- 2 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Film Para Perasuk mencuri perhatian di kancah internasional setelah meraih penghargaan di sejumlah festival film dunia. Diproduseri oleh Amalia Rusdi, film ini menghadirkan pendekatan berbeda terhadap tema kerasukan.
Produser Film Para Perasuk, Amalia Rusdi menjelaskan, Para Perasuk bukan film horor, melainkan drama supranatural yang mengangkat sisi emosional dan konflik manusia.
"Mungkin judulnya ada tulisan perasuk, tapi sebetulnya parasuk itu di sini konteksnya sesuatu yang merayakan kerasukan sendiri, bukan semacam kayak mistis atau kayak hantu yang biasanya kita lihat di film-film horor," kata Amalia Rusdi dalam program SAPA PAGI, Minggu (3/5/2026).
Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai film seperti Para Perasuk memiliki potensi besar sebagai media promosi pariwisata Indonesia.
"Jadi secara tidak langsung memang film menjadi media promosi yang efektif begitu untuk menarik wisatawan untuk mendatangkan kunjungan ke satu destinasi," kata Ni Luh.
Baca Juga Angkat Budaya Lokal, Film "Para Perasuk" Tuai Apresiasi Kabinet Merah Putih | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/666464/angkat-budaya-lokal-film-para-perasuk-tuai-apresiasi-kabinet-merah-putih-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/entertainment/666718/full-film-para-perasuk-mendunia-produser-amalia-rusdi-dan-wamenpar-ni-luh-bicara-peluang-wisata
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Film para prasuk sukses di ajang festival film internasional, namun yang bikin penasaran penonton kerasukan identik dengan teror dan juga
00:09mistis sodara.
00:10Lalu apa yang beda dari film ini dan bagaimana sebenarnya film yang mengangkat kearifan lokal Indonesia bisa menjadi promo pariwisata
00:17di internasional?
00:18Kita akan berbincang langsung bersama dengan Amalia Rusti, selaku produser film para prasuk dan juga wakil menteri pariwisata Nilo Puspa.
00:27Selamat pagi Mbak Nilo, Mbak Amalia, apa kabar?
00:31Selamat pagi Mbak Nanda, Mbak Amalia selamat pagi.
00:36Selamat pagi juga, nah oke sebelum kita akan bertanya lebih lengkap lagi, kita akan lihat dulu dan saksikan bersama sodara
00:43trailer film para prasuk berikut ini.
00:45Perasa sambet tanah ada di kampung latas, warga bakalan kesambet sama 20 roh binatang.
00:53Prasuk bakal bikin alam sambet buat muasin untuk pelamun.
00:57Sanggar sambetan pusat lagi ngadain seleksi dari 8 sanggar dini kampung.
01:02Siapa yang paling jago bikin alam sambet bakalan jadi pimpinan prasuk kita.
01:09Ayo, anak hantu.
01:11Tawit bu.
01:12Sisul bisa bawa roh bulus buat bikin pelamun kebal.
01:16Bawa roh semut biar mereka makan enak.
01:20Roh kebo yang bikin mereka segar.
01:24Atau roh binatang lain yang bisa bikin pelamun kita puas.
01:29Konsen, hilangin semua rasa pencik.
01:33Sambetan itu nyalurin rasa seneng.
01:35Kumpulin semua cinta.
01:38Dekat tuh pelamun.
01:41Nyalurin.
01:43Nah oke, itu dia sodara.
01:45Jadi kita langsung mau tanya ke produser film para prasuk terlebih dahulu dengan Mbak Amalia.
01:50Mbak Amalia, jadi untuk film para prasuk ini sebenarnya apa generenya?
01:54Genre-nya ini filmnya drama supranatural yang bukan horror aslinya.
02:00Oke.
02:01Karena mungkin judulnya ada kelisahan parasuk,
02:04tapi sebetulnya parasuk itu di sini konteksnya sesuatu yang merayakan kerasukan sendiri,
02:12jadi bukan semacam kayak mistis atau kayak hantu yang biasanya kita lihat di film-film horror.
02:21Oke, jadi bukan pesan mistis ya.
02:23yang ingin disampaikan.
02:24Jadi apa nih, yang jadi poin utama besar dari film para prasuk ini?
02:28Mbak Amalia.
02:30Film para prasuk ini sebenarnya menggambarkan drama tentang ambisi dari seorang anak muda bernama Bayu,
02:37di mana dia mencoba dengan komunitasnya menyelamatkan satu daerah yang akhirnya karena ambisinya dia ada hubungan yang dilupakan olehnya dengan
02:53temannya,
02:53dengan keluarganya, sampai akhirnya dia bisa berusaha untuk rekonsiliasi dan menemukan kayak titik terang dari kehidupannya.
03:03Oke, jadi sebenarnya malah justru lebih dalam lagi untuk pesan dari film para prasuk ini.
03:08Tapi kalau melihat dari sinopsis yang saya baca begitu ya Mbak ya,
03:12saya baru rencana untuk nonton nanti sore.
03:14Jadi dari sinopsis dulu yang saya baca, memang ini kan ada pesta, sambetan begitu ya,
03:18yang isinya adalah kerasukan.
03:19Tapi kalau melihat dari sejauh ini proses film prasukan ini dibentuk,
03:24apa ada kolaborasi dengan penduduk lokal begitu Mbak,
03:28untuk bisa membuat otentik lebih dalam lagi terkait dengan apa yang disampaikan di film prasuk?
03:34Untuk filmnya sendiri ini fiksi, pure fiksi.
03:38Jadi emang dibentuk dari awal itu, kita membentuk kayak satu tim untuk syuting di satu daerah
03:47dan karena ceritanya emang mengangkat sentralnya itu tentang ambisi,
03:51jadi pesta kerasukan ini diangkat untuk sebagai jadi bagian dari cerita filmnya itu.
03:58Nah, konsepnya prasuk itu juga mungkin kadang sesuatu yang merasuki diri kita itu
04:05bisa nggak hanya roh atau kayak aura mistis, tapi juga tentang ambisi ya.
04:16Nah, oke. Nah, itu yang sebenarnya ingin digarisbawahi dari film prasuk begitu ya.
04:21Nah, saya mau tanya tanggapan dari Mbak Wamen.
04:25Nah, kemarin kan kalau saya lihat ada nobar bareng dengan Wamen perempuan ya Mbak di Kabinet Merah Putih.
04:31Gimana nih setelah nonton film prasuk?
04:33Ya, jadi kemarin kita nonton bareng karena film nasional tentu perlu untuk kita dukung ya film dalam industri-industrinya
04:43biar semakin berkembang karena itu juga seiring dengan semakin memproduksikan tentang kebijakan budaya alam Indonesia gitu.
04:51Nah, kemarin benar-benar kerusukan ya nontonnya gitu.
04:55Karena dari awal sampai dengan akhir kita benar-benar dibuat terpukau dengan sim-simnya,
05:02dibuat terpukau dengan tentu acting-acting dari beberapa pemain yang tidak diragukan lagi ya.
05:06Jadi, betul-betul memberikan satu pengalaman yang luar biasa begitu apalagi film ini juga betul-betul membawa atmosfer budaya lokal
05:16itu ke layar.
05:17Jadi, itu betul-betul terasa buat kita ya melihat bagaimana elemen tradisi, kepercayaan, dan landscape lokal itu tersaji dalam satu
05:27layar gitu.
05:28Nah, kalau dilihat dari film ini kan meskipun ini fiksim gitu, tapi kalau dari pandangan saya sebagai penonton,
05:35melihat ini terinspirasi oleh banyak sekali tradisi dan kepercayaan yang ada di Indonesia.
05:41Mungkin begitu ya Mbak Malia ya kalau saya lihat.
05:43Karena kerasukan ini kalau kita lihat ini kan terinspirasi dari banyak sebenarnya tradisi-tradisi di Indonesia.
05:51yang ada di Jawa, yang ada di Kalimantan, yang ada di Sumatera, itu di satu kuru, dalam satu cerita.
05:59Jadi, saya pikir ini luar biasa ya memberikan pengalaman dan juga mengingatkan kita tentang banyak hal yang tadi Mbak Malia
06:08sebutkan ambisi.
06:10Kemudian juga mengingatkan kita juga tentang bahwa di sekitar kita mungkin ada banyak konflik sosial yang ternyata bisa diselesaikan dengan
06:18budaya dan tradisi yang kita punya gitu.
06:22Oke, ini menarik sekali Mbak Walmen kalau melihat secara keseluruhan begitu ya dari Kementerian Pariwisata sendiri
06:30untuk melihat potensi dari film para prasuk ini untuk mempromosikan destinasi wisata.
06:36Apalagi khususnya di tempat lokasi syuting film para prasuk. Bagaimana Mbak Walmen?
06:41Benar sekali Mbak Nanda ya, kalau kita lihat film-film itu banyak sekali, kemudian justru lokasinya itu jadi track.
06:50Lokasi syutingnya bikin orang-orang datang gitu ke syuting itu.
06:56Sebut saja misalnya ada banyak ya film-film misalnya seperti ada apa dengan Cinta dulu,
07:02kemudian orang jadi rame-rame datang ke Jogja gitu.
07:06Terus kemudian yang terbaru mungkin Gadis Kretek, kemudian juga dulu ada film-film luar ya,
07:13membuat Bali itu menjadi luar biasa kedatangan turis waktu film It Pray Love.
07:19Jadi film itu memang jadi media promosi tidak langsung yang efektif gitu terhadap destinasi wisata.
07:26Orang yang tidak mengenal satu destinasi karena nonton film jadi tahu terus kemudian jadi rame datang.
07:34Sama juga kayak film Laskar Pelangi dulu belitung kemudian menjadi begitu populer ramai sekali orang datang.
07:40Tapi kalau kita lihat tren memang saat ini ya, itu menunjukkan ini ada satu data dari Expedia
07:50itu yang menunjukkan kalau dua dari tiga wisatawan itu tertarik mengunjungi lokasi syuting.
07:56Jadi kalau ada syuting film, syuting film ini, dua dari tiga wisatawan itu ingin datang
08:01karena penasaran melihat lokasinya langsung.
08:03Kemudian kalau kita lihat juga 36 persen itu wisatawan itu bilang kalau film atau tontonan mereka di TV itu
08:12memengaruhi keinginan mereka untuk berwisata ke satu destinasi.
08:16Jadi secara tidak langsung memang film menjadi media promosi yang efektif gitu untuk menarik wisatawan
08:23untuk mendatangkan kunjungan ke satu destinasi.
08:26Jadi ketika lokasi satu film itu diketahui, itu bisa mengangkat biaya lokalnya,
08:33bisa mengangkat UMKM-nya, ekonomi desa atau ekonomi daerah tersebut bisa berputarnya dari satu film.
08:40Jadi luar biasa sekali memang promosi dari film untuk destinasi wisata.
08:44Oke ini jadi stimulus yang baik begitu ya Mbak ya, melihat untuk destinasi wisata di Indonesia.
08:51Nah saya mau kembali ke Mbak Amelia, ini kan filmnya kental sekali dengan kritik sosialnya yang ingin disampaikan.
08:59Sebenarnya apa sih kritik sosial yang ingin disampaikan dalam garis besar di film para prasuk ini Mbak Amelia?
09:05Mungkin kalau kritik sosialnya langsung itu kita mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri
09:17Jadi lebih kayak untuk apabila konflik hadir di tengah masyarakat, bagaimana caranya kayak kita untuk berdamai dengan diri sendiri
09:32dan sampai akhirnya kita bisa berdamai dengan komunitas kita juga.
09:38Oke, nah ini sebenarnya saya juga ingin mengucapkan selamat untuk film para prasuk karena menai penghargaan CGNM Award
09:46dalam rangkaian Busan International Film Festival dari Bono Pelompat.
09:49Mbak Amelia, bisa diceritakan bagaimana bisa menyebut penghargaan ini?
09:55Mungkin di awal tahun 2024 itu kita mulai pre-production untuk filmnya sendiri
10:02kemudian ada beberapa grants dan funding yang kita coba approach waktu itu
10:08terus salah satu yang kita coba ikutin programnya adalah CJNM Awards
10:14itu salah satu project market film di South Korea, di Busan
10:21terus kemudian kita waktu itu menjadi salah satu kandidat yang mengikuti film project market itu
10:29dan kebetulan di awards itu kita salah satu pemenangnya
10:35mendapatkan awards itu
10:37terus kemudian setelah kita produksi di bulan Oktober 2024
10:43kita melalui tahap post production yang akhirnya kita juga mencoba mengikuti beberapa festival film internasional
10:54salah satunya Busan, Toronto Film Internasional, dan Sundance
10:59dan kemudian waktu itu kita dapat tawaran beberapa film internasional untuk world premiernya
11:08sampai akhirnya yang kita pilih adalah Sundance Film Festival
11:14di mana kita ikut berkompetisi di film festival tersebut di Amerika
11:20yang akhirnya kita lakukan film internasional di sana
11:24oke sejak ini bagaimana respons internasional melihat film para perasuk, Mbak Malia?
11:29bisa diceritakan kepada kami bagaimana?
11:31untuk perasuknya sendiri kita lumayan senang
11:35karena waktu kita mengadakan world premier itu kita dapat standing ovation
11:41terus di beberapa screening berikutnya kita juga menerima kayak respons dari audience di sana
11:49ternyata cerita para perasuk ini gak hanya terpaku atau berpaku pada satu kebudayaan
11:56atau kayak satu cerita tapi budaya kerasukan ini ternyata itu universal ya
12:01gak hanya di Indonesia tapi di negara lain pun
12:03jadi mereka juga melihat ini sesuatu yang bisa mereka relate gitu
12:08terus kemarin kita ada beberapa festival juga yang kita ikutin
12:12kayak Fantaspoa itu di Brazil
12:15di mana filmnya memenangkan best choreography untuk tariannya
12:21oke luar biasa bertabur dengan nominasi dan penghargaan
12:27nah saya mau bergeser lagi ke Mbak Wamen
12:30melihat dengan apa ini sampaikan Mbak Amalia tadi
12:33dari pihak Mbak Wamen sendiri mungkin ada strategis khusus yang sudah disiapkan
12:38untuk mengaitkan film ini dengan wisata daerah tempat syuting?
12:41ya jadi kalau kita mau mengkonversi gitu ya
12:48dari film ke pertarikan orang untuk tahu destinasinya
12:52kemudian menjadi kunjungan wisata itu memang butuh kolaborasi ya
12:57tidak hanya Kementerian Pariwisata
12:59tapi juga secara pintar Hilux dengan industri utamanya
13:02di mana kita bisa mengembangkan misalnya paket wisata yang berbasis film
13:09jadi tematik
13:10jadi bagaimana kita bisa mengajak teman-teman di destinasi
13:15di Kera atau di lokasi itu
13:18untuk yuk kita bikin satu
13:21memberikan satu pengalaman
13:24satu paket wisata yang dipenuhi dengan pengalaman yang otentik
13:28yang seperti ada di film
13:31sehingga orang semakin ingin datang ke satu destinasi itu
13:36nah ini juga memang diterapkan seperti di Korea
13:39atau di negara-negara lain
13:40bagaimana lokasi syuting itu kemudian wisatawan diajak
13:44untuk ngerasain pengalaman seperti syuting film tersebut
13:48nah hal-hal seperti ini penting untuk dilakukan
13:51dan ini tidak bisa sendiri ada yang harus kolaborasi
13:54dengan teman-teman di pemerintah daerah
13:56dengan teman-teman di destinasi
13:58juga dengan teman-teman industri
14:00kemudian juga dengan media utamanya seperti itu
14:03kemudian yang berikutnya adalah aktifasi
14:07jadi bagaimana kita bisa
14:09kalau memang lokasi syuting itu dibuka
14:12diketahui
14:13kita aktifasi lokasi syuting itu sebagai destinasi wisata
14:17dan yang paling penting dari semuanya adalah storytelling
14:20narasi yang kemudian kita hadirkan
14:24kepada calon wisatawan terkait dengan destinasi cerita
14:28dan lain sebagainya
14:28kita tahu misalnya di Bandung
14:30dulu film Dilan lokasi syuting rumah dari Milea
14:35itu malah ramai gitu dikunjungi oleh wisatawan
14:38kemudian orang jadi ramai-ramai ingin foto
14:41ingin merasakan nih atmosfer di rumah dari Milea gitu
14:46dan begitu juga misalnya ketika Laskar Pelangi
14:49sampai dibuat ya
14:51apa namanya
14:52replika dari sekolah
14:54dari anak-anak Laskar Pelangi ini
14:56kemudian orang datang untuk merasain pengalaman
14:59dan terkoneksi begitu dengan
15:03proses syuting dari film tersebut
15:06nah jadi storytelling ini penting sekali
15:09jadi ada tiga hal ya tadi
15:10pengembangan wisatanya
15:11kemudian aktifasinya dan storytelling
15:13tapi dari semuanya itu
15:15yang paling penting adalah
15:17bagaimana kesiapan dari lokasi tersebut
15:19dari sisi 3A-nya
15:21jadi kalau kita bicara pariwisata
15:23tentu kita bicara tiga hal
15:25yaitu ada atraksi, amenitas
15:27dan kemudian yang selanjutnya adalah
15:30aksesibilitas
15:31jadi kita harus memastikan
15:33akses ke sana itu
15:36benar-benar bisa dijangkau
15:38amenitasnya tersedia
15:39ada hotel, ada dengan sanitasi yang baik
15:42toilet yang bersih
15:44dan lain sebagainya
15:45kemudian juga atraksinya
15:46apa yang kemudian
15:47pengalaman apa yang akan kita tawarkan
15:49kepada calon wisatawan
15:50di lokasi syuting ini
15:52nah tiga strategi
15:53yang disiapkan ini
15:55yang kita harapkan
15:56kemudian semakin membuat
15:58lokasi syuting film-film
16:00baik film dalam negeri
16:02maupun film luar negeri itu
16:03menjadi daya tarik wisata
16:06yang bisa kita konversi
16:07kemudian ke jumlah kunjungan
16:09itu kan ujung-ujungnya adalah
16:10bagaimana kemudian jumlah kunjungan
16:12yang datang ke sana
16:13nah tren wisata sekarang
16:15menanda menariknya adalah
16:17kalau dulu mungkin orang liburan
16:20itu yaudah sekadar pergi ke satu tempat
16:22menikmatinya
16:23happy-happy selesai
16:25tapi tren global sekarang
16:28orang ingin datang ke satu tempat
16:29untuk mendapatkan pengalaman
16:31yang lebih otentik
16:33pengalaman yang lebih lokal
16:35yang bisa connect
16:36yang bisa
16:37apa namanya
16:40berhubungan langsung
16:41dengan masyarakat lokal
16:42jadi saya pikir
16:43film-film seperti
16:44film para prasuk
16:46yang menunjukkan
16:47benar-benar
16:48budaya Indonesia
16:50kalau tadi Mbak Amalia bilang
16:52budaya
16:53keras
16:54sebenarnya tidak hanya ada
16:55di Indonesia
16:56secara luar negeri
16:57tapi Indonesia itu
16:57begitu
16:58masih ada
16:59masih ditemukan
17:00tradisinya
17:01ini kemudian menjadi
17:03kekuatan dari
17:05pariwisata Indonesia
17:06budayanya yang sangat kuat
17:08dan terima kasih
17:08karena diangkat
17:09kemudian dalam film
17:10semakin membuat orang
17:11terparik untuk datang
17:12apalagi sudah diputar
17:15betul
17:16nah berarti kalau misalkan
17:17Mbak Wamen juga menilai
17:19bahwa budaya ini
17:20juga sangat kuat
17:21begitu ya di film
17:21para prasuk
17:22apakah ada kolaborasi
17:23dengan pelaku budaya lokal
17:24agar representasi
17:25dalam film ini
17:26tetap otentik
17:27Mbak Wamen
17:28ya kita selalu
17:30Mbak Nanda
17:31dalam setiap
17:32atraksi
17:33di
17:34satu destinasi
17:36itu selalu melibatkan
17:38budaya lokal
17:39kita selalu melibatkan
17:40tentu saja
17:41dengan budayanya
17:42budayawannya
17:43dengan pelaku budayanya
17:45dengan masyarakat lokal
17:46yang ada di sana
17:47pelaku UMKM lokal
17:49dan semua yang terkait
17:51dengan
17:52satu destinasi itu
17:53karena pariwisata itu
17:55dengan seniman juga tentunya
17:56karena pariwisata itu
17:58itu kan
17:59semua tempat itu
18:00punya
18:01laut yang indah
18:02pantai yang indah
18:03tapi yang membedakan
18:04yang memberi soul
18:06memberi jiwa
18:07dalam satu destinasi
18:08itu adalah
18:08orang-orang yang hidup di sana
18:10siapa yang hidup di sana
18:11ya masyarakatnya
18:12kemudian
18:14budayawan yang ada di sana
18:15yang menjaga
18:16melestarikan
18:17dan menampilkan
18:18kebudayaan
18:19yang membuat orang
18:20jadi merasakan
18:21jiwa dari tempat itu
18:23kemudian seniman
18:24yang ada di sana
18:25baik itu penarinya
18:26pemain gamelan
18:27dan sebagainya
18:28kemudian juga
18:29dengan UMKM di sana
18:31yang kemudian
18:31menghadirkan
18:32gastronomi-gastronomi
18:33lokal yang luar biasa
18:34jadi
18:34seperti yang saya sebutkan
18:36tadi ya Mbak Nanda ya
18:37bahwa
18:37kolaborasi itu
18:39kolaborasi pentahelix
18:40kalau mengembangkan pariwisata
18:41tidak bisa sendirian
18:43pemerintah saja
18:44dan sebagainya
18:44karena termasuk dengan
18:45masyarakat lokal
18:46budayawan lokal
18:47seniman lokal
18:48dan semua yang ada di satu
18:50mereka adalah kekuatannya
18:51jadi sangat harus
18:53kita kolaborasi dengan mereka
18:55dan mereka tidak boleh
18:56hanya sekadar
18:57nontonin saja
18:58tapi mereka yang harus
18:59menjadi pelakunya
19:00mereka yang harus
19:01menghidupkannya
19:02mereka yang harus
19:02memberikan jiwa
19:03dari pariwisata Indonesia
19:05Oke, pentingnya
19:07kesiapan dari
19:08berbagai lintas sektor
19:10untuk bisa
19:10menjadi bahu-membahu
19:12yang menyambut
19:12tren positif ini
19:13salah satunya adalah
19:14film Prasuk
19:15bagi Anda yang belum
19:16menyaksikannya
19:16bisa langsung saja
19:17ke bioskop
19:18dan menyaksikan bagaimana
19:20merasakan kentalnya
19:21budaya Indonesia
19:21terima kasih
19:22sudah berbagi perspektifnya
19:24di Sapa Indonesia
19:24pagi hari ini
19:25dan waktunya bersama kami
19:27Wakil Menteri Pariwisata
19:29Nilu Puswadhan
19:29ada produser film
19:31para Prasuk
19:32Amalia Rusti
19:33sehat selalu
19:34selamat lagi
19:34Terima kasih
19:40Terima kasih
Komentar