Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Presiden Donald Trump mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung, meskipun bukan dengan petinggi Iran. Sebelumnya, Donald Trump melalui akun media sosial Truth menyatakan bahwa pembicaraan negosiasi tengah dilakukan, dan selama 5 hari telah memerintahkan tentaranya untuk tidak menyerang Iran.

Untuk membahas penundaan penyerangan yang dilakukan Trump, kita akan membahasnya bersama Abra Talattov Ekonom INDEF, serta Dinna Prapto Raharja selaku Praktisi Hubungan Internasional Synergy Policies.

#trump #INDEF #AS #iran

Baca Juga Distribusi BBM Lebaran 2026 Makin Lancar, Kereta Api Jadi Andalan di Sumbagsel di https://www.kompas.tv/advertorial/658812/distribusi-bbm-lebaran-2026-makin-lancar-kereta-api-jadi-andalan-di-sumbagsel



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/658813/full-ekonomi-indef-praktisi-hi-soal-trump-tunda-serangan-ke-iran-sinyal-perang-reda
Transkrip
00:00Saudara, untuk membahas penundaan penyerangan yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump,
00:05kita akan membahasnya bersama Abra Talatov, selaku Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF,
00:13dan juga sudah ada Dina Prapto Raharja, selaku Penasihat Hubungan Internasional, Think Tank Independence Energy Policy.
00:21Selamat sore Mbak Dina, Mas Abra, saya ke Mbak Dina terlebih dahulu.
00:25Mbak Dina, kalau yang Anda lihat apa yang terjadi saat ini di konflik Timur Tengah,
00:30pernyataan Trump yang akhirnya menunda penyerangan ditudaya selama lima hari,
00:35apakah ini pertanda bahwa Amerika Serikat sebenarnya banyak tekanannya,
00:40khususnya dalam bidang finansial, atau sebenarnya ini justru merupakan taktik yang sedang dilakukan Amerika Serikat?
00:48Kalau saya cenderung melihat ini bagian dari taktik yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
00:53Bagaimanapun juga Donald Trump termasuk pihak yang merasa bahwa wajah atau saving face itu adalah satu hal yang harus diperjuangkan
01:05karena tagline beliau adalah make America great again.
01:09Itu satu.
01:09Kedua, bahwa Israel dalam hal ini belum dalam posisi sebenarnya ingin stop.
01:15Jadi kalau saya melihat tren dari yang dilakukan oleh Amerika Serikat itu tidak diimbangi dengan apa yang dilakukan oleh Israel.
01:25Israel masih dalam posisi bahkan kelompok oposisinya pun full di belakang Netanyahu untuk menghancurkan ya,
01:32membinasakan rejim Iran.
01:35Yang ketiga, kalau dilihat dari negara-negara teluk, perkembangan yang terakhir menunjukkan bahwa negara-negara teluk,
01:43terutama Saudi Arabia, itu dalam posisi yang sekarang sudah mulai berpikir bahwa lebih baik mendukung Amerika Serikat
01:52karena bagaimanapun juga Iran adalah kekuatan yang mendestabilisasi kawasan.
01:57Dan kita tahu berpuluh tahun Iran dan Saudi Arabia itu juga dua pihak yang sulit dipertemukan.
02:06Sehingga Saudi sudah berpikir untuk mulai meng-engage Pakistan yang merupakan nuclear power.
02:11Jadi menurut saya pendekatan yang dilakukan oleh Trump juga kepada Eropa,
02:17itu menunjukkan bahwa masih belum, sebenarnya tensinya itu belum turun, belum ada kemungkinan untuk exit.
02:25Kalau dari masa berang sendiri, seperti apa perspektifnya?
02:28Sebenarnya sebesar apa tekanan yang diterima Amerika Serikat?
02:30Khususnya kalau kita bicara soal finansial dari konflik yang terjadi kali ini.
02:35Sehingga Trump ultimatumnya dijeda selama lima hari dan juga penyerangan ini yang sebelumnya menjadi ancaman terhadap Iran.
02:45Ya, Mbak Cynthia, saya melihat dari konteks geoekonomi dunia,
02:50ya Amerika ini memang sedang menghadapi situasi dilematis.
02:54Di satu sisi, ya keinginan untuk melumpuhkan Iran ini ternyata tidak berhasil.
03:02Justru perlawanan lebih keras dilakukan Iran dan ancaman dari Iran tidak kalah lebih membahayakan bagi kepentingan Amerika
03:10dan negara-negara aliansi di Timur Tengah karena setiap kerusakan yang ditimbulkan oleh Israel dan Amerika
03:18ke fasilitas energi, infrastruktur energi di Iran itu langsung dibalas dengan juga merusak berbagai infrastruktur energi
03:26di berbagai kawasan sehingga Amerika menghadapi tekanan juga dari negara-negara aliansinya termasuk khususnya dari Uni Eropa.
03:32Bahkan Uni Eropa juga karena sudah mengalami desakan kenaikan harga gas alam, kemudian juga harga minyak mentah,
03:40juga sedang mencari alternatif bagaimana bisa menjajaki kerjasama dengan Rusia yang notabene merupakan rival politiknya mereka.
03:49Jadi memang ini terjadi anomali.
03:51Dan di internal negaranya sendiri Amerika, pemerintahan Trump juga menghadapi tekanan dari rakyatnya
03:57di mana harga BBM di sana mengalami lonjakan yang cukup drastis sehingga malah tidak mau ini harus ada cara untuk
04:03bisa melakukan penekanan terhadap harga minyak mentah.
04:08Dan yang kedua juga bahkan negara-negara aliansi Amerika lain seperti misalnya India, kemudian Jepang,
04:15juga ternyata melakukan proses diplomasi terhadap Iran untuk bisa melakukan agar kapal mereka bisa diizinkan untuk melewati Selat Hormuz.
04:26Nah ini kan juga menunjukkan bahwa semakin kecil kans Amerika mendapatkan dukungan dari berbagai negara yang lain
04:34di mana Trump sendiri ingin mengajak merangkul negara-negara lain untuk juga mengamankan Selat Hormuz.
04:40Dan hari ini kita mendengar dari 22 negara NATO menyampaikan statement ingin melakukan pengamanan terhadap Selat Hormuz.
04:48Tetapi dibalas lagi oleh Iran bahwa Selat Hormuz sebetulnya tidak ditutup bahkan bagi negara-negara yang mereka anggap sebagai sahabat
04:57diperbolehkan.
04:58Dan ada yang menarik juga pemerintah Iran sudah mulai mengeluarkan statement mengizinkan kapal
05:05untuk melewati Selat Hormuz dengan membayar sekitar 2 juta dolar USD.
05:10Nah itu juga menjadi, saya pikir menjadi salah satu hal yang menarik ya ke depan bagaimana ekskalasi geopolitik ini juga
05:17sangat berkelindahan juga dan kepentingan masing-masing negara.
05:21Oke, tapi Mbak Dina kalau Anda melihatnya ini sebenarnya kan klaim dari Presiden Trump sendiri sudah dilakukan dialog yang sangat
05:29produktif.
05:29Apakah benar, sebenar-benarnya bahwa memang terjadi dialog yang sangat produktif sehingga Trump menunda serangannya?
05:36Atau sebenarnya seperti yang Anda sebutkan ini bagian dari taktik jadi dialog itu sebenarnya tidak ada?
05:42Ada dua cara menjawab itu.
05:44Pertama, kalau memang akan terjadi dialog maka si Spire harusnya mendahului.
05:50Ada pengumuman si Spire atau gencatan senyata dan ini kita tidak lihat.
05:54Bahkan pada saat yang sama Amerika Serikat sedang dalam posisi mempersiapkan beberapa military base yang ada di Eropa termasuk Jerman,
06:04kemudian Inggris, kemudian juga mengirim USS Tripoli yaitu kapal tempur yang untuk assault ya khusus untuk immediate strike
06:13yang keras di menuju dari Okinawa, dari Jepang menuju ke Laut Arabia.
06:19Dan hitungannya menurut saya mungkin estimasinya lima hari lagi itu berarti akan ada serangan sesuatu di sana.
06:25Pun negara-negara Eropa mengklaim bahwa sebenarnya mereka menunggu ada pengumuman si Spire dulu baru kemudian mengizinkan logistik hub mereka
06:35di Eropa itu digunakan oleh Amerika Serikat.
06:38Tapi dalam kasus-kasus yang lalu kita tidak pernah bisa menghitung exact waktunya ya, tepat waktunya itu kapan.
06:45Karena Amerika Serikat ini di bawah Donald Trump cenderung sangat mendadak gitu ya.
06:50Terus yang kedua kita menjawabnya adalah dengan melihat bahwa yang dilakukan oleh Donald Trump itu adalah meninggalkan satu legacy.
06:59Satu peninggalan yang menciptakan rasa distrust pada sistem internasional manapun.
07:04Perhatikan narasi yang dibuat oleh Amerika Serikat dan juga oleh Israel.
07:09Misalnya Israel ya, perdana menteri yang ex-perdana menteri dia sudah bicara bahwa yang dilakukan oleh Israel itu sebenarnya untuk
07:18membantu negara-negara Eropa
07:20menghadapi satu regime yang sangat berbahaya bagi Eropa.
07:25Jadi nggak masuk akal kalau Eropa itu tidak membantu mereka.
07:29Dan reaksinya jelas.
07:30Jadi saya berbeda pendapat sedikit dengan yang tadi disampaikan Mas Abra.
07:34Yang harus kita hadapi nih ya, sekarang situasi yang sudah berubah di mana hukum internasional,
07:42cara-cara kita melindungi kepentingan internasional sesuai pakem-pakem itu sekarang lagi hilang.
07:47Dan karena posisi itu kita bisa lihat misalnya Arab Saudi kemudian memilih untuk bahkan bersiaga lebih lagi berhadapan dengan Iran,
07:58mempersiapkan dengan senjata nuklir.
08:01Kemudian Jerman juga dalam posisi sedang memikirkan untuk menghidupkan kekuatan nuklir juga di antara mereka.
08:09Jadi yang kita lihat justru reaksi jangka-jangka pendek dari para politisi yang sangat berbahaya untuk membuat perang ini menjadi
08:19lebih luas,
08:19menjadi perang regional atau bahkan perang dunia.
08:22Jadi kita harus antisipasi.
08:24Tapi gini Mbak Dina, kalau Presiden Trump ini kan secara spesifik menyebutkan jeda waktu lima hari.
08:32Sebenarnya lima hari ini apakah persiapan Amerika Serikat dan Israel untuk masuk ke tahap selanjutnya?
08:38Atau memang betul dialog produktif ini dilakukan untuk menunda selama lima hari?
08:45Saya kira tidak ada dialog ya dengan pihak Iran.
08:48Karena pihak Iran sudah menunjukkan mereka itu walaupun terjadi desentralisasi pengambilan keputusan,
08:56posisi mereka nothing to lose.
08:58Dan itu diakui juga oleh negara-negara teluk yang lain.
09:01Bahwa sepertinya kalaupun kita negara-negara teluk itu membantu Amerika Serikat,
09:07risiko terbesarnya adalah mereka harus all out juga berhadapan dengan risiko kerusakan yang lebih besar
09:12karena Iran nothing to lose.
09:13Dan Amerika Serikat kalau dia sudah mengumumkan ya, kemarin kan juga mengumumkan 22 negara dari lintas kawasan
09:22itu siap membantu dia untuk mengamankan Hormuz.
09:25Itu kan juga bisa dikatakan pernyataan yang sangat provokatif yang membuat Iran harus siap untuk dibumi hanguskan.
09:32Nah itu yang menurut saya satu strategi yang harus kita antisipasi betul.
09:38Jangan sampai di lima hari itu memang ternyata sesuatu yang sangat buruk terjadi dan kita tidak siap.
09:43Oke, Mas Sabra, kalau dari catatan Anda, harga minyak dunia hari ini apakah masih di atas 100 USD per barrel
09:55atau sudah menurun setelah Kertarang mengklaim sudah melakukan negosiasi dengan Iran?
10:01Iya, kemarin sebetulnya pas piastet menteram itu harga minyak dunia sempat anjlok 13% menyentuh ke level 98 USD per
10:10barrel.
10:10Tetapi hari ini mulai sedikit merangkap ke level 103 USD per barrel.
10:14Jadi memang volatilitas harga minyak menteram saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar.
10:20Bagaimana melihat pergerakan dinamika dari eskalasi konflik tersebut.
10:26Jadi bukan dipengaruhi oleh fundamental antara supply dengan demand,
10:31tapi lebih ke psikologis pasar.
