- 2 hari yang lalu
- #impormobilindia
- #pikapindia
- #kopdes
- #dpr
- #pemerintah
KOMPAS.TV - DPR meminta impor mobil India untuk Koperasi Desa Merah Putih ditunda.
Namun, sejumlah unit kendaraan tersebut dikabarkan telah tiba di Tanah Air dan dinilai tidak mungkin untuk tidak segera digunakan.
Lalu, bagaimana solusi untuk mengakhiri polemik impor mobil India ini? Isu ini diulas bersama Anggota Komisi VI DPR Fraksi Partai Demokrat, Herman Khaeron, Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, serta pakar otomotif ITB, Yannes Pasaribu.
Baca Juga Klarifikasi Menkop Ferry Juliantono: Impor Mobil India untuk Koperasi Desa | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/653360/klarifikasi-menkop-ferry-juliantono-impor-mobil-india-untuk-koperasi-desa-rosi
#impormobilindia #pikapindia #kopdes #dpr #pemerintah
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/653488/full-dpr-minta-tunda-impor-mobil-pikap-india-pakar-otomotif-indef-buru-buru-apa-urgensinya
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Saudara DPR meminta impor mobil India untuk kooperasi desa merah putih ditunda, tapi sejumlah mobilnya nyatanya ini sudah tiba di
00:13tanah air dan tidak mungkin untuk tidak segera digunakan.
00:16Lalu pertanyaannya, bagaimana solusi untuk mengakhiri polemik impor mobil India ini? Kita akan ulas bersama dengan anggota Komisi 6 DPR
00:25dari fraksi Partai Demokrat, ada Bung Herman Hairon, kemudian ada Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqur
00:34Rahman, dan juga ada Pakar Otomotif ITB Yanis Pasaribu.
00:37Selamat pagi, Assalamualaikum Bapak-Bapak.
00:40Selamat pagi.
00:41Selamat pagi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
00:42Selamat pagi, Mbak.
00:43Iya, ini kita bahas soal mobil impor begitu ya, tapi bukan karena mau lebaran, tapi karena kebutuhan kooperasi desa merah
00:51putih begitu.
00:52Saya ingin ke DPR dulu, Pak Herman ini kalau dilihatkan ya, DPR bilang ditunda, kemudian tadi dari Kadin juga mengatakan
01:00agar dibatalkan saja.
01:02Nah, apa sebenarnya yang menyebabkan DPR dan juga Kadin ini sepakat ya sudahlah ditunda saja, dibatalkan saja? Apa sebenarnya yang
01:10menjadi alasan utamanya?
01:13Ya, pertama tentu saya juga ikut rapat ya, dengan Agrinas Pangan Nusantara, bahwa untuk komponen lain dibahas ya.
01:23Misalkan untuk pembangunan gerai dan gudang, itu dibahas.
01:28Bahkan anggarannya kami tahu 1,6 miliar, kemudian untuk modal kerjanya 500 juta, itu juga kami bahas.
01:37Namun untuk pemenuhan sarana lain yang dibicarakan dalam rapat itu nggak muncul untuk item apa dan alokasinya untuk apa.
01:46Oke, jadi untuk mobil ini tidak ada muncul item ini pada saat pembahasan rapat itu?
01:52Ada, bahwa salah satunya adalah untuk pengadaan sarana transportasi, tapi kan tidak disebutkan jenisnya apa dan untuk apa gitu.
02:02Dan tentu ini yang menyebabkan kami hari ini tidak pernah tahu bahwa ada pencana Agrinas Pangan Nusantara untuk melakukan impor
02:12terhadap mobil di India.
02:14Nah, satu hal yang tentu kami ingatkan bahwa mobil ini kan akan di-drop, akan dikirim ke desa-desa, ke
02:22pelosok-pelosok, ke wilayah-wilayah yang mungkin saja terpencil dan lain sebagainya.
02:29Bagaimana kalau misalkan merk mobil yang tidak pernah, yang tidak pernah familiar di Indonesia, kemudian ada di desa, ada di
02:39pelosok-pelosok yang keterjangkauan after sale service-nya tidak ada.
02:45Memang murah. Nah, murah itu kan, murah itu selaras tidak dengan kesiapan dan ketersediaan after sale service-nya.
02:54Sehingga, ya percoba saja kalau murah hanya bisa digunakan dalam satu tahun, sudah tidak bisa digunakan.
03:00Ya lebih baik agak tinggi sedikit, kemudian bisa bermanfaat lebih panjang.
03:05Yang kedua, ya kalau impor, kan seluruh instrumen APBN, ini kan diharapkan untuk bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
03:14Nah, kalau kemudian serta-merta impor, ya tidak ada value-nya, tidak ada nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi regional.
03:22Nah, pada sisi lain memang saya juga mendapatkan informasi kalau industri otomotif dalam negeri juga sedang lesu.
03:31Kami kan bahas juga dengan kementerian perdagangan berbagai komoditas, berbagai jenis perdagangan yang hari ini tertekan gitu ya dengan situasi
03:43ekonomi global yang tidak pasti.
03:45Nah, kalau kemudian konteksnya adalah untuk bisa meningkatkan perekonomian nasional, semestinya kan kita berorientasi kepada nasional.
03:54Tidak perlu homogen, tidak perlu sama apa yang diberikan kepada Koperasi Desa Maraputi itu tidak perlu sama.
04:00Seperti halnya menyamaratakan seluruh gudang-gudang dan gerainya disamakan gitu.
04:05Nah, kalau mobilnya kan tidak perlu sama. Yang penting apa sih, siapa sih yang memiliki industri otomotif yang mampu memenuhi
04:13Rampus 5.000 kendaraan yang tidak harus juga secepat-cepatnya gitu.
04:21Bisa saja kan bertanggung.
04:22Intinya produksi dalam negeri bisa, bisa apa ya?
04:26Masalahnya kan gerai dan bangunannya juga kan masih sedang dibangun.
04:32Saya kan juga kemarin ke daerah pemilihan, saya juga melihat bagaimana pembangunan progresnya seperti apa.
04:37Itu kan juga kami lihat.
04:38Nah, yang terakhir ya dalam pandangan saya.
04:41Ini kan Pak Presiden ini kan selalu mengedepankan kepentingan nasional, pertumbuhan ekonomi rakyat, perangkan anak-anak bangsa di dalam meningkatkan
04:50seluruh produk-produk yang dibutuhkan.
04:54Bahkan selama bahwa kita bisa memproduksi, selama kita memiliki kerjasama produksi dalam negeri yang melibatkan anak-anak bangsa, ya kita
05:02ke dalam negeri.
05:03Bahkan kendaraan kepresidenan pun buatan pindad gitu.
05:06Dalam pemikiran saya, kalau Rp. 105.000 salah satunya juga adalah buatan pindad dan bersama-sama dengan industri otomotif dalam
05:16negeri kita, ya menurut saya ini akan menjadi kekuatan perekonomian yang baik.
05:21Mobil Presiden aja dari pindad begitu ya.
05:25Tapi saya ingin kemudian saya garis bawahi adalah berarti DPR memang sudah mengetahui ada pemenuhan untuk kebutuhan transportasi.
05:33Tapi tidak tahu kalau ini akan impor dari India begitu ya transportasinya.
05:38Tidak, tidak tahu kalau tiba-tiba impor dengan India dan lain sebagainya memang tidak pernah disebutkan.
05:45Karena pada waktu itu kami fokus terhadap bagaimana 3 miliar ini dialokasikan lebih efektif, lebih efisien dan tentu memberikan daya
05:54dorong, daya ungkit supaya Koperasi Desa Mara Putih segera bisa beroperasi.
05:58Oke, DPR justru mengetahuinya ketika sudah ramai di media sosial atau bagaimana? Setelah ini apakah akan memanggil Agrinas atau seperti
06:04apa?
06:06Kami sudah sebetulnya sebelumnya, satu bulan lalu, setengah bulan lalu lah kami sudah mengundang Agrinas pangan ini.
06:15Namun pada waktu itu dibatalkan dengan alasan bahwa dirutnya sedang berada di luar negeri.
06:22Oke, dan dalam waktu dekat apakah DPR nantinya juga akan memanggil Agrinas untuk membahas soal ini?
06:28Karena suka atau tidak suka, ini barang sudah ada di Indonesia saat ini?
06:33Ya, setiap satuan APBN semestinya dipresentasikan dulu di DPR.
06:38Karena bagaimanapun akuntabilitas dan transparansi ini harus kita kedepankan di dalam pelaksanaan.
06:43Apalagi BUMN, Agrinas pangan Nusantara ini kan BUMN baru, dan kita ditumput bahwa harus GCG ya, harus memenuhi good governance,
06:56harus memenuhi clean governance, dan tentu sebagai BUMN juga mempertanggungjawabkan kepada hasil pemeriksaan nanti di PTK.
07:04Oleh karena seoptimal mungkin kami pada setiap satuan anggaran yang akan digunakan, ya harus dibahas, harus transparan, dan harus jelas
07:13betul gitu ya.
07:14Terutama nilai manfaat, nilai manfaat bukan hanya kepada manfaat pengguna, tetapi manfaat keseluruhan untuk pertumbuhan ekonomi nasional.
07:23Oke, saya akan ke Indef dulu. Kalau dari kacamata Indef sendiri, apakah ini murni kebijakan ekonomi, ataukah kemudian ada pertimbangan
07:31politik dan juga diplomasi dagang soal ini?
07:36Ya, kalau kita lihat Mbak ya, memang nampaknya ini terburu-buru ya.
07:43Terburu-buru, kenapa terburu-buru?
07:45Ya, mungkin ya mestinya namanya kebijakan apalagi belanja APBN gitu ya, seharusnya kan dipertimbangkan apa berapa nilai tambah yang diperoleh
08:02dari 1 rupiah yang dikeluarkan gitu.
08:05Dan termasuk juga kesiapan dari bisnis model dari setiap kooperasi merah putih.
08:15Nah, ini juga kan nggak jelas misalnya beli mobil untuk apa gitu ya, kegiatan apa, mendapatkan apa.
08:23Oke, nanti kita akan mencoba lagi untuk memperbaiki audio, tampaknya agak terganggu sinyal bersama dengan Indef,
08:32tapi saya ingin ke Pak Yanas dulu, Pak Yanas ini selaku pakar otomotif, Anda melihatnya seperti apa?
08:37Memang kita industri Indonesia tidak mampu untuk bisa menyediakan ada 105 atau 102 ribu mobil untuk kooperasi desa merah putih
08:47sampai kok ya harus impor gitu?
08:50Baik, jadi kalau secara teknis sebenarnya dari kapasitas terpasang di industri otomotif kita,
08:57ini sekarang kapasitas produksinya baru di range 70% dari total kapasitasnya.
09:04Dan itu kemarin itu 107 ribu unit ya berhasil dijual tahun kemarin.
09:11Artinya kapasitasnya memungkinkan kemudian supply chain-nya juga, industri komponen lokalnya juga siap mendukung.
09:20Artinya nggak ada alasan sebetulnya kalau dikoordinasikan dengan Gai Gindo,
09:26ini tidak bisa dibikin sebuah orkestrasi untuk industri bersama di Indonesia.
09:33Bukan data retail seperti kemarin ya, data retail dari sales toko satu atau toko lain, bukan seperti itu harusnya.
09:41Oke, jadi sebenarnya kalau industri otomotif Indonesia sendiri sebenarnya bisa memenuhi ya kebutuhan untuk transportasi kooperasi desa merah putih,
09:49begitu tidak perlu sampai impor, begitu.
09:51Nah, kemudian yang juga jadi pertanyaan adalah begini, seurgen apa kemudian impor dari India,
09:59bahkan jenisnya ini four wheel, empat penggerak roda, begitu.
10:02Kalau memang ini untuk di desa-desa 3T, begitu, yang memang medannya begitu terjal,
10:10apakah memang tidak mampu begitu untuk industri dalam negeri saja yang kemudian memenuhi,
10:15dan seperti apa urgensinya begitu sampai kemudian ke India, gitu.
10:19Kalau memang soal harga, termasuk juga yang harus dipikirkan adalah ketika ini ada barang sampai ke daerah-daerah terpencil,
10:27bagaimana setelah itu satu tahun berikutnya harus ada servis, suku cadang, dan segala macamnya.
10:34Baik, jadi kalau bicara situalnya, ini tentunya tidak boleh hanya untuk 3T.
10:40Di kita ada 80 ribuan ya, 80 ribuan kooperasi desa, mobil yang dibeli 105 ribu.
10:48Kalau nggak salah dengar saya, ini next-nya itu 320 ribu.
10:52Nah, ini perlu dicek ulang, apakah betul untuk 80 ribu desa,
10:57atau hanya 80 ribu kooperasi desa, atau hanya segelintir,
11:04kooperasi desa di 3T.
11:06Dan ini jumlahnya terlalu masif kalau untuk 3T saja.
11:10Dan kemudian speknya ini kalau dari 4WD ya,
11:16tentunya harapannya kan pihak direksinya juga sudah cek dong ke data BPS 2024.
11:21Hampir 80 persen jalan di desa di Indonesia itu sudah dibeton mulai dari zaman Pak SBY dulu.
11:29Artinya two wheels juga cukup, two wheel drive.
11:32Nah, ini ingin tahu jadinya sebenarnya.
11:34Tadi yang disampaikan memang ini details-nya ini nggak pernah diekspos,
11:42metode survei-nya seperti apa nggak pernah diekspos.
11:45Jadi total keluar ini spek kendaraan, penerwil.
11:49Jadi ini kalau untuk base on data yang ada di, apa ya bisa dibilang,
11:54yang di BPS, ini over spek.
11:57Terus tadi banyak detail Pak Herman Sampekat itu benar itu.
12:02Ini terlalu meradak, terlalu cepat, over spek.
12:05Dan di Indonesia, ini bisa dibuat Pak Bahlil juga nih,
12:10kalau spek engine-nya ini nggak sesuai dengan biodiesel yang diprogramkan pemerintah.
12:17Ini banyak problem nanti, banyak problem.
12:20Oke, jadi kalau Anda menilai ini terlalu over spek begitu ya,
12:26ketinggian lah ibaratnya begitu ya.
12:28Nah, jika tujuan utamanya memang kemudian untuk pemberdayaan desa,
12:32apakah ada, yang jadi pertanyaan saya,
12:35apakah ada alternatif yang kemudian lebih efisien secara pembiayaan,
12:40secara perawatan, ke depannya seperti apa?
12:45Jadi, kan kalau kita lihat ini keputusan,
12:50ini ya benar-benar purely keputusan bisnis korporasi aja nih.
12:57Bukan keputusan sebuah lembaga di bawah naungan negara gitu kan.
13:04Jadi diambil lihat ya dengan aksi korporasi ini,
13:09dia bisa hemat sampai almost 50 persen gitu kan.
13:13Jadi purely bisnis ini.
13:15Oke, jadi ini keputusan bisnis kalau menurut Anda.
13:18Tapi kalau dari kacamata Anda sebenarnya,
13:19apakah ada alternatif yang lebih efisien dari soal pembiayaan dan perawatan?
13:24Ini program nasional,
13:26terus kan kenapa mobil kita juga harganya tinggi,
13:29karena sebenarnya kalau kita hitung lebih dari 40 persen,
13:32komponen mobil kita itu kan berputar lagi masuk ke kas negara,
13:35dalam bentuk pajak, penghutan, dan sebagainya.
13:38Mobil ini yang murah karena enggak kena komponen itu.
13:42Kalau kepentingan negara, mungkin negara bisa melihat model-model kebijakan lain gitu kan,
13:47karena ini sifatnya urgensi dan nasional.
13:49Kalau benar ini urgen gitu ya,
13:51sampai yang Pak Herman bilang tadi,
13:52ini mendadak sekali,
13:55bahkan operasi juga belum dibangun semua,
13:57ini harus dalam kekuan, dan seterusnya.
14:00Ini ya betul Pak Herman, banyak pertanyaan.
14:03Oke, jadi kalau menurut Anda,
14:04dari rekomendasi Anda,
14:05seperti apa untuk memenuhi transportasi di kooperasi merah putih,
14:11kooperasi desa merah putih untuk di seluruh Indonesia?
14:14Jadi karena ini adalah penugasan negara,
14:18tentunya libatkan semua ekosistem yang ada,
14:22libatkan tokoh pemerintahan yang ada,
14:26sehingga kepentingan lain.
14:29Herman lebih pas nih.
14:32ditabrakan dengan astacita tiga lah,
14:35reimbus di realisasi kita gitu.
14:37Ini kan jadi kayak perang di internal,
14:40dan ini kalau dibaca publik jadi nggak bagus, Pak.
14:44Begitu, Pak.
14:45Oke, jadi ini harusnya melibatkan ekosistem yang ada,
14:49begitu ya, sebelum pengambilan keputusan,
14:50kalau sekarang sudah ada barangnya di Indonesia,
14:53lalu terus diapakan.
14:54Itu yang kemudian jadi pertanyaan kita, begitu.
14:56Saya ke Indef dulu,
14:59terkait dengan tadi Anda mengatakan,
15:01ini terlalu terburu-buru.
15:02Jadi sebenarnya apa yang menjadi diburu-buru?
15:05Tahu ya, kooperasi desa merah putihnya juga belum terlalu banyak,
15:08begitu ya, maksudnya untuk bisa secara serentak.
15:11Apa menurut Anda, apakah ini soal memang pemikiran bisnis saja semata,
15:17atau kemudian ada soal ekonomi atau soal diplomasi yang Anda lihat,
15:22kalau dari Indef sendiri?
15:24Iya, biasanya kan kalau bicara perdagangan lintas negara,
15:28tidak hanya aspek ekonomi,
15:30tapi juga memang diplomasi perdagangan, gitu ya.
15:33Dan tentu ini menjadi adalah,
15:40kalau misalnya mengimpor, terutama otomotif,
15:45di tengah kelesuan pasar otomotif, gitu ya,
15:49tahun lalu, meskipun sekarang cenderung naik,
15:52tetapi itu juga kecil, gitu ya,
15:54justru seharusnya ya,
15:56BUMN ini juga mengintegrasikan dengan astacita.
16:00Tadi disampaikan, astacita ketiga itu hilirisasi, gitu ya.
16:04Kemudian juga nilai tambah domestik, gitu.
16:06Kalau impor seperti ini, apa yang diperoleh untuk negara?
16:14Sehingga ini justru akan menjadi polemik dan dilematis ke depannya,
16:19jadi kos lagi, bahkan dananya kan pinjem dari himbara ya,
16:23dan pemerintah, apa namanya, kreditkan per tahun, selama enam tahun, gitu.
16:32Dan apa yang akan terjadi?
16:34Maka ini kan jadi beban fiskal lagi nanti ke depannya.
16:37Justru seharusnya, ya seharusnya,
16:39atau sebaiknya, atau idealnya,
16:41justru mengintegrasikan dengan tip yang ada saat ini.
16:47Bahkan saya kira industri otomotif yang ada saat ini sudah sesuai,
16:51sudah bisa menyesuaikan dengan topografi,
16:54kondisi jalan, dan lain sebagainya,
16:55inteknis, gitu ya.
16:57Yang lebih penting justru itu,
17:00di tengah, apa,
17:02industri padat karya yang sangat sulit menyerap tenaga kerja, gitu,
17:06bahkan tercipta,
17:07justru ini sebenarnya jadi peluang market, gitu ya,
17:10sebagai stimulus dari APBN harusnya,
17:12mendorong ke sini, ya bukan kemudian justru beli
17:20dampak terhadap industri otomotif kita.
17:23Bahkan saya kira akan menjadi beban baru bagi fiskal kita.
17:26Dan seogianya tahun ini seharusnya, ya,
17:29pemerintah itu tidak, apa namanya,
17:35membuat implementasi dari sebuah kebijakan
17:37yang justru menjadi beban fiskal ke depan.
17:39Sudah tahu kita beban fiskal ini kan makin ketat, gitu ya,
17:43dan satu rupiah itu harus memberikan nilai tambah
17:46dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
17:49Bahkan,
17:53cuma 4 persen,
17:546 persen itu bagaimana, gitu ya.
17:56Kalau impor ya habis, gitu ya,
17:58dan tidak mendapatkan penerimaan negara yang signifikan, gitu.
18:05Oke, jadi ini Anda melihat,
18:07Indef sendiri melihat ada potensi beban fiskal di sana.
18:11Nah, tapi kalau kita lihat begini kan,
18:13ini kan sudah ada impresnya ya,
18:14instruksi presiden nomor 17 tahun 2025
18:17tentang percepatan pembangunan fisik gerai,
18:20kemudian ada pergudangan,
18:22dan kelengkapan kooperasi desa
18:25atau kelurahan merah putih, gitu ya.
18:27Nah, kalau Anda melihat dari Indef sendiri,
18:30kalau ini nantinya ditunda,
18:32ataupun kemudian dibatalkan,
18:34ditunda seperti apa yang dikatakan oleh DPR,
18:36begitu, atau dibatalkan sekalian, begitu.
18:39Siapa yang harus menanggung risikonya,
18:41dan nanti win-win solution-nya,
18:43kalau dari Indef sendiri, seperti apa ini?
18:46Yang tentu saja kan bertanggung jawab,
18:48yang sudah melakukan,
18:50apa namanya, aktivitas itu, kan, gitu ya.
18:53Yang tentu harus dikonfrontir, gitu,
18:55apa pertimbangannya, urgensinya, dan
19:01selama, katakanlah ya,
19:03satu kooperasi itu dapat satu mobil, gitu,
19:05105 kooperasi merah putih itu sudah ada,
19:08aktivitas ekonominya, gitu ya,
19:11atau bisnis modelnya sudah ada,
19:13sudah jelas, gitu,
19:14dan marketnya sudah jelas,
19:16itu juga menjadi penting.
19:18Kalau kemudian ternyata nanti idel beberapa bulan,
19:21gitu ya, bahkan menjadi masalah
19:22di dalam pemeliharaan,
19:24pemeliharaan, karena tidak siap, misalnya, ya, gitu ya.
19:27Karena ini kan CBO, gitu ya,
19:29build up, yang notabene,
19:33kontek bengkelnya, dan lain sebagainya,
19:35ini kan jadi badan baru.
19:37Dan ini betul-betul harus dicek, gitu,
19:39ke lapangan, apakah yang dia mandatorikan itu,
19:42yang P17 tadi itu,
19:44itu sudah sampai mana, gitu,
19:46pembangunannya?
19:47Kok tiba-tiba harus ada mobil dulu,
19:49harusnya mobil itu kan,
19:50pada saat sudah ada gudang,
19:53sudah ready to work, gitu ya,
19:55ready to apply, gitu ya.
19:58Itu baru itu disiapkan,
20:00apa namanya,
20:01sarana transportasinya.
20:03Nah, itu pun sangat.
20:06Nah, oke, oke.
20:07Seharusnya pergudangannya dulu,
20:09semuanya dulu,
20:10di...
20:10Ya, betul.
20:12...disempurnakan, begitu ya,
20:13disiapkan,
20:14barulah kemudian terakhir adalah
20:16transportasinya, begitu ya,
20:17soal transportasi yang tadi Anda sebutkan,
20:19mobilnya.
20:20Nah, kalau ini sudah kejadian,
20:21ya kan, sudah ada 1.200,
20:24sudah ada tiba di Indonesia.
20:25Nah, ini mau gimana nih,
20:27kelanjutannya?
20:27Kalau dari Indep sendiri,
20:28seperti apa melihatnya?
20:31Gini, karena ini kan perdagangan lintas negara,
20:33yang letak benek kan,
20:35ya nggak mungkin dipaliki lagi, gitu ya.
20:40Halo?
20:41Ya sudah, hitung-hitung aja, gitu ya.
20:43Kemudian optimalisasikan aja.
20:44Kemudian, itu jauh ulang,
20:46lanjut tidak lanjutnya, kan gitu.
20:47Kemudian, baru bangun lagi sistem yang jauh lebih prudent
20:52dan bisa memberikan nilai tambah yang pasti, gitu,
20:55bagi sektor industri, otomotif khususnya,
20:59kemudian juga dari sisi,
21:01apa,
21:03utilitas,
21:04utilisasi dari jenis kendaraan,
21:07ya, kemudian juga,
21:09termasuk juga,
21:10utilisasi kendaraan.
21:14Untuk itu, gitu ya,
21:16saya kira itu.
21:17Oke, jadi,
21:18mau nggak mau yaudah dipakai aja, gitu?
21:21Iya, karena kan,
21:23perjanjiannya seperti apa dulu, gitu.
21:25Misalnya,
21:27perjanjiannya boleh,
21:28ya bisa, gitu.
21:29Tapi biasanya kan,
21:30tidak mudah, gitu,
21:31mengembalikan barang yang sudah di tempat,
21:33apalagi ini,
21:34rakyatkan dengan perjanjian dagang,
21:37ekspor-impor, kan.
21:39Apalagi misalnya,
21:40Indonesia sudah masuk DP,
21:41kentang-kentang ke situ,
21:42kan nggak mungkin.
21:43Ini dia ngirim barang,
21:44tapi belum.
21:48Oke,
21:49oke, penjelasannya berarti,
21:50ya sudah dipakai saja,
21:51sudah kandung basah,
21:53begitu ya,
21:53sudah ada nilai kontraknya 25 triliun.
21:56Bagaimana nih,
21:57Pak Herman,
21:58kalau menurut Anda,
22:00dari DPR,
22:01begitu ya,
22:01sudah lah,
22:01pakai aja dulu,
22:02mau gimana lagi?
22:03Sudah ada perjanjian dagang di sana?
22:06Bagaimana,
22:06Pak Herman?
22:08Ya,
22:09tentu pertama,
22:10ditundalah, ya.
22:11Karena,
22:11ini kan beli,
22:13gitu,
22:13bukan membuat,
22:14gitu.
22:15Dan,
22:16saya kira,
22:16sudah disampaikan oleh Pak Dasko,
22:19menunda dulu,
22:19sampai Presiden nanti tiba di tanah air,
22:22dan mengambil keputusan penting,
22:25yang saya,
22:26saya sendiri tidak tahu nanti keputusannya apa.
22:28yang kedua,
22:30yang kedua,
22:30yang kedua,
22:31yang kedua,
22:31yang kedua,
22:32kalau skala urgensi,
22:33sebetulnya skala urgensi bukan mobil,
22:36skala urgensi itu adalah kooperasi Desa Malra Putih,
22:39segera ada kantornya,
22:41ada kegiatan usahanya,
22:44dan itu bisa berlangsung.
22:45Kalau persoalan mobil di desa-desa itu banyak pick-up-pick-up yang bisa disewa sementara untuk transportasi kan banyak,
22:51gitu ya.
22:52Bukan skala urgensi menurut saya kalau kendaraan, itu gaya-gayaan aja lah, gitu ya.
22:57Dan yang penting sebetulnya apa yang diharapkan oleh Presiden bahwa kooperasi Desa Merah Putih menjadi sarana untuk bertransaksi di desa,
23:10bisa lebih murah komoditas-komoditas pangan,
23:13hasil para petani bisa diserap,
23:15kemudian bisa memberikan dukungan terhadap operasional dan kebutuhan berbagai komoditas
23:22yang saat ini dibutuhkan oleh makan gijik gratis, misalkan,
23:26itu yang lebih penting, gitu.
23:28Dibandingkan dengan harus ada pengadaan-pengadaan tertentu,
23:31kan juga tidak harus serentak dan homogen, gitu.
23:34Itu bisa secara parsial, sambil jalan,
23:38atau juga di dapis saya,
23:41misalkan saya kemarin juga meninjau pembangunan kooperasi Desa Merah Putih,
23:46itu masih belum selesai juga, masih berjalan,
23:48dan saya tanya bisnis apa baru sedang diurus,
23:53apa namanya, legalitasnya masih sedang diurus,
23:56itu pun untuk keterkaitan atau linkage bisnis dengan BUMN juga belum clear,
24:02misalkan untuk penyaluran gas 3 kilo,
24:05untuk agen-agen drilling yang sekarang ini menjadi agen pembiayaan di BRI,
24:10misalkan, ini juga kan belum pasti dan belum jalan,
24:14belum lagi, kemampuan dan kapasitas sumber daya manusianya kan belum juga dipersiapkan.
24:20Sekiranya bisa dengan percepatan,
24:23keluarnya purpose untuk percepatan perwujudan kooperasi Desa Merah Putih,
24:28bukan percepatan untuk pengadaan kendaraan menurut saya,
24:31percepatan untuk segera kooperasi Desa Merah Putih ini,
24:35bisa berjalan sesuai keinginan Presiden,
24:38bahwa bisa menjadi institusi atau tangan-tangan negara yang bisa memberikan dampak positif terhadap masyarakat.
24:45Saya kira itu yang penting.
24:47Oke, percepatan di kooperasi Desa Merah Putihnya dulu yang kemudian harus disempurnakan,
24:52begitu ya, sudah siap dulu, begitu ya,
24:54transportasi nanti akan mengikuti kemudian, begitu ya Pak Herman ya?
24:59Ya memang kan antar desa,
25:00kooperasi Desa Merah Putih ada di semua desa,
25:03Jadi, ya antar desa itu juga berhimpitan kok gitu, berdekatan,
25:08kecuali di wilayah-wilayah remote yang antar desanya jauh.
25:11Kalau di Dapil saya, satu dengan desa lainnya dekat juga gitu ya,
25:16dan kalau kebutuhan kendaraan juga banyak,
25:19bisa menyewa dulu punya masyarakat,
25:21dan sepuluh saya jangan terburu-buru lah ya,
25:24karena ya aksi kooperasi sekali lagi harus good corporate governance,
25:29harus betul-betul dapat dipertanggungjawabkan.
25:32Jangan sampai setelah pengadaan mobil ini,
25:36kemudian ada persoalan hukum di belakangnya,
25:39kan tidak baik ya.
25:40Lebih baik kita transparan,
25:42kemudian akuntabel,
25:44diumum kepada publik,
25:45berapa kapasitas dalam negeri bisa memenuhi,
25:49ya kalau mungkin kemudian ada batas waktu
25:51yang harus segera dilakukan oleh Agrinas Pangana Nusantara,
25:56ya berarti kekurangannya apakah impor atau tidak impor,
25:59ya coba bicarakan dulu gitu.
26:01Jangan berbicara untung atau tidak untung,
26:05bisa untung, korporasinya bisa untung,
26:07Agrinas Pangana Nusantara bisa untung,
26:10tetapi apakah keuntungan ini membawa keuntungan pada negara,
26:14kepada kooperasi Desa Moro Putih,
26:16kepada bangsa, kepada rakyat,
26:18nah ini yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan betul gitu.
26:21Oke, terakhir saya ingin ke Pak Yanas,
26:24Pak Yanas dari sisi otomotif gitu ya,
26:27apa yang kemudian harus dipikirkan kembali,
26:31poin kritis apa yang kemudian harus menjadi
26:34pertimbangan dari Agrinas Pangana Nusantara ini?
26:39Pertama, ini tentunya ada dua, ya dua senario ya,
26:47satu, kalau dibatalkan, ini kasihan direksi Agrinas nih,
26:54karena kalau termination fee yang saya tahu,
26:57ini bisa 5-10% dari nilai kontrak yang tidak dijalankan.
27:04Terus kalau menolak,
27:07ini dibawa ke abiter rasa internasional,
27:09Indonesia tambah rame lagi nih nanti.
27:11Oke, jadi?
27:14Kedua, yang lebih solutif,
27:18di kita kan sudah ada investasi sangat besar ya,
27:21untuk institusi otomotif dari Jepang,
27:24kemudian kedua dari Korea,
27:26yang kemarin ini yang dapat karpet merah itu dari China.
27:31Terus dari Vietnam juga sudah ada.
27:34Nah, karena ini nggak dirubah skemanya gitu,
27:37daripada nanti kena penalti international capitraser
27:41yang bikin capek,
27:42sekalian aja Mahindra dan Tata diminta,
27:45yang notabene 22-22 punya APM di Indonesia,
27:48sekalian aja minta investasi mereka.
27:50Sehingga kembali nama investor di Indonesia makin banyak,
27:54dan multiplier effect-nya untuk tenaga kerja lokal
27:57dan sebagainya makin bagus.
28:00Dan itu lebih santai,
28:01karena melibatkan kementerian-kementerian lain,
28:04jadi nggak hanya perdagangan,
28:05kementerian desa, dan sebagainya.
28:07Itu, Pak.
28:09Oke, itu jadi solusinya yang untuk sementara begitu ya.
28:12Terima kasih Pakor Otomotif ITB,
28:14Yanas Pasarimu,
28:15telah bergabung bersama kami.
28:16Kemudian juga ada
28:18Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan Indef,
28:21Emrizal Taufikur Rahman,
28:22dan juga ada
28:23anggota Komisi 6 DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat,
28:26Pak Herman Hairon.
28:27Nanti kita akan tunggu
28:28setelah Presiden tiba di tanah air,
28:30apa yang kemudian menjadi keputusan dari Presiden
28:33soal pro dan juga kontra
28:35pengadaan impor mobil dari India ini.
28:39Terima kasih.
28:40Bapak-bapak sehat selalu.
28:41Assalamualaikum.
28:42Selamat pagi.
28:44Assalamualaikum.
28:44Assalamualaikum.
28:45Assalamualaikum.
28:45Assalamualaikum.
Komentar