00:00Membahas perkembangan perang Amerika Serikat, Israel dan Iran sudah bersama saya di studio
00:05Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional Wibawanto Nugroho Widodo, PhD
00:10yang pertama-tama tentu saya berterima kasih karena sudah berkenan untuk bergabung dengan Kompas TV
00:16dan hadir langsung di studio.
00:17Mas melihat upaya damai, ini berarti kali kedua begitu ya disampaikan pertama secara langsung oleh Presiden
00:25yang kedua disampaikan oleh Jimli Asidiki yang bilang bahwa Presiden ingin mengambil peran sebagai juru damai, mediator.
00:34Bagaimana Anda melihat ini?
00:35Ya jadi dari perspektif Indonesia sebagai middle power, apapun dilakukan oleh Presiden itu tidak lepas dari foreign policy.
00:44Tidak lepas dari postur foreign policy Indonesia.
00:48Yang ada enam elemen di situ.
00:50Yang pertama adalah strategic orientation-nya.
00:52Jadi apa yang menjadi tujuan dari foreign policy Indonesia?
00:57Menjaga status quo atau merevisi dunia atau menjaga stabilitas?
01:02Itu satu.
01:02Yang kedua apa yang menjadi ancaman menurut perspektif Indonesia sebagai middle power yang dipahami oleh Pak Prabowo?
01:09Yaitu menurut saya ancaman yang paling bahaya adalah jika terjadi instabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
01:15Ya karena impact-nya akan kemana-mana.
01:17Dan yang ketiga adalah instrumen apa yang akan digunakan oleh Presiden Prabowo untuk menjalankan foreign policy posture ini
01:26dalam menghadapi spesifik isu ini.
01:29Apakah itu diplomasi ataukah militer ataukah intelijen atau ekonomi?
01:34Nah kelihatannya yang dikedepankan adalah diplomasi.
01:36Walaupun militer disiapkan untuk menjadi pasukan yang akan forcing the peace di wilayah Gaza dan negosiasinya dilakukan di Iran.
01:47Dan atau diplomasi ekonomi yang harus dimainkan untuk mengamankan jalur energi itu ya.
01:53Yang berikutnya adalah sikap Indonesia.
01:57Dalam internasional politik itu kan ada tiga posisi yang bisa diambil pilihannya.
02:01Itu adalah bandwagon kita ikut salah satu kekuatan besar.
02:04Yang kedua adalah balancing.
02:05Yang ketiga adalah hedging.
02:07Nah yang diambil Indonesia adalah hedging.
02:09Karena Indonesia adalah bebas aktif prinsipnya.
02:11Nah disini kita harus mengimplementasikannya secara konsisten.
02:16Dan dengan sehingga menimbulkan kredibilitas.
02:20Nah signal yang dikirimkan juga harus jelas.
02:23Jadi Presiden Prabowo sudah menyampaikan niat baiknya ya.
02:26Sebagai aktor politik yang mewakili Indonesia di dunia internasional.
02:31Saya berniat untuk ikut mendirikan suatu kesepakatan bersama.
02:38Mendamaikan keadaan ini.
02:40Jadi yang dilakukan oleh Presiden itu secara realistis adalah membuka akses komunikasi.
02:44Dengan tujuan untuk meredakan konflik yang memang eskalasinya naik.
02:48Yang ketiga kalau bisa idealnya adalah ceasefire.
02:51Nah tetapi proses itu panjang.
02:53Karena Iran dan Amerika itu sangat sengit pertarungannya.
02:58Sudah melibatkan faktor ideologis.
03:01Faktor historis.
03:03Dimana menurut Amerika inilah saatnya.
03:06Dari perspektif Amerika ya.
03:08Diselesaikan sekarang gitu loh.
03:09Dari perseturuan yang sudah berlangsung dari tahun 79.
03:12Dan selepas siapa yang salah.
03:14Siapa yang benar ya.
03:15Tidak dibicara di situ.
03:16Nah yang berikutnya.
03:18Indonesia yang harus dilakukan tiga hal.
03:20Yang pertama adalah strategi keautonomi.
03:22Strategi keautonomi itu adalah kemampuan Indonesia dalam hal ini.
03:27Untuk mengambil pilihan bebas.
03:29Pilihan bebas ya mbak ya.
03:31Pilihan bebas di dalam dunia internasional.
03:33Untuk mengambil langkah yang terbaik menurut kepentingan nasional kita.
03:36Walaupun kita juga berpartnership dengan dunia internasional.
03:38Backbone-nya untuk bisa mempunyai strategi keautonomi apa?
03:41Yaitu ketahanan nasional.
