Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran memicu reaksi keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di tengah upaya perundingan yang tengah dibangun kembali, pernyataan Trump yang tegas dan bernada konfrontatif justru dinilai memperkeruh tensi konflik kedua negara.

Situasi ini membuat masa depan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran semakin tidak pasti. Apalagi, gencatan senjata yang bersifat sementara akan segera berakhir tanpa kepastian lanjutan pembicaraan.

Lalu, bagaimana arah strategi diplomasi kedua negara, dan apakah perundingan masih memiliki peluang untuk berhasil di tengah eskalasi yang terus meningkat?

Kita bahas bersama pengamat Timur Tengah, Hasibullah Sastrawi.

#selathormuz #donaldtrump #as

Baca Juga Petugas Haji Gelombang I Tiba di Arab Saudi, Siapkan Kedatangan Jemaah | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/663990/petugas-haji-gelombang-i-tiba-di-arab-saudi-siapkan-kedatangan-jemaah-kompas-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663992/full-hormuz-ditutup-trump-naik-pitam-nasib-negosiasi-as-iran-di-ujung-tanduk-ini-analisis-pakar
Transkrip
00:02Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump meradang.
00:07Lalu bagaimana nasib perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat di tengah beragam pernyataan Trump
00:13yang mempengaruhi tensi konflik? Kita bahas bersama pengamat politik Timur Tengah, Hasibullo Satrawi.
00:18Selamat malam, Mas Hasibullo.
00:21Selamat malam, Mbak Dian.
00:23Mas Hasibullo, ini kan Iran nampaknya tarik ulur Selat Hormuz.
00:27Sementara ganjalan Amerika Serikat adalah soal nuklir Iran.
00:31Nah, masing-masing ini sama-sama punya tuntutan maksimal.
00:35Bagaimana Anda melihat asa untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat?
00:40Ya, terima kasih Mbak Dian.
00:43Kalau kita ikutin perkembangan perang ini, konflik ini,
00:47kita sudah masuk di hari ke-12, di 279 kurang lebih dalam hitungan saya.
00:53Itu memang perkembangannya sangat dramatis ya,
00:58dan sangat tidak stabil, boleh dibilang begitu.
01:01Dan dalam perkembangan terbaru, ini kembali kepada siaga lah,
01:07perkembangan siaga.
01:08Terutama karena pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Donald Trump.
01:13Tapi saya selalu, saya ingin memberikan dua kerangka
01:17agar kita juga bisa memonitor di kedua belah pihak.
01:21Yang pertama, bahwa ini ada perundingan,
01:24dan yang kedua adalah ada lapangan,
01:26terutama Selat Hormuz dan Libanon dalam beberapa bagian.
01:30Nah, saya melihat perkembangan ini sangat ditentukan
01:33atau bertujuan untuk kedua-dua wilayah ini.
01:38Jadi kalau kita melihat perkembangan di Selat Hormuz,
01:41eskalasi yang meningkat dalam beberapa jam terakhir,
01:45itu sudah pasti diharapkan agar berdampak kepada perkembangan di perundingan.
01:50Sebaliknya, situasi di perundingan itu juga bisa berdampak
01:54kepada apa yang terjadi di lapangan.
01:58Nah, oleh karena itu,
01:59saya melihat pertama dari sikap Iran
02:03yang katakanlah membuka tutup Selat Hormuz ini
02:07dalam dua kacamata.
02:09Yang pertama, bahwa Iran,
02:12terutama ketika Libanon memasuki genjatan senjata,
02:17itu ingin menunjukkan kepada dunia
02:19bahwa dia tetap tertib kepada norma yang dipegang,
02:24terutama terkait dengan komitmen,
02:26terkait dengan genjatan senjata,
02:28di mana kalau Libanon damai sebagai satu kesatuan wilayah
02:33atau kondisi kalau bagi Iran,
02:36maka itu akan menjadi alasan bagi Iran
02:39untuk membuka Selat Hormuz.
02:40Dan itu dia lakukan.
02:42Tapi kemudian setelah Iran,
02:45Amerika melakukan sikap yang
02:47seperti disampaikan oleh Presiden Trump dalam tweetnya,
02:51bahwa ya terima kasih,
02:53lalu kemudian tapi pelabuhan kalian tetap kami blokade,
02:57nah itu menjadi indikasi yang tidak bisa diterima.
03:01Karena itu, saya melihat sikap itu
03:04mencerminkan hal yang kedua,
03:06yaitu perlawanan.
03:07Ada dua yang sekaligus dilawan oleh Iran
03:10dengan menutup kembali Selat Hormuz.
03:13Yang pertama, perlawanan di lapangan,
03:16di Selat Hormuz.
03:17Jadi mereka mencoba untuk
03:19fis-afis dengan apa yang dilakukan oleh Amerika
03:22dalam bentuk blokade pelabuhan.
03:24Jadi dia akan mengaktivasi kembali
03:27kartu lainnya yang sebelumnya sudah dipakai,
03:30tapi karena ada Amerika yang menggunakan hal yang sama,
03:35maka dia mengaktivasi kembali.
03:36Nah perlawanan kedua yang tidak kalah penting,
03:39bahkan paling penting menurut saya,
03:41ini kepada dunia, termasuk publik.
03:44Untuk memberikan kesan bahwa
03:46yang mengontrol lapangan bukan tweetnya Donald Trump.
03:50Bukan pernyataan Donald Trump yang sudah sampaikan
03:53berkali-kali dengan penuh optimistis.
03:55Tapi yang mengontrol di lapangan tetap Iran,
03:57karena itu dia lakukan blokade ulang,
04:00dia lakukan penutupan kembali,
04:02sehingga itu menimbulkan efek
04:05di level larasi paling tidak
04:07bahwa Donald Trump tidak mengontrol
04:11pernyataan atau bahkan lapangannya sendiri.
04:14Mas Asibulo, yang juga jadi pertanyaan,
04:17lalu bagaimana membaca situasi saat ini?
04:18Ini membaca nasib perdamaian
04:21antara Amerika Serikat dan Iran
04:22di tengah situasi saat ini.
04:23Apalagi masa gencatan senjatanya
04:25hanya tersisa tiga hari saja.
04:26Apa yang akan terjadi ke depan?
04:29Yang pertama, memang kedua belah pihak ini
04:31mempertahankan, apa namanya ya,
04:35superiority.
04:36Mempertahankan filosofi tangan di atas.
04:38Mereka tidak ingin terlihat lemah
04:41apalagi kalah di hadapan lawan.
04:44Dan saya melihat semakin ke sini
04:46mereka tetap berpegangan dengan itu semua.
04:48Walaupun di sisi lain,
04:50jangan lupa kita tetap juga harus memberikan ruang
04:53di ruang perundingan juga mengalami
04:55yang disebut sebagai kemajuan.
04:58Saya mengikuti pernyataan dari kedua belah pihak,
05:00misalkan dari Amerika itu
05:02dinyatakan sendiri oleh Presiden Trump,
05:04kemudian dari Iran itu disampaikan oleh
05:06Ketua Parlemen,
05:07itu sama-sama mengakui adanya
05:09perkembangan yang positif,
05:11walaupun kedua belah pihak memang mengakui
05:13ini belum mencapai kepada
05:15isu-isu yang paling positif,
05:17terutama tentang nuklir.
05:18Karena itu kalau saya baca dari semua itu,
05:22tetap ada kemungkinan 50-50 ini akan ada harapan
05:26paling tidak untuk perdamaian,
05:28walaupun mungkin paling tidak
05:30dalam bentuk perpanjangan
05:32waktu genjatan senjata.
05:34Itu paling realistis ya.
05:36Paling realistis adalah
05:37skenario terjadinya
05:39perpanjangan waktu genjatan senjata
05:42untuk memberikan waktu lebih cukup
05:45kepada para mediator,
05:47kepada para delegasi
05:49untuk melanjutkan diskusi yang ada.
05:52Skenario terburuk untuk kembali kepada perang,
05:55tapi tetap saja ada harapan damai menurut saya.
05:58Saya terang dengan perkembangan terbaru,
06:0250-50-nya agak lebih tipis lagi.
06:03Kalau sebelumnya,
06:04ya beda dua pun saya
06:06di antara perdamaian atau kembali ke perang.
06:10Baik.
06:10Meskipun ada tarik ulur,
06:11tapi tentu harapan damai antara Amerika Serikat
06:14ini Anda baca masih berpeluang.
06:16Cukup besar ya.
06:17Terima kasih pengamat politik Timur Tengah,
06:19Asibulo Satrawi,
06:23sudah bergabung di Kompas Malam.
06:25Sehat selalu, Mas Asibulo.
06:26Terima kasih.
06:26Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan