Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan rencana Bandara Kertajati di Majalengka menjadi bengkel bagi pesawat Hercules C-130 Amerika Serikat. Hal ini diungkapkan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat dengan Komisi I DPR, pada Selasa, 19 Mei.

Sjafrie bercerita pertemuannya dengan Menteri Perang AS, Hegseth, tahun lalu. Dalam pertemuan ini, Menteri Perang AS, Hegseth, menawarkan ke Sjafrie untuk menjadikan Indonesia pusat perawatan pesawat Hercules C-130 se-Asia. Sjafrie menyebut instruksi presiden, Bandara Kertajati dipilih untuk bengkel pesawat Hercules C-130 se-Asia.

Lalu, apa untung rugi penggunaan Bandara Kertajati di Majalengka untuk bengkel pesawat Hercules C-130? Kita akan bahas bersama pengamat militer dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement atau CIDE, Anton Ali Abbas.

#kertajati #hercules #menteriperang

Baca Juga [FULL] Kesaksian WNI yang Ditahan Israel: Dipukul dan Mengalami Kekerasan Verbal di https://www.kompas.tv/internasional/670519/full-kesaksian-wni-yang-ditahan-israel-dipukul-dan-mengalami-kekerasan-verbal



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/670520/pengamat-soroti-untung-rugi-indonesia-terima-tawaran-as-soal-kertajati-jadi-bengkel-hercules-c-130
Transkrip
00:00Lalu apa untuk rugi penggunaan bandara Kertajati di Majalengka untuk bengkel pesawat Hercules?
00:05Kita bahas bersama pengamat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
00:12Selamat petang, Mas Anton.
00:14Petang, Pak Sindi.
00:16Mas Anton, jadi kalau menurut Anda sebenarnya ini adalah tawaran yang menguntungkan atau merugikan untuk Indonesia?
00:20Ya, memang satu adalah kita harus pahami bahwa ketika kita bicara tentang kesiagaan ya, readiness dari angkatan udara kita, terutama
00:33dalam hal ini pesawat,
00:34memang salah satu faktor yang ikut mempengaruhi adalah bicara tentang perawatan, perawatan dan pemeliharaan.
00:41Jadi ini memang selalu kita banyak punya cerita bahwa pesawat kita seringkali susah untuk terbang
00:48karena ternyata kemudian butuh perawatan.
00:51Dan ketika bicara tentang perawatan, ongkosnya mahal, bahkan kalau misalnya cerita tentang politik anggaran, selayaknya dengan pengadaan baru.
00:57Jadi ini agak menjelimah itu satu.
00:59Kedua memang, kalau tanya apakah ada untung atau rugi, dua-duanya sebenarnya.
01:04Jadi ada potensi untung dan ada potensi rugi yang harus kita antisipasi.
01:07Jadi saya melihatnya gitu.
01:09Jadi itu satu sisi bahwa ketika kita bicara tentang MRO misalnya, maintenance, repair, dan overhaul,
01:17kita itu bukan pemain terbesar di Asia Tenggara bahkan.
01:20Jadi misalnya ada Singapura yang jauh lebih siap.
01:23Bagaimana kemudian misalnya ada pangkalan Singapura yang memang sudah melakukan itu dari sejak tahun 90-an.
01:29Jadi itu satu.
01:31Kedua, kalau misalnya dari sisi untung ya, untung kita lihat bahwa satu, ada potensi untuk kita kemudian naik kelas.
01:38Ada potensi naik kelas tadi, kita bukan siapa-siapa kemudian akan menjadi siapa-siapa.
01:42Tergantung nanti bagaimana kita bisa mengaksploitasinya.
01:44Kedua, memang misalnya Bandara Kertajati ini sejauh ini kan jadi beban fiskal.
01:48Jadi dengan adanya pemanfaatan ini, tentu saja ada potensi itu tidak lagi jadi beban fiskal.
01:54Walaupun kemudian ada potensi lagi kerugian misalnya kita keragantungan kontrak dengan Amerika Serikat misalnya.
02:01Lalu di sisi lain tentu yang kita harus antisipasi adalah nanti potensi ruginya seperti apa.
02:08Gitu-itu kan. Jadi ada, untungnya ada banyak. Jadi ada potensi transfer of technology, kita skill SDM kita bisa meningkat,
02:16gitu.
02:16Lalu ada pendapatan dari sisi aset yang idle misalnya.
02:21Tapi apa potensi yang kita harus khawatirkan?
02:23Yang satu jelas ini tentang kehadiran aset militer asing di tempat kita.
02:28Gitu. Kenapa? Karena harus kita tahu bahwa ketika kita bicara MRO, C-130, itu artinya itu fasilitasnya fasilitas milik Lockheed
02:37Martin.
02:38Yang rotabilin dari luar negeri. Itu bukan di kita.
02:41Bagaimana kemudian kita bisa mengamankan semua potensi positif tadi itu kita dapat?
02:46Itu adalah pertanyaan pertama.
02:47Yang kedua adalah soal kehadiran asing. Kita tahu ini asingnya siapa punya? Amerika Serikat.
02:52Tentu saja. Itu nanti akan lihat, oh apakah ini kecondongan ke Amerika Serikat lagi-lagi yang lebih pada Amerika Serikat
02:58atau seperti apa?
02:59Sementara kan kita selalu mencoba menjaga balance ya selama ini.
03:03Bagaimana kemudian kita mencoba mencari titik seimbang di tengah pertarungan geopolitik.
03:10Lalu misalnya ketika kita bicara bahwa ini, ketika tadi kan Pak Safri bilang bahwa ini untuk hub dari Asia, pertanyaan
03:22lanjutannya adalah
03:23ini hub untuk Asia-Asia, C-130, apakah cuma milik Amerika Serikat, US Air Force, atau semuanya?
03:32Karena kan ada banyak nih, ada banyak yang menggunakan C-130.
03:36Apakah eksklusif atau kemudian semua?
03:39Nah, kalau semua artinya ada ruang untuk kita.
03:42Nah, Mas Afri, tapi juga sebenarnya apa yang menurut Anda jadi pertimbangan Amerika Serikat menjadikan opsi Indonesia untuk jadi pusatnya?
03:49Kalau misalnya memang sebenarnya ada pangkalan lain yang lebih siap?
03:52Nah, itu yang kemudian kan jadi pertanyaan.
03:54Kenapa? Karena tawaran ini munculnya kan dari Menteri Perangnya Amerika Serikat, Pete Hexet.
04:04Ini lah loket Martinnya.
04:05Lain cerita kalau prosesnya itu dimulai dari bisnis.
04:08Jadi memang pabrikan C-130 yang kemudian menawarkan Indonesia jadi hub.
04:14Artinya apa? Ini ada skema bisnis yang didasar pertimbangan bisnis.
04:17Bukan dengan pertimbangan politik.
04:20Tapi kan ini munculnya dalam pertemuan empat mata.
04:23Tawaran ini muncul gitu.
04:24Jadi ini kan yang kemudian, oh ini pertimbangannya jangan-jangan.
04:28Pertimbangan politiknya jauh lebih besar.
04:30Bagaimana kemudian misalnya Amerika Serikat mencoba untuk lebih dekat kepada Indonesia dengan tawaran ini.
04:36Itulah kemudian penting kita untuk mengklarifikasi beberapa poin gitu.
04:40Bagaimana misalnya transfer of technology.
04:43Sering kali misalnya transfer of technology itu, itu hanya bagus di atas kertas.
04:47Praktiknya susah.
04:48Belum lagi misalnya ketika, ini kan tadi saya bilang, ini kan asetnya adalah aset asing.
04:54Bagaimana kalau misalnya hubungan kita memburuk dengan Amerika Serikat.
04:57Kalau ini nanti jadi di-freeze, artinya kita cuma nggak bisa ngapa-ngapain gitu.
05:02Kenapa? Ini kan aset asing, bukan aset milik kita.
05:04Jadi bagaimana kemudian ada keterlibatan GMF, ada keterlibatan PTDI dalam MRO ini.
05:11Itu akan menjadi kita dapat banyak gitu.
05:15Nah selain itu juga Mas Anton, tapi sebenarnya apa imbalan yang juga diharapkan dari Amerika Serikat dengan memilih Indonesia?
05:21Ketika mereka menjanjikan akan bisa membiayai semua operasionalnya,
05:24apa kira-kira yang akan mereka minta untuk balas budingnya di Indonesia?
05:29Amerika Serikat kan memang dari sudah cukup lama,
05:34sudah cukup lama untuk mendekati kita.
05:36Misalnya yang kemarin ada overflight blanket misalnya, itu kan salah satu.
05:41Kedua misalnya ketika ada ketegangan di Laut Cina Selatan,
05:44mereka kan cuma punya pangkalannya ada satu di Papua Negini, lalu ada di Australia.
05:48Mereka kan berharap kalau bisa nanti air viewing-nya di Indonesia.
05:52Nah Indonesia seringkali untuk air viewing itu tidak mengizinkan.
05:56Karena itulah kalau misalnya mereka punya pangkalan,
06:00jadi ada aset mereka di sini, mereka bisa air viewing di situ harapannya.
06:05Nah ini dari tadi saya bilang, ini kita harus cermat gitu.
06:08Jadi jangan sampai kita malah mendapat jebakan gitu ya.
06:11Di satu sisi memang ada potensi keuntungan yang luar biasa di sini,
06:15tapi di sisi lain kita memang harus cermat, kita harus jeli,
06:18menurunkan potensi kerjasama ini.
06:20Jangan sampai kemudian kita cuma dapat minimum gitu.
06:24Sementara yang untung yang lebih besar adalah pada sisi Amerika Serikat.
06:28Karena Amerika Serikat memang selalu mencoba untuk punya cara
06:33bagaimana kemudian bisa mereka menggunakan ruang udara kita.
06:39Ini yang memang kita harus cermati.
06:40Apalagi misalnya ada kondisi, ada tensi geopolitik di wilayah Laut Cina Selatan
06:44atau juga di Asia Timur misalnya.
06:46Itu memang sedikit banyak harus kita cermati.
06:48Nah soal adanya tensi itu, Mas Anton, artinya sejauh mana sebenarnya
06:53tawaran ini akan bisa berdampak pada posisi Indonesia
06:55yang sebagai negara non-block dan netral seharusnya?
06:59Nah itu yang tadi saya bilang, yang harus kita kedepankan
07:03tentu saja kepentingan nasional kita, kepentingan kita apa gitu.
07:06Kesatu adalah kita dapat kepentingan ekonomi kita.
07:09Itulah bagaimana kemudian kita bisa memaksimalkan Bandara Kertajati.
07:12Walaupun juga kita harus perhatikan secara jelas,
07:15Bandara Kertajati itu adalah instalasi sipil, bukan militer.
07:19Artinya butuh regulasi turunan.
07:20Itu satu.
07:21Kedua memastikan bahwa industri pertahanan kita, SDM kita itu mendapatkan banyak.
07:26Jadi memang mereka dilibatkan.
07:28Bukan kemudian MRO itu hanya di bawah kendali Lockheed Martin, pabrikannya saja.
07:33Jadi dengan katanya kita mendapat sesuatu, GMF, PTDI memang terlibat cukup dominan.
07:38Sehingga ketika kita bicara transfer of knowledge, transfer of technology,
07:42itu kita dapatkan semua.
07:43SDM kita dapat, duit kita dapat, gitu ya.
07:47Belum lagi misalnya kita harus juga perhatikan bahwa ini bukan pangkalan militer
07:52yang bukan kemudian tidak bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan militer Amerika Serikat.
07:56Nah itu kan juga kita harus cermat, gitu.
07:58Jangan sampai kemudian ketika nanti ada krisis,
08:00itu malah digunakan mereka untuk air viewing dan lain-lain, gitu.
08:03Seperti yang misalnya kejadian di kawasan teluk, misalnya.
08:07Itu yang kemudian memang kita harus cermat.
08:09Tapi di satu sisi memang ini punya potensi untung kita banyak, gitu.
08:13Jadi kita punya untung, ada potensi untung, kita bisa meleverage posisi kita.
08:18Ya kita bukan pemain MRO, kalau misalnya mereka memang sedus,
08:21kita bisa kemudian dipotensi setara dengan Singapura,
08:24walaupun kita juga harus tahu,
08:26mau membangun kapasitas selayaknya kayak Singapura,
08:28itu kan nggak bisa sehari semalam jadi.
08:30Jadi itu yang memang kita harus cermati tawaran ini secara lebih detail, gitu.
08:36Itu Mas Indi.
08:38Baik.
08:38Mas Anton Ali Abbas, penggemat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement.
08:42Terima kasih sudah berbagi pandangan bersama kami.
08:44Seselalu Mas Anton.
08:46Selalu.
Komentar

Dianjurkan