Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dalam program ROSI, Denny Sumargo menegaskan bahwa keberaniannya berbicara bukan bentuk perlawanan, melainkan panggilan hati untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah diterima.

Densu mengaku tidak pernah merasa berada "di tepi jurang", meski kerap membahas isu-isu kritis, termasuk bencana di Sumatera, tanpa mendapat komunikasi langsung dari pihak pemerintahan.

Ia juga menegaskan tidak takut kehilangan pendukung akibat sikap kritis yang ia ambil. Menurutnya, ketulusan menjadi fondasi utama dalam bersuara di ruang publik.

Denny menjelaskan ketertarikannya pada politik bukan semata pada praktik kekuasaan, melainkan pada seluruh aspek kehidupan yang memengaruhi masyarakat. Dari ketertarikan itu, muncul dorongan untuk ikut membantu dan menyuarakan persoalan publik melalui platform yang ia miliki.

"Kadang hati saya terpanggil untuk membantu dan menyuarakan lewat platform saya," katanya.

Dalam mengangkat isu berat seperti bencana, Denny menilai kemasan pesan menjadi kunci.

Denny menyoroti tantangan konten edukatif di era digital. Menurutnya, publik seringkali mengaku membutuhkan konten edukasi, namun pada praktiknya lebih memilih hiburan ringan.

Meski demikian, Denny menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan mengejar jumlah pengikut. Ia meyakini, pengaruh yang kuat justru lahir secara organik dari konten yang memiliki nilai kehidupan.

Ia pun optimistis, konten berbasis cerita dan nilai kemanusiaan akan tetap relevan dalam jangka panjang.



Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/NOUUlpA1Brc



#dennysumargo #natal #politik

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/639783/denny-sumargo-kritis-bahas-isu-politik-berani-main-di-tepi-jurang-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih Anda masih bersama kami di program Rosy.
00:04Edisi Natal kali ini saya bersama Denny Sumargo.
00:06Ia dikenal dengan konten Curhat Dong Bang.
00:09Curhat Bang gak pake dong.
00:11Oh iya dong.
00:12Curhat Bang di podcastnya yang saat ini subscribernya udah 8,78 juta.
00:18Enggak, 8 jutaan lebih lah gitu.
00:21Emang kenapa sih kalau patokan subscriber ya?
00:24Orang-orang tuh selalu melihat podcast besar tuh patokannya subscriber ya?
00:27Iya, itu menunjukkan bahwa banyak yang ngikutin.
00:34Iya, well itu tidak salah satu jaminan tapi itu menunjukkan bahwa kamu sekarang berpengaruh.
00:39Saya tuh gak sadar kalau saya berpengaruh jujur Mbak Rosy.
00:42Saya tuh baru sadar memang ya mungkin di tahun 2025 ini saya mulai merasa sadar kenapa.
00:47Karena ada beberapa kejadian yang membuat saya ngeliat ini pengaruh podcast ini udah sampai sejauh ini ya ternyata.
00:52Iya, iya. Padahal kan awalnya kamu kan bikin Curhat Bang itu kan lebih kepada isu-isu personal ya.
00:58Ya yang gak penting sih sebenarnya gitu loh.
01:00Ya bukan gak penting lah, ringan gitu.
01:02Ringan betul.
01:03Terakhir soal bencana Sumatera kamu mau ancarai Dirty Vote dan didulaksono.
01:10Nggak ditelepon tuh sama seseorang di pemerintahan.
01:19Udah mulai di tepi jurang Anda ya?
01:21Iya kayaknya ya. Tapi aku gak ngerasa aku bermain di tepi jurang.
01:24Kenapa? Karena menurut aku jurang apapun itu selama kita tulus kita bisa lewati dengan baik.
01:29Nggak takut ini ya? Nggak takut kehilangan pendukung yang tadinya melihat Denny Sumargo tuh udahlah kita ngomong yang seru-seru tentang si ini, pacaran sama si ini, ini kenapa ini kenapa wulan guritno kunisnya gak mulus gitu.
01:46Nggak takut ya misalnya dibilang bahwa udah lu gak usah ikut-ikutan politik gitu.
01:50Mengapa politik kemudian buat kamu matters?
01:52Jadi gini, di podcast aku itu aku punya banyak sekali POV.
01:59Ada politiknya berapa persen, ada sportnya berapa persen, ada isu rumah tangganya berapa persen, ada isu sosialnya berapa persen, ada isu kriminalnya berapa persen, dan lain-lain gitu loh.
02:09Karena memang secara ketertarikan saya tertarik dengan semua itu.
02:12Jadi saya tertarik dengan semua komponen dalam kehidupan, bahkan untuk masalah gaib gitu.
02:17Jadi buat aku sendiri pribadi, itu hal-hal yang mendasari saya secara insting, kemudian mengundang, membahas, dan mengembangkan konten itu sendiri.
02:27Dan yang kedua, kebutuhan saat itu.
02:29Saat itu kadang-kadang hati saya terpanggil untuk ikut membantu dan menyuarakan lewat platform saya.
02:34Jadi saya harus memutar otak bagaimana caranya supaya materi yang kita bahas, narasumbernya juga tepat.
02:40Seperti apa yang Mbak Rosy lakukan pasti, bersama dengan tim yang lain.
02:44Supaya isinya juga dedek, edukasinya dapet, tapi dibawahnya juga dibungkusnya dengan asik gitu.
02:50Karena isu berat bisa juga dibawakan dengan santai kan.
02:54Betul sekali, karena berapa kali aku coba lihat orang selalu meminta konten-konten edukasi.
03:00Tapi begitu dibikinin, orang ga nonton banget gitu loh, ga banyak yang nonton gitu.
03:04Malah sukanya yang aib-aib orang.
03:06Nah ketika dibikinin yang aib, ada juga kadang-kadang yang komplain, ada juga yang engga.
03:10Dimana eh jangan buka-buka aib gitu loh.
03:12Jadi memang ada plus minus.
03:16Cuma buat aku kembali kepada, takut ga kalau kehilangan penonton atau fans?
03:20Tujuan aku sebenarnya awalnya bukan mencari fans atau pengikut.
03:24Karena buat aku fans atau pengikut itu sesuatu yang harusnya datang bersifat organik.
03:29Tapi materi yang aku ingin ciptakan adalah sesuatu yang akhirnya bisa bersifat panjang.
03:36Aku sering banget bikin konten cerita orang yang percaya atau engga, saya yakin 10 tahun lagi orang masih nonton.
03:44Oh iya?
03:44Karena ada nilai kehidupan di dalam konten itu.
03:47Oh oke, jadi kayak everlasting stories ya.
03:50Betul.
03:50Dimana orang bisa belajar dari kesalahan orang itu, bisa belajar dari pengalaman orang itu, atau bisa mencari sebuah jawaban di dalam konten itu.
03:58Tapi kamu juga pernah tuh, aku heran, apa sih, kenapa orang mati jadi kuntilanak?
04:04Nah itu sebenarnya lebih kurang penting ya, karena saya juga bingung dengan arah sumber saya saat itu, makanya saya undang.
04:10Saya pengen denger ceritanya, bagaimana cerita gaibnya seperti apa.
04:15Karena kadang-kadang ketika kita interview orang, itu kan kadang-kadang gak semua ceritanya nyambung juga sama logika kita.
04:19Nah ketertarikan saya terhadap semua hal itu serendom itu, Mbak Rosy.
04:24Oh iya?
04:25Dan buat saya itu semua sangat menyenangkan gitu loh.
04:28Karena untuk menjadi pintar bukan pilihan paling utama buat saya.
04:31Kadang-kadang menjadi orang anak kecil yang polos, yang kayak ngedegeri cerita dong itu seru juga gitu.
04:37Dan buat aku itu semua menjadi bagian daripada podcastku.
04:42Sport, apa lagi tadi?
04:44Sport, isu sosial, isu rumah tangga, ya perselingkuhan dan lain-lain.
04:50Kemudian isu sport, kemudian gaib, politik, semua ada.
04:55Man, semua sama? Gak ada yang paling interest?
04:58Aku sebenarnya jujur ya, kalau ditanya interest, aku tuh gak terlalu interest interview orang.
05:03Oh, lah kenapa bisa jalan dengan sukses?
05:06Saya juga bingung.
05:07Jadi saya tuh gak suka nonton podcast, saya gak suka nonton interview,
05:12saya gak suka interview orang, dan saya gak suka di interview sebenarnya.
05:16Cuman memang ternyata it's just a part of life dimana saya harus belajar menikmati.
05:20Waktu itu saya bikin konten lebih ke sport.
05:23Ke basket sombong waktu itu.
05:24Karena saya suka activity, dan berkeringat, dan juga very mobile.
05:28Setelah itu ya pasti ada jenuhnya juga.
05:31Nah abis aku diundang podcast sama Deddy Kobusier,
05:34terus aku berpikir, eh gue bisa gak ya ngelakuin apa yang Deddy lakuin?
05:37As simple as that.
05:38Jadi terinspirasi sama Deddy?
05:41Podcastnya Deddy.
05:42Karena aku kalau ngeliat Om Deddy itu kalau misalnya podcast orang,
05:44kayaknya dia kalau podcast orang itu seru sekali.
05:47Nah aku juga pengen berada di posisi yang sama.
05:50Coba aku bikin dengan konsep yang versi gue, yang sederhana,
05:54itu di meja makan saya.
05:56Jadi saya gak bikin studio, itu meja makan saya dengan tampilan yang sangat sederhana,
05:59dan waktu pertama kali saya bikin podcast, itu gak ada lighting tambahan.
06:04Jadi lampunya cuma kuning-kuning gitu, Mbak.
06:06Gitu loh, jadi kalau nonton yang dulu-dulu itu kerasa sekali.
06:09Waduh, ini kayak tempo dulu gitu loh.
06:11Yaudah aku bikin podcast dengan mengundang salah satu yang lagi viral saat itu,
06:16Lutfi, dengan kata-kata anjay,
06:19yang kemudian itu menjadi polemik di masyarakat,
06:21dalam hati gue, ini apa ya?
06:23Akhirnya saya undang, rasa penasaran aja saya undang.
06:25Oke.
06:25Saya posting, video pertama ya nonton satu hari 500 ribu.
06:29Saya kaget.
06:30Ih, orang nonton ya?
06:32Berarti saya ada bakat ini, gitu ya.
06:35Saya terusin aja, seorganik itu.
06:37Sampai akhirnya saya belajar dari satu video ke video lain,
06:40tahun ke tahun,
06:40dimana podcast saya itu diframing dengan banyak cerita.
06:44Orang meninggal, podcast keramat.
06:46Terus kemudian kasus donasi.
06:48Wah banyak banget.
06:49Jadi saya sampai ngerasa kayak,
06:51saya ditaruh Tuhan di sini, ini kenapa ya?
06:53Apa ada maksud Tuhan dengan saya di podcast ini?
06:56Kalau memang ada maksud Tuhan dengan saya di podcast ini,
06:58dengan otoritas yang dikasih ke saya,
07:02izinkan saya menggunakannya untuk kebaikan suatu hari nanti.
07:06Bener banget.
07:07Gitu.
07:07Itu kamu udah dipakai Tuhan.
07:10Semoga ya.
07:11Untuk punya podcast, subscribernya luar biasa,
