00:00Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, Indonesia dituntut tidak hanya reaktif
00:04tapi juga bisa mengambil langkah yang taktis dan strategis.
00:07Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
00:13Kita masih membahas ya bersama Kepala Lab 45, Jaleswari Pramoda Wardani
00:16dan Ekonom Senior Indef, Afi Liani.
00:19Bu Afi, kan dalam membuat kebijakan, gak hanya kita lihat dari satu sisi saja pemerintah
00:24tapi kita lihat juga ada banyak faktor, investor, dan juga bagaimana data sebenarnya
00:28dari lembaga pemeringkat internasional.
00:30Di mana posisi kita sekarang?
00:32Ya, jadi memang kita juga harus melihat dari sisi berbagai hal ya
00:36termasuk kan Standard & Poor's sama dua lembaga rating ini kan mengatakan proyeksi akan menurunkan.
00:42Ya itu artinya apa? Mereka belum punya keyakinan terhadap, terutama adalah fiskal
00:46karena mereka ini banyak investor yang membeli obligasi pemerintah gitu ya.
00:50Nah artinya apa? Artinya pemerintah tidak bisa hanya percaya diri bahwa kita udah bagus-bagus aja
00:55gak akan mungkin di atas 3 persen. Tapi kan mereka punya hitungan tersendiri.
00:59Nah oleh karena itu mungkin di sini adalah pemerintah perlu menyampaikan hal yang sebenarnya gitu.
01:04Karena kalau mereka persepsinya seperti itu pasti mereka punya hitungan dong.
01:07Gak mungkin mereka mengatakan menurunkan itu tanpa hitungan ya.
01:10Karena apa? Dampaknya itu akan buruk.
01:12Kalau ini terjadi pasti suku bunga akan naik lagi.
01:15Yang tadinya kita harap turun jadi naik. Satu itu.
01:18Yang kedua kalau mereka tidak percaya mereka akan tarik dana asing.
01:21Artinya apa? Rupiah kita bisa melemah dan tugas BI-nya juga berat.
01:26Karena BI harus membeli obligasi pemerintah terus-menerus dan tidak hanya membantu pemerintah.
01:31Itu akan menyulitkan dari sisi kalau nilai tukar kita lemah otomatis dong kita kan 70 persen masih tergantung import dong.
01:37Otomatis harga jadi naik.
01:39Kalau harga-harga naik ya masyarakat terkena dampaknya juga gitu.
01:42Jadi kita lihat dong Malaysia tuh sekarang coba nilai tukarnya sangat kuat dibandingin kita gitu.
01:48Nah oleh karena itu kita harus mengevaluasi apa yang memang dilakukan oleh lembaga retik itu harusnya kita dekati.
01:54Apa yang menyebabkan mereka membuat itu ya.
01:56Dan kita harus membuat polisi-polisi yang memang kita harus jujur apa yang diharapkan oleh mereka dan yang mereka lihat
02:02dari kita gitu.
02:03Sehingga kalau ini terjadi mungkin bisa memperbaiki juga.
02:06Karena tadi kan udah dari BBM kemudian dari harga-harga tambah lagi nilai tukar gitu.
02:11Nah ini yang menurut saya harus diwaspadi oleh pemerintah juga supaya paling tidak ke depan itu kita sudah membereskan dari
02:18kebijakan fiskal dan moneter.
02:20Karena ini yang kena dua dampak ini fiskal dan moneter gitu ya.
02:23Dan itu harus jalan barengan fiskal dan moneter.
02:25Tambah lagi satu sektorial jadi tiga polisi ini itu harus berdampingan menjadi suatu ekosistem yang membuat fundasi domestik kita bagus
02:34gitu.
02:34Jadi kalaupun ada perang apa yang bisa kita lakukan di dalam itu menurut saya yang harus kita utamakan gitu loh.
02:40Jadi jangan cuman menenangkan saja di luar gini kita tenang gak gitu.
02:43Tapi kita tenang dengan kebijakan yang seperti apa gitu.
02:47Termasuk kalau misalnya dalam jangka dekat ini selain subsidi WFH saja untuk menurangi konsumsi energi itu gak cukup.
02:54Hanya-hanya untuk pintu masuk saja.
02:55Betul menurut saya kalau WFH ini kan inginnya untuk energi ya tapi itu seberapa besar sih itu gak terlalu besar
03:00menurut saya.
03:01Jadi juga sistemnya harus diberesin kalau enggak di satu sisi seolah-olah hemat tapi pelayanan publiknya turun.
03:08Nah kalau pelayanan publik rendah itu juga mempengaruhi ekonomi kan.
03:11Nah mempengaruhi ekonomi juga mempengaruhi dari sisi pendanaan gitu.
03:15Nah ini menurut saya apakah sudah siap dengan WFH.
03:18Jangan-jangan WFH itu tambah hari libur gitu ya.
03:20Padahal kan maksudnya pelayanan publik harus tetap ya seperti seolah-olah masuk gitu.
03:25Jadi saya belum melihat kesiapan pemerintah gitu.
03:28Kalau swasta sih saya rasa mereka ambil keputusan belum tentu WFH.
03:31Karena mereka masih melihat butuh orang untuk berdampingan.
03:35Cuman memang dari sisi transportasi umum yang menurut saya mungkin perlu diperbanyak ya.
03:39Supaya masyarakat itu bisa paling tidak transportasi yang biayanya paling tinggi sebenarnya gitu.
03:44Kalau Bu Dhani sebenarnya apa yang masyarakat harus diberitahu secara gamblang biar kita bekalnya cukup dibandingkan negara-negara Asia Tenggara
03:53yang kondisinya lebih baik saja mereka sudah bersiap lebih awal.
03:56Saya rasa pemerintah mungkin perlu jujur untuk menyampaikan situasi kini yang harus dihadapi bangsa ini.
04:07Ini bukan bicara soal informasi yang harus diterima masyarakat tapi ini bicara soal kepercayaan.
04:15Jadi jangan sampai rakyat itu meraba-raba apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.
04:22Tiba-tiba untuk seminggu kemudian BBM lain itu saya rasa itu bukan hanya mengejutkan.
04:29Tetapi buat masyarakat yang tidak memiliki kalkulasi sedetail itu dan merasa bahwa jaring pengaman itu ada karena pemerintah menjamin itu.
04:39Karena berkali-kali selalu dikatakan tidak naik bahkan Pak Purbaya mengatakan bahwa kita hebat Indonesia masih ini.
04:47Itu kan kata-kata yang sebetulnya apa namanya menenangkan tetapi di dalamnya itu ada bara yang siap membakar kalau kita
04:57tidak hati-hati gitu.
04:58Nah itu yang di dalam negeri jadi domestik itu menjadi penting sekali karena konsekuensi dari krisis energi global ini akan
05:07datang ke Indonesia.
05:09Kapannya itu tergantung bagaimana pemerintah mengorkestrasi kebijakan untuk rakyat itu seperti apa.
05:18Dan kemudian kita juga penting untuk membereskan hal-hal yang tadi itu yang membuat posisi Indonesia itu belum jelas.
05:25Yang daya tawarnya itu belum jelas.
05:28Indonesia itu punya modal yang luar biasa, punya kapital yang luar biasa.
05:33Dia anggota G20, dia memiliki 280 juta penduduk dan lain apa namanya terletak di urat nadi perdagangan internasional dan lain
05:48-lain.
05:49Tetapi kita ini bukan kekurangan kapasitas, kita bukan kekurangan modal tetapi kita belum memiliki kemampuan bagaimana kapasitas itu dioptimalkan.
06:00Nah kalau Bu Afi yang lebih sederhana lagi dari rumah ke rumah, dari satu kepala keluarga ke kepala keluarga lain
06:10ini apa yang harus disiapkan?
06:11Bekal apa sih yang harus ada di kantong dalam kondisi seperti ini?
06:13Pertama adalah mungkin kita juga mesti melihat kembali kantong kita ya.
06:18Jadi artinya bahwa kita harus mulai bisa memanage keuangan kita ya.
06:23Kemudian yang kedua juga paling tidak sekarang ini kalau satu keluarga ya mungkin yang bekerja mungkin sekarang harus satu keluarga
06:30gitu ya.
06:30Jadi mulai memikirkan bagaimana skenario yang paling buruk kita tetap bisa survive gitu ya.
06:36Walaupun kita tidak perlu ketakutan tapi harus siap-siap lah gitu.
06:41Jadi saving harus ada ya.
06:43Kemudian ya BPJS kan semuanya sudah yang gak mampu ada.
06:47Tapi yang memang kelas menengah ini mungkin pemerintah perlu pikirkan.
06:51Mungkin dalam berapa bulan kalau ada masalah itu juga harus ada pembayaran kepada mereka misalnya untuk BPJS.
06:57Supaya kalau mereka sakit juga bisa ya.
06:59Kemudian kalau kita waktu COVID kan dalam tiga bulan mereka dapat misalnya uang saku.
07:04Nah saya rasa perlu dipikirkan.
07:06Jadi nanti juga harus siap-siap dengan perpu kalau seandainya dibutuhkan gitu ya.
07:10Nah paling enggak kalaupun gak terjadi gak apa-apa.
07:13Tapi paling enggak kita udah punya strategi gitu ya.
07:15Jadi kalau di dalam perbangga itu ada namanya manajemen resiko.
07:17Dalam manajemen resiko itu kita punya beberapa pilihan.
07:20Jadi kalau ada ini pilihannya ini.
07:22Kalau ada asumsi lain pilihannya yang lain.
07:24Nah kita ini belum punya itu.
07:25Selalu ketika ada sesuatu langsung statement pemerintah itu kayak seolah-olah ini bakal terjadi gitu.
07:31Nah harusnya tidak.
07:32Ketika itu belum terjadi kita sudah harus punya pilihan-pilihan kebijakan.
07:36Nah mungkin kita harus merubah pilihan kebijakan kita.
07:39Jadi nanti juga ke depan tidak kepada rule based tapi juga pada principle based.
07:43Jadi semua itu gak diatur pada birokrasi.
07:45Tapi bagaimana bisa mengambil keputusan dengan cepat gitu.
07:48Kenapa kita bahas holistik dari sisi ekonomi, dari sisi juga keamanan, secara geopolitik.
07:54Agar judul kita ini semoga tanda tanyanya hilang.
07:57Babak baru Amerika Serikat Israel versus Iran, Indonesia aman.
08:01Itu yang kita harapkan bersama.
08:02Kesiapan dari semua pihak.
08:03Dan ini masyarakat itu butuh kepastian.
08:06Kepastian.
08:07Jadi apa rencana pemerintah?
08:08Apa kebijakan yang dilakukan?
08:10Dan terutama komunikasi itu dilakukan secara ini.
08:14Apa namanya?
08:14Bukan malah menciptakan persoalan baru lagi.
08:17Kepastian untuk semuanya agar tadi Indonesia aman di tengah ketidakpastian global.
08:21Terima kasih Bu Dhani, terima kasih Bu Afilihan yang sudah hadir di Rosy kali ini.
08:26Terima kasih saudara Anda telah menyaksikan Rosy.
08:28Kita jumpa lagi Kamis depan.
08:30Tetap di Kompas TV, independen terpercaya.
08:33Saya Friska Klarisa.
08:35Sampai jumpa.
08:35Terima kasih.
Komentar