Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah kuatnya nilai keagamaan di Indonesia, praktik korupsi masih menjadi tantangan besar.

Menteri Agama, Prof. KH. Nasaruddin Umar, menilai kondisi ini sebagai ujian moral di tengah kebaikan yang dimiliki bangsa.

Menag menyebut, keberadaan penyimpangan seperti korupsi tidak terlepas dari dinamika kehidupan manusia itu sendiri.

"Di mana ada kebaikan, di situ pasti ada iblis," ujarnya.

Menurutnya, justru di tengah banyaknya nilai baik, potensi penyimpangan tetap harus diwaspadai.

Dalam upaya pencegahan korupsi, Kementerian Agama mengaku telah melakukan berbagai langkah, termasuk bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menag bahkan menyebut Kementerian Agama aktif melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat pengawasan internal.

Selain itu, pendekatan lintas agama juga dilakukan dengan merumuskan pandangan terhadap korupsi dari berbagai perspektif agama.

Menag mengingatkan, ekspektasi publik terhadap Kementerian Agama sangat tinggi, sehingga setiap pelanggaran akan terlihat lebih mencolok.

Ia mengutip pesan tokoh nasional Buya Hamka sebagai pengingat bagi jajarannya.

"Kementerian Agama itu backgroundnya itu seperti kain putih ya. Noda hitam itu akan pasti akan sangat terlihat," katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa aparatur negara tetap manusia biasa. Namun, justru karena itu, Kementerian Agama dituntut untuk terus berbenah dan menjadi contoh bagi institusi lain.



#menag #korupsi #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/659019/singgung-korupsi-menag-di-mana-ada-kebaikan-di-situ-ada-iblis-satu-meja
Transkrip
00:00Prof, tadi kita sudah membahas betapa banyak sekali makna yang terkandung dari perayaan, kebersamaan, sejarah Indonesia, kebaikan masyarakat Indonesia dalam
00:10berinteraksi.
00:12Tetapi juga kadang-kadang ada pertanyaan dan seringkali itu dilontarkan.
00:16Indonesia ini nilai keagamanya baik, negara dan ulama cukup baik hubungannya dengan pemuka agama cukup baik,
00:24tidak kurang-kurang pesantren, tidak kurang-kurang gereja.
00:27Tetapi ketika muncul kasus-kasus yang tercelah dan itu pasti dilarang oleh agama, kasus korupsi misalnya,
00:35kita masih belum juga selesai dengan itu meskipun ada upaya, Profesor punya pandangan apa soal ini?
00:42Iya, kalau bahasa agamanya ya, dimana ada kebaikan disitu pasti ada iblis.
00:49Dimana ada kebaikan?
00:50Iya, kalau tidak ada kebaikan tidak perlu iblis hadir.
00:55Wah, sudah menjadi CS-nya iblis ya kan?
00:59Nah jadi kita harus waspada, justru di tengah kebaikan itu selalu ada pihak-pihak atau kelompok-kelompok
01:06atau hal-hal yang bisa mengkontraskan dengan gagasan-gagasan yang baik itu ya kan?
01:13Nah disinilah kita ditantang untuk menjadi manusia yang matang.
01:16Kematangan seseorang itu bisa diukur ketika ia mampu mengendalikan diri atau bisa melakukan understanding yang sangat dalam terhadap orang lain
01:28ya dengan baik sangka ya.
01:31Nah bukan sebaliknya, jadi inilah yang kita perlukan.
01:34Misalnya kasus korupsi ya, kita semuanya concern.
01:38Saya juga di, bahkan kami mendapatkan penghargaan dari KPK pada hari ulang tahun korupsi yang lalu di Bali ya.
01:48Karena kami merumuskan pandangan korupsi terhadap enam agama ini.
01:54Pandangan korupsi dalam Islam, dalam Katolik, dalam Kristen, Hindu, Buddha, dan Kongucu.
02:01Satu paket.
02:02Dan kami sendiri ya, saya sendiri juga menulis buku Teologi Korupsi yang diapresiasi oleh Ketua KPK.
02:11Dan kami juga sendiri mencoba untuk menerapkan semua itu di lingkungan Kementerian Agama ya.
02:17Di bawah kepimpinan saya sekarang ini ya.
02:19Alhamdulillah kita juga mendapatkan banyak atau beberapa penghargaan lah.
02:23Selamat bro.
02:23Nah kita, baru-baru ini kita juga melakukan, mungkin Kementerian yang paling banyak mengundang
02:30atau bekerjasama dengan KPK adalah Kementerian Agama.
02:33Saya sadar itu karena instansi yang paling besar di Republik ini adalah Kementerian Agama kan.
02:39Vertikal kan, mulai dari Kementerian Agama sampai ke Kauah di tingkat kecamatan.
02:46Karyawan kami 350 ribu.
02:50Saya tadi pagi juga, itu minggu kemarin juga, mengundang kejaksaan, mengundang wakil kepala KPK ya, untuk berikan masukan.
03:06Jadi setiap ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya inspektorat ya, itu kita selalu mengundang para pihak itu untuk memberikan masukan.
03:16Demi untuk membersihkan Kementerian Agama ini ya.
03:20Karena bagi kami, saya ingat terus apa yang disampaikan oleh Prof. Hamka Buya, Hamka dulu.
03:26Hati-hati Kementerian Agama.
03:28Kementerian Agama itu backgroundnya itu seperti kain putih ya.
03:30Noda hitam itu akan pasti akan sangat norak.
03:34Tapi kalau instansi lain mungkin backgroundnya biru, coklat, hijau.
03:39Jadi tintanya, nodanya enggak terlalu norak.
03:42Nah saya ingatkan kepada teman-teman semua Kementerian Agama, ingat pesannya Buya Hamka, memasangkan hati-hati.
03:50Masyarakat itu ekspektasinya itu pinginnya, aparat Kementerian Agama itu kayak malaikat itu.
03:56Persoalannya kan kita bukan malaikat, maka itu perlu ada nasihat dari berbagai pihak untuk,
04:01menciptakan proses penyedaran.
04:04Bagaimana supaya kita jangan sampai menjadi pelaku korupsi di Kementerian Agama ya.
04:08Karena siapa lagi yang akan jadi contoh kalau Kementerian Agama tidak mampu menjadi contoh.
04:13Biarkan lain yang lalu masa lalu, tapi akan datang kita harus memberisikan lembaran putih,
04:17menciptakan suatu keadaan yang sangat indah.
04:20Itu ekspektasi kita, harapan kita.
04:23Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan ya kan.
04:24Dan artinya mungkin ada formulasi khusus, bagaimana kan gini, Indonesia ini kan beruntung
04:32karena titik temu antara nilai kebangsaan dan teologis itu tadi ada di ideologi Pancasila pertama
04:38soal ketuhanan yang Maha Esa.
04:39Artinya segala sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan itu kan seharusnya bisa diturunkan gitu.
04:46Ada gak upaya khusus yang misalnya secara khusus misalnya terkait korupsi, mungkin banyak isu lain
04:51tapi saya memberikan contoh yang korupsi gitu, yang berangkat dari pertemuan antara teokrasi atau teologi itu.
04:59Nah itulah indahnya Indonesia karena memiliki Pancasila.
05:03Pancasila itu adalah melting pot yang mampu meramu semua organ yang ada di Indonesia termasuk nilai-nilai yang ada di
05:11dalamnya kan.
05:11Jadi semua agama di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu
05:22menerima Pancasila sebagai bagian yang tegur daripada agamanya itu.
05:28Jadi kita bisa menjadi orang Muslim Indonesia 100%
05:32tapi pada saat yang bersamaan kita juga bisa menjadi menerima Pancasila 100%
05:39karena gak ada satu pun yang bertentangan dengan Islam.
05:43Ternyata juga hal yang sama juga terjadi pada agama-agama lain.
05:47Memberikan pengakuan bahwa Pancasila dengan lima silanya itu adalah patokan dasar juga pada agama yang bersangkutan.
05:53Dengan demikian titik yang pertemukan kita adalah Pancasila ini.
05:59Nah jadi dengan adanya kekuatan Pancasila, sampai kalau kami keluar negeri ya di Timur Tengah,
06:04banyak sekali yang menanyakan apa itu Pancasila.
06:08Jadi saya mencoba menjelaskan.
06:10Kita bukan negara Islam di Indonesia.
06:13Dalam arti konstitusinya ada mereka merek negara Islam.
06:18Tapi nilai-nilai Islam tidak ada yang tercekal untuk bisa diterapkan di Indonesia.
06:23Semuanya bisa diterapkan.
06:26Jadi agama lain juga tidak ada ajaran agama lain yang tidak bisa diterapkan di Indonesia.
06:32Semuanya bisa diterapkan.
06:33Berarti Indonesia ini adalah suatu danau besar yang mampu menampung semua.
06:40Dan tanpa harus menimbulkan riak-riak satu sama lain.
06:43Inilah indahnya Indonesia.
06:44Saya ingin bergeser sedikit.
06:47Masih terkait dengan ajaran agama.
06:49Tetapi ada satu contoh solidaritas sosial yang bersumber dari perintah agama namanya zakat.
06:56Sampai ke contoh umat Islam.
06:58Dalam satu kesempatan Presiden Prabowo bahkan sangat emosional mengucapkan terima kasih atas peran zakat.
07:06Kita simak dulu sambutan Presiden Prabowo dalam kesempatan bersama Basnas.
07:16Anda mewakili bangsa Indonesia.
07:20Anda mewakili umat Islam di Indonesia.
07:31Bantuan Anda sangat dirasakan.
07:42Saya terima kasih atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia atas bantuan Saudara Basnas yang organisir.
07:52Luar biasa. Terima kasih.
07:57Sebuah ungkapan yang sangat emosional sekaligus memberikan pesan bahwa betapa pentingnya hubungan antara nilai agama dengan nilai kebangsaan.
08:08Ini kan Basnas ini kan diatur oleh negara tapi juga bermanfaat untuk umat.
08:13Kalau lihat potensinya tahun 2025 kan bisa 50 triliun rupiah potensi dari pengumpulan zakat itu.
08:24Sebenarnya apa sih yang harus bisa lebih didorong bahwa pemanfaatan ini lebih tersosialisasi?
08:32Jadi publik bisa lebih tahu tidak hanya urusan satu umat saja tetapi mungkin kebermanfaatannya bisa dilakukan untuk lintas agam misalnya.
08:42Iya.
08:43Saya suka menggunakan istilah pundi-pundi umat.
08:49Kalau dalam Islam itu mencontoh Rasulullah pada masanya ya.
08:54Direktur eksekutifnya pada waktu itu adalah Abi Huraira.
08:57Dia mengetuai Baitul Mal.
09:00Baitul Mal itu ada beberapa laci-laci nya disitu.
09:04Ada zakat, ada infak, ada sadaqah, ada jariah, ada hibah, ada wasiat, ada lukatah, ada fai, ada ganima, ada hibah,
09:15ada wasiat, ada mudaraba, ada musyarakah, ada wadiah, ada hiwalah.
09:20Belum lagi ada yang disebut dengan pajak waktu itu juga ada jis ya namanya.
09:27Dan 27 pundi-pundi umat yang dikoleksi oleh Abi Huraira pada waktu itu.
09:33Itu ada misalnya satu contoh ya.
09:36Ini hadis ada dasarnya ya.
09:39Rasulullah kasihan tuh ada rumah ibadah sebutlah gereja pada waktu itu ya.
09:47Terbengkalai kok gak pernah diselesaikan.
09:50Kasian tuh umatnya mau beribadah tapi gak ada rumah ibadah.
09:53Kenapa gak diselesaikan?
09:55Gak ada dananya ya Rasulullah.
09:57Bantu tuh.
09:58Ambilkan, bantu penyelesaian rumah ibadah itu.
10:01Jangan ambilkan dari zakat dan wakaf.
10:04Tapi ambilkan dari pundi-pundi hibah.
10:06Jadi ada hibah.
10:08Hibah itu bisa untuk siapa-apa dan apa saja.
10:10Termasuk pada muslim.
10:12Tapi kalau zakat itu sangat-sangat terbatas.
10:17Ada asnafnya ya kan.
10:19Tidak boleh selain itu.
10:21Asnaf itu kan misalnya pakir miskin.
10:23Ya termasuk disitu juga orang yang berhutang.
10:28Kemudian juga mu'alaf dan seterusnya.
10:31Saya jadi mungkin kesempatan juga untuk menjelaskan.
10:34Saya jadi ingat betul ketika sempat ada pro kontra soal pernyataan Prof Nasar.
10:38Saya jadi paham.
10:38Yang dimaksud oleh Prof Nasar adalah ingin mengoptimalkan instrumen filantropi selain zakat.
10:44Ada infab, ada wakaf.
10:46Tapi itulah tantangannya era sekarang itu.
10:49Prof salah satunya adalah tantangan komunikasi dan tantangan teknologi.
10:52Prof ingin menyampaikan, tadi sudah disampaikan juga.
10:55Saya ingin sekaligus menjelaskan meskipun sudah selesai menurut saya.
10:59Tetapi tidak ada salahnya menjelaskan konteksnya optimalisasi instrumen filantropi selain zakat.
11:05Jadi maksud saya pada waktu itu ya di forum terbatas itu ya.
11:11Pengalaman pada masa Nabi ya.
11:13Itu zakat itu bukan segala-galanya.
11:15Bukan satu-satunya.
11:16Bukan satu-satunya.
11:17Tapi ada lembaga-lembaga keuangan di luar negeri juga misalnya ada wakaf ya seperti menteri wakaf di Kuwait, menteri wakaf
11:25di Jordan, menteri wakaf di Emirat Arab, dan Qatar.
11:31Di tim bertengah itu lebih dominan wakaf ya.
11:34Karena wakaf itu bisa lebih banyak daripada zakat.
11:37Dan peruntukannya pun juga bisa lebih luas.
11:39Kalau zakat itu tidak bisa.
11:42Zakat dibakai membangun segala macam.
11:45Selain yang ditekskan dalam Al-Quran itu, dalam Al-Quran itu, itu tidak boleh.
11:50Nah jadi kalau mau membangun umat di masa depan itu, ya jangan hanya zakat dikedepankan.
11:56Kita kan sedikit-sedikit zakat.
11:59Zakat itu adalah pemberian kecil, terkecil umat Islam.
12:02Cuma 2,5 persen.
12:06Bandingkan dengan kekayaan kita, bunga tabungan kita atau deposito lah.
12:11Itu bisa sampai 6 persen ya kan.
12:15Nah sedangkan zakat itu cuma 25 persen.
12:18Nah jadi kita ingin memberiakan semua potensi umat ini.
12:23Misalnya, kurban ya.
12:25Orang yang berkurban itu, itu bisa sampai 30 triliun.
12:29Orang yang akikah.
12:31Akikah itu kan berapa anak laki-laki kan 2 ekor kambing itu kan.
12:34Saya sudah koordinasi dengan Kepala Birofusat Statistik.
12:38Berapa anak laki-laki lahir setiap tahun?
12:40Berapa anak perangkut lahir?
12:42Satu kambing itu sama dengan 3 juta, sama dengan sekian.
12:45Itu sekitar 30 triliun juga.
12:48Nah belum lagi, apa yang kita sebut dengan zakat.
12:51Zakat itu kalau kita profesionalkan,
12:53undang-undangnya regulasinya diperbaiki.
12:56Potensi zakat itu, jumlah umat Islam yang berkat.
12:59Tapi Islam menyimpan uangnya di bank, apakah dalam bentuk tabungan atau deposito.
13:04Seharusnya, zakat itu per tahun itu 320 triliun.
13:10Nah kita baru mengumpulkan 41 triliun kemarin.
13:13Nah, wakaf seharusnya lebih besar.
13:15Coba kita bandingkan negara lainnya.
13:18Baru pulang dari Jordan dengan Bapak Presiden.
13:20Pengumpulan zakatnya hanya 20 miliar dirham.
13:29Tapi wakafnya 600 dirham.
13:32Kuwait itu jauh lebih besar wakafnya daripada zakatnya.
13:35Kemudian Emirat Arab, Qatar.
13:38Jauh lebih besar wakafnya daripada zakatnya.
13:40Nah, kalau kita hanya mengandalkan.
13:42Dan itu pesan yang mau disampaikan oleh.
13:43Itu mesej yang kita akan pesan.
13:44Tapi itulah.
13:45Kalau kita kumpulkan semuanya, itu kurang lebih, kalkulasi saya kotor ya.
13:50Itu 1200 triliun per tahun.
13:53Baik.
13:53Bisa.
13:54Jadi, untuk biaya umat itu mungkin tidak perlu menggunakan pajak.
13:58Biar pajak itu dipakai untuk membangun infrastruktur.
14:01Belum lagi katolik.
14:02Katolik itu juga ceritinya besar tuh.
14:05Kristen.
14:07Kemudian juga Hindu-Buddha, Kongucu.
14:10Itu kalau semuanya kita organize.
14:12Saya sudah minta kepada dirijen kami yang dirijen-dirijen tersebut itu.
14:16Coba kita datangkan dulu berapa itu.
14:19Nah, ternyata jumlahnya tidak sedikit.
14:21Nah, mungkin akan datang.
14:23Kita akan profesionalkan.
14:24Nah, kalau itu kita himpun.
14:26Itu dahsyat itu ya.
14:28Sangat dahsyat.
14:29Dan itu bisa sangat membantu orang-orang miskin.
14:33Kalau itu terkumpul dengan bagus.
14:34Seharusnya tidak ada orang miskin mutlak di Indonesia.
14:37Dan itu pesan utama yang disampaikan oleh Prof. Nasar.
14:40Terima kasih.
14:42Terima kasih.
14:43Terima kasih.
14:43Terima kasih.
14:44Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan