JAKARTA, KOMPAS.TV - Jubir Partai Demokrat, Diska Putri Pamungkas debat sengit dengan Relawan Jokowi, Prabowo-Gibran, David Pajung soal Kader Senior Demokrat, Benny K Harman mengungkit kasus Ijazah di DPR.
Diska Putri juga tampak debat sengit dengan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro soal kudeta partai.
Apakah pernyataan AHY yang mengungkit upaya perebutan Ketua Umum Demokrat, dan sindiran kader soal keaslian ijazah, bagian dari kontestasi dan orkestrasi politik menuju 2029?
Simak pembahasannya dalam BOLA LIAR pada Jumat (28/11/2025).
Video Editor: Aqshal
Produser: Theo Reza
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/634406/debat-sengit-demokrat-ray-rangkuti-relawan-jokowi-gibran-geger-ijazah-disebut-di-dpr
00:00Bang Andi, bukan mengorkestrasi, tapi running the wave partai politik itu biasa saja.
00:08Dan adanya Deni Roy tidak merepresentasi Partai Demokrat.
00:11Jadi begini, itu bukan running the wave, flying to the moon.
00:15Flying to the moon.
00:16Jadi begini, kalau kita melihat ya, inilah asumsi publik lah.
00:23Bahwasannya dari Roy Suryo yang begitu satu tahun ya, luar biasa.
00:28Nah, gedor-gedor-gedor terus gitu kan.
00:32Kemudian ada aktor baru, muncul lagi-muncul lagi.
00:39Ini kata Mas David tadi, ada benang biru gitu loh.
00:44Ini kalau kita rajut satu persatu, oh iya juga ya.
00:48Itu perspektif publik ya, yang menilai seperti itu.
00:50Bacaan publik.
00:51Bacaanmu bagaimana?
00:53Ya kan?
00:54Jadi, kalau saya katakan,
00:57Saya katakan, wah ini mungkin ya, oknum-oknumnya.
01:02Bukan partainya gitu loh.
01:05Tapi kalau ini bisa bergulir-bergulir terus, kemungkinan ini flying to the moon-nya itu bisa jadi sesuatu di situ.
01:13Ya kan?
01:13Tapi saat ini saya membacanya, melihatnya itu, pada saatnya Demokrat secara yang dikatakan terang, benderang, berkata itu tidak.
01:24Tapi dia melihat dari konteks oknum-oknum tersebut, ada juga yang masih di DPR gitu.
01:33Ini bisa melihat benang-benang biru itu gitu loh.
01:35Tapi yang jelas, bahwasannya, kita ini tidak sudun lah.
01:41Tapi?
01:42Tapi kita ini memberikan sesuatu kepada masyarakat, bahwasannya kalau konteksnya ijazah Pak Jokowi itu, memang ada okrestrasi di belakang.
01:53Ya siapa?
01:54Tapi kita tidak mau menuduh sebelum kita mendapatkan bukti yang terang-benderang.
01:59Tapi, flying to the moon.
02:02Jadi benang biru ini maksudnya apa Bang?
02:04Bagaimana Andi menyebut ada okrestrasi di belakang kasus ini, dengan dia mengatakan saya tidak menuduh.
02:13Kalau Anda belum sampai kepada itu, jangan sebut bahwa ada kesimpulan, ada okrestrasi.
02:18Saya bukan bilang kesimpulan, okrestrasi.
02:20Apa?
02:21Kemungkinan ada okrestrasi di sana.
02:23Kemungkinan ada okrestrasi di sana, bukan ada suatu penuduhan.
02:27Maka saya bilang, ya kan?
02:30Jadi, ini bukan sesuatu yang koinsiden.
02:35Nah, loh.
02:36Bukan koinsiden.
02:37Satu, dua, tiga, empat.
02:38By design maksudnya?
02:40Ini buat persepsi ya.
02:41Ini persepsi nih.
02:42Maunya Andi ini apa?
02:43Pertama, kalau tunggu dulu lah.
02:46Yang kedua bukan koinsiden.
02:48Yang ketiga ada benang biru, benang merah, macam-macam dan sebagainya.
02:52Saya menambahkan ini.
02:53Andi bisa nggak mau mengatakan, saya meyakini setidaknya bahwa ada orang yang melakukan orkestrasi di sini demi kepentingan politik.
03:04Jangan lagi bahasa bahasa.
03:05Belum jawab, belum bilang.
03:07Dia jawab sama dia.
03:08Oke.
03:08Gue setuju lu ngomong.
03:10Setuju dia.
03:11Saya ingin memperjelas dua narasi dan argumen yang dibangun Bung Ray dan Bung Refli tadi kan.
03:21Bahwa, oke, nggak by design.
03:23Tetapi fenomena-fenomena mengarah kepada satu kesimpulan itu jelas tadi dari data-data itu ya.
03:30Misalnya, Roy Surya masuk di belakangan apa segala macam.
03:33Deni Indrayana turun karena, ya kemudian siapa, beberapa pengacara-pengacara lain dari Anir Samsudin.
03:42Pernyataan Beni Kaharman.
03:45Kemudian dipertegas lagi oleh AHY soal sakit hatinya seperti kata Diska tadi di masa lalu itu.
03:51Ini semua kan menjadi fenomena yang kita ikat.
03:55Bukan cocok logi.
03:56Dalam politik itu, untuk mengambil satu kesimpulan, maka kita mengambil beberapa simpul-simpul itu.
04:03Dan sudah tahu dan sudah kita lihat datanya.
04:06Tidak ada faktanya.
04:07Saya mau ngomong gini.
04:08Ini bicara tadi soal etika ya.
04:11Demokrat itu bagian dari koalisi Prabowo-Gibran.
04:15Prabowo-Gibran itu nggak bisa dipisahkan dari Jokowi.
04:18Bahkan dalam kontestasi politik, diterang-benderang di podium terbuka,
04:25Pak Prabowo mengatakan, saya nggak akan maju kalau nggak disupport oleh Jokowi.
04:30Artinya, Prabowo-Gibran Jokowi itu satu paket.
04:34Kemudian datang kucuk-kucuk-kucuk-kucuk, partai-partai masuk dalam satu komunitas koalisi termasuk demokrat.
04:39Nah yang saya katakan nggak beretika adalah,
04:42ketika koalisi ini tengah guyub-guyubnya melaksanakan program kerja untuk membawa program astacita,
04:49Pak Prabowo-Gibran ini mencapai sasaran.
04:51Lalu kemudian ada sentimen-sentimen yang tadi saya katakan sinisme politik,
04:56tendensi politik, yang ini menciptakan disharmoni politik dalam satu keutuhan koalisi.
05:02Siapa yang tidak beretika?
05:03Ya, yang tadi tukar-tukar ini, yang dari satu partai.
05:07Partai apa sebutin dong?
05:08Ya, Benika Harman partainya apa? Kan clear ya.
05:11Nah ini saya bilang disharmoni politik itu tercipta dari statement-statement yang menciptakan sinisme disharmoni koalisi itu bisa terjadi.
05:20Di tengah guyub-guyubnya partai koalisi untuk membangun.
05:23Saya melihatnya, bukan sinisme, memang persaingan.
05:29Oke, persaingan saja.
05:30Saya ingin menjelaskan sekali lagi dan menegaskan dari partai demokrat,
05:36tidak pernah ada orkestrasi dan kami juga tidak ingin berlarut-larut ikut dalam pusaran ini.
05:43Dan kami melihat itu sebagai, kita lihat sendiri bahwa faktanya ada dan tidak ada.
05:50Anggapan publik, itu sinisme.
05:52Partai demokrat ini.
05:53Kalau publik sih melihatnya nggak juga.
05:55Itulah adalah asumsi pribadi.
05:57Dan itu adalah sentimen-sentimen pribadi yang punya asumsi dan bentuknya personal, Bang.
06:03Kalau kita lihat di sini, begini.
06:05Saya melihat bahwa partai demokrat ini selalu santun, Pak.
06:10Pak SBY, Mas Ahaye, itu selalu mengajarkan kami ke sopan santun.
06:13Senggolan Pak Beni itu apa santun tuh?
06:16Kami partai demokrat selama 10 tahun, hampir 10 tahun berada di luar pemerintahan Pak Jokowi.
06:22Kalau misalnya kami mau melakukan itu, seharusnya sudah jauh lebih lama.
06:26Kapan?
06:26Pada saat kita sedang oposisi.
06:29Oh, saya menghadapi demokrat itu.
06:31Kalau Jokowi mau marah waktu itu.
06:33Bahkan, Mas, sebentar.
06:35Kita lihat, kita lihat bagaimana.
06:36Itu sudah bukan saya ketua umum partai.
06:38Sebagai oposisi dan penyimpang.
06:40Sebagai oposisi dan penyimpang.
06:42Kalau mau campur tangan.
06:43Sebagai oposisi dan penyimpang.
06:45Sebentar, sebentar.
06:48Sebentar, sebentar.
06:48Kalau begitu ada.
06:49Jokowi itu negaraawan.
06:50Oke, sebentar.
06:51Bagi saya, kami merasa.
06:52Anda mau berasalasi apa?
06:54Anda dibilang tidak beretika oleh Pak David.
06:56Demokrat.
06:57Apa, bagaimana?
06:59Etika politik.
06:59Buktikan etika politik mana?
07:01Kita selama ini, selama 10 tahun.
07:03Sebagai penyimpang.
07:04Selalu, selalu melakukan hal-hal yang sesuai dengan norma politik.
07:09Itu yang pertama.
07:10Dan yang kedua adalah.
07:11Ini kan membangun keretakan kualitas.
07:12Sampai saat ini.
07:13Tidak pernah.
07:14Ini semua yang dilakukan pada demokrat adalah tuduhan-tuduhan.
07:17Yang tidak pernah ada.
07:19Faktanya.
07:19Anda menduduh.
07:20Tuduhan yang tidak pernah ada.
07:21Kata Manis.
07:22Tidak pernah ada.
07:22Tidak pernah ada.
07:22Tidak pernah ada.
07:22Tidak pernah ada.
07:23Tidak ada faktanya.
07:24Dan sinisme yang ada.
07:25Oke.
07:26Anda mendulang ada sinisme.
07:27Saya kasih kesempatan ke Bang David.
07:29Oke.
07:29Banyak-banyak yang terjadi ketika pernyataan Benika Harman yang membanding-bandingkan versinya Arsursani dengan ijazah Pak Jokowi itu terang-benderang.
07:40Yang lainnya.
07:41Dan yang lainnya.
07:42Tidak pernah ada menyebutkan itu Pak Ijazah Pak Jokowi.
07:44Kasih Ijazah Jokowi.
07:45Kasih Ijazah Jokowi.
07:47Luansanya nuansa politis.
07:49Kira-kira apa sih yang membuat demokrat itu sinis.
07:52Loh pernyataan Benika Harman.
07:53Ya apa yang membuat mereka sinis.
07:55Ya betul kayak tadi itu.
07:56Orang kasih 2029.
07:58Itu artinya persaingan.
08:02Loh itu sinisme politik untuk membangun persaingan kompetisi.
08:05Itu persaingan politik dan boleh-boleh saja.
08:08Tidak perlu ada persaingan.
08:09Jangan-jangan Pak Pramowo yang membangun itu.
08:11Saya mau lihat.
08:13Di antara dua ini.
08:14Siapa yang bisa.
08:15Itu satu.
08:16Yang kedua jangan bicara etik.
08:19Sudah pasti Gibran.
08:20Sebab kalau kita berbicara etik.
08:23Orang yang dibisarkan sejak dari kepala daerah.
08:27Gubernur.
08:28Presiden.
08:29Tampak mengucapkan terima kasih.
08:32Lalu pergi saja.
08:33Anda salah lagi.
08:33Etisannya itu di mana?
08:35Anda melakukan itu.
08:36Etisannya itu di mana?
08:37Itu bagi saya.
08:38Sebuah penjahatan analisis itu.
08:40Etisannya itu.
09:10Saya menikmati ya.
09:35Jadi peserta sepertinya.
09:38Tapi begini.
09:39Saya kalau tadi ke sisi demokrat.
09:41Walaupun Mbak Disa bilang cocokologi.
09:43Sepertinya masih lemah argumentasinya.
09:46Karena buat saya.
09:47Gata historik itu sangat kuat dalam politik Mbak.
09:50Gak bisa person by person.
09:52Itu dibilang hanya sentimen.
09:53Hanya feeling.
09:54Hanya asumsi.
09:55Karena bergerak.
09:56Satu.
09:57Yang kedua.
09:57Pak Jokowi.
09:59Seperti Pak SBI.
10:00Itu punya mesin infrastruktur politik yang masih koko Mbak.
10:04Jadi ketika Pak Jokowi bilang ada orkestrator.
10:07Kemudian ditebalkan oleh relawan.
10:09Ada yang baju biru.
10:11Katakan semacam itu.
10:12Walaupun ada banyak partai.
10:13Kata Mbak.
10:14Kami melihat bahkan partai demokrat saja.
10:17Pak SBI juga punya mesin politik yang sama kuatnya dengan Pak Jokowi.
10:20Maksud saya ini behind the gunnya punya mesin semua yang bisa membaca praktek panggung belakang.
10:28Jadi menurut saya gak bisa Mbak Dishoy bilang ini asumsi, ini sentimen.
10:32Karena Pak Jokowi ini presiden.
10:34Punya mesin politik.
10:35Bagaimana membantah itu?
10:36Seperti itu.
10:36Yang kedua data historik.
10:38Orang per orang yang terlibat di sini luar biasa.
10:41Ya itu poinnya.
10:41Kekuatnya semacam itu.
10:43Tapi kita melihat bahwa sampai saat ini tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa partai demokrat ada di dalam situ.
10:50Itu yang pertama.
10:52Dan yang kedua itu menjadi tuduhan.
10:54Baik sebagai kader maupun ex-kader.
10:55Itu yang menjadi tuduhan.
10:56Bagaimana membantah Pak Roy Surya sebagai ex-kader.
10:59Maksud saya indahnya sebagai ex-kader.
11:00Person by person kadernya.
11:02Rory Surya itu sudah tidak ada di partai demokrat sejak 2006 lalu.
11:06Tidak ada di partai demokrat sejak 2006 lalu.
11:09Pak HAYE.
11:10Statement jelas di Jambut PKS itu gak bisa berdiri sendiri Mbak.
11:13Oke baik.
11:14Tegas jelas.
11:15Mbak Dishka silahkan.
11:17Begini Mbak.
11:18Kita lihat sendiri bahwa sampai saat ini.
11:20Jika ada.
11:21Jika ada.
11:22Tolong tunjukkan kepada saya bagaimana keterlibatan partai demokrat yang ada di yang saat ini.
11:26Ini mas.
11:27Ini adalah permasalahan.
11:28Kita melihat di sini.
11:29Kader-kadernya itu adalah saat itu adalah merespon.
11:33Yang saat ini dilakukan adalah merespon.
11:35Karena tuduhan-tuduhan itu kembali selalu pada partai demokrat.
11:38Itu yang pertama.
11:39Justru begini Mbak Dishka.
11:40Justru saya mengapresiasi.
11:42Partai Demokrat eksis dan hadir mengawal isu ini.
11:44Tidak.
11:45Itu yang ditutupkan oleh publik.
11:47Karena apa?
11:47Karena dia tidak menjadi debat kusir.
11:49Supaya aparat kita profesional dan proporsional.
11:52Oke.
11:52Jadi gak susah.
11:53Jelas.
11:53Gak kembali.
11:54Nah seperti itu.
11:55Sebentar.
11:55Mas Faldo tadi mau mau.
11:57Jadi Mas Faldo menurut Anda bagaimana?
11:59Apakah demokrat masuk di orkestrasi terkait dengan kasus ijazah?
Jadilah yang pertama berkomentar