Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 9 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bicara soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikritik.

Hal ini disampaikan saat Mentan Amran Berdialog dengan mahasiswa dari berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa di seluruh Indonesia.

Mentan Amran mengatakan program MBG tidak menguntungkan secara politik.

"Tahu nggak, kalau MBG secara politik tidak menguntungkan pemerintah, kenapa anak SD diberi makan, orang hamil, 2029 baru tiga tahun umurnya, tidak mungkin jadi pemilih pemilu," ujar Amran.

Program MBG ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia serta menjadi penggerak ekonomi dengan menyerap hasil produksi para petani.

"Jangan lihat dia berdiri sendiri. Dia penggerak ekonomi off takernya, perhatikan baik-baik, off takernya 160 juta petani Indonesia,"jelasnya.

Amran menegaskan bahwa Presiden Prabowo berpikir hingga 1.000 tahun ke depan.

"Tapi bapak nggak, ingin ini 1.000 tahun Indonesia, anaknya cerdas, tinggi-tinggi," ujar Amran.

Video Editor: Lintang Amiluhur

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/668036/saat-mentan-amran-bicara-mbg-dikritik-secara-politik-tidak-menguntungkan-tapi
Transkrip
00:00Ini mimpi presiden kita, ini mandiri seluruh pulau, mandiri pangan, mandiri air sudah selesai, tinggal bensin, etanol, ada penggantinya adalah
00:11sawit.
00:12Negara ini kaya banget, kemudian kita mau hilirisasi, ini hilirisasi ya, nantian dia bertanya, mimpi kita hilirisasi, apa maksudnya hilirisasi?
00:22Semua bahan baku ini diolah, semua bahan baku ini diolah, air kelapa saja, ini air kelapa, coconut water dengan coconut
00:33milk, nah ini nilainya 5 ribu triliun, satu setengah PBN, ini maksudnya presiden kita, hilirisasi.
00:41Efisiensi kemarin, saya termasuk menteri pertama, efisiensi 1,7 triliun, kemudian biaya, ini perjalanan dinas, seminar, bangun kedung, perjalanan yang
00:54kehilangkan, rapat di hotel gak boleh, di pertanian atau di rumah saya.
00:58Ini aku hilangkan, 1,7 triliun, masuk, beli pompa pada saat kekeringan, hasilnya berapa? 17 triliun.
01:06Kita hilirisasi semua, kita jadikan jangan CPO kita kirim, langsung minyak goreng, margarin, kemudian skincare, macam-macam, ada gambir, ini
01:16baru kelapa, kelapa bisa 5 ribu triliun, CPO bisa 10 ribu triliun, kemudian ada gambir, ada nah, terus ini manfaatnya,
01:26ini bisa jadi tinta pemilu, ini tinta pemilu, ini skincare, ini bisa sabun, ini bisa sampo, ini hasilnya.
01:33Terus MBG dikritik, tau gak? Kalau MBG secara politik tidak menguntungkan pemerintah, kenapa? Anak SD diberi makan, orang hamil, 2029,
01:42baru 3 tahun umurnya, tidak mungkin jadi pemilu, pemilu kan? Bener gak?
01:46Kalau secara politik, tapi bapak enggak, ingin ini seribu tahun di Indonesia, anaknya cerdas, tinggi-tinggi, stunting kita 21%
01:55dan tidak boleh menurut.
01:57Apa itu MBG? Jangan lihat dia berdiri sendiri, dia penggerak ekonomi, off-taker-nya, perhatikan baik-baik, off-taker-nya
02:05160 juta petani Indonesia, paham?
02:09Yang beli adalah MBG, dan MBG tidak dikorupsi di situ. Kalau ada salah, lapor, kita pecat, kita tangkap.
02:15Aku tanya, yang marah kalau saya lakukan semua ini, suasempada, sudah, energi kita, suasempada, ini, yang marah siapa? Yang tidak
02:27senang.
02:27Ini, apa? Eh, dia importer tidak senang, mafia tidak senang, kenapa? Tidak ada impor.
02:35Tahu kalau impor, beras saja, untung saja 2 ribu, tahu kalau 7 juta, 14 triliun untungnya satu kali impor, itu
02:43cuma satu bulan.
02:45Itulah yang menyerang habis kita, dia punya uang. Itulah menyerang pemerintah, dia punya uang.
02:52Clear kan? Lo jika apa yang saya sampaikan?
02:56Mafia tidak senang, importer tidak senang. Kenapa tidak senang? Wahjar, normal.
03:03Kita hilirisasi, baru 3 komoditas, itu bisa 20 ribu triliun hasilnya.
03:09Yang dulunya kirim kelapa, jadinya coconut meal, visio.
03:13Yang dulunya gambir, itu langsung jadi sampo, sabun, dan kemudian CPO, sawit, itu bisa jadi solar, itu bisa jadi besin,
03:25kemudian mentega, minyak goreng.
03:27Kalau kita lagi beras, kita menjadi penimbang, di bas, tapi yang lain, karena beras kita melimbang.
03:35Terus saya mengatakan mahatan selalu netos, ini juga, ini memang menghancurkan negara kita, aku hidup.
03:44Ini perhatikan ya, buka ekser, supaya kita create, buka ekser.
03:48Bukakan sekser, 115 juta pertanyaan kita, buka ekser, langsung gitu.
03:55Supaya dihitung mahasiswa yang jadinya, ini pertanyaannya tiba-tiba.
03:59Ini tiba-tiba, coba, buka ekser.
04:04Tulis 5,5 ton, padi, berapa enam?
04:105,5 ton, padi, harga agak banyak, 6.500.000, berarti kalau 6.500.000, 5 kali itu berapa?
04:2735 juta, oke?
04:30Nah, 35 juta, dibagi 4 bulan nantang, dan sudah ya, bagi 4, supaya jangan kita pakai rasa, bagi 4, berapa?
04:40Nah, bagi 4 bulan, dalam suatu keluarga, kan ada istrinya orang, ada anak yang 2, itu sensus.
04:46Berarti bagi 4 lagi, ya?
04:50Belum mau pros, jangan dulu, kita kompor, biarkan dulu saya kasih pengetahuan, supaya tidak tergantung pikiran.
04:56Pendapatannya per orang berapa?
04:582.200.000, biayanya berapa?
05:02Katakan untuk 50%
05:04Per orang, untuk bayar biaya, kan ada biaya.
05:08Anggapnya 50%, berarti 1.100.000.
05:14Mengerti maksud itu, berarti kan semua, 1.100.000 pendapatan satu orang petani.
05:21Setuju ya?
05:23Satu bulan berapa hari?
05:25Bagi 30.
05:3037.000, per hari, keuntungannya untuk makan.
05:35Gaji tukang batu berapa?
05:36Dilanggung berapa?
05:39100.000.
05:4175.000, mana banyak?
05:4375.000?
05:45Daripada 30.000.
05:46Tulis 75.000, tulis disitu petani.
05:49Petani, sini petani.
05:53Di sini, pekabatu.
05:58Di sini rokok.
06:02Satu, berapa kukus per hari?
06:06Satu kukus?
06:13Rokokan 40.000.
06:14Rokokan 40.000.
06:15Aku tanya apa sih?
06:18Murah apa mahal itu beras?
06:48Murah atau mahal itu beras?
06:49Ini rokok enggak?
06:50Ada yang menegeri di rokok mahal.
06:53Jadi, aku jangka kesimbangan.
06:56Ini HFD 14.000.
06:58Kalau 6.500, itu kali dua.
07:01Kali dua ini.
07:02Harga beras.
07:03Kalau beras.
07:03Ini kan berapa?
07:04Tulis kawal di sini.
07:05Nah, tulis beras di bawah.
07:06Sini saja.
07:07Semarang aja.
07:08Beras.
07:08Tulis.
07:09Ini kali dua.
07:10Kan terjadinya, kan?
07:11Kali dua ini berapa?
07:1230.000.
07:13Nah, kalau di beli 15.000, 14.000, dia berapa mahal.
07:16Mau enggak atau murah?
07:18Nah, satu kilo ini, itu sampai keluarga, itu sampai makan, dua hari, tiga hari.
07:22Tidak ada?
07:23Rokokan sepian 40.000.
07:25Enggak ada ketikannya.
07:26Inilah jadinya bahwa distribusi beras itu tidak mahal.
07:32Beras itu karena.
07:35Katanya dia, sum itu.
07:37Karena itu lah akhirnya koperasi.
07:40Ini benar.
07:41Ini petani, pedagang, kumpul distributor.
07:44Tapi di sini tidak kelihatan.
07:46Tidak kelihatan.
07:46Tidak kelihatan, mafia.
07:48Ini.
07:49Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.
07:52Tanggal satu, mafia delapan.
07:54Tidak kelihatan, mafia itu belakang.
07:55Tidak kebayang-bayang.
07:56Jadi.
07:57Nah, ini ambil tiga ratus triuntas triliun.
08:01Ini petani kooperasi, bad posennya.
08:04Untungnya kooperasi, dikuat petani.
08:06Jadi, dua ratus enam putut tiga triliun.
08:09Dibagi-kuat petani.
08:11Bahasa itu, seratus triuntas triliun.
08:14Bahasa itu, kita tidak dapat.
08:15Wah, tidak.
08:16Ini itu kooperasinya ada pob.
08:20Atau itu penggagasnya di dalam?
08:21Cuma sosialisasinya kita tidak dapat jadik-jadik presiden kita.
08:27Sayang 4 tahun sosial, 2021.
Komentar

Dianjurkan