00:00melakukan approach IMF, mengencangkan ikat pinggang, memotong semua belanja dan lain-lain,
00:05kita cenderung memberi insentif ke perekonomian yang terukur.
00:10Sebagai gambaran, pada tahun 2025,
00:13pemerintah telah memberikan insentif pajak untuk mendukung daya beli dan daya saing usaha antara lain.
00:20PPN dibebaskan untuk bahan makanan sebesar Rp77,3 triliun,
00:26insentif pada sektor pendidikan sebesar Rp25,3 triliun,
00:32insentif untuk sektor transportasi sebesar Rp39,7 triliun,
00:37insentif untuk sektor kesehatan sebesar Rp15,1 triliun,
00:42insentif untuk mendukung UMKM sebesar Rp96,4 triliun,
00:47serta tax allowance dan tax allowance untuk menurunkan investasi sebesar Rp7,1 triliun.
00:58Jadi ini kelihatan sekali, pemerintah selalu mendukung pertumbuhan ekonomi seoptimal mungkin.
01:05Di tengah kejolak global yang terus berlangsung,
01:12kinerja APBN 2021-2026 mampu berfungki sebagai shock absorber
01:17sekaligus mendukung agenda pembangunan dengan risiko terkendali.
01:22Peniman pajak tumbuh kuat 20,7 persen year on year
01:26dan belajar negara lebih cepat tumbuh tinggi 31,4 persen year on year,
01:33jauh lebih tinggi dari tahun-tahun lalu, dari tahun lalu yang tumbuhnya 1,4 persen year on year.
01:41Orang bertanya, kenapa sekarang lebih cepat?
01:43Karena emang kita maunya begitu, kita ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan
01:48merata atau hampir merata sepanjang tahun,
01:51sehingga dampak ekonominya lebih signifikan dirasakan sepanjang tahun.
01:58Jadi strategi kita ini mulai berhasil.
02:02Arusnya dampak ekonomi juga lebih bagus.
02:06Sampai dengan 31-2026, pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun
02:13atau meningkat 10,5 persen.
02:16Sementara belanja negara terrealisasi sebesar Rp815,0 triliun
02:22atau meningkat 31,4 persen.
02:26Dengan demikian, defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun
02:32atau 0,93 persen terhadap PDB.
02:37Jadi ketika ada defisit, masyarakat, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget,
02:43memang anggaran kita didesain defisit.
02:45Kalau saya belanjakan lebih merata sepanjang tahun,
02:48kan harusnya di tribulan pertama sekarang lebih besar
02:50dibanding tribulan pertama tahun lalu defisitnya.
02:52Itu sesuatu yang normal.
02:54Tapi yang jelas kita menerita terus,
02:56selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa.
03:02Jadi kita amat berhati-hati dalam mempertimbangkan hal ini.
03:07Selama ini rata-rata belanja di tribulan 1 sekitar 17 persen terhadap APBN.
03:13Di tribulan 1, 2026 penyerapan belanja telah mencapai 21,2 persen.
03:20Ini by design percepatan belanja, seperti saya bilang tadi,
03:24anggarnya sudah ada, KL kerja lebih cepat.
03:28Ini akan memberikan kontribusi yang kuat pada pertumbuhan PDB.
03:37Di tribulan 1, 2026, perkiraan dia 5,5 persen, dia kayaknya takut.
03:44Saya minta 5,5 lebih, nggak bisa 5,6.
03:46Tulis atau lebih.
03:47Atau lebih ya.
03:49Jadi atau lebih.
03:50Mudah-mudahan tercapai, saya pikir kemungkinannya besar sekali tercapai di 5,5 atau lebih ya.
04:02Itu mungkin ada sedikit pertanyaan kalau balik ke postur ini.
04:07Kalau dengan APBN, APBN nggak naik,
04:14apakah APBN kita kuat sepanjang tahun.
04:17Karena ada orang yang bilang katanya uang saya tinggal 2 minggu aja sudah habis.
04:23Bahkan sumbernya bukan dari luar, malah dari orang kementerian keuangan sendiri
04:26yang menyebarkan isu-isu seperti itu.
04:29Saya baru tahu.
04:30Padahal ya menterinya saya.
04:35Jadi saya agak bingung.
04:36Tapi gini, begitu harga minyak naik ke level yang tinggi,
04:41kami dikementerikan langsung eksersis untuk masing-masing harga,
04:46harga sampai 80, kondisi APBN berapa, 90 seperti apa,
04:51sampai 100 seperti apa, dan mitigasinya seperti apa.
04:55Jadi langkah-langkah yang disebutkan oleh Bapak Presiden dan anggota Kabinet yang lain
05:01di pengumuman sebelumnya, itu sudah mempertimbangkan,
05:05dia mungkin enggak yang ngomongin ya,
05:07di kita sudah hitung asumsi harga minyak dunia 100 dolar rata-rata sepanjang tahun 2026,
05:14dan dengan eksersis tertentu,
05:16anggaran bisa kita tekan masih di 2,92 persen dari PDB.
05:23Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata 100, aman.
05:29Terus kalau ada orang yang bilang Purbaya enggak punya uang,
05:32Menteri Keuangan enggak punya uang,
05:34kita dari desain anggaran aja masih di bawah 3 persen.
05:40Selain itu, saya masih punya sal,
05:43sekarang meningkat rupanya Pak Dolby,
05:46saya juga enggak ngerti harusnya dihabisin enggak bisa habis.
05:49ke 420 triliun rupiah itu memiliki bantalan tersendiri
06:01kalau kita diperlukan,
06:03kalau harga minyak naik tinggi sekali,
06:05misalnya enggak terkendali.
06:07Jadi dari situ kita masih aman,
06:09Bapak-Bapak, Ibu-Ibu.
06:10Tentu saya akan ke Komisi 11 untuk meminta izin
06:14bagaimana mengolah anggaran sal itu
06:17untuk menjaga sustenabilitas,
06:20bukan APBN lagi pada waktu nanti,
06:21negara kita.
06:23Tapi yang penting adalah dananya ada,
06:27kursian kita masih ada,
06:28nanti juga Pak Menteri ESDM
06:31menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan
06:34harga minyak dan harga batubara di pasar dunia.
06:39Jadi masyarakat enggak usah khawatir,
06:41kita sudah hitung dengan eksersis seperti itu.
06:45Kalau kepepet masih ada yang lain,
06:47kalau kepepet masih ada.
06:48Jadi pertahanan kita berlapis-lapis.
06:51Jadi saya ingin memastikan lagi nih Pak,
06:55ini apa yang Bapak sampaikan terakhir ini
06:57sangat penting ini untuk diketahui masyarakat Pak,
07:00bahwa eksersis harga BBM di 80, 90, dan 100 pun
07:04negara sudah siap Pak ya?
07:06Sudah siap.
07:07Yang kemarin diumumkan itu dengan asumsi 100,
07:10jadi kita sudah siap ke lampesan.
07:13Siap sampai akhir tahun?
07:15Sampai akhir tahun.
07:16Nah, ini yang harus masyarakat tahu Pak,
07:18bahwa pemerintah siap untuk tidak menaikkan
07:21sampai di akhir tahun.
07:22Iya Pak, kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun
07:26untuk BBM bersuruh ini ya Pak ya,
07:28dengan asumsi.
07:29Terima kasih.
07:29Terima kasih.
Komentar