00:00Pada platform Truth Socialnya, Trump menuliskan,
00:03Iran can't get their egg together, they don't know how to sign a non-nuclear deal.
00:09They better get smart soon.
00:11Iran tak becus, mereka tidak tahu cara mendatangani kesepakatan non-nuclear,
00:15sebaiknya mereka harus cepat pintar.
00:18Ini yang dituliskan oleh Trump di Truth Socialnya.
00:21Ya, saudara, dengan semakin gencatnya blokade AS terhadap kapal yang terafiliasi dengan Iran di Selat Hormuz,
00:27apakah Iran akan merespons?
00:29Kita akan bahas bersama dengan pengamat Militer Center for Intermastic and Diplomatic Engagement atau CIDE,
00:35Anton Ali Abbas.
00:37Selamat malam, Mas Anton.
00:39Selamat, Mas Ibrahim.
00:41Mas Anton, ini kita tahu, Trump tarik ulur soal akhiri perang,
00:44tapi tampaknya blokade di Selat Hormuz masih ketat dilakukan oleh Trump di sana.
00:48Apa sebetulnya goal Trump dengan tekanan psikologis ke Iran seperti itu?
00:52Ya, Trump jelas masih mencoba memainkan kartu untuk memperpanjang blokade Selat Hormuz.
01:02Karena saya melihatnya bahwa kelihatannya strategi ini akan jauh lebih dipilih ketimbang kemudian memulai konflik lagi kembali,
01:14misalnya mengeskalasi.
01:15Karena tentu saja ketika misalnya itu dieskalasi kembali, harganya akan lebih mahal.
01:20Sejauh ini dalam 59 hari, misalnya sudah lebih dari 65 miliar USD yang sudah habis.
01:27Jadi, saya melihatnya bahwa strategi ini akan coba untuk diperpanjang.
01:32Apalagi kemudian kalau misalnya kita lihat dari tweetannya di media sosial,
01:38itu kan jauh, dia semakin untuk merendahkan Iran.
01:41Bagaimana misalnya Iran sedang menuju state of collapse,
01:45kemudian mereka tidak tahu pemimpinnya ini bagaimana,
01:48dan Iran mengemis-gemis terkait membuka Selat Hormuz, misalnya.
01:52Itu yang saya melihatnya bahwa kemudian meneruskan blokade Selat Hormuz,
02:00itu dugaan saya adalah kayaknya kelihatannya lebih rendah risikonya ketimbang
02:06misalnya mereka melanjutkan perangan kinetik Mas Ibrahim.
02:12Saya melihatnya seperti itu.
02:13Tapi ini kan kedua pihak, AS dan juga Iran ini masih bersikukuh dengan tuntutan masing-masing
02:19dalam proposal negosiasi.
02:22Sampai kapan mereka ini akan bertahan pada tuntutan masing-masing?
02:27Ya, kalau misalnya kita lihat ketika kita bicara deadline yang tanpa ada kepastian,
02:33jadi kan ini nggak ada deadline-nya ya.
02:34Jadi, kencatatan senjata ini seakan-akan tidak ada akhirnya.
02:37Kalau sebelumnya hanya dua minggu, tapi sekarang kan tidak ada deadline-nya.
02:40Walaupun itu saya melihatnya adalah itulah strategi Trump.
02:43Jadi, main tarik ulurnya, dia tidak ingin lihat bahwa dia terkesan ambigu,
02:48dia terkesan tidak jelas, dan lain-lain.
02:49Justru dia kemudian mencoba untuk melenturkan.
02:52Kapanpun dia ingin berhenti, ya saya tidak ada masalah.
02:54Itu satu.
02:55Kedua, memang jadi kelihatannya,
02:59jadi kelihatannya bahwa ketika kita bicara tentang gejatan senjata,
03:02ini gejatan senjata sebenarnya benar atau tidak benar.
03:05Kalau saya kan selalu duganya adalah paus, jeda.
03:07Jadi, bahwa masing-masing ini kemudian melakukan konsolidasi,
03:11baik dari Amerika Serikat maupun juga misalnya dari Iran.
03:15Bagaimana mereka kemudian mempersiapkan kekuatan bersenjatanya,
03:18itu satu.
03:20Kemudian, bahwa misalnya tetap kemudian diarahkan,
03:26lalu kemudian kapal-kapal perangnya juga tetap siaga,
03:31lalu hormus juga tetap menjadi salah satu titik pressure.
03:35Dengan kata lain, bahwa kalau misalnya apakah ini selangkah lagi menuju eskalasi,
03:40itu adalah salah satu potensi luaran yang kalau kita melihat kondisi seperti ini.
03:46Jadi, perdama apa namanya,
03:49jeda ataupun juga gencatan senjata,
03:51jadi seakan-akan ini sebenarnya ada atau tidak ada.
03:53Kenapa? Karena masing-masing pihak itu melakukan konsolidasi,
03:56walau ya ada etikat baik,
03:58misalnya Iran melakukan safari,
04:01pindah apa namanya, selama abad dan lain-lain.
04:04Tapi di sisi lain, mereka jelas tetap menyiagikan.
04:07Mas Anton, tapi apakah Iran ini juga ikut mengkalkulasi soal risiko
04:12jika AS melakukan blokade berkepanjangan?
04:14Begitu juga apakah AS juga mengkalkulasi
04:17seberapa kuat mereka menekan Iran di Selat Hormuz ini?
04:20Ya, ini kan memang jadi ketika kita bicara tentang blokade Selat Hormuz,
04:24sudah jadi aduk kuat.
04:25Siapa yang kuat terhadap tekanan?
04:29Jadi, ini kan bagi saya melihatnya,
04:32Iran masih ada dua kuncian lagi.
04:34Satu adalah dia menutup Selat Bab El-Mandeb melalui proksinya,
04:38Huti, di Eman, bagian bawah.
04:40Yang kedua adalah dia mengganggu kabel bawah laut.
04:42Masih ada dua kuncian lagi.
04:43Sementara Amerika Serikat cuma fokusnya adalah
04:46bagaimana dia cuma untuk memblokade itu pun,
04:49itu pun berada di Laut Arab.
04:51Walaupun misalnya kalau kita membandingkan dari aset,
04:54dia sudah ada tiga kapal induk nih di kawasan.
04:56Tapi kan dia tidak berani untuk merangsak.
04:58Kenapa?
04:59Apalagi kita melihat bahwa ini menjelang 1 Mei,
05:03ini sudah 60 hari.
05:04Ini kalau 60 hari,
05:05perpanjangannya butuh approval lagi.
05:07Nanti duitnya dari mana dan lain-lain.
05:08Nah, ini akan kemudian masih menjadi kalkulasinya.
05:12Jadi kalau dari Iran sendiri,
05:13Iran jelas berhitung.
05:15Tapi,
05:16jadi kan kalau misalnya Amerika Serikat
05:17soalnya mengklaim bahwa dia sudah jauh merosot kekuatan.
05:21Iya.
05:21Tapi dari sisi lain,
05:22kemampuan misalnya,
05:24misalnya ataupun juga
05:25unman-nya,
05:27drone-nya,
05:28itu drone bawah laut,
05:29drone permukaan,
05:30darah,
05:31itu masih cukup stabil.
05:32Berbeda dengan misalnya,
05:34ada banyak laporan menyebutkan bahwa
05:36ketika kita bicara tentang misalnya stok,
05:38misalnya Amerika Serikat itu menurutnya sudah cukup dalam,
05:4150 persen.
05:42Nah, ini kan juga Amerika harus berhitung.
05:44Mas Anton,
05:44apa yang bisa membuat Iran sepede ini
05:47dengan kalkulasinya?
05:49Kartu AS apa yang dimiliki Iran
05:50untuk menghadapi semua ini?
05:53Saya melihat Iran masih ada dua lagi.
05:55Kalau misalnya dia pengen apa?
05:57Mengganggu ya,
05:58mengganggu internasional,
05:58masih ada dua lagi.
05:59Karena kalau misalnya dia ganggu,
06:00setelah Bapak El-Manda,
06:01Pak Jimisalnya,
06:02itu tekanan yang akan dilakukan oleh negara Teluk
06:04akan jelas menjadi-jadi.
06:05Kenapa?
06:05Karena mereka memblok.
06:06Jadi,
06:07blok ada itu juga akan terdampak pada negara Teluk.
06:09Sehingga mereka tidak bisa melakukan ekspor-impor.
06:11Oke.
06:11Gitu ya.
06:12Baik.
06:15Lalu belum lagi,
06:16misalnya ada kuncian lain,
06:17ada yang gangguan bawah laut.
06:18Kedua,
06:20kenapa kemudian Amerika Serikat
06:21tidak mau berani ke dalam?
06:23Karena mereka juga berhitung.
06:24Satu,
06:25ada kemampuan perang ranjau.
06:26Kedua,
06:27ada perang,
06:28apa,
06:28swarm attack-nya.
06:29Yang ini kecil,
06:31tapi bergrombol,
06:32itu jelas membahayakan.
06:33Ini,
06:34alat-alat murah,
06:35itu akan menyerang alat-alat mahal.
06:37Ini juga jauh,
06:38mereka berhitung.
06:39Itulah kenapa kemudian,
06:41misalnya,
06:41blok ada itu kan dilakukan di Semenanjung A,
06:44di Laut Arab,
06:44dan Samudera India.
06:45Dia tidak mau berani meraksa ke dalam.
06:48Belum lagi,
06:48misalnya,
06:49kalau kita lihat,
06:50bagaimana kapal induk George Bush,
06:53misalnya,
06:53dia harus memutar ke bawah Afrika.
06:55Dia tidak mau,
06:56kenapa?
06:57Karena takut.
06:58Jadi,
06:58ada kalau diperhitungkan.
07:00sekalipun,
07:01misalnya,
07:01Iran itu dibilang sudah turun,
07:03apa namanya,
07:04kapabilitasnya,
07:05tapi tetap diperhitungkan oleh Amerika.
07:06Oke, kami tangkap.
07:07Dan itu sudah sehat aktif.
07:08Baik.
07:09Mas Anton,
07:10terima kasih untuk ulasannya di program Kompas Malam.
07:13Pengamat Militer Center for Intermastic and Diplomatic Engagement,
07:16atau CIDE Anton Ali Abbas.
07:18Terima kasih untuk ulasannya, Mas Anton.
07:19Terima kasih.
Komentar