JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengaktifkan dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilization Fund.
Menkeu Purbaya meyakini instrumen kebijakan tersebut dapat memperkuat nilai tukar rupiah.
Purbaya juga mengatakan Bond Stabilization Fund bukan instrumen kebijakan baru.
Untuk membahas hal itu, kita simak pembahasannya bersama Ekonom Senior Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto di Program Kompas Bisnis pada Jumat, (8/5/2026).
Baca Juga Purbaya Sindir Pihak yang Prediksi Ekonomi Indonesia Hancur: Kok Malah Tumbuh Kencang di https://www.kompas.tv/ekonomi/667623/purbaya-sindir-pihak-yang-prediksi-ekonomi-indonesia-hancur-kok-malah-tumbuh-kencang
#menkeu #purbaya #rupiah
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/667654/full-strategi-menkeu-purbaya-jaga-stabilitas-rupiah-ekonom-senior-ryan-soroti-ini
Menkeu Purbaya meyakini instrumen kebijakan tersebut dapat memperkuat nilai tukar rupiah.
Purbaya juga mengatakan Bond Stabilization Fund bukan instrumen kebijakan baru.
Untuk membahas hal itu, kita simak pembahasannya bersama Ekonom Senior Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto di Program Kompas Bisnis pada Jumat, (8/5/2026).
Baca Juga Purbaya Sindir Pihak yang Prediksi Ekonomi Indonesia Hancur: Kok Malah Tumbuh Kencang di https://www.kompas.tv/ekonomi/667623/purbaya-sindir-pihak-yang-prediksi-ekonomi-indonesia-hancur-kok-malah-tumbuh-kencang
#menkeu #purbaya #rupiah
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/667654/full-strategi-menkeu-purbaya-jaga-stabilitas-rupiah-ekonom-senior-ryan-soroti-ini
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:08Intro
00:21Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara bersama saya Yan Rahman.
00:25Saudara ada informasi dari Gubernur Bank Indonesia, Peri Warjio, yang menanggapi pelemahan rupiah yang menembus level terlemah sepanjang sejarah yang
00:33terus berulang.
00:34Peri bilang nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya alias under value.
00:44Peri menjelaskan alasan mengapa nilai tukar rupiah melemah, terlampau dalam.
00:49Menurut Peri, pelemahan mata uang terjadi di seluruh negara.
00:52Faktor global seperti kenaikan harga minyak dan ketegangan di kawasan timur tengah menjadi penyebab nilai tukar rupiah terus tertekan.
01:00Peri mengakui mata uang dolar menguat dengan presentase indeks dolar sebesar 4,41%.
01:06Kondisi ini memicu aliran dana keluar atau capital outflow dari seluruh negara berkembang atau emerging market.
01:12Padahal indikator fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat, mulai dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61%,
01:20inflasi 2,42%, hingga raca perdagangan yang surplus.
01:30Secara fundamental rupiah itu kan under value, ukuran fundamental rupiah itu apa sih?
01:39Pertumbuhan ekonomi, Pak Menteri tadi menyambahkan 5,61%, Pak Menteri ya, salah satu yang tertinggi di G20.
01:48Inflasinya rendah 2,42%, terus neraca perdagangan tadi saya bilang surplus, cadangan diwisah juga kita tinggi.
02:00Bu Ketua OJK kredit juga tumbuh tinggi, jadi secara indikator itu fundamental ekonomi kita itu kuat.
02:10Nah, pertanyaannya, lupa kok ada pelemahan rupiah, seluruh mata uang dunia itu melemah.
02:19Data dari Jisdor Bank Indonesia, saudara ini terpantau rupiah menguat tipis pada perdagangan kanis kemarin ke level 17.324 per
02:28dolar AS pada penutupan perdagangan.
02:30Angka ini adalah yang terkuat selama sepekan terakhir, di mana pergerakan rupiah masih berada di level 17.400an pada 30
02:39April dan 4 Mei.
02:42Pada 5 dan 6 Mei menguat ke level 17.300an, ini masing-masing di 17.368 dan 17.378 per
02:53dolar AS.
03:00Sementara itu, saudara, sudah 8 bulan bunga acuan Bank Indonesia atau BI Red berada di 4,75 persen.
03:07Tetapi yang menarik adalah bunga sekuritas rupiah alias Bank Indonesia alias SRBI.
03:14Jadi pasar uang domestik imbal hasil instrumen SRBI terus naik dan di lelang 6 Mei tembus 6,5 persen.
03:23Bank Indonesia bilang kenaikan ini untuk menarik minat investor asing agar masuk ke Indonesia.
03:29Tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
03:34Dari awal tahun 2026, total dana masuk ke SRBI lebih dari 54 triliun rupiah.
03:41Ketika Kompas TV bertanya langsung kepada Bank Indonesia tentang benarkah bunga SRBI yang tinggi membuat bunga diperbankan sulit turun,
03:50Bank Sentral menjawab selalu ada dampak kontraksi atas kebijakan yang bersifat kontraksi.
04:02Ini suku bunga SRBI ditingkatkan untuk menarik influens dari investor asing.
04:12Jadi memang fungsi dari SRBI itu ada tiga.
04:15Pertama sebagai instrumen monotel untuk kita mengendalikan likuiditas.
04:19Yang kedua terkait dengan upaya untuk menarik influens.
04:24Dan yang ketiga adalah sebagai bagian dari instrumen untuk memperdalam pasar keuangan.
04:31Sehingga instrumen itu yang kita gunakan untuk pada saat ini untuk menarik influens dari sisi SRBI.
04:40Jadi SRBI ini memang instrumen kontraksi sehingga ada dampak kontraksinya.
04:46Tetapi di sisi lain Bank Indonesia juga melakukan ekspansi monotel.
04:50Betulnya apa? Yang pertama nanti saya sampaikan kepada Kaya.
04:57Ya saudara hasil lelang sekuritas rupiah Bank Indonesia atau SRBI terakhir tanggal transaksinya adalah 6 Mei 2026.
05:06Ini masing-masing tenor 6 bulan dengan yield 6,1 persen.
05:11Tenor 9 bulan dengan bunga 6,2 persen.
05:14Dan tenor 12 bulan dengan yield 6,5 persen.
05:18Sementara total yang dimenangkan sebesar 2,46 triliun rupiah.
05:30Saudara Menteri Keuangan Purbaya Yudisa Dewa mengaktifkan dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilization Fund.
05:38Ini adalah instrumen kebijakan yang diakini dapat memperkuat nilai tukar rupiah.
05:46Purbaya bilang Bond Stabilization Fund bukan instrumen kebijakan baru.
05:51Kebijakan ini sudah ada dan dihidupkan kembali.
05:54Dana ini dipakai untuk membeli kembali surat berharga negara di pasar sekunder.
05:59Menurut Purbaya, instrumen ini berbeda dengan Bond Stabilization Framework milik Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
06:07Menteri Keuangan menjelaskan sumber dana BSF ini tak hanya akan berasal dari saldo anggaran lewih atau sal.
06:20Berdasarnya saya hanya ingin melihat saja supaya bondnya marketnya relatif stabil.
06:26Jangan gampang digoyang oleh investor asing itu saja.
06:29Nanti kerjanya juga pasti koordinasi dengan Bank Sentral.
06:32Tapi dananya ada, kalau fun betulan kan desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat antara lain keuangan dan seluruh
06:43SMV yang di bawah keuangan itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond.
06:52Itu utama jadi bukan salah saja.
06:55Dan kalau lihat volumenya yang keluar selama ini, kelihatannya nggak besar-besar amat.
07:03Harusiasi dana kita cukup.
07:06Berjenisinya cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil, supaya tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal kita.
07:18Saudara, apakah menghidupkan kembali skema bond stabilisasi fund akan efektif menjaga yield SBN dan memperkuat rupiah?
07:26Usai cedah Kompas Bisnis akan kembali dengan pembahasan lengkapnya.
07:29Tetap bersama kami.
07:38Terima kasih Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis.
07:41Saudara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhisa Dewa akan menghidupkan kembali skema bond stabilisasi fund atau BSF.
07:47Langkah ini untuk menjaga bunga SPN dan memperkuat rupiah.
07:52Seberapa efektif dan seperti apa skema ini akan berjalan?
07:55Kita langsung tanya kepada ekonom senior Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Rian Kirianto.
08:02Selamat pagi Pak Rian.
08:04Selamat pagi Mas Rian.
08:05Rian, ini pertanyaan sebetulnya cukup mendasar yang perlu dijelaskan begitu.
08:10Karena ada yang membingungkan, Kementerian Keuangan ingin berperan menstabilkan rupiah padahal tugas utamanya pertumbuhan ekonomi.
08:18Sedangkan Bank Indonesia yang bertugas menstabilkan rupiah dibebani pertumbuhan ekonomi.
08:24Kenapa seakan jadi kebalik-balik begini ya Pak?
08:26Kalau keduanya mau jaga rupiah, siapa yang bertugas mengejut pertumbuhan seharusnya?
08:31Oke, ini pertanyaan fundamental yang memang sangat konstruktif ya.
08:39Pertama, rencana Pak Menteri Keuangan kita untuk menyediakan dana stabilisasi obligasi atau BSMB itu memang sudah ada anggaranya atau dananya.
08:52Ya, mungkin beliau baru ngeh ternyata beliau bisa melakukan apa yang seperti yang dilakukan Bank Indonesia sebagai Bank Sintra selama
08:59ini.
08:59Yaitu Kemenkiu ya sebagai pemegang otoritas fiskal itu punya semacam tanda petik.
09:05Amunisi untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.
09:09Makanya di berbagai forum saya selalu mengatakan, Mas Ian, untuk menguatkan dan menstabilisasikan nilai tukar rupiah terhadap US dollar pada
09:17utamanya, itu tidak hanya menjadi semacam tupoksinya Bank Indonesia saja.
09:23Memang betul BI punya semacam single target yaitu menstabilisasi aspek moneter.
09:29Yaitu dari satu, stabilisasi nilai tukar rupiah kemudian kedua, pengendalian inflasi.
09:34Tetapi menurut saya itu tidak cukup. Makanya harus ada otoritas lain yang ikut berkontribusi.
09:40Makanya diksi yang disampaikan Pak Menteri, beliau mengatakan kalau tidak keliru, Bank Kemenkiuangan juga akan membantu berkontribusi dalam kerangka menstabilkan
09:51nilai tukar rupiah.
09:52Dan juga untuk tadi menekan yield dari surat beragam negara.
09:56Nah, apa artinya? Artinya, apa seperti yang dilakukan oleh Bank Indonesia yang sewaktu-waktu dalam kerangka stabilisasi nilai tukar rupiah,
10:04lalu BI bisa melakukan, namanya OM, operasi moneter ya, itu juga bisa dilakukan oleh Kemenan Keuangan.
10:11Karena Kemenan Keuangan juga punya, nggak tahu dari SAL atau dari Special Mission Vehicle, SMV ya, itu bisa dilakukan.
10:20Tentu yang penting, nah ini Mas Ian, saya jawab pertanyaan ini dengan, yang penting itu semua itu dalam kerangka framework
10:27-nya KSSK.
10:29Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
10:31Kan tujuan sama, bagaimana menstabilkan sistem keuangan kita.
10:35Nah, salah satu indikator utama kestabilan dari sistem keuangan kita adalah kalau nilai tukar rupiahnya stabil,
10:41kemudian harga obligasi pemerintah juga sesuai dengan market mekanisme, dan sebagainya, dan sebagainya.
10:48Nah, itulah. Maka, di dalam praktik nanti di lapangan, tentu harus ada semacam sinkronisasi atau harmonisasi,
10:56kapan BI masuk, kapan BI keluar, kapan Kemenan Keuangan masuk, kapan Kemenan Keluaran.
11:02Nah, di sinilah.
11:03Nah, karena tone daripada fiscal moneter, fiscal authority, yaitu Kemenan Keuangan itu adalah bagaimana membantu pertumbuhan ekonomi tetap berlanjut.
11:13Oh, oke.
11:14Dikana dinamika eksternal yang luar biasa.
11:16Di satu sisi, BI juga peran bagaimana menstabilkan nilai tukar rupiah, karena BI punya misi tadi, misi tunggal, yaitu stabilisasi.
11:23Nah, namun demikian, BI juga merasa punya peran loh, punya space untuk membantu juga mendorong pertumbuhan.
11:31Makanya, Mas Ian, mohon maaf, BI itu punya semacam, apa ya, nama, maaf, bauran kebijakan, ya.
11:39Bauran kebijakan apa?
11:40Satu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang kita kena dengan istilah pro-growth policy, itu BI menggunakan jalur atau kanal makro
11:49-perdential policy.
11:50Diperkuat dengan payment system policy, itu clear, ya.
11:54Tetapi, dominasinya adalah ke-prostability, yaitu menggunakan kanal atau jalur suku bunga.
11:59Dan kita udah tahu persis, tujuh bulan berturut-turut Bank Indonesia menahan level BI rate kita tetap di 4,75.
12:07Nah, itulah salah satu effort BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
12:10Karena dengan menahan BI rate 4,75, harapannya dorongan pemilik modal untuk meng-convert rupiah ke USD itu agak bisa
12:19tertahan.
12:20Paralel dengan itu, mungkin Pak Purbayas berlaku Menteri Koan juga punya, punya, apa ya, namanya, punya pengharapan bahwa,
12:28aku juga bisa membantu kalau menstabilkan nilai tukar rupiah.
12:31Dengan cara tadi beliau menyediakan namanya BSL, plus itu juga bisa juga membantu, apa namanya, tanda petik ya, biaya yang
12:39dikeluarkan oleh ABDN.
12:40Karena kupon daripada SBI-nya itu bisa ditekan lebih rendah.
12:45Ini berarti, berarti, Pak Ria, sederhananya, apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terhadap rupiah ini sah-sah
12:53aja.
12:53Karena memang, seperti Anda sebutkan, yang paling penting di bawah kerangka kerja dari KSSK.
12:59Berarti, bukan bertukar-tukar, tetapi memang intinya yang harus digeris bawahi membantu dan bukan tugas utama, begitu ya?
13:08Bukan. Jadi, bahasa besarnya adalah gini.
13:11Inilah mekanisme gotong-royong yang dikerjakan di satu sisi ada kemudian keuangan selaku koordinator dari KSSK.
13:19Di sisi sebelah kirinya, itu ada Bank Indonesia sebagai bank sentral.
13:23Ya, kebetulan, Gubernur Bank Indonesia juga sebagai anggota dari forum KSSK ini.
13:28Jadi, harus sejalan dinilahkannya, Mas Ian, ya.
13:32Oke. Kemudian, dengan terkait tadi skema BSF, apakah keputusan menghidupkan kembali skema ini, menurut Anda begitu ya,
13:43apakah akan efektif menjaga yield SBN dan sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah?
13:48Karena memang kan sebelumnya belum dilakukan.
13:51Nah, paling tidak.
13:52Kami melihatnya sebagai pemerintah itu, diwakil oleh Kemudian Kuantu,
13:57itu, apa ya, in the market.
13:58Nah, bahasa kerennya itu in the market.
14:00Ada di pasar.
14:01Sehingga, sewaktu-waktu kalau terjadi semacam shock atau gejolak,
14:05di tangan kanan Kemudian Kuang bisa ikut tanda petik campur tangan, ya, atau intervensi.
14:10Di tangan kirinya, sebelah kirinya,
14:12Bank Indonesia sebagai sentral bank juga bisa melakukan intervensi.
14:16Itu yang namanya market operation atau operasi pasar.
14:19Dan masih banyak instrumen lain yang dimiliki oleh Bank Indonesia, ya,
14:23seperti NDF, domestic NDF, dan sebagainya, dan sebagainya.
14:26Termasuk instrumen tadi yang kita sebut HRBI,
14:29itu miliknya domainnya Bank Indonesia sebagai bank sentral.
14:32Di sisi fiskalnya, Pak Menteri juga punya, loh, ternyata amunisi.
14:36Yang ini bisa diutilize, bisa di leverage dalam kerangka tadi.
14:39Jadi, satu, membantu menyehatkan rupiah kita.
14:42Yang kedua, juga bisa mengefisienkan, ya,
14:46apa, biaya yang dibayarkan kepada bondholder,
14:49kalau, apa namanya, kalau harga kupon-kupon itu terlalu mahal.
14:52Seperti itu intinya.
14:53Kalau kita berbicara soal BSF, tadi kan ini barang,
14:56kalau di tengah awam, ya, ini barang baru,
14:58karena memang pada awalnya dikemukakan,
15:02memang tidak berjalan, begitu.
15:04Kalau kita berbicara teknisnya,
15:05sebetulnya seperti apa sih alur skema buyback obligasi ini?
15:08Dan sebetulnya potensi uangnya itu dari mana saja
15:11untuk melakukan buyback?
15:14Kalau saya amati, ya, dari statement Pak Menteri Keuangan kita,
15:17beliau punya sejumlah anggaran,
15:19bisa dari SAL, bisa dari Special Mission Vehicle,
15:22atau SMV yang dimiliki oleh, apa namanya,
15:25Kementerian Keuangan,
15:26atau lembaga-lembaga yang related dengan pemerintah
15:29QQ Kementerian Keuangan.
15:30Itu bisa dioptimalkan untuk membantu
15:33menstabilkan, satu, nilai tukar rupiah,
15:35kedua, ini membantu untuk menurunkan Yield SBN,
15:39sehingga biaya yang dikeluarkan oleh APBN kita
15:42menjadi lebih efisien.
15:44Nah, yang kedua,
15:45yang kedua, sebetulnya,
15:47ini salah satu ikhtiar, ya, bahasa saya,
15:50salah satu ikhtiar yang dilakukan oleh
15:52Kementerian Keuangan untuk bersama-sama dengan Bank Indonesia
15:55menstabilkan nilai tukar rupiah,
15:57sekaligus menyiapkan pasar obligasi kita.
16:01Sehingga pasar obligasi kita itu lebih,
16:02tanda petik, ya, lebih sehat, kurang lebih seperti itu.
16:05Oke, tapi kalau kita bicara teknisnya lagi,
16:07Pak Rian, apakah uang diambil oleh Kementerian Keuangan,
16:10lalu dibayai ke obligasi,
16:13itu alurnya itu secara teknis itu seperti apa sih, Pak?
16:16Ya, kan, bisa saja,
16:19SBN atau apapun government bond yang dimiliki pemerintah,
16:22yang sudah beredar di market,
16:24dipegang oleh dana pensiun,
16:26oleh lembaga keuangan,
16:27macem-macem, bahkan mungkin oleh perbankan juga,
16:29itu ketika harganya sudah nggak normal, ya,
16:32dalam pandangan Kementerian Keuangan,
16:35itu Kementerian Keuangan bisa membeli kembali,
16:38makanya namanya buyback,
16:39ya, membeli kembali pada harga tertentu dalam kerangka apa?
16:42Menstabilkan, ya.
16:43Maka di titik itu, sebetulnya saya ingin katakan,
16:46kita nggak bicara lalu untung rugi, ya,
16:50karena Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia itu
16:52didesain sebagai stabilisator,
16:54tidak dalam konteks seperti korporasi,
16:56harus cuan lho, harus profit,
16:58nggak seperti itu, fungsi utamanya adalah sebagai stabilisator.
17:01Nah, itu, itu harus di,
17:03apa namanya, pemahaman seperti ini,
17:05harus di, harus di, harus di,
17:07bisa diterima, sehingga,
17:09tidak ada noise, tidak ada, apa ya,
17:11kerancuan, itu Mas Dian.
17:13Kalau kita berbicara soal koordinasi lagi,
17:15Pak Rian kan sebelumnya,
17:17Pak Purbaya bilang akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia.
17:19Sebetulnya koordinasi seperti apa yang perlu dilakukan,
17:22antara Kementerian Keuangan,
17:24dengan Bank Indonesia terkait menghidupkan kembali dana,
17:26stabilisasi obligasi ini.
17:27Bukankah, kalau kita merudut kembali,
17:29selama ini BI sudah beli SBN di pasar sekunder?
17:34Ya, itu betul.
17:35Tetapi kan mungkin,
17:36mohon maaf,
17:37ini karena, maaf,
17:39kedalaman pasar keuangan kita itu masih dangkal,
17:42ya, nggak begitu,
17:43artinya gini,
17:44instrumen keuangan yang beredar di financial market,
17:47itu sangat limited, auto terbatas.
17:48Maka, mainannya,
17:50itu ya, government bond, SRPI,
17:52dulu ada SBI, dan sebagainya.
17:54Jadi, variannya itu kurang banyak,
17:56atau derivasinya kurang banyak,
17:58Mas Ian.
17:59Sehingga,
18:00karena,
18:01begitu,
18:01begitu tipis atau dangkalnya pasar keuangan kita,
18:04orang tahunya,
18:05mohon maaf,
18:06kalau mau cari cuan,
18:07yaudah beli dolar saja.
18:09Nah, itu kan nggak baik.
18:10Makanya harus dibanyakin,
18:12satu variasi instrumennya,
18:14kemudian pemainnya,
18:15pemain-pemainnya,
18:16itu diperbanyak.
18:18Nah, dalam kerangka ini kan,
18:19sebenarnya,
18:19kemudian keuangan itu,
18:20ikut menjadi pemain itu.
18:22Karena dia bisa melakukan tadi,
18:24apa namanya,
18:25buyback.
18:26Kalau bahasa lainnya itu,
18:27repo ya,
18:28repo agreement gitu.
18:30Itu nggak apa-apa.
18:31Instrumennya makin banyak,
18:32kemudian pemainnya juga mungkin banyak,
18:34sehingga,
18:35apa,
18:35cuman dalam konteks ini,
18:37Bank Indonesia ada bersama,
18:38kemudian keuangan itu,
18:39status playernya,
18:40pemain itu hanya sebagai,
18:41tanda petik ya,
18:42kembali,
18:42stabilisator.
18:43Ya,
18:44tidak lalu motifnya itu,
18:46harus profit.
18:47Itu harus dipahami dulu.
18:48Karena nanti repot,
18:49kalau lalu frame-nya adalah,
18:51oh,
18:52kalau pas harga jatuh,
18:53kenapa beli?
18:54Kan rugi.
18:54Jangan seperti itu.
18:56Tupo seutama dari,
18:57otoritas fiskal dan otoritas moneta adalah,
19:00stabilisator.
19:01Oke.
19:01Itu yang dipahami,
19:02Mas Ia.
19:03Sekali lagi,
19:03yang harus digarisbawahi,
19:04bahwa langkah ini adalah,
19:06utamanya,
19:06terkait dengan stabilisasi,
19:08jadi jangan dulu,
19:09kita ngomongin soal cuan,
19:10begitu ya Pak Rian.
19:11Tapi,
19:12kalau kita ngomongin SBN,
19:13tidak terlepas juga,
19:14di satu sisi lainnya,
19:15di BI,
19:15ini punya instrumen lain,
19:16yang bernama SRBI,
19:18dan bisa menampung outflow,
19:19dari SBN.
19:20Bunganya juga jauh,
19:21di atas BI rate.
19:22Kalau bunga seperti ini,
19:24posisinya menampung,
19:25atau justru,
19:25pesaing dari SBN,
19:27Pak Rian?
19:29Disinilah sebetulnya,
19:30saya ingin menggunakan istilah,
19:31komplementary.
19:33Komplementary itu begini,
19:35kalau saya sebagai,
19:36lembaga keuangan,
19:37pemilik dana,
19:38saya ingin mengoptimalkan,
19:40atau meliveri dana saya,
19:41saya punya beberapa varian,
19:43varian.
19:43Saya bisa masuk ke SRBI,
19:45sebaliknya,
19:46saya bisa juga,
19:47ke government bond.
19:47Tergantung,
19:48apa namanya,
19:49diversifikasi portofoli,
19:51yang saya miliki.
19:52Nah ini kembali,
19:53kita masuk area ini,
19:54mas,
19:54mohon maaf,
19:55ini agak teknis,
19:56risk appetite saya.
19:58Kalau saya cenduk,
19:59saya mau main aman,
20:00yaudah saya main SBN misalnya.
20:01Mungkin dengan kupon,
20:03yang katakanlah,
20:036,25 persen misalnya.
20:05Dibanding SRBI misalnya,
20:07ya kurang lebih 6 persen.
20:08Jadi,
20:08kembali,
20:10final decision,
20:11ada di pemilik dana,
20:13atau di,
20:13apa namanya,
20:14para,
20:15para bondholder.
20:16Itu yang harus dipahami.
20:17Nah,
20:18kedua,
20:19tadi kita singgung ke SRK.
20:20Tentu,
20:21harus ada semacam,
20:22bahasa saya,
20:23timeline ya.
20:24Timeline itu,
20:25kapan BI itu,
20:26beraksi,
20:27kemudian kapan kemudian keuan,
20:28beraksi.
20:29Jangan sampai,
20:30aksi,
20:31atau tindakan,
20:31dari dua,
20:32lembaga ini,
20:34dipersepsikan oleh market,
20:35seperti apa ya,
20:37kok tidak koordinasi.
20:38Nah itu,
20:38nggak boleh.
20:39Makanya tadi,
20:40saya selalu,
20:40saya spill di depan,
20:42harus ada semacam,
20:43sinkronisasi,
20:44atau harmonisasi,
20:45langkah dan tindak.
20:47Sehingga,
20:47market mempersensifkan itu positif.
20:49Tujuannya kan itu,
20:50sebetulnya,
20:51Mas Ian.
20:52Kalau kita,
20:53balik lagi ke SBN,
20:54Pak Rian,
20:55bisa ditampilkan,
20:56data,
20:57terkait dengan SBN,
20:58ini kan,
20:59turun dari pemerintah ini,
21:00tenor,
21:0110 dan 5 tahun,
21:02masing-masing,
21:03turun,
21:0311 dan 7 basis point,
21:05saat rupiah melemah.
21:07Apakah,
21:07ini menunjukkan,
21:08seperti,
21:09klaim dari pemerintah,
21:10bahwa investor,
21:11masih percaya,
21:12dengan disiplin fiskal,
21:13yang tercemin,
21:14dari menurunnya yield?
21:16Ya,
21:17kalau hitnya turun,
21:18itu memang mencerminkan,
21:19bahwa,
21:19apa namanya,
21:22potensi risiko,
21:24dari government kita,
21:24itu memang reduce.
21:26Ya,
21:26artinya,
21:27tingkat confidence,
21:28dari pasar,
21:28itu meningkat.
21:30Makanya,
21:30harga,
21:31apa,
21:31tingkat kupon tadi,
21:33menurut sekian basis point.
21:34Ya,
21:35parallel on that,
21:36mungkin juga,
21:36sebagian karena,
21:38mendiversifikasi,
21:39portfolio investmentnya,
21:40ke instrumen yang lain.
21:41Ya,
21:41mereka bisa,
21:42maaf kata,
21:43bisa beli dolar,
21:44bisa beli SRBI,
21:45atau instrumen-instrumen yang lain,
21:47antara lain-lain.
21:48Jangan lupa,
21:49ada satu instrumen yang,
21:50sekarang menjadi,
21:51beriman donenya,
21:52yaitu emas.
21:53Oke.
21:54mas ya.
21:54Oke,
21:55Pak Rian,
21:56ini juga kan disebutkan,
21:57diperkuat,
21:58dengan tadi,
21:58ada penurunan,
21:59yield dari SBN,
22:01terkait dengan,
22:02investor,
22:03dan juga fiskal.
22:04Apakah,
22:05Anda sepakat,
22:06dengan pernyataan,
22:07pemerintah,
22:07terkait,
22:09bahwa,
22:09pelemahan rupiah,
22:10tidak ada hubungannya,
22:11dengan fiskal,
22:12secara domestik,
22:13kalau,
22:13bukan karena fiskal,
22:15jadi secara domestik,
22:16apa penyebabnya,
22:17pelemahan rupiah?
22:19Saya harus menjawab,
22:20mungkin mayoritas,
22:21tekanan rupiah itu,
22:22memang dari faktor eksternal.
22:24Secara teoretik,
22:26dan ini sudah,
22:26global practice,
22:28ketika terjadi,
22:28global shock,
22:29apakah itu,
22:30perang di timur tengah,
22:32apakah itu ada,
22:33tempoh hari,
22:33peristiwa,
22:349 November,
22:35di Amerika,
22:36itu dunia kan,
22:37mengalami guncangan.
22:38Maka,
22:39persepsi orang,
22:40itu,
22:41cara yang paling aman,
22:42untuk,
22:43apa namanya,
22:43mengamankan aset-aset mereka.
22:45Belilah aset,
22:46dengan,
22:46underlying,
22:47currency itu,
22:48US dollar.
22:49Itu sudah,
22:50sudah normal,
22:51itu sudah global perception,
22:52dimana itu terjadi,
22:53dimana-mana.
22:54Makanya,
22:55mohon mengizin,
22:55sepanjang perang,
22:57di timur tengah,
22:58atau perang tolu itu,
22:59belum selesai,
23:00ya mohon maaf,
23:01pressure terhadap rupiah kita,
23:02masih akan berkelanjutan.
23:04Ya,
23:04tetapi,
23:05disitulah justru,
23:06perlu ikhtiar,
23:07dari Bank Indonesia,
23:08di sekarang,
23:09didampingi oleh,
23:09kemudian keuangan,
23:10untuk bersama-sama,
23:11bagaimana,
23:12menahan,
23:13ya,
23:13agar kejatuhan nilai tukar rupiah,
23:15itu tidak semakin dalam.
23:16Syukur-syukur terjadi,
23:18ya,
23:18rebound atau pembalikan.
23:20Itu,
23:20Mas Ian.
23:20Oke,
23:21parian terakhir ini,
23:23selain,
23:24BSF yang sempat tadi,
23:25kita bahas,
23:27Menteri Keuangan juga berencana,
23:28menerbitkan surat utang global,
23:31berdenominasi,
23:31Renminbi,
23:32Tiongkok,
23:33alias Panda Bond,
23:34ini yang jadi perbincangan juga.
23:36Menurut Anda,
23:36seberapa efektif,
23:37ini akan,
23:39meminimalisasi,
23:39ketergantungan terhadap,
23:40dolar Amerika Serikat?
23:42Itu hanya salah satu ikhtiar,
23:44ya,
23:45jadi,
23:46dalam jangka beda,
23:47memang kita bisa,
23:48belum bisa melakukan semacam,
23:50assessment ya,
23:51apakah ini efektif atau tidak.
23:53Tapi bagi saya,
23:54ini ikhtiar yang diberikan oleh pemerintah,
23:56dalam kerangka,
23:57mendiversifikasi,
23:58atau memvariasi,
24:00begitu banyak instrumen.
24:01Ada,
24:02apa namanya,
24:03Komodo Bond,
24:04ada Samurai Bond,
24:05ada Yenggi Bond,
24:06ada Panda Bond,
24:07dan sebagainya.
24:08Jadi,
24:09choice itu ada di investor.
24:10Maka,
24:11global investor itu,
24:13lalu,
24:13persepsinya,
24:14tidak hanya menurut,
24:15saya mau beli,
24:17obligasi internasional,
24:18yang,
24:20underline currency-nya,
24:21harus US Dollar.
24:21Tidak begitu.
24:22Maka,
24:23di-spread,
24:23di-spread itu,
24:24di-spread ya,
24:25atau di-spreading,
24:26ada yang dalam bentuk,
24:27underline-nya itu,
24:28renminbi,
24:29atau huan,
24:30satu lagi mungkin ada di Yen,
24:32ada lagi mungkin pakai,
24:33apa namanya,
24:34US Dollar,
24:35mungkin ada pakai yang Euro,
24:36mungkin ada porcelain,
24:37macam,
24:38teragamanya.
24:39Kita bicara dalam perspektif global investor,
24:41Mas Yen.
24:42Jadi,
24:42itu pilihan yang saya kira,
24:44patut kita apresiasi,
24:45ada varian begitu banyak,
24:47pemerintah meng-issue ya,
24:49apa namanya,
24:50government bond,
24:51baik itu,
24:52untuk investor China,
24:54atau mungkin investor Eropa,
24:55investor Amerika,
24:56termasuk investor Asia sendiri.
24:58Oke,
24:59sebetulnya banyak langkah,
25:00begitu yang bisa dilakukan oleh pemerintah,
25:01terkait dengan,
25:02tidak,
25:02tergantungan dengan dolar,
25:04dan juga,
25:04terkait juga penguatan rupiah,
25:06termasuk,
25:07ini seperti Pak Rian bilang,
25:08soal ihtiar,
25:09dalam kerangka diversifikasi,
25:11yang patut juga diapresiasi.
25:13Terima kasih,
25:14Rian Kirianto,
25:15ekonom senior LPPI,
25:16atas waktunya bersama kami,
25:17di Kompas Bisnis,
25:18terima kasih,
25:19mas Jan,
25:19ya.
Komentar