Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Membahas perkembangan perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, bersama Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho Widodo, Ph.D.

Baca Juga China Desak AS Hentikan Serangan ke Iran, Peringatkan Bahaya Eskalasi Perang Timur Tengah di https://www.kompas.tv/internasional/655264/china-desak-as-hentikan-serangan-ke-iran-peringatkan-bahaya-eskalasi-perang-timur-tengah

#geopolitik #peran #iran #amerikaserikat

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/655327/perang-iran-vs-as-israel-kian-memanas-pakar-geopolitik-ungkap-alasan-prabowo-usahakan-mediasi
Transkrip
00:00Membahas perkembangan perang Amerika Serikat, Israel dan Iran sudah bersama saya di studio
00:05Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional Wibawanto Nugroho Widodo, PhD
00:10yang pertama-tama tentu saya berterima kasih karena sudah berkenan untuk bergabung dengan Kompas TV
00:16dan hadir langsung di studio.
00:17Mas melihat upaya damai, ini berarti kali kedua begitu ya disampaikan pertama secara langsung oleh Presiden
00:25yang kedua disampaikan oleh Jimli Asidiki yang bilang bahwa Presiden ingin mengambil peran sebagai juru damai, mediator.
00:34Bagaimana Anda melihat ini?
00:35Ya jadi dari perspektif Indonesia sebagai middle power, apapun dilakukan oleh Presiden itu tidak lepas dari foreign policy.
00:44Tidak lepas dari postur foreign policy Indonesia.
00:48Yang ada enam elemen di situ.
00:50Yang pertama adalah strategic orientation-nya.
00:52Jadi apa yang menjadi tujuan dari foreign policy Indonesia?
00:57Menjaga status quo atau merevisi dunia atau menjaga stabilitas?
01:02Itu satu.
01:02Yang kedua apa yang menjadi ancaman menurut perspektif Indonesia sebagai middle power yang dipahami oleh Pak Prabowo?
01:09Yaitu menurut saya ancaman yang paling bahaya adalah jika terjadi instabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
01:15Ya karena impact-nya akan kemana-mana.
01:17Dan yang ketiga adalah instrumen apa yang akan digunakan oleh Presiden Prabowo untuk menjalankan foreign policy posture ini
01:26dalam menghadapi spesifik isu ini.
01:29Apakah itu diplomasi ataukah militer ataukah intelijen atau ekonomi?
01:34Nah kelihatannya yang dikedepankan adalah diplomasi.
01:36Walaupun militer disiapkan untuk menjadi pasukan yang akan forcing the peace di wilayah Gaza dan negosiasinya dilakukan di Iran.
01:47Dan atau diplomasi ekonomi yang harus dimainkan untuk mengamankan jalur energi itu ya.
01:53Yang berikutnya adalah sikap Indonesia.
01:57Dalam internasional politik itu kan ada tiga posisi yang bisa diambil pilihannya.
02:01Itu adalah bandwagon kita ikut salah satu kekuatan besar.
02:04Yang kedua adalah balancing.
02:05Yang ketiga adalah hedging.
02:07Nah yang diambil Indonesia adalah hedging.
02:09Karena Indonesia adalah bebas aktif prinsipnya.
02:11Nah disini kita harus mengimplementasikannya secara konsisten.
02:16Dan dengan sehingga menimbulkan kredibilitas.
02:20Nah signal yang dikirimkan juga harus jelas.
02:23Jadi Presiden Prabowo sudah menyampaikan niat baiknya ya.
02:26Sebagai aktor politik yang mewakili Indonesia di dunia internasional.
02:31Saya berniat untuk ikut mendirikan suatu kesepakatan bersama.
02:38Mendamaikan keadaan ini.
02:40Jadi yang dilakukan oleh Presiden itu secara realistis adalah membuka akses komunikasi.
02:44Dengan tujuan untuk meredakan konflik yang memang eskalasinya naik.
02:48Yang ketiga kalau bisa idealnya adalah ceasefire.
02:51Nah tetapi proses itu panjang.
02:53Karena Iran dan Amerika itu sangat sengit pertarungannya.
02:58Sudah melibatkan faktor ideologis.
03:01Faktor historis.
03:03Dimana menurut Amerika inilah saatnya.
03:06Dari perspektif Amerika ya.
03:08Diselesaikan sekarang gitu loh.
03:09Dari perseturuan yang sudah berlangsung dari tahun 79.
03:12Dan selepas siapa yang salah.
03:14Siapa yang benar ya.
03:15Tidak dibicara di situ.
03:16Nah yang berikutnya.
03:18Indonesia yang harus dilakukan tiga hal.
03:20Yang pertama adalah strategi keautonomi.
03:22Strategi keautonomi itu adalah kemampuan Indonesia dalam hal ini.
03:27Untuk mengambil pilihan bebas.
03:29Pilihan bebas ya mbak ya.
03:31Pilihan bebas di dalam dunia internasional.
03:33Untuk mengambil langkah yang terbaik menurut kepentingan nasional kita.
03:36Walaupun kita juga berpartnership dengan dunia internasional.
03:38Backbone-nya untuk bisa mempunyai strategi keautonomi apa?
03:41Yaitu ketahanan nasional.
03:42Kita harus kuat di dalam gitu.
03:44Pak Prabu sendiri sebagai presiden juga harus mendapatkan legitimasi dari public support.
03:49Kabinetnya harus dipercaya.
03:51Apa yang beliau lakukan dipercaya.
03:52Apa yang beliau katakan dipercaya.
03:54Sehingga beliau mendapatkan fondasi yang begitu kuat.
03:57Sehingga tidak bisa terbantahkan pada saat beliau keluar.
03:59Nah yang ketiga adalah beliau melakukan apa yang disebut preventif diplomasi.
04:04Nah dengan apa?
04:06Beliau mencoba menjembatani kelompok-kelompok negara Islam.
04:11Yang kedua adalah bicara dengan Global South.
04:15Yang ketiga adalah dengan Global North.
04:18Termasuk dengan memanfaatkan aksesnya di BOP.
04:22Di BOP yang lain adalah Board of Peace.
04:26Untuk sebenarnya untuk mencegah konflik ini tidak melebar secara geografis.
04:33Masuk ke samudera Hindia.
04:34Apalagi kemarin sudah ada penembakan di dekat Sri Lanka.
04:37Tidak mengganggu terlalu banyak jalur perdagangan.
04:43Suplai energi.
04:44Dan juga tidak melibatkan great power selainnya.
04:47Dalam hal ini Rusia dan China.
04:49Karena kalau dilihat ada 13 ribu nuklir yang saat ini ada itu.
04:53Dimiliki oleh yang pertama paling banyak itu Rusia.
04:56Kedua Amerika.
04:57Ketiga itu Perancis.
04:59Yang keempat itu Inggris.
05:00Yang kelima itu China.
05:01Yang ke enam itu adalah Pakistan.
05:04Tujuh India.
05:05Lapan Israel.
05:07Sembilan North Korea.
05:08Dan di Iran itu fasilitasnya sedang dibangun untuk itu.
05:13Dan informasi terakhir adalah tunnel terbesar di Iran itu.
05:16Yang sudah 40 tahun dibangun itu sekarang sudah menjadi target.
05:19Dari US military.
05:22Seperti tadi disampaikan oleh panglima dari US Central Command.
05:26Jadi US Central Command itu adalah komando kombatan di Amerika Serikat yang bertanggung jawab untuk menangani semua strategic weapons.
05:34Termasuk nuklir.
05:35Pemboman dan segala macam dikendalikan dari sana.
05:38Berkerjasama dengan Central Command yang bertanggung jawab untuk masalah Middle East.
05:43Nah jadi apa yang dilakukan Pak Prabowo ini.
05:44Ini persyaratannya ada dua aja sebenarnya.
05:48Mendapatkan public support dari Indonesia.
05:50Yang berikutnya adalah mempunyai ketahanan nasional yang cukup.
05:54Sebenarnya yang diprotek oleh Presiden itu harusnya adalah kepentingan nasional.
05:57Dan Pak Prabowo saya yakin melakukan ini juga untuk memprotek kepentingan nasional.
06:01Hal jika terjadi sesuatu yang paling bahaya itu adalah sektor energi.
06:05Selain instabilitas kawasan.
06:07Karena itu akan memunculkan juga yang namanya perang opini.
06:12Akan terjadi juga radikalisasi yang menyebar kemana-mana.
06:16Isu yang liar.
06:17Sehingga perang produksi di mana-mana karena great power sudah terlibat.
06:20Dan ini sebenarnya kalau kita lihat tidak lepas dari apa yang selalu saya sampaikan.
06:26Dari abad 15 sampai abad 20 persaingan antara ruling dan juga rising power.
06:31Itu dari 20 itu hanya 25 persen yang tidak berakhir perang gitu.
06:37Yang 75 persen berakhir perang terbuka.
06:40Jadi selama itu belum terjadi perang terbuka.
06:43Yang terjadi adalah irregular competition.
06:46Perang seperti api dalam sekam di dalam internal soal politik.
06:50Dan lama-lama itu akan mengarah kepada naked warfare gitu.
06:55Nah yang terjadi sekarang ini fakta menunjukkan bahwa anggaran militer di dunia
07:01adalah yang terbesar sejak era perang dingin.
07:042,7 triliun USD.
07:06Jadi ini paling besar.
07:08Ini bukti bahwa akhirnya permasalahan-permasalahan yang dulu diharapkan
07:12bisa diselesaikan dengan cara-cara yang liberalist based,
07:17institutionalist based, dan juga konstruktivist based.
07:20Akhirnya kembali lagi kepada realist based gitu.
07:23Dimana tadi Presiden Trump mengatakan jika Iran menyerah,
07:26jika rejimnya ganti, jika militer sekarang menyerah,
07:29saya akan bangun lagi.
07:32Berarti apa?
07:32Berarti kembali lagi kepada order baru,
07:35menggunakan pendekatan liberal,
07:37pendekatan institutionalisme baru,
07:38dan pendekatan konstruktivis baru.
07:39Jadi ini sebenarnya dalam siklus politik internasional,
07:44dalam sejarah peradaban manusia,
07:45ini merupakan siklus yang namanya rekonstruksi sistem global.
07:50Jadi perang ini adalah perang eskalatori,
07:53dan arahnya akan panjang kalau bacaan saya,
07:56dan akan mengubah konstelasi sistemik, politik, global, termasuk ekonomi global.
08:02Termasuk yang selama ini dijalankan oleh dunia,
08:05sejak era perang dingin selesai,
08:07yaitu globalisasi berdasarkan prinsip efisiensi resources,
08:11berubah menjadi sekarang globalisasi berdasarkan national security interest.
08:15Jadi artinya kita nggak sembarangan,
08:17mungkin kita mau investasi suatu negara,
08:19kalau dulu lebih resource efisiensi basis-basisnya,
08:24sekarang karena keamanan nasional basisnya,
08:26kita tidak mau investasi di situ.
08:27Tapi kalau kita lihat,
08:29berarti kan ancaman terdekatnya adalah soal bagaimana ini meluas ketakutannya,
08:33meluas sampai ke berdampak langsung pada kita,
08:35dengan adanya perang di Indo-Pasifik.
08:38Anda melihatnya,
08:40dengan apa yang terjadi hari ini,
08:42dengan penolakan yang kemudian disampaikan oleh Iran juga di satu sisi,
08:46dia tidak mau negosiasi karena berkali-kali ditipu,
08:48AS juga syaratnya berat sekali begitu,
08:51pengen negosiasi kalau Iran menyerah.
08:54Ini berapa persen menuju,
08:57meluas sampai ke Indo-Pasifik?
08:59Ya, jadi gini,
09:00jadi Amerika jelas arahnya,
09:07rejim harus berubah.
09:09Pertama adalah militer dilumpuhkan,
09:12sehingga perang yang sekarang terjadi,
09:14multi-domain warfare,
09:15darat, laut, udara, space,
09:18nuklir juga,
09:19cyber itu,
09:20sudah mengarah kekuatan secara konfesional,
09:23terlihat itu memang berat ke Amerika,
09:26karena overwhelming kekuatan Amerika dan Israel.
09:28Dan doktrin perang Amerika adalah shock and awe,
09:32artinya adalah memberikan kejutan,
09:34memberikan solusi,
09:36cepat,
09:36perang cepat selesai.
09:37Jadi American way of war.
09:39Nah, tetapi,
09:41dari perspektif Iran,
09:44itu berbeda.
09:44Perspektif Iran ini,
09:46ada yang namanya,
09:49perspektif historis.
09:51Timur Tengah itu terdiri dari tiga stakeholders,
09:55yang paling major.
09:56Yang pertama adalah Yahudi,
09:59yang kedua Arab,
10:01yang ketiga adalah Persian.
10:02Dan bangsa Persian itu,
10:05yang dulu pernah ada,
10:07yang namanya rajanya Cyrus the Great,
10:09atau Kores Agung,
10:11yang keturunannya Darius Agung,
10:13itu adalah bangsa yang kuat.
10:15Jadi,
10:16jadi super power ini,
10:18kalau di Runut itu,
10:20itu ada namanya,
10:21apa namanya,
10:22Assyria kuno,
10:23Egypt kuno,
10:24Babylonia kuno,
10:26Persian,
10:27zamannya Darius,
10:28terus Greece,
10:30Alexander Agung,
10:32Macedonia,
10:32dan Roman Empire,
10:33sampai Ottoman Empire,
10:35dan American,
10:36dan yang Iran ini,
10:38menempati wilayahnya Persian dulu.
10:39Tapi semangatnya,
10:42semangatnya besar.
10:43Mereka juga,
10:44mempunyai mentaliti yang kuat.
10:46Sehingga walaupun militerili mereka kalah,
10:48mereka masih mempunyai,
10:50kekuatan proksi lainnya,
10:51misalnya Hezbollah,
10:52misalnya milisi di Irak,
10:55misalnya di Yemen.
10:58Artinya,
10:59dengan dua sudut pandang yang berbeda itu,
11:02perang ini,
11:03mungkin akan berlangsung lama.
11:04Mungkin berlangsung lama.
Komentar

Dianjurkan