Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia menelusuri Aceh Tamiang, Aceh. Ia bertemu dengan salah seorang korban banjir yang bernama Najwa.

Menurut Najwa, anak-anak yang berusia lebih dewasa harus menahan lapar untuk menyelamatkan anak-anak yang usianya lebih kecil. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa minum air banjir yang direbus, lantaran tidak ada makanan.

Dari kesaksiannya, saat air banjir mulai meninggi, balok kayu ikut terbawa arus dan menghantam.

"Setiap hari ada orang ngomong, tolong, tolong, kami lapar, setiap hari, om. Tolong, kami lapar, tolong, ada orang sakit, kami nggak bisa tolong. Kami bertahan di situ semuanya. Pak keluarga-keluarga. Suara itu setiap hari, sampai kami teringat, om. Semua ini jadi saksi kami. Nggak bisa ngomong apa-apa kami. Kalau dibilang trauma, trauma kali. Dengan air kami trauma," katanya.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/XrU__Yt4gEE?si=5mpmH7gCWSkMONdc

#banjir #aceh #sumatera

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/637724/aceh-tamiang-terisolasi-ini-cara-korban-banjir-bertahan-hidup-dipo-investigasi
Transkrip
00:00Intro
00:00Saya ke Pondok Pesantren Darul Muhlisin
00:12Sudah ada polisi yang turun di sana untuk mengambil sampel kayu
00:16Dari mana sumbernya untuk diinvestigasi
00:19Sudah ada perkembangan terkait dengan hal ini
00:21Memang seperti itu
00:23Yang dibawa arus ya, semua kayu
00:26Kita akan ambil evaluasi dulu
00:29Bagaimana lagi ambil langkah ke depan
00:32Sudah tidak hanya Pondok Pesantren Darul Muhlisin
00:38Yang terkepung oleh gelondongan kayu
00:43Saya juga mengunjungi desa kota lintang bawah
00:46Yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang
00:48Yang juga terempas gelondongan kayu
00:50Bahkan hingga menghancurkan rumah-rumah masyarakat di sana
00:54Ada tiga orang saksi mata yang saya temui kala itu
00:57Dan menceritakan bagaimana mereka bertahan hidup
01:00Pada saat banjir bandang datang
01:02Bahkan bertahan di atas gelondongan kayu
01:05Saya akan hadirkan penelusuran saya
01:06Gambar yang terlihat adalah tumbukan kayu sudara yang ada di
01:28Mungkin pesisir ataupun bantaran sungai Tamiang yang terbawa oleh banjir bandang
01:37Dan kan banyak sekali menghancurkan rumah warga
01:40Saya akan coba berbincang dengan salah satu warga yang masih bertahan tinggal di
01:46Bantaran sungai Tamiang dengan ibu siapa bu?
01:50Parnida
01:51Bu Parnida
01:52Dari awal tinggal di sini?
01:53Ya
01:54Bertahan hidupnya seperti apa?
01:58Di mana aku ada air itu kami satu belah bagi-bagi dua sama bapak
02:01Selama tiga hari
02:03Asa-basa hongkongan
02:05Kalau kayu ini datangnya dari mana bu?
02:08Ibu tahu?
02:08Pucuk sungai Lantai Lestan namanya mungkin
02:10Di Aceh Tenggara sana
02:12Pucuk sungai di Lestan sana
02:15Artinya ketika banjir bandang itu datang
02:18Ibu kan bertahan di sini
02:19Kayu-kayu ini juga ikut terbawa arus
02:22Ya ya dah
02:23Belok-belok sini rumah ini dah rame-rame
02:25Sudah padat semua
02:26Baru kemari
02:27Tapi rumah saya hanyut sebelum ada kayu
02:30Oke
02:31Artinya air dulu
02:32Baru datang kayu ini
02:33Mungkin ada yang ingin ibu sampaikan ke pemerintah
02:38Soal kondisi saat ini
02:39Kalau bisa bantuan bersihkan inilah
02:42Kayu dengan alat berat ya kan
02:45Kamu gak bisa ngomong lagi
02:47Itu aja lah
02:50Ibu tidak bisa berkata-kata lagi
02:53Kita bisa, kami udah capek, udah capek nangis
02:55Oke, kita berharap bisa bantuan segera datang Bu ya
03:00Entah itu untuk membersihkan dan juga makanan
03:02Bisa ditunjukkan itu jalan yang tadi juga kami susuri
03:07Jadi saudara memang situasinya hancur, porak-poranda
03:09Dan sampai di titik ini belum ada pembersihan jalan
03:13Setidaknya sampai dengan titik ini
03:15Saya akan coba masuk lebih ke dalam saudara untuk penunjukkan ya
03:19Kayu-kayu yang berserakan di
03:23Sesisir ataupun bantaran sungai Tamiang, di Aceh, Tamiang
03:29Itu juga ada anak-anak ya
03:32Ada anak-anak bermain di sini, gak pake sendal deh
03:35Tidak hati ya
03:37Ducuri, jangan anak
03:40Rumahnya gimana?
03:42Hancur rumah
03:43Hancur rumah
03:44Hancur rumah
03:46Oh, keluarga orangnya, Fes
03:48Belum makan belum?
03:50Belum
03:50Belum
03:51Belum
03:53Belum
03:53Belum
03:54Tadi kami ada keluarga di nek
03:57Bisa ternyata bayi
03:58Tapi yang besar-besar kami tahan lepan
04:00Kami ngasih anak-anak kecil
04:02Karena makan
04:04Kalau air minum bahan banjir
04:05Kami minum, kami rumpas
04:07Makan, karena ada air banjir
04:09Ada apa-apa
04:12Tidak ada asis untuk kami ke sana
04:13Kalau kami rumpas
04:16Tidak apa-apa
04:17Yang penting anak-anak kecil ini
04:18Karena kami dari pertama banjir
04:21Kalau dibilang ke
04:23Kenapa kami tidak ngusih
04:24Karena kami dihantung air
04:25Tanggal 27
04:26Kalau tidak salah air yang langsung
04:28Ini malah datang
04:30Malam Jumat ada orang ngomong
04:32Tolong, tolong kami lapar
04:34Setiap hari om
04:35Tolong kami lapar
04:37Tolong ada resahin
04:38Kami tidak bisa tolong
04:39Kami bertahan di situ semuanya
04:41Keluarga-keluarga
04:42Ada suara itu ya?
04:43Suara itu setiap hari
04:44Sampai kami tergi om
04:45Semua ini jadi saksi kami
04:48Tidak bisa ngomong apa-apa kami
04:50Kalau dibilang trauma-trauma kali
04:52Tengah air kami terumbang
04:54Karena ini memang kami
04:55Anak kecil
04:56Dihantam dengan bata
04:57Kami hanya baju di badan ini
04:59Dan pertama baju di badan semua
05:02Kalau dibilang
05:03100%
05:04Kota lintang bawah ini
05:05Hangus semua
05:06Tidak ada tersisa
05:07Itu mata pencarian orang ini
05:09Di sini
05:10Gilang
05:10Tidak ada ancor
05:11Depan mata
05:12Bentar-bentar
05:13Tuh
05:14Tuh
05:14Tuh
05:14Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:15Tuh
05:16Tuh
05:16Tuh
05:16Tuh
05:17Tuh
05:18Tuh
05:19Tuh
05:19Tuh
05:20Tuh
05:20Tuh
05:20Tuh
05:20Tuh
05:21Tuh
05:22Tuh
05:24Tuh
05:25Tuh
05:26Tuh
05:27Di sini
05:28Itu saksi matanya ya
05:35Ini hamparan
05:52Kayu yang tadi kami bicarakan
05:55Saudara
05:55Dan kondisinya memang
05:57Sangat berbahaya ya
05:58Bisa dilihat
05:58Ada satu akses di sini
06:00Bisa ditunjukkan itu pohon yang sangat besar menghantam rumah di bantaran sungai Tamiyang
06:19Abang saksi mata waktu banjir dan kayu ini ada di sini
06:23Kami ada tujuh kepala keluarga di sini
06:25Ini rumah saya
06:27Ada anak bayi di sini
06:29Kami selamatin rumah ini udah hancur
06:31Kami estafet pakai ember
06:32Berenang
06:33Dari di sini ke situ
06:34Rumah matua saya
06:35Bayi di estafet pakai ember
06:36Bayi
06:37Ada tiga bayi kami estafet
06:39Habis itu
06:40Itu udah ngantam kayu semua
06:42Kami panik semua
06:43Akhirnya kami beran-beran dengan diri
06:45Air makin naik
06:45Di sini kami
06:46Tidur di sini
06:47Bikin jalan
06:48Abang tidur di sini
06:49Iya
06:49Semua satu keluarga
06:50Ada tujuh kepala keluarga di sini tidur
06:52Ampar-amparan ini
06:54Ini bang lah
06:55Ampar-amparan ini
06:56Ini rame nih
06:57Pertahan hidup kami bang
06:59Tiga hari tiga malah gak makan
07:00Ini di atas nih
07:02Kalau tidur di sini
07:02Goyang-goyang
07:03Karena ini air bawahnya
07:05Atasnya kayu
07:06Akhirnya kami beran-beran dengan diri
07:09Tidak makan
07:10Kami kasih nama si bayi
07:11Anak kecil
07:12Orang perempuan
07:13Kalau kami laki-laki gini
07:14Insya Allah bisa lah
07:15Lompat-lompat
07:16Kesana-kesana
07:17Kemari bisa lah
07:17Saya pun hampir ranyut di sini
07:19Saya ngelamatin anak itu
07:20Ini menunggu
07:22Om kesana lagi
07:22Itu banyaknya kayu
07:23Cuma ada rumah lagi
07:24Cuma pepohonan sesawit
07:26Ini lah rumah saya terakhir
07:27Ini
07:27Ini berada pada hancur
07:29Ini ada tiga rumah sini hancur
07:31Karena itu rumah
07:32Darat ludus
07:33Tergulung
07:33Saya minta maaf
07:36Kalau masih ada yang belum
07:37Kita sedang bekerja keras
07:39Ya kita berusaha
07:41Kita tahu di lapangan
07:42Sangat sulit
07:42Kita tidak boleh tebang
07:44Pohon
07:45Sembarangan
07:46Saya minta
07:48Pemerintah
07:49Daerah
07:49Semua
07:49Lebih waspada
07:51Lebih awasi
07:53Kita jaga
07:55Alam kita dengan sebaik-baiknya
07:57Pertama karet
08:00Aceh kosit dulu karet
08:01Ini begitu
08:03Perubahan
08:04Kawit
08:05Sudah bisa beroperasi
08:07Belum untuk kebanjiran
08:07Sudah
08:08Hari ini mulai
08:10Selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan