00:02Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump meradang.
00:07Lalu bagaimana nasib perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di tengah beragam pernyataan Trump
00:13yang mempengaruhi tensi konflik? Kita bahas bersama pengamat politik Timur Tengah, Hasibullo Satrawi.
00:18Selamat malam, Mas Hasibullo.
00:21Selamat malam, Mbak Dian.
00:23Mas Hasibullo, ini kan Iran nampaknya tarik ulur Selat Hormuz.
00:27Sementara ganjalan Amerika Serikat adalah soal nuklir Iran.
00:31Nah, masing-masing ini sama-sama punya tuntutan maksimal.
00:35Bagaimana Anda melihat asa untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat?
00:40Ya, terima kasih Mbak Dian.
00:43Kalau kita ikutin perkembangan perang ini, konflik ini,
00:47kita sudah masuk di hari ke-12, di 279 kurang lebih dalam hitungan saya.
00:53Itu memang perkembangannya sangat dramatis ya,
00:58dan sangat tidak stabil, boleh dibilang begitu.
01:01Dan dalam perkembangan terbaru, ini kembali kepada siaga lah,
01:07perkembangan siaga.
01:08Terutama karena pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Donald Trump.
01:13Tapi saya selalu, saya ingin memberikan dua kerangka
01:17agar kita juga bisa memonitor di kedua belah pihak.
01:21Yang pertama, bahwa ini ada perundingan,
01:24dan yang kedua adalah ada lapangan,
01:26terutama Selat Hormuz dan Libanon dalam beberapa bagian.
01:30Nah, saya melihat perkembangan ini sangat ditentukan
01:33atau bertujuan untuk kedua-dua wilayah ini.
01:38Jadi kalau kita melihat perkembangan di Selat Hormuz,
01:41eskalasi yang meningkat dalam beberapa jam terakhir,
01:45itu sudah pasti diharapkan agar berdampak kepada perkembangan di perundingan.
01:50Sebaliknya, situasi di perundingan itu juga bisa berdampak
01:54kepada apa yang terjadi di lapangan.
01:58Nah, oleh karena itu,
01:59saya melihat pertama dari sikap Iran
02:03yang katakanlah membuka tutup Selat Hormuz ini
02:07dalam dua kacamata.
02:09Yang pertama, bahwa Iran,
02:12terutama ketika Libanon memasuki genjatan senjata,
02:17itu ingin menunjukkan kepada dunia
02:19bahwa dia tetap tertib kepada norma yang dipegang,
02:24terutama terkait dengan komitmen,
02:26terkait dengan genjatan senjata,
02:28di mana kalau Libanon damai sebagai satu kesatuan wilayah
02:33atau kondisi kalau bagi Iran,
02:36maka itu akan menjadi alasan bagi Iran
02:39untuk membuka Selat Hormuz.
02:40Dan itu dia lakukan.
02:42Tapi kemudian setelah Iran,
02:45Amerika melakukan sikap yang
02:47seperti disampaikan oleh Presiden Trump dalam tweetnya,
02:51bahwa ya terima kasih,
02:53lalu kemudian tapi pelabuhan kalian tetap kami blokade,
02:57nah itu menjadi indikasi yang tidak bisa diterima.
03:01Karena itu, saya melihat sikap itu
03:04mencerminkan hal yang kedua,
03:06yaitu perlawanan.
03:07Ada dua yang sekaligus dilawan oleh Iran
03:10dengan menutup kembali Selat Hormuz.
03:13Yang pertama, perlawanan di lapangan,
03:16di Selat Hormuz.
03:17Jadi mereka mencoba untuk
03:19fis-afis dengan apa yang dilakukan oleh Amerika
03:22dalam bentuk blokade pelabuhan.
03:24Jadi dia akan mengaktivasi kembali
03:27kartu lainnya yang sebelumnya sudah dipakai,
03:30tapi karena ada Amerika yang menggunakan hal yang sama,
03:35maka dia mengaktivasi kembali.
03:36Nah perlawanan kedua yang tidak kalah penting,
03:39bahkan paling penting menurut saya,
03:41ini kepada dunia, termasuk publik.
03:44Untuk memberikan kesan bahwa
03:46yang mengontrol lapangan bukan tweetnya Donald Trump.
03:50Bukan pernyataan Donald Trump yang sudah sampaikan
03:53berkali-kali dengan penuh optimistis.
03:55Tapi yang mengontrol di lapangan tetap Iran,
03:57karena itu dia lakukan blokade ulang,
04:00dia lakukan penutupan kembali,
04:02sehingga itu menimbulkan efek
04:05di level larasi paling tidak
04:07bahwa Donald Trump tidak mengontrol
04:11pernyataan atau bahkan lapangannya sendiri.
04:14Mas Asibulo, yang juga jadi pertanyaan,
04:17lalu bagaimana membaca situasi saat ini?
04:18Ini membaca nasib perdamaian
04:21antara Amerika Serikat dan Iran
04:22di tengah situasi saat ini.
04:23Apalagi masa gencatan senjatanya
04:25hanya tersisa tiga hari saja.
04:26Apa yang akan terjadi ke depan?
04:29Yang pertama, memang kedua belah pihak ini
04:31mempertahankan, apa namanya ya,
04:35superiority.
04:36Mempertahankan filosofi tangan di atas.
04:38Mereka tidak ingin terlihat lemah
04:41apalagi kalah di hadapan lawan.
04:44Dan saya melihat semakin ke sini
04:46mereka tetap berpegangan dengan itu semua.
04:48Walaupun di sisi lain,
04:50jangan lupa kita tetap juga harus memberikan ruang
04:53di ruang perundingan juga mengalami
04:55yang disebut sebagai kemajuan.
04:58Saya mengikuti pernyataan dari kedua belah pihak,
05:00misalkan dari Amerika itu
05:02dinyatakan sendiri oleh Presiden Trump,
05:04kemudian dari Iran itu disampaikan oleh
05:06Ketua Parlemen,
05:07itu sama-sama mengakui adanya
05:09perkembangan yang positif,
05:11walaupun kedua belah pihak memang mengakui
05:13ini belum mencapai kepada
05:15isu-isu yang paling positif,
05:17terutama tentang nuklir.
05:18Karena itu kalau saya baca dari semua itu,
05:22tetap ada kemungkinan 50-50 ini akan ada harapan
05:26paling tidak untuk perdamaian,
05:28walaupun mungkin paling tidak
05:30dalam bentuk perpanjangan
05:32waktu genjatan senjata.
05:34Itu paling realistis ya.
05:36Paling realistis adalah
05:37skenario terjadinya
05:39perpanjangan waktu genjatan senjata
05:42untuk memberikan waktu lebih cukup
05:45kepada para mediator,
05:47kepada para delegasi
05:49untuk melanjutkan diskusi yang ada.
05:52Skenario terburuk untuk kembali kepada perang,
05:55tapi tetap saja ada harapan damai menurut saya.
05:58Saya terang dengan perkembangan terbaru,
06:0250-50-nya agak lebih tipis lagi.
06:03Kalau sebelumnya,
06:04ya beda dua pun saya
06:06di antara perdamaian atau kembali ke perang.
06:10Baik.
06:10Meskipun ada tarik ulur,
06:11tapi tentu harapan damai antara Amerika Serikat
06:14ini Anda baca masih berpeluang.
06:16Cukup besar ya.
06:17Terima kasih pengamat politik Timur Tengah,
06:19Asibulo Satrawi,
06:23sudah bergabung di Kompas Malam.
06:25Sehat selalu, Mas Asibulo.
06:26Terima kasih.
06:26Terima kasih.
Komentar