Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 5 menit yang lalu


KOMPAS.TV - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa rapat kerja dengan Komisi XI DPR membahas kinerja penerimaan negara pada triwulan I tahun anggaran 2026.

Dalam rapat tersebut, Purbaya menyinggung ada pihak di dalam Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menyebarkan isu bahwa APBN hanya tersisa untuk 2 minggu.

"Kalau APBN nggak naik, apakah APBN kita kuat sepanjang tahun? Karena ada orang bilang uang saya tinggal 2 minggu saja sudah habis, bahkan bukan dari luar tapi dari orang Kementerian Keuangan itu sendiri yang sebarkan isu-isu seperti itu, saya baru tahu, padahal menterinya saya, jadi saya agak bingung," kata Purbaya saat rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

Baca Juga Menkeu Purbaya: Stabilitas Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Perang Timur Tengah di https://www.kompas.tv/nasional/661189/menkeu-purbaya-stabilitas-ekonomi-indonesia-tetap-terjaga-di-tengah-perang-timur-tengah



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/661190/depan-dpr-purbaya-sentil-orang-kemenkeu-bikin-isu-apbn-habis-dalam-2-minggu
Transkrip
00:00Saya akan ulang lagi itu semaksimal mungkin, tentunya dengan perhatian juga apakah ekonominya kepanasan apa enggak,
00:07apa uangnya berlebih apa enggak, karena kalau uangnya berlebih juga hanya menciptakan inflasi dan menekan nilai tukar.
00:15Pada saat sekarang belum sampai itu kita akan melita terus dari waktu ke waktu keadaannya.
00:22Jadi yang dijalankan pemerintah adalah seperti itu dan saya harap ekonom-ekonom luar yang mengerti
00:28mulai membuka-buka buku lagi untuk melihat apa yang saya lakukan sehingga tidak menimbulkan,
00:33tidak menceritakan hal-hal yang salah mengerti, yang cenderung menimbulkan sentimen negatif di perekonomian.
00:43Kita sudah punya pengalaman banyak dan kita akan gunakan pengalaman Indonesia selama ini
00:48untuk mencegah supaya Indonesia tidak balik ke krisis 1997-1998 lagi.
00:542008 kenapa kita pakai seperti itu?
00:57Karena kita tahu di tahun 1998 ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh moneter dan fiskal kita pada waktu itu
01:05karena kita menghadapi flexible exchange rate yang tiba-tiba berubah,
01:11yang dimana strateginya beda dengan tahun-tahun sebelumnya.
01:14Jadi tahun 2008 kita terapkan polisi yang berbeda,
01:172015 juga kita terapkan polisi yang berbeda,
01:212020 kita rejah juga,
01:23dan 2025 kemarin juga kita ubah ke arah yang bagus.
01:28Itu bukan karangan saya,
01:31tapi dari pengalaman negara Indonesia selama 25 tahun terakhir tambah krisis 1998.
01:37Jadi kalau ada yang bilang kita menuju ke 1998 lagi,
01:41dia tidak pernah belajar dari sejarah.
01:44Jadi pengetahuan kolektif kita,
01:46bapak-bapak ibu-ibu yang kita bisa gunakan
01:48untuk memastikan ekonomi kita masih akan aman
01:52dan anggarannya juga akan terjaga.
01:56Next.
01:57Halaman 7 lagi, lanjut.
02:02Ini lanjut ke insentif yang kita berikan.
02:04Jadi dalam keadaan seperti itu,
02:08ketika ekonomi ada gangguan,
02:10kita tidak menerapkan approach IMF,
02:13mengencangkan ikat pinggang,
02:15memotong semua belanja dan lain-lain,
02:17kita cenderung memberi insentif ke perekonomian yang terukur.
02:23Sebagai gambaran, pada tahun 2025,
02:26pemerintah telah memberikan insentif pajak
02:28untuk mendukung daya beli dan daya saing usaha antara lain.
02:32PPN dibebaskan untuk bahan makanan sebesar 77,3 triliun rupiah,
02:39insentif pada sektor pendidikan sebesar 25,3 triliun rupiah,
02:45insentif untuk sektor transportasi sebesar 39,7 rupiah,
02:50insentif untuk sektor kesehatan sebesar 15,1 triliun rupiah,
02:54insentif untuk mendukung UMKM sebesar 96,4 triliun rupiah,
03:00serta tax allowance dan tax solidary dan tax allowance
03:04untuk mendorong investasi sebesar 7,1 triliun rupiah.
03:10Jadi ini kelihatan sekali,
03:12pemerintah selalu mendukung pertumbuhan ekonomi
03:15seoptimal mungkin.
03:18Di tengah kejolak global yang terus berlangsung,
03:24kinerja APBN 2021-2026 mampu berfungki sebagai shock absorber
03:29sekaligus mendukung agenda pembangunan dengan risiko terkendali.
03:34Peniman pajak tumbuh kuat 20,7 persen year on year,
03:39dan belajar negara lebih cepat tumbuh tinggi 31,4 persen year on year,
03:45jauh lebih tinggi dari tahun-tahun lalu,
03:48dari tahun lalu yang tumbuhnya 1,4 persen year on year.
03:53Orang bertanya, kenapa sekarang lebih cepat?
03:55Karena emang kita maunya begitu,
03:57kita ingin sekali belanjanya bisa dibelanjakan merata
04:01atau hampir merata sepanjang tahun,
04:04sehingga dampak ekonominya lebih signifikan,
04:08dirasakan sepanjang tahun.
04:10Jadi strategi kita ini mulai berhasil.
04:14Aruhnya dampaknya ekonomi juga lebih bagus.
04:18Sampai dengan triwulan 1 dari 2026,
04:21pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun
04:25atau meningkat 10,5 persen,
04:29sementara belanja negara terrealisasi
04:31sebesar Rp815,0 triliun
04:34atau meningkat 31,4 persen.
04:38Dengan demikian,
04:39defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun
04:44atau 0,93 persen terhadap PDB.
04:49Jadi ketika ada defisit,
04:52masyarakat, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget,
04:55memang anggaran kita didesain defisit.
04:58Kalau saya belanjakan lebih merata sepanjang tahun,
05:00kan harusnya di triwulan pertama sekarang lebih besar
05:02dibanding triwulan pertama tahun lalu defisitnya.
05:04Itu sesuatu yang normal.
05:06Tapi yang jelas kita menerita terus,
05:08selama setahun akan seperti apa,
05:11pendapatannya dan belanjanya seperti apa.
05:14Jadi kita amat berhati-hati dalam mempertimbangkan hal ini.
05:19Selama ini rata-rata belanja di triwulan 1 sekitar 17 persen
05:23terhadap APBN.
05:25Di triwulan 1, 2026 penyerapan belanja telah mencapai 21,2 persen.
05:32Ini by design percepatan belanja,
05:35seperti saya bilang tadi,
05:36anggaran yang sudah ada,
05:38KL kerja lebih cepat.
05:40Ini akan memberikan kontribusi yang kuat
05:42pada pertumbuhan PDB.
05:49Di triwulan 1, 2026,
05:53perkiraan dia 5,5 persen,
05:55dia kayaknya takut.
05:56Saya minta 5,5 lebih,
05:58enggak bisa 5,6.
05:59Tulis atau lebih.
06:00Atau lebih ya.
06:01Jadi atau lebih.
06:01Mudah-mudahan tercapai,
06:04saya pikir
06:07kemungkinannya besar sekali tercapai di 5,5 atau lebih ya.
06:15Mungkin ada sedikit pertanyaan kalau balik ke postur ini.
06:19Kalau dengan APBN, APBN nggak naik,
06:26apakah APBN kita kuat sepanjang tahun?
06:29Karena ada orang yang bilang,
06:31katanya uang saya tinggal 2 minggu aja sudah habis.
06:35Bahkan sumbernya bukan dari luar,
06:37malah dari orang kementerian keuangan sendiri
06:38yang menyebarkan isu-isu seperti itu.
06:41Saya baru tahu,
06:43padahal ya menterinya saya.
06:47Jadi saya agak bingung.
06:48Tapi gini,
06:50begitu harga minyak naik ke level yang tinggi,
06:53kami di kementerian langsung exercise
06:55untuk masing-masing harga.
06:58Harga sampai 80,
07:00kondisi APBN berapa?
07:0190 seperti apa?
07:03Sampai 100 seperti apa?
07:05Dan mitigasinya seperti apa?
07:07Jadi langkah-langkah yang disebutkan oleh Bapak Presiden
07:10dan anggota kabinet yang lain di pengumuman sebelumnya,
07:15itu sudah mempertimbangkan,
07:17dia mungkin nggak yang ngomongin ya,
07:19di kita sudah hitung asumsi harga minyak dunia
07:22seratus dolar rata-rata sepanjang tahun 2026
07:26dan dengan exercise tertentu,
07:29anggaran bisa kita tekan masih di 2,92 persen dari PDB.
07:35Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata 100, aman.
07:41Terus kalau ada orang yang bilang
07:43Purbaya nggak punya uang,
07:44Menteri Keuangan nggak punya uang,
07:46kita dari desain anggaran aja masih di bawah 3 persen.
07:52Selain itu,
07:53saya masih punya sal,
07:56sekarang meningkat rupanya Pak Dolby,
07:58saya juga nggak ngerti,
07:59harusnya dihabisin nggak bisa habis.
08:02ke-420 triliun rupiah,
08:05itu memiliki
08:12bantalan tersendiri,
08:14kalau kita diperlukan,
08:15kalau harga minyak naik tinggi sekali,
08:17misalnya nggak terkendali.
08:19Jadi dari situ,
08:20kita masih aman,
08:21Bapak-Bapak, Ibu-Ibu,
08:22tentu saya akan ke Komisi 11
08:24untuk meminta izin
08:27bagaimana mengolah anggaran
08:29sal itu untuk menjaga
08:31sustenabilitas,
08:32bukan APBN lagi pada waktu nanti,
08:34negara kita.
08:35Tapi yang penting adalah
08:37dananya ada,
08:39kursian kita masih ada,
08:41nanti juga Pak Menteri ESDM
08:43menjanjikan pendapatan yang lebih
08:45dari kenaikan harga minyak
08:47dan harga batu bara
08:49di pasar dunia.
08:51Jadi masyarakat,
08:53nggak usah khawatir,
08:54kita sudah hitung dengan eksersis seperti itu.
08:57Kalau kepepet,
08:58masih ada yang lain,
08:59kalau kepepet masih ada.
09:00Jadi pertanian kita berlapis-lapis.
09:03Jadi saya...
09:04terima kasih.
09:05terima kasih.
09:05terima kasih.
09:05terima kasih.
Komentar

Dianjurkan