Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Iran menutup Selat Hormuz sejak Sabtu, 28 Februari 2026, sebagai aksi balasan Iran atas serangan militer gabungan AS-Israel.

Penutupan Selat Hormuz sontak mengguncang pasar energi global.

Sebab, selat yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab ini selama ini menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Lebih dalam terkait dampak penutupan Selat Hormuz, kami akan membahasnya bersama Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov.

Baca Juga Demo Kematian Ali Khamenei: Konsulat AS di Pakistan Diserang, Kantor Kedutaan di Irak Digeruduk di https://www.kompas.tv/internasional/654413/demo-kematian-ali-khamenei-konsulat-as-di-pakistan-diserang-kantor-kedutaan-di-irak-digeruduk

#bbm #jepang #indonesia #selathormuz

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/654423/full-selat-hormuz-masih-ditutup-iran-harga-minyak-dunia-merangkak-naik-indef-kritik-cadangan-bbm
Transkrip
00:00Ya, sudah membahas soal dampak ekonomi yang akan dirasakan oleh Indonesia terkait dengan penutupan Selat Hormuz.
00:05Kita sudah bersama dengan Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development, Indef, Abra Talatov.
00:12Selamat malam, Mas Abra.
00:14Selamat malam, Mas Ibrahim.
00:16Mas Abra, ini Selat Hormuz ditutup dan Trump bilang rencana perang akan lebih panjang dari rencana awal.
00:24Dampak ekonomi seperti apa nanti yang dibayangkan bisa dirasakan oleh Indonesia?
00:29Ya, ini yang perlu kita amati hari demi hari ini pasca 4 hari serangan Israel ke Iran ini kan.
00:38Yang pertama, lonjakan harga minyak mentah dunia sudah sangat signifikan.
00:44Bahkan kenaikannya mencapai 13 persen.
00:46Atau saat ini di level 82 dolar per baril untuk minyak jenis brand.
00:51Dan hari ini kita mendengar statement dari Korps Guarda Revolusi Iran menyampaikan bahwa perang ini akan berjalan dalam jangka panjang
01:01dan bukan hanya menghambat lalu lintas pelayaran di melalui saat Hormuz,
01:07tetapi juga akan mengancam, merusak jalur pipa minyak.
01:12Jadi, bahkan ancamannya juga serius ingin mendorong harga minyak menuju 200 dolar per baril.
01:20Nah, artinya memang ketika peperangan ini bisa terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang dan harga minyak mentah dunia ini
01:30melambung tinggi,
01:31Indonesia sebagai net oil imported tentu sangat perlu sangat memitigasi menghadapi dannya resiko tadi.
01:40Apalagi ketika nanti kita tidak bisa lagi impor energi kita, minyak maupun LPG dari melalui Timur Tengah,
01:48itu juga memang harus ada alternatif yang bisa didatangkan dengan cepat.
01:53Dan yang kedua, resikonya juga tetap tinggi karena harganya pasti juga akan tinggi sekali.
01:58Mas Abra, bukan hanya soal harga.
02:02Jika tadi sampai 200 dolar per baril kan ini, apa kita siap menghadapi itu?
02:07Tapi soal supply juga ini bagaimana?
02:10Karena kabarnya ada kapal Pertamina yang masih tertahan juga di sana.
02:13Betul. Jadi memang situasinya sangat serius, sangat berbeda jauh dengan situasi ketika pecah perang Rusia dan Ukraina.
02:21Karena kita masih tetap bisa mendapatkan pasokan meskipun harganya melonjak, waktu itu 120 dolar per baril.
02:27Tetapi konsekuensinya di tahun 2022, pemerintah harus menambah alokasi subsidi dan kompensasi energi dari Rp150 triliun menjadi Rp550 triliun.
02:38Nah sekarang ini, selain adanya resiko harganya melonjak tinggi, kedua, belum tentu kita bisa mendapatkan pasokan.
02:43Karena pertama, kita harus mencari dari negara lain, salah satu yang paling memungkinkan adalah dari Amerika, karena pemerintah juga sudah
02:52melakukan kerja sama bilateral.
02:54Yang kedua, negara-negara lain tentunya juga akan berebut.
02:56Jadi bukan hanya Indonesia yang mengalami kegentingan terhadap pasokan energi, tetapi juga negara-negara besar lain seperti Tiongkok dan juga
03:05India.
03:05Nah itu artinya kita memang dalam situasi yang saling memperbutkan pasokan yang terbatas dari mas.
03:11Mas Abra, itu kan challenge atau tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah.
03:16Tapi bagi rakyat, rakyat yang akan merasakan dampak seperti apa dengan adanya konflik Iran-Amerika-Israel ini dan juga penutupan
03:25Slat Hormuz ini.
03:25Masyarakat dampaknya yang akan dirasakan seperti apa ini?
03:29Ya, ketika tadi nanti harga minyak melonjak tajam, kemudian dalam pengadaannya itu juga tadi akan ditransfiksikan terhadap harga jual.
03:39Kan ada dua jenis BBM kita itu BBM yang subsidi dan BBM yang non-subsidi.
03:44BBM non-subsidi ini pasti nanti akan mengalami koreksi harga secara bisnis asusual.
03:50Nah artinya nanti akan ada potensi shifting konsumen BBM yang non-subsidi ke BBM subsidi.
03:57Padahal yang BBM subsidi ini kan kuotanya dibatasi.
04:01Nah kemudian yang kedua juga alokasi untuk subsidinya juga sudah ditetapkan di anggaran 2026 ini.
04:07Dan saya kira ruang pemerintah untuk menambah tambahan subsidi energi ini sangat terbatas sekali.
04:14Nah dibedah sama tahun 2022. Karena tahun 2022 waktu itu defisit kita masih boleh lebih dari 3% terhadap GDP.
04:21Tapi kan defisit kita tahun ini sudah dipasang 2,68% atau senilai 680.
04:27Jadi ini Mas Abra, ancamannya selain tadi BBM, energi juga misalkan listrik.
04:33Itu kemungkinan bisa akan mengalami kenaikan harga ke depan kalau ini tidak diantisipasi.
04:38Jadi logistik juga.
04:41Ya, tadi saya baru cerita dari sisi komunitas energi, komunitas pangan, kemudian untuk kebutuhan impor bahan baku,
04:49barang modal itu juga otomatis akan mengalami kenaikan.
04:52Kenapa? Karena memang dari sisi kos untuk transportasi pelayaran juga akan mengalami kenaikan harga.
04:59Karena terbatas dan distribusinya yang terhambat.
05:03Nah jadi efeknya memang luas sekali, bukan hanya di sektor energi.
05:06Cuma memang sektor energi ini akan menjadi salah satu komponen belanja yang akan memantik kenaikan biaya harga-harga yang lain.
05:18Kita berkaca di tahun 2022 waktu itu, inflasi kita untuk inflasi tahunannya sampai 5,5%.
05:25Tetapi untuk inflasi dari harga yang datang pemerintah, termasuk di dalamnya adalah listrik dan juga BBM,
05:33itu bahkan waktu itu inflasinya di akhir tahun sampai 13%, double digit mas.
05:38Dalam situasi relatif waktu itu pasokan masih kita bisa dapatkan.
05:42Nah apalagi sekarang nih situasinya lebih kompleks.
05:44Mas Abra, tapi kalau kondisi ekonomi negara kita nih, sudah siap dengan buffernya jika tadi harga-harga tadi naik?
05:54Ya sayangnya kan memang cadangan BBM pemerintah ini hanya 20 hari ya mas.
05:59Ya tentu pemerintah berkejaran dengan waktu untuk mendatangkan lagi tambahan suplai minyak mentah maupun BBM jadi.
06:09Di sisi lain juga tentunya harus menambah storage-nya juga untuk menampung stoknya agak diperbanyak.
06:16Jadi cadangannya jangan sampai hanya 20 hari.
06:20Harus terus ditambah kita melihat benchmark dari beberapa negara seperti Jepang misalnya itu lebih dari 100 hari.
06:26Jadi kita juga harus melihat mengukur bagaimana nanti kira-kira kalau ada gangguan pasokan,
06:32maka sampai batas berapa bulan kita mampu memenuhi baik dari pasokan di dalam negeri maupun ketersediaan dari luar negeri yang
06:41sangat terbatas tadi.
06:42Baik, ini menjadi tantangan tadi saya bilang pada pemerintah untuk bisa bersiap menghadapi bagaimana dengan segala kemungkinan yang ada.
06:50Terima kasih.
06:51Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef, Abra Talatov, telah menyampaikan pandangannya di program Kompas Malam hari ini.
07:00Sama-sama, Mas Ibrahim.
07:01Selamat menikmati.
Komentar

Dianjurkan