Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat politik Adi Prayitno menilai rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk kembali blusukan ke berbagai daerah memiliki dimensi pragmatisme politik yang kuat.

Menurut Adi, langkah Jokowi berpotensi memberikan keuntungan elektoral bagi kedua putranya, Ketum PSI Kaesang Pangarep maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Adi menyebut hingga saat ini Jokowi masih diyakini memiliki pengaruh politik besar di mata publik.

"Sepertinya ada satu keyakinan bahwa Pak Jokowi itu tetap sakti mandraguna. Seperti dahulu kala," katanya.

Menurut Adi, figur maupun partai yang teridentifikasi dekat dengan Jokowi diyakini akan memperoleh dampak elektoral positif.

Adi menilai Pemilu 2029 akan menjadi ujian besar terhadap kekuatan politik Jokowi, khususnya dalam mendongkrak PSI agar lolos parlemen.

Ia bahkan menyebut jika PSI berhasil lolos ke parlemen pada 2029, Jokowi akan menjadi figur paling diapresiasi. Namun sebaliknya, jika PSI kembali gagal lolos parlemen, menurut Adi, hal itu akan memengaruhi citra politik Jokowi.




Bagaimana menurut Anda?

Saksikan selengkapnya di sini: https://youtu.be/50kDy7nyQHY



#jokowi #politik #pdip





Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/671458/pengamat-bongkar-efek-elektoral-jokowi-untuk-gibran-dan-ketum-psi-kaesang-di-pemilu-2029-satu-meja
Transkrip
00:00Oke, saya ke Mas Adi. Mas Adi, ini bacaan Anda. Ini saya anggap Anda punya pendapat bahwa ini pragmatisnya Pak
00:09Jokowi untuk Kaisang atau untuk Gibran?
00:11Ya bisa dua-duanya. Kalau Kaisang itu adalah ketahuan PSI, kenapa menjadi ramai pembicaraan soal Pak Jokowi yang rencananya akan
00:19berusukan mulai bulan depan?
00:21Sepertinya ada satu keyakinan bahwa Pak Jokowi itu tetap sakti mandragunah, seperti dahulu kalah.
00:26Jadi siapapun yang teridentifikasi dekat dengan Jokowi, menjadi bagian dari Jokowi, dan tune in dengan Jokowi, entah itu partai seperti
00:34PSI, figur seperti Gibran, akan mendapatkan faedah elektoral.
00:38Tapi progresnya PSI sampai sekarang sejak awal.
00:40Kan itu yang sedang ingin diuji sebenarnya. Saya termasuk yang sedang nunggu-nunggu di 2029 apakah kesaktian Pak Jokowi yang
00:48tidak pernah kalah dalam pemilu, itu akan kembali terulang di 2029.
00:52Karena kalau kita bicara PSI hari ini dan di 2029, orang sudah tak ada perdebatan apapun, ini adalah pertaruhan politik
01:00Pak Jokowi.
01:01Kalau di 2029, untuk yang pertama kalinya, PSI lolos ke parlemen, pertama kali yang akan dicari dan mendapatkan standing approach
01:08adalah Pak Jokowi.
01:09But on the other hand, kalau tidak lagi lolos ke parlemen, ini PSI untuk yang kesikian kalinya, Pak Jokowi akan
01:16disebut bahwa rekordnya sudah selesai.
01:20Rekordnya tidak sementereng dahulu kalah, waktu masih bersama dengan PDIP.
01:24Kan begitu jalan ceritanya.
01:26Mas Yogi, kalau ini, ini jelas-jelas fix, ini pragmatisme politik.
01:30Pragmatisme politik.
01:31Dan ini berarti memang jarak pandangnya itu cuma 5 tahun.
01:36Anda tidak melihat ada kerisauan.
01:38Dan itu bukan tipikal politisi negarawan.
01:43Jika hanya berpikir dalam rentang waktu yang sangat pendek.
01:48Saya kutip satu, Bung Adi paham betul ya, Harold Delaswell.
01:53Dia bicara soal who gets, what, when, and how.
01:57Hanya bicara soal dapat apa, bagaimana, dan dengan cara apa.
02:02Lupa hakikat politik itu apa.
02:05Lupa bahwa esensi dari kita berpolitik itu adalah untuk apa.
02:10Ini yang hilang.
02:12Dan kalau itu tidak dilakukan.
02:13Tapi begini Bang, bahwa setiap orang, setiap figur, setiap toko itu ingin pragmatis, bahkan itu wajib hukumnya dalam.
02:19Wajar-wajar aja kan?
02:20Bukan wajar bagi saya, itu wajib hukumnya.
02:23Kalau kita baca, kalau kita bicara tentang teori-teori yang, misalnya komunikasi politik,
02:29Tentang partai politik ini sangat pandai bicara untuk menyembunyikan keinginan sesungguhnya.
02:34Oh ini atas nama rakyat pemilu masih jauh, kemudian menyerup abis serpasi.
02:39Ujung-ujungnya untuk mendapatkan simpati dan dukungan, udah seserhana itu saja.
02:44Saya justru yang mendukung, Mas Yogi, bahwa semua partai politik yang ingin membesarkan partainya,
02:49atau membesarkan siapapun, enggak apa-apa.
02:51Hari ini pemilu, besok langsung kamarnya untuk lima tahun yang enggak datang.
02:54Menurut saya itu justru jauh lebih head up.
02:57Oke, kita masih punya pertanyaan besar.
02:58Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan