Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sekjen Projo, Freddy Damanik menegaskan agenda keliling Indonesia yang disampaikan Jokowi kepada relawan bukan semata-mata manuver politik elektoral.

Freddy mengatakan, Jokowi memang terbiasa turun langsung melihat kondisi masyarakat sejak menjabat wali kota, gubernur hingga presiden.

Meski demikian, ia tak menolak bila kedekatan tersebut nantinya memiliki dampak politik.

Bahkan Freddy menyebut tidak ada yang salah jika pengaruh politik Jokowi dimanfaatkan untuk kepentingan elektoral.

Meski begitu, Freddy menegaskan hingga kini Jokowi belum pernah meminta relawan Projo bergabung dengan PSI.

Sementara itu, Jubir PDI Perjuangan, Ansy Lema mengingatkan agar elite politik tidak terlalu dini sibuk mempersiapkan kontestasi 2029.

Menurut Ansy, kondisi ekonomi masyarakat saat ini justru membutuhkan fokus kerja nyata dari pemerintah dan seluruh kekuatan politik.

Ia menilai bangsa ini jangan terus bergerak dari satu kontestasi ke kontestasi berikutnya tanpa kerja konkret untuk rakyat.

Ansy menyoroti rendahnya daya beli masyarakat dan persoalan ekonomi yang menurutnya membutuhkan solusi cepat.

PDIP juga menegaskan posisinya kini fokus sebagai partai penyeimbang di luar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Saat ditanya soal kemungkinan Jokowi tetap memainkan pengaruh politiknya di masa depan, Ansy menyebut PDIP telah menutup buku bab hubungan politik dengan Jokowi.



Bagaimana menurut Anda?

Saksikan selengkapnya di sini: https://youtu.be/50kDy7nyQHY



#jokowi #politik #pdip




Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/671454/projo-tak-bantah-efek-politik-jokowi-di-pemilu-2029-pdip-minta-pemerintah-fokus-kerja-satu-meja
Transkrip
00:00Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup, saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi, saya masih sanggup
00:15datang ke kabupaten, kota, saya masih sanggup, saya masih sanggup, kalau perlu sampai ke kecapatan, saya masih sanggup.
00:27Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI.
00:39Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI.
00:57Tadi sebelum ditutupkan, pragmatis gitu. Nah ini 31 Januari 2026, artinya masih di tahun yang sama dan Juni akan rencana.
01:07Ya misalnya tadi yang ditampilkan adalah PSI dan saya yakin di hadapan relapan juga ada, hanya mungkin tadi kita tidak
01:13putar.
01:13Anda mau menjelaskan apa? Ini kan makin clear bahwa ini bukan soal bicara soal Panggiran Nurani, Pak Jokowi sebagai tokoh
01:22yang masih sering mendapatkan aduan, curhatan, tapi lebih kepada kerja-kerja politik yang ujung-ujungnya adalah untuk nanti 2029 atau
01:31kehubungan politik lainnya.
01:34Ya, seperti Bang Ansih, saya juga gak mau terlalu banyak yang mau ngementari tentang Pak T.
01:40Kenapa? Karena PSI? Ini soal Pak Jokowi-nya loh, ada seorang yang relawan.
01:43Sekalian konteksnya Pak Jokowi menyampaikan itu kepada kami relawan, itu yang pertama.
01:47Yang kedua, bagi Pak Jokowi, ya kekuasaan itu, politik itu bukan hanya tentang kekuasaan dan jabatan.
01:54Bagi Pak Jokowi, bagi kami, ya politik itu adalah juga menjaga kedekatan batin dengan masyarakat.
02:02Dan itu alaminya Pak Jokowi, beliau menyapa masyarakat, ya melihat kondisi real, itu sudah biasa dilakukan Pak Jokowi.
02:09Tapi banyak juga yang mencatat, bicara soal kedekatan dan komunikasi dengan publik, dengan rakyat, tetapi ujung-ujungnya kan ada benefit
02:17elektoral.
02:17Ya, justru itu. Tapi maksud saya, jangan langsung dimaknai, diartikan manuver politik 2029.
02:25Oh gitu?
02:26Ya, jangan langsung ansih seperti itu.
02:28Tetapi, kalau nanti modal sosial ini, modal kedekatan politik ini, ya memang pada saatnya harus digunakan telunjuk Pak Jokowi, ya.
02:41Di dalam kontestasi politik 2029, menurut saya itu adalah keuntungannya Pak Jokowi, keuntungan kami relawan, Projo misalnya, ya ketika kami
02:53dekat dengan rakyat.
02:54Bung, gitu loh, kira-kira bahasanya gampang gini, kalau toh pun seorang Jokowi Dodo mantan presiden yang anaknya ada di
03:01posisi wakil presiden, yang kedua juga anaknya juga ketika umum partai, ya kalau berbicara untuk elektoral politik juga gak apa
03:09-apa kok.
03:10Kenapa harus kemudian dihindarkan?
03:11Memang, Projo juga gak tabu itu.
03:14Tetapi maksud saya, maksud saya, kita belum berbicara masih jauh, elektoral 2029.
03:22Kita tidak menafikan bahwa ini, pada kontestasi 2029, modal sosial ini akan digunakan untuk itu, ya tetapi, belum berbicara Mas
03:35Gibran hari ini.
03:36Oke.
03:37Gitu loh, ya sekali lagi kalau bicara PSI, harusnya teman PSI disini, tetapi belum bicara Mas Gibran.
03:43Masih pun tadi, di video itu jelas ya di hadapan ini, saya akan turun, saya akan membesarkan, jelas kan, ke
03:48provinsi, ke bupaten, kota.
03:50Iya, iya, iya, kita tidak bantai itu, makanya saya katakan tadi.
03:53Atau Breda, kalau di PSI begini, kalau di Projo begini?
03:57Kepada kami,
03:58Oh sama, kira-kira.
03:59Bukan, kepada kami, Pak Jokowi belum pernah mengatakan, ayo gabung PSI, ayo ikut.
04:05Belum pernah, jadi sekali lagi saya tidak kompeten bicara tentang PSI, saya hanya bicara, relawan dengan Pak Jokowi.
04:13Dan siap mendampingi Pak Jokowi keling-keling.
04:15Siap mendampingi Pak Jokowi, begitu loh.
04:17Oke, oke.
04:18Bu Ansik, Anda tadi mengatakan, hari ini bukan lagi bicara soal investasi politik untuk 29,
04:26tapi lebih kepada realitas yang dihadapi, rakyat butuh konkret gitu.
04:30Anda mau mengatakan bahwa, sudahlah, jangan lagi pakai kamuflase mendekati rakyat, ujung-ujungnya adalah investasi politik?
04:39Atau Anda ingin mengatakan, sekelas presiden yang sudah menjabat dua periode, harusnya bicara soal kiresawan bangsa, lebih konkret gitu.
04:48Rakyat yang cerdas tentu bisa menilai.
04:52Hari-hari ini, para pemimpinnya itu memikirkan apa yang menjadi jeritan dan kebutuhan rakyat,
05:01dan hadir sebagai problem solver,
05:06ataukah justru sedang menyiapkan anak tangga dalam kaitannya dengan politik kekuasaan.
05:15Kalau sikap PDI Perjuangan,
05:182029 itu masih terlalu jauh dan terlalu dini kita bicara soal politik elektoral,
05:26kontestasi 2029.
05:28Saat sekarang itu yang menjadi konsentrasi PDI Perjuangan adalah
05:33bagaimana menghadirkan solusi untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
05:39Itulah juga yang kami harapkan dilakukan oleh Presiden Prabowo dan seluruh jajaran kabinetnya.
05:47Karena sejatinya pemerintahan ini dipilih, diberikan mandat,
05:52pertama-tama itu untuk bekerja, memajukan kesejahteraan, dan menciptakan keadilan bagi masyarakat.
06:01Kalau belum apa-apa hari ini,
06:04masing-masing kekuatan politik itu sudah memasang kuda-kudanya
06:12untuk politik elektoral 2029,
06:16lalu bangsa ini itu hanya bergerak dari fase kontestasi
06:21tanpa kerja menuju kepada sebuah fase kontestasi baru.
06:25Bukannya itu yang terjadi selama ini kan.
06:28Itu yang terjadi selama ini kan.
06:29Setiap pemilu ke pemilu, selalu efektif bekerja paling dua tahun.
06:33Tahun ketiga sudah bicara soal lagi.
06:35Dari awal sudah mendesain program-programnya
06:37untuk paling tidak mengamankan di the next pemilu.
06:40Bukannya itu.
06:40Hari ini dua tahun pun belum sampai.
06:45Dan hari ini kita lihat memang daya beli masyarakat itu sangat rendah.
06:50Persoalan real ekonomi, kesulitan ekonomi itu
06:53membutuhkan jalan keluar yang serba cepat.
06:56Dan mestinya seluruh partai politik
07:01ataupun tokoh-tokoh politik yang berada di balik
07:03Presiden Prabowo Subianto ini,
07:06ini kan mengkonsolidasi diri
07:08untuk kemudian memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan persoalan ini.
07:13PD Perjuangan berada di luar pemerintahan
07:16dan memainkan peran sebagai partai penyeimbang
07:19ini berharap bahwa pemerintah ini itu solid.
07:24Dan Presiden Prabowo itu bertindak sebagai semacam kondukter
07:29yang memimpin sebuah orkestrasi
07:31termasuk di sana ada partai yang ada di pemerintahan semua.
07:36Ini harus membangun sebuah soliditas dan sinergi
07:39untuk menyelesaikan persoalan ini.
07:41Kalau peranan itu diambil oleh Jokowi dan ke depan
07:43akan juga sama kira-kira.
07:45Hanya bedanya dia individu yang punya masa masih kuat.
07:49Anda melihat seperti apa?
07:51Harus jangan didukung juga kan sama sebetulnya.
07:53Ya kalau bicara soal yang bersangkutan ini
07:55bagi kami, kami sudah tutup buku ya.
07:58Sudah tutup buku.
07:59Ini sudah cerita masa lalu
08:01dan bagi PDI Perjuangan itu
08:04orang datang dan pergi
08:05come and go itu hal yang biasa saja.
08:11Tetapi konsentrasi, fokus, dan prioritas PDI Perjuangan
08:14hari ini bukan di situ.
08:16Bukan di bagaimana manuver politik, strategi politik
08:21untuk mengkapitalisasi, untuk meningkatkan elektoral.
08:25Tetapi jawab dulu persoalan ini.
08:27Ini dalam politikan kita juga butuh
08:29hal-hal yang tidak saja pragmatisme politik.
08:33Tetapi juga bicara soal hal-hal yang menyangkut elementer,
08:37fundament dari berbangsa dan bernegara ini.
08:41Contoh, soal tata kelola pemerintahan hari ini.
08:44Ini kan bukan sesuatu yang mengada-ada
08:47dan membutuhkan pembenahan, koreksi
08:52yang betul-betul dilakukan.
08:54Sehingga kemudian kita berharap pemerintah,
08:56Presiden Prabowo ini bisa bekerja secara baik.
08:59Oke, saya ke Mas Nadi.
09:02Mas Nadi, ini bacaan Anda.
09:04Ini saya anggap Anda punya pendapat bahwa ini pragmatisnya Pak Jokowi.
09:09Untuk Kaisang atau untuk Gibran?
09:11Ya bisa dua-duanya.
09:13Oke.
09:13Kalau Kaisang itu adalah ketomu PSI,
09:16kenapa menjadi ramai pembicaraan soal Pak Jokowi
09:18yang rencananya akan berusukan mulai bulan depan?
09:20Sepertinya ada satu keyakinan bahwa Pak Jokowi itu tetap sakti mandragunah.
09:25Seperti dahulu kalah.
09:26Jadi, siapapun yang teridentifikasi dekat dengan Jokowi,
09:29menjadi bagian dari Jokowi,
09:31dan tune in dengan Jokowi,
09:33entah itu partai seperti PSI,
09:34figur seperti Gibran,
09:36akan mendapatkan faedah elektoral.
09:38Tapi progresnya PSI sampai sekarang sejak awal.
09:40Kan itu yang sedang ingin diuji sebenarnya.
09:42Saya termasuk yang sedang nunggu-nunggu di 2029,
09:46apakah kesaktian Pak Jokowi yang tidak pernah kalah dalam pemilu,
09:50itu akan kembali terulang di 2029.
09:52Karena kalau kita bicara PSI hari ini,
09:55dan di 2029,
09:56orang sudah tak ada perdebatan apapun,
09:58ini adalah pertaruhan politik Pak Jokowi.
10:01Kalau di 2029,
10:03untuk yang pertama kalinya,
10:04PSI lolos ke parlemen,
10:05pertama kali yang akan dicari dan mendapatkan standing uploat adalah Pak Jokowi.
10:10But on the other hand,
10:11kalau tidak lagi lolos ke parlemen,
10:13ini PSI untuk yang kesikian kalinya,
10:15Pak Jokowi akan disebut bahwa rekordnya sudah selesai.
10:20Rekordnya tidak sementereng dahulu kalah,
10:22waktu masih bersama dengan PDIP.
10:24Kan begitu jalan ceritanya.
10:26Mas Yogi,
10:26kalau ini,
10:27ini jelas-jelas fix,
10:29ini pragmatisme politik.
10:30Pragmatisme politik.
10:31Dan ini berarti memang jarak pandangnya,
10:35itu cuma 5 tahun.
10:36Anda tidak melihat ada kerisauan.
10:38Dan itu bukan tipikal politisi negarawan.
10:43jika hanya berpikir dalam rentang waktu yang sangat pendek.
10:48Ya, saya kutip satu.
10:50Bung Adi paham betul ya,
10:52Harold Delaswell.
10:53Dia bicara soal,
10:54who gets, what, when, and how.
10:56Hanya bicara soal,
10:58dapat apa, bagaimana,
11:00dan dengan cara apa.
11:02Lupa hakikat politik itu apa.
11:05Lupa bahwa esensi dari kita berpolitik itu adalah untuk apa.
11:10Ini yang hilang.
11:11Tapi begini, Bang.
11:12Dan kalau itu tidak dilakukan.
11:13Tapi begini, Bang.
11:14Bahwa setiap orang, setiap figur,
11:16setiap tokoh itu ingin pragmatis,
11:18bahkan itu wajib hukumnya dalam.
11:19Wajar-wajar aja, kan?
11:20Bukan wajar bagi saya,
11:21itu wajib hukumnya.
11:23Kalau kita baca,
11:24kalau kita bicara tentang teori-teori yang,
11:27misalnya komunikasi politik,
11:29Tentang partai politik ini,
11:31sangat pandai bicara untuk menyembunyikan keinginan sesungguhnya.
11:34Oh, ini atas nama rakyat,
11:36pemilu masih jauh,
11:38kemudian menyerup abis serpasi,
11:39ujung-ujungnya untuk mendapatkan simpati dan dukungan,
11:42udah seserhana itu saja.
11:43Saya justru yang mendukung, Mas Yogi,
11:46bahwa semua partai politik yang ingin membesarkan partainya,
11:49atau membesarkan siapapun,
11:50enggak apa-apa.
11:51Hari ini pemilu,
11:52besok langsung ke mana untuk lima tahun yang enggak datang.
11:54Menurut saya itu justru jauh lebih head up.
11:56Oke, kita masih punya pertanyaan besar.
11:58Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan