Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menegaskan bahwa pemerintah harus melihat kebijakan secara menyeluruh, termasuk mempertimbangkan pandangan investor dan lembaga rating global.

Menurut Aviliani, proyeksi penurunan rating menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap fiskal Indonesia belum sepenuhnya kuat.

"Artinya pemerintah tidak bisa hanya percaya diri bahwa kita udah bagus-bagus aja, nggak akan mungkin di atas 3 persen. Tapi kan mereka punya hitungan tersendiri. Nah oleh karena itu, mungkin di sini adalah pemerintah perlu menyampaikan hal yang sebenarnya gitu," ungkap Aviliani.

Ia mengingatkan, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan optimisme tanpa memperhatikan perhitungan pihak eksternal.

Jika kepercayaan menurun, dampaknya bisa berantai ke berbagai sektor ekonomi. Tidak hanya itu, potensi keluarnya dana asing juga bisa menekan nilai tukar rupiah.

"Kalau mereka tidak percaya, mereka akan tarik dana asing. Artinya apa? Rupiah kita bisa melemah, dan tugas BI-nya juga berat," katanya.

Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor. Aviliani menilai pemerintah perlu merespons dengan kebijakan yang lebih terbuka dan terukur.

Ke depan, ia menekankan pentingnya sinergi kebijakan untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/9DI00APczvU



#iran #USA #indonesia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/660643/indef-kebijakan-harus-jujur-jangan-sekadar-menenangkan-publik-rosi
Transkrip
00:00Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, Indonesia dituntut tidak hanya reaktif
00:04tapi juga bisa mengambil langkah yang taktis dan strategis.
00:07Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
00:13Kita masih membahas ya bersama Kepala Lab 45, Jaleswari Pramoda Wardani
00:16dan Ekonom Senior Indef, Afi Liani.
00:19Bu Afi, kan dalam membuat kebijakan, gak hanya kita lihat dari satu sisi saja pemerintah
00:24tapi kita lihat juga ada banyak faktor, investor, dan juga bagaimana data sebenarnya
00:28dari lembaga pemeringkat internasional.
00:30Di mana posisi kita sekarang?
00:32Ya, jadi memang kita juga harus melihat dari sisi berbagai hal ya
00:36termasuk kan Standard & Poor's sama dua lembaga rating ini kan mengatakan proyeksi akan menurunkan.
00:42Ya itu artinya apa? Mereka belum punya keyakinan terhadap, terutama adalah fiskal
00:46karena mereka ini banyak investor yang membeli obligasi pemerintah gitu ya.
00:50Nah artinya apa? Artinya pemerintah tidak bisa hanya percaya diri bahwa kita udah bagus-bagus aja
00:55gak akan mungkin di atas 3 persen. Tapi kan mereka punya hitungan tersendiri.
00:59Nah oleh karena itu mungkin di sini adalah pemerintah perlu menyampaikan hal yang sebenarnya gitu.
01:04Karena kalau mereka persepsinya seperti itu pasti mereka punya hitungan dong.
01:07Gak mungkin mereka mengatakan menurunkan itu tanpa hitungan ya.
01:10Karena apa? Dampaknya itu akan buruk.
01:12Kalau ini terjadi pasti suku bunga akan naik lagi.
01:15Yang tadinya kita harap turun jadi naik. Satu itu.
01:18Yang kedua kalau mereka tidak percaya mereka akan tarik dana asing.
01:21Artinya apa? Rupiah kita bisa melemah dan tugas BI-nya juga berat.
01:26Karena BI harus membeli obligasi pemerintah terus-menerus dan tidak hanya membantu pemerintah.
01:31Itu akan menyulitkan dari sisi kalau nilai tukar kita lemah otomatis dong kita kan 70 persen masih tergantung import dong.
01:37Otomatis harga jadi naik.
01:39Kalau harga-harga naik ya masyarakat terkena dampaknya juga gitu.
01:42Jadi kita lihat dong Malaysia tuh sekarang coba nilai tukarnya sangat kuat dibandingin kita gitu.
01:48Nah oleh karena itu kita harus mengevaluasi apa yang memang dilakukan oleh lembaga retik itu harusnya kita dekati.
01:54Apa yang menyebabkan mereka membuat itu ya.
01:56Dan kita harus membuat polisi-polisi yang memang kita harus jujur apa yang diharapkan oleh mereka dan yang mereka lihat
02:02dari kita gitu.
02:03Sehingga kalau ini terjadi mungkin bisa memperbaiki juga.
02:06Karena tadi kan udah dari BBM kemudian dari harga-harga tambah lagi nilai tukar gitu.
02:11Nah ini yang menurut saya harus diwaspadi oleh pemerintah juga supaya paling tidak ke depan itu kita sudah membereskan dari
02:18kebijakan fiskal dan moneter.
02:20Karena ini yang kena dua dampak ini fiskal dan moneter gitu ya.
02:23Dan itu harus jalan barengan fiskal dan moneter.
02:25Tambah lagi satu sektorial jadi tiga polisi ini itu harus berdampingan menjadi suatu ekosistem yang membuat fundasi domestik kita bagus
02:34gitu.
02:34Jadi kalaupun ada perang apa yang bisa kita lakukan di dalam itu menurut saya yang harus kita utamakan gitu loh.
02:40Jadi jangan cuman menenangkan saja di luar gini kita tenang gak gitu.
02:43Tapi kita tenang dengan kebijakan yang seperti apa gitu.
02:47Termasuk kalau misalnya dalam jangka dekat ini selain subsidi WFH saja untuk menurangi konsumsi energi itu gak cukup.
02:54Hanya-hanya untuk pintu masuk saja.
02:55Betul menurut saya kalau WFH ini kan inginnya untuk energi ya tapi itu seberapa besar sih itu gak terlalu besar
03:00menurut saya.
03:01Jadi juga sistemnya harus diberesin kalau enggak di satu sisi seolah-olah hemat tapi pelayanan publiknya turun.
03:08Nah kalau pelayanan publik rendah itu juga mempengaruhi ekonomi kan.
03:11Nah mempengaruhi ekonomi juga mempengaruhi dari sisi pendanaan gitu.
03:15Nah ini menurut saya apakah sudah siap dengan WFH.
03:18Jangan-jangan WFH itu tambah hari libur gitu ya.
03:20Padahal kan maksudnya pelayanan publik harus tetap ya seperti seolah-olah masuk gitu.
03:25Jadi saya belum melihat kesiapan pemerintah gitu.
03:28Kalau swasta sih saya rasa mereka ambil keputusan belum tentu WFH.
03:31Karena mereka masih melihat butuh orang untuk berdampingan.
03:35Cuman memang dari sisi transportasi umum yang menurut saya mungkin perlu diperbanyak ya.
03:39Supaya masyarakat itu bisa paling tidak transportasi yang biayanya paling tinggi sebenarnya gitu.
03:44Kalau Bu Dhani sebenarnya apa yang masyarakat harus diberitahu secara gamblang biar kita bekalnya cukup dibandingkan negara-negara Asia Tenggara
03:53yang kondisinya lebih baik saja mereka sudah bersiap lebih awal.
03:56Saya rasa pemerintah mungkin perlu jujur untuk menyampaikan situasi kini yang harus dihadapi bangsa ini.
04:07Ini bukan bicara soal informasi yang harus diterima masyarakat tapi ini bicara soal kepercayaan.
04:15Jadi jangan sampai rakyat itu meraba-raba apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.
04:22Tiba-tiba untuk seminggu kemudian BBM lain itu saya rasa itu bukan hanya mengejutkan.
04:29Tetapi buat masyarakat yang tidak memiliki kalkulasi sedetail itu dan merasa bahwa jaring pengaman itu ada karena pemerintah menjamin itu.
04:39Karena berkali-kali selalu dikatakan tidak naik bahkan Pak Purbaya mengatakan bahwa kita hebat Indonesia masih ini.
04:47Itu kan kata-kata yang sebetulnya apa namanya menenangkan tetapi di dalamnya itu ada bara yang siap membakar kalau kita
04:57tidak hati-hati gitu.
04:58Nah itu yang di dalam negeri jadi domestik itu menjadi penting sekali karena konsekuensi dari krisis energi global ini akan
05:07datang ke Indonesia.
05:09Kapannya itu tergantung bagaimana pemerintah mengorkestrasi kebijakan untuk rakyat itu seperti apa.
05:18Dan kemudian kita juga penting untuk membereskan hal-hal yang tadi itu yang membuat posisi Indonesia itu belum jelas.
05:25Yang daya tawarnya itu belum jelas.
05:28Indonesia itu punya modal yang luar biasa, punya kapital yang luar biasa.
05:33Dia anggota G20, dia memiliki 280 juta penduduk dan lain apa namanya terletak di urat nadi perdagangan internasional dan lain
05:48-lain.
05:49Tetapi kita ini bukan kekurangan kapasitas, kita bukan kekurangan modal tetapi kita belum memiliki kemampuan bagaimana kapasitas itu dioptimalkan.
06:00Nah kalau Bu Afi yang lebih sederhana lagi dari rumah ke rumah, dari satu kepala keluarga ke kepala keluarga lain
06:10ini apa yang harus disiapkan?
06:11Bekal apa sih yang harus ada di kantong dalam kondisi seperti ini?
06:13Pertama adalah mungkin kita juga mesti melihat kembali kantong kita ya.
06:18Jadi artinya bahwa kita harus mulai bisa memanage keuangan kita ya.
06:23Kemudian yang kedua juga paling tidak sekarang ini kalau satu keluarga ya mungkin yang bekerja mungkin sekarang harus satu keluarga
06:30gitu ya.
06:30Jadi mulai memikirkan bagaimana skenario yang paling buruk kita tetap bisa survive gitu ya.
06:36Walaupun kita tidak perlu ketakutan tapi harus siap-siap lah gitu.
06:41Jadi saving harus ada ya.
06:43Kemudian ya BPJS kan semuanya sudah yang gak mampu ada.
06:47Tapi yang memang kelas menengah ini mungkin pemerintah perlu pikirkan.
06:51Mungkin dalam berapa bulan kalau ada masalah itu juga harus ada pembayaran kepada mereka misalnya untuk BPJS.
06:57Supaya kalau mereka sakit juga bisa ya.
06:59Kemudian kalau kita waktu COVID kan dalam tiga bulan mereka dapat misalnya uang saku.
07:04Nah saya rasa perlu dipikirkan.
07:06Jadi nanti juga harus siap-siap dengan perpu kalau seandainya dibutuhkan gitu ya.
07:10Nah paling enggak kalaupun gak terjadi gak apa-apa.
07:13Tapi paling enggak kita udah punya strategi gitu ya.
07:15Jadi kalau di dalam perbangga itu ada namanya manajemen resiko.
07:17Dalam manajemen resiko itu kita punya beberapa pilihan.
07:20Jadi kalau ada ini pilihannya ini.
07:22Kalau ada asumsi lain pilihannya yang lain.
07:24Nah kita ini belum punya itu.
07:25Selalu ketika ada sesuatu langsung statement pemerintah itu kayak seolah-olah ini bakal terjadi gitu.
07:31Nah harusnya tidak.
07:32Ketika itu belum terjadi kita sudah harus punya pilihan-pilihan kebijakan.
07:36Nah mungkin kita harus merubah pilihan kebijakan kita.
07:39Jadi nanti juga ke depan tidak kepada rule based tapi juga pada principle based.
07:43Jadi semua itu gak diatur pada birokrasi.
07:45Tapi bagaimana bisa mengambil keputusan dengan cepat gitu.
07:48Kenapa kita bahas holistik dari sisi ekonomi, dari sisi juga keamanan, secara geopolitik.
07:54Agar judul kita ini semoga tanda tanyanya hilang.
07:57Babak baru Amerika Serikat Israel versus Iran, Indonesia aman.
08:01Itu yang kita harapkan bersama.
08:02Kesiapan dari semua pihak.
08:03Dan ini masyarakat itu butuh kepastian.
08:06Kepastian.
08:07Jadi apa rencana pemerintah?
08:08Apa kebijakan yang dilakukan?
08:10Dan terutama komunikasi itu dilakukan secara ini.
08:14Apa namanya?
08:14Bukan malah menciptakan persoalan baru lagi.
08:17Kepastian untuk semuanya agar tadi Indonesia aman di tengah ketidakpastian global.
08:21Terima kasih Bu Dhani, terima kasih Bu Afilihan yang sudah hadir di Rosy kali ini.
08:26Terima kasih saudara Anda telah menyaksikan Rosy.
08:28Kita jumpa lagi Kamis depan.
08:30Tetap di Kompas TV, independen terpercaya.
08:33Saya Friska Klarisa.
08:35Sampai jumpa.
08:35Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan