00:00Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup, saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi, saya masih sanggup
00:15datang ke kabupaten, kota, saya masih sanggup, saya masih sanggup, kalau perlu sampai ke kecapatan, saya masih sanggup.
00:27Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI.
00:39Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI.
00:57Tadi sebelum ditutupkan, pragmatis gitu. Nah ini 31 Januari 2026, artinya masih di tahun yang sama dan Juni akan rencana.
01:07Ya misalnya tadi yang ditampilkan adalah PSI dan saya yakin di hadapan relapan juga ada, hanya mungkin tadi kita tidak
01:13putar.
01:13Anda mau menjelaskan apa? Ini kan makin clear bahwa ini bukan soal bicara soal Panggiran Nurani, Pak Jokowi sebagai tokoh
01:22yang masih sering mendapatkan aduan, curhatan, tapi lebih kepada kerja-kerja politik yang ujung-ujungnya adalah untuk nanti 2029 atau
01:31kehubungan politik lainnya.
01:34Ya, seperti Bang Ansih, saya juga gak mau terlalu banyak yang mau ngementari tentang Pak T.
01:40Kenapa? Karena PSI? Ini soal Pak Jokowi-nya loh, ada seorang yang relawan.
01:43Sekalian konteksnya Pak Jokowi menyampaikan itu kepada kami relawan, itu yang pertama.
01:47Yang kedua, bagi Pak Jokowi, ya kekuasaan itu, politik itu bukan hanya tentang kekuasaan dan jabatan.
01:54Bagi Pak Jokowi, bagi kami, ya politik itu adalah juga menjaga kedekatan batin dengan masyarakat.
02:02Dan itu alaminya Pak Jokowi, beliau menyapa masyarakat, ya melihat kondisi real, itu sudah biasa dilakukan Pak Jokowi.
02:09Tapi banyak juga yang mencatat, bicara soal kedekatan dan komunikasi dengan publik, dengan rakyat, tetapi ujung-ujungnya kan ada benefit
02:17elektoral.
02:17Ya, justru itu. Tapi maksud saya, jangan langsung dimaknai, diartikan manuver politik 2029.
02:25Oh gitu?
02:26Ya, jangan langsung ansih seperti itu.
02:28Tetapi, kalau nanti modal sosial ini, modal kedekatan politik ini, ya memang pada saatnya harus digunakan telunjuk Pak Jokowi, ya.
02:41Di dalam kontestasi politik 2029, menurut saya itu adalah keuntungannya Pak Jokowi, keuntungan kami relawan, Projo misalnya, ya ketika kami
02:53dekat dengan rakyat.
02:54Bung, gitu loh, kira-kira bahasanya gampang gini, kalau toh pun seorang Jokowi Dodo mantan presiden yang anaknya ada di
03:01posisi wakil presiden, yang kedua juga anaknya juga ketika umum partai, ya kalau berbicara untuk elektoral politik juga gak apa
03:09-apa kok.
03:10Kenapa harus kemudian dihindarkan?
03:11Memang, Projo juga gak tabu itu.
03:14Tetapi maksud saya, maksud saya, kita belum berbicara masih jauh, elektoral 2029.
03:22Kita tidak menafikan bahwa ini, pada kontestasi 2029, modal sosial ini akan digunakan untuk itu, ya tetapi, belum berbicara Mas
03:35Gibran hari ini.
03:36Oke.
03:37Gitu loh, ya sekali lagi kalau bicara PSI, harusnya teman PSI disini, tetapi belum bicara Mas Gibran.
03:43Masih pun tadi, di video itu jelas ya di hadapan ini, saya akan turun, saya akan membesarkan, jelas kan, ke
03:48provinsi, ke bupaten, kota.
03:50Iya, iya, iya, kita tidak bantai itu, makanya saya katakan tadi.
03:53Atau Breda, kalau di PSI begini, kalau di Projo begini?
03:57Kepada kami,
03:58Oh sama, kira-kira.
03:59Bukan, kepada kami, Pak Jokowi belum pernah mengatakan, ayo gabung PSI, ayo ikut.
04:05Belum pernah, jadi sekali lagi saya tidak kompeten bicara tentang PSI, saya hanya bicara, relawan dengan Pak Jokowi.
04:13Dan siap mendampingi Pak Jokowi keling-keling.
04:15Siap mendampingi Pak Jokowi, begitu loh.
04:17Oke, oke.
04:18Bu Ansik, Anda tadi mengatakan, hari ini bukan lagi bicara soal investasi politik untuk 29,
04:26tapi lebih kepada realitas yang dihadapi, rakyat butuh konkret gitu.
04:30Anda mau mengatakan bahwa, sudahlah, jangan lagi pakai kamuflase mendekati rakyat, ujung-ujungnya adalah investasi politik?
04:39Atau Anda ingin mengatakan, sekelas presiden yang sudah menjabat dua periode, harusnya bicara soal kiresawan bangsa, lebih konkret gitu.
04:48Rakyat yang cerdas tentu bisa menilai.
04:52Hari-hari ini, para pemimpinnya itu memikirkan apa yang menjadi jeritan dan kebutuhan rakyat,
05:01dan hadir sebagai problem solver,
05:06ataukah justru sedang menyiapkan anak tangga dalam kaitannya dengan politik kekuasaan.
05:15Kalau sikap PDI Perjuangan,
05:182029 itu masih terlalu jauh dan terlalu dini kita bicara soal politik elektoral,
05:26kontestasi 2029.
05:28Saat sekarang itu yang menjadi konsentrasi PDI Perjuangan adalah
05:33bagaimana menghadirkan solusi untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
05:39Itulah juga yang kami harapkan dilakukan oleh Presiden Prabowo dan seluruh jajaran kabinetnya.
05:47Karena sejatinya pemerintahan ini dipilih, diberikan mandat,
05:52pertama-tama itu untuk bekerja, memajukan kesejahteraan, dan menciptakan keadilan bagi masyarakat.
06:01Kalau belum apa-apa hari ini,
06:04masing-masing kekuatan politik itu sudah memasang kuda-kudanya
06:12untuk politik elektoral 2029,
06:16lalu bangsa ini itu hanya bergerak dari fase kontestasi
06:21tanpa kerja menuju kepada sebuah fase kontestasi baru.
06:25Bukannya itu yang terjadi selama ini kan.
06:28Itu yang terjadi selama ini kan.
06:29Setiap pemilu ke pemilu, selalu efektif bekerja paling dua tahun.
06:33Tahun ketiga sudah bicara soal lagi.
06:35Dari awal sudah mendesain program-programnya
06:37untuk paling tidak mengamankan di the next pemilu.
06:40Bukannya itu.
06:40Hari ini dua tahun pun belum sampai.
06:45Dan hari ini kita lihat memang daya beli masyarakat itu sangat rendah.
06:50Persoalan real ekonomi, kesulitan ekonomi itu
06:53membutuhkan jalan keluar yang serba cepat.
06:56Dan mestinya seluruh partai politik
07:01ataupun tokoh-tokoh politik yang berada di balik
07:03Presiden Prabowo Subianto ini,
07:06ini kan mengkonsolidasi diri
07:08untuk kemudian memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan persoalan ini.
07:13PD Perjuangan berada di luar pemerintahan
07:16dan memainkan peran sebagai partai penyeimbang
07:19ini berharap bahwa pemerintah ini itu solid.
07:24Dan Presiden Prabowo itu bertindak sebagai semacam kondukter
07:29yang memimpin sebuah orkestrasi
07:31termasuk di sana ada partai yang ada di pemerintahan semua.
07:36Ini harus membangun sebuah soliditas dan sinergi
07:39untuk menyelesaikan persoalan ini.
07:41Kalau peranan itu diambil oleh Jokowi dan ke depan
07:43akan juga sama kira-kira.
07:45Hanya bedanya dia individu yang punya masa masih kuat.
07:49Anda melihat seperti apa?
07:51Harus jangan didukung juga kan sama sebetulnya.
07:53Ya kalau bicara soal yang bersangkutan ini
07:55bagi kami, kami sudah tutup buku ya.
07:58Sudah tutup buku.
07:59Ini sudah cerita masa lalu
08:01dan bagi PDI Perjuangan itu
08:04orang datang dan pergi
08:05come and go itu hal yang biasa saja.
08:11Tetapi konsentrasi, fokus, dan prioritas PDI Perjuangan
08:14hari ini bukan di situ.
08:16Bukan di bagaimana manuver politik, strategi politik
08:21untuk mengkapitalisasi, untuk meningkatkan elektoral.
08:25Tetapi jawab dulu persoalan ini.
08:27Ini dalam politikan kita juga butuh
08:29hal-hal yang tidak saja pragmatisme politik.
08:33Tetapi juga bicara soal hal-hal yang menyangkut elementer,
08:37fundament dari berbangsa dan bernegara ini.
08:41Contoh, soal tata kelola pemerintahan hari ini.
08:44Ini kan bukan sesuatu yang mengada-ada
08:47dan membutuhkan pembenahan, koreksi
08:52yang betul-betul dilakukan.
08:54Sehingga kemudian kita berharap pemerintah,
08:56Presiden Prabowo ini bisa bekerja secara baik.
08:59Oke, saya ke Mas Nadi.
09:02Mas Nadi, ini bacaan Anda.
09:04Ini saya anggap Anda punya pendapat bahwa ini pragmatisnya Pak Jokowi.
09:09Untuk Kaisang atau untuk Gibran?
09:11Ya bisa dua-duanya.
09:13Oke.
09:13Kalau Kaisang itu adalah ketomu PSI,
09:16kenapa menjadi ramai pembicaraan soal Pak Jokowi
09:18yang rencananya akan berusukan mulai bulan depan?
09:20Sepertinya ada satu keyakinan bahwa Pak Jokowi itu tetap sakti mandragunah.
09:25Seperti dahulu kalah.
09:26Jadi, siapapun yang teridentifikasi dekat dengan Jokowi,
09:29menjadi bagian dari Jokowi,
09:31dan tune in dengan Jokowi,
09:33entah itu partai seperti PSI,
09:34figur seperti Gibran,
09:36akan mendapatkan faedah elektoral.
09:38Tapi progresnya PSI sampai sekarang sejak awal.
09:40Kan itu yang sedang ingin diuji sebenarnya.
09:42Saya termasuk yang sedang nunggu-nunggu di 2029,
09:46apakah kesaktian Pak Jokowi yang tidak pernah kalah dalam pemilu,
09:50itu akan kembali terulang di 2029.
09:52Karena kalau kita bicara PSI hari ini,
09:55dan di 2029,
09:56orang sudah tak ada perdebatan apapun,
09:58ini adalah pertaruhan politik Pak Jokowi.
10:01Kalau di 2029,
10:03untuk yang pertama kalinya,
10:04PSI lolos ke parlemen,
10:05pertama kali yang akan dicari dan mendapatkan standing uploat adalah Pak Jokowi.
10:10But on the other hand,
10:11kalau tidak lagi lolos ke parlemen,
10:13ini PSI untuk yang kesikian kalinya,
10:15Pak Jokowi akan disebut bahwa rekordnya sudah selesai.
10:20Rekordnya tidak sementereng dahulu kalah,
10:22waktu masih bersama dengan PDIP.
10:24Kan begitu jalan ceritanya.
10:26Mas Yogi,
10:26kalau ini,
10:27ini jelas-jelas fix,
10:29ini pragmatisme politik.
10:30Pragmatisme politik.
10:31Dan ini berarti memang jarak pandangnya,
10:35itu cuma 5 tahun.
10:36Anda tidak melihat ada kerisauan.
10:38Dan itu bukan tipikal politisi negarawan.
10:43jika hanya berpikir dalam rentang waktu yang sangat pendek.
10:48Ya, saya kutip satu.
10:50Bung Adi paham betul ya,
10:52Harold Delaswell.
10:53Dia bicara soal,
10:54who gets, what, when, and how.
10:56Hanya bicara soal,
10:58dapat apa, bagaimana,
11:00dan dengan cara apa.
11:02Lupa hakikat politik itu apa.
11:05Lupa bahwa esensi dari kita berpolitik itu adalah untuk apa.
11:10Ini yang hilang.
11:11Tapi begini, Bang.
11:12Dan kalau itu tidak dilakukan.
11:13Tapi begini, Bang.
11:14Bahwa setiap orang, setiap figur,
11:16setiap tokoh itu ingin pragmatis,
11:18bahkan itu wajib hukumnya dalam.
11:19Wajar-wajar aja, kan?
11:20Bukan wajar bagi saya,
11:21itu wajib hukumnya.
11:23Kalau kita baca,
11:24kalau kita bicara tentang teori-teori yang,
11:27misalnya komunikasi politik,
11:29Tentang partai politik ini,
11:31sangat pandai bicara untuk menyembunyikan keinginan sesungguhnya.
11:34Oh, ini atas nama rakyat,
11:36pemilu masih jauh,
11:38kemudian menyerup abis serpasi,
11:39ujung-ujungnya untuk mendapatkan simpati dan dukungan,
11:42udah seserhana itu saja.
11:43Saya justru yang mendukung, Mas Yogi,
11:46bahwa semua partai politik yang ingin membesarkan partainya,
11:49atau membesarkan siapapun,
11:50enggak apa-apa.
11:51Hari ini pemilu,
11:52besok langsung ke mana untuk lima tahun yang enggak datang.
11:54Menurut saya itu justru jauh lebih head up.
11:56Oke, kita masih punya pertanyaan besar.
11:58Terima kasih.
Komentar