Gelombang demonstrasi nasional di Iran terus meningkat sejak 28 Desember 2025, dipicu runtuhnya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi akibat sanksi internasional. Aksi yang awalnya menuntut perbaikan ekonomi itu berkembang menjadi gerakan yang secara terbuka menantang pemerintahan teokratis Iran.
Kelompok aktivis melaporkan penindakan aparat keamanan telah menewaskan sedikitnya 538 orang, sementara lebih dari 10.600 orang ditahan dalam dua pekan terakhir. Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyebut pengumpulan data dilakukan melalui jaringan aktivis di Iran, meski terhambat pemadaman internet dan komunikasi.
Pemerintah Iran belum merilis angka resmi korban jiwa. Associated Press (AP) menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen karena akses informasi diblokir. Kekhawatiran meningkat bahwa pemadaman informasi memberi ruang bagi aparat keamanan untuk melakukan penindakan lebih keras.
Ketegangan meningkat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan ancaman terbuka terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. “Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah pendudukan maupun semua pusat militer, pangkalan, dan kapal Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” kata Ghalibaf.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terhadap demonstran. Melalui media sosial, ia menulis, “Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!”
Trump mengungkapkan Gedung Putih tengah mempertimbangkan opsi tekanan, mulai dari serangan siber hingga aksi militer terbatas.
“Militer memantau dan kami mempertimbangkan opsi-opsi yang sangat kuat. Kami akan mengambil keputusan,” ujar Trump.
Israel juga mulai bersuara. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan harapannya agar Iran terbebas dari tirani.
“Rakyat Israel, seluruh dunia, kagum akan keberanian luar biasa warga Iran,” kata Netanyahu, seraya menegaskan Israel memantau situasi dengan cermat.
HRANA menyebut aksi di Teheran bersifat “tersebar, cepat, dan dinamis,” dengan laporan penggunaan drone pengintai dan pengerahan pasukan di sejumlah titik.
Pemerintah Iran merespons, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan dialog tetap penting, namun menolak aksi yang dianggap merusak.
“Masyarakat memiliki kekhawatiran, tetapi tugas yang lebih tinggi adalah tidak membiarkan sekelompok perusuh menghancurkan seluruh masyarakat,” ujarnya.
Penulis: Anisah Aulia
Video editor: Sahrul Hanif
Produser: Dena Novita R
#TirtoRecap