00:00Berdasarkan atas yang berlaku di hari ini, 30 Mar, kita dapat mengonfirmkan hari ini
00:05bahwa forjurus Unifil telah ditangkap oleh devisi Hezbollah di dalam keadaan Bani Hayan.
00:14Kita tidak dapat mengakipkan bukannya dari penyelamat.
00:19Ini adalah kehilangan ke Indonesia. Ini juga kehilangan ke semua kita.
00:25Indonesia mengkondemkan dalam termasuk terang-terang ini atas yang terang-terang
00:31melawan pekerjaan yang mencari dengan Unifil pada 29 dan 30 Mar 2026.
00:38Kita memperolehkan bahwa perpetrator harus dihantar secara legis.
00:43Immunitas harus tidak menjadi standar.
00:47Atas yang melawan pekerjaan harus tidak dihubungkan atau dihubungkan.
00:54Perang Iran versus Amerika Serikat Israel juga melibatkan kekuatan proksi seperti Hezbollah
00:59dan dampaknya kini dirasakan langsung oleh Indonesia.
01:02Dengan gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi Unifil di Lebanon usai serangan Israel.
01:08Tapi masih imbah sih bersama Kepala Lab 45 Jeleswari Pramoda Wardani
01:12dan Ekonom Senior Indef Afiliyani.
01:14Dan kita dalam kondisi duka yang mendalam.
01:19Bagaimana tidak ada tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian.
01:24Kukur.
01:25Tadi kita sudah lihat tayangannya Indonesia mengecam di forum PBB.
01:29Sebelumnya Menlu juga sudah menyampaikan.
01:31Tapi mengecam saja mendorong investigasi tentu tidak cukup.
01:34Karena ini melanggar hukum humanitar internasional.
01:38Apa yang bisa dilakukan oleh Indonesia?
01:40Langkah tegas apa yang bisa kita lakukan?
01:41Ya dalam beberapa hari ini merespons kejadian tiga TNI kita yang gugur
01:49itu baik DPR misalkan kita sebut saja Pak Doli Kurnia dari Golkar misalnya
01:56terus kemudian ada kawan-kawan dari MPR juga
01:59sebetulnya sudah bereaksi keras terhadap ini.
02:01Bahkan Menteri Sugiyono juga sudah menyatakan dengan jelas
02:04kecaman itu berupa bagaimana melakukan deeskalasi
02:10dan kemudian kita ke meja perundingan.
02:13Nah pertanyaannya adalah mekanismenya seperti apa?
02:16Karena sejak sembilan hari sebelum peristiwa perang itu
02:21ketika kita menandatangani menjadi anggota BUP itu
02:24itu kan sebetulnya secara tidak sadar kita sudah menjerat diri kita
02:31untuk tidak memikirkan bahwa tanda tangan kita itu akan punya implikasi ke depannya.
02:40Jadi ketika perang itu terjadi dan Indonesia akhirnya di sana posisinya jadi sulit gitu ya.
02:49Apalagi ternyata kita tahu bahwa BOP ini kan Trump di dalamnya
02:55saya lebih senang membicarakan Trump ketimbang Amerikanya
02:58tapi karena semua keputusan segala satu itu Trump
03:01semua melihat itu dari pernyataan-pernyataannya dan lain-lain
03:06karena kita tahu juga hasil survei di Amerika juga sebetulnya mereka menolak juga soal perang itu.
03:11Jadi posisi kita serba salah.
03:15Kita yang dari tadi saya katakan bahwa kita tidak masuk ke meja perundingan
03:21di mana kita sebetulnya bisa satu meja dengan Pakistan, dengan Turki, dengan India
03:30segala macam untuk membicarakan kita sebagai mediator tadi.
03:34Presiden Prabowo kan sudah sejak awal mengatakan bahwa kita perlu jadi mediator
03:38tapi sampai hari ini kita tidak ada di sana.
03:40Jadi saya rasa masuknya kita ke BOP itu jangan-jangan perlu untuk kita evaluasi dalam situasi sekarang ini.
03:49Apa yang bisa dilakukan bentuk evaluasinya dalam hal ini?
03:52Ya evaluasi apakah manfaat dari kita masuk BOP setelah situasi seperti ini.
04:00Kita tahu bahwa ternyata ketika kita setelah masuk BOP
04:06di mana kita satu meja dengan hal-hal yang secara prinsipil dulu kita tolak.
04:13Menginvasi negara lain kemudian kita bukankah di konstitusi kita bicara soal perdamaian
04:20apa namanya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan dan lain-lain.
04:24Sementara kita tahu bahwa pertama kali serangan itu diinisiasi oleh Amerika dan Israel
04:30dan kita duduk satu meja di sana dan kemudian mungkin implikasi dari kita di sana
04:36Iran melihat bahwa kita adalah bukan pihaknya.
04:39Oke satu, kalau meja perundingan yang kita punya sekarang terakhir di Dewan Keamanan PBB
04:44hasil investigasinya nanti bisa apa, bentuknya apa, bisakah mengikat misalnya?
04:48Nah itu, sekarang kita kan tahu bahwa di Dewan Keamanan PBB pun sekarang juga sebatas kecaman juga
04:54investigasi paling maksimal.
04:59Nah tetapi apa yang harus dilakukan di Indonesia saya rasa saya setuju dengan apa yang sedang
05:05apa namanya terjadi beberapa hari ini yaitu kawan-kawan DPR sebagian itu meminta pemerintah
05:13untuk mengevaluasi anggota kita BOP bahkan kalau bisa lebih tegas lagi kita menarik semua pasukan kita.
05:23Bisa kah itu kalau secara legalnya kita berada di bawah naungan PBB karena mandatnya di bawah PBB juga
05:28kita mengirimkan pasukan ke Unifil itu bisa dilakukan?
05:31Bagaimana mekanismenya sesuai dengan tadi?
05:33Jadi itu dengan alasan bahwa ternyata keamanan dari pasukan kita sendiri juga tidak terjamin.
05:40Pasukan perdamaian itu kan tidak diperhadapkan dengan perang yang demikian itu dan kita tidak dipersenjatai seperti itu.
05:47Pasukan perdamaian itu kita tugasnya adalah menciptakan, menjaga dan kemudian memposisikan situasi agar situasi itu lebih kondusif.
06:02Tapi ini kan langsung berhadapan dengan situasi perang sesungguhnya yang kita tidak dipersenjatai seperti itu.
06:11Dan semestinya kita tidak diserang dalam kondisi sebagai peacekeeping forces misalnya.
06:17Jadi sangat masuk akal kalau kita membuat keputusan bahwa kita menarik semua pasukan kita di sana.
06:26Dan jangan lupa sejak 57 itu kita paling besar mengirimkan pasukan perdamaian itu.
06:31Jadi bukan hanya sangat layak ya kita mengecam bahkan ketika kita menarik mundur pasukan itu karena tidak ada jaminan keselamatan
06:41bagi TNI kita itu sangat wajar.
06:44Dan ini kan berimplikasi juga artinya yang jelas tugasnya menjaga perdamaian saja tidak aman.
06:51Bisa kita baca bahwa ini ada uncertain situation yang tidak hanya soal ekonomi saja tapi juga soal keamanan secara lebih
06:59luas.
06:59Jadi apa yang harus kita persiapkan Bu Afi?
07:02Yang pasti dari sisi bukan keamanan tapi juga ekonomi pastinya.
07:06Karena tadi salah satunya BOP kemudian kan posisi kita jadi seolah-olah di Iran dan kita juga pernah mengalami pada
07:12tahun 2023 mengenai kapal Iran juga.
07:15Jadi kan sekarang kapal kita tidak bisa masuk ya.
07:17Jadi terpaksa kita sekarang mau coba dengan Malaysia, dengan Singapur.
07:21Tapi yang harus kita antisipasi adalah mereka juga pasti akan butuh yang namanya cadangan.
07:26Sehingga bisa jadi penolakan terhadap permintaan kita juga bisa terjadi.
07:30Jadi kita juga harus membuat worst skenario-nya ketika itu tidak ada lalu bagaimana dengan BBM kita gitu.
07:36Jadi maksud saya jangan meninabobokkan tadi lalu juga mengatakan semuanya gampang aja gitu.
07:43Jadi harus ada alternatif-alternatif yang disampaikan kepada publik maupun kepada dunia usaha sehingga membuat mereka tenang.
07:50Kalau sekarang kan pemerintah ngomong malah nggak tenang.
07:52Apakah benar gitu?
07:53Karena kan orang semua punya perhitungan ya.
07:55Jadi itu satu adalah dampaknya tadi ya di Selat Hormus itu kita belum bisa masuk kapal kita ya.
08:01Nah yang kedua adalah tadi bahwa pengusaha-pengusaha sekarang juga sudah mulai resah dengan gimana nih nanti faktor input.
08:08Jadi ini adalah saatnya sebenarnya bagaimana pemerintah mulai menyiapkan kebijakan terhadap substitusi import misalnya.
08:15Nah jadi pengusaha ini mulai merubah strategi daripada menunggu import tapi mulai kebijakan yang lain.
08:21Nah ini saya rasa ini suatu momentum bagus yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah.
08:25Jadi kita harusnya fokus pada domestik menurut saya.
08:29Jadi nah sekarang ini kan lebih banyak dari BBM aja gitu.
08:32Tapi domestiknya apa nih kebijakan itu belum ada.
08:35Bicara soal Hormus kita bedah satu-satu.
08:38Hormus ini kan jadi perbincangan di awal.
08:39Saat negara lain ditanya berapa cadangan BBM-nya kita punya cadangan energinya 21 hari ya.
08:46Nah yang kita harus pahami ini kan buffer sebenarnya ya.
08:49Jadi ibaratnya tabungan kita punya 21 hari ini kalau kenapa-napa.
08:53Kalau Selat Hormus ini 20% dari perdagangan minyak energi.
08:59Apa yang bisa kita lakukan sebenarnya?
09:01Worst scenario yang kita harus siapkan itu apa?
09:03Sekarang ini pemerintah kan mencoba dengan B50 kan.
09:06Tapi seberapa jauh sebenarnya B50 ini juga ada di dilema.
09:10Karena begitu B50 ekspor kita CPO juga turun kan.
09:13Nah berarti nanti akan ada cadangan defisa kita yang berkurang.
09:17Nah di satu sisi apakah kita siap dengan B50?
09:21Dan berapa banyak gitu ya.
09:22Walaupun pemerintah mengatakan kita bisa dengan B50.
09:25Tapi kan orang masih bertanya-tanya orang kita apa namanya.
09:29Ininya aja untuk penampungnya aja kita belum banyak.
09:32Makanya kenapa kita cuma 20 hari.
09:33Karena kita gak punya drum-drum penampung yang dimana semua negara itu buat yang banyak.
09:38Nah kita baru mau buat nih.
09:39Nah baru mau buat kan berapa lama gitu ya.
09:42Nah jadi ini juga menjadi persoalan.
09:44Nah oleh karena itu selain tadi B50 yang disiapkan oleh pemerintah.
09:47Apalagi nih kan kita sebenarnya punya gas.
09:49Punya PLTU gitu ya.
09:51Nah ini yang mungkin menurut saya selama ini garapannya masih lambat gitu.
09:55Nah kedepan ini harus menjadi prioritas utama karena sebenarnya sumber energi Indonesia itu banyak.
10:00Matahari misalnya.
10:01Tapi kan sekarang energi surya kan masih belum banyak gitu.
10:04Tapi itu pakai jangka panjang ya?
10:05Jangka panjang.
10:06Kalau yang pendek ya paling B50 yang paling mungkin gitu.
10:09Atau gas ya.
10:10Karena gas kita kan juga banyak diekspor.
10:12Nah untuk di dalam negeri sendiri yang gas rumah tangga kan belum jalan.
10:15Nah jadi memang kelihatannya untuk jangka panjang ini gak bisa berbuat banyak ya.
10:20Selain memang masih tergantung BBM itu sendiri.
10:22Nah makanya sekarang harus ada negosiasi-negosiasi tidak hanya mengandalkan misalnya Malaysia dan Singapur.
10:28Tapi juga berbagai hal.
10:30Karena ini yang sangat urgent buat Indonesia gitu.
10:33Nah negosiasi ini bagaimana untuk mengusahakannya Bu Dhani?
10:36Karena bicara soal ketahanan energi ini akan langsung berdampak untuk rumah-rumah tiap kepala keluarga yang ada.
10:43Ya begini sampai hari ini kita melihat bahwa mediator yang dimaksudkan oleh Pak Prabowo itu kan ternyata dilakukan oleh Pakistan,
10:55Turki, India untuk peran memediasi konflik ini.
11:02Bagaimana dengan Indonesia?
11:04Saya rasa sampai hari ini kita belum tahu apa yang terjadi di sini.
11:09Tetapi saya rasa hasil survei yang hari ini dirilis tentang legitimasi publik terhadap perang Iran-Israel dan apa namanya Amerika
11:23ini.
11:24Dimana surveinya ini dilakukan oleh indikator politik Saiful Mujani dan apa namanya LSI.
11:31Ini menunjukkan bahwa 80,3 persen rakyat Indonesia dari seribu sekian responden itu mengatakan ketidaksetujuan dengan perang yang terjadi ini.
11:45Karena memiliki implikasi terhadap kehidupan mereka di jangka panjang.
11:51Yang kedua yang paling menarik menurut saya adalah 50,3 persen itu menolak BOP.
11:57Jadi masyarakat menolak BOP.
12:01Menurut saya, saya membaca ini adalah sebagai modal.
12:04Modal memang bukan strategi.
12:06Karena pada kenyataannya legitimasi publik itu tidak selalu berbanding lurus dengan legitimasi diplomatik internasional.
12:17Buktinya kita tidak melihat itu.
12:19Padahal saya melihat survei ini semacam legitimasi bahwa suara publik selama ini sebetulnya sudah terkonfirmasi dengan hasil survei hari ini.
12:31Bahwa pemerintah saya rasa penting untuk melihat suara publik ini.
12:38Bukan hanya sekedar dibukakan ruang-ruang dialog.
12:41Tetapi bagaimana mengkonversikan legitimasi publik, suara publik ini ke dalam keputusan atau sektur keputusan yang dibuat oleh pemerintah dalam konteks
12:54internasional atau global ini.
12:56Karena masyarakat juga punya pengetahuannya sendiri.
12:59Masyarakat punya pengalamannya sendiri terkait dengan itu.
13:02Perang saya rasa betul tadi yang dikatakan Mbak Avigliani dia tidak saja berhenti di negara-negara terkait tetapi dia akan
13:12masuk ke dapur kita.
13:14Karena jangka panjang ini punya pengaruhnya ke sana.
13:20Nah masalahnya apakah kita setelah melihat seperti ini tadi banyak sekali apa namanya kita diusulkan untuk kembali ke meja perundingan.
13:33Itu bagaimana mekanismenya?
13:35Karena ini kita kan juga apa namanya tersandra itu loh.
13:40Jadi di satu sisi kita masa publik menolak untuk masuk BOP.
13:46Sementara kita ada di sana dan kita tidak bisa berbuat banyak tentang implikasi di lapangan.
13:55Yang dilakukan di meja perundingan plus juga yang dilakukan kebijakannya untuk menghadapi situasi ini sudahkah tepat atau belum?
14:02Misalnya sampai sekarang disampaikan oleh pemerintah BBM tidak akan naik.
14:06Dipastikan tidak akan naik.
14:08Tapi sampai kapan?
14:10Dan juga subsidi-nya akan ditambah rencananya untuk BBM ini.
14:13Sampai kapan? Sekuat apa ruang fiskal kita untuk ini?
Komentar