Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV Ruang rapat Komisi XI DPR RI sempat memanas saat interupsi tajam datang dari pimpinan rapat, Mukhamad Misbakhun.

Momen ini terjadi ketika Anis Byarwati sedang menyampaikan pandangannya mengenai ketahanan energi dan perilaku penghematan masyarakat di tengah ancaman krisis BBM global.

Dalam paparannya, Anis Byarwati awalnya mengapresiasi pemerintah yang menjaga harga BBM tidak naik.

Namun, suasana berubah saat ia mengutip sebuah imbauan agar rakyat mematikan kompor jika masakan sudah matang sebagai langkah penghematan.

"Kita juga sempat diminta untuk mematikan kompor kalau masakan sudah matang begitu kan sebagai langkah penghematan gitu ya," ujar Anis dalam rapat tersebut.

Mendengar kutipan tersebut, Misbakhun yang juga merupakan politisi senior Golkar segera memotong pembicaraan.

Ia memberikan klarifikasi keras karena merasa pernyataan tersebut menyimpang dari konteks asli yang disampaikan oleh Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.

"Bu Anis, saya stop dulu. Ini agak sensitif bagi saya. Ini statement Ketua Umum saya tidak seperti yang Ibu sebutkan," tegas Misbakhun di forum terbuka.

Misbakhun mengingatkan agar anggota dewan tidak sembarangan mengutip pernyataan tokoh publik, terutama jika substansinya bisa menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Joshua

#misbakhun #bahlil #golkar

Baca Juga Jusuf Kalla Laporkan Rismon ke Bareskrim Kasus Ijazah Jokowi, Kuasa Hukum: Merusak Nama Baik di https://www.kompas.tv/nasional/661196/jusuf-kalla-laporkan-rismon-ke-bareskrim-kasus-ijazah-jokowi-kuasa-hukum-merusak-nama-baik



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/661205/misbakhun-sanggah-anggota-komisi-xi-dpr-anis-byarwati-terkait-isu-kompor-bahlil
Transkrip
00:00Terima kasih pimpinan dan teman-teman Komisi 11.
00:04Selamat siang Pak Menkyu beserta jajaran.
00:10Ini sama dengan teman-teman yang lain, kita apresiasi.
00:13Kalau melihat berita-berita di TV ini Pak Purbaya,
00:17di negara-negara lain itu ya, di Filipina, kemudian di Vietnam, di Thailand,
00:26orang-orang itu sudah pada jalan kaki ke kantor.
00:30BBM itu sudah mahal dan sudah langka.
00:34Dan bahkan di negara tetangga kita juga kan, di rata-rata negara Asia ya,
00:40Jepang, Korsel, Cina itu pemerintah sudah mempengkehematan.
00:43Dan di Indonesia, hampir-hampir kita tidak merasakan krisis itu.
00:49Dan tadi Pak Menteri diiringin dengan tepuk tangan sebagian teman-teman,
00:54sudah menjamin bahwa sampai akhir tahun kita tidak ada kenaikan BBM.
00:59Tentu ini satu yang harus kita apresiasi, saya bilang harus,
01:05karena memang di saat negara lain itu sudah betul-betul,
01:08saya kemarin melihat di TV malah Pakistan sudah didemo oleh rakyatnya ya,
01:14tentang kelangkaan BBM itu.
01:16Jadi satu hal yang patut kita apresiasi bahwa Indonesia ini belum merasakan adanya,
01:25hampir-hampir tidak terasa krisis itu.
01:28Nah, satu hal buat kita semua, ini sampai berapa lama Pak Menteri?
01:35Karena kita juga mendengar juga dan sempat disampaikan juga di depan rakyat Indonesia,
01:40di televisi, stok BBM kita itu berapa lama, ada yang 21 hari, ada yang 27 hari,
01:47dan kita juga sempat diminta untuk mematikan kompor kalau masakan sudah matang,
01:54sebagai langkah penghematan.
01:58Dan ini kan satu awareness juga,
02:04oh berarti kan jarang-jarang.
02:05Saya harus mengklarifikasi ini Bu Andi, saya tetap dulu.
02:08Enggak ini agak sensitif saya ini,
02:11ini saya sensitif ini,
02:12soal statement ketua umum saya ini tidak seperti yang Ibu sebutkan.
02:17Enggak ini di forum terbuka nih Bu.
02:20Saya ingetin Ibu ini.
02:21Ya oke ya Pak.
02:22Oke, saya ingetin Ibu ini.
02:24Statement ketua umum saya tidak seperti itu.
02:27Oke.
02:28Saya statement ketua umum saya tidak menyatakan seperti itu.
02:31Oke.
02:33Bahwa ketua umum saya tidak menyatakan bahwa kalau sudah matang dimatikan kompor,
02:37tidak seperti itu.
02:39Jadi kalau Ibu mengutip sahabat-sahabat itu,
02:41saya ingatin bahwa pernyataannya tidak seperti itu.
02:43Baik, baik. Terima kasih Pak Ketua.
02:45Jadi, substansinya bukan itu.
02:47substansinya adalah bahwa ada awareness bahwa kita harus menghemat BBM.
02:51Jadi bukan itu ya, saya tarik kembali perkataan saya tentang kompor itu.
02:56Saya tarik kembali.
02:57Maaf Pak Ketua, dan juga teman-teman dari Golkar, saya mohon maaf.
03:01Tapi substansinya bukan itu.
03:02Substansinya adalah tanda-tanda krisis itu ada.
03:07Tanda-tanda bahwa stok BBM kita tinggal berapa lama,
03:10kemudian juga menghematan sudah harus diingatkan.
03:16Jadi saya tarik kembali kata-kata kompor tadi ya.
03:21Kemudian, yang perlu kita juga ketahui adalah tadi ya,
03:25seberapa lama daya tahan kita.
03:28Tadi kan Pak Menteri mengatakan bahwa sampai akhir tahun tidak akan ada kenaikan BBM.
03:32Itu patut kita apresiasi dan ini langkah pemerintah semua.
03:35Tidak hanya Menteri Keuangan, tentu saja kan semua pemerintah bekerja.
03:39Sampai berapa lama kita bertahan itu,
03:41dan kemudian mungkin kita juga perlu tahu perhitungannya begitu ya.
03:47Artinya kan bahwa ketika pemerintah mengatakan bahwa sampai tidak ada kenaikan BBM,
03:53berarti ada subsidi dari pemerintah.
03:55Asumsinya kan begitu, subsidi tidak akan naik.
03:58Nah itu dari mana?
04:03Jadi jangan sampai ada statement juga, pokoknya ada gitu.
04:06Jangan sampai ada seperti itu.
04:08Jadi kita perlu tahu juga hitung-hitungannya,
04:12karena memang kalau kita melihat di sini bunga utang kita itu kan sudah lumayan.
04:20Untuk tahun 2026, APB 26 itu sudah memakan 19% dari belanja pemerintah,
04:27atau 26% dari GDP.
04:29Tahun 2020 kita membayar bunga itu sebesar 314 triliun.
04:33Jadi dalam 6 tahun itu sudah berlipat 2 kali.
04:37Nah untuk bertahan sekian lama itu sumbernya,
04:42dan kita patut juga untuk ikut berpikir juga,
04:47karena kita juga akan ingin membantu pemerintah dalam mengatasi hal ini.
04:54Rakyat juga ikut ingin membantu juga bagaimana agar kita bisa bertahan lebih ramai.
04:59Kemudian juga inflasi bahan bakar, minyak,
05:03ini juga kan naiknya tinggi di antara inflasi yang lain.
05:08Dan tentu saja ini akan dampaknya kepada daya beli masyarakat.
05:13Dan tadi kan juga diperkenalkan bahwa daya tahan pertumbuhan ekonomi itu kan paling besar adalah di konsumsi rumah tangga.
05:20Kalau kita melihat indeks yakinan konsumen itu kan juga mengalami penurunan.
05:27IKK itu menurunkan, terutama di masyarakat penuh hasilan yang 1-2 juta,
05:34yang menengah juga turun,
05:36yang stabil hanya di yang penerbatatan di atas 5 juta.
05:39Kalau diperiksa data dari IKK itu.
05:42Jadi sinyal-sinyal bahwa ada penurunan daya beli,
05:47kemudian itu ada indeks ekspetasi konsumen juga turun.
05:51Jadi bukan hanya daya beli yang sekarang,
05:53tapi juga ekspetasi mereka terhadap ekonomi ke depan itu juga ikut turun.
05:57Jadi mungkin di sini kita juga perlu,
05:59selain ada optimisme yang juga cukup bagus untuk psikologis masyarakat,
06:04kita juga perlu memberikan bahwa ini perhitungannya ada loh.
06:08Kalau tadi Pak Menteri kan berkali-kali belum bawah,
06:10sudah dihitung sampai naik 90 dolar pun sudah kita hitung.
06:17Nah kami ingin tahu juga hitungnya dari mana dan sumbernya dari mana.
06:20Mudah-mudahan kalau memang itu,
06:23dan mengambil hutang baru kan biayanya lebih mahal.
06:26Mengambil hutang baru.
06:28Nah itu yang pertama Pak Menteri.
06:30Kemudian berikutnya tentang penerimaan.
06:34Ini tentang pajak, terutama tentang pajak ya.
06:37Dan tadi sudah banyak disampaikan tentang kortex yang memang perlu juga.
06:42Tapi kita presiasi bahwa tahun ini kita sudah semuanya kortex,
06:46walaupun juga kebingungan itu bukan hanya ada di masyarakat juga.
06:49Tapi saya rasa di pegawai-pegawai KPP juga masih banyak yang bingung
06:54tentang aplikasi kortex itu.
06:58Karena saya juga punya kenalan banyak di KPP,
07:00masih banyak juga yang kami masih belum familiar juga gitu,
07:03karena memang sistemnya baru.
07:05Nah ini sejauh mana sistem kortex dan compliant risk management, CRM itu,
07:11dapat secara efektif menekan tax gap,
07:14dan mengatasi tantangan shadow economy.
07:17Shadow economy saya singgah sendiri yang selama itu sulit untuk dijangkau.
07:21Nah kortex sudah bisa atau belum.
07:25Kemudian dengan adanya 17 juta aktifasi kortex hingga Maret 2026,
07:31apa kendala teknis utama yang harus diwaspadai,
07:34agar sistem ini tidak justru menghambat proses pelaporan wajib pajak.
07:41Kemudian, Bank Dunia itu menyarankan penyesuaian ambang batas,
07:46threshold PPN dan PPH badan,
07:48serta penghapusan tarif khusus.
07:51Saran dari Bank Dunia.
07:53Apakah langkah proaktif ini lebih efektif dibandingkan
07:57mempertahankan tarif saat ini demi menjaga stabilitas ekonomi?
08:02Pertanyaan, apakah itu lebih efektif dibandingkan dengan
08:05mempertahankan tarif saat ini demi menjaga stabilitas ekonomi?
08:08Bagaimana sebaiknya pemerintah menyikapi proyeksi konsumratif
08:12fit rating yang menempatkan rasio pendapatan pemerintah
08:15hanya di angka 13,3% pada 2006-2007
08:21yang jauh di bawah standar negara peringkat BBB lainnya?
08:25Itu saja pimpinan, terima kasih.
08:27Sekali lagi saya di forum Turbuka juga,
08:29mohon maaf kepada Pak Ketua Komitul 11 dan juga teman-teman Golkar
08:32dan pernyataan tadi saya cabut.
08:34Terima kasih.
08:35Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
08:36Waalaikumsalam.
08:37Makasih.
08:38Makasih Bu Andi sudah selesai urusan Bu.
08:40Sudah tuntas.
08:41Nah, aman Bu.
08:44Masih bulan puasa.
08:46Aman-aman Bu.
08:49Pak Pimpinan, Pak Fauci Amro, saya persilakan.
Komentar

Dianjurkan