10:33Oleh karena itu memang kita Indonesia memang harus juga memitigasi berbagai kemungkinan
10:39dari mulai skenario moderat sampai skenario yang terburuk ketika nanti harga minyak mentah melambung tinggi.
10:46Dan kita juga harus berpegang terhadap statement dari Korps Gada Revolusi Iran
10:51yang menyampaikan ada intensi untuk bisa mendorong harga minyak dunia ke level 200 USD per barrel.
11:00Karena kita lihat tadi kan eskalasinya semakin membesar, ada keterlibatan berbagai negara
11:04ingin masuk ke wilayah Timur Tengah, itu tidak boleh dispelekan.
11:08Nah sekarang masing-masing negara sedang berlomba-lomba untuk bisa memenuhi kebutuhan energi
11:12di negara masing-masing dengan melakukan kerjasama secara bilateral.
11:16Dan termasuk tadi melakukan lobby langsung kepada Iran untuk agar kapal mereka diizinkan.
11:21Dan Indonesia kelihatannya memang saat ini kita cukup terlena dengan adanya libur lebaran.
11:27Kita belum melihat secara agresif bagaimana kesiapan dari pemerintah dalam mengantisipasi
11:34nanti adanya gangguan pasokan, kemudian juga ketika terjadi lonjakan harga minyak.
11:39Sekarang masih diskusinya mengenai apakah harga BBM akan naik atau tidak.
11:43Tapi belum bicara dalam kes terburuk ketika BBM benar-benar langka.
11:48Tapi gini Mas Sabra, ketika kita bicara ada durasi waktu 5 hari yang disebut oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
11:55Apakah ini nanti akan mempengaruhi harga minyak dunia?
11:58Apakah akan kembali ke harga yang bisa dikatakan cukup stabil?
12:03Atau sebenarnya tidak akan mempengaruhi apapun?
12:06Karena seperti yang disebut Mbak Dina tadi bahwa sebenarnya mungkin tidak ada dialog produktif yang diklaim Trump.
12:13Ya, meskipun Trump mengklaim telah melakukan negosiasi.
12:17Tetapi kan faktanya hari demi hari kita melihat serangan baik dari Israel ke Iran,
12:23maupun dari Iran ke Israel, maupun ke Tel Aviv, kita saksikan masih terjadi.
12:27Artinya kan sebetulnya perang terbukanya masih berlangsung.
12:31Dan oleh karena itu, ya kita tidak bisa memegang statement hanya satu pihak dari sisi Amerika Serikat sendiri.
12:38Dan risiko lonjakan harga minyak mentah itu masih tetap terjadi.
12:42Dan dalam 4 minggu terakhir ini, ya harga minyak di level puncaknya baru di level 116 dolar, Mbak.
12:49Belum lebih dari 120.
12:50Padahal pemerintah juga sudah melakukan simulasi ya ketika nanti harga minyak mentah termasuk nilai tukar rupiah nanti tertekan,
12:57itu defisit fiskal kita akan bisa tembus ke level lebih dari 4% terhadap PDB.
13:01Artinya memang kita berkejaran dengan waktu nih Mbak.
13:05Untuk pertama memitigasi resiko lonjakan harga dengan kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan dari negara-negara lain,
13:13termasuk dari sisi hilirnya saya pikir penting untuk melakukan pengendalian konsumsi BBM.
13:18Sekarang sudah ada wacana pemerintah ingin menerapkan WFH lagi Mbak, satu hari dalam satu minggu.
13:22Nah saya pikir itu saja tidak cukup.
13:24Itu lebih sifatnya simbolis.
13:27Memberikan sinyal ke masyarakat bahwa kita sudah dalam situasi yang kritis.
13:31Negara-negara lain tuh sudah mengalami kelangkaan BBM maupun LPG, adanya pembatasan dan sebagainya.
13:36Kita terlihat memang masih stabil gitu Mbak.
13:41Karena belum ada gangguan berarti, tapi kan bukan tidak mungkin nanti di bulan April ketika terjadi koreksi harga BBM yang
13:48non-subsidi,
13:48itu ada resiko terjadi shifting konsumen BBM non-subsidi ke BBM subsidi.
13:52Dan nanti lagi-lagi fiskal kita tetap ada limitasi.
13:55Meskipun pemerintah sudah komitmen, defisit tidak akan lebih dari 3%,
13:58tapi resiko terhadap lonjakan konsumsi BBM subsidi itu masih sangat besar sekali Mbak.
14:03Oke, Mbak Dina kalau Anda melihat dari apa yang terjadi saat ini,
14:09keputusan Amerika Serikat, keputusan Israel,
14:12sebenarnya bagaimana koordinasi antara kedua negara ini, Amerika Serikat dan Israel?
14:16Bagaimana komunikasinya?
14:19Yang kita ketahui adalah bahwa Amerika Serikat pengambilan keputusannya
14:24lebih banyak dikelilingi oleh lobbyist Israel.
14:27ketimbang oleh para pengambil keputusan yang sifatnya institusional di Amerika Serikat.
14:33Itu sebabnya pihak-pihak di Amerika Serikat, khususnya orang-orang partai, orang kongres,
14:39itu merasa sebenarnya putus asa juga ya, menembus jalur komunikasi yang efektif gitu.
14:45Untuk mengurangi lah tensi yang ada.
14:49Dan mungkin sedikit tambahan ya, Amerika Serikat itu tahu juga sih bahwa
14:55permainan eskalasi ini sangat buruk risikonya untuk energi mereka di dalam negeri sendiri.
15:01Itu sebabnya mereka memainkan dengan cara mengayun juga.
15:04Itu yang dilakukan oleh mereka itu adalah mulai mengisolasi beberapa kapal-kapal tanker
15:11dan merilis juga LPG dari Rusia.
15:16Dan itu dijual ke pasar lewat para intermediate gitu ya,
15:22jadi para penjual pihak ketiga yang tidak mengatasnamakan negara Amerika Serikat,
15:27tapi menawarkan LPG dan minyak ini kepada negara-negara produsen yang punya refinery besar seperti India.
15:36Dan di situ apa yang diminta dari pihak ketiga tersebut adalah untuk menggunakan dolar.
15:42Jadi kembali berarti kita lihat ada strategi juga di bidang ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
15:48Pertama untuk membuat harga minyak itu mengayun bisa turun sebelum eskalasi lagi naik gitu.
15:54Kemudian kedua dolar tetap meraja.
15:58Dan sejumlah pihak di Timur Tengah sudah melakukan perhitungan bahwa kalau ternyata lebih banyak lagi pihak eksternal
16:05seperti Cina dan Rusia yang mengumumkan terlibat misalnya,
16:09atau negara-negara non kawasan Timur Tengah yang terlibat,
16:12maka harga minyak bisa menembus lebih dari 220 dolar per barrel.
16:16Jadi yang harus diantisipasi di sini adalah karena proses perang ini sifatnya itu bertahap sekali ya.
16:24Kita nggak bisa lihat yang linear gitu.
16:26Itu yang harus kita.
16:28Tapi antara Amerika Serikat dan juga Israel, apakah masih memiliki visi dan juga agenda serangan yang sama
16:36di antara kedua negara ini, Amerika Serikat dan Israel?
16:40Menurut saya nggak ada yang sama sih sebenarnya dari awal.
16:42Kecuali bahwa Iran itu dianggap oleh Israel sebagai musuh besar yang harus disingkirkan
16:49dan harus dibuat kosong pemerintahnya karena Israel dengan Zionisme kanannya dia itu
16:56ingin agar seluruh wilayah di sekitar mereka itu tidak stabil dan kosong kekuasaannya.
17:04Dengan demikian dia bisa menguasai dan masuk ke wilayah-wilayah tersebut.
17:08Jadi ini memperkuat kesan bahwa greater Israel atau Israel raya yang diinginkan oleh Israel itu terbentuk.
17:15Sementara Amerika Serikat prinsipnya itu ingin membantu Israel aja sambil mengubah tatanan global yang tadi
17:21kaitannya sama dolar, kaitan sama make America great again.
17:27Ada irisan sih, cuma tipis sebenarnya.
17:30Karena ketika ditelusuri lebih jauh yang dimaui oleh Israel itu jelas nggak cocok sama Amerika.
17:36Karena kalau Amerika kan harusnya ada limit ya kita menciptakan destabilitas.
17:40Sementara karena negara-negara mitra Amerika Serikat di Timur Tengah juga banyak gitu.
17:45Sementara kalau Israel kan yang dia pikir kalau bisa Saudi Arabia pun minggir itu.
17:50Jadi kita bisa bayangkan ya Saudi Arabia, Mesir itu di petanya Israel sebenarnya harus juga lemah.
17:59Jadi disitu yang menurut saya nggak ada pertemuan ini ya, kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel.
18:05Oke, lalu sebenarnya seberapa besar pengaruh geopolitik ini sengaja digunakan sebagai alat kontrol khususnya untuk inflasi energi global.
18:14Kita masih akan membahasnya selepas jeda tetap bersama kami di Sampai Indonesia malam.
18:18Setelah memberikan ultimatum 48 jam untuk membuka Selat Hormuz dan akan melakukan penyerangan terhadap pembangkit listrik Iran.
18:29Akhirnya Presiden Donald Trump menyebut akan menunda penyerangan selama 5 hari karena telah melakukan negosiasi yang sangat produktif dengan pihak
18:38Iran.
18:39Itu adalah klaim dari Donald Trump.
18:40Tapi kita juga akan membahasnya. Saya ke Mas Abra.
18:43Mas Abra, sebenarnya pengaruh geopolitik ini akan berpengaruh seberapa besar sih ketika kita bicara soal inflasi energi global?
18:52Iya Mbak Sindi, memang gangguan pasokan energi ini juga pastinya akan bisa menyulut terjadinya disrupsi terhadap produksi di sektor pangang.
19:02Karena kita tahu di Teluk Selat Hormuz itu, itu merupakan aliran urea global mencapai 50 persen.
19:10Kemudian juga ekspor amonia 30 persen melalui Selat Hormuz.
19:14Jadi memang sektor pertanian di seluruh negara di Indonesia sangat bergantung terhadap produksi pupuk, bahan baku pupuk dari Timur Tengah.
19:22Jadi sudah pasti negara-negara yang sangat bergantung terhadap kebutuhan pangannya, ya itu akan mengalami tekanan.
19:32Dan Indonesia sendiri karena kita tahu untuk pupuk kita juga masih sangat bergantung dari Timur Tengah, dari luar.
19:37Juga tidak boleh dilupakan, kita akan mengalami dual shock, yaitu tekanan harga energi dan juga lonjakan harga pangan dunia.
19:46Artinya ada yang juga mencatat bahwa sebenarnya Indonesia akan berpengaruh dengan apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini?
19:53Ya sudah pasti.
19:54Dari sisi harga energi saja nanti ketika terjadi kenaikan harga BBM non-subsidi saja,
20:00itu masih transmisinya terhadap biaya distribusi logistik, kemudian juga biaya di industri manufaktur.
20:06Dan kedua, di sektor pangan karena terjadi kenaikan input produksi, yaitu pupuk,
20:12sudah pasti juga para petani kita akan menghadapi tekanan.
20:16Artinya nanti pada ini biaya produksi meningkat, harga jual dan inflasi akan terjadi.
20:22Dan kita perlu berkaca di tahun 2022 ketika peran Rusia-Ukraine,
20:27waktu itu selisih antara harga ACP dengan realisasi itu hanya 54%.
20:33Waktu itu asumsi ACP kita 63 dolar, realisasinya 97 dolar.
20:37Itu saja inflasi kita sudah mencapai 5,5%.
20:40Yang lebih buruk lagi pengalaman tahun 2005, Mbak.
20:43Mungkin ini bisa menjadi salah satu benchmark kita buat situasi sekarang.
20:47Karena tahun 2005, itu harga minyak mentah antara asumsi dengan realisasi,
20:51selisihnya sampai 125%.
20:53Itu inflasinya double digit 17%.
20:55Kalau dugaan Anda seberapa buruk inflasi di Indonesia jika ini terus berlanjut perang di Timur Tengah?
21:00Iya, inflasi ini sangat bergantung pertama dari sisi bagaimana pemerintah bisa menjaga harga BBM dan juga LPG subsidi.
21:10Nah apakah memang nanti 100% akan ditambah subsidi dan kompensasinya,
21:14atau akan dilakukan penyesuaian, tetapi secara gradual.
21:19Tahun 2022 itu kenaikannya 30%.
21:21Nah sekarang kita harus bisa realistis, APBN kita tidak mungkin sanggup menanggung seluruhnya.
21:26Pasti akan ada kenaikan harga, Mbak.
21:28Oke, baik.
21:29Saya kembali ke Mbak Dina.
21:31Mbak Dina, kalau kita tahu saat ini USS Gerald Air Force sudah ditarik,
21:37kapal induk Amerika Serikat ini ditarik dari Timur Tengah.
21:40Apakah ini artinya memang sudah ada indikasi perdamaian,
21:45atau memang sebenarnya yang disebut di informasi bahwa hanya deploy saja untuk mengisi
21:50apa namanya, prajurit-prajurit, makan, dan lain sebagainya?
21:56Ya, kembali kita harus bisa melihat Amerika Serikat dengan lebih utuh,
22:02tidak hanya dari satu sudut dan satu narasi.
22:06Kelompok lain di Amerika Serikat yang juga menjadi lobbyist,
22:09itu adalah kelompok yang bergerak dan merasa bahwa yang menjadi ancaman besar itu adalah Rusia.
22:16Yang kedua yang merasa bahwa ancaman besarnya itu datang dari China.
22:20Dan Amerika Serikat sendiri merasa bahwa pihak-pihak Iran,
22:25kemudian China, kemudian Rusia ini,
22:30masing-masing punya kontribusi untuk membuat Amerika Serikat mengalami deindustrialisasi,
22:36mengalami de-dolarisasi.
22:38Sehingga kalau diperhatikan rentetan kejadian saat sesudah Donald Trump menjadi presiden,
22:45kita bisa lihat dia mencoba berbagai macam cara untuk melakukan disrupsi.
22:50Disrupsi ini jadikan tagline-nya dia ya, kampanye utamanya dia.
22:55Daripada kita lewat proses negosiasi, kita ciptakan deal.
22:58Deal yang sifatnya memecah kerjasama kawasan yang di luar dari mekanisme PBB,
23:05karena harapannya adalah Amerika Serikat bisa menawarkan sesuatu yang mengubah aturan main.
23:11Misalnya dengan Slat Hormuz ini.
23:13Slat Hormuz ini dia juga nggak nyangka bahwa ternyata Iran itu komunikasinya lebih intens juga
23:19dengan pihak China dan China memilih untuk,
23:21walaupun membantu nggak banyak bicara gitu kan.
23:23Karena selama ini dengan mengunci Hormuz,
23:27kemudian berpikirnya Amerika Serikat si China yang akan kena.
23:31Tapi ternyata China nggak masalah.
23:33Dan China selama ini sudah menguasai bukan hanya jalur energi fosil,
23:39Batu Barat dia punya,
23:42apa,
23:44kemudian LPG dan gas dan juga minyak,
23:49itu dia juga punya jalur alternatif.
23:50Dia sudah punya kerjasama darat juga dengan Rusia.
23:53Jadi kalau Mbak Dina,
23:54maaf saya potong,
23:55kalau dari pandangan Anda,
23:57dari perspektif Anda,
23:59dibandingkan Amerika Serikat Israel dan juga Iran,
24:03fleksibilitas diplomatiknya mana yang lebih unggul istilahnya?
24:06Dan juga komunikasi dengan negara-negara lain tentunya?
24:10Yang masih bisa diajak bicara tentu Amerika Serikat.
24:14Kalau Israel itu udah all out,
24:16pokoknya agenda dia harus jalan.
24:19Dan dengan agenda bahwa di bulan Mei itu mereka ada pemilu,
24:23dan pemilu itu sudah mencanangkan Netanyahu kembali lagi running
24:27sebagai Perdana Menteri juga.
24:31Jadi bisa dibayangkan dong,
24:33ini menit-menit terakhir untuk menunjukkan bahwa cara yang dipilih oleh Israel
24:37adalah cara yang memenangkan agenda Israel.
24:40Sementara kalau Amerika Serikat,
24:41menurut saya masih banyak kemungkinan ya,
24:44dia juga mencoba tadi mencari selah,
24:46yang lebih menguntungkan daripada all out hanya untuk satu agenda.
24:51Karena agenda dia juga ada beberapa yang lain.
24:53Baik, terima kasih Mbak Dina Praptura Harjo
24:56dan juga Mas Abra Talatov
24:58sudah berbagi perspektif di Sapa Indonesia Malam.
25:00Terima kasih, selamat malam dan salam sehat selalu.
Komentar

Dianjurkan