Skip to playerSkip to main content
Rapat Paripurna ke-6 DPD RI masa sidang III tahun sidang 2025–2026 diwarnai interupsi keras dari senator Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor. Ia secara terbuka menyinggung Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit di Papua yang dinilai bertentangan dengan aspirasi masyarakat adat.

Dalam forum paripurna yang digelar Rabu (14/1/2026), Paul menegaskan penolakan warga Papua terhadap ekspansi sawit.

“Pimpinan, masyarakat adat di Papua itu menolak wacana sawit di Papua. Jadi nanti sampaikan ke Pak Prabowo sama Bahlil itu, setop dengan barang itu karena orang Papua tidak suka,” kata Finsen di hadapan pimpinan dan anggota DPD RI.

Tak hanya soal sawit, Paul juga menyoroti rencana pembangunan markas TNI yang dikaitkan dengan program ketahanan pangan. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak menjawab kebutuhan mendasar masyarakat Papua.

“Yang kedua, itu didatangkan apa batalion pertanian atau perkebunan. Orang Papua butuh sekolah dan rumah sakit, bukan markas tentara,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Papua memiliki status otonomi khusus dengan persoalan utama yang semestinya diprioritaskan negara.

“Itu penting, karena kita di otsus kita yang dibahas dulu itu masalah utama itu pendidikan dan kesehatan,” sambung Paul, menekankan pentingnya arah pembangunan yang lebih berpihak pada pelayanan dasar.

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin merespons interupsi tersebut dengan menyatakan akan menampung seluruh aspirasi para senator. Ia juga membuka peluang untuk menyampaikan langsung masukan itu kepada Presiden.

“Makanya kita sedang mencari jadwal ketemu, termasuk dengan Pak Presiden, dalam rapat konsultasi menyampaikan hal yang sama,” katanya.

Pernyataan Paul muncul di tengah dorongan pemerintah pusat agar Papua ikut dilibatkan dalam agenda swasembada energi nasional. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapan agar Papua ditanami kelapa sawit untuk mendukung produksi energi.

“Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit,” kata Prabowo dalam rapat percepatan pembangunan Papua, Desember lalu.

Selain sawit, Prabowo juga mendorong penanaman tebu dan singkong untuk produksi etanol serta pemanfaatan energi surya dan air di Papua. Namun, interupsi senator Papua Barat Daya tersebut menegaskan adanya jarak antara agenda nasional dan aspirasi lokal, khususnya terkait arah pembangunan dan prioritas kebutuhan masyarakat Papua.

Penulis: Anisah Aulia
Video editor: Marwah Alkhanza
Produser: Dena Novita R
#TirtoRecap

Category

🗞
News
Transcript
00:00Mr. Vincent, Mr. Mayor, thank you, Pimpinan.
00:05Pimpinan, masyarakat adat di Papua itu menolak wacana.
00:10Sawit di Papua.
00:12Jadi nanti sampaikan kepada Pak Prabowo.
00:15Sama Bahlili itu stop dengan barang itu.
00:17Karena orang Papua tidak suka.
00:20Yang kedua itu didatangkan...
00:25...batalion pertanian atau pergabunan.
00:27Orang Papua butuh sekolah dan rumah sakit.
00:30Bukan markas tentara.
00:32Itu penting.
00:33Karena kita di Otsus kita...
00:35...yang dibahas dulu itu...
00:37...masalah utama itu pendidikan dan kesehatan.
00:40Yang bahas itu juga ya...
00:41...Pewakil Ketua di sebelah Bapak itu yang...
00:43...terlibat penuh jadi pasti...
00:45...lebih tahu.
00:45Itu saja.
00:46Terima kasih.
00:47Baik.
00:48Sama jadi Pak Mayru...
00:50...pinset tadi juga Pak Wakayuri...
00:52...sebagai teman dari...
00:55...Papua juga punya konser yang sama.
00:57Ya makanya kita sedang mencari jadwal ketemuan.
01:00Langsung langsung dengan Pak Presiden...
01:01...dalam rapat konsultasi...
01:02...menyampaikan hal yang sama.
01:05Terima kasih.

Recommended