00:01Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
00:06Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu.
00:13Yang saya hormati Rektor Universitas Indonesia,
00:18Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanat,
00:22Ketua dan Anggota Dewan Negeri Besar,
00:26Ketua dan Anggota Senat Akademik,
00:28Para Wakil Rektor dan Kepala Badan,
00:36Para Dekan dan Segenap Sivitas Akademika Indonesia,
00:41Pimpinan Lembaga Kementerian,
00:44Antara lain ada Wamen Dagri, Bapak Bima Arya,
00:50Wamen Desa, Bapak Ahmad Reza Patria,
00:53Para Orang Tua dan Keluarga Wisadawan,
00:56Dan Para Wisadawan yang hari ini resmi menjadi alumni UI.
01:05Pertama-tama, saya ingin menyapa para wisadawan dan wisadawati.
01:12Bagaimana rasanya wisada hari ini?
01:20Saya yakin Anda semua bisa lulus hari ini dengan kerja keras.
01:31Kepada wisadawan dan wisadawati yang mungkin kalian rasakan hari ini adalah hasil kerja keras teman-teman semua selama bertahun-tahun.
01:42Namun, yang mungkin kalian tidak tahu adalah di balik semua itu ada perjuangan orang tua atau lupa mungkin ya.
01:51Mereka mencari nafkah tanpa lelah.
01:56Beberapa ada yang harus banting tulang mati-matian dari kepala jadi kaki, kaki jadi kepala untuk membiayai sekolah Anda.
02:06Yang jelas, karena usaha dan doa, merekalah teman-teman semua ada di posisi sekarang lulus dari Universitas Indonesia.
02:16Oleh karena itu, saya minta para wisadawan dan wisadawati berdiri dan memberi hormat kepada orang tua, teman-teman semua.
02:33Alhamdulillah.
02:41Oke, cukup.
02:45Bapak, Ibu, serta para wisadawan dan wisadawati yang saya banggakan,
02:51saya selain perjuangan wisadawan dan wisadawati,
02:56ada orang tua yang konsisten mendidik tanpa pamrih,
03:00tentu ada juga dosen yang membentuk disiplin, berpikir, dan karakter.
03:05Jadi, hari ini, saya juga berdiri di sini dalam dua posisi.
03:16Saya sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia dan sebagai seorang ayah yang anaknya ikut di wisadawati di ruangan hari ini.
03:30Sebenarnya, Pak Rektor, saya ke sini agak takut.
03:36Karena pada waktu saya jadi Menteri, hari pertama, BEM UI demo depan DPR suruh saya turun.
03:45Di sini mana yang demo?
03:47Ada enggak? Enggak ada ya?
03:50Yang mereka enggak tahu, saya juga pernah dosen di UI.
03:56Jadi, kalau Anda ngajak debat saya, Anda pasti kalah.
04:01Saya dosen S3 Economic Business.
04:04Anda kan masih-masih sewa pada waktu kemarin.
04:08Yang kedua, hubungan saya dengan UI cukup dalam.
04:14Waktu saya jadi Ketua Lembaga Penjamin Simpanan,
04:18saya mengalukan sendara cukup untuk membantu program di Fakultas Teknik UI
04:24yang bekerjasama dengan Fakultas Teknik di Berkeley.
04:29Jadi, kita kirim setiap tahun tiga orang UI ke Berkeley
04:33dan mereka mendapat apresi yang tinggi di Berkeley.
04:38Ini sebenarnya sudah gelombang kedua atau ketiga mungkin kita kirim ke Berkeley.
04:44Tapi kan sekarang saya bukan di LPS lagi, bukan Lembaga Penjamin Simpanan.
04:49Saya pindah jadi Menteri Keuangan.
04:52Saya pikir uang saya sedikit, tapi ternyata uang saya lebih banyak lagi.
04:57Saya boleh dibilang menguasai LPDP
05:03yang sekarang punya 150 triliun rupiah dana abadi
05:08untuk dipakai untuk program pendidikan.
05:14UI kan sekarang satu-satunya peniparat yang rankingnya di bawah 200 kan.
05:21Presiden minta UI meningkatkan ke bawah 100 kalau enggak salah.
05:28Dalam waktu berapa tahun?
05:30Secepat-cepatnya ya?
05:36Jadi, sebagai Menteri Keuangan,
05:40saya pakai alasan itu untuk kembali membantu Universitas Indonesia.
05:50Kalau tadi Anda lihat dana abadi,
05:53ternyata baru 260 miliar ya Pak ya.
05:56Masih kecil.
05:58Kecil-kecil ya.
06:01Untuk tahun ini lewat LPDP,
06:04kita berencana, boleh enggak ngomongin?
06:05Boleh kan ya.
06:06Biasanya Menteri Keuangan ini.
06:08Anak buah saya enggak bisa marah sama saya.
06:10LPDP di bawah saya,
06:12kalau dia ribut, saya ganti dia kepalanya.
06:16Tahun ini kita rencanakan memberikan bantuanlah kepada Fakultas Teknik ya itu.
06:22Apa UI semua?
06:23Fakultas Teknik itu sekitar 100 miliar rupiah.
06:31Jadi nanti, Bem, jangan pertes lagi.
06:35Dan sekarang di titik ini,
06:38ada satu pertanyaan yang mesti kita hadapi bersama.
06:41Anda mau jadi apa?
06:45bagi sistem yang lebih besar,
06:47yaitu NKRI.
06:50Kalau jadi mahasiswa gampang.
06:52Kalau ada protes,
06:53ada ketimpangan,
06:55turun ke jalan, ribut,
06:56protes, selesai.
06:57Sekarang Anda tidak bisa melakukan itu lagi.
07:00Anda sebentar lagi adalah pelaku yang menentukan arah ekonomi ke depan,
07:05arah bangsa ke depan,
07:06dan nanti Anda yang akan diprotes oleh Bem-Bem di bawah Anda.
07:13Jadi kalau Anda cerdas,
07:14ajarin mereka, ke depan jangan banyak protes.
07:16Belajar aja gitu.
07:18Supaya Anda nanti tidak diprotes.
07:21Bapak, Ibu yang berbahagia,
07:24saya dididik sebagai insinyur lulusan teknik elektro dari Institut Teknologi Bandung.
07:30Di sini elektro mana?
07:33Oh, tidak ada elektro ya?
07:35Ada.
07:36Oh, cuma sedikit.
07:38Rupanya fakultas minoritas.
07:42Waktu itu saya belajar tentang arus,
07:46tegangan, sistem kontrol, dan stabilitas.
07:49Setelah lulus,
07:50saya bekerja sebagai field engineer offshore,
07:53di onshore juga,
07:54di selam bersih.
07:55lingkungannya keras,
07:57keputusan harus cepat,
07:58dan konsekuensinya nyata.
08:02Jadi di lapangan itu,
08:04keputusan cepat.
08:05Kalau kita salah ambil keputusan,
08:07kita bisa mati.
08:09Jadi ancamannya betul-betul nyata.
08:12Saya kerja di sana 5 tahun dengan ancaman yang seperti itu.
08:15Maka ketika ancaman dari BMI suruh mundur,
08:17ya gampang, paling mundur.
08:19Kecil itu.
08:20Tapi kita pastikan,
08:22kita menjalankan
08:23apa yang diminta oleh
08:25masyarakat kita.
08:26selamat menikmati.
08:26Terima kasih.
08:26selamat menikmati.
08:28Terima kasih.
08:28Terima kasih.
Komentar