00:00Ya, sudah membahas soal dampak ekonomi yang akan dirasakan oleh Indonesia terkait dengan penutupan Selat Hormuz.
00:05Kita sudah bersama dengan Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development, Indef, Abra Talatov.
00:12Selamat malam, Mas Abra.
00:14Selamat malam, Mas Ibrahim.
00:16Mas Abra, ini Selat Hormuz ditutup dan Trump bilang rencana perang akan lebih panjang dari rencana awal.
00:24Dampak ekonomi seperti apa nanti yang dibayangkan bisa dirasakan oleh Indonesia?
00:29Ya, ini yang perlu kita amati hari demi hari ini pasca 4 hari serangan Israel ke Iran ini kan.
00:38Yang pertama, lonjakan harga minyak mentah dunia sudah sangat signifikan.
00:44Bahkan kenaikannya mencapai 13 persen.
00:46Atau saat ini di level 82 dolar per baril untuk minyak jenis brand.
00:51Dan hari ini kita mendengar statement dari Korps Guarda Revolusi Iran menyampaikan bahwa perang ini akan berjalan dalam jangka panjang
01:01dan bukan hanya menghambat lalu lintas pelayaran di melalui saat Hormuz,
01:07tetapi juga akan mengancam, merusak jalur pipa minyak.
01:12Jadi, bahkan ancamannya juga serius ingin mendorong harga minyak menuju 200 dolar per baril.
01:20Nah, artinya memang ketika peperangan ini bisa terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang dan harga minyak mentah dunia ini
01:30melambung tinggi,
01:31Indonesia sebagai net oil imported tentu sangat perlu sangat memitigasi menghadapi dannya resiko tadi.
01:40Apalagi ketika nanti kita tidak bisa lagi impor energi kita, minyak maupun LPG dari melalui Timur Tengah,
01:48itu juga memang harus ada alternatif yang bisa didatangkan dengan cepat.
01:53Dan yang kedua, resikonya juga tetap tinggi karena harganya pasti juga akan tinggi sekali.
01:58Mas Abra, bukan hanya soal harga.
02:02Jika tadi sampai 200 dolar per baril kan ini, apa kita siap menghadapi itu?
02:07Tapi soal supply juga ini bagaimana?
02:10Karena kabarnya ada kapal Pertamina yang masih tertahan juga di sana.
02:13Betul. Jadi memang situasinya sangat serius, sangat berbeda jauh dengan situasi ketika pecah perang Rusia dan Ukraina.
02:21Karena kita masih tetap bisa mendapatkan pasokan meskipun harganya melonjak, waktu itu 120 dolar per baril.
02:27Tetapi konsekuensinya di tahun 2022, pemerintah harus menambah alokasi subsidi dan kompensasi energi dari Rp150 triliun menjadi Rp550 triliun.
02:38Nah sekarang ini, selain adanya resiko harganya melonjak tinggi, kedua, belum tentu kita bisa mendapatkan pasokan.
02:43Karena pertama, kita harus mencari dari negara lain, salah satu yang paling memungkinkan adalah dari Amerika, karena pemerintah juga sudah
02:52melakukan kerja sama bilateral.
02:54Yang kedua, negara-negara lain tentunya juga akan berebut.
02:56Jadi bukan hanya Indonesia yang mengalami kegentingan terhadap pasokan energi, tetapi juga negara-negara besar lain seperti Tiongkok dan juga
03:05India.
03:05Nah itu artinya kita memang dalam situasi yang saling memperbutkan pasokan yang terbatas dari mas.
03:11Mas Abra, itu kan challenge atau tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah.
03:16Tapi bagi rakyat, rakyat yang akan merasakan dampak seperti apa dengan adanya konflik Iran-Amerika-Israel ini dan juga penutupan
03:25Slat Hormuz ini.
03:25Masyarakat dampaknya yang akan dirasakan seperti apa ini?
03:29Ya, ketika tadi nanti harga minyak melonjak tajam, kemudian dalam pengadaannya itu juga tadi akan ditransfiksikan terhadap harga jual.
03:39Kan ada dua jenis BBM kita itu BBM yang subsidi dan BBM yang non-subsidi.
03:44BBM non-subsidi ini pasti nanti akan mengalami koreksi harga secara bisnis asusual.
03:50Nah artinya nanti akan ada potensi shifting konsumen BBM yang non-subsidi ke BBM subsidi.
03:57Padahal yang BBM subsidi ini kan kuotanya dibatasi.
04:01Nah kemudian yang kedua juga alokasi untuk subsidinya juga sudah ditetapkan di anggaran 2026 ini.
04:07Dan saya kira ruang pemerintah untuk menambah tambahan subsidi energi ini sangat terbatas sekali.
04:14Nah dibedah sama tahun 2022. Karena tahun 2022 waktu itu defisit kita masih boleh lebih dari 3% terhadap GDP.
04:21Tapi kan defisit kita tahun ini sudah dipasang 2,68% atau senilai 680.
04:27Jadi ini Mas Abra, ancamannya selain tadi BBM, energi juga misalkan listrik.
04:33Itu kemungkinan bisa akan mengalami kenaikan harga ke depan kalau ini tidak diantisipasi.
04:38Jadi logistik juga.
04:41Ya, tadi saya baru cerita dari sisi komunitas energi, komunitas pangan, kemudian untuk kebutuhan impor bahan baku,
04:49barang modal itu juga otomatis akan mengalami kenaikan.
04:52Kenapa? Karena memang dari sisi kos untuk transportasi pelayaran juga akan mengalami kenaikan harga.
04:59Karena terbatas dan distribusinya yang terhambat.
05:03Nah jadi efeknya memang luas sekali, bukan hanya di sektor energi.
05:06Cuma memang sektor energi ini akan menjadi salah satu komponen belanja yang akan memantik kenaikan biaya harga-harga yang lain.
05:18Kita berkaca di tahun 2022 waktu itu, inflasi kita untuk inflasi tahunannya sampai 5,5%.
05:25Tetapi untuk inflasi dari harga yang datang pemerintah, termasuk di dalamnya adalah listrik dan juga BBM,
05:33itu bahkan waktu itu inflasinya di akhir tahun sampai 13%, double digit mas.
05:38Dalam situasi relatif waktu itu pasokan masih kita bisa dapatkan.
05:42Nah apalagi sekarang nih situasinya lebih kompleks.
05:44Mas Abra, tapi kalau kondisi ekonomi negara kita nih, sudah siap dengan buffernya jika tadi harga-harga tadi naik?
05:54Ya sayangnya kan memang cadangan BBM pemerintah ini hanya 20 hari ya mas.
05:59Ya tentu pemerintah berkejaran dengan waktu untuk mendatangkan lagi tambahan suplai minyak mentah maupun BBM jadi.
06:09Di sisi lain juga tentunya harus menambah storage-nya juga untuk menampung stoknya agak diperbanyak.
06:16Jadi cadangannya jangan sampai hanya 20 hari.
06:20Harus terus ditambah kita melihat benchmark dari beberapa negara seperti Jepang misalnya itu lebih dari 100 hari.
06:26Jadi kita juga harus melihat mengukur bagaimana nanti kira-kira kalau ada gangguan pasokan,
06:32maka sampai batas berapa bulan kita mampu memenuhi baik dari pasokan di dalam negeri maupun ketersediaan dari luar negeri yang
06:41sangat terbatas tadi.
06:42Baik, ini menjadi tantangan tadi saya bilang pada pemerintah untuk bisa bersiap menghadapi bagaimana dengan segala kemungkinan yang ada.
06:50Terima kasih.
06:51Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development Indef, Abra Talatov, telah menyampaikan pandangannya di program Kompas Malam hari ini.
07:00Sama-sama, Mas Ibrahim.
07:01Selamat menikmati.
Komentar