- 11 jam yang lalu
- #bankindonesia
- #birate
- #ekonomi
KOMPAS.TV - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 2122 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen.
Bagaimana kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi?
Simak dialog Kompas Bisnis bersama Firman Mochtar, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia.
Baca Juga BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Jaga Stabilitas dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi di https://www.kompas.tv/ekonomi/665950/bi-tahan-suku-bunga-4-75-persen-jaga-stabilitas-dan-dorong-pertumbuhan-ekonomi
#bankindonesia #birate #ekonomi
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/665951/full-bi-tahan-suku-bunga-4-75-persen-bagaimana-arah-kebijakan-moneter-ke-depan
Bagaimana kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi?
Simak dialog Kompas Bisnis bersama Firman Mochtar, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia.
Baca Juga BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Jaga Stabilitas dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi di https://www.kompas.tv/ekonomi/665950/bi-tahan-suku-bunga-4-75-persen-jaga-stabilitas-dan-dorong-pertumbuhan-ekonomi
#bankindonesia #birate #ekonomi
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/665951/full-bi-tahan-suku-bunga-4-75-persen-bagaimana-arah-kebijakan-moneter-ke-depan
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Anda menyaksikan Sapa Indonesia Pagi dalam segmen Kompas Bisnis bersama saya Putri Oktaviani.
00:06Dalam merapat Dewan Gubernur yang digelar pada 21 hingga 22 April 2026,
00:13Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI rate sebesar 4,75%.
00:17Keputusan ini diambil untuk mempertahankan stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
00:30Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diselenggarakan pada 21 hingga 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 4
00:42,75%.
00:43Suku bunga deposit facility sebesar 3,75% dan suku bunga lending facility sebesar 5,5%.
00:52Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 dan 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 4,75%.
01:08Suku bunga deposit facility sebesar 3,75% dan suku bunga lending facility sebesar 5,5%.
01:20Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter
01:32dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
01:43Kedepan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneteri yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah
01:55dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.
02:10Berbagai indikator terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan 1,2026 diproyeksikan meningkat, ditopang oleh permintaan domestik.
02:19Konsumsi rumah tangga yang naik didukung keyakinan pelaku ekonomi dan kondisi penghasilan yang terjaga,
02:26serta kenaikan permintaan selama perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Fitri 1447 Hijriah.
02:35Belanja pemerintah juga meningkat seiring pemberian tunjangan hari raya dan kenaikan belanja sosial,
02:41serta berbagai insentif lainnya, termasuk transfer ke daerah.
02:46Kedepan, berbagai kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat di tengah menurunnya prospek perekonomian global.
02:53Berbagai respons kebijakan diperkuat untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi dunia
02:59dan mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik.
03:03Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 dalam kisaran 4,9 persen sampai 5,7 persen.
03:16Sementara itu, kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur
03:27Tengah.
03:27Bank Indonesia terus meningkatkan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,
03:33baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.
03:42Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.
03:49Dengan langkah tersebut, nilai tukar rupiah dapat dijaga relatif stabil yang pada 21 April 2026 tercatat sebesar 17.140 per
04:01dolar AS atau melemah 0,87 persen PTP dibandingkan dengan level akhir Maret 2026.
04:09Kedepaan Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat,
04:16didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
04:26Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah termasuk sinergi yang erat antara kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal
04:34untuk memitigasi dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik akibat perang di Timur Tengah,
04:42sehingga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga baik.
04:46Sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan KSSK juga dipererat untuk turut menjaga stabilitas sistem keuangan
04:55dan mendorong pembiayaan bagi program astacita pemerintah.
05:00Tim Liputan Kompas TV, Jakarta
05:10Saudara Rapat Dewan Gubernur atau RDG Bank Indonesia pada 21 hingga 22 April 2026 memutuskan
05:17untuk mempertahankan BI rate sebesar 4,75 persen.
05:21Bagaimana kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi kompas bisnis?
05:28Akan tanya langsung ke Firman Mukhtar, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia.
05:33Selamat pagi Pak Firman.
05:35Selamat pagi Pak Oktah, salam sehat.
