:56Bagaimana kalau mikir ini harus disikapi, kita ulas bersama anggota DPR RI dari fraksi Partai Gerindra, Bahtra Banong.
06:03Selamat malam, Bang Bahtra.
06:05Dan nanti juga ada peneliti Posdem Universitas Andalas yang akan bergabung melalui sambungan virtual, Ferry Amsari.
06:11Ya, saya ke Bang Bahtra dulu kalau begitu.
06:14Ini ada kritik dari mantan Women Lu, Pak Dino Pate Jalal.
06:18Tapi saya ingin tanyakan, dari perspektif Anda sebagai anggota legislatif,
06:23yang mewakili fraksi Partai Gerindra juga di DPR,
06:25apakah Gerindra juga melihat kritik Pak Dino ini,
06:29ini sebagai upaya membatasi kewanaan eksekutif Presiden,
06:33atau justru murni masukan untuk diplomasi, upaya diplomasi Presiden?
06:36Ya, tentu kami ingin mengatakan bahwa kami menghargai, menghormati setiap masukan kritik dari berbagai pihak,
06:45dan terutama dari Pak Dino Pate Jalal, di era demokrasi ini itu sesuatu yang lumrah,
06:51dan kritik itu bagi kami Partai Gerindra,
06:54dan kebetulan Ketua Umum kami juga sebagai Presiden Republik Indonesia,
06:59bahwa itu sebagai vitamin untuk pemerintah,
07:02agar terus mengingatkan kepada pemerintah,
07:06sehingga pemerintahan kita bisa berjalan sesuai dengan rule,
07:09dan sebagaimana apa yang menjadi harapan Presiden Prabowo.
07:13Namun, secara pendapat tentu kami berbeda dengan Pak Dino,
07:18bahwa menyederhanakan sesuatu kunjungan Presiden keluar negeri,
07:23cukup misalnya by phone ataupun zoom,
07:25itu tidak bisa kita, apa namanya, sesederhana itu,
07:29karena negosiasi, jangankan negosiasi antar negara,
07:33antar perusahaan saja perlu pelibatan secara fisik,
07:36pertemuan secara fisik,
07:37maka dari itu, wajarlah Presiden Prabowo kemudian berkunjung ke luar negeri secara fisik,
07:43karena tentu di sana ada negosiasi-negosiasi yang harus dilakukan,
07:48kalau misalnya dilakukan via phone ataupun zoom,
07:52tentu tekanannya juga sangat berbeda,
07:54selain itu Pak Presiden juga kan tidak datang sendirian,
07:57Pak Presiden selalu membawa rombongan bukan hanya dari pemerintahan,
08:00tetapi dunia usaha juga diajak untuk berkunjung ke sana dalam rangka mencari peluang-peluang,
08:06investasi, apa yang bisa dilakukan di Indonesia,
08:09dan terbukti dengan kunjungan langsung Presiden ke beberapa negara,
08:13kita tahu sendiri bahwa selama satu setengah tahun terakhir ini,
08:17mulai dari tahun 2025 sampai di kuartal pertama 2026 ini,
08:22kira-kira kurang lebih sekitar Rp4.230 triliun yang apa namanya nilai investasi yang dihasilkan dari luar negeri,
08:33artinya keberadaan Presiden secara langsung berkunjung ke negara-negara itu,
08:37menghasilkan sesuatu yang nyata bagi bangsa kita,
08:40jadi menurut hemat saya tidak bisa kita sederhanakan hanya sesimpel itu.
08:44Dan hasil yang Anda ungkapkan tadi, Rp4.000 triliun lebih itu tadi ya,
08:49itu kan tadi juga ada masukan dari anggota DPR dari PDP,
08:52Mbak Bung Andres Hukuparera,
08:54bahwa sebaiknya hasil-hasil itu juga diungkapkan ke publik secara transparan,
08:59sehingga publik tahu sebagai bentuk pertanggung jawaban ini sudah dilakukan oleh Presiden.
09:03Itu apakah sudah dilakukan juga?
09:04Kita melakukan itu, kami juga sudah mempublikasi ya,
09:07terutama misalnya di Pak Seskap sudah menyampaikan,
09:10terus kemudian kami di media Girinta juga menyampaikan bahwa terutama kunjungan terakhir ini,
09:15Presiden Prabowo ke Perancis,
09:17dari segi, saya akan membacakan ya secara detailnya supaya kita tidak...
09:22Dan itu bisa diakses oleh publik?
09:23Bisa diakses oleh publik.
09:24Kita melihatnya bahwa untuk, apa namanya,
09:29sekitar Rp1 triliun investasinya untuk perusahaan,
09:33terus kurang lebih Rp3,5 miliar kesepakatan komersil yang lain.
09:37Jadi, di kunjungan terakhir aja ini menghasilkan begitu banyak investasi,
09:43belum lagi misalnya yang lain.
09:45Dan tentu begini ya,
09:46Presiden berkunjung ke sana, contoh kecil,
09:49di antara banyak negara, kita tahu sendiri bahwa urusan Perancis ini,
09:54Pak Presiden mungkin dari sekian kepala negara yang kemudian diberi penghargaan setinggi-tingginya oleh Perancis,
10:00dirayakan di Bastille Day misalnya, Pak Prabowo hadir di sana,
10:03terus kemudian Presiden Macron datang ke Indonesia,
10:05masa kita juga misalnya nggak mau hadir secara fisik ke Perancis,
10:09Presiden kita memenuhi undangan Presiden Emmanuel Macron.
10:12Baik, saya akan ke Bung Ferry kalau gitu.
10:14Bung Ferry kalau tadi disebutkan juga oleh Seskap Teddy,
10:19bahwa ini lumrah dilakukan sebenarnya,
10:23dan itu menghasilkan kalau kata Bung Mahtera tadi.
10:26Dan satu lagi yang disebutkan oleh Seskap Teddy tadi,
10:30bahkan kalau ada kekurangan anggaran,
10:32ini ditanggung oleh dana pribadi.
10:34Nah, secara, ada juga sebagai ahli tata negara ya, ahli hukum tata negara.
10:39Secara ketata negara, hukum tata negara, apakah ini juga bisa dilakukan sebenarnya?
10:43Menggunakan dana pribadi untuk keperluan negara?
10:47Ya, pertama, tentu saja harus ada pandutan hukum ya,
10:52atau peraturan dalam melihat permasalahan ini.
10:56Satu, saya merasa perlu juga Seskap Teddy atau teman-teman di Gerindra
11:04membaca peraturan Menteri Keuangan nomor 164 tahun 2015
11:11tentang tata cara perjalanan dinas berjabat, termasuk Presiden di dalam.
11:17Nah, di dalam ketentuan itu, diperhatikan pasal tiganya,
11:22ada beberapa prinsip perjalanan dinas.
11:26Satu, harus selektif.
11:29Jadi, harus dipastikan betul sebelum berangkat,
11:33keberangkatan itu memang penting bagi Presiden untuk datang.
11:37Oke.
11:38Agak janggal di mata publik,
11:40kalau kedatangan Presiden ke Perancis itu berkali-kali.
11:44Betul tadi contoh, Presiden Emmanuel Macron datang,
11:50tapi kan baru sekali.
11:52Ini terlalu sering datang,
11:54juga perlu dipertanyakan dalam rangka apa.
11:57Apa deal bisnis yang kemudian dilakukan di Perancis,
12:02sehingga berulang-ulang kali datang.
12:05Nah, kalau tadi disebut bahwa ini pakai dana pribadi,
12:10perlu diingat juga bahwa ada prinsip penggunaan keuangan negara,
12:14yang namanya efektif, efesien, dan memperhatikan ketersediaan anggaran.
12:19Pada saat ini, rupiah itu sedang anjlop.
12:24Oke.
12:24Melakukan perjalanan dinas yang tidak selektif,
12:28akan membebadi anggaran dan biaya yang jauh lebih besar.
12:31Nah, di titik ini, semestinya ada upaya yang agak sungguh-sungguh
12:37bagi Presiden memikirkan apakah dana ini akan efektif atau tidak
12:42bagi keuangan negara kita.
12:45Kenapa harus berkali-kali dan tidak,
12:48menurut saya tidak juga selalu harus ada Presiden?
