00:00Global sedang tidak stabil, geopolitik sedang bergerak, harga komunitas fluktuatis.
00:06Negara tangga kita, BBM udah naik gak kira-kira kan?
00:09Kita bisa menjaga harga BBM di level yang sekarang tanpa membahayakan APBN.
00:15Jadi tim kita itu jago, kita jago dibanding negara-negara tangga kita.
00:23Penutupan Slat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dunia.
00:26Meski demikian pemerintah Indonesia tidak menaikkan harga BBM dan hanya membatasi pembelian.
00:30Lalu sampai kapan pertanyaannya Indonesia akan bertahan?
00:33Kita masih bersama dengan Kepala Lab 45, Jaluswari Pramodawar Dhani dan Ekonomi Senior Indef,
00:39Afiliani, Bu Afi, juga Bu Dhani kita masih membahas ini.
00:43Tadi dari yang disampaikan Pak Purbaya dan juga rencananya kita akan menaikkan 90,
00:48menjadi 90 sampai 100 triliun untuk subsidi BBM.
00:51Sekuat apa sih ruang fiskal? Sampai kapan kita bisa bertahan?
00:54Jadi kan sebenarnya kalau kita ada yang subsidi dan yang tidak subsidi.
00:58Harusnya yang tidak subsidi itu sudah otomatis normal.
01:00Itu kan juga mempengaruhi kenaikan harga loh.
01:02Tidak hanya subsidi ya.
01:04Nah yang subsidi ini kemudian dikatakan sama pada saat Pak Erlangga menyampaikan itu
01:08dua bulan akan dievaluasi kembali ya.
01:11Memang April ini, awal April ini belum kelihatan ada kenaikan ya.
01:14Tapi kita bisa lihat inflasi kita sudah 3,47.
01:18Artinya apa? Itu belum ada kenaikan.
01:21Nah kalau ada kenaikan kita tahu dong sekarang saja sudah berbagai negara sudah menaikan ada yang 25%, ada yang 30%.
01:28Karena mereka bersiap-siap ketika harga sampai pada level tertentu.
01:31Mereka sudah menyiapkan berapa kenaikan harga itu.
01:34Artinya apa?
01:35Mereka berhitung dengan pasti sesuai dengan anggaran negaranya.
01:38Nah kita kan masih punya keyakinan nih Pak Purbaya tadi kan juga mengatakan ya bahwa tidak akan ada kenaikan.
01:45Nah itu sampai berapa tahan.
01:47Nah kalau kita lihat dengan kenaikan sekarang kan kita pakai level 80 per barel.
01:51Kalau itu diperkirakan sekitar 100 sampai dengan 110 berarti kan ada kenaikan sekitar 20 dolar sampai 30 dolar.
01:59Per satu dolarnya itu kan 6,7 triliun.
02:02Bayangkan itu berapa banyak.
02:03Nah kemudian kita juga belum menyiapkan terkait dengan subsidi itu.
02:07Apakah memang sudah siap bahwa mobil yang itu tidak beli lagi di tempat lain misalnya.
02:11Nah kan belum siap.
02:12Ya walaupun Pertamina katanya sudah menyiapkan.
02:14Saya belum yakin sih gitu.
02:16Nah itu berarti kan ada orang moral hazard.
02:18Membeli BBM terus-menerus kita juga nggak tahu.
02:21Bahkan sekarang di daerah kalau Jakarta aman.
02:23Tapi di luar daerah itu masih ada antrian-antrian.
02:26Nah ini kan juga harus kita jaga gitu.
02:27Jadi kita juga mesti mengajak pemerintah daerah nih.
02:30Kadang-kadang kita lihat pemerintah daerah itu nggak diajak serta.
02:33Untuk mengatasi hal ini.
02:34Padahal yang bertanggung jawab terhadap masyarakat di daerah itu adalah pemerintah daerah gitu.
02:38Jadi menurut saya harus ada keterkaitan pemerintah pusat ini mengajak pemerintah daerah.
02:43Karena ini akan membuat juga kepanikan di daerah gitu.
02:47Kalau tidak diajak kepala daerahnya.
02:48Kenapa?
02:49Kepala daerahnya juga nggak tahu tentang hal ini gitu ya.
02:51Itu satu.
02:52Nah yang kedua adalah selain tadi BBM tadi.
02:55Menurut saya tadi bahwa yang tidak subsidi kan nggak mungkin disubsidi juga gitu.
02:59Itu lebih jebol lagi gitu ya.
03:00Nah artinya ini bisa berpengaruh terhadap dunia usaha.
03:03Karena dunia usaha kan tidak menggunakan yang BBM.
03:05Artinya akan terjadi juga kenaikan-kenaikan dari sisi mungkin pangan yang tidak dianuan oleh pemerintah.
03:13Terutama terkait dengan bahan pokok oke lah.
03:16Tapi kan cuma 3 atau 4 kan.
03:18Tapi di luar itu kan pasti ada kenaikan.
03:20Nah kan kita nggak pernah bicara tentang inflasi.
03:22Nah itu adalah bicara tentang apa?
03:24Daya beli.
03:25Jadi menurut saya yang perlu dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah bukan sekedar subsidi BBMnya.
03:29Tapi bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat.
03:31Jadi mungkin perlu dibangun proyek infrastruktur atau apapun di daerah untuk kesempatan kerja.
03:37Kenapa?
03:38Ini harus menjadi bumper utama.
03:40Karena yang bahaya itu adalah kita subsidinya kita naikkan tapi daya beli masyarakat nggak naik gitu.
03:46Bahkan makin turun.
03:47Ini berbahaya menurut saya.
03:48Kenapa?
03:49Social unrest bisa terjadi.
03:51Di mana masyarakat kita yang sudah menghadapi middle income itu sudah mulai makin tinggi kan.
03:58Nah ini bisa jadi makin naik lagi gitu.
04:00Jadi menurut saya ini yang belum diatasi atau belum pernah disampaikan kepada publik.
04:05Apa strategi-strategi tidak hanya sekedar BBM.
04:08Soal ini kalangan menengah sebelum ada krisis ini saja, sebelum ada perang ini saja sudah sulit.
04:14Rombongan hanya nanya Rohana, rombongan jarang beli, Rojali itu sudah kita lihat fenomenanya apalagi sekarang.
04:22Sebenarnya yang terdampak kan kalangan menengah juga.
04:25Ibaratnya tidak dapat subsidi tapi dibilang kaya juga enggak.
04:29Nah apa-apa sebenarnya yang harus perhatian lebih soal ini?
04:32Karena kan konsumsi kita kurang lebih, koreksi jika salah, 30% itu kan dari situ daya beli.
04:37Konsumsi itu dari kalangan menengah, Bu Afi.
04:40Jadi kalau dibagi menjadi tiga segmen ya, segmen menengah atas itu cenderung mereka itu punya kontribusi 70%.
04:46Jadi artinya apa orang yang kaya ini tidak punya pengaruh terhadap inflasi tadi.
04:50Tapi yang kelas menengah tadi yang bermasalah itu jumlahnya hampir sekitar 70 jutaan, tapi mereka itu kontribusinya cuma 17%.
04:58Memang kecil, tapi kan itu menjadi kesenjangannya makin tinggi.
05:02Nah sedangkan yang bawah sisanya itu adalah sekitar 17 juga itu adalah orang yang dapat subsidi dari BPJS-nya maupun
05:09makannya.
05:10Jadi itu enggak masalah, itu hanya 25 juta.
05:12Nah artinya yang ini menjadi problem utama sekarang.
05:15Nah oleh karena itu tadi saya mau melihatnya adalah sekarang ini kan ada misalnya kayak program prakerja ya, terus ada
05:23lagi program training-training gitu ya.
05:25Nah menurut saya ini bisa juga dilibatkan untuk sektor-sektor swasta menyerap tenaga kerja tapi pemerintah memberikan subsidi misalnya gitu.
05:33Nah itu kan lebih bagus subsidinya untuk itu.
05:35Untuk apa? Meningkatkan daya beli.
05:37Karena sekarang ini supply terhadap tenaga kerja itu besar sehingga orang yang punya skill aja harganya bisa murah, bisa dibawa
05:44OMR sekarang gitu loh.
05:45Karena apa? Banyakan supply.
05:46Nah oleh karena itu mungkin alangkah baiknya untuk mengevaluasi berbagai pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang sebenarnya belum perlu saat ini ya.
05:55Kan kita banyak dong anggaran ketahanan misalnya apakah sudah perlu sekarang bisa disubsidikan ke sana.
06:00Nah MBG apakah perlu sebesar itu? Saya rasa perlu dievaluasi untuk apa? Bumper perut orang dulu nih gitu loh.
06:07Nah kalau itu sudah dilakukan baru sisanya untuk yang lain yang sebenarnya sifatnya lebih long term.
06:13Nah yang penting ini adalah jangka pendek gitu. Jadi saya belum melihat adalah untuk kelas menengah ini apa sih programnya?
06:19Itu belum terlihat. Nah saya rasa itu paling penting untuk menghadapi situasi saat ini.
06:23Sementara yang dihindari tadi Bu Afi juga sudah mention jangan sampai ada gejolak sosial, social unrest dengan kondisi seperti ini.
06:31Bu Dhani bagaimana kita membacanya apa yang harus diantisipasi agar jangan ada gejolak sosial?
06:36Karena kalau sudah bicara meja makan, kalau sudah bicara perut soal penghasilan isi dompet itu pasti akan sangat sensitif untuk
06:43masyarakat.
06:44Karena berdampak pada kehidupan, roda kehidupan.
06:46Ya saya rasa ini bukan apa ya, bukan langkah tunggal yang harus dilakukan tetapi ini pertama kita harus benahi dulu
06:56di domestik.
06:58Sambari kita juga mempertanyakan kembali apa sebetulnya manfaat kita masuk ke dalam BOP itu.
07:05Kenapa ini menjadi penting?
07:07Karena ini saya mencoba memahami bahwa ketika Pak Prabowo Presiden memutuskan untuk menjadi anggota BOP itu pasti punya pertimbangan untuk
07:21kepentingan yang lebih besar, kepentingan nasional Indonesia dan lain-lain.
07:24Mungkin waktu itu Trump dengan tarifnya, tarif Trump yang begitu besar untuk Indonesia dan negara-negara lain akhirnya Indonesia mungkin
07:38ingin mendekat kepada Amerika untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan yang terkait dengan tarif itu sendiri.
07:52Tapi pada kenyatanya toh kita juga tetap 19 persen misalnya seperti itu.
07:56Dan kemudian apa manfaat ketika kita masuk BOP dalam kaitannya dengan konflik ini gitu.
08:04Ini kan kita tahu bahwa konflik ini kita tidak bisa memastikan sebulan dua bulan terjadi.
08:11Karena kalau melihat eskalasinya kita tahu bahwa sampai Trump 34 hari kemudian dia mengubah empat kali ancamannya terhadap Iran itu
08:23kan menunjukkan sesuatu.
08:25Dan kalkulasi Trump dalam perang ini itu juga ekonomi karena dia juga latar belakangnya pebisnis.
08:31Lihat aja ketika dia mengancam selat hormus 48 jam akan diserang dan lain-lain ternyata mundur lagi dan itu langsung
08:41harga minyak turun kan.
08:44Jadi dia memperhitungkan itu betul gitu.
08:46Jadi idiosinkratik Trump itu memang motif ekonomi gitu ya.
08:50Nah kita gimana melihat ini?
08:53Bagaimana kita memanfaatkan keanggotaan kita di BOP ini?
08:57Apakah dalam hari ini itu masih relevan ataukah kita perlu untuk mengevaluasi hal-hal seperti ini ingin dilihat masyarakat?
09:08Lalu posisi tawar apa yang bisa kita lakukan untuk berjuang juga demi kebijakan di dalam negeri,
09:14untuk kebijakan ekonomi di dalam negeri agar tidak ada gejolak sosial tadi?
09:19Ya sebetulnya kalau kita melihat tiga cabang kekuasaan ini harusnya kita DPR juga harus bergerak.
09:29Ini bukan sekedar masalah pemerintah saja, ini masalah bangsa.
09:33Ini punya efek domino jangka panjang.
09:38Pertanyaannya adalah apakah ketika kita memutuskan arsitektur kebijakan yang terkait dengan Indonesia di dunia internasional,
09:47itu kita memikirkan enggak jangka menengah atau panjangnya gitu?
09:52Karena kalau jangka pendek, bayangkan kita sembilan hari setelah itu perang terjadi.
09:58Dan kita di posisi yang menginvasi yang pro terhadap itu.
10:05Kita dibaca seperti itu. Setidaknya Iran melihat kita seperti itu.
10:09Sehingga sampai hari ini kita tidak ada dalam meja perundingan itu.
10:13Dan pertanyaannya apakah bagaimana kita menciptakan mekanisme itu?
10:19Nah harusnya pemerintah memberikan itu menjadi wacana yang terus dilipat gandakan untuk mungkin di share ke publik,
10:29ke para akademisi, media, dan lain-lain.
10:33Ini masalah bersama. Bukan hanya masalah pemerintah saja.
10:37Masalah DPR, masalah yudikat, masalah masyarakat perlu tahu gitu ya.
10:43Jadi strategi kelangsungan hidup ini harus milik bersama gitu.
10:48Nah kalau kita tanya apa yang harus kita lakukan,
10:52saya rasa ini karena ini adalah sebuah kebijakan ya, harus pemerintah.
10:56Nah pemerintah harus menyampaikan gitu.
10:59Dan bagaimana juga pemerintah menyampaikan ini ke masyarakat?
11:03Di awal tadi sudah kita bahas, jangan sampai didinabobokan masyarakat,
11:08oke gak ada apa-apa di luar tapi negara-negara tetangga kita sudah lebih dahulu menyiapkan bekal.
11:15Nah bekal yang kita siapkan sudah siap atau belum?
11:18Misalnya WFH, apakah itu sudah bisa jadi satu kebijakan pintu masuk?
11:22Atau kita butuh kebijakan holistik apa sih sebenarnya untuk menghadapi kondisi perang yang tidak jelas kapan berakhirnya?
11:30Di tengah situasi yang uncertain, yang tidak pasti sampai saat ini.
Komentar