00:00Oke, saya ke Mas Adi. Mas Adi, ini bacaan Anda. Ini saya anggap Anda punya pendapat bahwa ini pragmatisnya Pak
00:09Jokowi untuk Kaisang atau untuk Gibran?
00:11Ya bisa dua-duanya. Kalau Kaisang itu adalah ketahuan PSI, kenapa menjadi ramai pembicaraan soal Pak Jokowi yang rencananya akan
00:19berusukan mulai bulan depan?
00:21Sepertinya ada satu keyakinan bahwa Pak Jokowi itu tetap sakti mandragunah, seperti dahulu kalah.
00:26Jadi siapapun yang teridentifikasi dekat dengan Jokowi, menjadi bagian dari Jokowi, dan tune in dengan Jokowi, entah itu partai seperti
00:34PSI, figur seperti Gibran, akan mendapatkan faedah elektoral.
00:38Tapi progresnya PSI sampai sekarang sejak awal.
00:40Kan itu yang sedang ingin diuji sebenarnya. Saya termasuk yang sedang nunggu-nunggu di 2029 apakah kesaktian Pak Jokowi yang
00:48tidak pernah kalah dalam pemilu, itu akan kembali terulang di 2029.
00:52Karena kalau kita bicara PSI hari ini dan di 2029, orang sudah tak ada perdebatan apapun, ini adalah pertaruhan politik
01:00Pak Jokowi.
01:01Kalau di 2029, untuk yang pertama kalinya, PSI lolos ke parlemen, pertama kali yang akan dicari dan mendapatkan standing approach
01:08adalah Pak Jokowi.
01:09But on the other hand, kalau tidak lagi lolos ke parlemen, ini PSI untuk yang kesikian kalinya, Pak Jokowi akan
01:16disebut bahwa rekordnya sudah selesai.
01:20Rekordnya tidak sementereng dahulu kalah, waktu masih bersama dengan PDIP.
01:24Kan begitu jalan ceritanya.
01:26Mas Yogi, kalau ini, ini jelas-jelas fix, ini pragmatisme politik.
01:30Pragmatisme politik.
01:31Dan ini berarti memang jarak pandangnya itu cuma 5 tahun.
01:36Anda tidak melihat ada kerisauan.
01:38Dan itu bukan tipikal politisi negarawan.
01:43Jika hanya berpikir dalam rentang waktu yang sangat pendek.
01:48Saya kutip satu, Bung Adi paham betul ya, Harold Delaswell.
01:53Dia bicara soal who gets, what, when, and how.
01:57Hanya bicara soal dapat apa, bagaimana, dan dengan cara apa.
02:02Lupa hakikat politik itu apa.
02:05Lupa bahwa esensi dari kita berpolitik itu adalah untuk apa.
02:10Ini yang hilang.
02:12Dan kalau itu tidak dilakukan.
02:13Tapi begini Bang, bahwa setiap orang, setiap figur, setiap toko itu ingin pragmatis, bahkan itu wajib hukumnya dalam.
02:19Wajar-wajar aja kan?
02:20Bukan wajar bagi saya, itu wajib hukumnya.
02:23Kalau kita baca, kalau kita bicara tentang teori-teori yang, misalnya komunikasi politik,
02:29Tentang partai politik ini sangat pandai bicara untuk menyembunyikan keinginan sesungguhnya.
02:34Oh ini atas nama rakyat pemilu masih jauh, kemudian menyerup abis serpasi.
02:39Ujung-ujungnya untuk mendapatkan simpati dan dukungan, udah seserhana itu saja.
02:44Saya justru yang mendukung, Mas Yogi, bahwa semua partai politik yang ingin membesarkan partainya,
02:49atau membesarkan siapapun, enggak apa-apa.
02:51Hari ini pemilu, besok langsung kamarnya untuk lima tahun yang enggak datang.
02:54Menurut saya itu justru jauh lebih head up.
02:57Oke, kita masih punya pertanyaan besar.
02:58Terima kasih.
Komentar