00:00Lalu apa untuk rugi penggunaan bandara Kertajati di Majalengka untuk bengkel pesawat Hercules?
00:05Kita bahas bersama pengamat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Anton Ali Abbas.
00:12Selamat petang, Mas Anton.
00:14Petang, Pak Sindi.
00:16Mas Anton, jadi kalau menurut Anda sebenarnya ini adalah tawaran yang menguntungkan atau merugikan untuk Indonesia?
00:20Ya, memang satu adalah kita harus pahami bahwa ketika kita bicara tentang kesiagaan ya, readiness dari angkatan udara kita, terutama
00:33dalam hal ini pesawat,
00:34memang salah satu faktor yang ikut mempengaruhi adalah bicara tentang perawatan, perawatan dan pemeliharaan.
00:41Jadi ini memang selalu kita banyak punya cerita bahwa pesawat kita seringkali susah untuk terbang
00:48karena ternyata kemudian butuh perawatan.
00:51Dan ketika bicara tentang perawatan, ongkosnya mahal, bahkan kalau misalnya cerita tentang politik anggaran, selayaknya dengan pengadaan baru.
00:57Jadi ini agak menjelimah itu satu.
00:59Kedua memang, kalau tanya apakah ada untung atau rugi, dua-duanya sebenarnya.
01:04Jadi ada potensi untung dan ada potensi rugi yang harus kita antisipasi.
01:07Jadi saya melihatnya gitu.
01:09Jadi itu satu sisi bahwa ketika kita bicara tentang MRO misalnya, maintenance, repair, dan overhaul,
01:17kita itu bukan pemain terbesar di Asia Tenggara bahkan.
01:20Jadi misalnya ada Singapura yang jauh lebih siap.
01:23Bagaimana kemudian misalnya ada pangkalan Singapura yang memang sudah melakukan itu dari sejak tahun 90-an.
01:29Jadi itu satu.
01:31Kedua, kalau misalnya dari sisi untung ya, untung kita lihat bahwa satu, ada potensi untuk kita kemudian naik kelas.
01:38Ada potensi naik kelas tadi, kita bukan siapa-siapa kemudian akan menjadi siapa-siapa.
01:42Tergantung nanti bagaimana kita bisa mengaksploitasinya.
01:44Kedua, memang misalnya Bandara Kertajati ini sejauh ini kan jadi beban fiskal.
01:48Jadi dengan adanya pemanfaatan ini, tentu saja ada potensi itu tidak lagi jadi beban fiskal.
01:54Walaupun kemudian ada potensi lagi kerugian misalnya kita keragantungan kontrak dengan Amerika Serikat misalnya.
02:01Lalu di sisi lain tentu yang kita harus antisipasi adalah nanti potensi ruginya seperti apa.
02:08Gitu-itu kan. Jadi ada, untungnya ada banyak. Jadi ada potensi transfer of technology, kita skill SDM kita bisa meningkat,
02:16gitu.
02:16Lalu ada pendapatan dari sisi aset yang idle misalnya.
02:21Tapi apa potensi yang kita harus khawatirkan?
02:23Yang satu jelas ini tentang kehadiran aset militer asing di tempat kita.
02:28Gitu. Kenapa? Karena harus kita tahu bahwa ketika kita bicara MRO, C-130, itu artinya itu fasilitasnya fasilitas milik Lockheed
02:37Martin.
02:38Yang rotabilin dari luar negeri. Itu bukan di kita.
02:41Bagaimana kemudian kita bisa mengamankan semua potensi positif tadi itu kita dapat?
02:46Itu adalah pertanyaan pertama.
02:47Yang kedua adalah soal kehadiran asing. Kita tahu ini asingnya siapa punya? Amerika Serikat.
02:52Tentu saja. Itu nanti akan lihat, oh apakah ini kecondongan ke Amerika Serikat lagi-lagi yang lebih pada Amerika Serikat
02:58atau seperti apa?
02:59Sementara kan kita selalu mencoba menjaga balance ya selama ini.
03:03Bagaimana kemudian kita mencoba mencari titik seimbang di tengah pertarungan geopolitik.
03:10Lalu misalnya ketika kita bicara bahwa ini, ketika tadi kan Pak Safri bilang bahwa ini untuk hub dari Asia, pertanyaan
03:22lanjutannya adalah
03:23ini hub untuk Asia-Asia, C-130, apakah cuma milik Amerika Serikat, US Air Force, atau semuanya?
03:32Karena kan ada banyak nih, ada banyak yang menggunakan C-130.
03:36Apakah eksklusif atau kemudian semua?
03:39Nah, kalau semua artinya ada ruang untuk kita.
03:42Nah, Mas Afri, tapi juga sebenarnya apa yang menurut Anda jadi pertimbangan Amerika Serikat menjadikan opsi Indonesia untuk jadi pusatnya?
03:49Kalau misalnya memang sebenarnya ada pangkalan lain yang lebih siap?
03:52Nah, itu yang kemudian kan jadi pertanyaan.
03:54Kenapa? Karena tawaran ini munculnya kan dari Menteri Perangnya Amerika Serikat, Pete Hexet.
04:04Ini lah loket Martinnya.
04:05Lain cerita kalau prosesnya itu dimulai dari bisnis.
04:08Jadi memang pabrikan C-130 yang kemudian menawarkan Indonesia jadi hub.
04:14Artinya apa? Ini ada skema bisnis yang didasar pertimbangan bisnis.
04:17Bukan dengan pertimbangan politik.
04:20Tapi kan ini munculnya dalam pertemuan empat mata.
04:23Tawaran ini muncul gitu.
04:24Jadi ini kan yang kemudian, oh ini pertimbangannya jangan-jangan.
04:28Pertimbangan politiknya jauh lebih besar.
04:30Bagaimana kemudian misalnya Amerika Serikat mencoba untuk lebih dekat kepada Indonesia dengan tawaran ini.
04:36Itulah kemudian penting kita untuk mengklarifikasi beberapa poin gitu.
04:40Bagaimana misalnya transfer of technology.
04:43Sering kali misalnya transfer of technology itu, itu hanya bagus di atas kertas.
04:47Praktiknya susah.
04:48Belum lagi misalnya ketika, ini kan tadi saya bilang, ini kan asetnya adalah aset asing.
04:54Bagaimana kalau misalnya hubungan kita memburuk dengan Amerika Serikat.
04:57Kalau ini nanti jadi di-freeze, artinya kita cuma nggak bisa ngapa-ngapain gitu.
05:02Kenapa? Ini kan aset asing, bukan aset milik kita.
05:04Jadi bagaimana kemudian ada keterlibatan GMF, ada keterlibatan PTDI dalam MRO ini.
05:11Itu akan menjadi kita dapat banyak gitu.
05:15Nah selain itu juga Mas Anton, tapi sebenarnya apa imbalan yang juga diharapkan dari Amerika Serikat dengan memilih Indonesia?
05:21Ketika mereka menjanjikan akan bisa membiayai semua operasionalnya,
05:24apa kira-kira yang akan mereka minta untuk balas budingnya di Indonesia?
05:29Amerika Serikat kan memang dari sudah cukup lama,
05:34sudah cukup lama untuk mendekati kita.
05:36Misalnya yang kemarin ada overflight blanket misalnya, itu kan salah satu.
05:41Kedua misalnya ketika ada ketegangan di Laut Cina Selatan,
05:44mereka kan cuma punya pangkalannya ada satu di Papua Negini, lalu ada di Australia.
05:48Mereka kan berharap kalau bisa nanti air viewing-nya di Indonesia.
05:52Nah Indonesia seringkali untuk air viewing itu tidak mengizinkan.
05:56Karena itulah kalau misalnya mereka punya pangkalan,
06:00jadi ada aset mereka di sini, mereka bisa air viewing di situ harapannya.
06:05Nah ini dari tadi saya bilang, ini kita harus cermat gitu.
06:08Jadi jangan sampai kita malah mendapat jebakan gitu ya.
06:11Di satu sisi memang ada potensi keuntungan yang luar biasa di sini,
06:15tapi di sisi lain kita memang harus cermat, kita harus jeli,
06:18menurunkan potensi kerjasama ini.
06:20Jangan sampai kemudian kita cuma dapat minimum gitu.
06:24Sementara yang untung yang lebih besar adalah pada sisi Amerika Serikat.
06:28Karena Amerika Serikat memang selalu mencoba untuk punya cara
06:33bagaimana kemudian bisa mereka menggunakan ruang udara kita.
06:39Ini yang memang kita harus cermati.
06:40Apalagi misalnya ada kondisi, ada tensi geopolitik di wilayah Laut Cina Selatan
06:44atau juga di Asia Timur misalnya.
06:46Itu memang sedikit banyak harus kita cermati.
06:48Nah soal adanya tensi itu, Mas Anton, artinya sejauh mana sebenarnya
06:53tawaran ini akan bisa berdampak pada posisi Indonesia
06:55yang sebagai negara non-block dan netral seharusnya?
06:59Nah itu yang tadi saya bilang, yang harus kita kedepankan
07:03tentu saja kepentingan nasional kita, kepentingan kita apa gitu.
07:06Kesatu adalah kita dapat kepentingan ekonomi kita.
07:09Itulah bagaimana kemudian kita bisa memaksimalkan Bandara Kertajati.
07:12Walaupun juga kita harus perhatikan secara jelas,
07:15Bandara Kertajati itu adalah instalasi sipil, bukan militer.
07:19Artinya butuh regulasi turunan.
07:20Itu satu.
07:21Kedua memastikan bahwa industri pertahanan kita, SDM kita itu mendapatkan banyak.
07:26Jadi memang mereka dilibatkan.
07:28Bukan kemudian MRO itu hanya di bawah kendali Lockheed Martin, pabrikannya saja.
07:33Jadi dengan katanya kita mendapat sesuatu, GMF, PTDI memang terlibat cukup dominan.
07:38Sehingga ketika kita bicara transfer of knowledge, transfer of technology,
07:42itu kita dapatkan semua.
07:43SDM kita dapat, duit kita dapat, gitu ya.
07:47Belum lagi misalnya kita harus juga perhatikan bahwa ini bukan pangkalan militer
07:52yang bukan kemudian tidak bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan militer Amerika Serikat.
07:56Nah itu kan juga kita harus cermat, gitu.
07:58Jangan sampai kemudian ketika nanti ada krisis,
08:00itu malah digunakan mereka untuk air viewing dan lain-lain, gitu.
08:03Seperti yang misalnya kejadian di kawasan teluk, misalnya.
08:07Itu yang kemudian memang kita harus cermat.
08:09Tapi di satu sisi memang ini punya potensi untung kita banyak, gitu.
08:13Jadi kita punya untung, ada potensi untung, kita bisa meleverage posisi kita.
08:18Ya kita bukan pemain MRO, kalau misalnya mereka memang sedus,
08:21kita bisa kemudian dipotensi setara dengan Singapura,
08:24walaupun kita juga harus tahu,
08:26mau membangun kapasitas selayaknya kayak Singapura,
08:28itu kan nggak bisa sehari semalam jadi.
08:30Jadi itu yang memang kita harus cermati tawaran ini secara lebih detail, gitu.
08:36Itu Mas Indi.
08:38Baik.
08:38Mas Anton Ali Abbas, penggemat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement.
08:42Terima kasih sudah berbagi pandangan bersama kami.
08:44Seselalu Mas Anton.
08:46Selalu.
Komentar