00:00Jadi penasihat khusus nanti tentu sebagai pembantu presiden, saya akan bekerja sama yang sangat erat dengan Abang Dah Kabakom yang
00:11baru,
00:12Bang Kodari, mungkin juga nanti dengan Ibu Menkom Diji, dengan Buah Menkom Diji untuk memperkuat lagi bidang komunikasi
00:22yang diperkelahkan oleh pemerintah supaya pesan-pesan yang ingin diketahui oleh publik itu bisa lebih baik lagi, bisa jauh lebih
00:32sampai dan bisa dipahami oleh masyarakat.
00:38Masih di Satu Menjadi Forum, sebelum ke Bang Kodari saya ke Prof. Gun-Gun dulu.
00:43Dikasih dulu jawab kesempatan.
00:45Bentar, biar ada pengantarnya dulu, Pak.
00:47Karena gini, karena gini.
00:49Tadi pernyataan Hasan Nasbi tadi menyebutlah bahwa, wah ada Angkodari, ada Menkom Diji.
00:57Tapi saya melihatnya begini, ada orang mengatakan bahwa penunjukan seorang Angkodari di dalam kabinet dan tim komunikasi itu adalah menunjukkan
01:05bahwa sebenarnya ada pengakuan.
01:07Yang tadi saya bilang agak kedodoran nih, karena lagi banyak serangan ini dan banyak hal-hal yang mesti dijelaskan.
01:13Prof. Gun-Gun melihat yang sama nggak soal itu?
01:14Iya, saya melihat yang sama. Contohnya misalnya di Kompas sendiri kan menyebut bahwa tujuh bulan yang Wacom kemarin sebelumnya, hanya
01:22satu kali conference misalnya.
01:24Ya kan ada di Kompas tuh.
01:26Seingat saya, saya tadi pagi baca itu begitu.
01:28Nah ini perlu memang semacam penguatan.
01:32Jadi begini Mas Yogi, saya melihat perlu ada semacam peran informasi yang dipertegas.
01:38Contoh ya, penasehat Presiden Bidang Komunikasi itu wilayahnya substansi, namanya itu FCR tuh, Finding Conclusion Recommendation pada Presiden.
01:48Oh yang dia mempunyai formulasi ya.
01:50Jadi dia mempunyai Presiden.
01:51Itu wilayahnya, jangan ke publik.
01:54Jadi dia harus berdisiplin sebagai koki informasi untuk Presiden.
01:58Itu utusan khusus komunikasi.
02:00Jadi nanti jangan kemudian ditarik-tarik perannya pada wilayah jurubicara.
02:05Publik.
02:05Kenapa? Karena harus ada yang memang berdisiplin menjaga wilayah ini, narasi yang akan keluar dari Presiden.
02:12Itu yang pertama.
02:14Kemudian, KSP itu pada yang disebut dengan komunikasi presidensial.
02:22Setelah narasi jadi kan ada komunikasi presidensial.
02:25Komunikasi presidensial tuh karakternya tiga.
02:27Official, Directive, Autoritatif.
02:32Nah tiga ini, ini adalah khas dari komunikasi presidensial untuk program prioritas.
02:36Jubirnya sama tapi?
02:37Bukan, KSP itu bukan bicara soal jubir.
02:39Tapi bicara soal komunikasi presidensial yang wilayahnya itu untuk komunikasi politik, supra, dan infrastruktur.
02:47Legislatif, yudikatif, sama lima elemen dari infrastruktur.
02:51Media misalnya, kemudian partai politik, kemudian kelompok kepentingan, kelompok penekan, sama figur yang potensial menguatkan atau melemahkan komunikasi presidensial.
03:04Itu wilayahnya KSP.
03:06Kemudian wilayahnya Bakom, menurut saya adalah lebih pada, pertama, the bottlenecking, gitu ya.
03:13Pada isu-isu yang kemudian melintas sektoral.
03:17Kementerian, lembaga, daerah.
03:19Sekaligus juga ke public internal, pemerintah, dan eksternal.
03:24Contohnya misalnya hadir di berbagai kepentingan publik untuk tahu.
03:28Right to know-nya publik, seperti lewat media.
03:30Nah, disitulah menurut saya perlu berdisiplin di masing-masing.
03:35Jangan sampai yang presidensial, komunikasi presidensial, masuk ke wilayah kementerian, lembaga, dan daerah.
03:41Kecuali untuk hal-hal yang the bottlenecking, gitu.
03:44Siapa yang mengelola supaya disiplin itu?
03:46Siapa wasit?
03:47Ya, tentu presiden sebagai pemilik hak prerogatif, ya.
03:50Saya akan ke umum padari kalau begitu.
03:52Ya kan, tadi sudah diberikan gambar.
03:54Makanya saya tidak langsung.
03:55Ya, ya, ya.
03:55Kan dulu pengantar oleh seorang profesor.
03:57Gimana?
03:57Baik, itu pandangan seorang pengamat.
03:59Oke.
04:02Dulu pengamat juga, loh.
04:04Saya sebagai praktisi akan mengembalikan semuanya kepada perpres.
04:09Atau tupoksi yang memang sudah diatur dalam undang-undang atau dalam peraturan di bawahnya.
04:16Jadi pertama ya, perpres atau tupoksinya KSP itu, eh, bakom itu adalah untuk orkestrasi komunikasi di pemerintahan.
04:25Oh.
04:26Jadi ada dua aspek di situ.
04:28Yang pertama, mengkoordinasikan atau mengorkestrasi komunikasi di KL-KL, kementerian dan lembaga.
04:37Persisnya bagaimana saya sedang pelajari satu dua hari ini, saya sudah punya gambaran.
04:42Tetapi intinya, masalah-masalah yang tadi disebut oleh Mas Lukman, itu juga sudah masuk radar kami.
04:49Dan pada titik itu misalnya saya membayangkan bahwa nanti ke depan perlu ada semacam pertemuan, katakanlah dengan para menteri.
04:57Jadi, untuk pertama misalnya, ya, tupoksi masing-masing apa sih? Begitu.
05:02Pasti semua kembali ke sana, kalau kita bicara KL.
05:05Apakah misalnya seorang menteri keuangan bisa berbicara tentang masalah-masalah yang berurusan atau erat sekali dengan luar negeri, misalnya?
05:15Begitu.
05:15Saya kira kalau masing-masing KL itu disiplin dengan tupoksinya, insya Allah ini sudah dalam jalurnya masing-masing.
05:24Begitu. Itu satu.
05:25Yang kedua tentu saja bahwa masing-masing menteri ini kan latar belakangnya sangat beragam.
05:30Ada yang pernah bersentuhan, bahkan akrab dengan komunikasi.
05:35Misalnya kepala KSP aja.
05:37Kepala KSP kan beragam.
05:38Kebetulan saya orang yang akrab dengan dunia media.
05:42Biasa berhadapan.
05:43Sehingga awareness saya tentang media mungkin lebih baik dibandingkan dengan kepala KSP yang backgroundnya tidak pernah bersentuhan dengan media.
05:51Karena itu memang perlu kalibrasi untuk katakanlah pimpinan di KL itu untuk lebih paham soal logika, media, protokol, komunikasi, dan
06:02seterusnya.
06:03Maksudnya KSP karena nggak ada background di media, artinya bisa dibilang bahwa Pak Dudung jangan dulu bicara ke publik atau
06:08ke publik.
06:09Tidak.
06:09Biar ngasih tau teman-teman, jangan wawancara Pak Dudung.
06:11Pak Dudung punya kemampuan komunikasi yang sangat baik.
06:16Nggak apa-apa.
06:16Ini kan bagian dari usulan dari Prof. Gun.
06:19Kan saya bilang tidak semua.
06:21Oh tidak semua.
06:21Tidak termasuk Pak Dudung.
06:23Pak Dudung punya pengalaman yang panjang.
06:26Oh KSP yang lain ini ya.
06:27Dengan media.
06:28Barangkali ya.
06:28Oh ya.
06:29Yang pertama ya.
06:29Ya ya ya.
06:30Jangan diteruskan mas.
06:31Nggak, nggak, nggak.
06:32Enggak, nggak, nggak, nggak.
06:34Ya ya ya.
06:35Ya itu yang pertama.
06:36Nah kemudian yang kedua, kalau bicara KSP sekali lagi tugasnya itu adalah soal pengendalian program prioritas nasional.
06:45Memang ada mengolah isu juga.
06:48Tetapi sepertinya ya saya kemarin ngobrol dengan Pak Dudung tidak ada tugas khusus untuk membantu komunikasi.
06:54Karena itu saya kulunuhun bahwa program press conference mingguan itu, itu saya bawa ke Bakom.
07:03Terlebih lagi memang sebelumnya sudah kerjasama KSP dengan Bakom.
07:07Jadi tradisi untuk tiap hari Rabu ada dialog, ada paparan mengenai pencapaian program prioritas, menghadirkan kementerian yang ya sedang aktual.
07:17Itu akan diteruskan di Bakom.
07:19Jadi persisnya biar publik clear lebih teknis nih.
07:23Saya tambahkan sedikit ya.
07:24Saya menjawab dulu, menjawab dulu Bang Mas Lukman.
07:27Belum, belum, belum.
07:28Kalau kepala Bakom itu panjang.
07:31Ini udah mulai kepala Bakom ya?
07:32Saya lupa, saya lupa.
07:34Saya masih ingatnya masih KSP aja.
07:35Tadi beliau kasih contoh mengenai apa yang terjadi di Bekasi Timur.
07:39Hemat saya justru pada hari ini itu contoh komunikasi yang cukup baik Mas Lukman.
07:44Pertama dari segi apa?
07:46Dari segi empati ya.
07:47Langsung datang Pak Dasko, langsung datang Pak Kapolda.
07:51Kemudian malam itu juga Pak Menteri, Pak Dirut KAI dan Pak Menhub sudah langsung tampil.
07:58Memberikan informasi.
08:00Pak Menhub yang terbilang jarang tampil.
08:02Tampil, memberikan informasi mengenai peristiwa tersebut, mengenai korban, dirawat di mana dan seterusnya.
08:09Lalu kemudian tadi siang beliau melakukan press conference lagi, mengupdate perkembangan.
08:14Lalu Bapak Presiden juga sudah datang.
08:17Tadi pagi sudah datang, nanti saya dapat kabar sore ini sepulang dari Cilacap akan datang lagi.
08:27Itu dari segi empati.
08:28Kemudian dari segi perhubungan.
08:32Pak Dirut KAI menjelaskan.
08:33Sebagai akibat dari adanya peristiwa tersebut, maka jalur hilirnya ditutup dulu.
08:41Untuk apa?
08:42Untuk pemeriksaan oleh KNKT.
08:43Ya, intinya.
08:44Mengenai peristiwanya diserahkan kepada KNKT untuk memproses.
08:48Lalu ditambahkan lagi.
08:50Sebagai akibat dari peristiwa ini, maka kemudian KRL ya.
08:53Kalau nggak salah ya, KRL.
08:54Yang tadinya sampai ke Cikarang, sekarang sampai ke Bekasi.
08:58Jadi, saya kira sih kalau bicara mengenai praktek komunikasi, kalau dalam kasus peristiwa di KAI tersebut, cukup bagus.
09:04Oke.
09:05Saya ke Mas Lukman.
09:07Mas Lukman, ini mumpung ada pakom.
09:10Jadi, ada anggapan mengatakan bahwa kali ini beberapa orang, para pihak, akademisi, pengamat itu,
09:16cara menyampaikan kritikannya kurang santun.
09:19Ada cara dan sebagainya.
09:21Atau sebaliknya, juga ada yang mengatakan, ini pemerintah ini diberi masukan kok.
09:27Padahal kan bicara pembangunan itu tidak hanya bicara soal fisik, tapi juga bicara soal ruang integritas publik kan.
09:32Anda melihat apa? Yang paling tidak Anda kan juga ada di gunakan moral.
09:36Ini bagus sekali nih pertanyaannya.
09:38Jadi, komunikasi itu kan dua belah pihak.
09:41Ya, itu kan.
09:44Maka, kenapa tadi saya di awal saya menyebut cinta?
09:47Cinta ya.
09:48Jadi, pemerintah itu kan melayani.
09:51Yes.
09:52Gitu ya.
09:53Abdi negara.
09:54Melayani.
09:55Jadi, posisinya terhadap rakyat itu jangan equal.
10:00Jangan memposisikan diri setara dengan rakyat.
10:02Yes.
10:03Pemerintah itu melayani.
10:05Mengayomi.
10:05Mengayomi.
10:07Jadi, segala sesuatunya itu basisnya harus cinta.
10:11Artinya, jangan resisten terhadap kritik sekasar atau sekeras apapun.
10:18Itu adalah sesuatu yang input masukkan.
10:22Dasarnya adalah bagaimana cara pandangi rakyat kita kan macam-macam gitu.
10:27Jadi, jangan dilihat caranya.
10:29Tapi, substansinya kalau terkait dengan dalam perspektif pemerintah.
10:32Karena dia punya kewajiban untuk melayani itu.
10:35Nah, jadi menurut saya tadi yang kaitannya dengan mitigasi tadi itu
10:40harus dibangun kesadaran mereka-mereka yang memang mendapatkan amanah
10:44untuk mengembangkan amanah menjadi pemerintah ini
10:48untuk tadi itu melihat apapun masukan atau kritik sekalipun
10:56itu bukan di persepsi sebagai musuh atau lawan.
11:00Tapi, itu adalah ya rakyatnya yang memang harus dilayani gitu.
11:05Jadi, perspektif atau paradigma ini yang menurut saya harus dibangun.
11:10Sehingga tidak ada tadi itu statement-statement yang near empati.
11:15Tidak ada statement yang mengecilkan.
11:19Misalnya, ketika ada tagar, kabur aja dulu.
11:23Lalu kemudian di respon dengan ya sudah kabur aja gitu.
11:26Dan kalau perlu gak usah kembali gitu.
11:27Itu kan statement yang seakan-akan rakyat itu bagian dari musuh gitu.
11:34Yang lalu kemudian di respon seperti itu.
11:35Nah, yang contoh-contoh begini ini menurut saya,
11:38ya Bakom saya pikir punya harapan untuk bagaimana menyamakan persepsi itu.
11:42Dan kita boleh berharap pada kepala Bakom yang baru ya.
11:45Iya, persepsi ini yang menurut saya perlu dibentuk terlebih dahulu
11:48sehingga pendekatannya semangatnya itu cinta terhadap apapun yang disuarakan oleh rakyatnya gitu.
11:55Oke, oke.
Komentar