Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Selat Hormuz merupakan "urat nadi" perdagangan minyak global. Jika benar-benar ditutup, dampaknya bukan hanya pada konflik militer, tetapi juga pada stabilitas energi dan ekonomi dunia.

Jika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersikeras mengajak negara lain mengirimkan kapal perangnya ke Selat Hormuz, bagaimana dengan kekuatan Iran dalam menjaga selat tersebut?

Seberapa besar kemampuan militer Iran untuk menjaga atau bahkan menutup Selat Hormuz? Apakah langkah ini menjadi bagian dari strategi tekanan geopolitik yang lebih besar terhadap Amerika Serikat dan sekutunya?

Hal ini dibahas bersama Efatha Filomeno, dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, serta Aisha Kusuma Somantri, Direktur Hubungan Eksternal Indo Pacific Strategic Intelligence.

Baca Juga Lengkap! Pengamat Blak-Blakan Dampak Kematian Ali Larijani ke Struktur Keamanan Iran: Makin Kuat? di https://www.kompas.tv/internasional/657798/lengkap-pengamat-blak-blakan-dampak-kematian-ali-larijani-ke-struktur-keamanan-iran-makin-kuat

#selathormuz #iran #amerika #as #breakingnews

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/657800/panas-iran-tutup-selat-hormuz-as-ajak-sekutu-kawal-kapal-siapa-kuat-ini-kata-pengamat-peneliti
Transkrip
00:00Selat Hormuz adalah urat nadi perdagangan minyak global dan jika benar-benar ditutup dampaknya bukan hanya pada konflik militer,
00:08tetapi juga pada stabilitas energi dan ekonomi dunia.
00:11Jika Presiden Trump bersikeras mengajak negara lain mengirimkan kapal perangnya ke Selat Hormuz,
00:17lalu bagaimana dengan kekuatan Iran menjaga Selat Hormuz?
00:21Seberapa besar kemampuan militer Iran untuk menang atau bahkan menutup Selat Hormuz?
00:26Dan apakah ini bagian dari strategi tekanan geopolitik yang lebih besar terhadap Amerika dan sekutunya?
00:32Kita bahas bersama Evata Filomeno, dosen ilmu politik Universitas Udayana dan juga Aisyah Kusuma Sumantre,
00:40Direktur Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence.
00:44Selamat sore Mbak Aisyah, selamat sore Mas Evata, terima kasih sudah menyediakan waktunya di Kompas Petang.
00:52Selamat sore Mbak Sitya, selamat sore Mbak Aisyah.
00:54Saya ke Mas Evata, Mas Evata kalau kita melihat sebenarnya seberapa realistiskah ancaman Iran untuk benar-benar menutup Selat Hormuz?
01:04Dan jika berhadapan langsung dengan armada militer Amerika Serikat termasuk jika memang ada jawaban dari negara-negara lain untuk membawa
01:13kapal perangnya ke Selat Hormuz?
01:16Baik, tentu ini adalah satu pertanyaan yang memang harus kita breakdown bersama-sama dalam konteks strategi.
01:23Kita bisa melihat bahwa sebenarnya keunggulan Angkatan Laut dari Amerika Serikat itu memang untuk operasi blue water ya.
01:31Jadi tidak bisa mereka menguasai apa yang sekarang lagi dikuasai oleh Iran yaitu perairan yang cukup dangkal yang berada di
01:38Selat Hormuz.
01:39Kita juga bisa melihat bahwa lokasi Selat Hormuz ini ada titik cekik yang kurang lebih hanya 33 km.
01:44Dan serta strategi yang dilakukan Amerika saat ini itu memang masih harus dikalkulasi ulang karena belum mampu melakukan titik tekan
01:52sehingga mereka bahkan hari ini memobilisasi angkatan laut mereka, mengirim marinir, bahkan meminta kepada dunia untuk melakukan satu tekanan.
02:01Tetapi tentu hal ini beresiko tinggi juga untuk Amerika Serikat dan juga negara-negara yang mau membantu.
