00:00Saudara puluhan penyandang disabilitas di Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan mengikuti edukasi kesiapsiagaan bencana yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
00:09Kegiatan ini difokuskan pada kelompok perempuan disabilitas untuk meningkatkan pemahaman terhadap ancaman banjir serta kebakaran hutan dan lahan.
00:19Kelompok disabilitas merupakan pihak paling rentan saat situasi darurat.
00:23Karena itu, lewat program prioritas edukasi kesiapsiagaan bencana seperti yang diberikan BPBD Kota Banjar Baru, mereka diharapkan memiliki kemampuan evakuasi
00:32mandiri dan menjamin keamanan pribadi saat bencana terjadi.
00:37Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya diadakan.
00:40Tercatat sebanyak 45 peserta hadir didampingi para pendamping masing-masing.
00:44Para peserta terdiri dari berbagai ragam disabilitas, mulai dari disabilitas netra, tunadaksa, tunawicara, hingga disabilitas intelektual.
00:55Kawan-kawan disabilitas itu mengetahui bencana apa sih yang terjadi di Kota Banjar Baru, Banjir dan Keurla.
01:00Nah tadi sudah disampaikan bahwa memang beliau sangat kesulitan kalau terjadi bencana.
01:06Nah hari ini dengan adanya sosialisasi ini paling tidak kami berharap dia mengetahui bagaimana cara evakuasi,
01:11bagaimana kalau sehadirnya terjadi bencana, dia menyelamatkan diri sendiri, paling tidak untuk pribadinya.
01:17Sekretaris Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia atau WHDI Banjar Baru sekaligus peserta, Elisabeth,
01:24mengapresiasi langkah pemerintah kota karena perempuan disabilitas memiliki tingkat kerentanan ganda.
01:31Dia berharap program ini terus berlanjut mengingat masih banyak rekan mereka yang belum tersentuh edukasi mitigasi.
01:37Ya mudah-mudahan semoga nggak terjadi ya, tapi keseandainya pun terjadi bencana nanti kaum disabilitas apapun ragamnya itu bisa minimal
01:49menyelamatkan diri sendiri dulu.
01:51Dan orang-orang yang keluarga lah, keluarga di sekitarnya gitu.
01:55Dengan adanya pembekalan ini diharapkan, para penyandang disabilitas tidak lagi kebingungan dan sudah memiliki kesiapan
02:02untuk menyelamatkan diri sendiri maupun keluarga saat keadaan darurat.
02:06Nabila Sewa, Kompas TV, Banjar Baru, Kalimantan Selatan
02:12Lantas seperti apa mekanisme hingga sudah sejauh mana program ini menyasar kelompok disabilitas?
02:18Selengkapnya kita akan bahas bersama Kepala Pelaksana BPBD Banjar Baru, Bapak Zaini Syahrani.
02:24Selamat pagi, Bapak Zaini. Boleh dijelaskan bagaimana materi yang disampaikan,
02:29apa saja materi yang disampaikan kepada teman-teman penyandang disabilitas ini?
02:34Selamat pagi, Bapak Zaini.
02:38Jadi dengan kawan-kawan disabilitas ini, yang tentunya materi yang paling utama adalah materi tentang kebencanaan resekonya.
02:46Jadi kita harus mengenalkan dulu kepada mereka,
02:49apa bencana apa saja yang terjadi di kota Banjar Baru.
02:52Seperti karutlah, banjir, itu yang paling penting mereka ketahui.
02:59Ini kan disabilitas beragam Pak, bagaimana metode penyampaian edukasi agar bisa dipahami oleh berbagai jenis disabilitas?
03:09Betul, kontrol disabilitas ini tentunya ada beberapa penyandang, ada kundang netra, kundang umum ya.
03:15Jadi kita sudah koordinasi dengan pihak provinsi, artinya bahwa kita mau cari naras sumber-sumber yang bersertifikasi tentang bagaimana menyampaikan
03:27kepada mereka.
03:28Dengan tentunya dengan bahasa-bahasa israt mereka.
03:31Agar sosialisasi edukasi yang kita sampaikan ini betul-betul sampai kepada mereka.
03:37Itu yang paling penting.
03:39Ada dua bencana yang difokuskan ya, tadi ada banjir dan kebakaran hutan.
03:42Sebenarnya harapannya apa sih Pak untuk teman-teman disabilitas ini memahami terkait dengan kesiap-siagaan bencana?
03:50Betul, yang paling penting adalah mereka mampu melaksanakan kemandirian dan keterampilan keselamatan.
03:58Nah, jadi bukan kita tolong saja, berarti mereka mampu dengan diri sendiri untuk menyelamatkan sesuai dengan kemampuan mereka.
04:09Itulah harapan kami.
04:11Boleh dijelaskan, Pak, tantangan terbesar dalam memberikan pelatihan kesiap-siagaan bagi kelompok disabilitas ini?
04:19Nah, itu tantangan yang kita hadapi ya, tentunya ada stigma masyarakat bahwa belum menyampaikan data-data kawan-kawan disabilitas.
04:30Karena memang bisa dia malu gitu ya.
04:33Jadi sekarang kita bagaimana supaya kawan-kawan disabilitas ini bisa terdata dengan melalui RT atau melalui keluruan-keluruan sempat itu,
04:41ke depan akan kita seperti itu.
04:45Bagaimana juga dengan disabilitas yang mungkin tidak terdata dalam komunitas? Apakah juga ada kegiatan jemput bola untuk memberikan edukasi ini,
04:54Pak?
04:55Nah, ini ke depan mungkin kita akan kombinasi nanti dengan pihak keluruan luar sempat dan RT atau sempat.
05:01Nah, kami akan mendata supaya betul-betul kawan-kawan yang tidak ada lagi stigma masyarakat kemalu untuk menyampaikan data-data
05:09yang harum tangan ini.
05:10Karena memang kalau terjadi bencana, ini yang kami utamakan.
05:15Sebenarnya kalau kita lihat jumlahnya, berapa banyak sih, Pak, teman-teman disabilitas untuk wilayah Banjarbaru dan berapa banyak yang sudah
05:23menerima edukasi?
05:25Jadi begini, kita tiap tahun ada program ya, namanya program edukasi terhadap mereka-mereka disabilitas.
05:31Kemarin kita sudah berjumlah ya, hampir 100 orang, kemudian di tahun 2026 ini ada 45 orang, tidak termasuk pendamping, tetapi
05:41pendamping juga melihat, juga hadir di sana.
05:44Jadi agak, kita sudah punya juga himpunan wanita disabilitas Indonesia, Pak, jadi khususnya di Kota Banjarbaru.
05:51Mereka tergabung di dalam himpunan itu.
05:53Sehingga kalau terjadi bencana pun, kami sudah menyiapkan bagaimana mereka agar mampu mandiri sendiri.
06:01Ini kan setiap bencana itu kan yang selalu kita concern adalah terkait dengan early warning system, Pak.
06:07Tentu ini untuk masyarakat umum, ini tanda ataupun peringatan bisa dipahami.
06:13Tapi bagaimana dengan teman-teman disabilitas, apakah BPBD Banjarbaru juga menyiapkan tanda atau early warning system khusus untuk teman-teman
06:23disabilitas?
06:25Betul, kami juga ada yang namanya sudah, apa, namanya ada kumpulan masyarakat peduli bencana.
06:33Masyarakat peduli bencana inilah yang membantu sebagai pendamping nanti menyampaikan kepada mereka.
06:38Jadi di 20 perurahan di Kota Banjarbaru ini sudah ada terbentuk masyarakat peduli bencana penggunaan BPBD.
06:45Sehingga terjadi bencana apapun, mereka bisa menyampaikan kepada kawan-kawan disabilitas.
06:50Itu yang saat ini kita lakukan.
06:53Tapi tidak dengan EWS saja, EWS juga sudah ada, tetapi itu diperuntukkan bagi masyarakat di titik-titik rawan bencana saja.
07:04Jadi pendampingan juga dilakukan untuk membantu teman-teman disabilitas memahami situasi dan kondisi ketika terjadi bencana.
07:12Dan edukasi terus diberikan untuk bisa mandiri, begitu ya Pak, ketika bencana itu datang.
07:18Terima kasih Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru, Bapak Zaini Syarani, telah bergabung di Jurnal Lusantara.
07:24Sehat selalu, Bapak.
07:25Terima kasih.
Komentar