- 1 jam yang lalu
- #prabowo
- #reshuffle
- #menteri
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menegaskan penunjukannya merupakan bentuk kepercayaan presiden untuk memperkuat komunikasi kabinet.
Qodari juga membantah anggapan dirinya menggantikan figur lama karena pergeseran kepercayaan Presiden.
Sementara itu Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto menilai persoalan utama pemerintah saat ini bukan sekadar figur, melainkan belum solidnya desain komunikasi antarlembaga.
Menurut Gun Gun, tanpa sistem komunikasi yang rapi, kebijakan pemerintah justru berisiko menimbulkan paradoks di ruang publik.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/T6p9C7jEQzE
#prabowo #reshuffle #menteri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666118/presiden-prabowo-reshuffle-kabinet-lagi-qodari-kepala-bakom-pengamat-soroti-komunikasi-pemerintah
Qodari juga membantah anggapan dirinya menggantikan figur lama karena pergeseran kepercayaan Presiden.
Sementara itu Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto menilai persoalan utama pemerintah saat ini bukan sekadar figur, melainkan belum solidnya desain komunikasi antarlembaga.
Menurut Gun Gun, tanpa sistem komunikasi yang rapi, kebijakan pemerintah justru berisiko menimbulkan paradoks di ruang publik.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/T6p9C7jEQzE
#prabowo #reshuffle #menteri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666118/presiden-prabowo-reshuffle-kabinet-lagi-qodari-kepala-bakom-pengamat-soroti-komunikasi-pemerintah
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Bersambung...
00:04...Berangkan menilai negara politik.
00:11Mungkin karena banyaknya inisiatif kita, banyaknya terobosan kita, banyaknya kebijakan kita,
00:20mungkin narasi kerakyat kurang sempurna, kurang intensif.
00:28Ini saya kira perlu kita perbaiki komunikasi kita kepada rakyat.
00:41Jadi jangan lagi terulang seperti perode-perode sebelumnya.
00:44Dan yang paling penting, kalau bisa, jubil-jubil pemerintah itu harus berani head to head
00:49dengan influencer, dengan genzi yang hampir setiap saat selalu speak up dan kritis kepada pemerintah.
01:15Selamat malam, kami memulai satu meja The Forum malam ini
01:20dengan ucapan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya
01:24untuk seluruh korban kecelakaan kereta api di Bekasi Timur.
01:29Termasuk rekan kami Nur Aynia Eka Rahmadi.
01:36Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinet.
01:39Kali ini catatan diberikan pada tim komunikasi istana.
01:43Presiden seperti ingin mendorong agar kabinetnya lebih aktif dan solid dalam mengelola komunikasi pemerintah.
01:49Otak ati kabinet, ada apa dengan komunikasi istana?
01:53Inilah satu meja The Forum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
01:57Sudah hadir di Studio Kompas TV untuk membahas tema malam ini,
02:01Mas Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama 2014-2019.
02:05Apa kabar, Mas Lukman?
02:06Baik, baik.
02:07Sehat selalu?
02:09Alhamdulillah.
02:09Alhamdulillah.
02:12Ada Muhammad Khodari, saya harus hati-hati, takut salah posisi.
02:17Kepala Badan Komunikasi Pemerintahan atau BAKOMERI.
02:21Minggu lalu masih KSP ya?
02:22Masih KSP.
02:23Tepat sekali. Selamat untuk jabatan barunya.
02:26Bismillah.
02:27Semoga bisa memenuhi keinginan Presiden dan rakyat Indonesia.
02:30Sudah, saya tambah panjang, Mas Yogi.
02:32Lalu ada juga Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik sekaligus Dekan Uin Sarif Hidayatullah, Jakarta, Profesor Gun-Gun Herianto.
02:43Apa kabar, Mas?
02:44Kabar baik, Mas Yogi.
02:46Kayaknya lagi menyiapkan tulisan untuk komunikasi pemerintah.
02:49Betul, betul.
02:50Untuk kolom di Kompas.
02:52Memang hari ini kita harus sering-sering banyak menulis untuk pemerintah ini.
02:56Mas Bung Kodari, Bung Kodari, selamat dulu atas jabatannya.
03:01Bismillah.
03:02Sekali lagi, Bismillah.
03:03Iya.
03:05Orang lama, pos baru.
03:07Dan usai pelantikan, Bung Kodari mengatakan bahwa saya ini adalah orang yang dalam kurun waktu kurang dari dua tahun,
03:15sudah dilantik tiga kali.
03:17Iya.
03:17Dan orang yang pertama ada di awal pemerintahan Prabowo Gibran.
03:21Untuk sementara rekornya ada di saya ini, Mas.
03:23Oh, gitu.
03:24Tiga kali lantik.
03:24Apa maknanya itu? Anda ingin mengatakan bahwa saya adalah orang yang sekarang sedang dipercaya oleh Presiden
03:31sehingga mendapatkan posisi baru untuk memastikan bahwa komunikasi pemerintah itu jauh lebih baik
03:39atau setidaknya bisa memahami apa yang seringkali disampaikan oleh Presiden kepada publik?
03:44Saya kira sebetulnya barangkali Presiden melihat ada akumulasi pengalaman di situ yang semakin relevan
03:52untuk posisi-posisi yang kemudian ditugaskan kepada saya.
03:57Misalnya, pertama kali saya menjadi Wakil Kepala Staf Kepresidenan.
04:01Saya terus terang bersyukur sekali posisi itu dimulai dengan Wakil Kepala Staf Kepresidenan
04:09karena saya kan sepanjang usia itu sebetulnya berada di luar pemerintahan.
04:15Walaupun saya berinteraksi dengan teman-teman di pemerintahan.
04:19Tetapi periode itu memberikan saya kesempatan untuk agak lebih banyak bisa observasi.
04:25Tidak harus yang di depan.
04:28Dan artinya, oh begini, oh begitu.
04:32Jadi itu proses pembelajaran yang luar biasa.
04:35Dan kemudian kesempatan yang kedua yang ditugaskan kepada Bapak Presiden adalah menjadi Kepala Staf.
04:41Sesuatu yang dalam tanda kutip itu mungkin lebih mudah buat saya.
04:46Karena apa? Karena saya sudah memahami organisasinya.
04:50Saya sudah memahami cara kerjanya.
04:53Saya mungkin sudah melihat juga ruang-ruang yang bisa dikembangkan dari tempat itu dan itulah yang dijalani.
05:02Nah, yang menarik adalah pada saat saya dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan,
05:07itu ada tugas tambahan dari Bapak Presiden.
05:11Dan memang di dalam perpres KSP itu ada pasal di mana Presiden bisa memberikan tugas lain di luar yang tertulis
05:20di perpres.
05:21Kalau bicara KSP kan tugasnya satu, mengendalikan program-program prioritas.
05:26Kemudian yang kedua, mengelola isu-isu strategis.
05:30Nah, waktu itu ada satu tugas dari Bapak Presiden yaitu membantu proses komunikasi.
05:35Cara saya untuk membantu proses komunikasi itu pertama adalah dengan membentuk gugus tugas media di KSP.
05:44Yang di dalamnya itu ya proses-proses komunikasi, produk-produk komunikasi itu kita tingkatkan.
05:53Dan yang kedua, beberapa kegiatan memang terkait dengan komunikasi.
05:58Misalnya program press conference ya rutin setiap hari Rabu,
06:04melaporkan perkembangan program-program prioritas,
06:08mengundang menteri-menteri yang topiknya sedang relevan di media masa atau di masyarakat
06:14untuk ketemu dengan teman-teman wartawan.
06:17Nah, saya melihat akumulasi dari proses itu yang mungkin membuat Presiden memberikan
06:23dan satu pendugasan baru kepada saya, Pak Dari, sebagai Kepala Badan Komunikasi.
06:27Begini, Pak Dari yang mesti dilihat adalah ini jadi perbincangan, di ruang redaksi juga perbincangan.
06:33Wih, menggantikan seorang Anggaraka Prabowo yang adalah orang kepercayaan Presiden sejak lama,
06:39apakah ini bisa diartikan bahwa Presiden sudah berpindah kepercayaannya
06:43dari Anggaraka Prabowo kepada seorang Muhammad?
06:45Tidak.
06:45Oh tidak.
06:46Cepat sekali jawab tidaknya, diayun-ayun dikit gitu.
06:50Jangan langsung tidak.
06:52Karena memang jawabannya sudah ada.
06:54Oh iya iya, jadi gimana?
06:55Jadi begini, saya terbuka saja, Presiden itu belakangan sering berkomunikasi dengan,
07:03berkomunikasi tentang komunikasi dengan saya, dengan Pak Anggaraka, dan Pak Hasan Nasbi.
07:11Oke.
07:12Oh jadi sudah ada pertemuan dulu?
07:13Sudah ada diskusi-diskusi, telepon-telepon.
07:17Jadi kalau ada satu hal yang beliau ingin tanyakan,
07:21atau satu hal yang beliau ingin mendapatkan saran atau masukan,
07:24itu teleponnya itu kita biasanya tiga itu, istilahnya apa itu?
07:30Conference call.
07:31Oh, conference call.
07:31Ya termasuk misalnya waktu beliau mau ketemu dengan beberapa tokoh yang diskusi di Hambalang itu.
07:40Itu, sorry, termasuk pernyataan Presiden soal kita akan tertipkan.
07:45Nah kalau soal kita akan tertipkan, sekali lagi saya klarifikasi ya,
07:49hemat saya yang mau ditertipkan itu bukan pengamat,
07:51tapi mafia dan koruptor.
07:53Kan sudah pernah dibahas di satu jawab itu.
07:55Kan ini audiensnya beda.
07:57Betul, betul, betul.
07:57Iya, iya, iya, ini serinya berbeda.
07:59Iya, beda.
08:00Jadi saya meluruskan bahwa pernyataan Presiden itu harus dibaca secara runtut,
08:04jadi kata ditertipkan itu lahir bukan setelah kata pengamat,
08:08tapi setelah kata mafia dan koruptor.
08:10Saya menyampaikan di sini supaya Prof Gun-Gun dan Mas Lukman lebih rileks.
08:15Contohnya begini, waktu ibu yang mau ditertipkan.
08:18Presiden bilang, ini yang diundang siapa?
08:21Saya misalnya mengusulkan,
08:22Pak, ini tema ekonomi sedang menjadi perhatian.
08:26Karena itu saya usul agar mengundang ekonom.
08:29Misalnya begitu.
08:31Dan lahirlah dari diskusi itu Dede Basri dan Muhammad Faisal misalnya.
08:38Sebagai contoh.
08:39Itu contoh bagaimana proses komunikasi itu dibahas, didiskusikan,
08:45mendapatkan saran masukan secara kolektif.
08:48Dan Bapak Presiden sangat terbuka dengan pendapat dan saran.
08:52Dan itu sekaligus menjawab misalnya,
08:54bahwa Presiden maunya saja atau Presiden tidak terbuka terhadap saran dan masukan.
08:58Kita cukup dulu sementara.
08:59Kalau ditanya, kembali kepada pertanyaan tadi.
09:02Apakah beralih?
09:03Enggak.
09:03Karena kepercayaan itu bersifat kolektif.
09:06Oke, sementara kita.
09:07Saya ke Prof Gun-Gun.
09:08Prof, kalau bicara seolah otak-atik,
09:11kita tahu jawaban normatifnya adalah itu kan hak prerogatif.
09:14Tapi kali ini saya ingin mendalami begini.
09:17Ibarat kesebelasan itu semak bola.
09:19Kalau timnya lagi leading, itu nggak ganti-ganti pemain.
09:23Tapi kalau lagi ketinggalan,
09:25terus kemudian last minute dia udah ngotot,
09:27dia akan ganti.
09:28Backnya diganti, pemain tengahnya diganti.
09:30Apakah sama juga ini dengan tim komunikasi?
09:34Atau mungkin lebih luas lagi?
09:35Bacaan Prof Gun-Gun.
09:36Saya lihat memang kemarin bermasalah.
09:39Komunikasi kan diakui juga sejak 25 April 2025.
09:44Presiden.
09:45Bahwa tata kelola komunikasi kita masih kurang bagus.
09:48Oleh apa? Serangan, orang serangan-serangan makar atau gimana?
09:52Menurut saya, itu kan reaksi saja.
09:55Aksi yang harus dilakukan sebenarnya adalah
09:58membuat semacam desain komunikasi kelembagaan.
10:02Yang itu melintasi KSP, BAKOM, KOMDIJI, dan kementerian-kementerian teknis lainnya.
10:11Ini yang sering disebut dalam bahasa teknokrasi sebagai protokol komunikasi kelembagaan.
10:18Saya mungkin konfirmasi juga ke Bangko dari apakah di era Pak Prabowo sudah ada satu desain protokol komunikasi kelembagaan
10:28yang kemudian itu dari A ke Z menjelaskan posisi peran fungsi sekaligus ada 12 item sebenarnya standar internasional
10:39dalam konteks protokol.
10:42Contoh misalnya, information role, peran informasi, narasi utama
10:46yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mereka yang mewakilnya jadi spokesperson dari pemerintah.
10:55Kemudian yang lain lagi misalnya soal apa yang kemudian dilakukan jika ada krisis.
11:03Nah hal-hal seperti ini, ini nggak bisa parsial BAKOM saja, parsial KSP saja, parsial kementerian teknis saja.
11:12Kalau itu terjadi, maka menteri dengan menteri bisa berkelahi di Twitter atau di X.
11:17Masih ingat kasus KSP dengan kementerian?
11:20Hari ini terjadi kan?
11:22Atau misalnya tiba-tiba muncul pernyataan yang sebenarnya sepertinya spontan,
11:28tetapi pernyataan pejabat publik itu pasti basisnya adalah intensi.
11:34Nggak ada pernyataan aktor politik high level yang harus diamini sebagai pernyataan yang spontan.
11:39Nggak ada. Itu harus diletakkan dalam koridor pernyataan official, resmi.
11:47Kenapa? Melekat pada dirinya, itu adalah jabatan publiknya.
11:51Dan Prof. Gun-Gun melihat fenomena ini ada di dalam pemerintahan?
11:55Iya kan, sambung-menyambung nih.
11:57Dan itu harus dibenahi, makanya saya yakin Presiden mengevaluasi itu.
12:02Makanya kemudian dilakukan resupple.
12:04Sampai muncul kepala bakom bakom.
12:07Iya kan, kalau misalnya KSP, kemudian bakom sekarang tambah ada satu penasehat Presiden bidang komunikasi.
12:15Artinya komunikasi dalam prioritas Presiden harusnya menjadi peran di tengah, arus utama lagi.
12:22Bukan lagi peran pinggiran yang sifatnya instrumentalistik, tidak berdampak apa-apa.
12:27Dan luar biasa kalau kebijakan tanpa komunikasi kebijakan, program prioritas tanpa komunikasi prioritas itu yang ada adalah paradoks.
12:37Paradoks. Oke.
12:37Saya ke Mas Lukman nih. Mas Lukman ada di kabinet pernah dalam praktek langsung berkomunikasi.
12:47Baik menjalankan komunikasi ke publik ataupun dari Presiden juga.
12:52Kalau Anda melihat kan sekarang ini fenomenanya ada orang-orang lama yang sudah keluar, Hasan Nasbidi tarik lagi dengan atribusi
13:03putusan khusus komunikasi.
13:06Ada juga karding yang sudah pernah di kabinet masuk lagi.
13:11Anda apa yang Anda baca dari sini?
13:16Sebenarnya Presiden itu ingin melakukan konsolidasi politik kah atau memang ingin memperbaiki bicara soal kaitan dan kinerja?
13:26Ya tentu kalau ditanyakan apa motifnya dari otak atik kabinet ini saya tergelitik juga dengan temanya ini otak atik kabinet
13:35ada apa dengan komunikasi istana?
13:37Saya pikir tadinya ada apa dengan cinta.
13:40Ada apa dengan cinta.
13:41Karena komunikasi itu kan basisnya harus cinta.
13:43Itu nanti bakom yang baru nanti menjelaskan kalau ada apa dengan cinta.
13:46Jadi tentu motifnya beragam tapi saya ingin batasi karena ini temanya tentang komunikasi.
13:51Saya menduga Bapak Presiden itu resah dengan pola komunikasi kabinetnya.
13:58Terbukti dengan adanya pergantian ini.
14:02Dan mudah-mudahan pergantian ini betul-betul mampu mengatasi keresahan beliau gitu.
14:10Jadi memang banyak kalangan yang menilai bahwa yang mendasar itu terkait dengan koordinasi.
14:18Koordinasi.
14:18Komunikasi itu karena ini kan tim ya seperti Anda tadi menganalogikan sepak bola gitu kan.
14:26Nggak bisa perorangan.
14:28Ini sebuah tim.
14:29Pemerintahan itu satu tim gitu.
14:31Nah kalau di antara anggota kabinetnya itu tidak hanya sekedar berbeda tapi bahkan saling menegasikan satu dengan yang lain ya
14:41publik tentu akan sangat resah.
14:43Dan Bapak Presiden tentu juga resah.
14:45Nah jadi koordinasi ini mendasar.
14:49Saya ingin menggarisbawahi yang disampaikan oleh Pak Gun-Gun tadi itu bahwa memang masalah itu selalu muncul dari statement-statement
14:57yang muncul dari anggota kabinet yang...
15:02Dengan intensi tertentu.
15:03Iya intensi tertentu mungkin karena keterbatasan informasi terkait dengan bidang tugas dan tanggung jawabnya sehingga lalu kemudian out of context
15:14begitu ya statementnya atau near empathy banyak sekali yang seperti tidak memperhatikan empati publik begitu.
15:24Atau bahkan justru saling bertentangan satu dengan yang lain.
15:29Nah sehingga dalam pikiran saya terkait dengan koordinasi ini sangat mendesak diperlukan adanya semacam tim mitigasi.
15:40Jadi kalau tadi itu istilahnya adalah...
15:42Oh jadi kalau ada yang kira-kira blunder gitu harus segera di...
15:46Harus segera gitu.
15:47Misalnya kalau ada...
15:49Sebetulnya yang dianggap kontroversi dari Presiden Menteri juga gak berani mungkin.
15:53Ya misalnya sekedar contoh ini sekedar contoh saja.
15:55Contoh contoh.
15:56Terkait selat Malakom yang baru.
15:58Ini isu selat Malaka gitu.
16:00Iya ya.
16:01Menteri Keuangan statementnya seperti itu.
16:05Semua sama tahu.
16:05Beliau ingin dipajakilah seperti selat Hormus gitu.
16:10Lalu kemudian dalam waktu yang sangat singkat Menlu membantah.
16:15Tidak hanya berbeda tapi menegasikan itu.
16:19Belum lagi seluruh blanket Air Flight yang Amerika.
16:21Misalnya Panglima mengatakan bahwa kita siaga aku.
16:24Iya ya ya.
16:24Lalu kemudian Kasat menyatakan tidak ada instruksi.
16:28Oke.
16:29Jadi ini tidak hanya berbeda tapi bahkan saling menegasikan.
16:34Saling menegasikan.
16:35Nah publik ini perlu kejelasan.
16:38Jadi yang saya maksud mitigasi itu kalau misalnya di...
16:40Memang tidak terhindar karena apalagi ini kabinetnya semakin gemuk kan begitu.
16:44Di antara anggota kabinet bisa.
16:45Saja berbeda.
16:47Tapi butuh satu instrumen koordinasi ya.
16:49Tapi harus ada satu yang mengklarifikasi.
16:52Oke.
16:52Seperti kasus sekarang ini tentang tragedi kecelakaan Bekasi Timur ini.
16:58Ini kan publik menunggu.
16:59Gerbongnya dipindahin.
17:00Bukan itu.
17:01Tapi poin saya.
17:02Tapi poin saya publik itu menunggu.
17:04Betul publik tahu bahwa perlu waktu untuk investigasi dan lain sebagainya.
17:09Tapi publik ingin mendapatkan informasi bahwa pemerintah bekerja
17:13terkait dengan insiden atau kecelakaan ini.
17:17Sehingga progresnya ada di mana.
17:20Masalahnya apa.
17:21Dan seterusnya dan seterusnya.
17:23Nah ini siapa ini yang menyuarakan?
17:26Jadi yang saya maksud mitigasi itu begitu.
17:28Kita akan menunggu.
17:29Terima kasih.
17:30Terima kasih.
17:31Terima kasih.
Komentar