12:52Karena biasanya Presiden, Mas Bahtera,
12:55kalau kesepakatan di awal sudah duduk,
12:58itu akan ditindaklanjuti oleh para diplomat
13:01atau pejabat yang terkait dengan kepentingan bisnis itu.
13:04Tidak lumrah berkali-kali, terlalu sering.
13:06Oke, meskipun efektifitas yang,
13:07sorry, saya potong sedikit Pak Bung Ferry,
13:09meskipun efektifitas yang Anda singgung tadi,
13:11tadi kata Bung Bahtera,
13:12itu sudah menghasilkan 4.000 triliun lebih
13:13investasi yang masuk untuk Indonesia.
13:15Iya.
13:16Bukan segera bicara menghasilkan,
13:19tapi yang keluar kan juga banyak.
13:22Kan cukup sekali Presiden sepakat,
13:25lalu kesepakatan itu akan diikuti oleh pejabat-pejabat yang lain.
13:30Ada menlunya kok, ada dubesnya di sana,
13:32itu sudah bisa menindaklanjuti.
13:35Keempat, yang perlu diperhatikan adalah prinsip transparan.
13:39Tadi dikatakan pakai uang pribadi,
13:41ini tidak masuk akal dengan kita.
13:43Ini namanya perjalanan dinas
13:45atau perjalanan pribadi.
13:46Oke.
13:47Karena ada kriteria disebut sebagai perjalanan dinas
13:50karena jabatannya,
13:52nah ada yang bicara perjalanan pribadi.
13:54Jangan dicampurkan dua uang ini,
13:57uang pribadi atau uang negara.
13:59Dan kalau diingat,
14:00kalau itu benar-benar perjalanan dinas
14:03yang berkaitan dengan kepentingan negara,
14:06tidak boleh ada uang pribadi di dalamnya.
14:08Ada aturan yang mengatur soal itu?
14:10Makanya saya bilang,
14:12baca peraturan Menteri Keuangan,
14:14yang dibuat.
14:17Jadi, makanya disebut tadi,
14:20PMK ya,
14:21Peraturan Menteri Keuangan,
14:22nomor 164,
14:24tahun 2015,
14:26diubah dengan PMK 81,
14:28gitu ya,
14:29yang kemudian harus detail baik-baik dipakai.
14:31percampuran uang pribadi dan uang negara itu
14:35tidak diperkenankan, Mas.
14:37karena akan membuat transparansi penggunaan anggaran
14:41jadi buyar.
14:43Jangan menimbulkan kesan bahwa Presiden
14:49mengorbankan harta kekayaan pribadinya
14:51untuk kepentingan bangsa.
14:53Padahal,
14:55Presiden jangan lupa,
14:56di dalam prinsip keuangan negara,
14:58kejelasan sumber dana juga penting.
15:00Sekarang,
15:02kalau kita tanya,
15:03berapa banyak dipakai uang pribadi Presiden?
15:06Dalam konteks apa uang pribadi itu dipakai?
15:09Bagaimana kemudian mempertanggungjawabkan relasi pribadi itu
15:12dengan bisnis yang disepakati di Perancis?
15:16Apakah bisnis itu tidak berkaitan dengan hal tertentu
15:20yang membuat dugaan?
15:23Ya, berhenti di sana,
15:24Buk Ferry,
15:25Anda ada respons,
15:27ini perjalanan pribadi atau perjalanan negara?
15:29Kalau menggunakan uang pribadi,
15:31harusnya kan ini jadi perjalanan pribadi.
15:33Jadi ada bias,
15:34kalau kata Buk Ferry tadi,
15:35menggunakan anggaran pribadi,
15:37menambah anggaran negara yang kurang begitu.
15:39Bagaimana menjelaskan soal ini?
15:40Ya,
15:41saya mau mengatakan bahwa itulah bentuk konsistensi Presiden Prabowo
15:45yang sering menganjurkan
15:46agar bagaimana kita bisa menjalankan efisiensi itu.
15:51Sebagaimana disampaikan oleh Pak Seskap,
15:53bahwa perjalanan Presiden sebelum-sebelumnya ke luar negeri
15:57itu berjumlah 150 orang.
15:59Dengan konsistensi Presiden Prabowo,
16:02bahwa kita harus menghemat dalam situasi begini,
16:06buktinya dipangkas dari 150 menjadi kemudian hanya 50 rombongan yang ikut.
16:10Terkait dengan penggunaan dana pribadi beliau,
16:13itulah bentuk komitmen Pak Prabowo
16:15yang sering disampaikan bahwa
16:17beliau rela berkorban untuk kepentingan negara.
16:21Tapi bagaimana mempertanggungjawabannya?
16:22Dan bukan hanya dilakukan pada saat ini,
16:24mas.
16:24Jauh sebelum itu,
16:26ya menyangkut urusan negara Pak Prabowo,
16:28jangankan selalu menyampaikan pada kader Partai Green Raff kepada kami,
16:32jangankan uang.
16:34Nyawa pun beliau siap,
16:36kalau untuk kepentingan merah putih,
16:38kepentingan bangsa dan negara,
16:39itulah bentuk komitmen beliau.
16:41Bagaimana berkomitmen,
16:42selain tadi menjalankan efisiensi itu di sisi lain,
16:45beliau rela berkorban.
16:47Tapi bagaimana mempertanggungjawabannya seperti yang dibilang Bu Ferry?
16:50Tadi peraturan Menteri Keuangan yang mengatur,
16:52tidak boleh sebenarnya menyampuri,
16:54bukan menyampuri,
16:55apaya mempercampurkan anggaran negara dengan anggaran pribadi,
16:59karena akan nanti pertanggungjawabannya akan bias.
17:01Apa yang salah kalau kemudian pemimpin negara mau berkorban pribadinya
17:05untuk kepentingan bangsa dan negara?
17:07Bukankah pemimpin yang seperti itu yang kita cari?
17:09Oke.
17:10Ini...
17:10Jadi tidak ada yang salah dengan perbuatan Pak Prabowo.
17:12Tidak ada yang salah, Bung Ferry, dengan perbuatan itu.
17:14Justru beliau rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
17:17Presiden rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
17:19Anda bisa ada jawaban soal ini, Bung Ferry?
17:21Kalau itu bohong saja bagi saya dalam prinsip keuangan negara ya.
17:26Kalau betul-betul mau menyumbang,
17:28itu sumbang betul seluruh gaji yang ada itu.
17:32Hartanya disumbangkan kepada negara,
17:34kayak dulu Pak Juang Palestina ya.
17:36Ini kan cuma segedar menutupi problematika yang ada
17:43soal tidak profesionalnya penyelenggaran pemerintahan.
17:47Misalnya kalau dibilang tadi selektif efisien.
17:51Nah, saya tidak melihat ada efisiensi yang terjadi.
17:55Kalau dikatakan dulu pejabat banyak,
17:58kan bisa dibuka juga.
18:00Dulu pejabat itu siapa saja,
18:02dalam kunjungan apa,
18:03dan seberapa banyak dana.
18:04Bandingkan dalam konteks anjloknya dolar saat ini.
18:09Presiden itu berangkat dalam dua kondisi yang tidak tepat ya.
18:13Satu, tidak ada dalam sejarah presiden yang berangkat ketika hari besar keagamaan.
18:20Kedua, presiden berangkat ketika harga rupiah anjlok terhadap dolar.
18:26Di titik ini sendiri, sebenarnya kalau presiden adalah seorang pemimpin,
18:31dia akan memastikan stabilitas ekonomi dulu,
18:36stabilitas keuangan,
18:38baru bicara soal efektif efisien berangkat ke luar negeri.
18:41Makanya kalau mau jujur-jujur,
18:43perjalanan ini transparan atau tidak,
18:45kepentingannya bagaimana,
18:47apa saja deal-dealnya,
18:49seberapa lama presiden di sana,
18:50kenapa penting berangkat di lebaran haji atau tidak,
18:54itu juga harus diperhatikan situasi yang ada.
18:58Saya tidak melihat ini sebagai upaya pengorbanan presiden,
19:02pribadinya demi kepentingan bangsa.
19:05Kalau itu agak bias ya terasa,
19:08karena kebutuhan perjalanan dinas itu harus dilihat,
19:11betulkah itu dari anggaran pribadi presiden,
19:14atau orang lain yang menyumbang.
19:15Kalau berani buka saja,
19:17itu rekening pribadi presiden atau tidak,
19:19yang menyumbangkan sisa kekurangan itu,
19:22mari kita terbuka kepada publik,
19:24supaya publik tahu itu betul-betul,
19:26sebuah pengorbanan atau cerita kamuflasi terhadap,
19:30apa yang sesungguhnya dan sebenarnya yang sedang terjadi.
19:33Itu tadi bicara soal efisiensi.
19:36Tadi juga,
19:37Wakil Ketua Umum Partai Gerindra,
19:39menyinggung soal etika menyampaian kritik,
19:41yang disampaikan oleh Wamenlu,
19:42mantan Wamenlu,
19:43Dino Patijala.
19:44Saya akan meminta respons juga nanti,
19:46dari Bung Bahtera,
19:47soal ini kritik dari Pak Dino,
19:51ini dianggap sebagai sesuatu yang kurang etis.
19:53Maksud saya seperti apa?
19:54Nanti saya akan tanyakan hal itu,
19:55setelah jadinya disampaikan Indonesia Malam.
19:57Tentanglah bersama kami.
20:04Bincangan bersama anggota DPR RI dan fraksi Partai Gerindra,
20:08Bahtera Banong dan juga Ahli Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas,
20:12Ferry Amsari.
20:13Saya tadi ke Bung Bahtera bertanya soal,
20:16atau meminta respons soal,
20:18tadi Bung Habibur Rahman mengatakan,
20:20bahwa kritik yang disampaikan oleh Pak Dino Patijala sebagai Wamenlu,
20:24ini kurang etis sebenarnya.
20:26Bagaimana maksud yang dimaksudkan oleh Bung Habibur Rahman tadi menurut Anda?
20:30Ya, sebelum saya ke situ, saya ingin sedikit menanggapi soal Bang Ferry tadi ya.
20:35Seolah-olah ke sana tidak ada dampak yang nyata,
20:39atau sesuatu yang dibawa misalnya berkali-kali.
20:42Dengan berkali-kalinya berkunjung Presiden ke Perancis,
20:45artinya hubungan kita dengan Perancis sekarang menjadi partner membership komprehensif,
20:50yang tadinya misalnya jumlah,
20:52apa namanya, kesepakatan kita antar negara hanya beberapa bidang,
20:56sekarang kan meluas.
20:57Sampai di pertahanan, selain ekonomi juga misalnya di sektor pendidikan,
21:01di sektor transformasi soal pengetahuan digital yang lain-lain,
21:07artinya kan dengan, mungkin kalau dilakukan secara by phone atau misalnya zoom,
21:11tidak mungkin bisa seluas itu kerjasama kita dengan Perancis.
21:15Tapi saya sedikit memotong,
21:17tadi isu yang paling utama saat ini dialami oleh Indonesia adalah melemahnya rupiah.
21:21Nah, adakah dampak dari kunjungan-kunjungan itu untuk juga ikut secara positif memperkuat rupiah dan juga pasar?
21:29Justru itu ya, jangan dilihat instan ya, Pak Presiden.
21:31Oh, kenapa berkali-kali berkunjung ke negara-negara lain?
21:35Contoh kecil.
21:36Taruhlah misalnya Presiden kita selama ini malas berkunjung ke negara-negara lain.
21:40Ketika misalnya ada kejadian, warga negara kita, kasus kemarin yang ditahan,
21:47tidak mungkin bisa secepat itu kita bebaskan melalui lobby-lobby.
21:50Karena Pak Presiden menjalin hubungan dengan banyak negara,
21:53itu bukti bahwa berhasil dengan menjalin hubungan banyak negara,
21:57kita bisa membebaskan warga negara kita dengan begitu cepat.
22:00Itu kalau selain dampak ekonominya ya, belum lagi misalnya dampak-dampak yang lain.
22:04Jadi menurut hemat saya, tidak bisa hanya kunjungan yang satu dua kali ini,
22:08terus kemudian kita menuntut hasil yang berlebihan juga dan instan juga.
