Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Perang di Timur Tengah antara Amerika SerikatIsrael terhadap Iran menekan ekonomi global, tak terkecuali Indonesia.

Bank sentral mengambil langkah strategis untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Rabu lalu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.

Keputusan dilakukan dalam meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.

Ke depan, BI siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi.

Sementara itu, ketahanan ekonomi Indonesia optimistis terjaga. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya menegaskan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang relatif kuat dibandingkan negara lain, terutama daya tahan terhadap guncangan energi global.

Laporan JPMorgan Asset Management menyebutkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia. Meski demikian, Purbaya tak menampik Indonesia tengah dalam kondisi survival mode.

Selain kebijakan untuk menghadapi ketidakpastian, perilaku masyarakat juga memengaruhi ekonomi. Ekonom meminta masyarakat tak panik dan mendorong pemerintah memberikan bantalan ekonomi bagi kelompok rentan hingga kelas menengah.

Ketahanan ekonomi Indonesia ditopang domestik. Pemerintah didorong untuk melakukan percepatan belanja dan memberikan stimulus bagi masyarakat.

Program perlindungan sosial hingga kontribusi investasi juga dinilai penting untuk terus tumbuh sebagai pendorong utama pertumbuhan nasional.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

#ekonomi #perang #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/665368/gejolak-perang-timteng-uji-ketahanan-ekonomi-ri-purbaya-indonesia-tahan-guncangan-energi-global
Transkrip
00:00Perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat Israel terhadap Iran
00:04menekan ekonomi global tak terkecuali Indonesia.
00:08Ketegangan di Sulat Hormuz membuat Indonesia harus makin kerja keras
00:12mengantisipasi krisis ekonomi dan energi.
00:15Mendesek adanya kebijakan pemerintah yang menyatukan kebijakan moneter,
00:20fiskal, dan ketahanan energi.
00:22Inilah catatan Kompas TV.
00:24Rupiah tertekan, pemerintah BI harus kompak.
00:37Perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat Israel terhadap Iran
00:41menekan ekonomi global tak terkecuali Indonesia.
00:45Bank Sentral mengambil langkah strategis untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
00:50Rabu lalu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Red di level 4,75%.
00:57Keputusan dilakukan dalam meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur
01:02suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah
01:07dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah.
01:13Memutuskan untuk mempertahankan BI Red sebesar 4,75%,
01:21suku bunga deposit fasiliti sebesar 3,75%,
01:26dan suku bunga lending fasiliti sebesar 5,5%.
01:32Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas
01:39strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter
01:45dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah
01:48dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
01:55Kedepan, BI siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter
02:00yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi.
02:06Sementara itu, ketahanan ekonomi Indonesia optimis terjaga.
02:10Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa.
02:13Purbaya menegaskan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang relatif kuat
02:18dibandingkan negara lain terutama daya tahan terhadap kuncangan energi global.
02:22Laporan JP Morgan Asset Management menyebutkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia.
02:27Meski demikian, Purbaya tak menampik RI tengah dalam kondisi survival mode.
02:34Kita di atas semua negara, kita di atas Australia, kita di atas Korea Selatan,
02:40bahkan di atas Jepang kalau saya nggak salah.
02:42Cuman belum nggak bisa dipublish itu.
02:44Untung ada JP Morgan yang itu untuk mengimbangnya.
02:47Tapi laporan JP Morgan itu bukan satu-satunya lembaga yang melihat kondisi kita.
02:54ADB juga sama.
02:55Kita nggak ada ruang atau nggak ada luxury untuk bermain-main lagi
03:00dengan segala peluang yang kita bisa buat.
03:04Kalau pajaknya main-main, hancur kita kira-kira gitu.
03:08Kalau programnya main-main, kita akan digiling bangsa lain.
03:12Jadi kita survival mode, kontribusi domestik diman terhadap perekonomian kita 90 persen,
03:20yang 10 persen globalnya.
03:22Jadi saya bukannya belaga nggak peduli sama asing, peduli.
03:26Tapi kan kita nggak bisa apa-apa.
03:28Memang kita bisa berhentiin perang itu.
03:31Selain kebijakan untuk menghadapi ketidakpastian,
03:34perilaku masyarakat juga memengaruhi ekonomi.
03:37Ekonom meminta masyarakat tak panik
03:39dan mendorong pemerintah memberikan bantalan ekonomi bagi kelompok rentan hingga kelas menengah.
03:45Kondisi Indonesia yang survival mode ini,
03:48kita sebagai masyarakat relatifnya harus tetap kalem.
03:53Jangan panik, jangan panik baying,
03:56jangan panik menarik uang gitu ya,
04:01sehingga nanti akan terjadi krisis.
04:04Nah, dari sisi pemerintah, ini yang harus dilakukan adalah
04:08memberikan bantalan-bantalan ekonomi.
04:13Artinya, kelompok masyarakat yang terdampak ini kan tidak hanya kelas
04:21yang berpendapatan rendah saja gitu,
04:24tetapi juga kelas menengah juga gitu.
04:27Ketahanan ekonomi Indonesia ditopang domestik.
04:30Pemerintah didorong untuk melakukan percepatan belanja
04:33dan memberikan stimulus bagi masyarakat.
04:35Yang juga penting, program perlindungan sosial hingga kontribusi investasi
04:40tumbuh sebagai pendorong utama pertumbuhan nasional.
04:43Tim Liputan, Kompas TV
04:45Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar

Dianjurkan