Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Para ahli ekonomi menilai kondisi perekonomian Indonesia memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Temuan tersebut muncul dalam Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI.

Ekonom dan peneliti LPEM FEB UI, Jahen Fachrul Rezki, menjelaskan bahwa survei ini memang berfokus pada persepsi para ahli terhadap kondisi ekonomi terkini, termasuk tingkat keyakinan mereka terhadap penilaian tersebut.

"Data yang disampaikan oleh pemerintah juga tidak salah, tapi di sisi lain kita melihat ada indikator-indikator lain yang mengindikasikan memang ada sedikit isu dalam perekonomian kita," jelas Jahen Fachrul Rezki dalam program KOMPAS BISNIS, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga Purbaya: Harga Minyak di Atas 100 Dolar Tak Selalu Menekan Ekonomi RI di https://www.kompas.tv/ekonomi/656825/purbaya-harga-minyak-di-atas-100-dolar-tak-selalu-menekan-ekonomi-ri



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/657793/survei-lpem-ui-ekonom-nilai-kondisi-ekonomi-ri-memburuk
Transkrip
00:00Ya sementara itu saudara, survei yang dilakukan oleh LPM FEB Universitas Indonesia melibatkan 85 ahli ekonomi
00:08dari beragam latar belakang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia
00:13serta berasal dari sejumlah negara seperti Australia, Inggris, Belanda, Singapura, Korea Selatan dan juga Tiongkok.
00:21Tentunya para ahli ekonomi ini selalu menggunakan data.
00:25Apa kemudian persepsi para ahli ekonomi terhadap kondisi ekonomi saat ini? Kita lihat data.
00:32Nah berikut ini saudara, persepsi para pakar terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan 3 bulan lalu adalah
00:40di mana 6 ahli ekonomi menilai sangat buruk.
00:46Di sini terlihat ada 35 ekonom bilang memburuk, 32 ekonom bilang tak berubah
00:54dan 10 ini bilang membaik dan 2 ekonom bilang sangat baik.
00:59Ini artinya apa? Artinya mayoritas atau 41 dari 85 ekonom atau sebesar 48 persen berpendapat
01:08bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya.
01:14Sementara itu 32 ekonom atau 38 persen tidak melihat adanya perbaikan atau penurunan.
01:21Kecenderungan ini hanya menyisakan 12 ahli ekonomi atau sebesar 14 persen yang memandang kondisi ekonomi saat ini membaik.
01:30Rata-rata respons adalah 0,39 atau cenderung ke arah memburuk atau stagnasi kondisi ekonomi
01:37di antara persepsi para pakar dengan skor kepercayaan tinggi sebesar 7,37 dari 10.
01:44Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan juga Maret 2025.
01:51Ini menunjukkan bahwa setelah 3 survei berturut-turut dalam rentang waktu 18 bulan,
01:57para pakar ini masih yakin bahwa kondisi ekonomi di Indonesia tidak membaik.
02:04Lalu seberapa efektif kebijakan fiskal saat ini dalam menjamin stabilitas ekonomi?
02:09Menurut para ekonom kita lihat ke data berikutnya.
02:12Nah ini dia saudara, para ahli tetap berhati-hati tentang peran kebijakan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi.
02:19Terlihat dari pendapat para ekonom ditunjukkan sangat efektif.
02:25Ini menilai ada 18 ekonom, ada juga 34 ekonom yang menilai tidak efektif,
02:3018 pakar menilai tak berpengaruh, sedangkan 13 ahli menilai efektif,
02:37dan sisanya ada 2 ahli menilai sangat efektif.
02:40Tanggapan survei ini menunjukkan saudara bahwa banyak ahli tetap tidak yakin tentang efektifitas kebijakan fiskal saat ini dalam mendukung stabilitas
02:49ekonomi.
02:49Sebanyak 18 responden menilai kebijakan fiskal sangat tidak efektif,
02:55dan 34 responden menilai tidak efektif.
02:58Artinya 52 dari 85 pakar ekonomi memberikan evaluasi negatif.
03:03Dan hasil ini menunjukkan bahwa meskipun penilaian tetap hati-hati,
03:07persepsi tentang efektifitas kebijakan fiskal telah sedikit berkurang dari waktu ke waktu.
03:14Bagaimana penilaian terhadap kebijakan moneter? Kita lihat ke data berikutnya.
03:18Nah ini dia saudara, kebijakan moneter juga mendapatkan penilaian negatif dalam mengendalikan inflasi dan juga mengelola rupiah.
03:26Pandangan tentang efektifitas kebijakan moneter lebih beragam dibandingkan dengan bidang kebijakan lainnya.
03:33Sebagian besar responden yaitu 35 ahli ekonomi percaya bahwa kebijakan moneter tidak berpengaruh dalam mengendalikan inflasi dan pengelolaan rupiah.
03:43Sementara 26 responden ini menganggap tidak efektif dan 4 sangat tidak efektif.
03:50Penilaian yang lebih positif terlihat ini ada 18 responden saudara menilai kebijakan moneter efektif dan 2 sangat efektif.
04:00Selanjutnya kita lihat penilaian terhadap kualitas belanja dari pemerintah.
04:05Nah ini dia, sebagian besar ahli menilai saudara bahwa kualitas pengeluaran pemerintah tidak memadai untuk mendukung pertumbuhan jangka menengah.
04:15Ini tercermin dalam data berikut ini yang menunjukkan bahwa 38 ekonom ataupun ahli menilai ini sangat rendah dan 32 menilai
04:25rendah, 8 ahli menilai netral, 5 pakar menilai ini sangat tinggi dan 2 pakar menilai sangat tinggi.
04:33Ini juga menunjukkan bahwa relatif sedikit yang percaya bahwa alokasi pengeluaran saat ini secara efektif mendukung ekspansi ekonomi jangka panjang.
04:43Sekali lagi saudara, survei ini dilakukan terhadap 85 ekonom yang tentu membaca data.
04:51Lalu mengapa mayoritas ekonom dalam survei yang dilakukan oleh LPM FB Universitas Indonesia meyakini kondisi ekonomi Indonesia memburuk tidak berjalan
05:02ataupun tidak sejalan dengan data-data ekonomi yang kerap dirilis oleh pemerintah.
05:07Kompas bisnis akan membahasnya susah jeda. Tetaplah bersama kami.
05:11Dalam rilis LPM FB Universitas Indonesia menunjukkan hasil dimana persepsi mayoritas ekonom terhadap kondisi perekonomian Indonesia pada periode 3 bulan
05:21terakhir ini memburuk.
05:23Mengapa demikian? Kita langsung tanya Jahen Fahrul Rezki, ekonom dan peneliti LPM FB UI.
05:29Selamat pagi Mas Jahen.
05:31Selamat pagi Mas Jahen, ini banyak atau sebagian besar ekonomi yang jadi responden dalam penelitian ataupun survei dari LPM UI
05:42begitu yang menilai kondisi ekonomi RI stagnan bahkan memburuk.
05:46Apa saja alasan yang diungkapkan oleh para ekonomi ini?
05:50Oke, terima kasih Mas Jahen buat pertanyaannya.
05:52Jadi kalau memang pertama mungkin survei ini kita coba tanyakan ke 85 ahli ya.
05:58Jadi kita telah melaksanakan 3 kali survei semenjak Maret 2025, Oktober 2025 dan terakhir di bulan Maret ini 2026.
06:07Dan memang pertanyaan yang kita tanyakan lebih banyak ke persepsi.
06:11Jadi kita tidak menanyakan kira-kira setelah menjawab ini, apa alasannya?
06:16Tapi kita juga mencoba untuk menggali seberapa yakin mereka dengan jawaban tersebut.
06:21Jadi itulah kenapa misalnya di setiap pertanyaan, misalnya kita bertanya bagaimana sih kondisi ekonomi 3 bulan yang lalu dibandingkan dengan
06:28yang sekarang.
06:28Itu kita coba menunjukkan berapa sih tingkat keyakinan mereka.
06:32Jadi tadi Mas Jahen cerita 7 dan sebagainya.
06:34Nah kalau ditanya alasan, saya mungkin menebak kali ya.
06:37Karena lagi-lagi yang mengisi adalah teman-teman ahli, bisa jadi dari pandangan mereka itu banyak yang melihat bahwa dalam
06:453 bulan terakhir itu terjadi perlambatan dalam perekonomiannya.
06:50Bisa jadi karena banyak hal dari sisi domestik, dari sisi eksternal.
06:54Karena kita paham dalam 3 bulan terakhir kita mendengarkan banyak sekali berita ya terkait dengan MSCI, terkait dengan MUDIS dan
07:02sebagainya.
07:02Ditambah dengan gejolak eksternal yang juga memberikan dampak yang cukup negatif bagi perekonomian kita.
07:08Jadi ini lebih ke cara teman-teman ekonom, para ahli melihat data, melihat eviden dan mereka merasa bahwa inilah kondisi
07:15ekonomi sekarang dibandingkan dengan sebelumnya.
07:17Juga artinya melihat data-data yang memang jadi concern lembaga pemeringkat juga ya seperti tadi MUDIS, ada juga sebelumnya ada
07:25Fitch, begitu yang juga rating Indonesia.
07:28Kemudian kan memang kalau kita melihat respon dari pemerintah yang sering menyebutkan bahwa data-data ekonomi kita bagus kalau merespon
07:35dari kritikan lembaga pemeringkat ini.
07:37Lalu kemudian mengapa keraguan mayoritas para ekonom ini dalam survei tidak sejalan dengan data-data ekonomi yang kerap dipaparkan oleh
07:44pemerintah, Mas?
07:45Dengan narasi ekonomi kita kuat dan juga membaik. Apa sebetulnya basis datanya?
07:51Ya jadi sebenarnya data yang disampaikan oleh pemerintah juga nggak salah ya Mas Sian ya.
07:55Jadi misalnya Pak Menteri Keuangan bilang bahwa PMI kita mengalami kenaikan dan sebagainya, itu valid.
08:00Tapi yang di sisi yang lain juga kita melihat ada indikator-indikator yang lain yang mengindikasikan memang ada sedikit isu
08:08dalam perekonomi kita.
08:10Misalnya nilai tukar kita yang terus mengalami perlemahan, terus juga daya beli masyarakat yang belum bisa pulih seperti sedia kala,
08:18isu terkait dengan perolahan keuangan negara.
08:20Jadi apa yang disampaikan oleh pemerintah saya rasa valid, tapi juga teman-teman ekonom pastinya juga membaca data ya.
08:27Karena tugas dari ekonom kan kita diminta untuk menganalisis data, terus juga comes up dengan apa sih maksudnya tersebut.
08:34Nah isu yang kita juga ingin sampaikan bahwa data itu ataupun fakta bukan monopoli pemerintah saja kan.
08:41Karena pasti juga ada perspektif dari masyarakat, dari para ahli, bagaimana sih dari pembacaan data yang dimiliki kondisinya seperti apa.
08:49Jadi dua-duanya benar Mas Sian, jadi pemerintah saya rasa juga pasti akan memilih data yang baik ya, menyampaikan yang
08:56baik.
08:56Tapi dari sisi yang lain kita melihat berbagai macam indikator yang mengindikasikan bahwa pemerintah perlu punya perhatian khusus
09:04agar nanti dampaknya ke masyarakat bisa kita minimalisir dengan cukup baik.
09:09Oke berarti kita juga harus melihat begitu dari berbagai perspektif, bukan pemerintah.
09:15Memang itulah mengeluarkan datanya, rilis datanya, ada juga perspektif dari masyarakat dan juga ahli dan juga melihat juga bagaimana juga
09:22nilai tukar rupiah
09:23dan daya beli masyarakat yang dilihat masih belum pulih hingga saat ini.
09:27Tapi kalau kita ngomong-ngomong soal yang efektivitas kebijakan fiskal nih Mas Jahan dalam menjamin stabilitas ekonomi.
09:34Mayoritas ahli juga ini tampak tidak yakin.
09:38Analisis Anda mengapa demikian? Apa saja yang jadi parameternya?
09:42Ya kalau kita lihat semenjak 2025 kan isu terkait dengan fiskal kapasiti kita menjadi concern semua pihak ya.
09:51Jadi pertama kita tahu bahwa budget kita itu sangat tergerus untuk kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat populis ya.
10:00Seperti makam perdisi gratis dan sebagainya.
10:03Dan di sisi yang lain kita juga tahu bahwa indikator perpajakan terus mengalami penurunan.
10:08Jadi tax to GDP kita malah dalam tahun 2025 di bawah 10%.
10:12Terus penerimaan pajak itu unlike apa ya tidak seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi
10:18malah penerimaan pajak kita terus mengalami perlambatan.
10:21Nah ini kan masalah kemampuan dan kemauan ya.
10:24Jadi kalau kita punya kemampuan yang terbatas seharusnya kan spendingnya juga dibatasi
10:29ataupun dipilih di mana nih yang kita bisa.
10:31Tapi kan itu nggak terjadi ada banyak misalokasi anggaran hendaknya pemerintah mulai memikirkan
10:38mana nih pos-pos yang sebaiknya dievaluasi sehingga nanti bebannya terhadap fiskal kita bisa diatasi dengan lebih baik.
10:45Dan ini juga concern dari para pemerintah, pemerintah ya rating agency kan.
10:49Salah satu isu adalah fiskal policy dari pemerintah yang terkesan lebih less prudent dibandingkan dengan sebelumnya.
10:57Nah once ini terjadi ketika misalnya kepercayaan dari masyarakat, dari segala pihak, dari institutional investment mengalami penurunan
11:08maka ini pasti akan memberikan gejolak yang signifikan terhadap perekormen kita.
11:12Jadi concern terhadap fiskal policy menjadi sangat valid dan kita tahu bahwa ke depan mungkin bebannya akan semakin tinggi.
11:19Kita tahu ada dampak dari kenaikan harga minyak dunia karena adanya perang di Iran.
11:24Kita juga tahu misalnya gejolak-gejolak lainnya yang dan kita nggak tahu apakah ke depan misalnya akan ada bencana yang
11:31terjadi di Indonesia
11:31dan kapasitas kita mungkin tidak akan cukup untuk menghadapi semua hal ini.
11:35Jadi pemerintah kami bayangkan perlu untuk sedikit one step back ya, melihat kembali, membaca kembali kondisi
11:43dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang tentunya untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
11:48Karena lagi-lagi, kita kan dari para ahli, maksudnya para ahli itu kan sebenarnya bentuk kecintaan mereka terhadap negara.
11:55Ya, concern terhadap kondisi negara dan inilah cara mereka untuk menyuarakan beberapa kegelisahan yang mereka hadapi selama ini.
12:02Oke, kalau kita lihat tadi ada beberapa indikator termasuk pepajakan yang turun, peniman panjak yang juga mengalami perlambatan.
12:08Tadi sempat disebutkan juga secara singkat oleh Mas Jahen terkait fiskal begitu.
12:13Kalau kita bisa alaborasi lagi, Mas Jahen ini kebijakan fiskal mana saja sih yang paling jadi sorotan para ahli yang
12:20jadi responden?
12:22Ya, kalau di survei sekarang memang kita nggak terlalu membahas secara detail ya, kira-kira apa sih yang mereka jadi
12:28concern.
12:29Tapi kalau kita lihat di survei tahun 2000, di survei semester 2 2025, itu memang misalokasi dari budget gitu.
12:37Jadi misalnya besarnya beban untuk program MBG, terus di siang lain juga pemerintah daerah misalnya mengalami penurunan TKD.
12:46Dan itu kan di respons dengan berbagai macam pilihan kebijakan oleh pemerintah daerah.
12:50Kita juga tahu ataupun kita mendengarkan banyak pemerintah daerah yang mengalami kesulitan sekarang untuk bisa memenuhi kebutuhan pembiayaan mereka.
12:58Jadi itu menjadi salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan ya.
13:04Di siang lain juga mungkin kita masih belum mampu untuk meningkatkan kapasitas perpajakan kita.
13:09Jadi walaupun pemerintah telah menggulirkan banyak kebijakan-kebijakan di isu perpajakan,
13:15sepertinya itu belum tertranslasikan ke dalam kemampuan kita dalam generating more tax revenue.
13:21Padahal kita tahu kalau pemerintah pengen spending lebih banyak, tentunya penerimaannya harus lebih tinggi ya.
13:26Di sisi yang lain misalnya ketika pemerintah issuing surat utang,
13:32kalau yang terakhir kan bid rate-nya nggak terlalu tinggi ya.
13:36Jadi itu juga mengindikasikan bahwa masyarakat mulai sedikit lebih hati-hati ataupun mengubah ya consumption behavior mereka.
13:45Oke, dari penilaian fiskal yang sempat kita tadi bahas,
13:50kita bergeser ke penilaian terhadap kebijakan moneter dalam pengendalian inflasi dan juga pengelolaan rupiah
13:55yang ada juga di dalam survei yang dilakukan.
13:57Ini mayoritas menilai tidak berpengaruh.
14:00Ini artinya apa mas?
14:03Ya kalau dari segi moneter kan kita tahu ya dalam beberapa periode terakhir rupiah,
14:10termasuk dalam salah satu mata uang yang performanya tidak terlalu baik ya dibandingkan dengan yang lain.
14:17Ini kombinasi banyak hal.
14:20Saya rasa pertama tentunya dari segi dalam negeri banyak kebijakan-kebijakan yang mungkin di respons cukup negatif oleh pelaku pasar.
14:29Terus yang kedua juga secara global kan kita tahu adanya ketidakpastian,
14:33sehingga secara otomatis mungkin ada outflow yang terjadi di Indonesia gitu.
14:39Tapi juga di sisi yang lain mungkin kebijakan ataupun yang menjadi concern pihak selama ini adalah terkait dengan independensi dari
14:47bank sentral itu sendiri.
14:48Kita tahu bahwa semakin sering misalnya BI ataupun BI harus juga melaksanakan kebijakan yang sangat terkesan adanya fiscal dominance.
15:00Jadi kebijakan bank sentral itu banyaknya dipengaruhi oleh dari sisi fiscal gitu,
15:04burden sharing ataupun permintaan untuk menurunkan suku bunga dan sebagainya.
15:09Maka ketika independensi itu hilang mungkin role dari monetary policy pun akan sedikit blur gitu.
15:15Nah itu yang menjadi concern.
15:16Yang kedua sebenarnya terkait dengan inflasi kami melihat memang ada kecenderungan dari faktor-faktor ya.
15:23Misalnya kebutuhan akan bahan makanan yang semakin tinggi, khususnya following Ramadan ya.
15:30Sebelum Ramadan kan tendensinya adalah masyarakat akan semakin banyak membeli barang-barang.
15:34Terus yang kedua memang beban dari energi yang terus meningkat.
15:38Jadi kombinasi dua hal ini yang kami lihat bahwa memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap inflasi kita.
15:46Nah BI tentunya, saya tahu BI juga berusaha agar rupiah nggak terlalu mengalami depresiasi yang signifikan.
15:53Tapi pilihan-pilihan kebijakannya mungkin dirasa belum cukup optimal untuk mengatasi semua hal ini.
15:59Oke ada beberapa faktor termasuk pastian global, outlaw asing dan juga ada sedikit disinggung soal independensi dari bank sentral begitu.
16:08Tapi ngomong-ngomong soal bank sentral ini Mas Jahen, apakah menurut Anda tugas menjaga inflasi dan juga stabilitas rupiah ini
16:16mulai terganggu karena bank sentral dimandati growth yang bukan topoksinya?
16:23Iya itu memang jadinya ada multiple objektif ya Mas Jahen.
16:26Jadi biasanya kalau bank sentral, khususnya BI ya, kan stabilitas ya.
16:32Nah sekarang dengan aturan yang baru itu BI juga punya, dituntut memiliki peran untuk mencapai growth.
16:38Nah dalam teori misalnya memang agak sulit tuh bank sentral punya multiple objektif seperti itu
16:44karena ada satu hal yang harus dikorbankan. Ini kan kayak trilema yang dihadapi oleh bank sentral gitu.
16:51Nah kalau kita lihat dalam beberapa periode terakhir memang ada tendensi ke arah sana.
16:54Jadi kami mungkin memandang bahwa tetap BI harus dikembalikan kepada mandatnya stabilisasi
17:01karena kalau kita berkaca kondisinya mungkin belum separah misalnya COVID-19 dibutuhkanlah kerjasama antara BI dengan Kementerian Keuangan.
17:13Tapi untuk saat ini kami masih merasa BI sebaiknya fokus pada rol mereka menjaga stabilitas harga yang inflasi dan juga
17:20yang ditukar.
17:21Nanti untuk isu yang lainnya biarkanlah fiscal authority yang punya peranan lebih besar nanti.
17:28Oke, Mas Jayen apa sih risiko terbesarnya apabila BI ini terus dibebankan growth over stability begitu?
17:35Apa risiko jangka pendek dan juga jangka panjangnya apabila ini terus berlangsung?
17:40Ya pertama tentunya kita bisa membayangkan nanti inflation akan mengalami dampak yang signifikan ya.
17:47Karena nanti contoh misalnya ketika secara teori ketika misalnya bank sentral itu menurunkan suku bunga
17:55itu akan muncul pertanyaan apakah ini simply untuk generating ekonomi
18:00atau untuk mengurangi beban utang dari fiscal authority.
18:04Karena kan ketika suku bunganya turun kan otomatis simbal balasnya juga akan mengalami perunan.
18:10Nah itu akan memberikan respons ya respons yang cukup membingungkan bagi misalnya institutional investor
18:16ataupun peningkat rating karena pertanyaannya adalah apakah kebijakan ini simply untuk membuat masyarakat bisa semakin banyak minjem kreditnya tumbuh
18:26atau justru membantu fiscal authority untuk bisa mengurangi beban utang mereka gitu.
18:31Jadi ya saya rasa ini sangat penting ya untuk dijaga karena kita telah berusaha untuk membangun stabilisasi ini
18:40ini prudensial in terms of monetary authority semenjak krisis 98 ya.
18:45Membangunnya itu kan butuh waktu yang cukup lama ya tapi menghancurkannya itu sangat gampang.
18:50Dan dalam kebijakan makroekonomi government credibility ataupun policy maker credibility itu sangat penting.
18:56Jadi once itu hilang agak susah nanti bagi membuat kebijakan untuk memastikan bahwa semua pilihan kebijakan yang kami ambil itu
19:02memang untuk kebaikan republik.
19:04Oke berarti rekomendasinya tetap mengembalikan bahan Indonesia fokus ke stabilitas dibandingkan ke growth begitu ya Mas Jahan.
19:12Terima kasih Jahan Fahroreski, peneliti LPM FEB Universitas Indonesia atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
19:19Sehat selalu.
19:20Terima kasih Mas Jahan. Terima kasih.
19:22Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan