Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penataan komunikasi pemerintahan kembali menjadi sorotan. Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyatakan lembaganya akan fokus mengorkestrasi komunikasi kementerian dan lembaga agar pesan pemerintah lebih efektif diterima publik.

Qodari menyebut tugas utama Bakom adalah menyatukan pola komunikasi di internal pemerintah, termasuk antar kementerian dan lembaga.

Menurut Qodari, sejumlah persoalan komunikasi yang ramai dibahas publik juga sudah masuk radar lembaganya.

Ia menilai ke depan perlu ada penyamaan persepsi di level pimpinan kementerian dan lembaga, termasuk soal batas kewenangan bicara ke publik.

Sementara itu Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto menilai pembagian peran komunikasi antar lembaga harus dipertegas.

Menurut Gun Gun, tanpa disiplin peran, komunikasi presidensial bisa tumpang tindih dengan komunikasi kementerian dan lembaga.


Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/T6p9C7jEQzE



#prabowo #reshuffle #menteri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666124/pengamat-soroti-tumpang-tindih-komunikasi-pemerintah-ini-strategi-kepala-bakom-qodari-satu-meja
Transkrip
00:00Jadi penasihat khusus nanti tentu sebagai pembantu presiden, saya akan bekerja sama yang sangat erat dengan Abang Dah Kabakom yang
00:11baru,
00:12Bang Kodari, mungkin juga nanti dengan Ibu Menkom Diji, dengan Buah Menkom Diji untuk memperkuat lagi bidang komunikasi
00:22yang diperkelahkan oleh pemerintah supaya pesan-pesan yang ingin diketahui oleh publik itu bisa lebih baik lagi, bisa jauh lebih
00:32sampai dan bisa dipahami oleh masyarakat.
00:38Masih di Satu Menjadi Forum, sebelum ke Bang Kodari saya ke Prof. Gun-Gun dulu.
00:43Dikasih dulu jawab kesempatan.
00:45Bentar, biar ada pengantarnya dulu, Pak.
00:47Karena gini, karena gini.
00:49Tadi pernyataan Hasan Nasbi tadi menyebutlah bahwa, wah ada Angkodari, ada Menkom Diji.
00:57Tapi saya melihatnya begini, ada orang mengatakan bahwa penunjukan seorang Angkodari di dalam kabinet dan tim komunikasi itu adalah menunjukkan
01:05bahwa sebenarnya ada pengakuan.
01:07Yang tadi saya bilang agak kedodoran nih, karena lagi banyak serangan ini dan banyak hal-hal yang mesti dijelaskan.
01:13Prof. Gun-Gun melihat yang sama nggak soal itu?
01:14Iya, saya melihat yang sama. Contohnya misalnya di Kompas sendiri kan menyebut bahwa tujuh bulan yang Wacom kemarin sebelumnya, hanya
01:22satu kali conference misalnya.
01:24Ya kan ada di Kompas tuh.
01:26Seingat saya, saya tadi pagi baca itu begitu.
01:28Nah ini perlu memang semacam penguatan.
01:32Jadi begini Mas Yogi, saya melihat perlu ada semacam peran informasi yang dipertegas.
01:38Contoh ya, penasehat Presiden Bidang Komunikasi itu wilayahnya substansi, namanya itu FCR tuh, Finding Conclusion Recommendation pada Presiden.
01:48Oh yang dia mempunyai formulasi ya.
01:50Jadi dia mempunyai Presiden.
01:51Itu wilayahnya, jangan ke publik.
01:54Jadi dia harus berdisiplin sebagai koki informasi untuk Presiden.
01:58Itu utusan khusus komunikasi.
02:00Jadi nanti jangan kemudian ditarik-tarik perannya pada wilayah jurubicara.
02:05Publik.
02:05Kenapa? Karena harus ada yang memang berdisiplin menjaga wilayah ini, narasi yang akan keluar dari Presiden.
02:12Itu yang pertama.
02:14Kemudian, KSP itu pada yang disebut dengan komunikasi presidensial.
02:22Setelah narasi jadi kan ada komunikasi presidensial.
02:25Komunikasi presidensial tuh karakternya tiga.
02:27Official, Directive, Autoritatif.
02:32Nah tiga ini, ini adalah khas dari komunikasi presidensial untuk program prioritas.
02:36Jubirnya sama tapi?
02:37Bukan, KSP itu bukan bicara soal jubir.
02:39Tapi bicara soal komunikasi presidensial yang wilayahnya itu untuk komunikasi politik, supra, dan infrastruktur.
02:47Legislatif, yudikatif, sama lima elemen dari infrastruktur.
02:51Media misalnya, kemudian partai politik, kemudian kelompok kepentingan, kelompok penekan, sama figur yang potensial menguatkan atau melemahkan komunikasi presidensial.
03:04Itu wilayahnya KSP.
03:06Kemudian wilayahnya Bakom, menurut saya adalah lebih pada, pertama, the bottlenecking, gitu ya.
03:13Pada isu-isu yang kemudian melintas sektoral.
03:17Kementerian, lembaga, daerah.
03:19Sekaligus juga ke public internal, pemerintah, dan eksternal.
03:24Contohnya misalnya hadir di berbagai kepentingan publik untuk tahu.
03:28Right to know-nya publik, seperti lewat media.
03:30Nah, disitulah menurut saya perlu berdisiplin di masing-masing.
03:35Jangan sampai yang presidensial, komunikasi presidensial, masuk ke wilayah kementerian, lembaga, dan daerah.
03:41Kecuali untuk hal-hal yang the bottlenecking, gitu.
03:44Siapa yang mengelola supaya disiplin itu?
03:46Siapa wasit?
03:47Ya, tentu presiden sebagai pemilik hak prerogatif, ya.
03:50Saya akan ke umum padari kalau begitu.
03:52Ya kan, tadi sudah diberikan gambar.
03:54Makanya saya tidak langsung.
03:55Ya, ya, ya.
03:55Kan dulu pengantar oleh seorang profesor.
03:57Gimana?
03:57Baik, itu pandangan seorang pengamat.
03:59Oke.
04:02Dulu pengamat juga, loh.
04:04Saya sebagai praktisi akan mengembalikan semuanya kepada perpres.
04:09Atau tupoksi yang memang sudah diatur dalam undang-undang atau dalam peraturan di bawahnya.
04:16Jadi pertama ya, perpres atau tupoksinya KSP itu, eh, bakom itu adalah untuk orkestrasi komunikasi di pemerintahan.
04:25Oh.
04:26Jadi ada dua aspek di situ.
04:28Yang pertama, mengkoordinasikan atau mengorkestrasi komunikasi di KL-KL, kementerian dan lembaga.
04:37Persisnya bagaimana saya sedang pelajari satu dua hari ini, saya sudah punya gambaran.
04:42Tetapi intinya, masalah-masalah yang tadi disebut oleh Mas Lukman, itu juga sudah masuk radar kami.
04:49Dan pada titik itu misalnya saya membayangkan bahwa nanti ke depan perlu ada semacam pertemuan, katakanlah dengan para menteri.
04:57Jadi, untuk pertama misalnya, ya, tupoksi masing-masing apa sih? Begitu.
05:02Pasti semua kembali ke sana, kalau kita bicara KL.
05:05Apakah misalnya seorang menteri keuangan bisa berbicara tentang masalah-masalah yang berurusan atau erat sekali dengan luar negeri, misalnya?
05:15Begitu.
05:15Saya kira kalau masing-masing KL itu disiplin dengan tupoksinya, insya Allah ini sudah dalam jalurnya masing-masing.
05:24Begitu. Itu satu.
05:25Yang kedua tentu saja bahwa masing-masing menteri ini kan latar belakangnya sangat beragam.
05:30Ada yang pernah bersentuhan, bahkan akrab dengan komunikasi.
05:35Misalnya kepala KSP aja.
05:37Kepala KSP kan beragam.
05:38Kebetulan saya orang yang akrab dengan dunia media.
05:42Biasa berhadapan.
05:43Sehingga awareness saya tentang media mungkin lebih baik dibandingkan dengan kepala KSP yang backgroundnya tidak pernah bersentuhan dengan media.
05:51Karena itu memang perlu kalibrasi untuk katakanlah pimpinan di KL itu untuk lebih paham soal logika, media, protokol, komunikasi, dan
06:02seterusnya.
06:03Maksudnya KSP karena nggak ada background di media, artinya bisa dibilang bahwa Pak Dudung jangan dulu bicara ke publik atau
06:08ke publik.
06:09Tidak.
06:09Biar ngasih tau teman-teman, jangan wawancara Pak Dudung.
06:11Pak Dudung punya kemampuan komunikasi yang sangat baik.
06:16Nggak apa-apa.
06:16Ini kan bagian dari usulan dari Prof. Gun.
06:19Kan saya bilang tidak semua.
06:21Oh tidak semua.
06:21Tidak termasuk Pak Dudung.
06:23Pak Dudung punya pengalaman yang panjang.
06:26Oh KSP yang lain ini ya.
06:27Dengan media.
06:28Barangkali ya.
06:28Oh ya.
06:29Yang pertama ya.
06:29Ya ya ya.
06:30Jangan diteruskan mas.
06:31Nggak, nggak, nggak.
06:32Enggak, nggak, nggak, nggak.
06:34Ya ya ya.
06:35Ya itu yang pertama.
06:36Nah kemudian yang kedua, kalau bicara KSP sekali lagi tugasnya itu adalah soal pengendalian program prioritas nasional.
06:45Memang ada mengolah isu juga.
06:48Tetapi sepertinya ya saya kemarin ngobrol dengan Pak Dudung tidak ada tugas khusus untuk membantu komunikasi.
06:54Karena itu saya kulunuhun bahwa program press conference mingguan itu, itu saya bawa ke Bakom.
07:03Terlebih lagi memang sebelumnya sudah kerjasama KSP dengan Bakom.
07:07Jadi tradisi untuk tiap hari Rabu ada dialog, ada paparan mengenai pencapaian program prioritas, menghadirkan kementerian yang ya sedang aktual.
07:17Itu akan diteruskan di Bakom.
07:19Jadi persisnya biar publik clear lebih teknis nih.
07:23Saya tambahkan sedikit ya.
07:24Saya menjawab dulu, menjawab dulu Bang Mas Lukman.
07:27Belum, belum, belum.
07:28Kalau kepala Bakom itu panjang.
07:31Ini udah mulai kepala Bakom ya?
07:32Saya lupa, saya lupa.
07:34Saya masih ingatnya masih KSP aja.
07:35Tadi beliau kasih contoh mengenai apa yang terjadi di Bekasi Timur.
07:39Hemat saya justru pada hari ini itu contoh komunikasi yang cukup baik Mas Lukman.
07:44Pertama dari segi apa?
07:46Dari segi empati ya.
07:47Langsung datang Pak Dasko, langsung datang Pak Kapolda.
07:51Kemudian malam itu juga Pak Menteri, Pak Dirut KAI dan Pak Menhub sudah langsung tampil.
07:58Memberikan informasi.
08:00Pak Menhub yang terbilang jarang tampil.
08:02Tampil, memberikan informasi mengenai peristiwa tersebut, mengenai korban, dirawat di mana dan seterusnya.
08:09Lalu kemudian tadi siang beliau melakukan press conference lagi, mengupdate perkembangan.
08:14Lalu Bapak Presiden juga sudah datang.
08:17Tadi pagi sudah datang, nanti saya dapat kabar sore ini sepulang dari Cilacap akan datang lagi.
08:27Itu dari segi empati.
08:28Kemudian dari segi perhubungan.
08:32Pak Dirut KAI menjelaskan.
08:33Sebagai akibat dari adanya peristiwa tersebut, maka jalur hilirnya ditutup dulu.
08:41Untuk apa?
08:42Untuk pemeriksaan oleh KNKT.
08:43Ya, intinya.
08:44Mengenai peristiwanya diserahkan kepada KNKT untuk memproses.
08:48Lalu ditambahkan lagi.
08:50Sebagai akibat dari peristiwa ini, maka kemudian KRL ya.
08:53Kalau nggak salah ya, KRL.
08:54Yang tadinya sampai ke Cikarang, sekarang sampai ke Bekasi.
08:58Jadi, saya kira sih kalau bicara mengenai praktek komunikasi, kalau dalam kasus peristiwa di KAI tersebut, cukup bagus.
09:04Oke.
09:05Saya ke Mas Lukman.
09:07Mas Lukman, ini mumpung ada pakom.
09:10Jadi, ada anggapan mengatakan bahwa kali ini beberapa orang, para pihak, akademisi, pengamat itu,
09:16cara menyampaikan kritikannya kurang santun.
09:19Ada cara dan sebagainya.
09:21Atau sebaliknya, juga ada yang mengatakan, ini pemerintah ini diberi masukan kok.
09:27Padahal kan bicara pembangunan itu tidak hanya bicara soal fisik, tapi juga bicara soal ruang integritas publik kan.
09:32Anda melihat apa? Yang paling tidak Anda kan juga ada di gunakan moral.
09:36Ini bagus sekali nih pertanyaannya.
09:38Jadi, komunikasi itu kan dua belah pihak.
09:41Ya, itu kan.
09:44Maka, kenapa tadi saya di awal saya menyebut cinta?
09:47Cinta ya.
09:48Jadi, pemerintah itu kan melayani.
09:51Yes.
09:52Gitu ya.
09:53Abdi negara.
09:54Melayani.
09:55Jadi, posisinya terhadap rakyat itu jangan equal.
10:00Jangan memposisikan diri setara dengan rakyat.
10:02Yes.
10:03Pemerintah itu melayani.
10:05Mengayomi.
10:05Mengayomi.
10:07Jadi, segala sesuatunya itu basisnya harus cinta.
10:11Artinya, jangan resisten terhadap kritik sekasar atau sekeras apapun.
10:18Itu adalah sesuatu yang input masukkan.
10:22Dasarnya adalah bagaimana cara pandangi rakyat kita kan macam-macam gitu.
10:27Jadi, jangan dilihat caranya.
10:29Tapi, substansinya kalau terkait dengan dalam perspektif pemerintah.
10:32Karena dia punya kewajiban untuk melayani itu.
10:35Nah, jadi menurut saya tadi yang kaitannya dengan mitigasi tadi itu
10:40harus dibangun kesadaran mereka-mereka yang memang mendapatkan amanah
10:44untuk mengembangkan amanah menjadi pemerintah ini
10:48untuk tadi itu melihat apapun masukan atau kritik sekalipun
10:56itu bukan di persepsi sebagai musuh atau lawan.
11:00Tapi, itu adalah ya rakyatnya yang memang harus dilayani gitu.
11:05Jadi, perspektif atau paradigma ini yang menurut saya harus dibangun.
11:10Sehingga tidak ada tadi itu statement-statement yang near empati.
11:15Tidak ada statement yang mengecilkan.
11:19Misalnya, ketika ada tagar, kabur aja dulu.
11:23Lalu kemudian di respon dengan ya sudah kabur aja gitu.
11:26Dan kalau perlu gak usah kembali gitu.
11:27Itu kan statement yang seakan-akan rakyat itu bagian dari musuh gitu.
11:34Yang lalu kemudian di respon seperti itu.
11:35Nah, yang contoh-contoh begini ini menurut saya,
11:38ya Bakom saya pikir punya harapan untuk bagaimana menyamakan persepsi itu.
11:42Dan kita boleh berharap pada kepala Bakom yang baru ya.
11:45Iya, persepsi ini yang menurut saya perlu dibentuk terlebih dahulu
11:48sehingga pendekatannya semangatnya itu cinta terhadap apapun yang disuarakan oleh rakyatnya gitu.
11:55Oke, oke.
Komentar

Dianjurkan