- 3 bulan yang lalu
- #rosi
- #ferryirwandi
- #jokowi
JAKARTA, KOMPAS.TV - Banyak peristiwa terjadi di sepanjang tahun 2025.
Memasuki tahun 2026, program ROSI ingin mengajak Anda untuk mengingat perjalanan di tahun lalu, agar jadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah bersama. Sekaligus ada pengalaman berharga untuk menumbuhkan harapan.
Program ROSI secara khusus akan menayangkan kembali sejumlah episode terbaik sepanjang tahun 2025.
Saksikan dalam ROSI the Best of 2025, tayang Kamis 1 Januari 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#rosi #ferryirwandi #jokowi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/640790/full-polemik-ijazah-jokowi-ferry-irwandi-hingga-megawati-di-rosi-the-best-of-2025
Memasuki tahun 2026, program ROSI ingin mengajak Anda untuk mengingat perjalanan di tahun lalu, agar jadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah bersama. Sekaligus ada pengalaman berharga untuk menumbuhkan harapan.
Program ROSI secara khusus akan menayangkan kembali sejumlah episode terbaik sepanjang tahun 2025.
Saksikan dalam ROSI the Best of 2025, tayang Kamis 1 Januari 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#rosi #ferryirwandi #jokowi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/640790/full-polemik-ijazah-jokowi-ferry-irwandi-hingga-megawati-di-rosi-the-best-of-2025
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Selamat malam, tahun 2025 telah kita lewati.
00:24Banyak peristiwa yang terjadi di tahun lalu.
00:27Memasuki tahun 2026, program Rossi ingin mengajak Anda untuk mengingat perjalanan di tahun lalu agar jadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah bersama.
00:42Sekaligus ada pengalaman berharga untuk menumbuhkan harapan.
00:48Malam ini Rossi secara khusus memutar kembali sejumlah episode terbaik sepanjang tahun 2025.
00:57Awal tahun 2025, Indonesia digegerkan dengan pagar laut yang membentang sepanjang 30,16 km di Kabupaten Tangrang, Banten.
01:09Ada dugaan pagar laut dibangun untuk reklamasi demi kepentingan pengembangan properti.
01:17Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono tampil perdana di program Rossi.
01:22Ia merespon tudingan bahwa sebagai menteri, ia tidak tegas bertindak karena baru bertindak setelah masalah ini viral.
01:31Ini persis sama seperti apa yang dikatakan oleh Komisi 4 DPR.
01:40Bapaknya nelayan, kok nggak menjadi pelindung nelayan?
01:43Kok seperti saya mendapat kesan, Pak Treng tidak melindungi nelayan, malah ikut serta menunjuk nelayan sebagai biang kerok pemasangan pagar laut ini.
01:54Begini, jangan lupa pertama kali pemerintah yang hadir yang melakukan penyegilan itu KKP loh.
02:02Persis.
02:03Karena KKP melihat disitu bahwa ada kegiatan di laut, pembangunan properti di laut, katakan begitu, yang tidak memiliki izin.
02:17Pada waktu kita cek izinnya nggak dia melakukan pemagaran-pemagaran?
02:21Tidak ada, karena tidak ada pengajuan dan seterusnya maka itu langsung kemudian kita lakukan penyegilan.
02:27Ada 30 km pagar laut, salah nggak Pak?
02:30Salah, sangat salah, itu sangat salah.
02:33Lalu KKP nggak merasa bertanggung jawab?
02:36Ya, kita bertanggung jawab. Tentu kita bertanggung jawab, terutama adalah kepada masyarakat nelayan yang kemudian dia terhambat ketika dia...
02:43Harus menunggu sekian bulan, Agustus 2024, baru mengatakan ini di segel Januari.
02:50Ya, pertama gini, saya minta maaf lah kalau itu terjadi ya.
02:54Tapi yang pasti masyarakat juga harus tahu bahwa kita adalah kementerian atau pemerintah yang hadir pada saat itu yang sekaligus yang pertama kali melakukan penyegilan.
03:05Saya agak tergelitik banyak pertanyaan ketika Pak Treng di istana kalau tidak salah, mengatakan bahwa ini pagar laut ini mau reklamasi alami.
03:14Seolah Bapak sudah memahami apa atau upaya-upaya yang akan dilakukan bagi pengusaha pengembang real estate untuk reklamasi alami dan pagar laut adalah salah satu cara untuk melakukannya.
03:28Iya, jadi begini ya. Setelah kami melihat bahwa itu terstruktur sebetulnya untuk apa, tidak lama kemudian Menteri ATR BPN mengumumkan bahwa di situ sudah terbit sertifikat-sertifikat.
03:45Nah ini yang membuat kami kaget terus terang, oh berarti itu digunakan untuk kepentingan menahan sedimentasi.
03:52Jadi sedimentasi kalau kena ombak itu kemudian bisa tertahan dan seterusnya.
03:57Tapi sudah dibantah itu tidak seperti itu, bahwa itu digunakan untuk kepentingan reklamasi.
04:04Jadi memang batas-batas untuk direklamasi.
04:07Tapi karena di dalamnya ada jaring netnya juga, kalau ada jaringnya itu kan lama-lama tertahan juga.
04:14Itu menurut teori yang saya dapetin gitu ya.
04:18Tapi saya tidak mau berdebat di situ.
04:19Tapi yang pasti saya tahu bahwa itu untuk kepentingan reklamasi adalah ketika Menteri ATR BPN menyampaikan ada diterbitkan sertifikat-sertifikat di dalam air.
04:34Bapak kaget karena ternyata 30 km pagar laut itu memiliki hak guna bangunan dan hak milik.
04:41Jadi gini-gini, ada 30 km pagar laut di situ yang dipagar dari bambu itu, terstruktur pagarnya di situ.
04:50Lalu kemudian di sekitar situ itu ada HGB, guna bangunan atau sertifikat lah apapun namanya yang ada di dalam laut yang terendam dengan air itu.
05:02Saya kaget. Kenapa saya kaget? Karena tidak boleh ada sertifikat di dalam laut, itu nggak bisa.
05:08Undang-undangnya kan begitu mengatakan.
05:11Jadi kalau sampai itu ada, wah baru pikiran saya kepikir, oh ini tujuannya untuk kesana.
05:16Itu saya lalu kemudian, oh...
05:18Tujuannya untuk kesana kemana?
05:20Ya lalu saya sampaikan, oh kalau gitu ini bisa jadi untuk kepentingan reklamasi secara natural.
05:26Saya katakan begitu. Nah terhadap yang dikasihkan sertifikat itu. Kan begitu.
05:31Tapi saya tidak bisa menunjuk langsung kan, nggak boleh. Nanti saya ditunjuk, saya dituntut lagi.
05:35Kenapa takut?
05:37Ya kalau salah, ntar gimana? Kalau salah ternyata dia nggak, kan bisa jadi dia nggak.
05:42Kan Bapak punya perangkat semua, Bapak sudah melihat, Bapak memiliki perangkat untuk mengetahui semuanya.
05:48Kementerian, Menteri ATR BPN juga sudah memberikan indikasi yang...
05:53Iya kita, kita sudah kerja, kita sekarang kerjasama dengan ATR BPN.
05:56Jadi sudah rapat dengan menterinya, sudah ketemu sama menterinya, mereka melakukan investigasi.
06:02Kita tunggu aja hasil dari investigasinya si ATR BPN juga.
06:07Tapi sisi lain kami tetap, apa namanya, mencari siapa yang melakukan pemanggaraan ini.
06:14Tanggal 6 Januari 2025 lalu adalah tanggal yang ditandai dengan percakapan seru pecinta sepak bola.
06:26PSSI resmi memecat pelatih tim Nas yang banyak diidolakan publik, yaitu Shin Taeyong.
06:33Pilihan pelatih tim Nas pengganti Shin Taeyong juga jadi kejutan.
06:36Kemudian, Erik Thohir menunjuk Patrick Kluvert sebagai pelatih baru dengan kontrak hingga 2027.
06:43Erik Thohir menjawab keraguan publik, apakah Kluvert mampu membuat tim Nas lebih baik lagi?
06:51Kenapa Patrick Kluvert?
06:52Banyak pilihan, kita ada 15 awalnya, dari 15 kita sortir lagi jadi 5.
06:58Nah, karena memilih pelatih dan tentu timnya ya, kan kita juga mesti lihat baju kita.
07:05Kita ini masih ranking 120-130 di dunia.
07:09Jadi, kita juga mesti tahu mana pelatih yang available, mana pelatih yang interest,
07:15mana juga resiko-resiko ini yang bisa kita perhitungkan untuk memastikan tadi mimpi kita ini berlanjut.
07:21Jadi, pertimbangan ini kompleks.
07:24Saya mau masuk Pak Erik, karena pada saat press conference, Pak Erik juga mengatakan bahwa
07:30saya sengaja ngecek wawancara di tanggal 25 Desember itu untuk banyak orang Eropa
07:36tidak melulut tentang perayaan agama, tapi family thing, dan lain sebagainya.
07:40Dan itu ngetes komitmennya.
07:41Tetapi, pernyataan Pak Erik ini juga dikritik oleh banyak orang,
07:44karena ngetes orang di 25 Desember, Patrick Kluvert datang,
07:49ya karena memang cari kerja saja.
07:51Jadi, Pak Erik tidak melihat dari sisi kompetensinya ada orang yang benar-benar lagi butuh pekerjaan.
07:56Tidak, tidak.
07:57Gini, saya ini kan punya jabatan lain di negara.
08:02Saya itu kalau ke luar negeri mesti ada exit permit.
08:06Dan exit permitnya memang hanya dikasih pada waktu-waktu tertentu.
08:11Nah, setelah kita sortir 15 menjadi 5, ini semua pakai versi online, video, apa,
08:19kemistrinya tidak dapat.
08:20Kita harus benar-benar ketemu yang kita...
08:23Makanya saya sempatkan ke sana dengan izin ya, bukan dengan selanang-selonong gitu.
08:28Nah, di situ kita kesempatan ada interview.
08:30Dan kebetulan window-nya, jendelanya memang yang kompleksitasnya seperti itu.
08:35Saya mendarat jam 6 harus langsung buka interview dari jam 10 sampai jam 4 sore.
08:41Dan itu tidak hanya tentu Patrick, ada beberapa asisten, ada beberapa juga yang kita interview.
08:48Karena ini kan is a team.
08:49Ya, karena ketika itu Pak Eri katakan, kemudian jawaban pencinta bola, ya elah, kriterinya aja gitu amat.
08:56Ya enggak lah, itu kan saya menyampaikan bahwa dari sebagian ini memang kita lihat juga komitmen-komitmennya.
09:04Kalau membaca dari mood-nya pencinta bola, ketika mereka kecewa, STI dipecat,
09:09dan kemudian penggantinya, maaf, ya cuman segini aja gitu.
09:15Yang tidak memiliki track record pelatih.
09:18Dia mungkin legenda pemain, tetapi tidak pelatih.
09:21Tapi harus diberi kesempatan, karena ini kan pilihan yang kita sudah ambil gitu.
09:25Dan kita coba dengan kalkulsin baik.
09:28Dan gini loh, kalau masalah out-outan ya, setelah piala IFF pun ada Eric out.
09:35Saya juga bingung kadang-kadang.
09:36Ini sepak bola kita enggak sehat.
09:39Kenapa? Coach Justin yang saya rasa pro STI, yang sangat saya rasa profesional,
09:46ketika di ujung ada kritik, di buzzer abis.
09:49Orang mengatakan bahwa dia di band di Eropa karena menjadi band dan besar komunitas judi internasional.
09:54Apakah background check ini tidak, Pak Eric?
09:56Semua kita sudah check.
09:57Ketika kita bicara dengan banyak pihak, jaringan saya kan cukup kuat di Eropa.
10:03Saya kembali, saya bukan riak, bukan sombong.
10:06Kebetulan kenapa track recordnya ada gitu.
10:09Bukan ujuk-ujuk datang ke Eropa, enggak jelas gitu.
10:13Jadi network saya luar biasa di Eropa.
10:15Hubungan Indonesia sekarang dengan FIFA tidak mungkin seperti ini karena tidak ada track record yang baik.
10:21Perjuangan panjang Timnas Indonesia berakhir pahit.
10:27Timnas tersingkir dari kualifikasi Piala Dunia 2026.
10:32Kegagalan ini membuat pencinta sepak bola di Indonesia sangat kecewa.
10:39Dan pada 16 Oktober 2025, PSSI akhirnya memecat Patrick Kluver dari pelatih Timnas Indonesia.
10:47Pemirsa setia program Rossi, saat Imlek tahun lalu, saya mewancarai legenda bulu tangkis Indonesia yang dijuluki sebagai The Giant Killer.
11:00Tanyu Hock, ia adalah pahlawan bulu tangkis Indonesia.
11:04Karena menjadi orang Indonesia pertama yang menjuarai All England pada tahun 1959.
11:13Dan meraih medali emas Asian Games pada tahun 1962.
11:21Dia juga bagian dari tim yang pertama kali membawa pulang Piala Thomas tahun 1958 untuk Indonesia.
11:31Meski berprestasi sungguh gemilang, motivasi utamanya bukan uang, tapi nasionalisme.
11:43Juara All England, juara Thomas Cup.
11:48Bapak mengatakan bahwa karena itu tidak saja sekedar juara, tapi nasionalisme yang ditanamkan oleh Bung Karno.
11:55Ini ada gambarnya Bapak foto dengan Bung Karno.
11:59Karena beliau itu bukan olahraga wan, mungkin tidak pernah.
12:04Tapi begitu memperhatikan kepada kami-kami ini, ditanamkan itu rasa nasionalisme itu luar biasa.
12:11Jadi orang kan tidak bisa hanya dikit-dikit kasih uang.
12:17Jangan dulu enggak ada, Pak Rosi.
12:21Tanamkan.
12:24Belakangan saya baru sadar bahwa di atas segala-galanya itu adalah nasionalisme.
12:33Itu yang saya senang itu.
12:38Alangkah bahagianya waktu bendera merah putih naik, lagu kebangsaan dikumanangkan, wah, enggak ada duanya dah.
12:49Bung Karno kalau enggak salah, saya membaca artikel tentang Pak Tan.
12:57Bung Karno pernah ngasih hadiah uang kalau enggak salah, Pak Tan.
13:00Karena Pak Tan itu juara dunia.
13:02Saya kaget waktu saya kembali ke kampus.
13:07Ada amplop.
13:11Saya tidak berani buka bilang terus-terranya, Pak Rosi.
13:14Waduh, saya bilang, ada apaan ini ya?
13:17Saya suruh teman saya, si George.
13:20George Seng namanya, orang dari Singapura.
13:22Dia sambil melalui, eh, katanya, Joe, what seems to be the problem?
13:30Saya bilang, no, no problem.
13:31I just wish when I'm an envelope, saya bilang from...
13:35The president?
13:38Not the president, from Indonesian embassy.
13:43Open it for me, please, George.
13:45Dia sambil ketawa-ketawa.
13:48Dia bukain pelan-pelan.
13:49Begitu dilihat, cek seribu dolar.
13:54Zaman itu?
13:54Zaman itu.
13:55Tahun berapa tuh, Pak?
13:56Lima puluh...
13:57Bukan, enam puluh satu.
13:58Nama satu.
13:59Tahun enam satu, seribu dolar itu...
14:02Besar.
14:04Gede banget.
14:05Iya, mobil kepala aja baru dua ribu dolar.
14:08Bapak dapet...
14:10Seribu dolar itu perman tiap bulan.
14:13Jadi saya bilang, aduh, enggak lah saya kembaliin.
14:17Serius, dibalikin.
14:19Balikin.
14:19Seribu dolar, masa itu, tahun enam puluhan.
14:22Itu bisa, mungkin kisarannya lima ratus juta, tujuh ratus juta, mungkin satu miliar.
14:27Kalau dikumpulkan, bayanginnya itu tiap bulan seribu dolar.
14:32Kenapa ditolak?
14:34Zaman dulu orang itu enggak itu.
14:36Saya bilang, saya istilahnya diangkat saja, disayang sama Bukaro, saya sudah senang.
14:44Kenapa mesti, saya sudah cukup, saya dikasih makan, tiga kali sama Universitas saya.
14:50Apalagi, saya punya part-time job di kampus, jadi mudah happy lah.
14:59Selamat tahun baru Imlek, salam hormat saya untuk keluarga, 88 tahun juara dunia, bulu tangkis, Tan Yuhok tetap tajam, tetap memiliki memori yang luar biasa, fisik luar biasa.
15:13Tetapi satu yang saya dapatkan, kepekaan, dan selalu mencintai Indonesia.
15:20Terima kasih Pak Tan.
15:21Terima kasih, karena ini tanah air saya.
15:24Saya lahir di sini, nanti saya pulang juga di sini, dari sini.
15:29That's it.
15:29Pada tanggal 2 Juni 2025 lalu, di usia yang ke-88 tahun, legenda bulu tangkis Indonesia, Tan Yuhok, meninggal dunia.
15:45Seorang legenda atlet bulu tangkis sejak era Presiden Soekarno, yang menjadi panutan bagi banyak orang.
15:52Indonesia Gelap, tolong jangan dilihat sebagai bentuk kebencian, bentuk provokasi, atau bentuk ketidaksukaan, atau selalu menitik beratkan, oh ini kepentingan pololitik tertentu nih.
16:08Februari 2025, mahasiswa dan koalisi masyarakat sipil memunculkan tagar Indonesia Gelap.
16:16Kenapa?
16:18Karena pesimis dengan kondisi tanah air.
16:20Karena ada kebijakan yang dianggap kurang adil, lalu juga ada soal pengangguran yang makin meningkat.
16:28Mereka yang membuat tagar Indonesia Gelap meminta, agar pemerintah tidak melihat aksi ini sebagai aksi anti-pemerintah, atau benci.
16:36Tapi, justru harus dilihat sebagai kepedulian dan kecintaan anak muda, supaya Indonesia lebih baik.
16:44Saya mewancarai Ferry Irwandi.
16:46Ia menjelaskan kenapa ia banyak bersuara kritis tentang kondisi tanah air.
16:52Kita melihat mahasiswa dengan tagar Indonesia Gelap kali ini.
16:59Pertama ya, saya punya perspektif sendiri soal ini.
17:05Indonesia Gelap, atau semua aktifasi yang dilakukan, bukan cuma sama mahasiswa, tapi koalisi masyarakat sipil ini,
17:12tolong jangan dilihat sebagai bentuk kebencian, bentuk provokasi, atau bentuk ketidaksukaan,
17:17atau selalu menitik beratkan, oh ini kepentingan pololitik tertentu nih.
17:20No. Justru Indonesia Gelap itu, kalau kita lihat dalam sisi yang berbeda, itu memperlihatkan sebuah kepedulian,
17:31kecintaan, bahkan keinginan masyarakat, terutama teman-teman mahasiswa, supaya Indonesia ini lebih baik.
17:38Karena kalau mereka tidak punya itu semua, ya mereka nggak akan peduli gitu.
17:43Mereka nggak akan turun di jalan, mereka nggak akan menghabiskan uang pribadi mereka,
17:46mereka tidak akan meresikokan keselamatan diri mereka, mereka tidak akan melakukan apapun yang mereka lakukan sekarang.
