Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPASTV Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok secara blak-blakan menyebut kondisi keuangan Pertamina, khususnya di sektor distribusi BBM subsidi, pernah berada dalam tekanan berat.

Saat menjabat sebagai Komisaris Utama, ia mengatakan arus kas (cash flow) Pertamina, terutama di Patra Niaga, sempat "merah" atau merugi.

"Ini mohon maaf pak jaksa, pak hakim, justru Pertamina itu berdarah-darah sebetulnya. Di Patra Niaga itu cash flow-nya merah, rugi," kata Ahok, dalam perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Menurut Ahok, kondisi itu terjadi karena pemerintah tidak mengizinkan kenaikan harga BBM subsidi, meskipun harga minyak dunia melonjak.

Di saat yang sama, Pertamina tetap wajib menjalankan fungsi public service obligation (PSO) untuk melayani kebutuhan masyarakat.

"Banyak orang berpikir Pertamina seenaknya menaikkan harga. Padahal tanpa izin presiden, menteri pun tidak berani menaikkan harga," ujarnya.

Selain itu, Ahok menyinggung beban subsidi dan kebijakan satu harga BBM yang membuat Pertamina harus mengeluarkan dana sangat besar.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Novaltri

#ahok #pertamina #saksiahok

Baca Juga Hadiri Tingalan Jumenengan Mangkoenagoro X, Gibran Apresiasi Pelestarian Budaya yang Adaptif di https://www.kompas.tv/regional/646670/hadiri-tingalan-jumenengan-mangkoenagoro-x-gibran-apresiasi-pelestarian-budaya-yang-adaptif



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/646681/ahok-pertamina-berdarah-darah-jalankan-bbm-subsidi-arus-kas-patra-niaga-sempat-merah
Transkrip
00:00Nah, Saudara selaku Komisaris Utama, bagaimana Saudara bisa memastikan bahwa direksi-direksi baik di holding maupun sub-holding itu menjalankan fungsi PSO yang diamanatkan oleh pemerintah tadi?
00:13Ya, pertama kan gak bisa bohong ya Pak ya, kalau di SPBU kosong kan ketahuan mereka gak kerja Pak.
00:20Lalu kami udah bikin sebuah sistem digital untuk memonitor.
00:24Nah, zaman saya itu kita berhasil membuat monitor dari hulu, ngangkat minyak berapa baril per hari, sampai kapal kirim, sampai ke SPBU kami bisa kontrol dengan baik.
00:36Jadi semua bisa dikontrol, sampai kapal dimana semua dikontrol dengan baik, dengan sistem digital.
00:41Maka disitu kami bisa mengurangi dampak kerugian atau pemborosan yang tidak sengaja terjadi.
00:49Jadi sistemnya semua digital bisa kita monitor.
00:52Bisa dilihat di lantai berapa, saya lupa 21 atau 22, itu bisa monitor semua.
00:59Semua real time kami monitor.
01:01Sampai SPBU yang macet, dia kirim pesanan, sampai ada yang ngisi pakai pangki, semua kami bisa monitor.
01:10Oke, terima kasih ya Saudara saksinya.
01:13Kemudian saya sedikit tadi Saudara menyinggung tentang keuntungan yang diraih oleh Pertamina.
01:19Sebagaimana kita ketahui kan pasar Pertamina ini hampir 96 persen lah, pasar migas ini dikuasai oleh Pertamina.
01:30Pasti untung itu Saudara saksinya, karena kustomernya sudah ada ratusan juta masyarakat Indonesia.
01:36Pertanyaan saya bagaimana Saudara sebagai komisaris memastikan bahwa keuntungan yang diperoleh Pertamina ini
01:42dengan direksi yang menjalankan fungsi operasional itu, itu sesuai atau emang seharusnya keuntungan yang diperoleh Pertamina.
01:52Tidak ada pengurangan keuntungan misalkan ketika ada tadi inefisiensi dalam menjalankan operasional tadi.
01:59Ini mohon maaf Pak Jaksa, Pak Hakim.
02:02Justru Pertamina itu berdarah-darah sebetulnya di Patraniaga itu, cash flow-nya itu merah, rugi.
02:10Berapa kali rugi, kenapa?
02:11Karena pemerintah memaksa tanda kutip, barang subsidi tidak boleh dinaikkan.
02:18Mungkin di sini perlu saya luruskan.
02:20Banyak orang berpikir, Pertamina ini seenaknya menaikkan harga.
02:26Padahal tanpa izin presiden, menteri pun tidak berani menaikkan harga.
02:30Lalu apa yang terjadi?
02:31Mungkin Bapak Ibu masih ingat, ketika harga minyak dunia naik, SPBU swasta sudah menaikkan harga.
02:40Pertamina kok tidak naik?
02:42Kami itu cash flow-nya itu arus kas itu merah itu, miliaran dolar.
02:47Di situ kami terpaksa minjam uang dengan pendek, direksi pinjam.
02:51Kami setuju.
02:52Kenapa?
02:53Karena pemerintah tidak izin naikkan harga.
02:56Padahal subsidi ditentukan misalnya seribu rupiah.
03:00Ini sudah beda lima ribu.
03:01Pemerintah tidak mau tahu.
03:03Termasuk satu harga.
03:05Itu banyak masyarakat tidak paham.
03:07Ini yang disebut dari Ibu Nika tentang public service obligation.
03:12Subsidi yang satu harga itu kirim barang gitu banyak.
03:15Itu kita bisa subsidi sampai satu triliun.
03:18Pertamina keluar uang.
03:19Makanya saya pernah laporan Presiden.
03:21Kalau Bapak kasih kami ubah sistem subsidinya dengan ke orang, dengan sistem digital.
03:29Kami punya MyPertamina.
03:31Dan anak-anak muda ini, mohon maaf ya.
03:33Saya, kenapa bisa anak-anak muda ini jadi direksi?
03:37Karena kami mengubah sistem waktu itu.
03:39Dulu itu urut kacang.
03:41Yang muda ini gak bisa 20 tahun, kalau kerja 20 tahun baru bisa sampai senior Vice President.
03:48Saya selaku ketua Komite Normasi, saya potong.
03:51Ribut sama direksi yang lama, sama BUMN.
03:54Gak bisa.
03:55Dasarnya meritokrasi.
03:56Anak umur berapapun kalau dia mau kerja, jujur, harus jadi direksi.
04:02Ini yang kita lakukan, Pak.
04:04Lalu apa yang terjadi?
04:05Tidak disetujui.
04:08Nah itu yang saya sampaikan, Pak.
04:10Padahal saya bilang, saya bisa untung 6 miliar dolar kami.
04:13Kalau subsidi tidak dalam bentuk barang, tapi dengan sistem voucher digital.
04:18Dan anak-anak muda ini sudah membuat Pertamina yang, kartu Pertamina itu loh.
04:25Yang MyPertamina.
04:27Itu bisa jadi kuno luar biasa.
04:29Tapi itu juga kesulitan pemerintah tidak izinkan kami melakukan terobosan ini.
Komentar

Dianjurkan