03:42Kita harus kuat di dalam gitu.
03:44Pak Prabu sendiri sebagai presiden juga harus mendapatkan legitimasi dari public support.
03:49Kabinetnya harus dipercaya.
03:51Apa yang beliau lakukan dipercaya.
03:52Apa yang beliau katakan dipercaya.
03:54Sehingga beliau mendapatkan fondasi yang begitu kuat.
03:57Sehingga tidak bisa terbantahkan pada saat beliau keluar.
03:59Nah yang ketiga adalah beliau melakukan apa yang disebut preventif diplomasi.
04:04Nah dengan apa?
04:06Beliau mencoba menjembatani kelompok-kelompok negara Islam.
04:11Yang kedua adalah bicara dengan Global South.
04:15Yang ketiga adalah dengan Global North.
04:18Termasuk dengan memanfaatkan aksesnya di BOP.
04:22Di BOP yang lain adalah Board of Peace.
04:26Untuk sebenarnya untuk mencegah konflik ini tidak melebar secara geografis.
04:33Masuk ke samudera Hindia.
04:34Apalagi kemarin sudah ada penembakan di dekat Sri Lanka.
04:37Tidak mengganggu terlalu banyak jalur perdagangan.
04:43Suplai energi.
04:44Dan juga tidak melibatkan great power selainnya.
04:47Dalam hal ini Rusia dan China.
04:49Karena kalau dilihat ada 13 ribu nuklir yang saat ini ada itu.
04:53Dimiliki oleh yang pertama paling banyak itu Rusia.
04:56Kedua Amerika.
04:57Ketiga itu Perancis.
04:59Yang keempat itu Inggris.
05:00Yang kelima itu China.
05:01Yang ke enam itu adalah Pakistan.
05:04Tujuh India.
05:05Lapan Israel.
05:07Sembilan North Korea.
05:08Dan di Iran itu fasilitasnya sedang dibangun untuk itu.
05:13Dan informasi terakhir adalah tunnel terbesar di Iran itu.
05:16Yang sudah 40 tahun dibangun itu sekarang sudah menjadi target.
05:19Dari US military.
05:22Seperti tadi disampaikan oleh panglima dari US Central Command.
05:26Jadi US Central Command itu adalah komando kombatan di Amerika Serikat yang bertanggung jawab untuk menangani semua strategic weapons.
05:34Termasuk nuklir.
05:35Pemboman dan segala macam dikendalikan dari sana.
05:38Berkerjasama dengan Central Command yang bertanggung jawab untuk masalah Middle East.
05:43Nah jadi apa yang dilakukan Pak Prabowo ini.
05:44Ini persyaratannya ada dua aja sebenarnya.
05:48Mendapatkan public support dari Indonesia.
05:50Yang berikutnya adalah mempunyai ketahanan nasional yang cukup.
05:54Sebenarnya yang diprotek oleh Presiden itu harusnya adalah kepentingan nasional.
05:57Dan Pak Prabowo saya yakin melakukan ini juga untuk memprotek kepentingan nasional.
06:01Hal jika terjadi sesuatu yang paling bahaya itu adalah sektor energi.
06:05Selain instabilitas kawasan.
06:07Karena itu akan memunculkan juga yang namanya perang opini.
06:12Akan terjadi juga radikalisasi yang menyebar kemana-mana.
06:16Isu yang liar.
06:17Sehingga perang produksi di mana-mana karena great power sudah terlibat.
06:20Dan ini sebenarnya kalau kita lihat tidak lepas dari apa yang selalu saya sampaikan.
06:26Dari abad 15 sampai abad 20 persaingan antara ruling dan juga rising power.
06:31Itu dari 20 itu hanya 25 persen yang tidak berakhir perang gitu.
06:37Yang 75 persen berakhir perang terbuka.
06:40Jadi selama itu belum terjadi perang terbuka.
06:43Yang terjadi adalah irregular competition.
06:46Perang seperti api dalam sekam di dalam internal soal politik.
06:50Dan lama-lama itu akan mengarah kepada naked warfare gitu.
06:55Nah yang terjadi sekarang ini fakta menunjukkan bahwa anggaran militer di dunia
07:01adalah yang terbesar sejak era perang dingin.
07:042,7 triliun USD.
07:06Jadi ini paling besar.
07:08Ini bukti bahwa akhirnya permasalahan-permasalahan yang dulu diharapkan
07:12bisa diselesaikan dengan cara-cara yang liberalist based,
07:17institutionalist based, dan juga konstruktivist based.
07:20Akhirnya kembali lagi kepada realist based gitu.
07:23Dimana tadi Presiden Trump mengatakan jika Iran menyerah,
07:26jika rejimnya ganti, jika militer sekarang menyerah,
07:29saya akan bangun lagi.
07:32Berarti apa?
07:32Berarti kembali lagi kepada order baru,
07:35menggunakan pendekatan liberal,
07:37pendekatan institutionalisme baru,
07:38dan pendekatan konstruktivis baru.
07:39Jadi ini sebenarnya dalam siklus politik internasional,
07:44dalam sejarah peradaban manusia,
07:45ini merupakan siklus yang namanya rekonstruksi sistem global.
07:50Jadi perang ini adalah perang eskalatori,
07:53dan arahnya akan panjang kalau bacaan saya,
07:56dan akan mengubah konstelasi sistemik, politik, global, termasuk ekonomi global.
08:02Termasuk yang selama ini dijalankan oleh dunia,
08:05sejak era perang dingin selesai,
08:07yaitu globalisasi berdasarkan prinsip efisiensi resources,
08:11berubah menjadi sekarang globalisasi berdasarkan national security interest.
08:15Jadi artinya kita nggak sembarangan,
08:17mungkin kita mau investasi suatu negara,
08:19kalau dulu lebih resource efisiensi basis-basisnya,
08:24sekarang karena keamanan nasional basisnya,
08:26kita tidak mau investasi di situ.
08:27Tapi kalau kita lihat,
08:29berarti kan ancaman terdekatnya adalah soal bagaimana ini meluas ketakutannya,
08:33meluas sampai ke berdampak langsung pada kita,
08:35dengan adanya perang di Indo-Pasifik.
08:38Anda melihatnya,
08:40dengan apa yang terjadi hari ini,
08:42dengan penolakan yang kemudian disampaikan oleh Iran juga di satu sisi,
08:46dia tidak mau negosiasi karena berkali-kali ditipu,
08:48AS juga syaratnya berat sekali begitu,
08:51pengen negosiasi kalau Iran menyerah.
08:54Ini berapa persen menuju,
08:57meluas sampai ke Indo-Pasifik?
08:59Ya, jadi gini,
09:00jadi Amerika jelas arahnya,
09:07rejim harus berubah.
09:09Pertama adalah militer dilumpuhkan,
09:12sehingga perang yang sekarang terjadi,
09:14multi-domain warfare,
09:15darat, laut, udara, space,
09:18nuklir juga,
09:19cyber itu,
09:20sudah mengarah kekuatan secara konfesional,
09:23terlihat itu memang berat ke Amerika,
09:26karena overwhelming kekuatan Amerika dan Israel.
09:28Dan doktrin perang Amerika adalah shock and awe,
09:32artinya adalah memberikan kejutan,
09:34memberikan solusi,
09:36cepat,
09:36perang cepat selesai.
09:37Jadi American way of war.
09:39Nah, tetapi,
09:41dari perspektif Iran,
09:44itu berbeda.
09:44Perspektif Iran ini,
09:46ada yang namanya,
09:49perspektif historis.
09:51Timur Tengah itu terdiri dari tiga stakeholders,
09:55yang paling major.
09:56Yang pertama adalah Yahudi,
09:59yang kedua Arab,
10:01yang ketiga adalah Persian.
10:02Dan bangsa Persian itu,
10:05yang dulu pernah ada,
10:07yang namanya rajanya Cyrus the Great,
10:09atau Kores Agung,
10:11yang keturunannya Darius Agung,
10:13itu adalah bangsa yang kuat.
10:15Jadi,
10:16jadi super power ini,
10:18kalau di Runut itu,
10:20itu ada namanya,
10:21apa namanya,
10:22Assyria kuno,
10:23Egypt kuno,
10:24Babylonia kuno,
10:26Persian,
10:27zamannya Darius,
10:28terus Greece,
10:30Alexander Agung,
10:32Macedonia,
10:32dan Roman Empire,
10:33sampai Ottoman Empire,
10:35dan American,
10:36dan yang Iran ini,
10:38menempati wilayahnya Persian dulu.
10:39Tapi semangatnya,
10:42semangatnya besar.
10:43Mereka juga,
10:44mempunyai mentaliti yang kuat.
10:46Sehingga walaupun militerili mereka kalah,
10:48mereka masih mempunyai,
10:50kekuatan proksi lainnya,
10:51misalnya Hezbollah,
10:52misalnya milisi di Irak,
10:55misalnya di Yemen.
10:58Artinya,
10:59dengan dua sudut pandang yang berbeda itu,
11:02perang ini,
11:03mungkin akan berlangsung lama.
11:04Mungkin berlangsung lama.
Komentar