Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna mengatakan pada tahun 1974 muka tanah Jakarta tidak jauh dengan permukaan laut. Maka, menurutnya kondisi muka tanah Jakarta saat ini turun 4,5 meter jika dibandingkan tahun 1974.

Pengambilan air tanah berlebihan akan memengaruhi struktur tanah. Di sisi lain, pembangunan secara masif mempercepat penurunan muka tanah. Jakarta Utara menjadi area paling rentan mengalami penurunan muka tanah.

Yayat mempertanyakan seberapa kuat tanggul bertahan jika ada risiko degradasi struktur? Maka menurutnya, pembangunan tanggul harus memperhatikan tekanan gelombang dan kondisi tanah.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/aEI7XpsuLAM?si=3MRJvhVTdbZdl4aK



#banjir #jakarta #rob



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/651233/pengamat-tanah-jakarta-turun-4-5-meter-sejak-1974-jakarta-utara-paling-rentan-dipo-investigasi
Transkrip
00:09Intro
00:11Setelah saya berada di wilayah perbatasan Jakarta Utara, saya akan tunjukkan satu tugu yang begitu menggambarkan betapa ekstrimnya, betapa masifnya
00:21penurunan tanah di buku kota DKI Jakarta.
00:24Saya akan tunjukkan, ada tulisan di bagian paling atas permukaan tanah di Jakarta Utara tahun 1974, apa maknanya? Saya akan
00:32tanyakan kepada Pak Yayat Supriyatna, pengamat Tata Kota Universitas Trisati.
00:37Terima kasih Pak Yayat untuk waktunya. Saya ingin langsung bahas Pak, di bagian paling atas tulisannya permukaan tanah Jakarta Utara
00:44tahun 1974, maknanya apa?
00:46Nah ini adalah saksi, saksi tentang penurunan permukaan tanah di Jakarta. Jadi kalau ditanyakan, wah ini Pak tingginya hampir 4
00:58,5 meter.
00:594,5 meter?
01:014,5 meter. Artinya aja, di tahun 1974, muka tanah Jakarta posisinya masih tidak terlalu jauh dengan laut itu ya.
01:10Saya ingin ngasihkan, artinya itu adalah ketinggian tanah di tahun 1974?
01:15Ya, jauh di atas kepala kita.
01:17Di atas kepala kita. Betapa kondisi tanah kita sudah turun hampir lebih 4,5 meter dibandingkan tahun 1974.
01:25Ini di Jakarta Utara, ini di Jakarta Barat, dan ini di Jakarta Timur. Dan ini hari ini, kita di sini.
01:32Penurunan tanah itu apakah kemudian hanya dipengaruhi oleh satu faktor, eksploitasi air tanah, atau mungkin pembangunan yang masif juga turut
01:38mempengaruhi itu Pak?
01:39Ya, pengambilan secara berlebihan itu akan mempengaruhi struktur kondisi tanah itu sendiri.
01:45Ditambah dengan tekanan intensitas pembangunan secara masif, yang kadang-kadang terus terang saja tidak memperhatikan kondisi kelaikan bangunan tersebut.
01:55Apakah artinya kecepatan dari penurunan permukaan tanah ini semakin meningkat?
01:59Ya, jelas. Wilayah mana yang paling rentan? Wilayah yang paling rentan ini utara. Jelas.
02:05Kemudian Jakarta Barat sebagian. Demikian juga di Jakarta Timur.
02:09Artinya, ancaman yang pernah dikatakan pada tahun 2055, Jakarta akan tenggelam, itu bisa saja terjadi kalau kita tidak mengantisipasinya dan
02:19tidak melakukan upaya pengurangan pengumpulan air tanah secara berlebihan.
02:22Artinya, analisa terkait dengan prediksi Jakarta, mungkin saya tenggelam itu bukan isapan jempol belakang.
02:28Ini fakta yang menunjukkan bahwa laut itu sudah segitu loh. Laut itu sudah.
02:34Bahwa ada sejumlah program yang kemudian dilakukan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mulai dari tanggul mitigasi, kemudian juga ada tanggul
02:42pengaman laut, dan yang lebih luas lagi ada Giant Sea Wall.
02:46Sudah tepatkah kebijakan itu?
02:48Nah, tanggul itu NCICD-nya dibangun. Tapi pertanyaannya, berapa kuat, berapa lama dia bertahan? Karena ada yang namanya degradasi struktur.
02:59Degradasi struktur itu adalah kondisi tanah menurun, strukturnya juga bisa menurun.
03:04Bisa juga korosi atau dipengaruhi oleh kondisi bangunan yang mengalami pelapukan atau perubahan karena tekanan air laut.
03:13Artinya memungkinkan jika suatu saat tanggul tersebut mengalami kebocoran.
03:17Bisa. Pembangunan teknis tanggul itu harus memperhatikan aspek tekanan gelombang, tekanan kondisi tanah, yang bisa mempengaruhi ketahanan temboknya, bukan sekedar
03:29membuat tanggul.
03:30Penurunan permukaan tanah dan potensi Jakarta tenggelam itu bukan hanya sekedar fenomena alam, tetapi juga mungkin, mohon maaf, kegagalan tata
03:36kota di ibu kota.
03:37Jakarta bukan kota yang didesain sejak awal.
03:41Jadi bisa dikatakan, kota yang tidak didesain, tidak direncanakan sejak awal, dia akan tumbuh kembang seiring dengan dinamika masyarakatnya.
03:51Sehingga infrastrukturnya tidak memperhatikan mitigasi kebencanaannya.
03:56Mungkin saran dari Pak Yayat, dalam waktu dekat, menengah, hingga panjang, apa yang kemudian harus dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi
04:06potensi Jakarta tenggelam?
04:07Nah, pertama begini. DKI Jakarta sudah punya mencandangkan program 100% air minum perpipaan.
04:16Nah, artinya apa? Dia punya target supaya pengambilan air tanah itu tidak terus-menerus terjadi secara eksploitatif.
04:25Tapi pertanyaannya, 100% ini konsumennya siapa?
04:28Pembangunan mal, apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, dan sebuahnya, industri.
04:34Nah, apa mampu tidak kita mensuplai air untuk kebutuhan industri?
04:39Artinya, yang kedua, pengendalian tata ruang.
04:42DKI harus berani mengeluarkan namanya ruang mitigasi bencana rentan bencana.
04:49Nah, dikeluarkan saja.
04:50Satu, rentan penurunan permukaan tanah, rentan rob, rentan gerakan tanah, dan rentan lainnya.
04:58Cuman, kalau kita keluarkan orang takut, takutnya apa? Nilai propertinya turun.
05:03Itu yang dikhawatirkan kadang-kadang membuat orang galau.
05:06Tapi menurut saya, tegas saja, mitigasi seperti ini, penanganan infrastrukturnya dilakukan untuk pencegahannya.
05:13Bahwa ancaman itu tetap akan datang, tapi yang penting adalah bagaimana kita mengamankan dan melakukan penataan ulang terkait kondisi Jakarta.
Komentar

Dianjurkan