Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan latar belakang pemerintah akhirnya mempertimbangkan pemberian insentif mobil listrik pada Juni 2026.

Purbaya menyebut pemerintah mempertimbangkan memberikan lagi insentif kendaraan listrik gara-gara perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pemberian insentif menjadi langkah mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah potensi berkepanjangannya perang tersebut.

"Setelah saya ke Amerika, saya pelajarin cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran. Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang, dan pasti akan ditolak oleh Iran. Jadi kelihatannya konfliknya itu perangnya masih panjang," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga Rupiah Tembus 17.500 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Bantu BI dengan Masuk ke Obligasi di https://www.kompas.tv/nasional/668444/rupiah-tembus-17-500-per-dolar-as-menkeu-purbaya-bantu-bi-dengan-masuk-ke-obligasi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/668528/alasan-menkeu-purbaya-setujui-insentif-kendaraan-listrik-bisa-tekan-impor-bbm
Transkrip
00:00Kalau mobil listrik kita kan pasti kelas menengah kan?
00:03Pak awalnya Bapak akhirnya ngizinin mobil listrik, dikasih insentif, kenapa sih Pak?
00:06Dulu kan Bapak nggak mau tuh.
00:08Karena kita lihat harga minyak dunia kan nggak akan turun nih.
00:13Setelah saya ke Amerika, saya pelajarin cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain term yang diberikan untuk Iran.
00:24Itu sepertinya desainnya untuk negara yang kalah perang.
00:29Dan pasti akan ditolak oleh Iran.
00:31Itungan saya nih ya.
00:33Jadi kelihatannya okologi itu perangnya masih panjang.
00:35Artinya konsumsi BBM kita juga masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi.
00:41Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan kan?
00:49Dan disambang itu juga ada listrik PLN yang tetap dibayar tapi belum nggak dipakai.
00:57yang istilahnya apa? Take or pay.
00:59Itu mungkin kefasilitas yang baru kepakai katanya sekitar 70 persen.
01:03Masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi nggak dipakai.
01:07Kalau saya nggak salah ingat ya, tapi Anda mesti diskusi dengan PLN.
01:10Tapi yang jelas ada listrik yang kepakai yang kita bayar.
01:14Saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil.
01:19Itu utamanya.
01:20Jadi yang saya pikir kan perangnya sebentar aja selesai.
01:23Udah nggak usah pusing-pusing.
01:25Ternyata setelah saya lihat, kayaknya masih lama kalau begini mah.
01:29Kira-kira begitu.
01:29Sampai kapan Pak kalau ditungguan PEMNQ?
01:36Paling jelek itu September, paling bagus September itu berakhir.
01:43Karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat.
01:47Tapi bisa aja jalan berlanjut terus.
01:49Jadi kita akan berlanjut terus.
01:50Tapi jalan jangka berapa bulan ke depan ini saya akan menghemat itu.
01:59Itu kan Anda mesti tanya Bank Sentral.
02:01Jangan tanya.
02:01Saya tugas Bank Sentral hanya satu kan.
02:06Menjaga stabilitas nilai tukar.
02:08Dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di Bank Sentral.
02:10Saya pikir mereka akan bisa mengundalkan dengan baik.
02:16Ini kan udah jauh banget dari asumsi makro di APBN 2026.
02:20Kita bisa akan mulai membantu besok mungkin akan masuk ke bond market.
02:26Bantunya gimana Pak?
02:28Itu yang lebih sebuah bond establishment fund kan.
02:30Tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini.
02:34Bapak berbanyak?
02:35Besok mulai jalan.
02:36Besok ini gimana sih Pak?
02:38Dari Kemenke itu penyelenggaraan 17 tahun sudah jauh dari asumsi ke awal ya Pak.
02:42Untuk subsidi gimana Pak dari M&K-nya?
02:45Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya udah di atas asumsi APBN rupiahnya.
02:53Jadi nggak saya om mungkin tapi di atas itu nggak jauh ke awal sekarang.
02:57Jadi APBN-nya masih relatif aman.
02:59Tapi kita akan kendalikan nilai, kita coba membantu nilai tukar.
03:05Kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa.
03:12Kita akan macam banyak penganggur, kita inter-mancipur market supaya yieldnya nggak naik terlalu tinggi.
03:17Kalau yieldnya naik terlalu tinggi artinya apa?
03:20Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar.
03:25Jadi kita kendalikan itu supaya asing yang nggak keluar atau masuk malah kalau yieldnya membaik.
03:30Sehingga rupiah akan menguat.
03:32Kita akan masuk besok, mulai besok.
03:36Semacam itu.
Komentar

Dianjurkan