Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan telah berkoordinasi dengan Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin terkait dugaan praktik under invoicing yang dilakukan sejumlah perusahaan crude palm oil (CPO).

Praktik under invoicing merupakan manipulasi data dalam kegiatan ekspor-impor yang menyebabkan penerimaan negara menjadi lebih kecil dari seharusnya.

Purbaya menyebut, pihak Kejaksaan Agung Republik Indonesia bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah mulai mendalami temuan tersebut.

Ia mengaku masih menunggu laporan lanjutan dari hasil pemeriksaan yang telah berjalan selama beberapa bulan terakhir.

Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan sebenarnya memeriksa lebih dari 15 perusahaan terkait dugaan under invoicing.

Namun, pihaknya memilih melaporkan 10 perusahaan terbesar ke Kejaksaan Agung.

Selain sektor CPO, Purbaya juga mengungkap adanya temuan menarik yang melibatkan perusahaan di sektor batu bara.



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/670525/menarik-menkeu-purbaya-seret-10-raksasa-cpo-ke-kejagung-ada-temuan-perusahaan-batu-bara
Transkrip
00:00Saya pilih 10 terbesar yang diumumkan, tapi kan saya punya berapa, 15 lebih yang kita cek.
00:06Cektornya, Pak?
00:07Ini yang CPO aja. Yang Batubara juga ada penemuan-penarik.
00:46Terima kasih telah menonton.
01:00Jadi, itu merupakan titik awal mereka masuk.
01:05Saya akan minta laporan ke mereka minggu depan, seperti apa perkembangannya.
01:09Tapi yang jelas, kira sekali, memang ada manipulasi harga.
01:15Itu under-invoicing, kalau saya bilang sekejauh lalu depan.
01:19Walaupun namanya keren, under-invoicing, tapi basically nipu.
01:24Mereka manipulasi, bisa juga transpor pricing, dan lain-lain.
01:27Saya coba manipulasi, ya.
01:28Dia keren di Singapura, pakai perusahaan trading, anak perusahaannya dia sendiri.
01:33Dari sini ke sana, ke tujuannya dengan harga yang dua kali lipat atau lebih.
01:39Ada yang 200 persen, berarti yang dua kali lipat.
01:41Jadi gitu.
01:42Jadi, itu sudah kita kelihatan.
01:43Kita tes kapal per kapal.
01:46Ambilan kan tiga pengapalan utama, bukan tiga pengapalan, itu masing-masing 10 persen itu.
01:52Jadi semuanya melakang praktek itu.
01:56Sebelumnya nggak praktek, nggak bisa terdeteksi.
01:58Karena di sini kan, biaya juga, datanya di sini aja.
02:01Rantai ke Singapura kan ekspornya.
02:03Nah, Singapura ke sananya, putus mata rantainya.
02:05Akhirnya ini kita terapkan AI, kemudian kita beli data juga yang lebih lengkap.
02:12Sehingga di sini ketahuan siapa, kondisi importnya seperti apa.
02:17Jadi bukan data dari besar-besar, yang data besar dari NKOM database-nya itu.
02:24Tapi sudah betul kapal per kapal, jadi confirm.
02:28Dari data yang kita periksa, memang mereka melakukan itu.
02:31Dan kalau di betul ini bagus buat Indonesia kan.
02:34Berarti Kejabung sama BPKP menyelidiki, sudah buka penyelidikan soal manipulasi ini?
02:40Saya pikir sudah. Jadi saya nanti akan tanya ke mereka, sudah sampai mana.
02:44Pak, dari 10 perusahaan itu apa aja sih, Pak?
02:46Jangan, Pak.
02:47Tapi 10 perusahaan itu baru, bukan yang sudah di...
02:54Maksudnya baru?
02:54Karena, Sebelumnya Kejabung sudah satu-satunya dengan CPO dan sebagainya.
02:59Belum banget, tapi CPO sudah ada yang di tepat paka.
03:01Mungkin beda, yang diperhatikan lebih kuat lagi harusnya.
03:05Tapi saya akan tanya ke mereka, sampai mana ini?
03:07Jadi sudah kombinasi jelasan?
03:09Sudah, sudah.
03:1010 perusahaan dari mana aja, Pak?
03:13Saya pilih 10 terbesar yang diumumkan.
03:16Tapi kan saya punya berapa, 15 lebih yang dikecek.
03:20Sektornya, Pak?
03:21Ini yang CPO saja.
03:22Yang Batubara juga ada penemuan menarik.
03:24Nanti juga kita akan diskusi sama BPKP.
03:28Batubara ada berapa perusahaan, Pak?
03:30Nantilah.
03:31Kenapa Batubara, Pak?
03:33Ada berapa?
03:33Karena kan kalau lihat, Pak, Bidupara Presiden.
03:35Yang di duka besar, under-infoising, kan?
03:38CPO yang Batubara.
03:40Gara-gara itu, saya dilagetin teru.
03:42Jadi saya periksa,
03:43Dimana sih sepertinya bocornya?
03:45Kalau bisa bocor, bocor seperti apa?
03:47Mainnya seperti apa?
03:48Memang di satu-satu sudah lama, kan?
03:50Under-infoising ini masih pasti sudah beradanya, kan?
03:53Semuanya under-infoising.
03:54Tapi nggak clear siapa,
03:56gimana melakukannya,
03:57ini seperti apa.
03:58Jadi anak perusahaan yang di Singapura itu,
04:00kita bisa cari siapa pemerik akhirnya.
04:02Sama juga perutama-perutama seperti dari sini.
04:05Jadi itu yang kita rakipkan ke depan.
04:07Nanti kalau beres, ya...
04:09Kita nggak akan bunuh perusahaannya.
04:11Kita minta mereka melakukan
04:13posisi yang seharusnya.
04:14Tapi nanti dengan adanya
04:16penjual tunggal tadi,
04:17harusnya aman.
04:18Tapi yang kebelakang,
04:19kalau mereka melakukan penyelewen,
04:20saya akan lihat berapa yang saya bisa ambil dari mereka.
04:28Kecepatan informasi dan akurasi data
04:30adalah komitmen kami.
04:32Satu langkah lebih dekat,
04:34satu langkah lebih terpercaya.
04:37Saksikan Sapa Indonesia Malam
04:39di Kompas TV Channel 11
04:41di televisi Anda.
04:43Terima kasih.
04:43Terima kasih.
04:43Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan