Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberi tekanan besar terhadap anggaran negara dan daya beli masyarakat. Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menilai jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap APBN akan semakin besar.

Kenaikan tersebut berpotensi memicu lonjakan subsidi energi yang belum tentu sepenuhnya siap diantisipasi.

Dampak lanjutan juga bisa dirasakan oleh dunia usaha dan harga kebutuhan masyarakat. Aviliani menekankan, persoalan utama bukan hanya subsidi, melainkan daya beli masyarakat.

Ia mengusulkan penciptaan lapangan kerja sebagai penyangga utama ekonomi masyarakat. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dinilai berpotensi memicu risiko sosial.

"Jadi mungkin perlu dibangun proyek infrastruktur atau apapun di daerah untuk kesempatan kerja. Kenapa? Ini harus menjadi bumper utama," ungkapnya.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/9DI00APczvU



#iran #USA #indonesia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/660642/indef-kenaikan-harga-minyak-bisa-picu-inflasi-dan-gejolak-sosial-rosi
Transkrip
00:00Global sedang tidak stabil, geopolitik sedang bergerak, harga komunitas fluktuatis.
00:06Negara tangga kita, BBM udah naik gak kira-kira kan?
00:09Kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang tanpa membahayakan APBN.
00:15Jadi tim kita itu jago, kita jago dibanding negara-negara tangga kita.
00:23Penutupan Slat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dunia.
00:26Meski demikian pemerintah Indonesia tidak menaikkan harga BBM dan hanya membatasi pembelian.
00:30Lalu sampai kapan pertanyaannya Indonesia akan bertahan?
00:33Kita masih bersama dengan Kepala Lab 45, Jaluswari Pramodawar Dhani dan Ekonomi Senior Indef,
00:39Afiliani, Bu Afi, juga Bu Dhani kita masih membahas ini.
00:43Tadi dari yang disampaikan Pak Purbaya dan juga rencananya kita akan menaikkan 90,
00:48menjadi 90 sampai 100 triliun untuk subsidi BBM.
00:51Sekuat apa sih ruang fiskal? Sampai kapan kita bisa bertahan?
00:54Jadi kan sebenarnya kalau kita ada yang subsidi dan yang tidak subsidi.
00:58Harusnya yang tidak subsidi itu sudah otomatis normal.
01:00Itu kan juga mempengaruhi kenaikan harga loh.
01:02Tidak hanya subsidi ya.
01:04Nah yang subsidi ini kemudian dikatakan sama pada saat Pak Erlangga menyampaikan itu
01:08dua bulan akan dievaluasi kembali ya.
01:11Memang April ini, awal April ini belum kelihatan ada kenaikan ya.
01:14Tapi kita bisa lihat inflasi kita sudah 3,47.
01:18Artinya apa? Itu belum ada kenaikan.
01:21Nah kalau ada kenaikan kita tahu dong sekarang saja sudah berbagai negara sudah menaikan ada yang 25%, ada yang 30%.
01:28Karena mereka bersiap-siap ketika harga sampai pada level tertentu.
01:31Mereka sudah menyiapkan berapa kenaikan harga itu.
01:34Artinya apa?
01:35Mereka berhitung dengan pasti sesuai dengan anggaran negaranya.
01:38Nah kita kan masih punya keyakinan nih Pak Purbaya tadi kan juga mengatakan ya bahwa tidak akan ada kenaikan.
01:45Nah itu sampai berapa tahan.
01:47Nah kalau kita lihat dengan kenaikan sekarang kan kita pakai level 80 per barel.
01:51Kalau itu diperkirakan sekitar 100 sampai dengan 110 berarti kan ada kenaikan sekitar 20 dolar sampai 30 dolar.
01:59Per satu dolarnya itu kan 6,7 triliun.
02:02Bayangkan itu berapa banyak.
02:03Nah kemudian kita juga belum menyiapkan terkait dengan subsidi itu.
02:07Apakah memang sudah siap bahwa mobil yang itu tidak beli lagi di tempat lain misalnya.
02:11Nah kan belum siap.
02:12Ya walaupun Pertamina katanya sudah menyiapkan.
02:14Saya belum yakin sih gitu.
02:16Nah itu berarti kan ada orang moral hazard.
02:18Membeli BBM terus-menerus kita juga nggak tahu.
02:21Bahkan sekarang di daerah kalau Jakarta aman.
02:23Tapi di luar daerah itu masih ada antrian-antrian.
02:26Nah ini kan juga harus kita jaga gitu.
02:27Jadi kita juga mesti mengajak pemerintah daerah nih.
02:30Kadang-kadang kita lihat pemerintah daerah itu nggak diajak serta.
02:33Untuk mengatasi hal ini.
02:34Padahal yang bertanggung jawab terhadap masyarakat di daerah itu adalah pemerintah daerah gitu.
02:38Jadi menurut saya harus ada keterkaitan pemerintah pusat ini mengajak pemerintah daerah.
02:43Karena ini akan membuat juga kepanikan di daerah gitu.
02:47Kalau tidak diajak kepala daerahnya.
02:48Kenapa?
02:49Kepala daerahnya juga nggak tahu tentang hal ini gitu ya.
02:51Itu satu.
02:52Nah yang kedua adalah selain tadi BBM tadi.
02:55Menurut saya tadi bahwa yang tidak subsidi kan nggak mungkin disubsidi juga gitu.
02:59Itu lebih jebol lagi gitu ya.
03:00Nah artinya ini bisa berpengaruh terhadap dunia usaha.
03:03Karena dunia usaha kan tidak menggunakan yang BBM.
03:05Artinya akan terjadi juga kenaikan-kenaikan dari sisi mungkin pangan yang tidak dianuan oleh pemerintah.
03:13Terutama terkait dengan bahan pokok oke lah.
03:16Tapi kan cuma 3 atau 4 kan.
03:18Tapi di luar itu kan pasti ada kenaikan.
03:20Nah kan kita nggak pernah bicara tentang inflasi.
03:22Nah itu adalah bicara tentang apa?
03:24Daya beli.
03:25Jadi menurut saya yang perlu dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah bukan sekedar subsidi BBMnya.
03:29Tapi bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat.
03:31Jadi mungkin perlu dibangun proyek infrastruktur atau apapun di daerah untuk kesempatan kerja.
03:37Kenapa?
03:38Ini harus menjadi bumper utama.
03:40Karena yang bahaya itu adalah kita subsidinya kita naikkan tapi daya beli masyarakat nggak naik gitu.
03:46Bahkan makin turun.
03:47Ini berbahaya menurut saya.
03:48Kenapa?
03:49Social unrest bisa terjadi.
03:51Di mana masyarakat kita yang sudah menghadapi middle income itu sudah mulai makin tinggi kan.
03:58Nah ini bisa jadi makin naik lagi gitu.
04:00Jadi menurut saya ini yang belum diatasi atau belum pernah disampaikan kepada publik.
04:05Apa strategi-strategi tidak hanya sekedar BBM.
04:08Soal ini kalangan menengah sebelum ada krisis ini saja, sebelum ada perang ini saja sudah sulit.
04:14Rombongan hanya nanya Rohana, rombongan jarang beli, Rojali itu sudah kita lihat fenomenanya apalagi sekarang.
04:22Sebenarnya yang terdampak kan kalangan menengah juga.
04:25Ibaratnya tidak dapat subsidi tapi dibilang kaya juga enggak.
04:29Nah apa-apa sebenarnya yang harus perhatian lebih soal ini?
04:32Karena kan konsumsi kita kurang lebih, koreksi jika salah, 30% itu kan dari situ daya beli.
04:37Konsumsi itu dari kalangan menengah, Bu Afi.
04:40Jadi kalau dibagi menjadi tiga segmen ya, segmen menengah atas itu cenderung mereka itu punya kontribusi 70%.
04:46Jadi artinya apa orang yang kaya ini tidak punya pengaruh terhadap inflasi tadi.
04:50Tapi yang kelas menengah tadi yang bermasalah itu jumlahnya hampir sekitar 70 jutaan, tapi mereka itu kontribusinya cuma 17%.
04:58Memang kecil, tapi kan itu menjadi kesenjangannya makin tinggi.
05:02Nah sedangkan yang bawah sisanya itu adalah sekitar 17 juga itu adalah orang yang dapat subsidi dari BPJS-nya maupun
05:09makannya.
05:10Jadi itu enggak masalah, itu hanya 25 juta.
05:12Nah artinya yang ini menjadi problem utama sekarang.
05:15Nah oleh karena itu tadi saya mau melihatnya adalah sekarang ini kan ada misalnya kayak program prakerja ya, terus ada
05:23lagi program training-training gitu ya.
05:25Nah menurut saya ini bisa juga dilibatkan untuk sektor-sektor swasta menyerap tenaga kerja tapi pemerintah memberikan subsidi misalnya gitu.
05:33Nah itu kan lebih bagus subsidinya untuk itu.
05:35Untuk apa? Meningkatkan daya beli.
05:37Karena sekarang ini supply terhadap tenaga kerja itu besar sehingga orang yang punya skill aja harganya bisa murah, bisa dibawa
05:44OMR sekarang gitu loh.
05:45Karena apa? Banyakan supply.
05:46Nah oleh karena itu mungkin alangkah baiknya untuk mengevaluasi berbagai pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang sebenarnya belum perlu saat ini ya.
05:55Kan kita banyak dong anggaran ketahanan misalnya apakah sudah perlu sekarang bisa disubsidikan ke sana.
06:00Nah MBG apakah perlu sebesar itu? Saya rasa perlu dievaluasi untuk apa? Bumper perut orang dulu nih gitu loh.
06:07Nah kalau itu sudah dilakukan baru sisanya untuk yang lain yang sebenarnya sifatnya lebih long term.
06:13Nah yang penting ini adalah jangka pendek gitu. Jadi saya belum melihat adalah untuk kelas menengah ini apa sih programnya?
06:19Itu belum terlihat. Nah saya rasa itu paling penting untuk menghadapi situasi saat ini.
06:23Sementara yang dihindari tadi Bu Afi juga sudah mention jangan sampai ada gejolak sosial, social unrest dengan kondisi seperti ini.
06:31Bu Dhani bagaimana kita membacanya apa yang harus diantisipasi agar jangan ada gejolak sosial?
06:36Karena kalau sudah bicara meja makan, kalau sudah bicara perut soal penghasilan isi dompet itu pasti akan sangat sensitif untuk
06:43masyarakat.
06:44Karena berdampak pada kehidupan, roda kehidupan.
06:46Ya saya rasa ini bukan apa ya, bukan langkah tunggal yang harus dilakukan tetapi ini pertama kita harus benahi dulu
06:56di domestik.
06:58Sambari kita juga mempertanyakan kembali apa sebetulnya manfaat kita masuk ke dalam BOP itu.
07:05Kenapa ini menjadi penting?
07:07Karena ini saya mencoba memahami bahwa ketika Pak Prabowo Presiden memutuskan untuk menjadi anggota BOP itu pasti punya pertimbangan untuk
07:21kepentingan yang lebih besar, kepentingan nasional Indonesia dan lain-lain.
07:24Mungkin waktu itu Trump dengan tarifnya, tarif Trump yang begitu besar untuk Indonesia dan negara-negara lain akhirnya Indonesia mungkin
07:38ingin mendekat kepada Amerika untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan yang terkait dengan tarif itu sendiri.
07:52Tapi pada kenyatanya toh kita juga tetap 19 persen misalnya seperti itu.
07:56Dan kemudian apa manfaat ketika kita masuk BOP dalam kaitannya dengan konflik ini gitu.
08:04Ini kan kita tahu bahwa konflik ini kita tidak bisa memastikan sebulan dua bulan terjadi.
08:11Karena kalau melihat eskalasinya kita tahu bahwa sampai Trump 34 hari kemudian dia mengubah empat kali ancamannya terhadap Iran itu
08:23kan menunjukkan sesuatu.
08:25Dan kalkulasi Trump dalam perang ini itu juga ekonomi karena dia juga latar belakangnya pebisnis.
08:31Lihat aja ketika dia mengancam selat hormus 48 jam akan diserang dan lain-lain ternyata mundur lagi dan itu langsung
08:41harga minyak turun kan.
08:44Jadi dia memperhitungkan itu betul gitu.
08:46Jadi idiosinkratik Trump itu memang motif ekonomi gitu ya.
08:50Nah kita gimana melihat ini?
08:53Bagaimana kita memanfaatkan keanggotaan kita di BOP ini?
08:57Apakah dalam hari ini itu masih relevan ataukah kita perlu untuk mengevaluasi hal-hal seperti ini ingin dilihat masyarakat?
09:08Lalu posisi tawar apa yang bisa kita lakukan untuk berjuang juga demi kebijakan di dalam negeri,
09:14untuk kebijakan ekonomi di dalam negeri agar tidak ada gejolak sosial tadi?
09:19Ya sebetulnya kalau kita melihat tiga cabang kekuasaan ini harusnya kita DPR juga harus bergerak.
09:29Ini bukan sekedar masalah pemerintah saja, ini masalah bangsa.
09:33Ini punya efek domino jangka panjang.
09:38Pertanyaannya adalah apakah ketika kita memutuskan arsitektur kebijakan yang terkait dengan Indonesia di dunia internasional,
09:47itu kita memikirkan enggak jangka menengah atau panjangnya gitu?
09:52Karena kalau jangka pendek, bayangkan kita sembilan hari setelah itu perang terjadi.
09:58Dan kita di posisi yang menginvasi yang pro terhadap itu.
10:05Kita dibaca seperti itu. Setidaknya Iran melihat kita seperti itu.
10:09Sehingga sampai hari ini kita tidak ada dalam meja perundingan itu.
10:13Dan pertanyaannya apakah bagaimana kita menciptakan mekanisme itu?
10:19Nah harusnya pemerintah memberikan itu menjadi wacana yang terus dilipat gandakan untuk mungkin di share ke publik,
10:29ke para akademisi, media, dan lain-lain.
10:33Ini masalah bersama. Bukan hanya masalah pemerintah saja.
10:37Masalah DPR, masalah yudikat, masalah masyarakat perlu tahu gitu ya.
10:43Jadi strategi kelangsungan hidup ini harus milik bersama gitu.
10:48Nah kalau kita tanya apa yang harus kita lakukan,
10:52saya rasa ini karena ini adalah sebuah kebijakan ya, harus pemerintah.
10:56Nah pemerintah harus menyampaikan gitu.
10:59Dan bagaimana juga pemerintah menyampaikan ini ke masyarakat?
11:03Di awal tadi sudah kita bahas, jangan sampai didinabobokan masyarakat,
11:08oke gak ada apa-apa di luar tapi negara-negara tetangga kita sudah lebih dahulu menyiapkan bekal.
11:15Nah bekal yang kita siapkan sudah siap atau belum?
11:18Misalnya WFH, apakah itu sudah bisa jadi satu kebijakan pintu masuk?
11:22Atau kita butuh kebijakan holistik apa sih sebenarnya untuk menghadapi kondisi perang yang tidak jelas kapan berakhirnya?
11:30Di tengah situasi yang uncertain, yang tidak pasti sampai saat ini.
Komentar

Dianjurkan