07:15dan Densu, lu tau gak, lu sekarang bagian orang,
07:18ya mungkin orang bilangnya influencer ya.
07:20Tapi ada yang lebih besar dari itu.
07:24Kamu membentuk opini dan itu sesuatu yang tugas yang gak gampang.
07:33Karena tadi yang aku bilang harus tetap punya purpose kan.
07:38Sebagai pembentuk opini,
07:39opini seperti apa yang ingin kamu shape,
07:43apa yang ingin kamu lekatkan gitu.
07:45Betul.
07:46Gak mudah, tapi dari se-cuman se-organik itu katanya kamu bilang.
07:52Tapi kamu udah jadi kayak gini, itu luar biasa banget, Dan.
07:54Udah jalan, ibaratnya jalan yang Tuhan kasih buat saya.
07:57Tapi tanggung jawabnya besar.
07:58Tanggung jawab itu disitu besar.
07:59Aku mau tanya itu, kamu merasa punya tanggung jawab gak?
08:03Ya.
08:03Ketika wawancara, kalau mati dari kuntilanak,
08:06terus ini,
08:08kira-kira pesan orang.
08:09Sudah lah, kalau masalah begitu,
08:10tonton aja, udah itu hiburan gitu loh.
08:12Jangan usah banyak cincong ya.
08:13Iya, kalau masalah-masalah lain, okelah saya ikut coba untuk membantu sejauh mana.
08:18Ya banyak yang.
08:19Tapi dari pelajaran saya,
08:20kadang-kadang tanggung jawab itu juga kita harus bijak dalam mengambil sikap.
08:26Saya saking,
08:28saya menjadikan tanggung jawab itu sebagai prioritas dalam hidup saya.
08:31Saya terperangkap di dalam satu kondisi.
08:34Yang saya,
08:36jujur kalau ditanya saya sesali, saya sesali.
08:38Tapi saya bukan orang yang hidup dalam penyesal.
08:40Apa itu?
08:41Jadi ketika saya akhirnya coba untuk membantu pihak-pihak yang bersengketa,
08:47ternyata niat saya itu dipergunakan untuk kepentingan yang lain.
08:51Di situ saya akhirnya melihat bahwa ini pola politik yang sangat berbahaya.
08:55Dan kita gak boleh terlalu naif.
08:57Ya.
08:58Dan saya juga tidak bisa kemudian mengatakan,
09:00saya orang baik.
09:01Saya juga gak bisa mengatakan,
09:03apa yang saya lakukan itu tulus.
09:04Karena itu akan menjadi satu kalimat yang akan di framing seolah-olah,
09:08ya kalau orang tulus tidak akan ngomong dirinya tulus.
09:10Kalau orang baik tidak ngomong dirinya baik.
09:12Tapi saya harus bisa keluar dari situ dengan sikap dan tindakan.
09:15Akhirnya ada konsekuensi yang harus saya ambil,
09:17dan ada luka yang harus saya terima.
09:19Dan saya berkata pada diri saya,
09:22ini pelajaran paling besar Dini.
09:24Bahwa apa yang kita lakukan,
09:26konsekuensinya tetap ada.
09:28Siap gak?
09:28Kalau cuma mau main aman,
09:31tidak mau terluka,
09:32kita gak bisa panjang nih.
09:34Dan kita mungkin tidak akan pernah lebih besar daripada ini.
09:37Akhirnya saat itu saya memutuskan bahwa,
09:39oke,
09:39kita harus berjalan untuk siap menerima segala konsekuensi,
09:42hujatan masyarakat,
09:43dan mungkin ketidaksetujuan masyarakat,
09:46yang akhirnya dilempar ke kita.
09:48Akhirnya saya dari situ tuh,
09:49baru bisa ngerti,
09:50oh posisi pemerintah tuh kayak gini juga kali ya.
09:52Posisi presiden kayak gini juga.
09:54Berarti dari situ pelajaran berharga kamu menjadi seorang podcaster,
09:58yaitu,
09:59oh ini sebuah tugas yang gak cuma ngemeng-ngemeng.
10:03Tetapi ada satu yang lebih mulia juga dari situ,
10:07selain hiburan,
10:09tetapi ada satu tanggung jawab yang harus diemban.
10:12Bahwa luka itu ada,
10:13itu ada perjalanan,
10:15tetapi itu justru kayaknya bikin kamu makin tumbuh dan makin besar.
10:21Mungkin ya,
10:21karena bagian daripada kehidupan itu adalah penderitaan.
10:24Penderitaan itu kan shape the person gitu loh.
10:27Bagaimana besi mengasah besi,
10:28manusia mengasah manusia,
10:30keadaan mengasah mentalitas kita untuk bertumbuh jadi lebih besar.
10:33Karena alam itu tidak pernah salah memilih.
10:36Alam itu sudah menyiapkan sebuah kondisi untuk nge-pressure
10:38dan memberikan challenge untuk semua pihak,
10:40tapi yang keluar,
10:42pasti orang itu dan orang itu yang pasti terpilih.
10:44Luar, ya.
10:45Gitu, itu yang saya belajar ya.
10:47Wah, kita sudah mendengar kotbah,
10:50ibadah Natal.
Komentar

Dianjurkan