00:00Saya masih bersama istri dari Nadi Makarim, Franka Franklin Makarim.
00:06Waktu awal persidangan ini dimulai, salah satu yang juga menjadi sorotan publik adalah soal WhatsApp Group.
00:13Mas Menteri Court Team, bahkan sebelum pengumuman Menteri dan pelantikan Menteri.
00:20Apa yang Anda ketahui soal WhatsApp Group yang ini juga disebut sebagai bagian dari mens rea?
00:30Nah, tepat satu tahun yang lalu, Mbak Rosi, pada saat kasus ini naik ke penyidikan, sampai Mas Nadiem akhirnya mulai
00:40bersidang.
00:43Itu narasi dan cerita tentang WhatsApp Group itulah yang menjadi satu titik terbesar.
00:49Dan saya mengerti kenapa itu bisa menjadi sesuatu yang bikin orang ragu.
00:56Tapi, WhatsApp Group itu tidak pernah ada pembicaraan tentang kerombong.
01:02Dalam WhatsApp itu, itu tidak muncul juga di persidangan ya?
01:06Tidak, tidak muncul di dakwaan Mbak Rosi, bahkan.
01:09Jadi, urusan WA Group ini dibawa selama beberapa bulan sampai kepada dakwaan, tidak ada.
01:18Dan sehabis itu pun tidak, karena memang di dalam WhatsApp Group itu tidak ada pembahasan kerombong sampai enam bulan setelah
01:28Mas Nadiem menjabat.
01:30Bahkan namanya saja baru jadi Mas Menteri Court Team itu setelah beliau dilantik.
01:36Tapi hebat banget Mas Nadiem, sebelum diumumkan sebagai Menteri dan kemudian dilantik, sudah membuat grup core team untuk menjadi Menteri.
01:48Pada saat itu, sepengetahuan saya, grup ini namanya Education Council atau Education Org gitu.
01:58Tidak ada Mas Menteri Court Team ya.
02:01Dan di sana, mereka hanya membahas isu-isu pendidikan apa.
02:05Kenapa? Karena pada saat itu Mas Nadiem sudah mulai dengar Mbak, bahwa mungkin dia akan diajak bergabung.
02:12Sehingga karena dia tidak berasal dari sistem pendidikan gitu ya, biarpun passionnya ada, dia harus mengajari diri dong.
02:21Harus bertanya kepada orang-orang yang lebih mampu dan berkompetensi di bidang itu.
02:26Saya bertanya pada beberapa sumber, saya tidak perlu menyebutkannya, tapi saya mempercayai akurasi dari informasi ini.
02:35Bahwa memang seorang Nadiem Makarim adalah termasuk orang yang pertama kali di era periode kedua Pak Jokowi untuk diminta bergabung.
02:44Dan kemudian Mas Nadiem lah yang memilih untuk menjadi Menteri Pendidikan dan menggabungkan.
02:51Sehingga memang ada privilege pada waktu itu sebagai seorang yang diminta dan bisa memilih jabatan sebagai Menteri.
03:02Pertanyaan saya pada Franka, apakah ini sedikit banyak membuat Mas Nadiem merasa sangat bersemangat?
03:17Termasuk ekstrimnya, overconfident bahwa ia mendapat mandat penuh dari Presiden Jokowi.
03:28Sehingga dapat merasa bahwa apa yang dia lakukan itu pasti akan aman.
03:44Pertama saya tidak tahu ya bahwa itu ada privilegesnya seperti itu gitu.
03:50Tapi saya tahu suami saya bukan orang yang sempurna.
03:55Apalagi Menteri yang sempurna.
03:57Bahwa dia dalam cara berkomunikasi, bersikap, budaya kerja, cara dia ingin memecahkan suatu masalah istilahnya di dalam satu badan baru,
04:13di dalam pemerintahan.
04:15Mungkin tidak berkenan dan kurang pas ya, Pak.
04:19Di saat itu, itu adalah sesuatu yang sudah sangat direfleksikan selama satu tahun ini.
04:25Tapi saya juga sangat mempercayai bahwa niat baiknya, kapabilitasnya, dan semua yang dia upayakan dalam lima tahun tersebut berangkat dari
04:36visi-misi yang diberikan dan dicoba untuk dilakukan sebaik mungkin.
04:41Dan itu saya yakin ia bisa bertanggung jawabkan.
04:45Mas Tadum juga dalam persidangan menyebut bahwa ini adalah amanat dari Presiden.
04:52Pada waktu itu Presiden Jokowi pada rapat paripurna yang pertama menyebutkan pentingnya digitalisasi dunia pendidikan.
05:02Apakah dengan membawa nama Presiden merasa perlu untuk menegaskan bahwa apa yang dilakukan adalah perintah Presiden.
05:12dan bukan hal yang diluar perintah Presiden.
05:17Apakah mesej ini yang mau disampaikan?
05:24Saya rasa pada saat itu Mas Nadiem hanya ingin menegaskan bahwa tugas dari seorang Menteri adalah menjalankan visi dan misi.
05:35Dan itu benar-benar sudah diupayakan selama lima tahun dengan sepenuh tenaga dan sepenuh hati dengan semua ketidaksempurnaannya sekali lagi.
05:45Tapi sesuai dengan fakta persidangan sekali lagi apa yang dituduhkan tidak ada yang terbukti.
05:52Tidak ada salah prosedur.
05:54Tidak ada aliran dana.
05:56Dan ya laptop dan semua alat TIK ini masih dipakai oleh guru-guru dan murid di seluruh Indonesia.
06:04Sebagai seorang bintangnya di kabinet periode lalu,
06:11Anda merasa ditinggalkan nggak?
06:13Bahwa dulu suami saya diminta, dibanggakan, bahkan cukup dielulukan.
06:20Dan ketika sampai di satu proses persidangan, merasa sendiri.
06:29Mungkin kami di awal merasa sering sekali sendirian.
06:35Tapi juga kami mengerti bahwa ini adalah akibat fakta persidangan belum keluar sama sekali.
06:42Tapi sekali lagi seperti yang Barosi tadi juga bilang bahwa dukungan doa sudah begitu besar itu adalah berkat yang tidak
06:52akan pernah kami bisa sangka.
06:55Dan juga berterima kasih.
06:58Tapi kalau saya boleh tambahkan Barosi,
07:01yang paling memprihatinkan dan menyakitkan untuk saya adalah
07:07bagaimana niat baik suami saya dijadikan senjata yang diputarbalikan.
07:13Bahwa yang pertama, sebelum dia menjadi menteri,
07:20investasi dari perusahaan yang besar itu sudah masuk lebih dari 70%.
07:26Mas Nadiem melepaskan jabatannya sehari sebelum dilantik.
07:31Dan itu dianggap menjadi satu pura-pura
07:36supaya dia bisa menutupi konflik kepentingan ini.
07:41Pada saat dia tidak ada, jelas tidak ada aliran dana
07:48selama dia menjabat dan itu terbukti di persidangan,
07:52itu dianggap dia itu sangat lihai
07:55sebagai penyembunyikan penjahatan.
07:59Betul, yang menerima dan mengakui menerima bahkan tidak diusut.
08:05Dan yang terakhir Mbak,
08:08bagaimana kejujuran dan niat dia untuk melaporkan semuanya secara terbuka
08:14di SPT dan LKHPN,
08:16tiba-tiba menjadi satu alat yang dipakai untuk membangun narasi
08:23bahwa dia korupsi besar-besaran.
08:26Jadi untuk saya,
08:29kenapa setiap niat baik itu diputar balikan jadi senjata
08:34untuk menjolimi suami saya.
08:39Anda merasa seorang Nadiem Makarim dizolimi?
08:49saya merasa apa yang terjadi
08:51adalah satu
08:55bentuk
09:01perjalanan hidup yang lumayan berat
09:03dan sampai sekarang saya masih
09:05tidak mengerti
09:07kenapa.
09:10Selalu ada pertanyaan, masih ada pertanyaan besar ya.
09:14Kenapa ini terjadi?
09:16Dari lima tahun perjalanan
09:18dengan
09:20jalur hidup yang cemerlang
09:22tiba-tiba out of sudden
09:23duduk sebagai pesakitan.
09:26Is it still a big question for you?
09:30Ada banyak hikmah yang kami juga dapat
09:33dari sini Mbak Rosy.
09:35Tapi untuk melihat anak-anak saya,
09:38empat anak saya harus dipisahkan dari ayahnya
09:40untuk satu tuduhan yang
09:44tidak berdasar dan tidak terbukti,
09:48itu buat saya sangat-sangat berat.
09:52Andaikan dulu menolak permintaan jadi menteri,
09:57seorang lulusan Harvard,
09:59pengusaha sukses,
10:01diidolakan di mana-mana,
10:02menjadi menteri juga,
10:03menjadi menteri yang populer.
10:08Andaikan bisa menolak waktu itu,
10:11harusnya reputasi Mas Nadiem
10:14tidak sehancur sekarang ya?
10:18Saya tahu
10:19Nadiem tidak pernah menyesal
10:21mengambil amanah itu Mbak.
10:24Saya pun tidak menyesalkan.
10:26jujur.
10:27Karena
10:29kami benar-benar bisa melihat bahwa
10:32pengabdian yang dia lakukan selama lima tahun itu
10:35berdampak nyata.
10:37Terutama justru
10:38karena di satu minggu ini
10:40begitu banyak guru-guru,
10:44mahasiswa,
10:45dan juga driver gitu ya,
10:49bahkan yang
10:51mengungkapkan cerita-cerita nyata bagaimana
10:54kebijakan-kebijakan dan upaya yang dilakukan oleh Mas Nadiem dan seluruh kementeriannya
11:00dengan sepenuh hati,
11:02itu berdampak baik.
11:04contohnya dalam persidangan,
11:06itu kan ada tujuh guru Mbak datang dari Aceh sampai Papua.
11:11Satu kepala sekolah, Pak Arbi namanya,
11:15beliau bilang sekolah saya itu tadinya sekolah buangan,
11:20jadi sekolah pilihan.
11:23Dan itu terjadi karena
11:25ada akses untuk laptop,
11:28untuk alat TIK,
11:29dan lain-lain program-program lain.
11:31Bahkan dia pun membawa itu laptop Chromebook
11:34di depan majelis hakim
11:36dan ditunjukkan itu bisa dipakai offline.
11:38Nah,
11:39selain daripada itu ada
11:41ada satu cerita Mbak,
11:44kalau boleh,
11:45mahasiswi namanya Mbak Utari,
11:47saya juga baru lihat dua hari yang lalu gitu.
11:50Dia mengunggah bahwa
11:51dia dari Kalimantan
11:53ikut program
11:57kampus merdeka,
11:58ada sertifikasi,
12:00ada dia mengajar,
12:01dan itu membuka bagaimana dia melihat
12:03pentingnya bekerja
12:05dibandingkan hanya berjalan di dalam kampus gitu.
12:10Semua itu adalah cerita-cerita yang
12:12akhirnya muncul
12:14dan datang dari orang-orang yang lebih berkompeten dari saya
12:17untuk mengatakan ini semua.
12:20Dan Anda di sini juga ingin memberikan klarifikasi
12:23bahwa itu tidak digerakkan oleh pihak yang terkait dengan Nadi Makarin.
12:30Mereka secara pure datang,
12:32secara sukarela untuk memberikan kesaksian.
12:34Apakah menurut Franka,
12:35ini terjadi karena melihat tuntutan yang sedemikian fantastis?
12:40Saya rasa seperti yang tadi saya juga sempat ungkapkan,
12:45jarak itu tadi,
12:46Mbak Rosi,
12:47antara kebenaran dan fakta yang ada
12:50dengan jumlah tuntutan yang diinginkan
12:56dan diharapkan oleh pihak mereka.
12:58dan diharapkan oleh pihak mereka.
13:02dan diharapkan oleh pihak mereka.
Komentar