Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
MEDAN, KOMPAS.TV - Sakit hati dan dendam yang kerap dipicu oleh ancaman menjadi motif pembunuhan yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya di Medan, Sumatera Utara.

Polisi menyebut pembunuhan dipicu oleh perlakuan korban yang kerap melakukan kekerasan dan ancaman terhadap anggota keluarganya. Puncak sakit hati terjadi setelah korban menghapus aplikasi gim daring di ponsel pelaku.

Kasus ini masih terus didalami oleh kepolisian untuk mengungkap secara menyeluruh rangkaian peristiwa yang berujung pada tewasnya sang ibu.

Baca Juga [FULL] Polisi Ungkap Motif-Kronologi Anak Bunuh Ibu di Medan, Ungkap Kondisi Kakak & Ayah di https://www.kompas.tv/nasional/640519/full-polisi-ungkap-motif-kronologi-anak-bunuh-ibu-di-medan-ungkap-kondisi-kakak-ayah

#pembunuhan #anakbunuhibu #medan #kriminal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/640530/deret-fakta-kronologi-kasus-anak-bunuh-ibu-kandung-di-medan-berut
Transkrip
00:00Kita keserotan lain, sederat sakit hati dan dendam kerap diancam menjadi motif pembunuhan yang dilakukan anak terhadap ibu kandung di Medan Sumatera Utara.
00:14Polisi menyebut pembunuhan dipicu oleh perlakuan korban yang kerap melakukan kekerasan dan ancaman terhadap anggota keluarganya.
00:22Sakit hati memuncak setelah korban menghapus aplikasi game online di ponsel pelaku.
00:30Melihat kekerasan yang dilakukan korban terhadap kakak, adik, dan bapaknya yang diancam menggunakan pisau.
00:47Ini dilihat oleh si adik.
00:49Kemudian melihat kakaknya, maksudnya adik melihat kakaknya yang dipukuli oleh korban menggunakan sapu dan tali pinggan.
01:01Si korban sakit hati karena game online-nya dihapus.
01:05Korban melihat game murder mystery pada season kills others menggunakan pisau.
01:13Dan menonton serial anime DC pada saat adegan pembunuhan menggunakan pisau.
01:21Tak ada yang menyangka, seorang ibu meregang nyawa di tangan anak kandungnya sendiri seperti yang terjadi di Medan, Sumatera Utara.
01:37Sang ibu ditemukan meninggal di rumahnya dengan sejumlah luka di tubuh.
01:42Sakit hati menjadi motif sang anak tega membunuh ibu kandungnya.
01:46Psikolog forensik Irna Minauli menyebut, anak yang berkonflik dengan hukum merupakan anak yang cerdas.
01:54Dari pemeriksaan tidak ditemukan adanya gangguan mental, halusinasi, dan delusi.
01:59Memang secara psikologis, anak ini juga masih labil secara emosional.
02:06Jadi ada keinginan agresivitas yang cukup tinggi, empati yang mungkin masih kurang berkembang.
02:14Kemudian juga kurang berinteraksi secara sosial.
02:21Tetapi hal ini juga lazim terjadi pada anak-anak remaja.
02:27Anak remaja mana yang tidak keras kepala, anak remaja mana yang tidak pemarah misalnya.
02:33Jadi ini overlap antara kecenderungan conduct disorder-nya dengan fase perkembangan remaja yang dia alami.
02:41Jadi kalau dilihat kemungkinan terjadinya peristiwa ini bukan karena adanya gangguan kesehatan mental.
02:52Jadi lebih ke arah misalnya pengalaman kekerasan yang dialami, yang dia saksikan.
02:59Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Sumatera Utara menyebut akan mendampingi anak yang berkonflik dengan hukum.
03:09Mulai dari menjalani proses hukum hingga di persidangan.
03:14Kasus pembunuhan ibu di Medan terjadi Rabu pagi 10 Desember silam.
03:17Korban ditemukan dalam kondisi penuh luka di kamarnya di lantai satu rumah, pukul 5 pagi oleh anak pertamanya.
03:28Kondisi sang ibu mengenaskan dengan sejumlah luka senjata tajam.
03:32Sang suami datang dan melihat anak keduanya memegang pisau lalu melaporkan kejadian ini.
03:38Sebelum ambulans datang, nyawa korban tak tertolong dan meninggal.
03:43Korban dievakuasi ke Rumah Sakit Bayang Karamedan untuk diotopsi.
03:47Tim Liputan, Kompas TV
Komentar

Dianjurkan