17:53Kalau ini cuma semata-mata, eh, ada arahan pihak tertentu, ada kelompok tertentu,
17:59untuk, eh, kita rame-rame yuk ke situ, karena kita punya kepentingan ini,
18:02nanti, no, terlalu kecil untuk melihat semua demo atau semua aktifasi Indonesia Gelap ini sebagai sesuatu yang,
18:09ya, sifatnya kebencian atau hasutan.
18:10Nah, mungkin pemerintah bingung kan, kami kan laki-laki melakukan hal yang benar.
18:14Betul, Pak. Benar.
18:16Tapi, ini deh.
18:18Cuma lakuin yang tadi saya bilang,
18:21everything is there.
18:22Semua orang bisa menerima apapun kebijakan yang nantinya dibuat.
18:24Selama?
18:25Selama, ya, selama lakukan dulu untuk apa yang terlihat di publik.
18:31Selama, political will-nya baik.
18:35Political will-nya baik dan representasinya juga baik.
18:38Ini yang kurang.
18:39Ini hal yang sederhana, kurang.
18:41Dan ketika dilakukan, selain berdampak,
18:44trust masyarakat juga akan naik.
18:46Kenapa trust masyarakat kita perlu naik?
18:48Karena ekonomi itu bergerak by sentiment, Pak.
18:51Kita ngomong market, kita ngomong sosial, kita ngomong psikologi.
18:55Dan kalau market, kalau masyarakat tidak bisa punya sentimen yang positif,
18:58tidak bisa punya trust yang baik dengan government-nya,
19:03maka bahkan untuk kebijakan, proyek, dan peraturan yang bagus sekalipun,
19:09itu akan sulit diimplementasikan.
19:11Kalau nggak ada trust dari masyarakatnya.
19:13Keputusan strategis pemerintahan Prabowo juga ditandai dengan membentuk Danantara,
19:22sebuah lembaga untuk mengkonsolidasikan aset-aset BUMN agar terintegrasi dan efisien.
19:29Apa dan bagaimana Danantara bisa jadi lokomotif pertumbuhan ekonomi?
19:32Danantara ini, saya memberi kesempatan pada Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara,
19:40Rusan Ruslani, untuk menjawab keraguan publik tentang Danantara.
19:45Pertanyaan publik diwakili oleh pendiri startup, Raymond Chin.
19:51Danantara ini menurut aku ya, proyek paling ambisius yang pernah dipegang oleh Indonesia dari dia pendekat.
19:58Oke, tapi ternyata dari followers kamu, itu banyak sekali ingin tahu tentang Danantara.
20:04Benar, bahkan kayak yang mahasiswa, bahkan kayak pekerja, dan lain-lain, seluruh kalangan.
20:11Mereka penasaran soal Danantara, soalnya ini kan dimulai dengan statement yang megah sekali.
20:1610 ribu triliun, 14 ribu triliun sebagai fund paling besar top 10 di seluruh dunia,
20:22mengalahkan fund-fund sovereign yang di negara maju.
20:25Which is wow banget untuk Indonesia.
20:26Tapi pertanyaan yang kalau saya, biar gak muter-muter ya Pak,
20:30ujung-ujungnya ke satu pertanyaan,
20:33ini bakal dikorupsi gak Pak?
20:36Nah itu kalau saya harus translate semua netizen saya,
20:39itu pertanyaan paling kritisnya yang bermuara ke satu konklusi sih Pak.
20:43Kita juga paham, dan kita juga tahu,
20:45ini kan integritas menjadi nomor satu dalam hal ini.
20:49Oleh sebab itu, arahan Bapak Presiden,
20:51dan itu menjadi pegangan kita,
20:54jalankan ini dengan apa?
20:55Dengan tata kelola yang benar, yang baik.
20:58Good governance, transparansi,
21:01kehati-hatian, dan integritas.
21:04Karena yang terjadi di Indonesia berdasarkan track record,
21:06plannya bagus-bagus.
21:07Aku melihat program, kebijakan, proyek-proyek,
21:09semuanya itu ambisius,
21:10dan nge-tackle core problem dari masyarakat Indonesia.
21:12Kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan.
21:15That's the end goal.
21:16Tapi selalu ada gap yang lumayan jauh,
21:19dari rencana, strategi, kepada eksekusi.
21:22Di tengah-tengah ini kan good governance,
21:25meritocracy,
21:26memilih berdasarkan profesionalitas yang non-partisan,
21:28non-bias gitu.
21:29Gara-gara sering terjadinya track record,
21:32ini yang miss nih,
21:33strateginya bagus.
21:34Tanpa eksekusi yang bagus,
21:35hasilnya pasti jelek.
21:37Dan itu worry, kritisnya masyarakat sih.
21:40Apa itu make sense gak?
21:41Memang apa yang bisa membutuhkan itu,
21:43ya memang waktu yang akan bisa membutuhkan itu.
21:45Tetapi yang paling penting buat kita,
21:48itu kita work on the system.
21:50Jadi bukan depend on oleh Rosan,
21:53atau oleh Bandu, atau Donny,
21:56tapi kita build the system gitu.
21:58The system yang memang standarnya adalah standar internasional.
22:05Dalam rangka hari Kartini tahun 2025 lalu,
22:08Kompas TV memberi penghargaan lifetime achievement
22:12pada Ibu Negara Presiden keempat Republik Indonesia,
22:16yaitu Ibu Hajah Sinta Nuryah Wahid.
22:20Dalam program Rosi,
22:21Ibu Sinta Wahid bercerita
22:23bagaimana ia terus berjuang.
22:26Kakinya yang lumpuh
22:27akibat kecelakaan mobil
22:29tidak pernah melumpuhkan semangat
22:32dan perjuangannya menegakkan keadilan.
22:34Ada soal toleransi,
22:40menghargai pluralitas.
22:43Ibu Sinta juga menjadi ibu
22:45bagi para perempuan yang mencari keadilan.
22:48Dalam hal ini,
22:48konteksnya adalah bagaimana sering sekali
22:51ada penafsiran yang salah
22:53menempatkan perempuan dalam agama.
22:56Dan saya banyak yang semua tahu
22:59bahwa Ibu Sinta adalah
23:00ibu dari mereka yang mencari keadilan itu.
23:04Sebenarnya bagaimana menempatkan posisi
23:08dalam agama?
23:09Benarkah sepertinya bahwa perempuan memang
23:13ya memang harus tunduk.
23:15Kalau perempuan mau masuk surga,
23:17ya dia harus tunduk pada suami.
23:20Itulah yang membuat kita itu
23:23merasa tidak mendapatkan keadilan.
23:26kita yakin bahwa Tuhan menciptakan manusia itu sama.
23:32Sederajat.
23:34Bahkan dalam Al-Qurqan itu ada dikatakan
23:37Hunna liba sulakum wa antum liba sulah hunna.
23:41Mereka perempuan pakaian bagi kamu laki-laki.
23:46Dan kamu laki-laki adalah pakaian bagi kamu perempuan.
23:51Itu artinya kan sama.
23:52Tidak ada bedanya apapun.
23:55Sama-sama.
23:56Mereka juga pakaian kita
23:58dan kita adalah pakaian mereka.
24:00Apa bedanya?
24:01Maaf ya Bu.
24:03Ibu kan di kursi roda
24:05udah berapa puluh tahun Bu?
24:07Empat?
24:08Saya kecelakaan itu tahun 93.
24:11Jadi kalau sekarangnya 32 tahun hampir.
24:1631 tahun ya.
24:18Dan waktu itu Ibu masih tetap meneruskan kuliah S2 di UI kan Bu?
24:22Iya.
24:24Saya baca Ibu harus ditandu.
24:27Iya.
24:28Karena masalahnya memang tempat saya kuliah itu di lantai 4.
24:34Dan gak ada lift waktu itu Bu?
24:35Ada.
24:36Ada lift.
24:36Tapi suatu semester itu liftnya rusak.
24:41liftnya rusak.
24:43Dan fakultas belum punya duit untuk memperbaiki itu.
24:53Dan mereka bilang,
24:55Bu minta maaf kami tidak punya ruang di bawah untuk Ibu bisa kuliah.
25:01Saya jawab, oh gak apa-apa.
25:03Karena saya merasa bahwa yang butuh ilmu itu adalah saya, bukan fakultas.
25:10Jadi itu.
25:13Jadi Ibu menerima situasi terberat sekalipun.
25:16Iya.
25:16Karena mau mencari ilmu.
25:17Iya.
25:18Karena bukan fakultas yang membutuhkan saya, tapi saya membutuhkan fakultas.
25:23Wow.
25:24Itu yang membutuhkan ilmu.
25:26Jadi karena itu, saya menganggap bahwa ini adalah tantangan buat saya.
25:32Saya harus mencari jalan bagaimana saya mengatasi tantangan ini.
25:37Saya akhirnya membeli kursi plastik itu loh.
25:44Kursi plastik yang ada lengannya tapi.
25:46Kemudian saya membeli dua pilah bambu.
25:49Saya potong.
25:50Bambunya saya ikatkan di bawah.
25:53Di bawah kursi diikat untuk membawa saya ke atas.
25:57Saya minta tolong subir atau satpam dan sebagainya.
26:03Dan ketika saya dibawa ke atas, ditandu dengan itu.
26:07Saya membesarkan hadis saya dengan mengatakan.
26:10Nah, sekarang kan saya sudah seperti Jenderal Sudirman.
26:16Bedanya kalau Jenderal Sudirman ditandu untuk merebut kemerdekaan Indonesia.
26:23Tapi saya ditandu untuk merebut masa depan saya.
26:28Pak Jokowi itu tidak pernah lulus.
26:31Sejabat.
26:32Saya memegang sendiri skripsi atas nama Jokowi Dodo dan tidak ada lembar pengesahan penguji.
26:38Terus Profesor Kuncoro punya data.
26:39Saya punya data, saya bisa melihat.
26:44April 2025, dunia kesehatan di tanah air digemparkan
26:49dengan sejumlah kasus kejahatan yang dilakukan oleh oknum dokter.
26:54Seperti kasus pelecehan seksual.
26:56Dan juga perundungan yang dilakukan senior ke junior di fakultas kedokteran.
27:01Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan ia akan bertindak tegas.
27:06Saya mulai dulu soal tersangka perigunaan Ugra.
27:12Seorang residen anestesi dari program pendidikan dokter spesialis fakultas kedokteran UNPAD.
27:19Dia memiliki akses obat bius, ya dokter spesialis anestesi pasti.
27:24Tapi kemudian dia memperkosa pasiennya dan keluarga korbannya.
27:29Pak Menkes, Anda selalu mengatakan ingin mentransformasi pelayanan kesehatan.
27:36Apanya yang mau transformasi kalau kelakuan dokter bisa maaf sebiadab ini?
27:42Saya pertama, ya masih lihat judulnya kan kaget juga.
27:48Tadi saya lihat, oh judulnya seperti ini.
27:50Tapi setelah saya pikir lagi, Mbak Rosi itu kalau taruh judul kan pasti mikirnya panjang gitu.
27:56Dan saya sebagai seorang manusia lihat,
27:59kalau kita malam, pasti ada paginya kan.
28:03Setiap gelap, pasti ada terangnya.
28:05Kita masuk perowongan, gelap, pasti keluarnya terang.
28:08Jadi kalau saya melihat, Ibu Kartini aja nulis buku habis gelap terbitlah terang.
28:13Jadi saya nggak melihat bahwa gelap ini sesuatu yang harus kita takuti dan kemudian mengerikan.
28:19Sorry Pak Menkes, takut.
28:21Takut dokter spesialis pemegang obat bius,
28:24menyuntikkan obat bius ke pasien dan kemudian memperkosa.
28:28Anggota keluarga juga memperkosa, itu awan gelap.
28:30Setuju, itu setuju.
28:32Kalau kelakuan dokter spesialis seperti ini.
28:34Tujuan saya adalah, kita tidak bisa kemudian terus berhenti di malam hari atau di dalam perowongan.
28:43Kita harus maju merubah diri kita supaya kita masuk ke alam yang lebih terang.
28:49Nah saya ingin sampaikan begini,
28:51kejadian itu sangat menyedihkan buat saya sebagai Menteri Kesehatan.
28:56Dan saya sangat berempati kepada keluarganya.
29:02Ini banyak kejadian-kejadian yang kadang-kadang kita bicara ke topiknya,
29:07tapi kita melupakan bahwa dampak ke orang yang terkenanya itu luar biasa.
29:12Nah itu yang saya bilang, oknum-oknum seperti ini, ini kita harus beresin.
29:18Kalau kita lihat satu, mungkin kejadiannya ada lebih dari ini.
29:22Pak Menkes berulang kali mengatakan bahwa harus ada yang diperbaiki.
29:28Dan kemudian Pak Menkes kan selalu juga mengatakan ini untuk transformasi pelayanan kesehatan.
29:34Tapi ini kan terjadi.
29:35Jadi kemana aja selama ini?
29:37Pak Menkes kan udah lebih dari 5 tahun.
29:39Belum 5 tahunnya nanti 23 Desember 2025.
29:44Karena saya dekatkan 2020.
29:46Maksud saya, jadi kemana aja Menteri Kesehatan?
29:48Saya kan memang 2 tahun pertama ngurusin COVID lah.
29:52Saya mesti deliver 400 juta suntikan ke 200 juta masyarakat Indonesia di 7000 pulau secepat-cepatnya.
29:59Jadi 2 tahun pertama nggak kerja saya teruskan.
30:01Kerjanya Menteri Vaksin kalau udah dikerja.
30:03Benar karena saya pengen nyelamati nyawa.
30:06Nah sekarang saya baru kerja.
30:07Kerja begitu saya lihat, dibuka sama Kompas.
30:10Itu saya kerja bertahap.
30:12Nah sama, saya beresin dulu sistemnya.
30:13Pengaduannya masuk seperti itu.
30:15Terkejut kita lihat begitu banyak.
30:16Saya kirim auditor ke sana.
30:18Oh ribut.
30:19Karena ini kan lahannya bisa overall kerjasama sama Irjen Kementerian Dikti.
30:23Jadi yang diundit itu masuknya sama Irjen Kementerian Dikti.
30:25Waktu jamannya menteri semua masuk, kita perbagi, apa perbagi.
30:29Eh ada kejadian lagi.
30:31Dan terus kejadian.
30:31Itu memberikan masukan ke kita memang cukup banyak yang harus diperbagi.
30:36Saya akui saya belum merasakan semua.
30:38Tapi sekarang kemajuan yang ada udah jauh berbeda dengan sebelumnya.
30:43Nah salah satu yang saya harus saya rasa harus perbagi.
30:46Kita harus tenggas.
30:47Mei 2025, Badan Narkotika Nasional, Beacukai, dan TNI Angkatan Laut menyita 2 ton sabu
30:59yang disebut sebagai tangkapan terbesar sepanjang sejarah pemberantasan narkotika di Indonesia.
31:05Kepala BNN, Komjen Martinus Hukom mengungkapkan bagaimana operasi ini berlangsung dan berhasil di program ROSI.
31:13Terus ketika menggagalkan operasi peredaran narkoba ini, apakah sebelumnya sudah tahu ini going to be big fish
31:24atau begitu operasi tangkap kapal ini baru tahu, wow, 2 ton ya Pak ya.
31:32Itu menduga sebelumnya atau sudah mencium sebelumnya?
31:35Apakah ini big fish? Lalu saya ingin sampaikan begini bahwa sebelum ini kita sudah pernah menangkap satu kapal lagi.
31:46Tapi pada waktu itu kita belum melihat polanya seperti apa.
31:51Dan ternyata kapal yang kita tangkap pertama itu dengan kapal yang sekarang ini ada dalam satu hubungan sindikat.
31:58Lalu karena menangkap pertama itu kosong, saya harus berpikir gini, masa kali ini juga kosong juga.
32:06Padahal kita sudah melakukan analisa yang sangat mendalam dan matang.
32:12Jadi sebenarnya momentumlah yang membuat ini menjadi besar.
32:17Dan bagaimana kemampuan kita menganalisa untuk menemukan, untuk memberikan satu kesimpulan,
32:26apakah kapal ini sudah memuat barang atau belum?
32:30Menemukan ada 2 ton sabu ya barangnya Pak Martinus?
32:35Iya.
32:37Metam vitamin bahasa kimianya metam vitamin, bahasa jalanannya sabu.
32:42Sabu, apakah memang jumlah itu sesuatu yang sudah bagian dari yang terdeteksi?
32:48Atau ini tetap jadi jumlah yang wow?
32:52Sebenarnya kita tidak, apa ya, saya tidak berpikir harus 2 ton itu loh, manusia dapat-mendapat 2 ton itu.
33:00Karena biasanya kan kapal-kapal yang besar itu yang kita tangkap selama ini kan hanya 1,3, 1,6 paling tinggi.
33:10Lalu kemarin itu angkatan laut menangkap untuk sabu 700 kilogram,
33:17walaupun di sampingnya ada jumlah yang besar yang lain.
33:21Tapi ketika sudah menghitung pun, saya masih belum yakin ini 2 ton.
33:26Benar gak ini 2 ton?
33:27Betul, iya.
33:28Karena betul dari lambung kapal atau di haluan kapal itu dikeluarkan,
33:33hitungan 1,31 koli.
33:39Saya turun lagi ke kamar mesin, saya lihat kamar ruangannya kecil.
33:43Wah ini gak mungkin sampai 20 koli di situ, karena ruangannya kecil.
33:47Ternyata di dalam kapal itu kebawa lagi mereka simpan di dalam, semakin dalam.
33:52Jadi seluruh isi kapal itu bisa dibilang isinya sabu ya?
33:54Nah, no. Hanya ada 2 kompartemen di situ, kompartemen yang paling depan di haluan,
33:59dan satu di samping mesin kapal, samping kanan.
34:02Itu kan kecil tadi Pak Martinus.
34:03Betul, tapi ternyata ruangannya itu dalam.
34:06Dalam.
34:07Oh.
34:11Sepanjang tahun 2025, publik diramaikan terus dengan kasus ijazah Presiden ke-7, Joko Widodo.
34:19Di program ROSI, Ketua Dewan Guru Besar UGM tahun 2018-2021, Profesor Kunchoro,
34:27menyayangkan sikap para penuding ijazah palsu Jokowi,
34:32karena ulah mereka menghancurkan nama baik UGM.
34:36Namun, Rizmon Sianipar bersikukuh.
34:41Ini ia lakukan sebagai bentuk cinta negara dan alma mater.
34:45Ia meyakini, sebagai alumni UGM, ia dapat membuktikan bahwa ijazah Jokowi memang palsu.
34:54Prof, seberapa penting sebenarnya Prof Liat sebagai seorang mantan guru besar UGM,
35:00kegigihan dalam tanda kutip, para alumni UGM, ya ada, Bung Rizmon tentu tidak sendiri,
35:06untuk terus menerus menelisik soal ijazah Pak Jokowi.
35:09Pertanyaan saya adalah dalam kapasitas apa menelisik?
35:13Untuk apa mereka menelisik?
35:14Silahkan ditanyakan, untuk apa Anda menelisik?
35:17Pertama, karena kecintaan kami kepada alma mater kami.
35:21Yang kedua, kecintaan kami pada Republik ini,
35:24supaya besok target saya bukan Pak Jokowi atau memenjarakan Pak Jokowi,
35:29tetapi target saya adalah supaya KPU,
35:32mulai KPUD sampai KPU itu dalam seleksi calon pemimpin kita,
35:37itu harus tertib, tidak meninggalkan gray area semacam ini.
35:41Ya tadi itu saya tanya kepada, saya datang sendiri KPUD Surakarta,
35:45tidak ada memang berita acara verifikasi antara UGM dengan KPUD Surakarta,
35:51bagaimana ini?
35:52Jadi kalau, apa namanya, wilayah-wilayah atau warna-warna abu-abu ini
35:57ada pada calon pemimpin bangsa kita,
35:59hancurlah Republik ini.
36:01Karena kecintaan pada Republik?
36:03Dan kecintaan pada alma mater.
36:05Pertanyaan saya adalah, konsistenkah beliau berlaku itu?
36:09Apakah kalau yang namanya kecintaan itu harus melihat kekurangan-kekurangan?
36:13Kenapa tidak melalui forum yang benar saja?
36:16Begitu.
36:18Kalau seperti ini yang terjadikan, kemudian yang dijelek-jelekan,
36:21itu adalah UGM-nya.
36:22Forum benar seperti apa, Prof?
36:24Sekarang kalau misalnya yang terjadi seperti itu adalah di KPU,
36:28kenapa seperti ini?
36:29Kalau tadi dikatakan bahwa mereka hanya diperoleh legalisirnya,
36:34lah di mana-mana kalau pada waktu itu yang berlaku hanya legalisir.
36:38Sekarang kita lihat taturannya bagaimana.
36:41Gitu loh.
36:42Kalau aturannya legalisir, ya itu ya memang seperti itu bagaimana?
36:45Pak Jokowi itu tidak pernah lulusan jalan.
36:47Bentar.
36:48Bentar, Pak.
36:49Jadi, jadi begini.
36:52Jadi, temuan saya sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Prof. Sofian Effendi.
36:57Maret 2015, saya memegang sendiri, Prof.
37:02Saya memegang sendiri skripsi atas nama Joko Widodo dan tidak ada lembar pengesahan penguji.
37:08Nama penguji tidak ada apalagi tanda tangannya.
37:12Berkesesuaian dengan keterangan Prof. Sofian Effendi ketika saya wawancarai.
37:15Yaitu, ya, ketika Prof. Sofian Effendi menanyakan ke pihak Fakultas Kota Non-UGM, ya, disitu dikatakan, ya, didapatkan pernyataan bahwa memang skripsi itu belum diuji atau tidak diuji.
37:31Ya, ya, karena ini saya potongkan ada tiga hal yang karena meloncat-loncat.
37:36Yang pertama, itu mengatakan tadi bahwa nilai D itu tidak lulus.
37:41Siapa yang bilang?
37:42Prof. Sofian Effendi.
37:43Nilai D itu nilainya satu, itu lulus.
37:49Yang tidak lulus itu adalah E.
37:52Mata kuliah dasar umum, Prof.
37:54Bukan mata kuliah lainnya.
37:56Mata kuliah dasar umum di UGM sesuai dengan pernyataan Prof. Sofian Effendi.
38:01Bahwa ada seleksi empat semester.
38:03Itu berlaku di semua fakultas.
38:05Saya setuju bertanya, Prof. Sofian Effendi itu kok ngurusi Jokowi itu dari mana?
38:12Dia tidak pernah bertemu dengan Jokowi.
38:15Pak Sofian Effendi menjadi rektor tahun 2002, begitu.
38:20Sehingga yang terjadi, apakah jadi rektor dia pada waktu Jokowi belum apa-apa pada waktu itu.
38:26Sehingga dia tidak punya data.
38:28Data barangkali hanya dari orang-orang yang memberikan pandan dia dan data itu adalah salah.
38:32Tapi bukan pada sumber yang benar.
38:34Terus Prof. Kuncoro punya data?
38:36Saya punya data, saya bisa melihat.
38:38Artinya saya bisa katakan, saya KRS itu saya punya data.
38:42KRS?
38:43Iya.
38:43Tetapi transkrip nilai akhir itu sudah.
38:44Lu tahu, KRS itu kan ada hasil nilai.
38:47Bukan KRS, tapi KHS, kartu hasil seladri.
38:50Itu kan ada hasil nilainya.
38:51Sebelum luluskan di UGM, diberikan transkrip nilai akhir.
38:54Itu tulisan anggota atau...
38:54Dasarnya kan KHS, dasarnya kan kartu hasil nilai.
38:57Hingga kini, kasus tudingan ijasa palsu Jokowi sudah bergulir di ranah hukum.
39:05Polda Metro Jaya telah menetapkan delapan orang tersangka dalam perkara pencemaran nama baik, fitnah, dan manipulasi data yang dilaporkan oleh Jokowi.
39:15Di antaranya yang menjadi tersangka adalah Rizmon Sianipar.
39:21Gelombang aksi unjuk rasa pada akhir Agustus 2025 jadi catatan penting perjalanan bangsa.
39:29Polri didesak untuk melakukan reformasi menyeluruh.
39:33Salah satu tuntutannya adalah copot K. Polri.
39:36Secara eksklusif di program ROSI, K. Polri Listio Sigit menjawab tuntutan ini.
39:42Penilaian soal polisi menangani demonstrasi itu secara meluas dan rasanya hampir merata.
39:51Tidak saja dari tuntutan yang selama ini kita dengar di 17.8, kita juga tahu ada gerakan hurani bangsa
39:57memerintahkan kepolisian untuk secepatnya mengevaluasi dan menata ulang kebijakannya
40:03agar tidak menimbulkan tindakan eksesif yang melanggar HAM dan hak konstitusional warga lainnya.
40:09Artinya Pak Kapolri, ada hal mendasar yang memang perlu menjadi perhatian polisi dalam penanganan demonstrasi.
40:18Jadi tentunya di setiap tahapan penanganan aksi, khususnya yang menjadi perhatian publik,
40:28kita terus melakukan evaluasi tentunya.
40:30Tentunya terhadap pelanggaran yang terjadi, khususnya SOP yang diatur,
40:39tentunya kita juga akan melakukan penindakan terhadap anggota-anggota.
40:44Dan kita juga lebih senang apabila pendekatan yang kita lakukan pun juga pendekatan yang lebih humanis,
40:54pendekatan-pendekatan yang mengedepankan kegiatan-kegiatan yang bersifat dialog,
41:03itu tentunya menjadi hal yang kita harapkan.
41:07Dan tentunya ini juga kita titip juga kepada teman-teman bahwa polisi menjaga ruang demokrasi.
41:15Sepanjang hal tersebut dilaksanakan dengan cara-cara yang tertib.
41:21Karena memang undang-undangnya mengatur demikian.
41:24Kalau melanggar, kita memiliki kewenangan untuk memberikan mulai dari yang bersifat peringatan
41:33sampai kita melakukan tindakan tegas terukur.
41:37Mengapa ketika semacam pertanggung jawaban moral Pak Kapolri,
41:43ketika memang ada hari-hari di mana situasi di mana keamanan dianggap
41:50yang menjadi tanggung jawab Polri itu kemudian terasa lumpuh,
41:53mengapa pilihan mundur tidak menjadi bagian dari tanggung jawab moral Bapak?
41:58Ya karena memang kondisi itu bukan membuat menjadi semakin baik, justru sebaliknya.
42:07Mereka butuh figur yang berani mengambil posisi tanggung jawab.
42:15Dan saat itu kita sudah dalam diskusi yang sebaiknya bagaimana.
42:22Dan saya juga sudah sampaikan bahwa saya siap mengambil resiko apapun dan saya siap dicopot.
42:29Dan itu saya sampaikan kepada para pejabat pertama saat itu.
42:32Sebelum kemudian saya mengambil langkah dan perintah untuk anggota berani mengambil langkah tegas.
42:40Jadi itu yang penting buat anggota pada saat itu.
42:44Karena saya mundur tidak menyelesaikan masalah.
42:47Justru mungkin akan semakin parah.
42:50Tanaman sawit itu arogan banget.
42:52Nah sekarang hutan kita itu multikultur.
42:59Terus mau diganti.
43:01Saya ini cuma mikir kan.
43:03Padahal ini kan pemberian seapa sih?
43:05Kan ini Gusti Allah juga.
43:06Selamat menikmati.
43:36Di penghujung tahun 2025, Indonesia kembali diuji oleh rentetan bencana.
43:56Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat luluh lantak.
43:59Diterjang banjir bandang hingga longsor yang mengakibatkan begitu banyak korban.
44:04Ini mengingatkan kita bahwa alam sedang memberi peringatan keras.
44:11Peringatan yang sebetulnya sudah lama kita abaikan.
44:15Kita belajar bahwa merawat lingkungan bukan lagi pilihan, tapi sebuah keharusan.
44:22Sebelumnya saya berkesempatan mewawancarai Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri.
44:31Ia mengajak kita untuk kembali mencintai lingkungan.
44:34Bersama kita merawat bumi pertiwi.
44:40Ibu paling sakit hati melihat pohon ditebang seenaknya.
44:44Yes, of course, karena apa? Dia orang ini kan hanya taunya duit ya.
44:51Terus kok gak mikirin ya.
44:53Saya sangat menjaga sekarang.
44:56Yang namanya kearifan lokal.
44:59Sebagai sebuah contoh, saya sangat banyak kenalan orang Dayak.
45:03Karena kalau saya lihat, mereka itulah perawat ya.
45:08Dari yang namanya hutan ya.
45:12Kalau hutan kita semua ditebang,
45:15untuk menghidupkannya kembali menjadi hutan seperti apa yang menjadi permintaan orang Dayak.
45:21Berapa tahun?
45:21Kaling tidak, nanam pohon itu menjadi agak besar, itu lima tahun.
45:27Saya tahu ada banyak teman itu membuat perkebunan sawit.
45:37Nah, saya tahu bahwa sawit ini adalah sebuah jenis tanaman yang arogan.
45:44Betul.
45:44Arogan maksudnya?
45:45Begini, dia itu sangat manja.
45:48Jadi, umpamanya gini, jenis family-nya adalah palmai.
45:57Terus, itu jadi seperti kelapa, sagu, sawit.
46:04Kalau kelapa itu, dia umpamanya ditanam begini, ya.
46:09Sudah tua, itu ditumbuhkan yang baru.
46:13Di sini itu bisa.
46:15Jadi, dinaungi sama yang sudah tua.
46:18Kalau sawit, tidak bisa.
46:22Jadi, makanya sawit itu juga tidak bisa.
46:25Termasuk monokultur ya, Bu?
46:27Yes.
46:28Itu harus ini, apa?
46:31Jadi, bukannya ribuan hektare itu satu kali nanam.
46:37Jadi, dia mesti dibuat klaster-klaster.
46:40Jadi, umpamanya sini dulu.
46:42Why?
46:42Karena ketika sudah tua, kan ini nggak mau ditanam yang muda.
46:47Harus dibongkar.
46:49Itu yang saya bilang.
46:50Tanaman sawit itu arogan banget.
46:53Nah, sekarang, hutan kita itu multikultur.
46:59Terus mau diganti.
47:01Saya ini cuma mikirkan.
47:03Padahal ini kan pemberian apa sih?
47:05Orang mau bilang ini pulau itu ditanam sama orang, kan enggak.
47:11Kan ini Gusti Allah juga yang meringi ke kita.
47:15Kekayaan seperti ini.
47:17Orang saya suka pikir ini seperti masalah sekarang ini.
47:21Korruption.
47:23Hah?
47:23Iya, tau.
47:25Kalau atas itu, karena tadi udah mulai nyerempet-nyerempet.
47:29Tapi, korruption ini kan juga sebetulnya mematikan lingkungan hidup loh.
47:35Seperti nebang pohon.
47:37Apa nggak mematikan lingkungan hidup?
47:40Karena berpikirnya itu punya siapa sih?
47:43Itu kan punya negara, hutan.
47:45Hah?
47:46Bukannya punya somebody loh.
47:48Betul nggak?
47:50Betul.
47:50Makanya, nggak boleh.
47:52Hutan nggak boleh ditebang.
47:54Oh, katanya.
47:55Tapi, ilegalnya.
47:57Kenyataannya, wah, luar biasa merusi.
48:00Terus, tidak ada loh nursery-nya.
48:02Boleh nanya.
48:02Kalau ada sekian ribu, juga hektar untuk jadi nursery.
48:11Inilah akhir perjumpaan kita.
48:14Terima kasih sudah menjadi penonton setiap program ROSI.
48:18Selamat Tahun Baru 2026.
48:21Tahun penuh harapan baik dan berlimpah berkah.
48:26Saya, Rosiana Silalahi, tetaplah di Kompas TV, independen, terpercaya.
48:32Terima kasih sudah menonton!
48:41Terima kasih telah menonton
Komentar