Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Denny Sumargo buka suara soal sikap politiknya pasca satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Denny menegaskan, meski secara pribadi tidak merasa terpanggil oleh pilihan calon presiden pada Pilpres lalu, keputusan rakyat tetap harus dihormati dan dijaga.

Hal itu disampaikan Denny Sumargo dalam Program ROSI KompasTV.

"Pak Prabowo ini kan baru setahun. Jujur ya, pilihan presiden kemarin itu enggak ada satu pun yang membuat saya terpanggil. Tapi apa pun yang dipilih masyarakat, kita harus fair," ujar Denny.

Menurut Denny, menjaga stabilitas pemerintahan adalah kepentingan bersama. Ia mengingatkan, kegagalan kepemimpinan nasional akan berdampak langsung pada seluruh rakyat.

Dalam perbincangan tersebut, Denny juga mengungkap pengalamannya pernah dihubungi dan ditawari untuk terlibat langsung dalam dunia politik. Tawaran itu, kata Denny, disertai posisi strategis dan imbalan materi yang menggiurkan.

"Saya pernah ditelepon dan ditawarin untuk menjadi bagian dari politik. Penawarannya sangat menggiurkan," ungkapnya.

Meski demikian, Denny mengaku menolak tawaran tersebut karena merasa belum memiliki panggilan untuk masuk ke ranah kekuasaan.

"Saya merasa belum ke sana panggilan saya. Saya masih harus mengerjakan apa yang saya kerjakan sekarang," ujarnya.

Denny menegaskan, kontribusinya sebagai warga negara tidak harus selalu diwujudkan lewat jabatan politik. Ia memilih membantu dengan kapasitas yang dimiliki, termasuk melalui suara dan ruang diskusi yang ia bangun.

Ia juga menyinggung perubahan fase hidupnya, dari atlet nasional hingga figur publik, sebagai bentuk lain dari bela negara.

"Dulu saya bantu negara lewat atlet. Sekarang mungkin lewat podcast, lewat bersuara," ucapnya.

Namun, Denny menekankan satu batas yang tidak ingin ia langgar, yakni memanfaatkan isu politik dan sosial semata demi eksposur pribadi.

"Saya tidak mau menggunakan suara saya hanya untuk mengejar eksposur. Menunggangi kondisi politik tanpa ketulusan itu tidak fair," tegas Denny.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/NOUUlpA1Brc



#dennysumargo #natal #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/640111/denny-sumargo-akui-pernah-ditawari-jadi-bagian-politik-rosi
Transkrip
00:00Nah, Denso agak khawatir ya kalau penanganannya dianggap mengecewakan,
00:05maka itu bisa membahayakan pemerintahan dalam hal ini Pak Prabowo.
00:10Tadi soalnya kamu nyinggung soal elektabilitas.
00:14Mengganggu, itu satu. Pak Prabowo ini kan baru setahun, menuju empat tahun.
00:19Kalau saya pribadi, saya jujur ya, pilihan presiden yang diberikan kepada saya kemarin itu
00:24gak ada satupun yang membuat saya terpanggil, jujur.
00:27Tapi, apapun yang pilih masyarakat, kita harus fair.
00:31Mau berapa persen yang kita pilih itu Pak Prabowo menang, mau kamu pilih atau enggak,
00:36eh, you harus ke Satria, bro. Ini presiden lu, jaga gitu loh.
00:39Saya ingin menjaga Bapak, supaya pada saat lima tahun Bapak bekerja, Bapak bisa menyelesaikan dengan baik.
00:45Jangan sampai lima tahun itu berakhir pora-pora anda, kita kan juga gak mau gitu.
00:49Karena kalau Bapak kenapa-napa, kita juga kenapa-napa gitu.
00:51By the way, Denso, tapi kalau misalnya ngomong politik gini, pernah gak ditelepon untuk bilang,
00:55Udahlah lu gak usah ikut-ikutan politik gitu.
00:58Saya pernah ditelepon ditawarin untuk menjadi bagian dari politik, dengan penawarannya sangat menggiurkan.
01:04Sudah jadi apa?
01:04Saya gak bisa mocorin, cuma pastinya salah satu, ya penting lah gitu, dengan...
01:12Stafsus?
01:13Ya, ya di daerah situ lah ya. Tapi kemudian saya gak bisa mocorin, kan dia gak enak juga.
01:20Terus kemudian dengan ya nilai-nilai materi yang bisa cukup baik gitu loh.
01:25Kenapa ditolak?
01:26Karena saya ngerasa belum kesana panggilan saya.
01:30Saya masih merasa, saya masih harus mengerjakan apa yang saya harus kerjakan sekarang, tapi saya siap membantu.
01:35Membantu untuk apa? Membantu untuk menjaga negara ini menjadi lebih baik sebagai bagian dari warga negara.
01:40Saya gak ngerasa kontribusi saya gede kok.
01:42Tapi dengan kalau misalnya, dengan apa yang saya punya bisa membantu, saya kasih gitu loh.
01:47Saya mulai ada panggilan kesana karena saya melihat bahwa mungkin usia,
01:50dimana ya sudah waktunya saya...
01:53Sudah berhikmat.
01:54Ya, dulu saya bantu negara lewat jadi atlet.
01:57Bela negara sebagai atlet, sebagai wajah dari tim nasional, wajah dari tim nasional sekarang.
02:02Ya, dengan saya dikasih kepercayaan oleh masyarakat, mungkin lewat podcast, lewat mana ya.
02:06Kalau misalnya saya bisa bantu dengan bersuara, kenapa tidak gitu.
02:10Cuma saya juga tidak mau kemudian saya menggunakan suara saya hanya untuk sekedar mengejar exposure.
02:16Karena untuk mengejar exposure itu buat saya tidak fair sekali.
02:20Kemudian saya menunggangi kondisi politik dan isu sosial yang ada di dalam.
02:25Tapi saya tidak punya ketulusan dalam mengaplikasikan apa yang harus saya kerjakan berupa podcast,
02:30atau berupa memanggil narasumber.
02:33Seolah-olah saya harus jadi berpihak kepada satu sisi.
02:36Itu menurut saya tidak fair sekali.
02:37Oke, jadi kalau soal podcast itu, kamu juga punya purpose ya artinya ya.
02:44Tidak melulu tentang sekedar mencari adsense, mencari viewers.
02:50Tapi, nah itu salah satu keberpihakan terhadap satu isu itu juga seorang Densu miliki.
02:58Aduh, sekali lagi aku masih penasaran.
02:59Jadi, tadi soalnya wah ini jangan sampai menunggangi Pak Prabowo.
03:07Kenapa menurutmu, kan udah kamu sendiri merasa lihat ya bagus, sudah ada di situ TNI POR, ya of course.
03:14Tapi apa aspek politik apa yang menurut kamu ini berbahaya kalau kelamaan ditanganinya dan berbeda dengan persepsi publik saat ini?
03:22Iya, karena setiap pemerintahan itu, setiap kepemimpinan yang ada di situ, pasti ada konternya, gak mungkin gak.
03:30Sejarah sudah menyatakan itu.
03:31Dan tidak mungkin hanya dua sisi.
03:33Yang satu oposisi, pasti ada pihak ketiganya, gak mungkin gak.
03:38Pihak ketiga apa? Yang berhubungan dengan segala sesuatu untuk kepentingan, pasti masalah ini.
03:44Nah, oleh karena itu menurut saya, apa yang sekarang ini dialami oleh Pak Prabowo, pasti akan terguncang dari dua sisi.
03:49Pihak oposisi pasti mengguncang, dari pihak yang ketiga juga pasal.
03:52Kita gak punya oposisi.
03:53Oposisi Pak Prabowo masih gak ada, pasti ada.
03:55Secara di parlemen ya, tidak ada pd perjuangan.
04:01Tetapi kan selama ini kan hubungannya, banyak aktivis bilang, sebenarnya kita gak ada penyeimbang, semuanya kan berjalan.
04:10Dalam sistem pemerintahan, baru era ini, kursi atau persentase di parlemen yang sama dengan eksekutif itu terbesar sepanjang sejarah.
04:21Pak SB, Pak Jokowi itu paling tidak masih ada, mereka yang di parlemen yang tidak ada di kabinet itu paling tidak di atas 20%, di atas 30%, partainya lebih dari satu.
04:35Baru kali ini loh terbesar sepanjang sejarah, hanya satu partai yang di parlemen yang gak ikut eksekutif.
04:40Jadi rasanya mau bilang kita ada oposisi, gak ada tuh.
04:43Ya itu secara apa yang kita lihat, cuma kan di balik layar itu semua kan pasti ada, gak mungkin gak ada.
04:48Ini yang aku bicarakan bukan hanya yang terlihat, tapi apa yang tersirat juga kan pasti ada di situ.
04:54Menurut aku gak mungkin gak ada, dan itu udah pasti ada gitu.
04:57Memunculkan wajahnya itu kan tinggal masalah waktu saja.
05:01Tapi apa yang sekarang terjadi dengan polemik-polemik yang dihadapi di era pemerintahan Pak Prabowo itu menunjukkan kan bahwa pihak itu ada gitu.
05:09Banyak loh di sosial media baser-baser yang kemudian menghantam narasi-narasi pemerintah, di mana pemerintah itu sendiri juga, ya jujur ya, komunikasi publiknya itu memancing.
05:22Membuka ruang.
05:23Membuka ruang untuk digoreng dan ditabrakan gitu loh.
05:26Itu yang saya kadang-kadang menyayang.
05:28Contoh misalnya contoh.
05:29Saya gak berani.
05:31Sudah tahu sendiri lah di publik seperti apa gitu.
05:33Saya merasa kayak, apa sih ini tujuan daripada statement ini tujuannya apa gitu loh, pengen dinunjukin apa gitu loh.
05:42Karena sebuah kalimat yang keluar itu seperti senjata atau pisau yang kemudian dia bisa melukai atau bisa untuk memotong sesuatu demi menolong seseorang gitu.
05:50Jadi kadang-kadang aku ngelihat statement-statement yang keluar, gak mungkin ini orang yang tidak pintar, ini orang pintar semua.
05:57Rata-rata pasti orang sekolah tinggi.
06:00Tapi kenapa statement-statement yang keluar itu seperti seolah-olah ingin memancing bahwa narasi itu bisa kita goreng dan kemudian kita...
06:08Bikin publik marah lah gitu kan.
06:09Marah gitu loh.
06:10Ada hal yang ada di pemerintahan sekarang gak kurang-kurang lah pintarnya gitu.
06:14Menurut aku begitu.
06:15Jadi aku suka menyayangkan bahwa komunikasi antara pemerintah pusat sendiri atau pemerintah daerah sendiri, ya pemerintah lah pada keseluruhan.
06:24Dengan rakyatnya itu kayak orang musuhan.
06:26Jadi kayak aku melihat kayak orang di rumah tangga, yang satu ngomong pakai bahasa apa, yang satu ngomong pakai bahasa apa.
06:33Jadi kayak love language-nya gak nyambung.
06:37Jadi aku ngerasanya gitu.
06:38Nah aku ngerasa kayak ini kalau love language-nya nyambung, ini pasti negara keren banget.
06:43Nah rakyat itu semuanya punya kepentingan yang satu gitu loh.
06:49Rakyat kita itu sabar.
06:51Sabar.
06:53Dari tahun ke tahun bagaimana penderitaan yang mereka alami, luka yang mereka bawa, mereka itu sabar loh.
07:00Jadi jangan kesabaran ini, jangan taken for granted.
07:07Ah kan sabar ini, jadi kemudian bisa jadi semena-mena atau ya lu emang sebagai rakyat ya lu terima aja.
07:14Betul.
Komentar

Dianjurkan