02:07Karena kita bisa melihat dalam konteks asimetris hari ini, Iran kurang lebih memiliki 6.000 sampai 8.000 drone-drone
02:15dan juga mereka mampu menciptakan ranjau-ranjau.
02:19Ada ranjau tempel, ada ranjau yang bisa bergerak secara otomatis, ada ranjau-ranjau yang akhirnya tidak mampu dikendalikan oleh Amerika
02:27dan malah menyebabkan kerugian. Dan Iran sudah memiliki pengalaman ini dari 1987 ya dalam upaya waktu itu mempertahankan dari perang
02:38terhadap Rusia juga.
02:39Saya kan Mbak Isha. Mbak Isha, jika Donald Trump meminta negara lain untuk setidaknya bersekutu dengan Amerika Serikat
02:47dan mengirim kapal perangnya di Selat Hormuz, apakah ini menunjukkan bahwa sebenarnya Washington ini menyadari bahwa ada resiko besar
02:54jika Iran benar-benar memblokade Selat tersebut.
03:01Mohon maaf masih di mute Mbak Isha untuk audionya.
03:04Mohon maaf Mbak Siti ya, mohon maaf Mbak Siti ya.
03:06Sebelumnya kita mungkin harus pahami dulu karakteristik dari kerjasama antara negara-negara aliansi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa ya.
03:15Bahwa kemudian bentuk aliansinya ini adalah collective defense.
03:18Jadi ini bentuk yang sering kita lihat di dalam pertempuran dan peperangan ya di Timur Tengah di dekade-dekade sebelum
03:24ini.
03:25Bahwa jika ada satu yang diserang maka yang lain ikut membela lalu kemudian ada satu yang menyerang yang lain akan
03:30ikut membackup secara militer.
03:32Nah yang kita lihat di sini sebenarnya tradisionalnya negara-negara tersebut akan kohesinya itu satu ya.
03:39Mereka akan solid di dalam kemudian memberikan keputusan.
03:41Tetapi yang kita lihat di sini sebenarnya ada perpecahan juga di antara negara-negara NATO yang kemudian kita lihat bagaimana
03:47kemudian dari Spanyol ya.
03:50Sudah menyatakan secara terbuka bahwa Spanyol tidak akan mengikiti dan tidak akan kemudian mengirimkan pasukan ke Timur Tengah.
03:58Yang itu adalah Italia mengecam apa namanya tindakan-tindakan Amerika Serikat di Iran.
04:03Nah tetapi kita perlu lihat bahwa memang ada beberapa negara yang memang dari awal ini masih maju mundur.
04:08Alasannya kenapa? Karena sebenarnya Amerika Serikat sekarang berada di dalam titik tidak populer di dalam negaranya itu sendiri.
04:15Jadi yang dilakukan adalah mereka berusaha untuk kemudian mengirimkan bantuan-bantuan tetapi sifatnya masih terbatas gitu.
04:21Jadi saya rasa di masa depan mungkin agak sulit untuk kemudian melihat negara-negara ini memiliki kepercayaan 100% kepada
04:28Amerika Serikat.
04:28Terutama keputusan dalam perang ya termasuk pengiriman marines ya sebesar 2.500 orang ini.
04:35Ini juga dilakukan secara unilateral oleh Amerika Serikat dan tidak berkontaklasi dengan negara-negara lain.
04:40Tapi gini Mbak Isa jika Anda menyebutkan negara-negara lain memberikan bantuan secara terbatas.
04:45Tapi apakah memungkinkan negara-negara lain tersebut menaruh kapal perangnya untuk yang seperti disebutkan Trump membantu menjaga selat hormus?
04:55Ya jika ditanya apakah memungkinkan atau tidak ya memungkinkan karena jawabannya mereka sendiri sebenarnya mulai terancang kepentingannya di sana.
05:05Bahwa selat hormus kita tidak bisa tampik bahwa itu merupakan salah satu passageway di mana 25% dari total perdagangan
05:12energi dunia itu melewati sana.
05:14Dan kita lihat bahwa dari tanggal 8 sampai 11 Maret kemarin itu sudah terjadi berbagai serangan-serangan terhadap kapal-kapal
05:21pengangkut minyak ya di selat hormus.
05:23Sehingga kemudian dilema energinya menjadi semakin besar.
05:27Apabila pada akhirnya kemudian negara-negara tersebut membutuhkan kemudian kebutuhan minyak maka kemungkinan negara-negara di Eropa dan aliansi Amerika
05:36Serikat mau tidak mau harus kemudian ikut membantu.
05:38Nah apalagi kita melihat sekarang sebenarnya ada permasalahan Rusia juga yang sekarang menjadi salah satu eksportir energi terbesar.
05:48Dan negara-negara di Eropa ini sekarang sedang mulai berusaha untuk mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungan energinya terhadap Rusia karena
05:56kasus yang terjadi.
05:58Oke, Mas Hefata kalau dari perspektif Anda saat ini dari pola perang yang sudah memasuki pekan ketiga.
06:06Apakah Iran masih menggunakan taktik dari asimetrik warfare seperti ranjau laut, drone, dan juga speedboat?
06:14Dan apakah ini cukup untuk melawan kekuatan AS jika memang nanti negara-negara lain akan ikut bergabung?
06:21Baik, seperti yang disampaikan bahwa mereka tidak ingin memenangkan perang tetapi mereka ingin mengontrol kondisi perang hari ini.
06:30Maka kita bisa melihat dari berapa titik-titik yang sebenarnya dijaga secara internasional, kita bisa melihat bahwa Iran mampu menyerang
06:38bahkan Salalah ya.
06:42Kita bisa melihat bahwa pelabuhan Salalah diserang, terus juga ada Fujairah ya.
06:46Nah ini kan tanda bahwa mereka bisa melakukan offensive power gitu.
06:50Dan mereka menunjukkan bahwa jangan sampai juga mereka mengancam akan menutup Bab El-Mandeb gitu.
06:55Yang merupakan satu-satunya pintu untuk masuk ke Laut Merah.
06:59Nah ini kan tanda bahwa sebenarnya mereka sudah mempersiapkan perang panjang dan mereka tahu bahwa dalam strategi perang asimetris dan
07:06mereka sudah membaca,
07:08ada kegagalan intelijen dari Amerika Serikat yang membaca bahwa sebenarnya perang ini harusnya bisa dimenangkan dengan suatu kondisi perang udara
07:17yang sangat masif ya.
07:18Jadi ketika decapitation strike, surgical strike, regime change bisa terjadi gitu.
07:22Tetapi nyatanya karena mereka sudah membaca bahwa ini adalah satu perang yang nanti ke depannya eskalasinya untuk sama-sama mengontrol
07:30energi,
07:31maka saat ini kita bisa melihat Amerika Serikat belum mampu untuk melakukan kontrol energi itu sendiri.
07:36Bahkan mereka juga menghancurkan pulau Karp ya, yang notabene adalah salah satu pulau yang sangat strategis yang menjadi cadangan minyak
07:45dunia juga.
07:45Nah ini kan tanda bahkan mereka juga meminta Cina untuk masuk dan juga melakukan satu bantuan ya, bahkan mengirim pakap
07:53perang dan sebagainya.
07:54Tetapi kita bisa melihat bahwa Iran juga memperlakukan bahwa siapapun boleh lewat asalkan mereka membayar dengan yuan.
08:02Ini kan strategi dedolarisasi, ini menampar Amerika Serikat.
08:04Maka saya bisa melihat bahwa hari ini Trump justru malah mengalami satu kesulitan ya dalam mengontrol kondisi yang ada di
08:12eskalasi ini.
08:13Ini bagian dari taktik-taktik perang, lalu apakah memang ancaman dari Iran ini bisa dikatakan merupakan strategi penghalang di dalam
08:23perang?
08:23Dan apakah memang ada indikasi persiapan militer untuk benar-benar menutup jalur energi dunia?
08:28Tapi kita masih akan membahas ya usai jeda, tetap bersama kami di Kompas Petang.
08:41Terima kasih Anda masih bersama kami di Kompas Petang.
08:44Kita lanjutkan dialog sore hari ini, saya langsung ke Mbak Aisyah.
08:47Mbak Aisyah, dari perspektif strategi intelijen, apakah penutupan selat hormus yang dilakukan Iran ini merupakan deterrent strategy atau strategi penghalang?
08:58Atau justru Iran sebenarnya sedang memancing Amerika Serikat dan sekutunya untuk melakukan perang laut di wilayah selat hormus?
09:07Oke, saya rasa sebenarnya dua-duanya benar.
09:10Yang pertama kita lihat dari segi strategi ya, kita bisa melihat bahwa yang diincar adalah efek ekonomi secara global.
09:18Berarti kan kemarin Iran is waging war against global economy dan melihat bahwa bagaimana penutupan selat hormus ini akan memancing
09:26harga minyak yang semakin memuncak,
09:28hingga bahkan targetnya adalah 200 USD per barrel, which is like very expensive.
09:33Dan kemudian adanya inflasi di Asia Tenggara, lalu kemudian ada krisis fiskal, protest sosial, spillover, destabilization, dan lain-lain.
09:40Dan itu kita lihat sebenarnya tujuannya adalah satu, membuat negara-negara yang kemudian sifatnya netral atau mungkin masih swing secara
09:49alignment politik
09:50untuk menekan Amerika Serikat untuk menghentikan serangannya tersebut.
09:54Jadi bisa kita lihat sebenarnya ada upaya ke sana.
09:58Nah, sebenarnya tadi sudah disebutkan oleh Mas Evata juga bahwa sekarang kan Iran melakukan serangan ke sejumlah bypass dari exit
10:06ramp dari hormus.
10:07Nah, ini bisa kita lihat bahwa sebenarnya Iran sendiri merasa kalau misalnya seandainya respon blokadenya ini tidak berhasil,
10:16maka kemudian Iran akan melakukan next logical thing, yaitu adalah membuat jalur-jalur lain tidak bisa dilalui.
10:23Sehingga kemudian tadi ya negara-negara aliansinya juga bisa ikut menekan Amerika Serikat.
10:28Karena Iran tahu bahwa sekarang Amerika Serikat ini mulai ada pergeseran nih pemikiran dari aliansinya
10:33terkait apakah kemudian masih bisa diandalkan sebagai sebuah aliansi yang reliable atau tidak.
10:39Lalu tadi yang pertama, pertanyaan terkait masalah penurunan Marines ke Selat Hormuz,
10:46saya rasa sebenarnya Iran dari awal sudah menantikan dan mengantisipasi turunnya Amerika Serikat boots on the ground ke wilayah Iran.
10:53Jawabannya adalah satu, karena Iran akan lebih diuntungkan dengan boots on the ground dibandingkan dengan peperangan yang sifatnya mengandalkan teknologi
11:01-teknologi yang canggih.
11:02Dari segi casualty akan lebih banyak, dari segi kemudian kerusakan infrastruktur memang akan lebih besar,
11:07tetapi Iran akan diuntungkan karena di dalam peperangan yang mengandalkan human intelligence,
11:13lalu kemudian logistik dari masyarakat dan cover dari masyarakatnya, itu akan jauh lebih menguntungkan Iran.
11:18Jadi saya rasa di sini sebenarnya untuk Amerika Serikat sendiri, they walk straight into Iran's strategy gitu ya,
11:26untuk kemudian bisa mengeluarkan tadi, apa namanya, cost trapnya Iran, membuat biaya perangnya lebih mahal,
11:32dan kemudian membuat kemudian strategi Amerika Serikat jadi tidak efektif lagi.
11:38Oke, Mas Sefata, oke deh, kalau kita coba hitung-hitungan keseimbangan kekuatan militer antara Amerika Serikat
11:44dan juga kekuatan militer Iran di bawah pimpinan Mujtaba.
11:49Mana yang lebih kuat ketika perang akan dibawa ke Selat Hormuz?
11:54Karena kita tahu bahwa Selat Hormuz ini kan sangat unik.
11:58Lokasinya bisa dikatakan sebagai medan perang yang ideal,
12:02karena ada titik tersempit yang bahkan lebarnya kalau bisa dilihat dari catatan geografik hanya 40 km.
12:09Ini akan menyulitkan kapal besar untuk mengarungi wilayah tersebut.
12:14Sementara Iran memiliki kekuatan-kekuatan dengan rudal dari daratan yang langsung dikirimkan,
12:24ada juga speedboat, ada juga swarm attack.
12:27Itu gimana, Mas Sefata?
12:31Ya, baik.
12:32Pertama kita bisa lihat sebenarnya ada korban yang cukup signifikan ya dalam perang laut kali ini.
12:38Ada dua kapal perang keras Mujt, terus juga ada Fregat, keras Alvan, Sabalan,
12:46terus juga ada kapal Basing, Makran, dan juga ada kapal selam, Iris Dana.
12:51Terus habis itu ada berapa fasilitas rudal balistik yang dihancurkan.
12:56Nah, tapi kalau kita lihat Amerika, Amerika sampai ngirim USS Image,
12:59yang sebenarnya kan ini sudah pensiun, tapi diperpanjang sampai 2027.
13:03Terus mengirimkan USS Tripoli juga gitu, dengan bantuan kurang lebih awaknya sekitar ada 4.200,
13:10ada yang mengatakan 5.000 ya.
13:12Dan sebenarnya Amerika Serikat ini tidak punya penyapuran jauh gitu.
13:16Karena Amerika tidak punya penyapuran jauh, maka Marines yang dikirimkan,
13:20terus seluruh angkatan-angkatan perang yang baru ini memang fokus untuk melakukan pembersihan gitu.
13:25Karena kita bisa melihat, Iran ini kan sudah memasang kurang lebih ada 6.000 sampai 8.000.
13:31Dan semuanya itu merupakan hasil dari temuan teknologi mereka,
13:36sehingga ranjau-ranjau itu mampu melihat.
13:39Kalau yang lewat itu adalah kapal-kapal perang, itu tidak meledak.
13:43Tapi kalau yang lewat itu adalah kapal-kapal untuk muatan-muatan logistik, itu meledak.
13:47Nah, secara teknologi mereka bahkan sudah memasang kejeniusan akustik di dalam ranjau mereka.
13:52Nah, maka kalau ditanya siapa yang lebih mematikan dalam perang laut,
13:55kita bisa melihat bahwa Amerika, USS Geraford juga agak mundur dari beberapa titik.
14:01Nah, ini tanda bahwa dan mereka bahkan bisa menghancurkan beberapa lokasi-lokasi
14:05yang merupakan sumber daripada pipa-pipa aliran dari energi dunia.
14:12Tapi Mas Yifatah, apa resikonya bagi armada barat ketika melakukan
14:16ataupun ketika perang di Selat Hormus ini pecah?
14:22Kita bisa melihat sebenarnya, Amerika Serikat ini doktrinnya kemarin pada saat perang,
14:26itu ada dua, ya kan, security dan energi.
14:28Amerika itu ingin menjamin bahwa setiap kapal yang lewat,
14:31asal bekerja sama dengan Amerika, akan aman.
14:34Tetapi nyatanya kan tidak berhasil, gitu.
14:36Ini kan disampaikan oleh Pete Hexet, gitu.
14:37Mereka menyampaikan bahwa, oh ya, dunia tenang saja, kami akan melakukan pengawalan.
14:42Nyatanya pengawalan-pengawalan ini itu tidak berhasil banyak, gitu.
14:45Bahkan mereka mengatakan bahwa, oh ya, ini tetap masih lewat,
14:49asalkan mengikuti dan mematuhi aturan-aturan yang ada dari Iran itu sendiri.
14:54Nah, maka sebenarnya kita bisa melihat kalau terjadi perang,
14:57ya perangnya juga tidak akan begitu sangat signifikan,
15:00karena sebenarnya kontrol utamanya adalah energi.
15:02Tetapi kita bisa melihat bahwa Amerika ini terlalu banyak menyerang,
15:05sampai di titik-titik yang cukup vital, yang harusnya tidak dihancurkan,
15:08dihancurkan, sehingga battlefront yang terlalu banyak ini,
15:12membuat mereka akhirnya kewalahan mana yang harus dipegang.
15:15Apakah melakukan serangan darat, ataukah serangan laut,
15:17dan kalau semua mereka lakukan, tiba-tiba saja ada negara-negara lain
15:21yang memanfaatkan momen ini, dan akhirnya memukul buruk,
15:24memukul mundur, Amerika Serikat dan juga Israel, bisa saja.
15:26Oke, Mbak Isah, jika memang kontrol utamanya adalah energi,
15:30apakah ini berpotensi meluas menjadi konflik regional
15:34yang melibatkan negara-negara teluk, dan juga kekuatan global lain,
15:38seperti yang saat ini Trump juga mengklaim bahwa negara-negara lain
15:41diajak untuk menaruh kapal perangnya di Selat Hormuz?
15:46Ya Mbak Sintia, sejauh ini memang sudah ada indikasi
15:49beberapa negara-negara NATO ini mengirimkan bantuan terhadap Amerika Serikat.
15:53Di antaranya adalah UK, dia mengirimkan sebuah pesawat tempur ya,
15:57tipe taikun, lalu kemudian Belanda mengirimkan pesawat,
16:00sorry, mengirimkan kapal tempur, dan kemudian ada Australia,
16:03dan kemudian Perancis juga yang mengirimkan pesawat tempur.
16:05Nah kita lihat di sini, tetapi bantuannya tadi ya,
16:07sekali lagi masih tetap terbatas.
16:09Kalau ditanya apakah kemudian akan berkembang menjadi krisis energi atau tidak,
16:13jawabannya adalah ya bisa.
16:15Tetapi sejauh ini, untuk negara-negara teluk,
16:17ini masih wet and sea.
16:19Karena apa?
16:19Karena sebenarnya sejauh ini, negara teluk ini menyadari
16:22bahwa Amerika Serikat, dengan kemudian manuvernya yang sangat luar biasa,
16:26dengan tadi ya, misalnya di overstretch strategi,
16:28baik itu kemudian di laut, dan kemudian di front darat juga.
16:31Nah di sini, negara-negara teluk masih menganalisis
16:34apakah Amerika Serikat ini bisa dipercaya sebagai sebuah alliance atau tidak.
16:38Yang pertama itu.
16:39Yang kedua adalah, ketika negara-negara teluk ini berusaha
16:41untuk kemudian melakukan retaliasi terhadap Iran secara langsung,
16:44maka yang terjadi adalah potensial civil unrest di dalam negaranya.
16:48Karena sebenarnya, Amerika Serikat sendiri ini,
16:50meskipun cukup dekat dengan pemerintah dari negara-negara teluk,
16:54tetapi kemudian masyarakatnya memiliki kedekatan terhadap Iran.
16:57Khususnya karena Iran ini merupakan salah satu negara
17:00yang dipimpin oleh orang yang satu-satunya bisa melawan Israel di Timur Tengah,
17:06terutama ketika terjadi kasus-kasus di Gaza.
17:09Nah, oleh karena itu sekarang bahkan untuk negara-negara teluk sendiri,
17:12mereka lebih mengutamakan jalur multilateralisme.
17:15Melalui Bahrain, mereka mengajukan kemudian tuntutan ke DKPBB
17:19agar Iran kemudian bisa menghentikan serangannya ke negara-negara teluk.
17:22Nah, tetapi untuk secara global, kita lihat di sini,
17:25dengan adanya krisis di Timur Tengah,
17:31maka kemudian akan ada shifting of global energy trade.
17:36Di antaranya bagaimana kemudian China ini,
17:39yang tadinya 20% bauran energinya ini berasal dari Selat Hormuz,
17:43akan lebih tergantung dengan Rusia.
17:45Baik, terima kasih atas perspektifnya Mbak Aizaku Suma-Sumantri,
17:50Direktur Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence,
17:53dan juga Mas Efata Filomeno,
17:56dosen ilmu politik Universitas Udayana,
17:58berbagi perspektif di Kompas Petang sore hari ini.
18:00Terima kasih, selamat sore.
18:02Terima kasih Mbak Sintia.
18:03Terima kasih, selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan