00:00Terima kasih pimpinan dan teman-teman Komisi 11.
00:04Selamat siang Pak Menkyu beserta jajaran.
00:10Ini sama dengan teman-teman yang lain, kita apresiasi.
00:13Kalau melihat berita-berita di TV ini Pak Purbaya,
00:17di negara-negara lain itu ya, di Filipina, kemudian di Vietnam, di Thailand,
00:26orang-orang itu sudah pada jalan kaki ke kantor.
00:30BBM itu sudah mahal dan sudah langka.
00:34Dan bahkan di negara tetangga kita juga kan, di rata-rata negara Asia ya,
00:40Jepang, Korsel, Cina itu pemerintah sudah mempengkehematan.
00:43Dan di Indonesia, hampir-hampir kita tidak merasakan krisis itu.
00:49Dan tadi Pak Menteri diiringin dengan tepuk tangan sebagian teman-teman,
00:54sudah menjamin bahwa sampai akhir tahun kita tidak ada kenaikan BBM.
00:59Tentu ini satu yang harus kita apresiasi, saya bilang harus,
01:05karena memang di saat negara lain itu sudah betul-betul,
01:08saya kemarin melihat di TV malah Pakistan sudah didemo oleh rakyatnya ya,
01:14tentang kelangkaan BBM itu.
01:16Jadi satu hal yang patut kita apresiasi bahwa Indonesia ini belum merasakan adanya,
01:25hampir-hampir tidak terasa krisis itu.
01:28Nah, satu hal buat kita semua, ini sampai berapa lama Pak Menteri?
01:35Karena kita juga mendengar juga dan sempat disampaikan juga di depan rakyat Indonesia,
01:40di televisi, stok BBM kita itu berapa lama, ada yang 21 hari, ada yang 27 hari,
01:47dan kita juga sempat diminta untuk mematikan kompor kalau masakan sudah matang,
01:54sebagai langkah penghematan.
01:58Dan ini kan satu awareness juga,
02:04oh berarti kan jarang-jarang.
02:05Saya harus mengklarifikasi ini Bu Andi, saya tetap dulu.
02:08Enggak ini agak sensitif saya ini,
02:11ini saya sensitif ini,
02:12soal statement ketua umum saya ini tidak seperti yang Ibu sebutkan.
02:17Enggak ini di forum terbuka nih Bu.
02:20Saya ingetin Ibu ini.
02:21Ya oke ya Pak.
02:22Oke, saya ingetin Ibu ini.
02:24Statement ketua umum saya tidak seperti itu.
02:27Oke.
02:28Saya statement ketua umum saya tidak menyatakan seperti itu.
02:31Oke.
02:33Bahwa ketua umum saya tidak menyatakan bahwa kalau sudah matang dimatikan kompor,
02:37tidak seperti itu.
02:39Jadi kalau Ibu mengutip sahabat-sahabat itu,
02:41saya ingatin bahwa pernyataannya tidak seperti itu.
02:43Baik, baik. Terima kasih Pak Ketua.
02:45Jadi, substansinya bukan itu.
02:47substansinya adalah bahwa ada awareness bahwa kita harus menghemat BBM.
02:51Jadi bukan itu ya, saya tarik kembali perkataan saya tentang kompor itu.
02:56Saya tarik kembali.
02:57Maaf Pak Ketua, dan juga teman-teman dari Golkar, saya mohon maaf.
03:01Tapi substansinya bukan itu.
03:02Substansinya adalah tanda-tanda krisis itu ada.
03:07Tanda-tanda bahwa stok BBM kita tinggal berapa lama,
03:10kemudian juga menghematan sudah harus diingatkan.
03:16Jadi saya tarik kembali kata-kata kompor tadi ya.
03:21Kemudian, yang perlu kita juga ketahui adalah tadi ya,
03:25seberapa lama daya tahan kita.
03:28Tadi kan Pak Menteri mengatakan bahwa sampai akhir tahun tidak akan ada kenaikan BBM.
03:32Itu patut kita apresiasi dan ini langkah pemerintah semua.
03:35Tidak hanya Menteri Keuangan, tentu saja kan semua pemerintah bekerja.
03:39Sampai berapa lama kita bertahan itu,
03:41dan kemudian mungkin kita juga perlu tahu perhitungannya begitu ya.
03:47Artinya kan bahwa ketika pemerintah mengatakan bahwa sampai tidak ada kenaikan BBM,
03:53berarti ada subsidi dari pemerintah.
03:55Asumsinya kan begitu, subsidi tidak akan naik.
03:58Nah itu dari mana?
04:03Jadi jangan sampai ada statement juga, pokoknya ada gitu.
04:06Jangan sampai ada seperti itu.
04:08Jadi kita perlu tahu juga hitung-hitungannya,
04:12karena memang kalau kita melihat di sini bunga utang kita itu kan sudah lumayan.
04:20Untuk tahun 2026, APB 26 itu sudah memakan 19% dari belanja pemerintah,
04:27atau 26% dari GDP.
04:29Tahun 2020 kita membayar bunga itu sebesar 314 triliun.
04:33Jadi dalam 6 tahun itu sudah berlipat 2 kali.
04:37Nah untuk bertahan sekian lama itu sumbernya,
04:42dan kita patut juga untuk ikut berpikir juga,
04:47karena kita juga akan ingin membantu pemerintah dalam mengatasi hal ini.
04:54Rakyat juga ikut ingin membantu juga bagaimana agar kita bisa bertahan lebih ramai.
04:59Kemudian juga inflasi bahan bakar, minyak,
05:03ini juga kan naiknya tinggi di antara inflasi yang lain.
05:08Dan tentu saja ini akan dampaknya kepada daya beli masyarakat.
05:13Dan tadi kan juga diperkenalkan bahwa daya tahan pertumbuhan ekonomi itu kan paling besar adalah di konsumsi rumah tangga.
05:20Kalau kita melihat indeks yakinan konsumen itu kan juga mengalami penurunan.
05:27IKK itu menurunkan, terutama di masyarakat penuh hasilan yang 1-2 juta,
05:34yang menengah juga turun,
05:36yang stabil hanya di yang penerbatatan di atas 5 juta.
05:39Kalau diperiksa data dari IKK itu.
05:42Jadi sinyal-sinyal bahwa ada penurunan daya beli,
05:47kemudian itu ada indeks ekspetasi konsumen juga turun.
05:51Jadi bukan hanya daya beli yang sekarang,
05:53tapi juga ekspetasi mereka terhadap ekonomi ke depan itu juga ikut turun.
05:57Jadi mungkin di sini kita juga perlu,
05:59selain ada optimisme yang juga cukup bagus untuk psikologis masyarakat,
06:04kita juga perlu memberikan bahwa ini perhitungannya ada loh.
06:08Kalau tadi Pak Menteri kan berkali-kali belum bawah,
06:10sudah dihitung sampai naik 90 dolar pun sudah kita hitung.
06:17Nah kami ingin tahu juga hitungnya dari mana dan sumbernya dari mana.
06:20Mudah-mudahan kalau memang itu,
06:23dan mengambil hutang baru kan biayanya lebih mahal.
06:26Mengambil hutang baru.
06:28Nah itu yang pertama Pak Menteri.
06:30Kemudian berikutnya tentang penerimaan.
06:34Ini tentang pajak, terutama tentang pajak ya.
06:37Dan tadi sudah banyak disampaikan tentang kortex yang memang perlu juga.
06:42Tapi kita presiasi bahwa tahun ini kita sudah semuanya kortex,
06:46walaupun juga kebingungan itu bukan hanya ada di masyarakat juga.
06:49Tapi saya rasa di pegawai-pegawai KPP juga masih banyak yang bingung
06:54tentang aplikasi kortex itu.
06:58Karena saya juga punya kenalan banyak di KPP,
07:00masih banyak juga yang kami masih belum familiar juga gitu,
07:03karena memang sistemnya baru.
07:05Nah ini sejauh mana sistem kortex dan compliant risk management, CRM itu,
07:11dapat secara efektif menekan tax gap,
07:14dan mengatasi tantangan shadow economy.
07:17Shadow economy saya singgah sendiri yang selama itu sulit untuk dijangkau.
07:21Nah kortex sudah bisa atau belum.
07:25Kemudian dengan adanya 17 juta aktifasi kortex hingga Maret 2026,
07:31apa kendala teknis utama yang harus diwaspadai,
07:34agar sistem ini tidak justru menghambat proses pelaporan wajib pajak.
07:41Kemudian, Bank Dunia itu menyarankan penyesuaian ambang batas,
07:46threshold PPN dan PPH badan,
07:48serta penghapusan tarif khusus.
07:51Saran dari Bank Dunia.
07:53Apakah langkah proaktif ini lebih efektif dibandingkan
07:57mempertahankan tarif saat ini demi menjaga stabilitas ekonomi?
08:02Pertanyaan, apakah itu lebih efektif dibandingkan dengan
08:05mempertahankan tarif saat ini demi menjaga stabilitas ekonomi?
08:08Bagaimana sebaiknya pemerintah menyikapi proyeksi konsumratif
08:12fit rating yang menempatkan rasio pendapatan pemerintah
08:15hanya di angka 13,3% pada 2006-2007
08:21yang jauh di bawah standar negara peringkat BBB lainnya?
08:25Itu saja pimpinan, terima kasih.
08:27Sekali lagi saya di forum Turbuka juga,
08:29mohon maaf kepada Pak Ketua Komitul 11 dan juga teman-teman Golkar
08:32dan pernyataan tadi saya cabut.
08:34Terima kasih.
08:35Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
08:36Waalaikumsalam.
08:37Makasih.
08:38Makasih Bu Andi sudah selesai urusan Bu.
08:40Sudah tuntas.
08:41Nah, aman Bu.
08:44Masih bulan puasa.
08:46Aman-aman Bu.
08:49Pak Pimpinan, Pak Fauci Amro, saya persilakan.
Komentar