JAKARTA, KOMPAS.TV - Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia menelusuri Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara. Ketua Komunitas Nelayan Cilincing, Edi Kurniawan menuturkan akses melaut menyempit akibat pembangunan tol laut.
"Di sini kita merasanya itu kita tidak dikasih akses untuk keluar masuk yang enak buat nelayan. Jadi akses tembok kiri kanan 40 meter tapi ujungnya kecil jadi kayak corong," katanya.
Menurut Edi, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama untuk berlayar mencari ikan. Pembangunan berdampak pada nelayan, seperti area tangkap lebih jauh hingga kebutuhan bahan bakar kapal meningkat.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu nelayan di Cilincing, Wasran. Wasran meminta akses keluar masuk nelayan untuk melaut jangan dipersempit. Sebab, hal ini berdampak pada modal bahan bakar yang mereka keluarkan dan pendapatan yang mereka terima.
Wasran mencontohkan, dulu dengan modal 200 ribu rupiah untuk membeli bahan bakar dan melaut, ia bisa mendapatkan 300-400 ribu rupiah. Tapi kini, dengan modal 400 ribu, menurutnya belum tentu bisa mendapatkan penghasilan lebih.
Sebelumnya sejumlah nelayan di Cilincing, Jakarta Utara, menyuarakan keresahan terhadap pembangunan proyek di wilayah pesisir yang dinilai mengganggu aktivitas melaut.
Keresahan itu disampaikan melalui aksi demonstrasi di tengah laut pada 14 April 2026. Aksi ini diikuti puluhan nelayan menggunakan perahu.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini:
https://youtu.be/NXSpG-2dP8U
#nelayan #demo #tollaut
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/665702/jeritan-nelayan-jakarta-utara-jalur-melaut-terganggu-proyek-pembangunan-apa-solusinya-dipo
"Di sini kita merasanya itu kita tidak dikasih akses untuk keluar masuk yang enak buat nelayan. Jadi akses tembok kiri kanan 40 meter tapi ujungnya kecil jadi kayak corong," katanya.
Menurut Edi, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama untuk berlayar mencari ikan. Pembangunan berdampak pada nelayan, seperti area tangkap lebih jauh hingga kebutuhan bahan bakar kapal meningkat.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu nelayan di Cilincing, Wasran. Wasran meminta akses keluar masuk nelayan untuk melaut jangan dipersempit. Sebab, hal ini berdampak pada modal bahan bakar yang mereka keluarkan dan pendapatan yang mereka terima.
Wasran mencontohkan, dulu dengan modal 200 ribu rupiah untuk membeli bahan bakar dan melaut, ia bisa mendapatkan 300-400 ribu rupiah. Tapi kini, dengan modal 400 ribu, menurutnya belum tentu bisa mendapatkan penghasilan lebih.
Sebelumnya sejumlah nelayan di Cilincing, Jakarta Utara, menyuarakan keresahan terhadap pembangunan proyek di wilayah pesisir yang dinilai mengganggu aktivitas melaut.
Keresahan itu disampaikan melalui aksi demonstrasi di tengah laut pada 14 April 2026. Aksi ini diikuti puluhan nelayan menggunakan perahu.
Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini:
https://youtu.be/NXSpG-2dP8U
#nelayan #demo #tollaut
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/665702/jeritan-nelayan-jakarta-utara-jalur-melaut-terganggu-proyek-pembangunan-apa-solusinya-dipo
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:24Nasi pelayan di Teluk Jakarta kian hari, kian memprihatinkan laut yang sudah sejak lama.
00:29Menjadi tempat bersandar bagi para nelayan, kini tak hanya terselibuti oleh lautan, namun juga terkepung oleh pembangunan daratan.
00:38Kawanan nelayan melakukan perlawanan bukan dengan unjuk rasa di jalanan, namun suara-suara lantang berkema di atas lautan.
00:46Pembangunan tol laut dan reklamasi yang kian marak di daerah Teluk melahirkan kekhawatiran bagi warga pesisir yang kian merasa tersingkir.
00:53Lalu bagaimana peran negara untuk memastikan hamparan laut tetap menjadi sandaran hidup bagi para nelayan?
01:00Ini live episode ke-69, Dipo Investigasi.
01:03Saya Dipo Terbahagia, saya akan menelusuri dan mencari bukti secara langsung dari pesisir utara Teluk Jakarta.
01:31Apakah hanya tol laut satu-satunya yang kemudian diprotes oleh para nelayan atau justru proyek reklamasi?
01:38Reklamasi, betul. Karena itu.
01:40Nelayan-nelayan makin nyari ikannya makin jauh, apalagi kalau misalkan ada tol laut kita jalan atau keluar ke Kalibaru,
01:46sudah makin banyak minyaknya yang dituarin, pastinya.
01:49Berdampak, Pak, pada pendapatan?
01:51Minyaknya banyak proyek, ibaratnya pendapatan juga kalian yang mengimbangkan,
01:55tidak sesuai dengan perbatalan.
01:59Mengapa pada akhirnya para nelayan memutuskan untuk melakukan aksi di tengah laut?
02:04Karena sosialisasi buat kita tidak ada, tahu-tahu sudah jadi.
02:08Dari keresahan teman-teman nelayan, itu kesusahannya sama, akses jalan.
02:13Dan itu tiang pancangnya.
02:14Dan ini yang disebut oleh para nelayan, mempersepit akses pada saat melaut.
02:25Ya, itu bisa dilihat ya, proses dari pemancangan tiang pancang dari tol laut yang saat ini terus berjalan,
02:32meskipun sudah ada protes ya, yang dilayangkan oleh para nelayan.
02:36Saya akan coba datangin ya, saudara, pihak PT PF2 yang sedang melakukan pembangunan tol laut.
02:42Pak, izin, Pak.
02:43Dari Kompas TV, boleh ngobrol sebentar, Pak.
02:51Dulu, waktu sebelumnya ada reklamasi ini,
02:55ibaratnya nelayan bisa untuk mencari ikan di lokasi daratan ini.
02:58Sekarang, semenjaknya ada reklamasi ini, nelayan nggak bisa untuk mencari napka.
03:02Bisa dilihat itu ada beberapa ekskavator ya, yang sedang menguruh.
03:08Jara-jara tiang yang kecil-kecil pun ada yang kuat sampai 5 meter,
03:12supaya kapal-kapalnya tidak berang kecil.
03:14Kita bisa selamatkan.
03:16Setahu saya, Ambilal itu sudah diperoleh berkandung tahun 2023.
03:29Ketika proyek-proyek reklamasi berjalan di sepanjang Teluk Jakarta,
03:34itu pasti akan menambah jauh jarak tempuh mereka untuk melakukan kegiatan penangkapan berikanan.
03:41Apakah bisa dikatakan bahwa saat ini nasib nelayan kita masih dianaktirikan oleh pemerintah?
03:47Kalau bilang dianaktirikan, pasti iya.
03:52Penyampaian pendapat oleh warga Indonesia itu merupakan salah satu bagian demokrasi.
03:59Semua masukan akan kami tampung.
04:01Mengapa proyek yang dibangun di Teluk Jakarta seolah menganaktirikan nelayan sehingga melahirkan sebuah masalah?
04:12Terus saya berada di kawasan Tanjung Priuk Jakarta Utara, lokasi yang selalu dipenuhi oleh kendaraan.
04:18Saya akan tunjukkan, lokasi ini juga selalu dipadati oleh kendaraan truk kontainer ataupun truk bermuatan besar.
04:26Saya akan tunjukkan, saudara. Ini adalah antrean truk yang akan menuju ke pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara.
04:35Bahkan pada tahun lalu, ataupun tepatnya pada April 2025,
04:40kemacetan parah di area ini sempat terjadi bahkan hingga dua hari, saudara.
04:46Oleh karena itu, pemerintah dan juga pihak-pihak terkait akhirnya mencari sebuah solusi
04:53dengan membangun Jalan Tol Laut ataupun New Priuk Eastern Access
04:59yang nantinya diberfungsikan untuk mengurai kemacetan yang ada di sepanjang Jalan Tanjung Priuk, Jakarta Utara.
05:09Dan menariknya, saudara, pembangunan tol laut yang bersanding manis dengan proyek reklamasi
05:13pembangunan pelabuhan dermaga PIR-3 Marunda mendapat protes dari nelayan.
05:20Bahkan mereka melakukan aksi demonstrasi tidak di daratan, saudara, namun di atas lautan.
05:28Pada selasa 14 April 2026, para dekapal nelayan terlihat berjejer
05:33mengarah keluar dari Muara Cilincing, Jakarta Utara.
05:37Kapal ini bukan bertujuan mencari ikan,
05:39namun mereka berlayar untuk melakukan aksi demonstrasi yang tak biasa.
05:43Mereka menggelar aksi demonstrasi di atas lautan.
05:48Tak hanya bersuara lantang di atas laut,
05:50para nelayan juga membentangkan sepanduk di tiang-tiang panjang tol laut
05:53yang bertuliskan, masyarakat pesisir tak akan terusir.
05:58Aksi yang tak biasa ini dilakukan sebagai bentuk protes dan perlawanan para nelayan
06:02terhadap pembangunan di sekitar Muara Cilincing,
06:05mulai dari pembangunan tol laut hingga reklamasi dermaga PIR-3 Marunda.
06:08Keberadaan proyek ini dinilai mengancam mata pencarian nelayan
06:13hingga membuat keberadaan mereka perlahan kian tersingkir.
06:17Pembangunan tol laut atau New Priuk Eastern Access
06:19merupakan proyek strategis pemerintah yang diprakarsai PT Pelindung
06:23dengan anggaran mencapai 6,6 triliun rupiah.
06:27Tol laut Tanjung Priuk dibangun sepanjang 6,6 km
06:30menghubungkan Jalan Tol Cibitung-Cilincing
06:32ke Terminal Kali Baru, Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara.
06:35Pembangunan tol laut di Tanjung Priuk bertujuan untuk mengurai kepadatan
06:38seiring meningkatnya aktivitas truk kontainer
06:41yang hendak masuk atau keluar area pelabuhan.
06:44Sementara di sebelah tiang panjang tol laut,
06:46reklamasi nampak mementang di pesisir kawasan Tanjung Priuk.
06:49Reklamasi tersebut merupakan pembangunan pelabuhan
06:52atau dermaga PIR-3 Marunda
06:54yang dibangun oleh PT Kare Citra Nusantara
06:56yang ditargetkan rampung pada tahun 2026.
07:00Laut yang disulap menjadi daratan ini
07:02disebut oleh nelayan telah mempengaruhi penghasilan mereka.
07:16Setelah saya tiba di kampung nelayan Cilincing,
07:20Jakarta Utara yang menjadi lokasi tempat tinggal para nelayan
07:23yang tentu bekerja setiap hari di area pesisir.
07:26Tempat ini juga, saudara,
07:27menjadi awal mula kegelisahan
07:30dari sejumlah pihak
07:31yang kemudian merasa kian tersingkir
07:34akibat sejumlah proyek yang dibangun di daerah pesisir.
07:37Saya akan melakukan investigasi, saudara,
07:40secara langsung untuk melihat seperti apa
07:42tiang-tiang panjang tol laut
07:44termasuk juga reklamasi pembangunan pelabuhan
07:47dermaga PIR-3 Marunda.
07:49Tapi saya tidak akan sendiri,
07:50saya bersama dengan Bang Edy,
07:53selaku ketua komunitas nelayan Cilincing,
07:54dan juga dengan Pak Wasran, nelayan dari
07:57kampung nelayan Cilincing.
07:59Bapak-bapak, terima kasih untuk waktunya.
08:01Pertama, saya ingin tanyakan dulu ke Bang Edy dan Pak Wasran.
08:04Bang Edy dan Pak Wasran pada 14 April
08:06mengikuti aksi demonstrasi di tengah laut?
08:08Ikut, saya ikut.
08:09Pak Wasran juga, Pak?
08:10Ikut.
08:10Oke, yang menjadi pertanyaan adalah
08:12bahwa aksi tersebut tidak bisa dianggap biasa.
08:15Karena suara-suara lantang itu tidak disuarakan di daratan,
08:19melainkan di atas lautan.
08:20Saya ingin tanyakan, apakah aksi tersebut
08:22menggambarkan kekhawatiran dari masyarakat pesisir
08:26yang seolah kian hari semakin terasa tersingkir dan terusir?
08:29Betul, betul.
08:30Di sini kita ngerasanya itu,
08:32kita nggak dikasih akses untuk keluar masuk
08:34yang enak buat nelayan.
08:36Oke.
08:37Jadi akses tembok kiri-kanan 40 meter,
08:40tapi ujungnya kecil, jadi kayak corong.
08:42Walaupun ada dari pemerintah pembangunan,
08:46minimal ada sosialisasi juga buat kita nih, para nelayan.
08:50Mau dibuat apa kampung kita,
08:52mau dijadikan apa kampung kita.
08:53Pak Wasran, ketika melaut, Pak,
08:57tentu akses satu-satunya ini apa ya?
08:58Dan tol laut itu menganggu aktivitas Bapak dalam berlayar?
09:02Ibaratnya untuk nelayan itu,
09:04ya terasa terganggu,
09:05kalau tentunya dipersempit gitu.
09:07Kalau bisa, akses keluar masuk itu
09:09jangan sampai dipersempit gitu.
09:12Soalnya itu akses cuma satu-satunya,
09:14satu jalur doang untuk keluar masuknya nelayan.
09:17Karena di ujungnya kecil,
09:19terus angin bisa dari mana aja,
09:21water beach itu kan terbuat dari batu.
09:23Kapal kita kan dari kayu.
09:25Saat ada ombak yang nerpa,
09:27kena, bisa hancur kapal kita.
09:30Saya ingin tanyakan,
09:31apakah hanya tol laut satu-satunya
09:33yang kemudian diprotes oleh para nelayan
09:35atau justru proyek reklamasi?
09:38Pembangunan dermaga PIR 3 Marunda
09:39juga menjadi keluhan masyarakat?
09:41Reklamasi, betul.
09:42Karena itu, di sana.
09:43Dampak reklamasi itu kan pasti air,
09:46karena pengurukan itu bakal kemana-mana.
09:48Nelayan-nelayan nyari ikannya makin jauh,
09:50apalagi kalau misalkan ada tol laut
09:51sama reklamasi ini,
09:53tetap kita jalan akses keluar ke Kali Baru.
09:55Udah makin banyak minyaknya yang dicuarin, pastinya.
09:58Oke.
09:58Berdampak, Pak, pada pendapatan?
10:00Ya, tetap berdampak.
10:02Semenjaknya banyak proyek,
10:04misalnya ada pembangunan yang lagi dibangun,
10:07ibaratnya pendapatan juga
10:08kayaknya nggak ngimbangin,
10:10nggak sesuai dengan perbakalan.
10:12Kalau dulu,
10:13kita maunya risiko untuk perbakalan 200,
10:15200 itu pendapatan kita kadang-kadang bisa-bisa 400,
10:18600 itu kan bisa kita untuk menutupi perbakalan gitu.
10:22Masih ada lebihnya lah 200 kan gitu.
10:24Kalau sekarang kita udah modal ke tengah,
10:26biayanya 400.
10:28Kadang-kadang penghasilannya belum tentu dapat per ratus.
10:41Berapa orang Bang Indi dan Pak Waslan
10:43yang kala itu melakukan aksi demonstrasi 14 April 2026?
10:47Estimasi itu ada 15 sampai 20 perahu,
10:51tapi dalam satu perahu itu ada berbagai nelayan.
10:53Estimasi itu 80 sampai 100 orang kemarin.
10:5580 sampai 100 orang?
10:57Betul.
10:57Oke, ini akses masuk ya?
10:59Boleh kita lihat ya?
10:59Silahkan.
11:00Oke, kita akan langsung menuju ke perahu
11:02agar bisa langsung melihat seperti apa
11:05tiang-tiang panjang tol laut yang ada di kawasan
11:07Ngora Cilincing ini, Sudara.
11:17Saya lihat ini air laut ya?
11:20Bahkan berwarna hitam.
11:21Apa yang terjadi?
11:22Limbah.
11:23Limbah?
11:24Nah, kenapa nelayan lebih jauh sekarang nyarinya?
11:27Karena ya mungkin limbah dari mana kita nggak tahu nih.
11:29Dulu sebelum banyak perusahaan itu,
11:31kita masih bisa ada ikan di sini.
11:33Di sini masih bisa ada ikan?
11:34Masih, masih ada ikan.
11:35Ubur-ubur masih banyak di depan ujung sana,
11:38itu ubur-ubur.
11:38Masih bisa mancing di ujung laut sana,
11:41juga masih bisa banyak ikannya.
11:48Kita akan coba lebih mendekatnya untuk melihat seperti apa proyek dari pembangunan tol laut
11:53dan juga reklamasi pelabuhan dermaga PR3 Marunda.
11:58Mengapa pada akhirnya para nelayan memutuskan untuk melakukan aksi di tengah laut?
12:05Karena sosialisasi buat kita nggak ada.
12:07Tahu-tahu udah jadi.
12:08Dari keresahan teman-teman nelayan,
12:10dari teman-teman nelayan yang ada di kampung nelayan 1,
12:13kampung nelayan 2 di sebelah sana,
12:15itu kesusahannya sama.
12:17Akses jalan yang nanti bakal kita lewatin ini.
12:20Dan itu tiang panjang ya?
12:21Bang, ini di panggapan.
12:23Dan ini yang disebut oleh para nelayan mempersepit akses pada saat melaut.
12:30Keluar masuk ya, Pak Waslan.
12:43Saya akan tunjukkan sekali lagi, saudara.
12:45Ini adalah proyek reklamasi pembangunan dermaga PR3 Barunda.
12:49Sementara di sampingnya persis adalah tiang panjang dari tol laut yang sudah terpasang ya.
13:00Di area laut ini.
13:03Dan ini kurang lebih berapa meter, Pak?
13:05Jarak dari pesisir ke tiang ini?
13:08Dari sini kemarin, Pak.
13:09Ini sekitar berapa?
13:11Itu ada dari sekitar 20 sampai 30 meteran.
13:1620 sampai 30 meteran?
13:18Dari tembok sini ke temukan ujung.
13:21Ujung tiang panjang itu ya?
13:23Dan jarak kurang lebih 20 meter itu tidak cukup untuk jalur keluar masuk?
13:27Misalnya di sini kan ombaknya terlalu gede.
13:30Kalau musim barat ini kan ombak itu benturan.
13:33Jadi posisinya perahu kan kalau menyedari ombak di sini kan nganemnya ke sana.
13:37Nganemnya ke sana, Pak?
13:38Karena misalnya ada dam.
13:40Sebenarnya kan perahu bentur dam itu.
13:43Jadi itu ada tulisan jalur perahu ya?
13:45Iya.
13:45Artinya hanya satu-satunya akses melalui jalan ini.
13:49Yang hanya memiliki lebar kurang lebih 20 meter.
13:52Dan itu ada sepanduk yang dipasang.
13:55Bang Edi, bertuliskan warga pesisir tak akan terusir.
13:59Apa maknanya?
14:00Sebelum jauh teman-teman yang bangun tol ini dan mereklamasi itu, kita udah di sini.
14:07Jadi kita nggak pengen pindah.
14:09Kita nggak pengen pergi dari tempat kita.
14:11Karena yang dititipin sama orang tua kita, jaga tempat kita, jaga laut kita.
14:17Ada juga tulisan-tulisan, ada pekerjaan pemancangan.
14:20Dan juga ada instruksi untuk kemudian mengurangi kecepatan perahu ketika melintas.
14:25Ini sudah ada dari bulan?
14:28Sebelumnya kuasa pemancangan.
14:30Sebelum kuasa?
14:32Ya kalau mau pemancangan ini, adanya di posisi pengarugan itu aja lurus.
14:37Mending nggak terlalu kemari gitu.
14:40Dan sekali lagi, saya ingin tekankan.
14:43Karena claim dari pihak PT PP ataupun PT Pelindo sudah melakukan sosialisasi kepada para nelayan.
14:48Ini dibantau oleh Pak Edi dan juga Pak Wasna.
14:51Pemberitahuan pertama aja, tanggal 8 Agustus di tahun kemarin, 2025.
14:56Kesini kita nggak ada sosialisasi lagi.
14:58Artinya hanya satu kali?
14:59Satu kali. Bukan sosialisasi dong itu.
15:01Pemberitahuan kalau itu.
15:02Hanya pemberitahuan?
15:03Hanya pemberitahuan.
15:03Tidak dijelaskan bagaimana kemudian mekanisme pembuatannya termasuk jalur-jalurnya.
15:07Dan saya akan tunjukkan ya, itu memang kalau kita melihat dari tengah laut,
15:11terlihat jelas bahwa nampaknya rentang jarak 20 meter itu memang tidak besar ya.
15:16Apalagi ketika ada ombak yang berada di daerah pesisir ini.
15:20Kita alam nggak ada yang tahu.
15:22Hujan, badai, angin itu.
15:24Ya itu yang dibilang tadi sama Pak Wasna.
15:25Kalau misalkan ini ngebentur kan ada NC-NCD itu kan,
15:29di bawahnya ada water bridge.
15:30Nah, itu yang jadi masalah buat kita.
15:32Kalau misalkan kita kapal bisa kena sampah kan berhenti tuh.
15:35Di tengah jalan situ dia minggir, minggir, minggir.
15:40Saya akan coba ajak Bang Edi dan Pak Wasna untuk lebih mendekat.
15:45Karena kalau kita lihat ini, sekali lagi,
15:47ada tiang pancang yang memang tidak terlalu tinggi,
15:49kurang lebih mungkin hanya 2 atau 3 meter ya.
15:53Tetapi ada yang menjulang tinggi.
15:55Dan bisa dilihat ya dengan jelas bahwa sedang ada proses pengerjaan.
15:59Udah ukuran segitu, mas.
16:01Dan itu bisa dilihat ya, proses dari pemancangan tiang pancang dari tol laut
16:06yang saat ini terus berjalan meskipun sudah ada protes ya,
16:11yang dilayangkan oleh para nelayan.
16:19Saya akan coba datangnya, Saudara.
16:24Pihak PT. PP ataupun PT. Pelindung yang sedang melakukan pembangunan tol laut,
16:27saya akan tanyakan sejumlah hal yang kemudian menjadi kegelisahan dari para nelayan.
16:34Pak!
16:36Dari Kompas TV, Pak!
16:38Pak!
16:43Izin, Pak!
16:44Dari Kompas TV, boleh ngobrol sebentar, Pak!
16:52Kita akan coba tunggu ya, karena tadi ada 2 orang yang nampaknya mencoba
16:57kebagian dalam untuk berkoordinasi,
16:58tapi saya tidak tahu apakah saya diizinkan untuk berkomunikasi
17:02atau bahkan mungkin untuk turun ya.
17:05Saya sudah menunggu kurang lebih 5 menit sudah,
17:09tapi nampaknya belum ada pihak yang kembali lagi
17:12untuk memberikan konfirmasi kepada kami,
17:13tapi saya akan coba datangnya lagi ya.
17:16Ada 1 orang yang sedang duduk di pinggir dari tempat pembangunan proyek ya.
17:24Pak!
17:26Pak!
17:28Pak, izin, Pak!
17:29Dari Kompas TV, Pak!
17:30Boleh ngobrol sebentar, Pak!
17:33Bahwa seluruh kegiatan NPI dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku
17:39dengan mempertimbangkan aspek keselamatan,
17:44kelancaran aktifitas nelayan,
17:46dan keberlanjutan lingkungan.
17:48Kami juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait
17:51dan terbuka untuk berdialog dengan masyarakat,
17:55termasuk nelayan sebagai bagian dari penyempurnaan ke depannya.
18:00Pelindung menghormati setiap aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat,
18:04termasuk saudara-saudara kita nelayan di wilayah Celingkong.
18:12Artinya daerah ini, Pak Wasren, dulunya masih daerah tangkapan?
18:15Wah, sebenarnya ada reklamasi ini,
18:17ibaratnya nelayan bisa untuk mencari ikan di lokasi daerah kan ini.
18:20Masih bisa di sini?
18:21Iya, masih bisa di sini.
18:23Iya, masih bisa di sini.
Komentar