05:38Salam sehat juga Pak Firman.
05:40Pak Firman, kita tahu kemarin juga BI mempertahankan BI rate begitu.
05:45Kemudian bagaimana asesan Indonesia terhadap resiko saat ini terjadi konflik geopolitik AS-Israel dan juga Iran
05:51serta dampaknya terhadap perkembangan maupun prospek perekonomian global?
05:57Terima kasih Pak Oktah.
05:59Memang kita terus mencermati bagaimana perkembangan konflik geopolitik di timur.
06:04Karena ini menjadi tiga faktor yang bisa berpengaruh terhadap ketidakpastian ekonomi global yang masih terus berlanjut.
06:12Perang yang mulai terjadi sejak akhir Februari ini terus berdampak dengan ekonomi global.
06:17Tiga jalur yang berpengaruh dan menjadi perhatian.
06:21Dan kita tentu bagaimana terkait dengan harga komoditas.
06:24Kita melihat perang ini yang berdampak bagaimana dinamika di Selat Hormuz berdampak terhadap harga minyak dunia
06:32yang dalam perkembangannya bahkan sempat di atas 100 dolar per barrel.
06:37Itu yang pertama.
06:38Jalur komoditas ini juga tidak hanya berhenti di harga minyak.
06:41Tentunya akan terus berlanjut ke harga komoditas lainnya baik komoditas yang sifatnya.
06:46Kementerian walaupun substitusi atas komoditas minyak tersebut.
06:51Kami melihat, sudah melihat berbagai pergerakan di harga komoditas.
06:56Bukan hanya di minyak tadi juga harga komoditas lainnya.
06:59Bahkan juga yang menjadi perhatian kita adalah harga komoditas pangan.
07:04Karena dampaknya terhadap pupuk yang juga bisa berpengaruh ke pangan.
07:08Itu yang pertama.
07:09Yang kedua tentunya melalui jalur pasar keuangan.
07:13Ketidakpastian geopolitik ini sudah menjelar ke bagaimana kita melihat ketidakpastian di pasar keuangan.
07:20Aliran modal semakin volatile, terus bergerak.
07:23Dan ini meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan dan memberikan tekanan ke negara berkembang.
07:28Yang ketiga adalah jalur perdagangan dan jalur produksi.
07:33Gangguan-gangguan produksi sudah mulai terjadi akibat perang ini.
07:37Produksi minyak khususnya sudah mulai terganggu.
07:40Dan tentunya selat kormos yang adalah 20% dari bagaimana transportasi, distribusi minyak dunia.
07:48Ini berdampak terhadap aliran perdagangan dunia.
07:52Secara keseluruhan Mbak Okta, kami melihat ini semakin menurunkan prospek perekonomian global.
07:58Bila di RDG Maret lalu kami sudah revisi menjadi 3% perekonomian dunia.
08:03Sekarang semakin lemah menjadi 3,0% pada tahun 2026.
08:08Ini yang menjadi perhatian kita, Mbak.
08:10Oke, tadi menarik soal bagaimana salah satu jalurnya adalah harga komoditas.
08:15Nah, bagaimana dampak kenaikan harga komoditas global itu?
08:17Di antara tadi juga Pak Firman sempat nyebut soal harga minyak begitu Pak,
08:20terhadap inflasi dunia dan pengaruhnya terhadap arah kebijakan monitor global, termasuk FFR.
08:26Ya, tentunya harga komoditas ini akan berhampat terhadap berbagai harga-harga produk lainnya.
08:33Itu yang menjadi perhatian kita.
08:36Bukan hanya seberhenti di sana, juga bagaimana jalur produksi barang yang semakin berkurang.
08:41Ini berdampak terhadap dinamika harga-harga global.
08:44Kami melihat ini berdampak terhadap inflasi global yang semakin tinggi dibandingkan perkiraan kami.
08:51Sebelumnya, kita sudah melihat berbagai negara harga-harga di dunia, inflasi dunia sudah mulai meningkat.
08:58Dan perkembangannya kami melihat inflasi 2026 ini semakin tinggi dari 4,20,
09:04naik menjadi 10 basis point, menjadi 4,2.
09:08Tentunya tidak berhenti di sana, Mbak Okta.
09:10Mbak Okta tadi menyampaikan sangat penting.
09:13Tentu bagaimana respon dari kebijakan monitor global melihat inflasi yang kembali meningkat.
09:19Khusus untuk Amerika Serikat yang menjadi perhatian dunia,
09:23kami melihat ada kemungkinan Fed Fund Rate ini akan mundur penurunannya.
09:28Ruang penurunan masih ada yang semula kami perakirakan itu di bulan September.
09:32Kami melihat bisa mundur satu bulan menjadi Oktober.
09:36Bahkan, bila mana harga energi, inflasi di Amerika Serikat meningkat,
09:43bisa saja Fed Fund Rate akan bertahan di level yang sekarang.
09:47Itu yang pertama.
09:49Yang kedua, jadi perhatian adalah bagaimana dampaknya terhadap ketidakpastian global yang pasar keuangan.
09:57Yield USD kita melihat sudah mulai meningkat menjadi 4 persen,
10:01di atas 4 persen untuk 10 tahun, 2 tahun juga mengalami peningkatan.
10:06Faktor yang berpengaruh selain Fed Fund Rate tadi tentunya terkait dengan
10:10budget defisien Amerika Serikat yang kembali meningkat.
10:14Ini yang menjadi perhatian kita.
10:15Yang secara keseluruhan, Mbak Okta, dan ini menjadi fenomena global saat ini.
10:19Aliran modal semakin volatile, penempatan di emerging market berkurang,
10:26penempatan ke instrumen-instrumen yang dianggap masih riski berkurang,
10:29dan penempatannya ke dalam instrumen-instrumen yang dianggap masih cukup aman.
10:33Kita melihat bagaimana dolar terus menguat, angka terakhir di XY sudah mendekati 199, kita lihat.
10:43Ini yang menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap mata uang negara-negara berkembang termasuk Indonesia, Mbak Okta.
10:49Oke, jadi lagi-lagi catatan ini tidak hanya terjadi secara global, tapi juga bisa di dalam negeri dampaknya.
10:55Nah, Pak Firman, di tengah gejelak dinamika global, kalau kita bicara soal di dalam negeri,
11:00bagaimana Bank Indonesia melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia seperti PDB,
11:04neraca pembayaran, nilai tukar, inflasi, dan juga kredit terbangkan.
11:07Seperti apa, Pak Firman?
11:09Sejauh ini, pemerintah merespon dengan tetap menjaga harga BBM domestik tetap dipertahankan.
11:17Sementara sisi lain, stimulus fiskal tidak terjalankan.
11:20Pertumbuhan ekonomi kita, seperti disampaikan tadi, di tribulan 1 masih tetap baik.
11:25Kami perakirakan akan lebih tinggi dari tribulan 4-2025.
11:30Sehingga secara keseluruhan, di tahun 2026 ini,
11:33pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak pada kisaran 4,7 hingga 5,6.
11:41Dari neraca pembayaran, seperti disampaikan,
11:43tentunya dampak global ini berpengaruh terhadap perekonomian domestik.
11:48Kemarin, neraca perdagangan kita masih mencatat surplus.
11:51Tentunya, ini akan berpengaruh terhadap dinamika harga impor kita,
11:56nikas khususnya.
11:58Kami perakirakan, neraca transaksi berjalan di 2026 ini,
12:03akan berada pada kisaran defisitnya,
12:06menjadi 1,3 hingga minus 2,5.
12:10Jadi, defisitnya memang sedikit melebar karena dampak dari ketidakpastian global.
12:14Secara keseluruhan yang menjadi perhatian kita,
12:16tentunya aliran modal disampaikan oleh Mbak.
12:19Mbak Utanadi, kemarin memang sempat terjadi outflows,
12:23tapi dengan berbagai respon yang kita tempuh,
12:25di bulan April ini, inflowsnya sudah terjadi.
12:28Sehingga secara keseluruhan dan berbagai strategi,
12:31nilai cukup kita perkirakan akan kembali menguat,
12:35dengan kecenderungan stabil dengan menguat.
12:38Yang lain, pasti manageable, Mbak Okta.
12:42Kemarin, inflasi IHK kita 3,48.
12:46Namun, yang menjadi perhatian inflasi core kita,
12:48inflasi inti yang masih manageable di sekitar 2,5,
12:51di sekitar mid target kita 2,5 plus minus 1.
12:55Oke, harapannya tentu target-target tersebut terpenuhi.
12:58Nanti kita di segmen berikutnya akan berbincang soal respon bauran
13:00dan sinargi kebijakan Bank Indonesia.
13:02Pak Firman dan Saudara tetap bersama kami di Kompas Bisnis.
13:16Kembali di Kompas Bisnis Saudara dan kita akan melanjutkan perbincangan
13:19bersama dengan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Monitor Bank Indonesia,
13:23Firman Mohtar.
13:24Pak Firman, kita lanjutkan kembali.
13:26Kalau saat ini kita bahas soal bagaimana, Pak,
13:28dari asesmen Bank Indonesia terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia
13:32di tengah gejolak akibat perang di Timur Tengah,
13:35apa pertimbangan BI akhir mempertahankan BI rate
13:38di level 4,75 persen itu di RDG 2026.
13:41Apa saja yang dikatakan ekonomi yang jadi acuan utama BI
13:44dalam pengambilan keputusan terkait suku bunga acuan ini?
13:48Jadi, Pak, seperti yang kita diskusikan tadi,
13:51secara fundamental ekonomi domestik masih tetap baik.
13:55Pertumbuhan ekonomi kami perakhirkan akan lebih baik di 3 bulan keluar dan ke depan
13:59memang bergerak pada kisaran 4,9 hingga 5,7.
14:03Inflasi tetap terkendali dalam kisaran,
14:06inflasi inti tadi juga saya sampaikan masih bergerak di sekitar 2,5 persen.
14:11Yang menjadi fokus kita adalah bagaimana dampak ketidakpastian global ini
14:14terhadap pasar keuangan, khususnya nilai tukar yang memang
14:19mendapatkan tekanan di beberapa periode terakhir.
14:23Inilah yang menjadi fokus kita,
14:25mengapa di tengah kondisi ekonomi yang baik,
14:27inflasi yang masih terkendali,
14:28namun pada sisi lain ada tekanan eksternal.
14:30Bank Indonesia kemarin di RBG bulan April ini,
14:36tanggal 21-22,
14:37memutuskan mempertahankan BIRIN 4,75.
14:40Mengapa ini terjadi?
14:42Tentunya satu sisi,
14:44inflasi masih tetap terkendali.
14:46Ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku ekonomi
14:48masih tetap terjangkar di dalam kisaran 2,5 persen.
14:51Namun yang menjadi perhatian adalah
14:54terhadap BIRIN.
14:56Oleh karena itu,
14:57di dalam RDG kemarin,
14:59mempertahankan BIRIN,
15:01tapi ini adalah tetap konsisten dengan upaya kita
15:04untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
15:06yang mendapat tekanan di dalam berkoperasi.
15:10Satu hal yang ingin kita sampaikan di situ adalah
15:12ini adalah bagian penguatan-penguatan
15:15strategi operasi moneter.
15:16Kami sampaikan bahwa
15:18BIRIN kami pertahankan,
15:20namun sisi lain,
15:21instrumen moneter Bank Indonesia
15:23melalui SRBI
15:25ini juga akan melakukan penyesuaian.
15:27Ini adalah bagian-bagian kita
15:28untuk menarik capital influx
15:30yang pada giliran enda tetap menjaga
15:32stabilitas nilai tukar rupiah.
15:35Tujuannya fokus yang kepedek
15:37kita mengarahkan seperti itu.
15:38Tapi dalam kesempatan ini
15:40kami sampaikan juga
15:41bahwa Bank Indonesia
15:42siap untuk melanjutkan
15:43penguatan kebijakan moneter
15:45tentunya pada satu sisi
15:47untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah
15:49dan pada akhirnya akan menjaga
15:52stabilitas inflasi tetap
15:542,5 plus minus 1 persen.
15:56Jadi kebijakan moneter
15:57dalam kondisi seperti ini
15:59akan fokus kepada stabilitas.
16:01Mbak Okta,
16:03kita harapkan stabilitas terjaga
16:04terus terjaga
16:05dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
16:07Itu yang kami tukar dari kebijakan moneter
16:10tapi tentunya
16:10kami akan juga tetap upaya
16:12mendorong pertumbuhan ekonomi
16:13melalui kebijakan makro-prudensial
16:16yang akomodatif
16:18dan berbagai upaya-upaya
16:19di sistem pembayaran
16:21yang kami terus berkuat
16:23untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
16:25Oke, ada sejumlah pertimbangan
16:26tentunya salah satunya tadi
16:27yang paling utama tentu
16:28bagaimana kondisi eksternal
16:29yang kita tidak tahu juga
16:31masih tidak menentu kapan
16:32selesainya ini situasi di Timur Tengah.
16:33Pak Firman,
16:34lantas apa saja
16:35strategi Bank Indonesia
16:36dalam menjaga stabilitas nilai tukar
16:38selain melalui triple intervention,
16:40intervensi di Pasar Spot,
16:41NDF, dan juga di NDF?
16:44Terima kasih, Mbak.
16:45Ini menjadi penting
16:46bagaimana upaya-upaya
16:48yang telah ditembuh Bank Indonesia
16:49dan akan terus diperkuat ke depan
16:52untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
16:54Di samping kita pertahankan BI-REIT
16:56untuk menjawabkan ekspektasi inflasi ke depan,
16:59kita juga seperti sampaikan Mbak Oktar tadi,
17:02kita terus perkuat
17:02bagaimana intervensi kita
17:04bukan hanya di Pasar Spot,
17:06tapi juga di Pasar Forward,
17:07domestik, dan di luar negeri,
17:09di offshore.
17:09Itu terus kita lakukan
17:12around the globe,
17:14around the clock,
17:14kita lakukan terus pantau dan cermati
17:17serta respon.
17:18Yang kedua,
17:19tentunya penguatan-penguatan
17:21strategi operasi moneter
17:23melalui instrumen moneter
17:24yang kami miliki,
17:26SRBI,
17:27ini terus kami perkuat.
17:28Sehingga nanti
17:29kita sudah akan melihat
17:31bagaimana akan terjadi penyesuaian-penyesuaian
17:34di tenor SRBI
17:35yang pada giliran
17:37yang harapannya akan bisa menarik
17:38influx
17:39di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
17:42Itu yang kami lakukan
17:43berkait dengan upaya menjaga nilai tukar.
17:46Tentunya di tengah kondisi seperti ini
17:48Bank Indonesia
17:49akan terus menjaga kecukupan likuiditas.
17:52Mbak Oktar,
17:54dalam hal ini
17:55pertumbuhan uang primer
17:56itu tetap kami jaga
17:58di atas double digit,
18:0110 persen.
18:01Tentunya ini untuk menjaga kecukupan likuiditas,
18:04bukan hanya likuiditas di pasar uang.
18:05Tapi juga likuiditas perbankan
18:07dan likuiditas perekonomian.
18:09Disamping kebijakan moneter tadi,
18:11Mbak Oktar,
18:12beberapa hal yang sudah kami lakukan
18:13adalah penguatan di pasar falas.
18:17Bulan lalu,
18:18di bulan Maret yang lalu,
18:19kami lakukan beberapa kebijakan
18:21yang diantarnya adalah
18:23melakukan penyesuaian threshold
18:24pembelian tunai falas di bank,
18:27kemudian juga bagaimana
18:28threshold peningkatan di DNDF,
18:31dan juga yang terakhir
18:32terkait dijual beli swap.
18:33Terakhir,
18:34di RDG yang April ini,
18:37ada dua kebijakan kita
18:38untuk mendukung pendalaman pasar keuangan,
18:41tapi tetap diarahkan
18:42untuk mendukung
18:43kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah.
18:46Dua hal itu adalah
18:46bagaimana kita melakukan
18:48pengecualian atas
18:49selarangan transaksi
18:50NDF 21,
18:52dan satu hal adalah
18:53bagaimana kita melakukan
18:54perluasan instrumen
18:55moneter kita,
18:57di mana instrumen spot dan swap
18:59dalam CNH,
19:01China RemiB bisa juga dilakukan.
19:04Dan terakhir,
19:05adalah bagaimana kita
19:06perkuat LCT,
19:07Local Transaction,
19:11bagaimana agar bisa diperdagangkan
19:14menggunakan uang lokal.
19:16Itu Mbak Oktar,
19:18kita lakukan bukan hanya
19:20moneter,
19:21intervensi,
19:22juga penguatan-penguatan
19:24instrumen,
19:25kemudian juga di pasar falas
19:26dan juga di pendalaman pasar.
19:28Oke, itu tadi
19:29ada sejumlah kebijakan
19:30yang dilakukan oleh Bagi Indonesia,
19:32lantas tentunya
19:32perlu adanya koordinasi
19:34antara BI dengan pemerintah,
19:36seperti apa Pak,
19:37untuk terus menjaga
19:38stabilitas makroekonomi di tengah,
19:40itu tadi ya situasi
19:41meningkatnya ketidakpastian global,
19:43dengan tetap tentunya
19:43mendorong pertumbuhan.
19:45Ada tiga koordinasi
19:47yang kami lakukan
19:49secara umum.
19:49Pertama adalah
19:50bagaimana kita terus
19:52berupaya
19:52untuk menjaga momentum
19:54pertumbuhan ekonomi ini
19:55yang akan tetap
19:56di depan.
19:56Kami bersama pemerintah,
19:58kebijakan moneter
19:59dan kebijakan fiskal,
20:01ini akan terus mendorong
20:02pertumbuhan ekonomi,
20:03khususnya melalui
20:04kebijakan makroprudensial
20:05dan sistem pembayaran.
20:06Upaya-upaya makroprudensial
20:08yang akomodatif
20:09terus dilakukan
20:10melalui kebijakan
20:11liquid gas makroprudensial,
20:13payment system
20:14juga kita teruskan
20:15Mbak Orta,
20:16ini agar semakin
20:17inklusif.
20:18Itu koordinasi pertama.
20:19Koordinasi kedua adalah
20:20bagaimana
20:21pengendana inflasi,
20:22khususnya inflasi pangan.
20:23Kami di berbagai
20:25wilayah,
20:26provinsi,
20:27berkoordinasi
20:28pengendana inflasi pemerintah
20:29daerah untuk memonitor,
20:31kemudian berkoordinasi
20:32bagaimana kita memitigasi risiko
20:35terkait dengan harga pangan
20:36yang secara umum
20:37volatile food
20:38sudah semakin terkendali
20:39meskipun harus kita terus dorong.
20:41Dan yang ketiga adalah
20:42koordinasi
20:43menjaga stabilitas sistem keuangan
20:45bersama KSSK,
20:48Komite Stabilitas Sistem Keuangan.
20:49Bukan hanya stabilitas terkait
20:51sistem keuangan,
20:52dan juga bagaimana kita
20:54untuk terus mendorong
20:56pembiayaan
20:57perekonomian yang sehat
20:58dan terukur.
21:00Baik, tentu
21:01bagaimana BI memiliki
21:03kebijakan moneter itu tadi,
21:04kemudian juga ada intervensi
21:05dan lain sebagainya
21:05ditambah dengan koordinasi
21:06dengan pemerintah.
21:08Harapannya
21:08bisa menjadi upaya penguatan,
21:10menjaga inflasi
21:11di tengah situasi geopolitan
21:12yang belum menentu
21:13dan juga
21:14ada optimisme tentu juga
21:16bagaimana proyeksi
21:16pertumbuhan ekonomi Indonesia
21:17di 2026 bisa
21:184,9 sampai 5,7 persen.
21:20Kita harapkan bisa demikian.
21:21Terima kasih.
21:22Pak Firman Muhtar,
21:23Kepala Departemen Kebijakan
21:24Ekonomi dan Monitor Bank Indonesia.
21:26Sehat selalu, Pak Firman.
Komentar