Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kurang dari sepekan usai kunjungan Donald Trump ke Tiongkok, kini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang menemui Presiden Xi Jinping di Beijing.

Di tengah pertemuan keduanya, Donald Trump mengklaim Xi Jinping berjanji tak mengirim senjata ke Iran.

Lalu bagaimana membaca arah pertemuan ketiga negara adidaya ini?

Kita bahas bersama Pengamat Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung, Kishino Bawono dan Peneliti Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka.

Baca Juga Beda Cara Jabat Tangan Xi Jinping Sambut Vladimir Putin Dibanding ke Donald Trump | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/670063/beda-cara-jabat-tangan-xi-jinping-sambut-vladimir-putin-dibanding-ke-donald-trump-sapa-malam

#trump #xijinping #iran #putin

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670071/full-analisis-pengamat-soal-trump-klaim-xi-jinping-janji-tak-kirim-senjata-ke-iran-sapa-malam
Transkrip
00:00Meski AS bisa kembali menyerang Iran, wakil Presiden J.D. Vance bilang, perang dengan Iran bukanlah perang yang tak berujung.
00:07Menurutnya, Presiden Trump berjanji menyelesaikan perang dan membawa pulang kemenangan.
00:12Tetapi Vance menegaskan, Presiden Trump lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran.
00:45Kurang dari sepekan, usai kunjungan Donald Trump ke Tiongkok, ini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang menemui Presiden Xi Jinping
00:53di Beijing.
00:53Di tengah pertemuan keduanya, Donald Trump mengeklaim Xi Jinping berjanji tidak mengirim senjata ke Iran.
00:59Lalu bagaimana membaca arah pertemuan ketiga negara adidaya ini?
01:02Kita bahas bersama penggapan hubungan internasional Universitas Parahyangan, Bandung, Kishino Bawono, dan peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka.
01:12Selamat malam, Mas Kishino, juga Mbak Cempaka.
01:17Selamat malam.
01:19Wah, semakin banyak yang harus kita bahas ya setelah pertemuan kita beberapa waktu lalu, bicara soal perkembangan konflik Iran dan
01:26Amerika Serikat.
01:27Sekarang kita maju ke Donald Trump bilang Presiden Xi Jinping ini sepakat bahwa Presidensi tidak akan mengirim senjata kepada Iran.
01:39Itu tadi yang baru kita saksikan beberapa saat lalu dari Presiden Donald Trump.
01:44Mbak Cempaka bagaimana kita membahas ini?
01:46Tapi di sisi lain, Wakil Presiden bilang ya bisa saja perang ini kembali terjadi.
01:50Sebenarnya Amerika Serikat ini intensinya kemana kalau dari pernyataan ini Anda melihatnya?
01:55Saya melihat memang sampai saat ini Amerika Serikat masih membutuhkan yang disebut dengan jalan keluar untuk saving face strategy atau
02:04strategi penyelamatan muka, Mbak Fiskana.
02:07Dalam konteks ini tentu saja penyelamatan muka ini kita harus lihat sekuensi yang terjadi gitu ya atau pola yang terjadi.
02:14Ini pertama tanggal 12 Mei ini pertama Iran sudah mengunjungi ke Beijing terlebih dahulu.
02:21Nah ini tentu juga menjadi pola terlebih dahulu, strategi terlebih dahulu taktik yang dimiliki oleh Iran untuk memiliki legitimasi secara
02:28diplomatik dengan hubungannya dengan Tiongkok.
02:31Nah ini juga melihat bagaimana saat ini kedua belah pihak ini masih siap dalam konteks ini Iran dan juga Amerika
02:38Serikat ini masih siap dengan opsi dua-duanya yaitu Amerika Serikat bahkan siap untuk memperbarui dengan operasi sledgehammer.
02:47Karena kita tahu bahwa operasi Epic Fury sudah tidak mungkin direaktifasi lagi.
02:52Terlebih hari ini sudah ada statement yang dikeluarkan oleh Kongres yang melarang atau meminta justifikasi jika memang Epic Fury ini
03:03kembali.
03:04Jadi saya lihat memang ini dalam konteks ini sangat butuh jalur atau strategi penyelamatan muka dari kedua belah pihak.
03:11Meskipun keduanya menyatakan memang siap secara diplomatik maupun secara militer untuk kembali berperang.
03:18Dalam kondisi seperti ini Mas Kishino yang juga menarik dicermati Presiden Tiongkok bertemu dengan Vladimir Putin setelah bertemu dengan Presiden
03:27Donald Trump.
03:28Apakah ini sebagai penegasan juga bahwa ya Tiongkok akan lebih dekat kepada Rusia dan Iran dibandingkan dengan Amerika Serikat?
03:35Bisa kan dibaca demikian?
03:39Apakah bisa dibaca Tiongkok lebih dekat dengan Rusia dan Iran?
03:43Saya pikir iya. Jawaban saya akan iya.
03:46Karena tanpa pertemuan dengan Presiden Putin dan kemudian delegasi dari Iran kemarin pun,
03:54Tiongkok itu sudah ada di dalam kelompok yang alternatif dalam tatanan politik global.
04:01Maksud saya gini, Amerika Serikat dan rekanannya itu adalah aliansi atau satu persekongkolan, satu kelompok utama.
04:11Mereka yang menjalankan global order, tata tertib dunia dan hukum internasional.
04:17Tapi di sisi lain ada kelompok lain yang berusaha menjadi alternatif, menjadi pesaing, mau tidak mau.
04:24Karena apa? Mereka yang posisinya kemudian sebagai kompetitor Amerika Serikat.
04:30Dan di sini posisinya kemudian siapa yang mengisi sebagai kompetitor ya adalah orang-orang negara-negara seperti Tiongkok.
04:37Kemudian dia tidak bisa sendirian, maka kemudian dia juga harus menarik rekanan-rekanan bagi dia.
04:43Siapa mereka menemukannya yaitu di Rusia, di Iran, kemudian ketambahan dengan misal kalau mau kita tambahkan Korea Utara, Kuba dan
04:53Venezuela
04:53serta beberapa negara yang tidak sepenuhnya satu kelompok dengan Amerika Serikat.
04:59Jadi jawaban saya iya, mereka menunjukkan posisi yang lebih dekat atau lebih favoring kepada Rusia dan Iran.
05:07Dengan posisi ini, dengan Trump yang mencoba mengambil sisi presidensi Jinping,
05:16apakah ini memang upaya Trump untuk dalam kata lain saya war kepada Iran bahwa
05:23saya sudah mendekati loh alai terdekatmu begitu yaitu Tiongkok.
05:27Apakah Anda juga membaca demikian?
05:28Tapi kan posisi saat ini Tiongkok tidak mungkin, tanda kutip didikte oleh Amerika Serikat, Mas Kishino.
05:36Oke, yang saya baca gitu ya bahwa posisi Tiongkok itu kalau kemudian kita balikkan ke dalam kelompok negara-negara alternatif
05:45ini
05:45itu kan jadi salah satu yang cukup influensial, cukup berpengaruh.
05:49Nah, Iran kemudian posisinya ada di mana?
05:53Saya tempatkan dia ada di bawah daripada Tiongkok dan kemudian Rusia.
05:59Asumsinya, saya menangkapnya, ketika Trump kemudian mendekati Tiongkok,
06:03harapannya Tiongkok kemudian bisa menjadi jembatan, bisa menjadi penghubung antara kebutuhan dari Amerika Serikat dan kebutuhan dari Iran.
06:13Jadi, kalau kemudian misal sebelumnya melalui Pakistan, Pakistan kurang punya leverage sebagai,
06:19atau kurang daya tawarnya untuk menjadi penengah antara Amerika Serikat dan Iran.
06:24Tiongkok punya posisi yang lebih besar, punya posisi yang modalitas yang lebih besar.
06:28Sehingga dia bisa kayak gitu, main sebagai penengah.
06:32Dan untuk posisinya, lalu kemudian apa yang Tiongkok lakukan gitu ya,
06:38walaupun sebagai penengah gini, saya rasa mereka main di dua kaki gitu ya.
06:42Mereka sadar bahwa mereka butuh perang ini untuk selesai,
06:48karena ekonomi mereka juga ada gangguannya, ada dampaknya dari penutupan di forum sini.
06:53Tapi di sisi lain, mereka juga pragmatis bahwa kalau Iran bisa bertahan lebih lama,
06:59Amerika Serikat makin terekspos kelemahannya, makin terekspos kekurangannya,
07:03dan ini menjadi keuntungan bagi Tiongkok.
07:08Saya melihatnya seperti itu.
07:09Dan dalam posisi ini, semestinya Mbak Cempaka,
07:13US couldn't and shouldn't be show up as super power country gitu.
07:18Jadi saat ini kan terlihatnya seakan-akan Amerika Serikat ini sebagai super power,
07:22semua negara itu harus-harus nurut sama Amerika Serikat.
07:26Kepada Tiongkok misalnya, atau pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat,
07:30J.D. Vance yang baru saja kita dengar tadi,
07:33bahwa ya kita yang punya kendalinya kok, ini mau perangnya lanjut atau enggak,
07:37dan kami memilih diplomatik.
07:38Nah, apa-apa yang semestinya lebih dibaca lagi oleh Amerika Serikat,
07:43bahwa posisi mereka itu tidak se-super power itu saat ini?
07:46Sesaat lagi tapi menjawabannya di Sapa Indonesia Malam.
07:54Kembali di Sapa Indonesia Malam, kami masih bersama dengan penggambat hubungan
07:58internasional Universitas Parahiangan Bandung, Kishino Bawono,
08:01dan peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence,
08:05Fauzia Cempaka, menyambung pertanyaan yang tadi.
08:07Dengan sikap Amerika Serikat, pernyataannya Presiden Donald Trump,
08:11lalu juga Wakil Presiden J.D. Vance,
08:14tapi kalau berkaca pada kondisi seperti ini,
08:17Amerika Serikat couldn't and shouldn't be as super power country lagi bersikapnya,
08:21iya enggak sih Mbak Cempaka?
08:24Betul Mbak Friska, kita lihat memang saat ini apa yang dilakukan oleh Trump maupun G-Defense,
08:31dan dalam konteks ini kita lihat refleksi terhadap perang yang terjadi dari tanggal 28 Februari,
08:36dan bagaimana pengakhiran terhadap perang ini saat ini tidak dapat hanya dilakukan oleh
08:41kedua belah pihak antara Amerika Serikat dan Iran saja,
08:45ataupun bahkan dengan keputusan Israel,
08:48tapi juga bagaimana struktur dari arsitektur dari negosiasi atau perdamaian permanen yang diinginkan oleh Iran ini
08:56hanya bisa dicapai dengan tentu saja masukan atau bahkan peran dari Tiongkok dan Putin melalui Rusia.
09:05Dalam konteks ini tentu saja ini terkait dengan dua hal yang hingga saat ini pun masih buntu Mbak,
09:10terkait dengan Hormuz dan nuklir,
09:12dan dua hal ini pula yang dibicarakan oleh kedua belah pihak dalam pertemuan Putin dan Xi Jinping setidaknya di Beijing
09:20hari ini.
09:22Karena poin terkait misalnya bagaimana Rusia menawarkan diri menjadi pihak yang menerima hasil dari pengayaan nuklir milik Iran
09:31yang sekitar 440 kilo itu saat ini pun ada beberapa laporan yang sudah mulai dikeluarkan bahwa
09:38si Jinping misalnya mendukung ide tersebut begitu,
09:42yang dimana saat ini kita tahu bahwa dukungan atau poin-poin terkait dengan negosiasi terkait nuklir ini masih dibuntu.
09:51Nah terkait dengan Hormuz misalnya Mbak,
09:53kita bicara juga sebenarnya Cina saat ini tidak hanya terkait minyak yang memang banyak berasal dari Hormuz,
10:00tapi juga terkait dengan gas.
10:02Nah salah satu yang dilakukan percepatan dalam dukungan atau kedatangan Putin ke Beijing ini adalah terkait dengan
10:09pembuatan timpa gas Siberia yang memang sudah direncanakan sejak lama.
10:15Namun dengan adanya disrupsi di Selat Hormuz ini,
10:19ini membuat Cina mempercepat keputusan untuk membangun kembali timpa gas Siberia dengan Rusia ini Mbak.
10:27Nah dalam konteks ini kita lihat bahwa sebenarnya tentu saja Amerika Serikat tidak dapat bersikap secara unilateral,
10:33karena keputusan-keputusan yang nantinya terkait dengan permanensi perdamaian,
10:39ini sangat terkait dengan Tiongkok dan Rusia yang juga merupakan negara anggota dewan tetap keamanan PBB, Mbak Priska.
10:47Dan bicara soal Hormuz, saya ambil satu poin dulu soal Hormuz Mas Kishino.
10:52Oh, dengan klaim Trump yang bilang bahwa si Jinping sepakat dengan ya soal Hormuz bukan milik Iran,
10:59bisakah serta-merta kita menganggap pernyataan ini sebagai pernyataan sikap Tiongkok?
11:06Oke, apakah bisa dianggap sebagai pernyataan resmi dari Tiongkok?
11:10Saya rasa sampai kemudian nanti pemerintah Tiongkok melepas informasi ini ke publiknya dan juga publik internasional,
11:20saya rasa ini harus dianggap atau sebaiknya dianggap sebagai klaim unilateral dari Presiden Donald Trump.
11:27Kenapa? Jawaban saya dua gitu ya.
11:29Pertama, gaya komunikasi dan individual beliau, Presiden Trump ini, saya agak skeptis gitu ya.
11:38Saya melihat beliau ini orang yang agak narsistik dan selalu butuh untuk disanjung,
11:44untuk dianggap besar, dianggap tinggi, disegani gitu ya.
11:47Dan efeknya apa? Kemudian gaya komunikasinya dia kadang membuat klaim-klaim yang luar biasa,
11:55tanpa kejelasan bahwa apakah itu benar-benar terjadi atau enggak.
11:59Dan masalahnya kemudian ketika itu masuk ke dalam sistem pemerintahan di Amerika Serikat,
12:05rezimnya kemudian juga mengakomodir gaya bicara seperti itu.
12:09Efeknya tidak hanya Presiden Trump yang bicara seperti itu,
12:11tapi kadang juga diikuti oleh J.D.Fans, Bid Haxef, atau official lainnya.
12:16Jadi untuk klaim sebesar ini, saya rasa kita harus wait and see gitu ya.
12:22Kita harus tidak bisa menelan ini secara mentah-mentah.
12:25Jadi kita tunggu ntar memang apakah benar-benar terjadi seperti itu atau tidak.
12:31Di sisi lain, kalau memang benar terjadi gitu ya,
12:35pemerintah Tiongkok juga setuju bahwa Hormuz itu bukan milik Iran gitu,
12:42maka tanggapan saya akan seperti ini.
12:44Saya merasa bahwa idealnya dalam kondisi normal,
12:49negara-negara tidak ingin ada wilayah-wilayah perairan sekrusial seperti Hormuz gitu,
12:55kemudian dikontrol oleh satu negara,
12:57dijadikan sebagai senjata diplomatis untuk ketika mereka punya masalah tertentu gitu ya.
13:04Saya rasa pemerintah Tiongkok juga sadar bahwa perang ini itu ya pedang bermata ganda.
13:11Di satu sisi ada benefitnya, tapi di sisi lain juga ada dampak negatifnya kepada ekonomi dan keberlangsungan pemerintah Cina atau
13:19pemerintah Tiongkok gitu ya.
13:21Jadi mungkin mereka juga melihat bahwa dampak dari gangguan supply chain global ini yang sudah sampai ke Tiongkok,
13:30itu tidak ideal in the long term, cuma di satu sisi juga mereka sedang kuat-kuatan dengan terutama Amerika Serikat.
13:39Karena mereka juga ingin melihat bahwa Amerika seberapa tahan sih dengan tekanan seperti ini.
13:44Karena terutama kalau kita bicara di level domestik gitu ya,
13:47saya selalu bilang bahwa Amerika Serikat itu punya deadline.
13:49Satu, pemilu besok November, lalu kemudian barusan Senat itu kan menyetujui ada World Powers Act
13:57di mana kekuatan presiden atau eksekutif di Amerika Serikat untuk menentukan kapan perang dan semacamnya
14:04ini sekarang coba untuk ditekan, coba untuk dikendalikan.
14:07Nah, itu deadline itu yang ada di hadapan presiden Trump,
14:11sementara di sisi lain pemerintah Cina tidak punya deadline seperti itu.
14:15Dan dalam posisi ini, bahkan Mbak Cempaka bisa kita lihat Tiongkok ini memainkan peran sebagai pusat diplomasi.
14:23Di awal bertemu dengan Menlu Iran, Tiongkok, lalu berikutnya bertemu dengan Trump,
14:29lalu bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
14:34Betul Mbak, memang kita tahu bahwa saat ini Pakistan sebagai interlocutor atau mediator
14:40tidak dapat menjadi satu-satunya aktor yang dalam hal ini menjadi jembatan antara Iran dan Amerika Serikat sendiri.
14:48Namun kalau dalam konteks lain, kita melihat banyak sekali statement yang dikeluarkan oleh Nungkuti
14:54maupun Trump pasca bertemu dengan Xi Jinping.
14:58Meskipun dalam statement final yang disampaikan oleh Xi Jinping sendiri,
15:02tidak ada partikuler atau bagian khusus yang membahas tentang Iran.
15:07Nah, ini yang kita harus cermati juga, bahwa statement-statement tersebut ini sifatnya mungkin back channel.
15:13Nah, yang saya lihat justru, Mbak, dampak dari statement-statement yang disampaikan oleh Trump tadi
15:19terkait dengan misalnya Selat Hormuz dan lain sebagainya,
15:22ini justru mempercepat rencana Iran terkait dengan Persian Gulf Trade Authority
15:29atau otoritas selat di Hormuz ini yang bahkan di tanggal 16 Mei lalu ini sudah keluar akun X-nya
15:37dan juga bahkan sudah ada skema khusus tentang designasi jalur pelayaran dan lain sebagainya
15:44yang sebelumnya ini sifatnya hanya diskusi atau narasi-narasi di sosial media
15:50maupun dari statement-statement pemerintahnya saja.
15:53Tapi tidak ada bentuk penyampaian khusus.
15:55Nah, dengan adanya statement Trump tadi justru saat ini misalnya tanggal 18 Mei lalu
16:02misalnya bagaimana Iran ini sekarang sudah mengeluarkan designasi atau mekanisme
16:07yang sifatnya lebih formal terkait dengan otoritas Selat Hormuz ini
16:12yang tentu saja menjadi poin yang cukup berbahaya
16:15karena di saat ini masih menjadi poin negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat sendiri, Mbak Friska.
16:22Dan arah negosiasinya kalau Mas Kishino melihat progres sampai sekarang
16:27apakah masih stuck atau ada angin segar dengan Tiongkok yang memainkan peran sebagai pusat ini?
16:36Oke, terkait progres dari proses negosiasi gitu ya
16:42saya rasa untuk juga garis merah dari baik Amerika Serikat maupun Iran
16:50untuk masalah nuklir dan untuk masalah Hormuz
16:52nampaknya ini akan lebih susah terutama untuk Hormuz.
16:56Jadi ibaratnya kayak kalau sebelumnya Iran itu belum punya mekanisme detail
17:01bagaimana running, bagaimana akan mengoperasionalkan, mengendalikan Hormuz
17:06Iran sekarang sudah punya gitu ya
17:08ibaratnya kayak mereka bisa menunjukkan bahwa kita udah lebih siap loh untuk mengontrol
17:13jadi akan lebih susah untuk kemudian menarik posisi Iran kembali dari tadi
17:19dari rencana yang sudah detail ini.
17:22Kalaupun ada angin segar, laporan dari Al Jazeera beberapa jam lain lalu
17:26saya baca, wartawan dari Al Jazeera mengklaim bahwa angin segar terjadi di masalah ganti rugi perang
17:35dan pembekuan aset.
17:38Iran itu kan menuntut bahwa dalam proses negosiasi ini akan ada ganti rugi perang
17:43dan akan ada aset-aset dari Iran yang dibekukan karena sanksi kemudian dicairkan kembali.
17:50Nah, menurut dari Al Jazeera ini diklaim bahwa 20% dari aset Iran yang dibekukan itu akan dicairkan.
17:59Nah, cuma ya again itu masih klaim dari Al Jazeera
18:03saya belum mendapatkan apakah dari pemerintah AS-nya akan gimana dan semacamnya.
18:08Tapi nampaknya itu sudah ada progres karena sebelumnya pemerintah AS kayak posisinya adalah
18:13tidak ada ganti rugi perang, tidak ada pencairan aset.
18:16Ya, kita harapkan tensinya segera turun walaupun juga progresnya sedikit sekali dari waktu ke waktu
18:25tapi upaya diplomasi lah yang kita sama-sama harapkan dibandingkan perang lebih menimbulkan kerusakan lebih banyak lagi
18:33dan juga menimbulkan efek domino yang lebih luas lagi untuk ekonomi global.
18:38Terima kasih Mas Kishino, Kishino Bawono, Penggapan Hubungan Internasional Universitas Parahiangan Bandung
18:43juga Mbak Cempaka, Fauzia Cempaka, Penelit Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence.
18:48Selamat malam Mbak Cempaka, juga Mas Kishino.
Komentar

Dianjurkan