22:14Tetapi dari segi hasil juga dampak ekonominya,
22:16tadi saya sebutkan bahwa berapa banyak investasi yang dihasilkan,
22:20belum lagi misalnya dampak-dampak yang lain.
22:21Dan kita harus menghitungnya, jangan misalnya hari ini berkunjung, besok sudah ada hasil.
22:25Dan ini sesuatu menurut hemat saya tidak berbanding lurus dengan
22:28kalau kita misalnya menyampaikan soal biaya yang mahal,
22:33soal jumlah intensitas kunjungan Presiden ke luar negeri,
22:38itu tidak bisa dibandingkan dengan hasil yang didapatkan oleh bangsa kita hari ini.
22:44Terkait soal tadi misalnya penyampaian...
22:46Saya bisa mencapai ini enggak Bang Batar.
22:48Iya, Bang Ferry.
22:49Silahkan Bang Ferry.
22:51Sependek pengetahuan saya Bang,
22:54pertemuan pejabat tinggi antar negara itu selalu lebih jarang Bang.
22:59Itu sebabnya kalau Abang catat, kunjungan Presiden ke satu negara yang sama,
23:06itu tidak berkali-kali, dan tidak pernah berkali-kali.
23:10Apalagi dalam tahun berjalan yang sama.
23:13Itu sebabnya dibutuhkan namanya Menteri Luar Negeri atau Menteri lainnya Bang.
23:19Jadi kesepakatan tingkat tingginya dilakukan oleh pimpinan tertinggi.
23:24Dan ditindaklanjuti oleh Menteri Luar Negeri.
23:29Itu lumrah di mana-mana Bang.
23:31Bahkan untuk telepon antar-presiden biasa Bang.
23:34Presiden Prabowo tidak datang mengucapkan selamat kepada Presiden Donald Trump
23:39ketika terpilih ke Amerika, tapi by phone doang.
23:43Jadi by phone itu biasa untuk mewakili betapa sungguh-sungguhnya beliau juga.
23:49Dan telepon kepala negara, kepala pemerintahan itu bukan sesuatu yang biasa.
23:54Sesuatu yang tidak lumrah, lumrah sekali.
23:57Jadi menurut saya ini cuma pembenaran untuk kealpaan
24:02seolah-olah Presiden sudah bertindak seperti Menteri Luar Negeri
24:06atau diplomat-diplomat yang ada.
24:09Pekerjaan diplomat itu juga maha penting
24:11karena dia merepresentasikan negara.
24:14Jadi diplomat itu bukan jabatan kecil untuk urusan-urusan
24:18yang dilakukan di negara lain.
24:21Bagi saya di sana kesalahan berpikir dan konsep ketatanegaraannya Bang.
24:25Oke, itu tadi video yang disampaikan oleh mantan Women Lu,
24:32Dino Patin Jalal juga ada contoh.
24:34Boleh saya bicara soal etika Mas?
24:36Ya sebentar, saya sedikit saja menyinggung
24:38karena ini masih framenya soal efisiensi kunjungan kerja.
24:42Nanti saya tanya, karena masih seru nih sepertinya soal etika kunjungan kerja ini.
24:47Presiden Meksiko, Claudia Schoenbaum, itu berkali-kali,
24:53padahal Meksiko adalah mitra strategis kerjasama ekonomi
24:57dengan pemerintah Amerika Serikat.
24:59Ini hanya belasan kali bertemu atau bercakap-cakap lewat telepon.
25:03Itu analogi yang dicontohkan oleh Bung Dino.
25:06Nah, selain itu ada peran menteri luar negeri
25:09yang disenggung oleh Bung Ferry tadi
25:10yang seharusnya bisa menandalkan juti kerjasama-kerjasama bilateral
25:14yang strategis itu tadi.
25:15Bagaimana menjawab hal ini?
25:16Ya tentu berbeda ya.
25:17Kalau misalnya tadi Bypon atau misalnya level 2 yang diutus,
25:22pasti juga hasil yang didapatkan berbeda tentunya.
25:26Dan Presiden pengen memastikan betul-betul bahwa bekerjasama dengan Perancis ini
25:31eskalasinya makin baik, komunikasinya makin baik,
25:34dan makin banyak pula yang dihasilkan daripada kunjungan yang ketiga kali itu
25:39dilakukan oleh Presiden Prabowo.
25:41Jadi tentu berbeda dengan misalnya bertemu sekali dengan dua kali atau dengan tiga kali.
25:45Dan itu lebih banyak yang dihasilkan, jauh lebih banyak yang dihasilkan.
25:48Dari segi ekonomi saya sudah jelaskan tadi, dari segi sosialnya juga.
25:51Kita lihat sendiri, Presiden Macron bahkan memuji Presiden Prabowo,
25:55terus kemudian bagaimana Perancis juga ikut memperjuangkan kebebasan Palestina.
25:59Apakah itu bukan sesuatu yang luar biasa?
26:02Dampaknya, bagaimana mungkin Presiden Prabowo bisa mempengaruhi Macron,
26:08terus kemudian Macron akhirnya mau membela kemerdekaan Palestina.
26:11Itu bukti bahwa kecakapan Presiden Prabowo dalam pergaulan internasional
26:16dan itu juga mungkin yang menjadi kenapa berkali-kali ke sana
26:18sehingga menghasilkan dampak yang begitu besar.
26:20Saya boleh tahu, apakah sepakatan antara Perancis dan Indonesia soal perdamaian Palestina, Bang?
26:27Dalam bentuk apa?
26:28Ya, buktinya Presiden Macron menyampaikan.
26:31Bukan, bukan. Apa bentuk kerjasama?
26:33Turut ikut memperjuangkan bagaimana agar Palestina bisa merdeka.
26:38Tentu itu dilakukan oleh Presiden Prabowo selama ini berkali-kali berkunjung ke sana.
26:44Jadi tidak bisa hanya kita misalnya melihatnya bahwa nanti Palestina merdeka baru betul-betul dirasakan dampaknya.
26:51Ini kan dalam rangka upaya Presiden Prabowo berkunjung ke banyak negara
26:55untuk kemudian membantu agar ikut juga memperjuangkan kebebasan Palestina.
27:00Gimana Bu Ferry?
27:02Jadi bagi saya ini argumentasi yang dibuat setelah orang semua tahu ini tidak efektif dan efisien.
27:08Kalau betul-betul ini ada format relasi kerjasama antara Perancis dan Indonesia soal Palestina,
27:15itu pasti ada perjanjian yang tertulis bicara soal itu.
27:19Ini sama sekali tidak ada.
27:21Kedua, perlu dipahami konsep perjanjian itu selalu begitu, Bang Batra.
27:26Tidak bisa berkali-kali dalam satu tahun yang sama.
27:29Itu terlihat tidak mempersiapkan apa saja yang mau diperjanjikan.
27:34Itu sebabnya ada pertemuan tingkat tinggi, ada yang tingkat rendah.
27:39Di mana-mana begitu, jangan dilarikan bahwa berkali-kali akan efektif.
27:45Mari transparan, dari berkali-kali itu kenapa harus di-follow up terus pertemuan?
27:51Harus ada tuh jenjang ceritanya.
27:53Itu yang disebut prinsip transparansi tadi.
27:56Saya tidak melihat ada keterbukaan kenapa berkali-kali di-follow up terus oleh seorang Presiden.
28:05Wah, sepertinya ada gangguan.
28:07Keluarannya nih.
28:07Komunikasi.
28:08Kemasalah nih.
28:09Dari Bung Ferry.
28:10Sementara kita punya menu, punya lutan besar, uraun saja.
28:13Oke, baik Bung Ferry.
28:16Terakhir, saya tadi masih menyinggung soal etika.
28:18Tadi saya belum terjawab oleh Bung Bahtera.
28:20Bagaimana Anda menjawab apa maksud yang di-alontarkan oleh Bung Habibur Rahman
28:25soal itu tidak etis, kritik yang disampaikan oleh mantan Wameen Ludinopati Jalal?
28:30Ya, tentu saja ya. Selagi-lagi saya mengatakan bahwa kita menghargai semua pendapat, kritikan, masukan.
28:37Tetapi tentu juga harus yang berbasis data.
28:41Tidak bisa hanya sekedar misalnya menyampaikan Pak Dino mengatakan bahwa soal pemborosan tadi.
28:47Kita jawab dengan transparansi.
28:49Kalau Bang Ferry tadi minta transparansi, buktinya selama ini tadinya 150 orang rombongan dikurangi menjadi 50.
28:55Apakah itu bukan dari bentuk dari transparansi efisiensi?
28:58Yang tadinya misalnya kalau ada kekurangan-kekurangan, Pak SESKA menyampaikan bahwa Pak Prabowo menutupi dengan kekurangan-kekurangan itu.
29:05Di wilayah mananya kita tidak transparan.
29:07Soal misalnya pencapaian-pencapaian dari hasil kunjungan ini, kita sampaikan bahwa dalam 1 tahun, 1,5 tahun,
29:15dampaknya sekian 4.230 triliun yang dihasilkan oleh investasi.
29:19Belum lagi misalnya dampak-dampak yang lain yang saya sampaikan tadi.
29:22Jadi di wilayah mananya kita tidak transparan menyampaikan hasil setiap kunjungan Presiden Prabowo.
29:28Oke, gimana Bang Ferry?
29:30Abang tidak menyebutkan ketika kunjungan Presiden sebelumnya itu harga dolar masih di atas 11.000 rupiah.
29:39Sekarang sudah 17.800 menjelang mau berangkat.
29:44Nah, di sana yang tidak transparannya, beban yang ditanggung oleh negara bisa saja jauh lebih besar.
29:50Nah, bagi saya mempertahankan apa yang salah begini, sebenarnya juga akan membuat orang tertawa saja kepada istana.
30:00Yang perlu dilakukan istana adalah menerima kritikan untuk dilakukan evaluasi.
30:06Catatan penting bahwa Presiden paling banyak berkunjung itu sudah tidak bisa ditutup-tutupi terlalu sering.
30:12Nah, rombongannya juga perlu betul-betul terbuka karena bisa saja satu pesawat mendarat dan pesawat lain yang menyusul ini yang
30:23kemudian selalu dipertanyakan orang.
30:25Oleh karena itu, prinsip transparansi itu betul-betul jelas berdasarkan peraturan Menteri Keuangan.
30:34Basisnya begitu.
30:36Nah, sejauh ini saya tidak melihat ada keinginan mematuhi prinsip keuangan negara itu.
30:43Maka di sana problematika etisnya dibanding cara orang mengkritik.
30:47Kalau tidak peraturan yang melanggar etis.
30:50Harus diingat loh, Pak, Teddy Indrawijaya itu seskap sekretarisnya Kabinet.
30:56Urusan Presiden itu harusnya kantor sekretariat Presiden.
31:01Itu yang urus Presiden.
31:02Di sana saja sudah bertabrakan satu sama lain dalam pengelola negara.
31:07Saya yakin perjalanan dinas ini juga tabrakan dalam banyak hal.
31:11Terutama juga melanggar prinsip efektif dan efisien itu.
31:16Oke, itu sekaligus merangkum jawaban Anda soal etika tadi yang dibilang oleh Bung Habibur Rahman.
31:21Katanya tidak etis.
31:22Ya, baiknya soal etika itu tadi lebih transparan kepada publik begitu ya.
31:27Pertanggung jawabannya soal kunjungan kerja Presiden ke luar negeri.
31:29Baik, terima kasih.
31:31Pembicaraan yang menarik kita tunggu nanti bagaimana perkembangan isu ini akan bergulir.
31:36Kedepannya terima kasih.
31:37Anggota DPR RI dari fraksi Gerindra, Bahtera Wanong, dan peneliti Posdam Universitas Andalas,
31:42Ferry Amsari telah berbagi perspektif dari Sapa Indonesia Malam.
31:44Selamat pagi, selamat malam.
31:45Terima kasih.
31:46Dan juga selamat.
31:46Selamat malam, Pak Ferry.
31:49Selamat reaktifitas kembali.
31:51Saudara, setelah empat hari diperbaiki jalan ruas-jalan Lenteng Agung yang sempat amblas,
31:58kini sudah diperbaiki.
31:59Kami punya laporannya setelah jeda.
32:00Sampai Indonesia Malam.
Komentar